Sunday, December 30, 2007

Citizen Journalism (11)



Paksa Mata Melirik



KREATIVITAS itu tanpa batas, demikian kata sementara orang. Kreativitas itu bisa ditemukan di jalan-jalan saat kita berkendaraan. Minggu, 30 Desember 2007 pukul 06.50 saya baru saja akan tiba di kantor harian Kompas di Jalan Palmerah Selatan saat saya melihat pemandangan menggelikan.

Seorang pria mengendarai vespa yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga stank-nya dibuat setinggi mungkin. Kalau motor itu bergerak, si pengendara seperti sedang mengangkat tangan tanda menyerah karena ujung stank untuk menggerakkan (gas dan perseneling) vespa berada di atas kepalanya. Di belakang vespa tertempel "aksesori" berupa sampah bekas plastik bekas minuman mineral dan topi petani.

Saat berhenti di lampu merah perempatan Permata Hijau, mau tidak mau seluruh mata pengendara, motor maupun mobil, melirik "keanehan" ini. Bayangkan, pengendara itu terus "mengangkat tangan" tanda menyerah tanpa ada yang menodongkan senjata ke arahnya. Sambil nyetir sendiri, saya keluarkan kamera dan sambil sama-sama berjalan, saya mengambil gambarnya. Wah, sama-sama berbahaya jadinya! Fotonya bisa dilihat di atas meski agak sedikit goyang. (PEPIH NUGRAHA)

Tuesday, December 25, 2007

Catatan (36): Selamat Natal


Natal dan Damai di Bumi


TERUS terang, saat malam dan hari Natal tiba, saya selalu teringat peristiwa malam Natal tahun 2000 lalu. Saat itu saya yang kebetulan mendapat kepercayaan dari kantor dimana saya bekerja sebagai Kepala PO Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, tengah berjaga-jaga sepanjang siang dan malam. Saat itulah peristiwa yang tidak mungkin hilang dalam ingatan saudara-saudara kita, Umat Kristiani, terjadi dengan meledaknya puluhan bom di sejumlah gereja di tanahair.

Tanggal 25 Desember 2000 seharusnya hari libur, juga libur bagi koran. Akan tetapi karena ini peristiwa besar (meski sangat tidak kita harapkan terjadi), Kompas tetap harus terbit saat libur, cukup empat halaman saja. Saya sebagai Kepala PO saat itu langsung mengontak Suryopratomo, biasa dipanggil Mas Tom, yang saat itu sudah menjabat Pemimpin Redaksi.

"Kamu ikuti terus, kerahkan teman-teman yang bertugas, besok Kompas terbit," perintahnya lewat telepon genggam saat saya hubungi.

Ini prosedur biasa. Saya harus taat pada perintah itu. Sejumlah wartawan yang rata-rata masih gress dari dapur pendidikan, dikerahkan. Juga wartawan-wartawan lama. Hanya saja, dua wartawan "mangkir" dalam peristiwa besar itu. Satu calon wartawan dan satu lagi wartawan di sebuah desk yang sudah cukup lama menjadi wartawan.

Saat saya menelepon si calon wartawan lewat ponselnya, mengejutkan... dia tengah berada di dalam keretaapi menuju Bandung. "Siapa yang menugaskanmu ke Bandung?" tanya saya waktu itu. Terus terang, saya membutuhkan banyak tenaga wartawan saat itu karena saya harus terus berada di ruang redaksi untuk jaga gawang.

Ia menjawab, "Tidak ada." Inikah kelakuan calon wartawan, pikir saya. Saya tanya apakah dia tahu apa yang sedang terjadi beberapa menit lalu, ia menjawab tidak. "Bom meledak di sejumlah gereja!" suara saya mulai meninggi. Ia yang beralasan ke Bandung karena mengantarkan calon tunanganya tetapi tanpa minta izin tampak mulai mencari celah. Katanya, "Baik, kalau begitu saya meliput di Bandung saja." Wah, saya seperti diledek saja. Saya langsung bilang, "Tidak usah! Saya sudah meminta wartawan lain meliput Bandung. Selamat bersenang-senang!"

Satu wartawan lagi, yang sebetulnya sudah cukup lama bergabung di Kompas dan menjadi salah satu anggota desk, saya kontak dan memintanya meliput salah satu gereja di Bekasi yang juga jadi sasaran ledakan bom. Jawabannya, "Saya tidak bisa meliput." Saya balik bertanya, "Kenapa?" Dia langsung menjawab, "Saya harus mengantarkan mertua saya ke gereja tengah malam ini!" Saya mematikan telepon. Lalu saya mencatat dua perisiwa itu dan melaporkannya kepada Redpel Trias Kuntjahjono. Ini prosedur biasa.

Beberapa hari kemudian saya mendengar calon wartawan itu tidak jadi wartawan karena diminta untuk tidak melanjutkan pekerjaannya. Dia dianggap mangkir dan indispliner. Sedangkan si wartawan Kompas yang menolak tugas karena lebih memilih mengantar mertuanya, tidak lama kemudian dipindahkan ke divisi lain yang tidak memungkinnya menjadi wartawan Kompas lagi.

Konsekuensi selanjutnya adalah cap yang tertera di jidat sampai saat ini, bahwa saya adalah wartawan "killer" yang telah menjatuhkan seorang calon wartawan dan membat seorang wartawan pensiun selamanya dari kegiatan wartawan. Saya bilang masa bodoh, saya hanya menjalankan prosedur biasa sebagai Kepala PO. Yang menentukan nasib kedua orang itu bukan saya, tetapi pimpinan tertinggi koran ini.

Keesokan harinya, Kompas terbit khusus empat halaman. Karena para pengecer dan agen masih libur, saya pun harus mengedarkan koran gratisan itu di sejumlah tempat di daerah dekat-dekat kediaman saya, yakni di pom-pom bensin dan Bintaro Plaza. Umumnya mereka bingung, kok hari libur Natal Kompas malah terbit.

Saya berterima kasih kepada teman-teman yang memang menjadi anggota, plus teman-teman rekrutan saya serabutan yang tidak menjadi anggota tim yang saat itu bertugas di kepolisian seperti NIC (kini di desk olahraga) dan FER (kini bertugas di Batam). Mereka adalah wartawan, meski tidak menjadi anggota tim, tetapi saat peristiwa besar terjadi, tenaga mereka siap digunakan. Itulah wartawan!

Namanya juga perencanaan yang telah dibuat sebelumnya, itulah implikasi dan aplikasi dari sebuah perencanaan. Kategori berita yang bisa memaksa koran terbit meski hari libur, sudah ditentukan. Salah satunya kategori terjadinya "peristiwa besar". Dan, ledakan bom di sejumlah gereja pada malam Natal itu masuk ketegori itu.

Ini sekadar catatan saja. Selamat Natal bagi yang merayakan, damai di bumi damai di hati...

Sunday, December 23, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (42)


Tulisan Pelengkap

DI bawah ini tulisan saya yang dimaksudkan sebagai pelangkap untuk tulisan "Menangkap Hal-hal Sepele" yang sudah di-upload sebelumnya, yang dimuat Kompas pada hari yang sama, yakni 30 November 2007. Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi:

OCJS
"Universitas" bagi Netizen

Tidak pernah diduga sebelumnya, suatu saat sekolah besar dan lengkap bagi para pewarta warga atau citizen reporter (netizen) akan berdiri. Inilah sekolah bagi para calon pewarta warga yang diberi nama OhmyNews Citizen Journalism School atau OCJS.

Dari namanya sudah dapat ditebak, sekolah ini milik Oh Yeon- ho, pendiri koran online independen di Korea Selatan, OhmyNews—koran online pertama yang merekrut warga sebagai reporternya. Oh ingin menunjukkan bahwa warga biasa, selain bisa menjadi pewarta warga, juga bisa bersaing secara profesional dengan wartawan sungguhan dari berbagai jenis media mainstream, yakni media cetak, elektronik, maupun sesama media online.

Dalam urusan berita, jangan pernah main-main dengan warga biasa!

Demikian pesan yang ingin disampaikan dengan berdirinya OCJS di sebuah wilayah, 90 menit perjalanan menggunakan mobil dari Seoul, ibu kota Negeri Ginseng ini. Sebuah bangunan yang dulu kesepian selama 10 tahun, dengan dana sekitar Rp 4 miliar, direnovasi menjadi pusat pendidikan komunitas pewarta warga. Di sini warga biasa, mulai dari remaja sampai yang berusia senja, dapat belajar menciptakan konten berita online secara mandiri.

Didesain sebagai "pusat pengetahuan kolaboratif", OCJS yang dibuka 24 November lalu bakal mendidik sekitar 60.000 pewarta warga yang diklaim sebagai netizen OhmyNews. Kini setiap warga Korea Selatan mendapatkan kesempatan mengasah kemampuan mereka menciptakan konten berita.

Jurnalistik

Fakultas jurnalistik di mana pun boleh iri dengan OCJS yang memiliki luas 9.509 meter persegi ini dalam hal kelengkapan belajar-mengajar. Ada tiga ruang kelas yang masing-masing bisa menampung 100 siswa. Ada ruang makan yang dilengkapi hotspot sehingga bisa terkoneksi ke internet setiap saat. Ada pula tempat rekreasi dan fasilitas olahraga luar ruang.

Silabus pelajaran pun tidak kalah dari fakultas jurnalistik yang meluluskan wartawan sungguhan yang kelak bekerja di media massa konvensional. Mulai kelas yang mengajarkan cara kerja wartawan, teknik wawancara, teknik menulis berita, workshop bagi reporter netizen baru, hingga penggunaan kamera digital untuk foto dan video.

Ada juga kelas bagi para eksekutif bermodal yang tergerak memutarkan uangnya di bisnis media. Bagi manajer yang gagap menulis, juga diwadahi di kelas tersendiri.

Uniknya, para pengajar berasal dari pewarta profesional berbagai media massa mainstream, mulai dari wartawan media massa cetak, radio, hingga televisi. Ini masih ditambah pengajar dari pewarta warga senior OhmyNews. Tentu saja Oh Yeon-ho sebagai pendiri, sekaligus pemilik OhmyNews, berkesempatan tampil khusus untuk memberi motivasi bagi calon pewarta warga.

Kalau sudah begini, persaingan terbuka dalam hal kapabilitas, akurasi, serta kecepatan antara wartawan sungguhan dari media massa mainstream dan pewarta warga dari media massa alternatif segera dimulai. Setidak-tidaknya di Korea Selatan. (PEP)

Berbagi Pengalaman Menulis (41)


"Menangkap Hal-hal Sepele"


TULISAN ini pernah ditolak seorang editor, tetapi bukan berarti kiamat dan segalanya berakhir. Dengan modifikasi sedikit ditambah pengayaan data dan suasana peristiwa, akhirnya bisa dimuat juga setelah ditawarkan ke editor lain. Demikianlah, upaya jangan berhenti hanya karena tulisan kita ditolak, lantas kita terpuruk dan semangat pun menguap.

Tidak. Harus katakan tidak! Katakan selamat tinggal buat keterpurukan. Percayalah, tulisan yang kita buat pasti berharga. Berharga buat diri kita, juga buat pembaca. Boleh jadi seorang editor menilai tulisan itu kurang berharga. Akan tetapi, harus selalu ingat, bahwa "konstituen" kita adalah pembaca yang jumlahnya ratusan ribu bahkan jutaan itu! Kita boleh "dikalahkan" oleh editor, tetapi tidak boleh "dikalahkan" oleh diri sendiri hanya karena tulisan ditolak.

Saya sering membuktikan hal itu. Bagi seorang editor, ini tulisan yang kurang bermakna, tetapi bagi editor lainnya dan jutaan pembaca Kompas, mungkin tulisan ini punya makna. Berikut dua tulisan yang dimaksud, yang dimuat Kompas, 30 November 2007. Satu tulisan pelengkap "Universitas bagi Netizen", di-upload di tampilan terpisah. Semoga bermanfaat.


NETIZEN
Menangkap Hal-hal Sepele
Oleh PEPIH NUGRAHA

Pernahkah terbayangkan sesosok penampakan menyerupai manusia melayang di pepohonan menjadi foto sekaligus berita utama media massa?

Kalau membuka media online STOMP di alamat www.stomp.com.sg, Anda mungkin baru percaya bahwa itulah berita! Apakah itu berita dan foto peristiwa yang ditulis wartawan profesional? Bukan, itu berita yang dibuat warga biasa!

Suka tidak suka, sebanyak 7.843 warga Singapura telah melihat foto penampakan yang dikirim seorang pewarta warga alias citizen reporter (netizen) dan muncul pada STOMP hari Kamis, 29 November itu. Netizen itu menamakan dirinya STOMPer Lachinos dan memberi judul foto beritanya ’Pontianak’ In Tampines?

Kata "pontianak" di sini maksudnya "kuntilanak", yang di Singapura dipercaya sebagai makhluk halus berwujud perempuan berambut panjang yang bisa terbang melayang. Ada 43 pengunjung yang mengomentari berita dan foto yang diambil pukul 11 malam, Rabu, 21 November lalu di Tampines itu.

Ada yang berkomentar bahwa itu hanyalah foto tipuan dan hanya sekadar mencari sensasi saja. Tetapi uniknya, ada pula yang memercayai foto yang ditampilkan di rubrik "Singapore Seen" itu sebagai sebuah kebenaran dan kenyataan yang ada di sekeliling mereka.

Masih pada hari yang sama, sebuah foto yang memperlihatkan sepasang kekasih yang sedang maaf, berciuman, di depan umum di sebuah rumah sakit, dibaca 6.035 pengunjung dan 54 di antaranya meninggalkan komentar. Foto dari ponsel berkamera milik STOMPer Z itu ditanggapi secara beragam. Mulai kecaman sampai menganggap hal itu fenomena biasa saja di Singapura.

Inilah berita online dalam dunia maya di internet: berita yang dibuat warga biasa, bukan berita yang dibuat wartawan profesional dari sebuah media massa mainstream. Soal apakah berita itu bernilai, katakanlah penting atau menarik, itu bisa diperdebatkan kemudian.

Versi warga

Yang menarik, berita versi warga itu justru diwadahi oleh koran berpengaruh di Singapura, The Straits Times. STOMP sendiri kependekan dari Straits Times Online Mobile Print. Lalu, bagaimana mungkin sebuah institusi media massa konvensional bisa mewadahi berita, foto, dan video dari warga biasa? Itulah kenyataannya.

STOMP yang bisa berarti "mengentakkan kaki" benar-benar mengintegrasikan konten informasi dan aktivitas warga yang saling berinteraksi dalam tiga platform, yakni cetak, online, dan mobile. Dengan tiga platform itu, memungkinkan STOMP berinteraksi dengan warga Singapura dengan cara baru yang lebih menarik. Tidak seperti media massa mainstream yang pasif!

Dengan menempatkan warga biasa sebagai pewarta, berita yang muncul tidak lagi berita yang dibuat wartawan dan disusun para editor yang seperti tidak mau tahu dengan apa yang ditulisnya. Berita berasal dari warga dengan interaksi berupa komentar pembaca secara lebih akrab, hangat, dan terbuka.

Cara ini berbeda dengan berita yang lahir dari dapur newsroom media massa mainstream yang sering dituding sebagai pihak yang semena-mena "menyuntikkan" informasi, tidak peduli apakah informasi itu dibutuhkan masyarakat atau tidak. Tidak ada interaksi di sini, kecuali dalam skala terbatas, seperti surat untuk redaksi atau letter to the editor.

Sementara berita yang dibuat warga dan ditampilkan secara on-line seperti STOMP, justru terbuka untuk dikomentari warga yang tersambung ke internet, baik melalui komputer pribadi maupun ponsel mobile mereka.

Percakapan di antara warga menjadi berita tersendiri sehingga tidak keliru adagium yang mengatakan bahwa "berita adalah percakapan". Si penulis berita sebagai saksi atas peristiwa yang direkamnya bisa larut di antara para pembaca. Lantas, menjawab komentar bila perlu.

Dirangkul atau dijauhi?

The Straits Times jelas-jelas merangkul keberadaan pewarta warga atau netizen, bukan malah menjauhinya, apalagi menempatkannya sebagai pesaing. Tidak nyinyir dan mengolok-olok berita yang ditulis warga biasa sebagai informasi sampah. Dan, The Straits Times tidak sendiri.

Tengok jaringan televisi CNN yang memiliki i-Report bagi para pewarta warga yang mengirimkan foto maupun video. Di Yahoo! ada "People of the Web" untuk cerita dan "You Witness News" untuk foto dan video. Di BBC ada "Eyewitness Tale" dan "Survivor Amateur Videos". MSNBC punya "Citizen Journalists Report". Uniknya, kantor berita Reuters online pun memberi tempat bagi pewarta warga yang mengirimkan peristiwa yang dialami dan direkamnya.

Citizen journalism dengan ribuan netizen-nya kini bukan lagi sekadar teori, tetapi sudah menjadi kenyataan. Dengan bermodalkan ponsel berkamera, warga sudah bisa mengirimkan foto (images) atau video ke media massa online atau bahkan blog milik sendiri. Tidak aneh kalau media massa mainstream pada suatu masa "kegerahan" juga atas hadirnya para pewarta warga ini.

OhmyNews yang dikembangkan Oh Yeon-ho di Korea Selatan sering dijadikan contoh klasik berhasilnya media massa alternatif para pewarta warga. Di Tanah Air ada Wikimu dan Panyingkul yang secara sadar "merekrut" dan mendidik warga biasa untuk dijadikan pewarta warga. Akan tetapi, keberadaan keduanya berdiri sendiri, tidak terkait dengan media massa mainstream, sama dengan apa yang dilakukan OhmyNews.

Bahwa media massa mainstream yang berkonvergensi atau bertransformasi menjadi media massa online kini membuka pintu atas kehadiran para pewarta warga dan memberinya tempat, itulah kecenderungan yang tengah terjadi sekarang ini.

Meski belum terlalu berkembang, di Kompas online yang beralamat di www.kompas.com, cikal bakal netizen pun sudah ada di rubrik "Community". Dalam skala tertentu, ia berisi laporan warga meski baru berupa gerundelan atau unek-unek personal yang belum bisa disebut sebagai citizen journalism seutuhnya.

Akan tetapi, semangat dari pewarta warga adalah menangkap serta merekam hal-hal sepele atau remeh-temeh mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Mulai perilaku warga yang merokok dan meludah di sembarang tempat, parkir yang tidak benar, bermesraan di tempat terbuka, sampai peristiwa penampakan versi STOMP tadi. Memang sepele, tetapi itulah berita!

Friday, December 21, 2007

Telusur (1)


Membuat Berita Ringkas


BANYAK teman bertanya bagaimana menggabungkan sumber berita dari "wires" dan data-data pendukung yang begitu banyak hanya untuk menulis sebuah berita ringkas. Apalagi, sumber-sumber berita dari kantor berita asing itu ditulis dalam bahasa yang bukan bahasa Indonesia.

Modal utamanya tentu saja mengerti bahasa Inggris, setidak-tidaknya pasif saja sudah cukup. Jika editor sudah menentukan apa yang harus kita kerjakan, mudah saja kita tinggal langsung "search" mencari bahan-bahan itu. Jika editor bilang, "Kamu cari sendiri mana berita yang menurut kamu menarik dan penting", maka diperlukan kepekaan jurnalistik dan usaha ekstra.

Membuat berita ringkas bukan berarti persoalan sepele, bukan berarti persoalannya ringkas. Membuat berita ringkas seperti kilasan kawat sedunia, juga merupakan saripati dari sumber-sumber berita dan data yang begitu banyak. Bukan persoalan menerjemahkan sepenggal alinea di bagian pertama berita atau memilih kira-kira mana yang enak diterjemahkan. Lebih dari itu. Diperlukan pemahaman menangkap pesan yang ingin disampaikan.

Mulai saat ini ke depan, sahabat akan disuguhi berita-berita ringkas yang saya buat di rubik Telusur yang terbit setiap hari Kamis di Harian Kompas. Seluruhnya mengenai iptek, khususnya iptek di bidang internet. Ini sekadar upaya mengumpulkan dan mendokumentasikan tulisan-tulisan kecil yang tercecer, siapa tahu ada manfaatnya . Siapa tahu pula sahabat bisa mengikuti perkembangan internet, meski dari berita-berita ringkas. Tidak ada salahnya, bukan? Berikut satu tulisan ringkas yang dimuat Kompas rubrik Telusur, 15 November 2007:

YAHOO! RAMBAH LAYANAN PONSEL ASIA

Tidak mau kalah dengan saingan utamanya, Google, perusahaan internet Yahoo Inc mengeluarkan layanan informasi mobile kepada sembilan operator telepon seluler (ponsel), termasuk Indonesia. Mitra yang diambil Yahoo, sebagaimana diberitakan BusinessWeek, antara lain operator India, Malaysia, Indonesia, Hongkong, dan Singapura. Dengan kesepakatan ini, Yahoo memiliki mitra kerja dengan 20 operator ponsel berbasis web di 19 negara.

Layanan baru yang diberi nama "oneSearch" ini baru akan beroperasi di Asia akhir 2007 ini. Dengan layanan mobile ini, pengguna ponsel dapat memantau cuaca secara berkala, pergerakan bursa saham lokal, direktori jalan, film, konversi mata uang, dan informasi penerbangan, selain tentu saja dapat mengakses situs tertentu yang diinginkan.

Tidak seperti pencarian pada komputer personal, "oneSeach" didesain untuk menunjukkan informasi yang diperlukan pada layar halaman pertama ponsel sehingga pengguna tidak harus membuka-buka halaman lainnya.

Yahoo mengumumkan rencananya ini satu minggu setelah Google mengeluarkan paket software mobile gratis yang disebut "Android". Tujuan Google membuat software mobile gratisan ini untuk memudahkan pengguna mengakses web di ponsel dan gadget bergerak lainnya. (PEP)

Monday, December 17, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (40)


Ambil dan Temukan Pokok Bahasan


PADA 4-5 Desember lalu saya berada di Amsterdam, Belanda, mengikuti Nokia World 2007. Ini tradisi tahunan perusahaan telepon seluler asal Finlandia dalam memperkenalkan visi dan misi bisnisnya, juga produk baru dalam kemasan pameran. Selain mendengarkan paparan para pakar Nokia, hadirin yang berjumlah 2.700, termasuk saya dan dua rekan lainnya blogger dari Indonesia, yakni Budiputra dan wartawan Porsel, Andra, juga "disuguhi" paparan pebisnis, ahli pemasaran, dan pakar lainnya yang terkait dunia ponsel dan internet.

Persoalannya, begitu banyak pembicara, begitu banyak paparan yang menarik, yang pada akhirnya menerbitkan kebingunangan tersendiri bagi wartawan: apa yang harus ditulisnya. Kebingungan ini sering menyergap wartawan senior sekalipun. Akan tetapi, selalu ada cara untuk menangani masalah ini.

Hal paling mudah tentunya kita harus tahu cakupan apa yang akan dibahas dalam pertemuan itu. Garis besarnya tentulah "sekadar" ponsel. Tetapi apanya? Bukankah kalau bicara ponsel sebatas devices saja dan sekadar menulis produk-produk baru? Tidak kalau kita tahu cakupan dan trend yang berkaitan dengan perkembangan ponsel! Kita ambil dulu garis besar apa dibicarakan dalam pertemuan besar itu. Dengarkan visi bisnis mereka (Nokia) ke depan, apa hal-hal baru (novelty) yang diperkenalkan, apakah kebaruan itu akan mengubah prilaku masyarakat dunia dan berdampak besar dalam kehidupan?

Hal-hal lain yang mendukung bahasan utama tetapi menarik untuk ditulis, bisa dipersiapkan menjadi judul-judul untuk tulisan tambahan atau pendukung. Di sana banyak orang-orang hebat. Adakah menarik untuk menangkap sosok seseorang untuk kemudian dibuatkan profilnya? Tetapi satu hal, jangan pernah menunda-nunda hasil liputan pertemuan besar seperti itu. Semakin lama dibiarkan, akan semakin sulit menangkap nuansanya. Segera tulis supaya Anda juga mendapat tempat (space) di koran Anda.

Di bawah ini adalah satu dari sekian laporan yang bakal saya tulis dari pertemuan Nokia World 2007 sebagai garis besar pertemuan, yang dimuat Kompas, Sabtu 15 Desember 2007:

Telekomunikasi
Bisnis Tujuh Perkara di Tangan

Oleh PEPIH NUGRAHA

Fokus. Ini satu kata kunci bisnis yang masih dipegang oleh perusahaan besar berorientasi global, termasuk perusahaan raksasa telepon seluler dari Finlandia, Nokia. Dalam acara tahunan Nokia World 2007 yang berlangsung di Amsterdam, Belanda, 4-5 Desember lalu, fokus bisnis Nokia berasal dari tujuh perkara yang ada di sekitar kita.

Tujuh perkara itu ternyata menjadi ketergantungan manusia modern, yakni musik, video/televisi, foto, peta, kontak, games, dan internet. Dari tujuh perkara tersebut, Nokia mengemasnya dalam berbagai bentuk devices ponsel yang sesuai dengan tekanan masing-masing tujuh perkara itu.

Sekadar contoh, tekanan untuk permainan (games) ada pada ponsel N-Gage, musik pada Nokia 5610 Xpress Music, video pada Nokia N95 8GB, internet pada Nokia N810 Internet Tablet, kontak bisnis pada Nokia E90 Communicator, dan seterusnya. Meski ada tujuh perkara bisnis dalam urusan ponsel, Nokia fokus pada satu hal: mobilitas internet!

Mobilitas internet yang menemukan bentuknya dalam ponsel sedikit banyak telah mengubah perilaku sebagian besar manusia di berbagai belahan bumi yang akrab dengan teknologi informasi. Soalnya, segala urusan bisa diselesaikan di telapak tangan saja. Jari-jari menjadi penentu untuk segala urusan. Putusan bisnis, misalnya, bisa dilakukan sambil minum kopi di kafe. Mendengarkan radio, menonton televisi dan video bisa sambil tiduran, atau membalas surat elektronik saat sedang berurusan dengan kamar mandi.

Mau tidak mau ada sedikit pergeseran makna di sini. Dulu istilah telepon bergerak dimaksudkan untuk menggantikan telepon statis yang tidak bisa dibawa ke mana-mana. Musik hanya bisa didengarkan di radio, tape, dan kemudian ada revolusi walkman dari Sony yang mengubah orientasi bermusik karena mobilitasnya. Video dan televisi dulu harus ditonton di rumah atau tetangga dan tidak ada cara lain. Lagi, dulu internet hanya bisa dinikmati lewat desktop dan kemudian laptop yang lebih mobile.

Akan tetapi, revolusi yang mencengangkan karena perpaduan ponsel sebagai sebuah alat dan internet sebagai teknologi informasi mutakhir telah merangkum semua urusan tujuh perkara itu di telapak tangan saja. Dan, Nokia menempatkan tujuh perkara itu sebagai bisnis global yang merambah sampai ke sudut-sudut desa terpencil di belahan dunia mana pun dengan rangkaian bisnis ikutannya, sampai ke gerai ponsel.

Multimedia

Dengan keyakinan itulah, Nokia World 2007 yang berlangsung di Congress Centre RAI Amsterdam mengusung tema "Share More, Experience More". Ilkka Raiskinen dari pihak Nokia yang diserahi tanggung jawab untuk mengurus multimedia dalam satu kesempatan mengatakan, apa yang terjadi sekarang merupakan langkah untuk ke depan, yakni mengubah layanan internet menjadi lebih mudah dan bersahabat lewat multimedia di telapak tangan.

"Hal penting lainnya adalah kesadaran kami untuk memelihara lingkungan. Ini karena pengalaman kami, sekaligus peluang bagi kami untuk menciptakan teknologi informasi yang ramah lingkungan," kata Raiskinen yang telah bergabung dengan Nokia sejak tahun 1994.

Raiskinen mengungkapkan, Nokia saat ini fokus pada pengembangan teknologi internet yang menjadi lebih personal dan hadir dalam bentuk multimedia. Tidak sekadar urusan mengontak orang sambil jalan sebagaimana fungsi utama sebuah ponsel, tetapi diperkaya dengan ketersediaan fasilitas untuk mendengarkan musik, menonton video dan televisi, membaca berita online, bahkan membuat blog dari ponsel.

Musik, sebagaimana diakuinya, adalah salah satu penekanan penting. Bahkan ke depan, fungsi ponsel sebagai alat komunikasi tinggal 12 persen. Selebihnya, kalau tidak main games, mendengar radio internet dan musik, nonton video dan televisi, membaca peta di jalan-jalan raya, ya baca berita terbaru yang mengalir setiap saat.

Anssi Vanjoki, General Manager Multimedia Nokia, tidak ragu melihat musik sebagai ikon baru dalam ponsel. Tidak sekadar bisnis nada dering, nada tunggu, atau mendengar musik dari MP3 yang sudah dianggap jadul (zaman dulu), tetapi Nokia membebaskan penggunanya untuk mengunduh (download) jutaan lagu secara gratis sesuka mereka.

"Kami membuat apa yang dilakukan pengguna internet selama ini dengan men-download musik secara ilegal menjadi legal. Mengapa harus berbuat ilegal kalau kami memberi jutaan lagu secara gratis kepada pengguna Nokia seri tertentu selama setahun?" kata Vanjoki pada sesi khusus dengan wartawan Asia Pasifik yang hadir dalam Nokia World 2007, termasuk Kompas.

Kunci lainnya adalah kerja sama atau share itu tadi. Bayangkan, bagaimana mungkin sebuah produsen ponsel bisa bekerja sama dengan perusahaan rekaman Universal dengan jutaan lagu, yang kemudian diajaknya sebagai mitra bisnis. Tentu ada hitung-hitungan bisnisnya sebab, selepas satu tahun, pengguna Nokia yang ingin mengunduh musik dikenai biaya.

Akan tetapi, Vanjoki tidak bersedia memerincinya saat ini. "Itu urusan tahun depan. Namun, selama setahun Anda bisa men-download jutaan lagu dari ponsel kalau Anda mau," katanya.

Dalam sekejap, kemitraan antara Nokia dan Universal Music Group International milik perusahaan media raksasa Perancis, Vivendi, itu akan mengubah bisnis musik ke depan. Lewat kemitraan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan, yakni antara perusahaan ponsel dan perusahaan rekaman musik, kedua raksasa itu bersekutu untuk menawarkan layanan "Comes With Music" hanya di ujung jari.

"’Comes With Music’ adalah mimpi kami untuk memberi konsumen jutaan musik yang mereka inginkan, kapan mereka mau, dan di mana pun mereka berada, sekalian sambil memberi musisi penghargaan atas karya-karyanya karena musik yang Anda dengarkan adalah legal," kata Vanjoki.

Bos Universal Lucian Grange menyebut kemitraan ini sebagai fantastis dan cara baru bagi penikmat musik mencari dan menemukan artis kesayangannya dari katalog Universal. "Di sisi lain ’Comes With Music’ memungkinkan artis kami meraih khalayak penggemar yang jauh lebih luas dengan cara yang sangat mudah," katanya saat memberi pandangan.

Ovi adalah "pintu"

Sulit menghindar dari kenyataan bahwa dengan terjunnya Nokia ke dunia internet yang menomorsatukan unsur mobilitas, ia akan berhadapan secara frontal dengan perusahaan internet, seperti Microsoft, Yahoo, dan Google. Itu sebabnya tatkala Google membentuk konsorsium menciptakan software terbuka Android, di mana Nokia tidak masuk di dalamnya, dilihat sebagai upaya membendung sepak terjang Nokia yang merambah internet. Namun, kehadiran Android tidak membuat orang-orang Nokia cemas.

"Kalau Android dimaksudkan sebagai software terbuka, bukankah kami juga punya Symbian, Java, sistem operasi Linux yang juga bersifat terbuka? Jadi, tidak ada yang perlu kami khawatirkan," kata Vanjoki.

Melanjutkan kompetisinya di dunia internet yang mobile, Nokia memperkenalkan Ovi yang mereka sebut sebagai "panel personal untuk hidup". Ovi yang dalam bahasa Finlandia (Suomi) berarti pintu memungkinkan orang dengan mudah membangun jaringan sosial dan komunitas. Dengan demikian, Ovi tidak jauh beda dengan situs jejaring sosial seperti Myspace, Friendster, Facebook, Flickr, dan YouTube.

Bedanya, Ovi menekankan pada tiga unsur layanan, yakni navigasi (peta), musik, dan games. Dengan Ovi, misalnya, pengguna dimungkinkan mengunduh peta melalui ponsel atau komputer personal. Ovi tentu saja dapat di-install ke ponsel Nokia seri tertentu, seperti Nseries, sehingga mendengarkan musik di radio internet bisa dilakukan sambil bepergian. Sesungguhnya, bisnis tujuh perkara terangkum pula dalam Ovi ini.

Saturday, December 08, 2007

Catatan (35): Dusseldorf-Amsterdam PP


Istirahat Di Dusseldorf

SAAT ada kesempatan ngetik dan tersambung ke internet, saya luangkan waktu untuk menulis blog. Tulisan ini saya buat di Bandara Dusseldorf, memanfaatkan internet gratis yang disediakan bandara, sebagaimana di Bandara Dubai. Perjalanan kali ini ke Eropa atas undangan Nokia, sungguh sangat menyenangkan. Ada nuansa lain ketika harus melintas negara dari Dusseldorf ke Amsterdam.

Dari Jakarta saya harus transit sebentar di Singapura menggunakan Emirates. Lalu dilanjutkan ke Colombo dengan lama perjalanan 3 jam. Colombo-Dubai ditempuh selama 4 jam. Dari Bandara Dubai dilanjutkan ke Dusseldorf selama 7 jam. Pengalaman menyenangkan justru terjadi di Dusseldorf karena saya menggunakan Eurotrain ke Amsterdam seharga 65 Euro.

"Wie lange dauert von Flughafen zu Banhoff?" tanya saya kepada sopir taksi yang ternyata orang Inggris, tetapi lebih suka berbahasa Jerman. "Ungefahr zwanzig minuten," katanya. Mas Budiputra di samping saya agak terkejut saya bisa berbahasa Jerman dan melanjutkan percakapan ringan dengan sopir itu. Saya bilang, hanya inilah bahasa Jerman yang saya bisa. Selebihnya lupa lagi.

Perjalanan Dusseldorf-Amsterdam memakan waktu 3 jam. Sayang, karena perjalanan malam hari, saya tidak bisa melihat pemandangan ke luar. Baru saat pulang dari Amsterdam-Dusseldorf, saya bisa menikmati pemandangan ke luar dari jendela.

Monday, December 03, 2007

Catatan (34): Perjalanan Panjang




Amsterdam, Ketiga Kalinya

SAAT menulis dan meng-upload tulisan ini, saya tengah transit di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab, setelah melakukan perjalanan panjang dari Jakarta-Colombo-Dubai. Masih akan meneruskan perjalanan ke Dusseldorf, Jerman, dua jam lagi dari sekarang. Dari Dusseldorf naik kereta Eurotrain ke Amsterdam. Bakalan asyik tentunya.

Lumayan, bisa nangkring dulu di Dusseldorf dan siapa tahu bisa mempraktikkan bahasa Jerman saya yang masih sedikit tersisa. Sepertinya dengan Eurotrain lebih seru dan bakal ada cerita. Tujuan akhir perjalanan ini adalah Amsterdam, atas undangan Nokia. Berarti. ini perjalanan saya ke negeri Kincir Angin untuk yang ketiga kalinya. Dari Jakarta saya berangkat berdua bersama blogger Budiputra, yang juga diundang perusahaan ponsel Finlandia itu.

Kapan-kapan, saya menulis lagi cerita perjalanan ini. Tetapi untuk Kompas pun rasanya bisa dan layak. Maka itu prioritas, selain laporan dari konferensi Nokia, tentunya. Alan (sekarang) Saya harus minum kopi dulu. Di sini, saya sudah bisa bilang "Uriyd an adhab al Kahwa." (saya mau minum kopi). Ila liko (sampai jumpa)....

Monday, November 26, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (39)


Ikut Saran Teman


SEBAGAI jurnalis, sudah seharusnya kita pasang mata dan telinga terhadap isu tertentu. Tanpa membuka jaringan dan komunitas, misalnya, tidak akan mungkin kita mendapat berita yang penting dan menarik untuk dibaca orang.

Dunia internet, adalah wilayah yang masih asing bagi saya, kendati setiap hari saya belajar secara otodidak soal dunia interet ini. Untuk itu, saya tidak ragu lagi saat Mas Heru, teman dari KCM, mengajak saya menjumpai seseorang. "Siapa tahu Mas Pepih tertarik menulis tentang Budi Putra," katanya, menyebut nama seseorang.

"Apa menariknya ya kalau saya menulis tentang Budi Putra?" tanya saya yang dijawab Mas Heru, "Dia blogger sejati. Orang yang rela meninggalkan pekerjaannya hanya untuk nge-blog."

Menarik! kata saya dalam hati. Tetapi saya harus menggali dan membuktikannya.

Maka perjumpaan pun dilakukan di sebuah tempat, bertiga. Mas Heru menulis untuk Kompas.com, dan saya menulis untuk Kompas cetak. Meski ketika tulisan sosok itu dimuat, Bos Kompas.com, Taufik Mihardja bilang, "Alangkah indahnya kalau Pep menyebut 'Kompas.com' dalam tulisan sosok itu."

Well, sangat layak dipertimbangkan, dan hanya karena alpa saja sehingga ikon 'Kompas.com' tidak muncul. Berikut adalah tulisan saya tentang blogger Budi Putra:

BUDI PUTRA, BANGGA BERPROFESI "BLOGGER"
Oleh Pepih Nugraha

Tahun 1996, seusai menyelesaikan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang, ia mendapat beasiswa belajar di Jepang. Saat dia berada di Jepang, pesawat Garuda Indonesia DC-10 mendapat musibah, terbelah menjadi tiga bagian di Bandara Fukuoka dan menewaskan tiga dari 261 penumpang yang sebagian besar warga Jepang.

Karena saat itu dia adalah wartawan untuk sebuah harian di Padang, Sumatera Barat, naluri kewartawanannya terpanggil. Ia menulis dan melaporkan peristiwa itu ke koran Singgalang, tempatnya bekerja. Bagi koran daerah, ini berita eksklusif yang dilaporkan langsung on the spot. Ia kirim laporan empat sampai lima kali lewat faksimile yang sangat mahal biayanya.

"Di Jepang internet sudah mewabah, tetapi saya tak tahu bagaimana memanfaatkannya," kenang Budi Putra, si penerima beasiswa, saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta. Akan tetapi, ia segera sadar, "Kalaupun saya bisa memanfaatkannya, apa bisa tersambung ke Padang, wong di Jakarta saja internet masih langka."

Rasa minder karena gaptek (gagap teknologi), khususnya gagap teknologi informasi (TI), tak membuat dia terasingkan. Justru ia bangkit dan ingin menguasai TI. Apalagi setelah membaca buku Nicolas Negroponte, Being Digital, keinginannya menjadi bagian dari warga digital semakin menggebu-gebu.

Jepang adalah titik awal persinggungannya dengan teknologi internet. Sekembalinya ke Tanah Air, pria kelahiran 12 September 1972 ini langsung mengejar ketertinggalannya. Tetap, bagaimana caranya? Kebetulan di kantor pos Padang saat itu sudah tersedia Wasantara.net, fasilitas milik PT Pos yang saat itu dipergunakan untuk mengirimkan wesel elektronik.

Lewat Wasantara.net itulah Budi Putra yang gemar menulis sejak duduk di sekolah menengah pertama membenamkan diri di depan komputer. Dia menelisik bagaimana internet digunakan dan apa manfaatnya.

"Saya bisa sewa sampai empat jam sehari. Padahal, saat itu biaya sewanya Rp 12.000 per jam," kata suami Elvi Susanti ini.

Liputan TI

Perkenalan Budi Putra dengan TI membawanya ke alam yang tidak jauh dari dunia itu. Saat ia menjadi wartawan koran Tempo, ia juga diserahi tugas meliput TI dan mengelola versi on-line. Dengan berbekal ilmu TI yang dimilikinya pula, Budi Putra memutuskan keluar dari koran itu, lalu sepenuhnya hidup dan menghidupi diri dari pengetahuan TI, khususnya internet.

Bagaimana caranya ia hidup independen dari internet? Menjadi blogger!

Itulah dunia usaha yang ditemukan Budi Putra dari hasil pengembaraan pengetahuannya tentang internet yang ia kenal saat berada di Jepang. Bagaimana blog alias catatan web pribadi itu bisa menjadi tumpuan kehidupan dan dapat digunakan sebagai tambang usaha? Budi Putra punya jawaban menarik.

Menurut dia, blog sekarang sudah tak bisa dianggap enteng dan sekadar pengisi waktu luang. Blog bisa berarti tambang uang. Technorati (situs pencatat web) mencatat, sampai September 2007 sudah terdapat 106 juta blog. Di Indonesia ada 130.000 blog. Sayang, tidak banyak orang tahu bagaimana menambangnya. Ada berbagai cara, tetapi Budi Putra "baru" menemukannya beberapa cara.

Pertama, blog yang mulai berkembang sejak 1998 itu adalah web yang bisa dipasangi iklan oleh pihak ketiga. Membuat blog sendiri gratis dari penyedia blog, seperti Blogger, Movable Type dan Wordpress. Pemasang iklan akan datang bila suatu blog diakses banyak visitor.

Kedua, memasang AdSense dari Google. Namun, nilai nominalnya sangat kecil karena bergantung pada lalu lintas web kita. Semakin banyak yang berkunjung, semakin tinggi kemungkinan iklan Google di web kita akan diklik oleh pengujung. Setiap iklan yang diklik itulah yang akan dibayar oleh Google.

Ketiga, menjadi pay blogger, yakni blogger berbayar. Seorang blogger dengan keahlian yang dimilikinya bisa diminta sebuah institusi media on-line untuk menulis kolom tetap. Pay blogger mendapat honor dari apa yang ditulisnya, besarnya antara Rp 300.000 dan Rp 500.000 per tulisan.

Keempat, blogger profesional bisa mengembangkan diri menjadi konsultan blog, tempat bertanya bagi perorangan atau perusahaan yang berminat membuat blog. Dia mendesain blog dan menjadi pembicara. "Saya memilih menjadi pay blogger dan konsultan blog," kata Budi Putra.

Karena merupakan tambang baru yang belum banyak digali orang, Budi Putra nekat meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan pada 1 Maret 2007. Ia sepenuhnya mencurahkan perhatian pada urusan blog, sampai-sampai profesi di kartu namanya pun tercantum sebagai blogger.

"Saya tidak malu, malah bangga," ucapnya.

Budi Putra mendirikan perusahaan blog, yang boleh jadi perusahaan blog pertama di Indonesia, Asia Blogging Network (ABN). Sementara sebagai pay blogger, ia rutin menulis untuk harian The Jakarta Post. Tempat Budi ngeblog antara lain di CNET Asia, The Asia Tech, Indonesia Tech dan 3Gweek. Untuk blog yang didirikannya, Budi Putra berhasil mengumpulkan 40 blogger yang dibayar untuk menulis olahraga, gaya hidup, bisnis, dan teknologi.

Koran masuk sekolah

Dilahirkan di Payakumbuh, perkenalan Budi Putra dengan dunia tulis-menulis dimulai sejak sekolah menengah pertama tahun 1987. Secara rutin tulisannya muncul di "Koran Masuk Sekolah" yang merupakan lembaran khusus Harian Singgalang. Saat sekolah menengah atas, tulisan dia dimuat antara lain di Tabloid Bola dan Majalah Gadis. Setelah reformasi pecah, tahun 1999 ia menerbitkan Harian Mimbar Minang.

Lahir dari pasangan Bachtiar dan Musril, keduanya guru di Payakumbuh, Budi Putra mengembangkan kariernya sebagai penulis. Tahun 2002 ia pindah ke Jakarta, bergabung dengan Grup Tempo. Kini, blogger yang sudah menulis lima buku teknologi internet ini mengajar di FISIP Universitas Indonesia tentang blog.

Untuk melengkapi pengetahuan, ia memiliki 30 buku khusus tentang blog. Ia kuliah S-2 bidang manajemen komunikasi di universitas di mana dia mengajar mahasiswa S-1. Tesis yang ia susun pun tak jauh dari blog, yakni Political Marketing Through Blog, dengan kajian tiga menteri yang aktif ngeblog.

Tuesday, November 13, 2007

Komentar Anda (2)


Blog "Abah" Iwan

SAYA mendapat surat dari Nurjamila, yang merupakan putri dari Iwan Abdulrachman, pencipta sekaligus penyanyi balada legendaris. Ia meminta dua postingan saya bisa dimuat di blog khusus Iwan Abdulrachman, yakni http://abahiwan.wordpress.com/. Dengan senang hati saya meluluskannya. Berikut surat Nurjamila yang ia tulis dalam bahasa Sunda, yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Nurjamila meninggalkan pesan pada postingan "Catatan: Belajar dari Iwan Abdulrachman (3)":

Punten kang Pepih, nepangkeun abdi putri Abah Iwan. Bade ngiring copy seratan akang, ku abdi bade dilebetkeun ka blog Abah. Tiasa ditingal di abahiwan.wordpress.com. Eta teh kempelan seratan sobat-sobat abah, sareng kempelan artikel-artikel anu ngamuat perkawis pun bapa. Hatur nuhun sateuacanna.

(Maaf kang Pepih, perkenalkan saya putri Abah Iwan. Ingin ikut mengkopi tulisan akang, saya akan memasukkannya ke dalam blog Abah. Bisa dilihat di http://abahiwan.wordpress.com. Itu merupakan kumpulan tulisan sahabat-sahabat abah, dan kumpulan artikel yang memuat tentang ayah saya. Terima kasih sebelumnya.)

Di bawah ini balasan saya, juga dalam bahasa Sunda, yang intinya saya menyilakan Nurjamila mengambil tulisan saya untuk dimuat di blog Abah Iwan Abdulrachman. Saya katakan, saya juga berniat memuat cerita tentang Abah Iwan itu dalam blog bahasa Inggris saya di http://pepih.wordpress.com/ (pepih's pepblog), sekaligus menerjemahkan lirik lagu-lagunya ke dalam bahasa tersebut. Berikut balasan saya:

Hatur nuhun, sami-sami nepangkeun. Bingah pisan Salira tiasa rurumpaheun ka ieu blog. Perkawis bade dikopi mah, mangga teu langkung, ngiring bingah. Abdi oge tangtos kantos ningalian blogna Abah, saminggu kapengker.

Kapayunanna, sim kuring gaduh rencana bade nyerat blog nganggo basa Inggris di alamat
http://pepih.wordpress.com (pepih's pepblog) ngeunaan Abah Iwan sacara berseri, komplit sareng teks laguna nu Insya Allah bade diterjemahkeun kana basa Inggris.

Dupi maksad mah bade nepangkeun Abah Iwan ka Mancanagara salaku aset nasional. Sanes kanggo dibisniskeun da maksad ngadamel blog mah mung sakadar iseng-iseng aya manfaat. Upami kawidian, Insya Allah abdi nepangan salira di Bandung, tos komo tiasa ngobrol sareng Abah Iwan mah. Pangdugikeun salam kareueus sareng hormat sim kuring ka Abah. Hatur nuhun.

Pepih Nugraha

Monday, November 12, 2007

Catatan (33): Resensi Adhi KSP


Resensi untuk Beranda t4 Berbagi


BUKAN Bermaksud pamer atau narsis kalau saya cantumkan tulisan sahabat saya, Robert Adhi Kusumaputra, yang meresensi blog Beranda t4 Berbagi di blog miliknya. Resensi ini sangat bermakna, paling tidak buat saya sendiri, karena mampu menyemangati dan memacu saya untuk terus berbagi pengalaman menulis di blog ini.

Adhi adalah wartawan Kompas, yang berarti satu kolega dengan saya. Ia punya blog yang sangat impresif karena dikunjungi ratusan ribu orang dari ratusan negara. Ia sangat-sangat rajin memperbarui postingannya, juga dengan sabar membalas semua orang yang meninggalkan jejak berupa pesan-pesan. Ia sangat rajin bekerja dan selalu menikmati hari-harinya.

Berikut resensi Adhi mengenai blog saya dengan penambahan foto diri saya yang paling baru tahun 2007 (foto di atas), setidak-tidaknya lebih baru dari foto yang dicantumkan Adhi untuk melengkapi resensinya, yakni pasfoto saya tahun 1998 lalu:


Pepih Nugraha, Beranda t4 Berbagi


BLOG Pepih Nugraha adalah salah satu blog wartawan Kompas yang aktif dan selalu di-update. Blog yang dibuat sejak Februari 2006 ini berisi berbagai pengalaman Pepih, termasuk kiat-kiat menulis. Karena dia suka catur, blog ini pun beberapa di antaranya berisi permainan catur.

Memang, blog bisa berisi apa saja yang diinginkan pemiliknya. Pepih mengisi blognya sesuai dengan hobinya. Tapi alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini tak lupa membagi ilmu. Beberapa isi blognya tentang "berbagi pengalaman menulis" yang dimuatnya berseri.

Bagi mereka yang ingin memulai menulis, tentu blog Pepih ini sangat bermanfaat. Setidaknya ada pengetahuan yang dapat dipetik. Satu hal yang diyakini Pepih adalah tentang masa depan blog atau weblog, yang dapat menjadi kekuatan baru, mengalahkan mainstream media. Setiap orang adalah wartawan. Apapun yang ditulis di blog, langsung dapat dibaca jutaan orang di dunia berkat internet.

Blog Pepih yang pernah menjadi "Click of the Week" versi Maverick Indonesia ini, menegaskan bahwa kita bisa menulis apa saja, tentang apa saja dari kehidupan sehari-hari kita. Mulailah menulis catatan harian, demikian pesan Pepih.

Saya kutip kalimat Pepih di blognya: Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa berbagi pengalaman, syukur kalau di dalamnya terselip ilmu yang bisa dimanfaatkan. Hal tersulit dalam menulis adalah memulai. Maka, jangan pernah ia musuhi. Jadikan memulai sebagai sebuah tantangan, bukan tentangan. Menulis saat bahagia itu biasa, baru luar biasa jika bisa menulis dalam keadaan berduka, tertekan atau bahkan terluka. Biasakan menulis sekalipun dalam suasana hati yang ekstrem, dalam lara maupun suka. Bukankah susah dan senang hanyalah permainan rasa belaka...

Tuesday, November 06, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (38)


Apa Syarat Menulis Opini Kompas ? (Bagian 4)

ARTIKEL atau opini yang ditulis untuk Harian Kompas, menunjukkan siapa, apa dan bagaimana kapasitas penulisnya. Untuk itu, artikel yang ditulis oleh dua orang atau lebih sudah otomotis akan dianulir alias dikembalikan kepada para penulisnya. Artikel mutlak harus ditulis sendiri, tidak boleh tandem.

Mengapa artikel harus ditulis sendiri? Sebab artikel itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh penulisnya sendiri. Ibarat mempertahankan skripsi, tesis atau disertasi, semua harus dilakukan sendiri oleh penulisnya. Bukankah tidak ada yang menulis skripsi, tesis, atau disertasi secara keroyokan? Begitu pula menulis artikel.

Memulai menulis bukan berarti harus tandem dengan penulis yang sudah jadi atau ternama. Asumsinya, penulis ternama yang sudah biasa menulis di media massa, adalah jaminan mutu. Dengan demikian ia bisa "mempromosikan" kolega, kerabat atau keluarganya untuk "sama-sama" menulis. Sebaliknya, penulis baru bisa mendompleng nama penulis yang sudah dikenal. Pokoknya asalkan nama penulis itu bisa termuat di koran. Alhasil, artikel ditulis oleh dua orang atau lebih. Ini tidak boleh dilakukan kalau ingin menulis artikel di Kompas. Sendiri saja dan percaya diri sajalah.

Atribusi atau penyebutan yang melekat ke dalam diri penulis, juga harus menunjukkan kepakaran penulisnya. Misalnya: Polan, penulis adalah Dokter Bedah. Atau penulis adalah Peneliti LIPI, atau penulis adalah Guru Besar Linguistik, atau bahkan penulis adalah Guru TK, dan seterusnya. Jadi, tidak ada lagi atribusi yang menyebutkan bahwa penulis adalah pengamat seni atau penulis adalah penikmat sastra. Tidak ada lagi atribusi yang tidak menunjukkan kepakaran penulisnya.

Pengamat dan penikmat meskipun bisa dan mampu menulis, tetapi tentu saja kedalaman bahasan yang mereka tulis akan berbeda dengan penulis yang sudah teruji kepakarannya. Namanya juga pengamat apalagi penikmat, hal itu bisa dilakukan sambil lalu saja, tidak benar-benar mendalami persoalan yang ditulisnya. Padahal, pembaca artikel atau opini Kompas tidak sedang membaca sambil lalu. Para pembaca memerlukan opini yang mencerahkan, sesuatu yang baru atau setidak-tidaknya ada kebaruan (novelty), suatu bahasan atau kajian yang berbeda dari yang lain dan syukur kalau bisa memberikan inspirasi.

Postingan berikutnya, masih soal tips menulis artikel untuk Kompas, yakni menyangkut substansi yang dibahas dalam artikel. Harap bersabar.....

Saturday, November 03, 2007

Komentar Anda (1)





Komentar Priyady atas "Teh Ida"






KEBETULAN saya orang Majalaya, saya kira penggunaan kekerasan untuk memenangkan persaingan bisnis, pada jaman sekarang seharusnya dikurangi kalau tidak bisa dihilangkan, dan diganti dengan persaingan sehat seperti kualitas, harga, pelayanan ,purnajual dll.


Penggunaan kekerasan dalam persaingan tidak membedakan manusia sebagai mahluk sempurna dengan mahluk lainnya, seperti binatang akan menggunakan kekerasan untuk mempertahankan daerah kekuasaanya (mempertahankan makanan dan betina-betinanya) dimulai penandaan batas wilayah dengan kencingnya sang pemimpin binatang di suatu tempat/pohon dan usaha pengusiran dengan kekekrasan kalau ada binatang lain yang akan mencoba memasuki daerah kekuasaan.


Dampak lain akan timbul saling balas dendam, orang Majalaya akan memperlakukan hal yang sama apabila ada pesaing dari karawang. Balas dendam ini juga merupakan perilaku standar semua mahluk, harus nya manusia tidak berperilaku standar seperti kebanyakan mahluk karena manusia adalah mahluk sempurna dan menjadi khalifah di muka bumi.


Sekian dari saya, ini hanya komentar saja. Selanjutnya saya mau konfrimasi apakah pemilik blogger ini berasal dari Ciawi,Tasik pernah tinggal di Cikoko Barat belakang bank Bukopin, temennya Sofyan Halim dari Tasik, tinggal di lantai atas , suka memutar lagu cianjuran? kalau betul saya adalah pengagumnya, saya mengucapkan selamat atas kesuksesan karirnya , semoga terus maju dan sukses, serta jadi orang yang berguna bagi keluarga, masyarakat dan agama.


Karena hidup hanya sementara dan satu kali, sehingga kalau hidup tidak berguna untuk kehidupan ini, sangat disayangkan (ini hanya pendapat saya aja), saya yakin bapak Pepih ini adalah manusia pilihan yang sangat berguna bagi kehidupan ini, amiin.


Balasan saya:


Terima kasih atas komentarnya Kang Priyady, setidak-tidaknya saya mengakangkan saja, daripada menyebut Akang dengan sapaan "Bapak". Bukankah Kang Priyady orang Majalaya?


Begitulah, Kang, saya hanya mengungkapkan apa adanya dari apa yang dituturkan Teh Ida (lihat Catatan: Menyapa Warga-1) , seseorang yang saya temui begitu saja di jalanan. Maaf kalau saya terpaksa harus menyebut Majalaya, kota kelahiran Akang (?), bukan bermaksud mengkonfrontasikan antara orang Karawang dengan orang Majalaya. Mungkin kebetulan saja yang ingin mencari nafkah sebagai pembeli/penjual beras itu orang Majalaya.


Tentu saya setuju soal keharusan tidak ada batas wilayah dalam hal mencari nafkah. Bukankah para bapak pendiri negeri ini telah bersepakat bahwa kita bernaung dalam payung NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Logikanya, kita mau hidup, mencarii nafkah, menitipkan badan, bisa di lingkup NKRI. Sentimen kesukuan, ras, golongan dan agama harus dihilangkan jika kita bersepakat hidup dalam ikatan keindonesiaan. Bukan begitu, Kang?


Bahwa ada orang yang bersikap seperti suami Teh Ida, mungkin orang seperti inilah yang butuh pencerahan kita bersama. Kita tidak boleh tersulut atau terprovokasi, tetapi cukup memaklumi bahwa masih ada di antara kita orang-orang yang rela mati dan bermusuhan hanya karena urusan rejeki, yang kita yakini itu semua diatur oleh Allah.


Soal bahwa saya pernah kost di Cikoko Barat selama kurun waktu 1990-1992 dan teman Sofyan Halim, seratus persen benar. Semoga kita bisa bertemu kapan-kapan. Hanya saja mohon maaf jika saya tidak bisa menelusur lebih jauh keberadaan Akang.

Citizen Journalism (10)





Hari "Blog Nasional"



SABTU, 27 Oktober lalu, saya berkesempatan menghadiri "pesta blogger" di Mega Blitz, Jakarta. Luar biasa antusiasnya para blogger yang datang dari penjuru tanahair dan bahkan luar negeri itu. Saya bersama wartawan Kompas lainnya, Robert Adhi Kusumaputra, bersepakat akan menuliskan peristiwa itu dalam sebuah tulisan yang lebih detail. Adhi juga menggarap hotspot peristiwa ini untuk Kompas.com.



Adhi menulis laporan utama peristiwa itu (klik http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/02/telkom/3966897.htm), sementara saya melengkapinya dari persperktif lain, yakni suatu missi mengajak orang, siapa saja dan lebih khusus lagi wartawan, untuk jangan malu memulai membuat blog. Tulisan pelangkapi bernada provokatif, dalam arti mengajak orang itu di muat di Harian Kompas, Jumat 2 November 2007, bisa sahabat lihat di bawah ini, sementara foto di atas saya ambil saat peserta pesta blogger memilih blog terbaik berbagai kategori:



BLOG

Jangan Malu Memulai!



Pepih Nugraha



PADA masa awal kelahirannya, blog atau situs pribadi dianggap sebelah mata, bahkan cenderung dilecehkan. Sampai sekarang pun sikap nyinyir terhadap blogger tidak pernah hilang. Disebutlah blogger itu narsis yang buang-buang waktu percuma. Persis lahirnya sebuah revolusi, kehadiran awalnya diragukan.



Sekarang, orang yang melek internet tetapi belum nge-blog, istilah merujuk aktivitas dalam membuat dan mengisi blog, dianggap tertinggal zaman. Blog sudah menjadi gaya hidup, mulai dari anak sekolah dasar, selebriti, sampai menteri. Bahkan, 94 dari 96 surat kabar cetak terbaik di Amerika Serikat memiliki blog. Hanya empat surat kabar saja yang "jadul" alias terseret zaman karena tidak memiliki blog.



Jelaslah, di belahan dunia sana blog sudah masuk salah satu kriteria penting sebagai penentu berkualitas tidaknya sebuah surat kabar. Beberapa surat kabar cetak di Indonesia sudah memiliki kesadaran lebih dini dengan membuat blog sebagai tempat curhat para wartawannya atau tempat mengekspos kegiatan keseharian surat kabar itu, yang tidak mungkin termuat dalam surat kabar.



Di Eropa atau Amerika, surat kabar online pun memiliki blog sendiri-sendiri, plus blog pribadi wartawannya yang bisa diklik di jajaran navigasi global pada tampilan surat kabar online tersebut. Ada "cerita di balik berita" yang lebih bebas terungkap dalam blog, yang kadang justru lebih menarik daripada peristiwa itu sendiri. Ada forum dialog intens yang hangat antara wartawan dan para pembaca. Ada keakraban di sana.



Seluruh wartawan, editor, dan pemilik surat kabar bisa disapa serta ditanya tentang berbagai hal. Wartawan yang menulis berita tidak lagi asal lempar tulisan setelah itu tutup telinga: "terserah tulisanku mau dibaca atau tidak, pokoknya masa bodoh". Hubungan antara koran yang diwakili wartawan dan para pembacanya menjadi berjarak. Wartawan kerap dicap sebagai "orang pintar" yang duduk di menara gading, yang sulit dan tidak bisa disapa pembaca.



Akan berbeda persoalannya jika sebuah surat kabar memiliki blog sendiri. Suasana lebih akrab bisa terjalin karena dipersatukan minat yang sama. Wartawan yang biasa menulis rubrik khusus, seperti otomotif, teknologi informasi, dan politik, memiliki "basis massa" pembaca yang luar biasa besar.



Sayang, selama ini aliran informasi hanya satu arah sifatnya. Tidak ada dialog interaktif untuk menangkap umpan balik (feedback) pembacanya, yang kemungkinan ada persoalan baru lainnya yang muncul dari hasil dialog interaktif itu untuk bahan tulisan berikutnya. Bukankah dalam dunia media online ada adagium bahwa berita adalah percakapan itu sendiri?



Wartawan memang manusia supersibuk yang tidak punya waktu membalas sapaan pembacanya di blog. Membalas sapaan pembaca di blog berarti buang-buang waktu sehingga waktu untuk menulis tersita. Tentu saja wartawan tidak harus memelototi blog tiap hari. Kalau tidak punya waktu, barangkali cukup seminggu sekali, sebulan dua kali, atau boleh juga sebulan sekali. Sekadar "say hello" saja kepada pembacanya.



Maka, berkumpulnya para blogger dari berbagai penjuru Tanah Air di Blitz Megaplex Jakarta, 27 Oktober lalu, menjadi penting. Selain menunjukkan keberadaan para blogger, ada semangat memperekat komunitas blogger. Meski belum pernah bertemu secara fisik dan hanya bertutur sapa di dunia maya lewat media maya, toh pertemuan itu menjadi "kopi darat" pertama yang terbesar.



Beberapa wartawan peliput acara yang kemudian diklaim sebagai "Hari Blogger Nasional" itu adalah blogger, karena kesadaran mereka untuk berada dalam satu komunitas yang sama, yang sudah terbiasa saling menyapa dalam dunia maya.



Jumlah 130.000 blogger Indonesia belum apa-apa dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sudah menyundul angka 230 juta jiwa. Namun, melihat antusias orang yang terus membuat blog di seluruh dunia, jumlah itu rasanya terlalu kecil. Tengok Wordpress, salah satu situs penyedia blog terdepan saat ini, di mana setiap harinya mencatat 50.000 pembuat blog baru. Anda? Jangan malu untuk memulai!

Tuesday, October 23, 2007

Citizen Journalism (9)





Teh Ida


REFRESHING tidak harus mahal. Tidak pula harus jauh-jauh. Cukup di sekitaran kita saja. Tidak harus ke tempat hiburan atau tempat wisata artificial alias buatan, tetapi bisa ke tempat-tempat yang asli. Tempat yang tidak dibuat-buat, tempat yang tidak dikerangkeng pagar pembatas, tempat yang tidak dipajaki. Langit luas adalah atapnya, tanah yang dipijak adalah alasnya.



Inilah tempat refreshing terbuka dengan segenap warganya yang bisa kita sapa. Tempat itu bernama “Dimana Saja” dan dapat kita kunjungi “Kapan Saja”.



Minggu, 21 Oktober lalu, saya bersama keluarga menyempatkan diri berangkat ke Karawang, wilayah yang dulu disebut sebagai “lumbung padi Jawa Barat”, kurang lebih 70 kilometer arah timur Jakarta. Saya tahu, itu adalah hari dimana puncak mudik balik sedang terjadi dimana-mana. Ada potensi terjebak kemacetan. Tetapi kami jalan terus, sekalian menjemput Dani, teman anak saya yang tinggal serumah. Postingan ini baiknya saya bagi dua bagian, biar tidak terlalu panjang.



Pertama saya akan bercerita tentang Teh Ida, ibu rumah tangga yang kami jumpai di kawasan Ranggon. Kedua, saya akan bercerita tentang Pak Tarsan, yang pekerjaannya menarik sampan bolak-balik di sungai irigasi. Saya akan mulai cerita tentang Teh Ida.



Bertemu dengan Teh Ida tidak sengaja, saat kami menepikan kendaraan untuk membeli kelapa muda (duwegan) di pinggir jalan. Ruas jalan amat lurus. Kelapa muda teronggok begitu saja. Per butirnya Rp 4.000. Di tepi kiri-kanan jalan hamparan sawah yang siap dipanen, terbentang luas, yang hanya terbatasi gunung membiru di ujung sana. Seorang perempuan tengah tidur-tiduran, menahan kantuk karena terpaan angin semilir yang membelai, memerangkap khayalan. Kami bertiga; saya, Kakang (anak saya), dan ibunya anak saya terbenam dalam kesibukan menikmati lezatnya kelapa muda.



Baru kami sadar bahwa perempuan yang sedang tidur-tiduran dengan nikmatnya itu adalah perempuan yang modis, perempuan berpenampilan kota, bukan penampilan perempuan desa yang apa adanya. Dandanannya bagus. Rambut bekas di-rebounding. Bulu matanya lentik karena mascara. Kedua bulu alisnya ditata rapi, setidak-tidaknya dibikin simetris. Eye shadow seperti bayangan yang terpatri dengan polesan wajah agak tebal. Ia dandan dan menjaga penampilan, lengkap dengan polesan gincu merah di bibirnya. (lihat foto di atas). Dandanan yang kontras di tengah suasana pedesaan yang asri.



Bahkan saya menilai, dagu perempuan yang kemudian saya tahu bernama Ida itu telah dipermak menjadi lancip, setidak-tidaknya bulatan dagu itu berwarna kemerahan karena kepanasan. Mungkin hidungnya yang mancrit juga hasil polesan ahli bedah wajah. Lantas percakapan berlangsung dalam bahasa Sunda. Ia menggunakan bahasa Sunda dengan fasih, salah satu bahasa yang saya kuasai cukup baik (sahabat bisa lihat blog berbahasa Sunda saya di
http://www.nyunda.wordpress.com/).



Teh Ida, demikian nama perempuan itu, bisa dengan enteng bercerita tentang suaminya yang “cunihin”, yang suka melirik perempuan lain. “Padahal, suami saya penampilannya diem, kalem, meskipun kumisnya baplang (kumis melintang). Kalau lihat perempuan, matanya bisa melirik terus sampai perempuan itu menghilang,” cerita Teh Ida.



Suaminya bekerja sebagai bandar padi . Sehari bisa mengumpulkan 20 ton gabah atau setara dua truk. Perputaran uangnya cepat, tetapi menurutnya, pekerjaan itu dilakukan dengan keras bahkan dengan kekerasan. Ada wilayah-wilayah tertentu yang dikuasai bandar tertentu, seperti halnya suami Teh Ida. Tidak boleh sembarangan orang bisa masuk untuk membeli gabah, kendati harga beli yang ditawarkan lebih tinggi.



Pernah, katanya, ia diajak suaminya mencari gabah. Ada orang Majalaya yang mau membeli beras di wilayah garapan suaminya. Yang terjadi adalah, suaminya siap berkelahi sampai mati dan mengusir orang Majalaya itu seperti mengusir binatang. Merasa iba, Teh Ida menghardik suaminya, "Naha maneh teh taya ras-rasan ngusir sasama jalma nu sarua keur neangan pakasaban?" (kenapa kamu tega mengusir orang yang sama-sama mencari makan?). Sang suami enteng saja menjawab, "Lamun teu kitu mah urang nu moal dahar." (kalau tidak begini justru kita yang tidak bisa makan). "Itulah dunia suami saya,” kata Teh Ida.



Menarik adalah prilaku “cunihin” suaminya kepada perempuan lain. Pernah, katanya, Teh Ida harus menjemput suaminya yang sedang asyik indehoy (pacaran) dengan sinden di suatu sanggar tari jaipongan. Sanggar semacam ini tersebar di Karawang dan lebih hidup manakala panen padi datang menjelang. Suami Teh Ida belum juga pulang ke rumah kendati sudah pukul 23.00. Biasanya, jam tujuh malam dia sudah di rumah.



Pas kapanggih teh kasampak manehna keur ngalahun sinden. Teu loba carita, kuring menta konci motorna, keun we sina leumpang peuting-peuting. Isukna kuring menta dipegatkeun, tapi pokna teh moal pernah megatkeun kuring masing iraha wae oge. Toloheor pisan boga salaki teh,” katanya. Artinya, pas ketemu ia sedang memangku sinden. Tidak banyak cerita, saya ambil kunci sepeda motornya biar dia pulang jalan kaki malam-malam. Besoknya saya minta diceraikan saja, tapi ia mengatakan tidak akan pernah menceraikan saya. Mata keranjang sekali suami saya itu.



Teh Ida bercerita banyak. Mengenai kehidupan rumah tangganya, anaknya yang lahir prematur tetapi baru kelas dua SD beratnya sekarang sudah 67 kilogram, tentang tanah dan rumahnya yang berharga tinggi dibanding pada saat dia membelinya 20 tahun lalu, tentang para tetangganya di Karawang Kota yang tidak mau kenal satu sama lain, dan tentang segala hal yang tidak bisa saya paparkan dalam postingan yang terbatas ini. Bukan apa-apa, nanti terlalu berkepanjangan.



Baiknya diakhiri saja cerita tentang Teh Ida ini. Postingan berikutnya, saya akan bercerita tentang Kang Tarsan, tukang perahu tarik yang saya temukan saat saya refreshing di Karawang. Sampai jumpa…

Friday, October 19, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (38)





Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 3)








DALAM dua postingan terdahulu, Berbagi Pengalaman Menulis (34 & 35), selintas saya memaparkan syarat-syarat menulis artikel untuk Kompas. Mengapa tidak syarat menulis cerita pendek (cerpen) atau tulisan lainnya? Barangkali soal waktu dan pilihan saja. Ke depan, saya juga akan menyentuh hal itu.



Anggapan umum mengatakan: jangan lepaskan peristiwa atau wacana terkini, lalu tulis dan cepat kirimkan tulisan kepada Kompas (atau mungkin media lainnya), jangan biarkan penulis lain memangsa isu mutahir itu! Begitu kira-kira.



Maaf bukan maksud mematahkan anggapan ini. Untuk Kompas, main ambil peristiwa mutahir untuk kemudian sesegera mungkin kita tulis, tidaklah cukup. Ada hal lain dari sekadar main cepat-cepatan seperti itu, yakni kepakaran penulis.



Pakar bukan berarti doktor atau professor. Menunggu doktor atau professor menulis, sama saja menunggu Godot tiba karena tidak sedikit professor dan doktor Indonesia yang malas menulis. Kepakaran dengan sendirinya mematahkan anggapan ‘ambil secepatnya peristiwa/isu mutahir’.



Kalau ada peristiwa terkini, katakanlah ledakan bom di Pakistan saat menyambut Benazir Bhutto, tentu saja tidak sembarang penulis yang akan mengambil peristiwa hot itu untuk dijadikan sebuah opini maupun artikel. Anda yang bukan pakar Pakistan, tentu cukup tahu diri untuk tidak akan membuat analisis berita atau artikel mengenai peristiwa berdarah di negerinya Ali Bhutto ini.



Sebaliknya, Kompas akan melihat kepakaran penulis, apakah dia orang yang tepat (prominent) dalam menulis Pakistan, atau sama sekali tidak. Beda misalnya dengan Anda yang mahasiswa S1 Jurusan Hubungan Internasional yang sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan, Anda adalah orang yang tepat. Setidak-tidaknya Anda menulis atribusi Anda sebagai ‘mahasiswa, sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan’.



Apakah hanya karena menulis skripsi Anda dianggap cukup pakar soal Pakistan? Dewan redaksi opini yang akan menentukan, toh setidak-tidaknya Anda punya perhatian dan minat khusus pada politik Pakistan dibanding penulis lain yang baru mengenal Pakistan "kemarin sore". Anda pasti membaca banyak buku referensi mengenai Pakistan dalam menyusun skripsi. Anda pasti lebih “berharga dan berilmu” dibanding penulis yang menggunakan atribusi ‘pemerhati Pakistan’ atau ‘peminat masalah Pakistan’. Dengan demikian tulisan Anda bakal dilirik editor opini karena kepakaran Anda yang dalam hal ini intensitas Anda dalam mendalami Pakistan.



Anda yang professor, doktor , atau pengkaji khusus masalah-masalah Pakistan, dengan sendirinya “seharusnya” menulis mengenai politik Pakistan mutakhir pasca pengeboman dahsyat. Asal tahu saja, editor Opini sering menelepon pakar tertentu hanya untuk menanyakan apakah bersedia menulis mengenai peristiwa terkini. Nah, bukankah ini peluang yang baik jika Anda yang memiliki kepakaran tertentu segera menulis artikel atau opini mengenai peristiwa mutahir ini.



Apa yang harus Anda tulis dari peristiwa bom Pakistan? Bukan bermaksud mengajari bebek berenang, Anda setidak-tidaknya harus menjelaskan siapa Benazir Bhutto? Apa hubungannya dengan ‘Bapak Pakistan’ Zulfikar Ali Bhutto? Mengapa Benazir kembali ke Pakistan? Mengapa dia dibuang atau mengasingkan diri di negeri orang? Apa maksud Benazir kembali ke Pakistan? Bagaimana reaksi Parvez Musharraf? Apa yang kemungkinan akan dia lakukan terhadap Benazir: dirangkul atau ditentang?



Mengapa pelaku bom disebut-sebut Al Qaeda? Apa betul organisasi pimpinan Osamah bin LAden itu yang melakukannya? Apa tidak ada kemungkinan lain, misalnya intelijen Pakistan? Apa hubungan Benazir dengan Al Qaeda? Mengapa Al Qaeda begitu marah kepada Benazir? Coba jelaskan situasi politik Pakistan ke depan pasca kehadiran kembali Benazir dan aksi-aksi Al Qaeda yang semakin massif ke depan! Cermati pula peran Amerika Serikat yang berkepentingan menjadikan Pakistan sebagai penangkal teroris dalam kemelut Pakistan ini!



Satu hal yang perlu diingat, Anda harus menuangkan semua persoalan di atas dalam sebuah tulisan yang concise, ringkas, dan padat. Tidak lebih dari 5.000 karakter.



Ada beberapa hal lain yang akan saya ceritakan, tetapi baiknya di postingan mendatang saja. Masih tema yang sama soal menulis artikel di Kompas, tetapi dalam tema yang lain, yakni soal atribusi. Sampai bertemu lagi.

Friday, October 12, 2007

Catatan (29): Selamat Idul Fitri





Minal Aidin...



SAHABAT, di bulan yang penuh berkah ini, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1428 Hijriyah, mohon maaf lahir dan bathin.



Pepih Nugraha



Thursday, October 04, 2007

Catatan (28): Click of The Week



Penilaian Maverick Indonesia


PERISTIWA sudah lama terjadi, 14 Agustus lalu. Saat itu saya diberitahu teman-teman bahwa blog Beranda t4 Berbagi menjadi Click of The week versi Maverick Indonesia. Meski terlambat, saya ingin mengucapkan terima kasih atas penilaian tersebut. Setidak-tidaknya ada juga yang mengklik blog yang saya maksudkan sebagai tempat belajar menulis bersama ini.


Di bawah ini saya kutipkan kembali "penobatan" Maverick Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris:


Click of The Week: Pepih Nugraha


Where can you learn to write? Well, if you aspire to write in Indonesian check out Pepih Nugraha’s Beranda t4 Berbagi (Verandah for Sharing). Pepih, who’s a senior journalist at Kompas, describe’s his blog as a “place for everyone who wants to learn about writing, especially if you work for the print-media.


His first lesson in writing is where to get the ideas for writing an article. Some people, he says, think that you have to go somewhere, to the beach or up a mountain, to be inspired. That’s a luxury for writers of fiction but not for journalists who have to write to deadlines. Story ideas, he says, are in fact everywhere in our daily lives - from our chats with other people, attending seminars or discussions or even when we’re window shopping in the mall.


His blog has interesting accounts of his daily life as a journalist, including interviews with the famous to traveling overseas on assignment.



Pepih is also an active member of Indonesia’s blogosphere. After starting his own blog in February 2006, Pepih joined Blogfam and contributes iarticles for its online Blogfam Magazine. You can check out his writing for the on-line magazine here. He also contributes articles to mediacare, a discussion group on the Indonesian media.



Keep on blogging Pepih.

Thursday, September 27, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (37)





Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 2)



SEORANG sahabat memberi komentar pada postingan saya sebelumnya, bahwa syarat menulis di Kompas harus ditambahkan dua poin lagi, yakni poin 18: kesulitan tempat untuk memuat artikel Anda, dan 19: nama penulis tidak terkenal. Mungkin ini satir atau sindiran halus semata.



Bahwa ada coretan editor di Desk Opini terhadap naskah yang dikembalikan (retour) dengan tulisan tangan berbunyi “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, ada benarnya. Sekadar berbagi info saja, setiap hari editor Desk Opini serta stafnya harus membaca kurang lebih 80-100 artikel yang masuk. Padahal, naskah yang kemungkinan bisa dimuat hanya 2 sampai 4 artikel saja.



Sesungguhnya jika ada coretan tangan editor bahwa “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, itu artinya artikel tersebut masuk nominasi. Sudah dibaca sekian orang dan lolos saringan. Hanya saja setelah dibandingkan dengan artikel lain yang senada dan juga lolos nominasi, pilihan mau tidak mau harus dilakukan.



Bahwa penulis harus orang yang terkenal atau dikenal sehingga penulis tidak terkenal tidak bisa lolos, itu sepenuhnya salah. Saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh pengalaman orang, tetapi pengalaman saya sendiri, meski mungkin terpaksa harus saya ceritakan kembali.



Pada hari Rabu, 20 Juni 1990, saat artikel saya dimuat untuk pertama kalinya di halaman 4 Kompas, percaya atau tidak: itu adalah artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas sekaligus tulisan saya yang dimuat pertama kalinya di Kompas . Tentu saja saya bukan siapa-siapa saat itu, tidak pula penulis yang dikenal. Kecuali mungkin komunitas pembaca majalah berbahasa Sunda, Mangle, sebab di majalah itu saya sering menulis “carpon” atau cerita pendek. Itupun tidak banyak.



Mengapa artikel saya yang bukan siapa-siapa bisa lolos dan dimuat? Fakta ini mungkin bisa mematahkan asumsi bahwa tidak harus penulis terkenal saja yang artikelnya bisa dimuat di halaman 4 (kini halaman 6) Kompas!



Memang sekali waktu, sebagaimana saya tangkap dari Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono saat temu penulis di Surabaya dua tahun lalu, bahwa mereka yang menulis untuk halaman opini diutamakan yang setidak-tidaknya sarjana atau sudah lulus S1, bukan masih mahasiswa. “Tulisan opini bukan untuk coba-coba, tetapi kepakarannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tony saat itu.



Meski demikian, mahasiswa (yang belum sarjana S1) tidak dilarang menulis dan mengirimkan opininya ke Kompas. Menurut staf sekretariat Desk Opini, sampai sekarang sejumlah mahasiswa yang belum lulus S1 mengirimkan artikelnya. Bahwa opini mereka belum bisa dimuat, itu soal lain.



Akan tetapi rekan sefakultas saya di Universitas Padjadjaran, Yudi Latif (kini bergelar doktor dan menjadi Deputi Rektor Universitas Paramadina), tiga artikelnya dimuat di halaman opini Kompas dalam kurun waktu 1989. Untuk diketahui, saat itu Yudi masih mahasiswa. Hal sama terjadi pada Denny JA yang sangat produktif menulis di halaman 4 Kompas justru saat ia masih mahasiswa alias belum lulus S1. Anda, mengapa tidak?

Tuesday, September 25, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (36)







Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 1)





PERTANYAAN di atas sering terlontar dari rekan maupun saat pelatihan. Saya hanya bisa menjawab bahwa artikel harus aktual, artinya sesuai dengan peristiwa terkini. Jawaban ini sesuai pengalaman saat untuk pertama kali artikel saya dimuat di halaman opini Kompas, yang dulu dikenal sebagai “Halaman 4”.



Waktu itu, artikel saya yang berjudul “Berharap dari KPAT Ke-8” bisa lolos seleksi dan dimuat di “halaman bergengsi” itu pada Rabu 20 Juni 1990, karena disesuaikan dengan adanya Kongres Perpustakaan se-Asia Tenggara di Jakarta. Saat artikel itu muncul, Kongres baru saja dimulai. Artinya, antisipasi dan persiapan saya saat menulis artikel itu dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya!



Halaman 4 Kompas yang memuat Tajuk Rencana dan Opini yang sekarang menjadi Halaman 6, sering dianggap sebagai “Universitas”-nya Kompas. Tempat dimana pemikiran paling mutakhir dari para pakar tercurah. Ada tempat pembelajaran lintas ilmu di sini, selain juga bisa mengetahui arah kebijakan Kompas (baca keberpihakan) lewat Tajuk Rencana dalam menyikapi perkembangan zaman. Kecuali Tajuk Rencana, opini merupakan halaman khusus untuk pembaca atau dalam hal ini pakar, tidak boleh wartawan Kompas menulis opini di situ. Selain bergengsi, honor yang diberikan pun di atas rata-rata honor artikel pada media massa lain.



Mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas mengenai sebuah artikel, mungkin salah satu strategi dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Setelah meminta izin dari Fitrisia M (Mbak Poppy) dari Desk Opini, saya memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas.



1. Topik atau tema kurang aktual

2. Argumen dan pandangan bukan hal baru

3. Cara penyajian berkepanjangan

4. Cakupan terlalu mikro atau lokal

5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung

6. Konteks kurang jelas

7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer

8. Uraian Terlalu sumir

9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah

10. Sumber kutipan kurang jelas

11. Terlalu banyak kutipan

12. Diskusi kurang berimbang

13. Alur uraian tidak runut

14. Uraian tidak membuka pencerahan baru

15. Uraian ditujukan kepada orang

16. Uraian terlalu datar

17. Alinea pengetikan panjang-panjang.



Sahabat sekalian yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada "trik" lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu akan saya paparkan di lain kesempatan.


Syarat lain yang amat penting menurut Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel yang cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia. Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat imel ke alamat: opini@kompas.co.id. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya. Jika tidak bisa dimuat, dipastikan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.
Bagaimana, Anda berani mencoba?

Monday, September 24, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (35)



Jika Pikiran Macet (2)



SETELAH mengupas penyebab pertama pikiran macet saat menulis pada postingan 9 September 2007 lalu (lihat Berbagi Pengalaman Menulis 30), yaitu adanya hasrat si penulis untuk mengejutkan pembacanya dengan membuat lead sespektakuler mungkin, saya mau melanjutkan dengan membahas penyebab kedua, yaitu hasrat ingin hasil tulisan sempurna.



Percayalah akan peribahasa lama, tak ada gading yang tak retak. Sesempurnanya mobil atau rumah, pasti ada cacatnya. Demikian pula tulisan. Jadi jangan terlalu berharap tulisan yang ingin kita buat itu (baik cerpen, opini maupun catatan harian) hasilnya sangat sempurna. Lagi pula sempurna menurut siapa?



Hasrat ingin agar hasil tulisan sempurna biasanya menjebak kita pada pikiran yang macet. Sesuatu yang diimpikan atau dihayalkan bisa menjerat otot-otot kreativitas berpikir kita menjadi mandek dan bahkan beku, sebab apa yang kita buat ukurannya menjadi “tidak sempurna”. Karena itulah perintah di otak pun tidak otomatis menyuruh tangan bergerak di atas tuts komputer atau menggerakkan pena di atas kertas untuk segera menyusun kalimat pertama, tetapi terbelenggu pikiran harus menghasilkan tulisan yang sempurna itu.



Syukur kalau sudah mulai menyusun satu persatu kata untuk merangkai kalimat. Lebih parah kalau ide hanya berhenti di pikiran atau di khalayan saja. Kalaupun kemudian sudah memulai dengan membuat kalimat pertama di awal tulisan atau yang biasa disebut lead pada berita, kita akan membacanya berulang-ulang. Dua kali, tiga, lima, atau bahkan belasan kali! Tentu saja waktu kita akan tersedot karenanya. Mubadzir dan sia-sia.



Membaca berulang-ulang tulisan kita hanya karena kita ingin menghasilkan tulisan yang sempurna adalah pekerjaan sia-sia. Kalau sahabat seorang wartawan, maka setiap hari akan dimaki editor. Boleh jadi besok-besok akan dipecat karena dianggap menghambat produksi. Artinya, jangan terlalu banyak membaca ulang tulisan awal kita. Salah-salah, tulisan itu akan dihapus lagi karena tidak sesuai harapan Anda, yakni ingin sebuah tulisan yang sempurna.



Membaca berulang-ulang sebuah tulisan yang belum usia hanya membuang-buang waktu belaka. Saya kira sahabat harus belajar pada air sungai dalam hal ini, yakni biarkan air mengalir terlebih dahulu. Biarkan pikiran dan ide kita tertuang dalam tulisan. Labrak saja. Jangan pikir huruf salah, kata kurang tepat, kalimat belepotan, tanda baca keliru, atau alinea kacau. Tulis dan tulis saja, terus dan terus saja. Ingat, pikiran sahabat adalah air yang mengalir yang tidak bisa terbendung, paling tidak untuk sementara waktu.



Setelah sahabat bisa menyiasati hal kedua ini, yakni terbebas dari pikiran ingin menghasilkan sebuah tulisan yang sempurna, saya akan melangkah kepada hal ketiga. Tetapi tidak kali ini, lain waktu. Wasallam…

Saturday, September 22, 2007

Catatan (27): Pak Rum Telah Tiada



Selamat Jalan Pak Rum...



TANGGAL 11 Juni 2007 lalu saya bertemu Pak Rumhardjono, wartawan seniorKompas yang sudah pensiun sekaligus pengajar yang sabar bagi calon-calon wartawan Kompas. Saya hanyalah salah satu dari sekian wartawan yang ada berkat bimbingannya. Saat bertemu di Kantor Redaksi Kompas Lantai 3 di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saya langsung menimba ilmu dari Pak Rum, demikianlah ia biasa dipanggil. Rekan-rekan lain memanggilnya Mas Rum.



Hasil dari menimba ilmu itu langsung saya postingkan di blog ini hari itu juga, lengkap dengan foto yang saya ambil atas seizinnya (lihat http://pepihnugraha.blogspot.com/search/label/Rumhardjono ). Maksud saya, biar pengalaman Pak Rum yang segudang, baik sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara maupun guru bagi para wartawan, bisa sahabat ketahui juga. Berbagi ilmulah.



Hari Kamis, 20 September lalu, saya mendapat pesan singkat dari seorang kawan yang mengabarkan bahwa Pak Rum telah pergi untuk selamanya karena serangan stroke. Ia meninggal di RSCM pukul 03.30. Satu hal yang menjadi penyesalan, saya tidak dapat mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang abadi di pemakaman karet bivak karena terkunci oleh pekerjaan.



Untuk mengenangnya, saya tampilkan obituari yang ditulis senior saya, wartawan Kompas, James Luhulima, yang tulisannya dimuat Kompas, Jumat 21 September 2007 halaman 1. Obituari adalah tulisan untuk mengenang orang yang telah meninggal dunia. Di Indonesia, orang yang dikenal mahir menulis obituari adalah wartawan senior Rosihan Anwar. Suatu waktu saya akan berbagi ilmu bagaimana menulis obituari. Tetapi kali ini, kita bisa baca obituari Pak Rumhardjono di bawah ini:


Obituari

Selamat Jalan Mas Rum!



Kabar bahwa eks wartawan Kompas Rumhardjono (68) terserang stroke diterima Redaksi Harian Kompas hari Rabu (19/9) malam, tepatnya pukul 22.00. Keponakannya, Endang Basanto Ratri, menelepon dan mengabarkan bahwa Mas Rum, begitu ia akrab disapa, dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo di Lantai 2.



Layanan pesan singkat atau SMS pun berseliweran, dan wartawan-wartawan Kompas segera menyempatkan diri untuk menjenguknya. Di harian Kompas, Mas Rum memiliki banyak peran, baik sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara, sebagai tutor bagi wartawan yang lebih muda, maupun sebagai guru, khususnya bagi wartawan-wartawan Kompas yang masuk pada tahun 1987-1998.



Di antara wartawan Kompas yang datang ke IGD RSCM tampak Pemimpin Redaksi Suryopratomo dan beberapa rekan yang merupakan murid-murid pertama Mas Rum. Saya dan rekan saya, Taufik H Mihardja dan Andi Surudji, adalah tiga wartawan Kompas yang terakhir menjenguknya di IGD RSCM. Kamis dini hari, menjelang pukul 02.00, kami bertiga meninggalkan pelataran parkir RSCM.



Pada pukul 03.30, tiba-tiba masuk SMS yang menyatakan bahwa Mas Rum telah tiada. Ia meninggal dunia pada pukul 02.50. Perasaan kehilangan pun segera muncul ke permukaan. Mas Rum yang lahir pada 13 April 1939 memang telah pensiun dari harian Kompas pada tahun 1999. Namun, sesungguhnya hubungan Mas Rum, yang sampai akhir hayatnya melajang itu, dengan harian Kompas tidak pernah berakhir. Sesekali ia menelepon saya dan rekan lain apabila ia merasa ada hal yang perlu mendapatkan perhatian.



Kadang ia juga mengirimkan tulisan tentang masalah-masalah tertentu, terutama yang berkaitan dengan Asia Tenggara, dengan catatan, tidak untuk dimuat, hanya untuk background saja.



Ahli Asia Tenggara



Mas Rum bergabung dengan harian Kompas pada tahun 1974 dan bertugas di Desk Luar Negeri. Itu sebabnya, ia tercatat sebagai wartawan peliput di Departemen Luar Negeri (Deplu). Perhatiannya yang intens pada masalah-masalah yang berkaitan dengan Asia Tenggara menjadikan Rumhardjono dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Beberapa kepala pemerintahan dan Menteri Luar Negeri ASEAN mengenalnya dengan baik.



Saya mengenalnya pada tahun 1983 ketika sebagai wartawan baru saja ditugaskan untuk meliput kegiatan di Deplu, yang menjadi tempat tugas Rumhardjono sejak akhir tahun 1970-an. Saat saya bertugas di sana, segala sesuatunya menjadi mudah, karena ia langsung berperan sebagai tutor saya.



Bahkan, ketika saya pertama kali ditugaskan untuk meliput Pertemuan Tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN Ke-17 di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1984, ia memberi saya semacam kertas kerja panduan mengenai bagaimana meliput suatu konferensi internasional dengan efisien dan efektif. Termasuk mengenai bagaimana cara memperoleh draf joint communique (komunike bersama), yang merupakan salah satu keahliannya. Dan, juga tentang bagaimana menggunakannya sebagai bahan berita.



Pengalamannya yang luas dalam meliput konferensi internasional menjadikan ia selalu bersikap santai. Sikap seperti itu diperlihatkannya saat meliput Jakarta Informal Meeting (JIM) di Istana Bogor tahun 1988. Pada saat wartawan lain sudah hadir sejak pagi, Mas Rum masih enak-enak tidur. Ia baru bangun pukul 10.00 dan datang ke Istana Bogor menjelang pukul 11.30. Namun, sore harinya, ia sudah memegang draf komunike bersama JIM. Lobinya yang sangat luas di kalangan pejabat Deplu dan kementerian luar negeri negara-negara ASEAN lain menjadikan ia selalu bisa mendapatkan draf komunike bersama yang akan keluar.



Sebagai wartawan senior, Mas Rum asyik diajak berdiskusi. Daya analisanya tajam, mendalam, dan jernih. Kemampuan berabstraksinya pun cukup menonjol. Ia selalu menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk menulis.



Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama yang turut mengantarnya ke pemakaman di TPU Karet Bivak, Kamis, dalam sambutannya mengatakan, analisa mendalam dan jernih, dan selalu dikemukakan dengan dingin, tanpa emosi. Mungkin itu karena latar belakangnya sebagai periset.



Menurut mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, yang merupakan adik ipar Mas Rum, sebelum menjadi wartawan, Mas Rum adalah seorang periset. (James B Luhulima)