
Lagi-lagi tentang "Bagaimana Memulai Menulis"
BEBERAPA waktu lalu saya menerima pertanyaan dari rekan Prasetiyo Yudhi seputar bagaimana memulai menulis. Kebetulan dalam beberapa postingan sebelumnya, saya juga bicara soal bagaimana menyingkirkan rintangan saat memulai menulis. Berikut surat Presetiyo yang masih kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Assalamualaikum wr.wb...
halo mas pepih, gmn kbrny ..? mudh2 selalu dlm keadaan sehat wal afiat... perkenalkan n saya yudhi mahasiswa fikom unpad, saya suka dengan posting2 yg ada di blog-nya mas pepih, dan sy salut dengan anda...mas, saya ingin sharing nich:
1. bgmn cara memulai untuk menulis????, terkadang kita itu suka males...
2. gmn supaya menulis itu menjadi sebuah kebutuhan sehari2 atau kebiasaan...????
3. teknik menulis yg baik dan cepat menurut mas pepih ?
3. cara menambah perbendaharaan kata ?
4. kayanya sbg seorang jurnalis, mas pepih mempunyai kemampuan berbahasa asing yang baik. Saya mempunyai kesulitan berkomunikasi dlm berbahasa inggris, ingin rasanya saya lancar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris..berdasarkan pengalamannya, apa mas pepih punya tips dan trik paling cepat untuk belajar bahasa asing...???????
tolong yang mas...trims.....smoga mas pepih sukses selalu.....
assalamualaikum wr.wb...
Di bawah ini jawaban yang bisa saya berikan, mungkin tidak cukup memuskan:
Waalaikum salam, Yudhi...
Saya juga alumnus FIKOM Unpad, hanya angkatan lama, angkatan 85. Mungkin kamu belum lahir kali ya saat saya masuk kuliah hehehe? Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat wal afiat.
1. Dalam blog Beranda beberapa postingan saya menekankan bagiamana menerobos rintangan dalam memulai menulis. Memulai adalah sesuatu yang amat sulit, seperti kata pepatah lama Jerman "Aller Anfang ist Schwer" (semua permulaan itu sulit). Banyak cara yang dilakukan, antara lain mulailah menulis di catatan harian (diary). Apa yang ditulis? Apa saja! Peristiwa sehari-hari di seputar kita, lihat tetangga bertengkar, lihat anak keracunan makanan, lihat motor tabrakan dll. Jika niatnya untuk menjadi wartawan, pergunakan "alat bukti" peristiwa berupa kamera sederhana atau ponsel berkamera. Bidik peristiwa dan komentari peristiwa itu. Jangan ditunda! Dimana kamu menulis? Ya di catatan harian itu. Catatan harian itu bisa catatan harian dalam pengertian sebenarnya berupa buku atau yang agak moderan, BLOG. Jadi wajib kamu punya blog!
2. Anggap menulis itu sebuah perjuangan untuk mendapatkan makanan dan minuman, pasti kamu akan berusaha melakukannya!
3. Menulis yang baik itu dimana tulisan kita bisa dimengerti dan dipahami semua orang berbagai tingkatan. Jangan menulis dengan bahasa yang rumit dengan kalimat yang panjang2 sehingga sulit bernafas. Ciptakan kalimat yang pendek2 saja. Soal menulis cepat, itu persoalan latihan saja dan kebiasaan saja.
4. Cara menambah perbendaharaan kata tidak lain dari BACA, BACA, dan BACA. Apa saja. Jangan abaikan percakapan anak-anak muda/remaja, dimana bahasa kreatif sering muncul dari kalangan ini.
5. Di Kompas, kemampuan bahasa Inggris aktif itu WAJIB bagi jurnalis seperti saya. Tidak ada obatnya untuk bisa seperti ini selain belajar dan berlatih setiap hari.
Okay itu saja dulu, sukses ya studimu! O ya, tanggal Kamis, 23 Oktober 2008 nanti di Aula Unpad saya diundang bawakan makalah. Ya saya mau cerita soal kecenderungan media kini dan bagaimana mahasiswa FIKOM mengantisipasinya. Kalau mau ketemu, datang aja ya!
Salam, Pepih
Friday, October 24, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (74)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:23 PM
1 komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Surat, Universitas Padjadjaran
Wednesday, September 03, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (73)
Soal tawaran bermain film, pemeran film Cinta dalam Sepotong Roti ini mengaku sering menolak. Alasannya, ia ingin lebih memerhatikan anak-anak. Sementara itu, Cooking with Love adalah buku yang didedikasikan kepada almarhumah Inong, blogger yang selalu berbagi resep masakan dan juga anggota We R Mommies. (PEP)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
7:46 PM
0
komentar
Thursday, August 28, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (72)
Beda Pendapat, Why Not?
MAS Pepih, itu 'senjakala blog'-nya dilawan dengan seleb blog, ya:)- Enda.
Itu pesan pendek yang saya terima Kamis (28/8) tadi pagi, saat saya berada di RSI Bintaro menengok tetangga yang sakit jantung. Pengirim SMS adalah Enda Nasution, pelopor blog sekaligus selebritis blog Indonesia. Saya langsung membalasnya sambil berjalan:
Hehe melawan pendapat teman sendiri... Soalnya blogger itu tidak akan pernah mati, Mas, nggak peduli dia pakai blog atau portal gratisan. Saya coba beri second opinion biar para blogger tidak terkena demotivasi.
Terus terang, tulisan di Kompas edisi 28 Agustus halaman 14 ini memang untuk menanggapi tulisan rekan saya, Amir Sodikin, yang menulis artikel berjudul "Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog" (Kompas, 14 Agustus 2008). Saya tergerak menulis bukan karena asal beda pendapat meski sesama rekan kerja, tetapi punya misi jangan sampai para blogger merasa demotivasi, padahal pada saat bersamaan Kompas.com lewat kanal Seleb.tv sedang menggarap blog seleb. Inilah tulisan dimaksud:

Menyongsong Blog Seleb Indonesia
Tulisan berjudul ”Geliat Portal Berita dan Senjakala Blog” di rubrik ini, 14 Agustus 2008, cukup mengejutkan para blogger, baik para blogger lawas maupun para debutan yang baru mencoba melangkah ke dunia blog. Pasalnya, blog dianggap sudah di ambang batas senja dan segera masuk ke dunia kegelapan.
Oleh PEPIH NUGRAHA
Namun, tulisan itu ternyata menekankan bahwa yang berubah cuma perwajahan, jubah, atau baju sebuah situs pribadi. Blog dianggap terlalu sederhana jika dibanding portal yang bisa mewujud seperti wajah situs berita. Padahal jika sekadar perwajahan, Wordpress pun sesungguhnya memiliki blog gratisan berformat berita.
Portal maupun blog hanyalah pilihan, toh kedua-duanya bisa didapat secara gratis. Lebih dari sekadar itu, para blogger yang mengisi kontennya di blog atau portal mereka tidak akan pernah mati. Jumlah mereka diperkirakan malah bertambah. Selain membuat blog sendiri dari situs penyedia blog gratisan seperti Blogger dan Wordpress, mereka juga mewujud dalam situs jaringan sosial seperti Facebook, Multiply, Friendster, dan Myspace yang juga menyediakan lahan gratis untuk blogging.
Kini, jagat maya blog bakal semakin disesaki para pendatang baru, yakni para selebritis papan atas Indonesia, mulai penyanyi sampai artis sinetron yang berhasrat ngeblog. Karena yang membuat dan mengisi blog orang- orang ternama di dunia selebritis, nama khusus untuk mereka pun menjadi celeb blog atau blog seleb dalam bahasa Indonesia.
Pada awal kelahirannya, kehadiran blog dilecehkan sebagai media orang-orang narsis, orang- orang yang kelebihan hasrat menonjolkan diri sendiri.
Uniknya, jumlah blogger bukan malah menyusut, tetapi terus membengkak. Sebuah situs penyurvei blog menyebutkan, saat ini sudah ada lebih dari 100 juta blogger.
Penyedia blog gratisan seperti Wordpress, saat tulisan ini diturunkan, sudah mencatat 4 juta pengguna blog. Dari jumlah itu, lebih dari 141.000 posting atau konten yang diunggah (upload) setiap harinya dengan jumlah lebih dari 46 juta kata tercipta sehari itu. Padahal, selain Wordpress, ada puluhan situs penyedia web gratisan, semisal Blogspot, Blogsome, Blogdrive, Movable Type, LiveJournal, dan Dagdigdug. Situs yang terakhir disebutkan adalah penyedia blog milik orang Indonesia.
Bermula dari Sandra
Bagaimana media massa online menyikapi kehadiran blogger yang terus bertambah dari hari ke hari yang di Indonesia diperkirakan lebih dari 300.000-an blogger? Apakah cap narsis yang masih melekat pada para blogger harus dijauhi?
Sebentar, jangan anggap narsis barang kotor. Katakanlah itu barang kotor, jika dipoles pastilah ia bermanfaat, setidak-tidaknya bisa menciptakan peluang bisnis. Jangan sepelekan narsis. Dalam dunia maya, narsis juga berarti peluang bisnis. Tidak percaya? Mari kita cermati kiprah Kompas.com lewat kanal khusus selebritis, Seleb.tv, dalam mengelola narsis ini!
Pesinetron Sandra Dewi merupakan celeb blog pertama yang digarap Kompas.com, setidak-tidaknya sebuah blog yang diasuh secara profesional dan sudah menggaet iklan. Kini Seleb.tv kembali memfasilitasi hadirnya artis papan atas yang ingin ngeblog. Tidak tanggung-tanggung, belasan selebritis siap menyandang predikat blogger seleb dalam waktu dekat.
”Namun, yang benar-benar siap diluncurkan baru enam selebritis,” kata General Bisnis Kompas.com Edi Taslim.
Keenam selebritis yang siap ngeblog itu, antara lain, Cinta Laura, Titi Kamal, Christian Sugiono, Donna Agnesia, dan Darius. Jajaran artis lainnya yang sudah digarap Seleb.tv untuk jadi blogger seleb adalah Nadia Vega, Ahmad Dhani, Afgan, Mulan Jameela, Aura Kasih, Bunga Citra Lestari, Dewi Persik, Ari Lasso, Once, Julia Perez, Asmirandah, Catherine Wilson, dan Carissa Putri.
Ada juga presenter Ivan Gunawan dan Indra Bekti, pesulap Deddy Corbuzier dan Demian Aditya, novelis Zara Zettira ZR, psikolog Sonia Wibisono, Keluarga Chandrawinata, DJ Anton Wirjono, Bondan Winarno, kelompok musik The Cangcuters, Agriculture Band, Andra & The Backbone, dan Dewi Dewi.
Jajaran artis inilah yang bakal melengkapi blog seleb di Indonesia dengan pintu masuk utama melalui http://www.seleb.tv.
Berbeda dengan Sandra yang lebih memublikasikan kegiatannya sehari-hari sehingga membiarkan dirinya ”termonitor” oleh para anggotanya yang mencapai 10.000 itu, sedangkan Christian menunjukkan kegemarannya dalam fotografi dan menulis.
Ada rubrik ”100% Original Indonesia”, berisi hal-hal unik yang hanya ada dan terjadi di Indonesia. Contoh postingan foto sebuah bajaj yang sarat muatan kardus dari atas sampai bagian belakang, yang ia beri judul ”Bajaj Full!”
”Saya ke mana-mana bawa kamera, itu semua hasil jepretan saya,” kata Christian.
Satu contoh lagi blog Cinta Laura. Melihat baju blog seleb yang didominasi warna coklat tua dan gelap, blog ini berselera anak baru gede. Biodata pemilik nama lengkap Cinta Laura Kiehl ini ia ambil dari Majalah Kartini, sedangkan isinya didominasi foto, chat, dan video dirinya. Apakah blog seleb itu hanya sekadar blog dan tidak bisa di-monetize sehingga menghasilkan uang?
Model bisnis baru
Jika blog Sandra yang sudah lebih awal diluncurkan sudah menggaet sebuah produsen ponsel untuk beriklan, ini berarti sebuah ladang bisnis baru. Bukankah tinggal disepakati saja share antara pemilik blog dengan si desainer blog? Bukankah artis beken akan dikeremuni banyak penggemar dan kerumunan yang masif berarti peluang untuk memasang iklan?
Christian Sugiono tidak menampik kalau kegiatan ngeblog yang sudah lama dilakukannya sekarang saatnya menghasilkan uang. Ia tidak menampik ketenarannya sebagai selebritis akan mudah menarik pemasang iklan.
Jelaslah, blog yang pertama kali dilecehkan sebagai perkara narsis, kini sudah berubah menjadi model bisnis baru di dunia online. Web tidak lagi semata-mata mengandalkan perolehan banner iklan, tetapi juga menjadi bisnis web desain, organisator kegiatan, dan bisnis luar ruang yang akan menjadi tren bisnis online kini dan mendatang. Blog seleb merupakan contoh kecil saja.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
11:34 AM
1 komentar
Label: Amir Sodikin, Berbagi Pengalaman Menulis, Blog, Enda Nasution
Thursday, August 21, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (71)
Menanti Klimaks
RABU, 20 Agustus 2008 malam, saya hadir di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) untuk menyaksikan soprano Aning Katamsi Asmoro dan tenor Christopher Abimanyu mengalunkan suara emas mereka. Saya tidak bermaksud menulis atau bahkan membuat berita. Akan tetapi karena tidak ada satu pun wartawan Kompas.com yang hadir saat itu, saya merasa terpanggil untuk menulis ulasannya, yang bisa Anda baca di sini. Saya menulis malam itu juga, seusai pertunjukkan mereka.Terus-terang, seorang jurnalis bisa terhanyut kala menikmati alunan sopran dan tenor Indonesia itu, plus iringan denting piano klasik yang membuai. Tetapi saya tetap "terjaga", tidak terlalu hanyut, dan siap menangkap "gejala aneh" yang mungkin terjadi pada tengah-tengah atau di akhir pertunjukkan. Saya tidak terlalu lama menunggu, sebab "gejala aneh" itu justru muncul di tengah pertunjukkan. Saya tidak harus menunggu klimaks!
Apa gerangan "gejala aneh" yang berhasil saya tangkap itu? Anda bisa membacanya di bawah ini, ditambah foto Aning yang sedang dipeluk ayahandanya, Amoroso Katamsi, yang saya ambil usai pertunjukkan dengan menggunakan ponsel kamera. Inilah tulisannya:
Dan, Suara Aning Pun Tercekat
Kemana kau pergi sunyilah malamku
Tak bisa kutahu kemana cintamu…
Tiba-tiba suara soprano Aning Katamsi Asmoro tercekat, seakan-akan tak kuasa melanjutkan syair berikutnya… Malam kutidur dalam diri… indahnya tiada arti. Aning tampak mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Penonton yang terduduk rapi di ruang utama Bentara Budaya Jakarta, Rabu (20/8) malam pun semakin terpaku dalam diam, menanti apa yang selanjutnya akan terjadi.
Akan tetapi, Aning melanjutkan lagu “Elegie” gubahan FX Soetopo itu sampai akhir… Alangkah jauhnya hari, alangkah jauhnya hari. Ada apa gerangan, Aning?
Jawaban dari pertanyaan itu baru diketahui saat Konser Musik Tiga Komposer itu berakhir. “Maaf saya tadi terlalu terhanyut, saya terkenang mendiang Ibu,” kata Aning meminta maaf kepada khalayak penonton yang memberi applause setiap kali Aning dan juga penyani tenor Christopher Abimanyu usai melantunkan lagu-lagu tiga komponis besar yang mereka berdua bawakan.
Aning yang lahir di Cilacap 3 Juni 1969 ini adalah anak Pranawengrum Katamsi, penyanyi seriosa kenamaan yang kini telah tiada. Lagu “Elegie” seperti diakuinya kemudian mau tidak mau mengingatkan ibundanya yang telah mewariskan bakat seni kepada dirinya. Ibundanya itulah yang mengajarkan vokal untuk pertama kalinya kepada Aning.
Pada malam itu bersama Christopher Abimanyu, penyanyi tenor kelahiran Bandung tahun 1970 yang sangat konsisten menyanyikan lagu-lagu klasik, Aning tampil sempurna membawakan 24 lagu klasik gubahan Binsar Sitompul (1923-1991), Mochtar Embut (1934-1973), dan FX Soetopo (1937-2006), secara bergantian. Kalaupun ada suara yang tercekat, itu karena kenangan akan ibunya meski tidak mengganggi suaranya yang mengalir bening. Aning dan Christopher malam itu diiring alunan piano yang dimainkan Ratna Arumsari Ansyar.
Aning sering tampil dalam resital tunggal, bekerja sama dengan berbagai orkestra di tanah air seperti Orkes Simfoni Jakarta, Twilite Orchestra, Nusantara Symphony Orchestra dan Jakarta Chamber Orchestra. Sebagai solis sopran, Aning pernah membawakan sejumlah komposisi antara lain “Stabat Mater” (Pergolesi), “Requem” (Mozart), dan “Dixit Domingus” (Handel).
Sedangkan Christopher mulai belajar vokal saat berusia 15 tahun pada penyanyi tenor kenamaan Sudaryanto, Marijke ten Kate dan Avip Priatna. Christopher pernah membuat album seriosa Indonesia “Sebutir Mutiara” bersama Ine Lopulisa. Bersama pianis Iswargia Sudarno, ia pernah tampil dalam Art Song Series yang menampilkan siklus “Die Schone Mullerin” karya F. Schubert. (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:12 PM
0
komentar
Label: Aning Katamsi Asmoro, Berbagi Pengalaman Menulis, Musik
Friday, October 19, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (38)
Anggapan umum mengatakan: jangan lepaskan peristiwa atau wacana terkini, lalu tulis dan cepat kirimkan tulisan kepada Kompas (atau mungkin media lainnya), jangan biarkan penulis lain memangsa isu mutahir itu! Begitu kira-kira.
Maaf bukan maksud mematahkan anggapan ini. Untuk Kompas, main ambil peristiwa mutahir untuk kemudian sesegera mungkin kita tulis, tidaklah cukup. Ada hal lain dari sekadar main cepat-cepatan seperti itu, yakni kepakaran penulis.
Pakar bukan berarti doktor atau professor. Menunggu doktor atau professor menulis, sama saja menunggu Godot tiba karena tidak sedikit professor dan doktor Indonesia yang malas menulis. Kepakaran dengan sendirinya mematahkan anggapan ‘ambil secepatnya peristiwa/isu mutahir’.
Kalau ada peristiwa terkini, katakanlah ledakan bom di Pakistan saat menyambut Benazir Bhutto, tentu saja tidak sembarang penulis yang akan mengambil peristiwa hot itu untuk dijadikan sebuah opini maupun artikel. Anda yang bukan pakar Pakistan, tentu cukup tahu diri untuk tidak akan membuat analisis berita atau artikel mengenai peristiwa berdarah di negerinya Ali Bhutto ini.
Sebaliknya, Kompas akan melihat kepakaran penulis, apakah dia orang yang tepat (prominent) dalam menulis Pakistan, atau sama sekali tidak. Beda misalnya dengan Anda yang mahasiswa S1 Jurusan Hubungan Internasional yang sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan, Anda adalah orang yang tepat. Setidak-tidaknya Anda menulis atribusi Anda sebagai ‘mahasiswa, sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan’.
Apakah hanya karena menulis skripsi Anda dianggap cukup pakar soal Pakistan? Dewan redaksi opini yang akan menentukan, toh setidak-tidaknya Anda punya perhatian dan minat khusus pada politik Pakistan dibanding penulis lain yang baru mengenal Pakistan "kemarin sore". Anda pasti membaca banyak buku referensi mengenai Pakistan dalam menyusun skripsi. Anda pasti lebih “berharga dan berilmu” dibanding penulis yang menggunakan atribusi ‘pemerhati Pakistan’ atau ‘peminat masalah Pakistan’. Dengan demikian tulisan Anda bakal dilirik editor opini karena kepakaran Anda yang dalam hal ini intensitas Anda dalam mendalami Pakistan.
Anda yang professor, doktor , atau pengkaji khusus masalah-masalah Pakistan, dengan sendirinya “seharusnya” menulis mengenai politik Pakistan mutakhir pasca pengeboman dahsyat. Asal tahu saja, editor Opini sering menelepon pakar tertentu hanya untuk menanyakan apakah bersedia menulis mengenai peristiwa terkini. Nah, bukankah ini peluang yang baik jika Anda yang memiliki kepakaran tertentu segera menulis artikel atau opini mengenai peristiwa mutahir ini.
Apa yang harus Anda tulis dari peristiwa bom Pakistan? Bukan bermaksud mengajari bebek berenang, Anda setidak-tidaknya harus menjelaskan siapa Benazir Bhutto? Apa hubungannya dengan ‘Bapak Pakistan’ Zulfikar Ali Bhutto? Mengapa Benazir kembali ke Pakistan? Mengapa dia dibuang atau mengasingkan diri di negeri orang? Apa maksud Benazir kembali ke Pakistan? Bagaimana reaksi Parvez Musharraf? Apa yang kemungkinan akan dia lakukan terhadap Benazir: dirangkul atau ditentang?
Mengapa pelaku bom disebut-sebut Al Qaeda? Apa betul organisasi pimpinan Osamah bin LAden itu yang melakukannya? Apa tidak ada kemungkinan lain, misalnya intelijen Pakistan? Apa hubungan Benazir dengan Al Qaeda? Mengapa Al Qaeda begitu marah kepada Benazir? Coba jelaskan situasi politik Pakistan ke depan pasca kehadiran kembali Benazir dan aksi-aksi Al Qaeda yang semakin massif ke depan! Cermati pula peran Amerika Serikat yang berkepentingan menjadikan Pakistan sebagai penangkal teroris dalam kemelut Pakistan ini!
Satu hal yang perlu diingat, Anda harus menuangkan semua persoalan di atas dalam sebuah tulisan yang concise, ringkas, dan padat. Tidak lebih dari 5.000 karakter.
Ada beberapa hal lain yang akan saya ceritakan, tetapi baiknya di postingan mendatang saja. Masih tema yang sama soal menulis artikel di Kompas, tetapi dalam tema yang lain, yakni soal atribusi. Sampai bertemu lagi.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:08 PM
0
komentar
Label: Artikel, Benazir Bhutto, Berbagi Pengalaman Menulis, Bom Pakistan, Kompas, Menulis
Thursday, September 27, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (37)
SEORANG sahabat memberi komentar pada postingan saya sebelumnya, bahwa syarat menulis di Kompas harus ditambahkan dua poin lagi, yakni poin 18: kesulitan tempat untuk memuat artikel Anda, dan 19: nama penulis tidak terkenal. Mungkin ini satir atau sindiran halus semata.
Bahwa ada coretan editor di Desk Opini terhadap naskah yang dikembalikan (retour) dengan tulisan tangan berbunyi “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, ada benarnya. Sekadar berbagi info saja, setiap hari editor Desk Opini serta stafnya harus membaca kurang lebih 80-100 artikel yang masuk. Padahal, naskah yang kemungkinan bisa dimuat hanya 2 sampai 4 artikel saja.
Sesungguhnya jika ada coretan tangan editor bahwa “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, itu artinya artikel tersebut masuk nominasi. Sudah dibaca sekian orang dan lolos saringan. Hanya saja setelah dibandingkan dengan artikel lain yang senada dan juga lolos nominasi, pilihan mau tidak mau harus dilakukan.
Bahwa penulis harus orang yang terkenal atau dikenal sehingga penulis tidak terkenal tidak bisa lolos, itu sepenuhnya salah. Saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh pengalaman orang, tetapi pengalaman saya sendiri, meski mungkin terpaksa harus saya ceritakan kembali.
Pada hari Rabu, 20 Juni 1990, saat artikel saya dimuat untuk pertama kalinya di halaman 4 Kompas, percaya atau tidak: itu adalah artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas sekaligus tulisan saya yang dimuat pertama kalinya di Kompas . Tentu saja saya bukan siapa-siapa saat itu, tidak pula penulis yang dikenal. Kecuali mungkin komunitas pembaca majalah berbahasa Sunda, Mangle, sebab di majalah itu saya sering menulis “carpon” atau cerita pendek. Itupun tidak banyak.
Mengapa artikel saya yang bukan siapa-siapa bisa lolos dan dimuat? Fakta ini mungkin bisa mematahkan asumsi bahwa tidak harus penulis terkenal saja yang artikelnya bisa dimuat di halaman 4 (kini halaman 6) Kompas!
Memang sekali waktu, sebagaimana saya tangkap dari Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono saat temu penulis di Surabaya dua tahun lalu, bahwa mereka yang menulis untuk halaman opini diutamakan yang setidak-tidaknya sarjana atau sudah lulus S1, bukan masih mahasiswa. “Tulisan opini bukan untuk coba-coba, tetapi kepakarannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tony saat itu.
Meski demikian, mahasiswa (yang belum sarjana S1) tidak dilarang menulis dan mengirimkan opininya ke Kompas. Menurut staf sekretariat Desk Opini, sampai sekarang sejumlah mahasiswa yang belum lulus S1 mengirimkan artikelnya. Bahwa opini mereka belum bisa dimuat, itu soal lain.
Akan tetapi rekan sefakultas saya di Universitas Padjadjaran, Yudi Latif (kini bergelar doktor dan menjadi Deputi Rektor Universitas Paramadina), tiga artikelnya dimuat di halaman opini Kompas dalam kurun waktu 1989. Untuk diketahui, saat itu Yudi masih mahasiswa. Hal sama terjadi pada Denny JA yang sangat produktif menulis di halaman 4 Kompas justru saat ia masih mahasiswa alias belum lulus S1. Anda, mengapa tidak?
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:12 PM
0
komentar
Label: Artikel, Berbagi Pengalaman Menulis, Kompas, Opini
Tuesday, September 25, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (36)
2. Argumen dan pandangan bukan hal baru
3. Cara penyajian berkepanjangan
4. Cakupan terlalu mikro atau lokal
5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
6. Konteks kurang jelas
7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer
8. Uraian Terlalu sumir
9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah
10. Sumber kutipan kurang jelas
11. Terlalu banyak kutipan
12. Diskusi kurang berimbang
13. Alur uraian tidak runut
14. Uraian tidak membuka pencerahan baru
15. Uraian ditujukan kepada orang
16. Uraian terlalu datar
17. Alinea pengetikan panjang-panjang.
Sahabat sekalian yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada "trik" lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu akan saya paparkan di lain kesempatan.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
1:46 PM
1 komentar
Label: Artikel, Berbagi Pengalaman Menulis, Kompas, Opini
Monday, September 24, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (35)
SETELAH mengupas penyebab pertama pikiran macet saat menulis pada postingan 9 September 2007 lalu (lihat Berbagi Pengalaman Menulis 30), yaitu adanya hasrat si penulis untuk mengejutkan pembacanya dengan membuat lead sespektakuler mungkin, saya mau melanjutkan dengan membahas penyebab kedua, yaitu hasrat ingin hasil tulisan sempurna.
Percayalah akan peribahasa lama, tak ada gading yang tak retak. Sesempurnanya mobil atau rumah, pasti ada cacatnya. Demikian pula tulisan. Jadi jangan terlalu berharap tulisan yang ingin kita buat itu (baik cerpen, opini maupun catatan harian) hasilnya sangat sempurna. Lagi pula sempurna menurut siapa?
Hasrat ingin agar hasil tulisan sempurna biasanya menjebak kita pada pikiran yang macet. Sesuatu yang diimpikan atau dihayalkan bisa menjerat otot-otot kreativitas berpikir kita menjadi mandek dan bahkan beku, sebab apa yang kita buat ukurannya menjadi “tidak sempurna”. Karena itulah perintah di otak pun tidak otomatis menyuruh tangan bergerak di atas tuts komputer atau menggerakkan pena di atas kertas untuk segera menyusun kalimat pertama, tetapi terbelenggu pikiran harus menghasilkan tulisan yang sempurna itu.
Syukur kalau sudah mulai menyusun satu persatu kata untuk merangkai kalimat. Lebih parah kalau ide hanya berhenti di pikiran atau di khalayan saja. Kalaupun kemudian sudah memulai dengan membuat kalimat pertama di awal tulisan atau yang biasa disebut lead pada berita, kita akan membacanya berulang-ulang. Dua kali, tiga, lima, atau bahkan belasan kali! Tentu saja waktu kita akan tersedot karenanya. Mubadzir dan sia-sia.
Membaca berulang-ulang tulisan kita hanya karena kita ingin menghasilkan tulisan yang sempurna adalah pekerjaan sia-sia. Kalau sahabat seorang wartawan, maka setiap hari akan dimaki editor. Boleh jadi besok-besok akan dipecat karena dianggap menghambat produksi. Artinya, jangan terlalu banyak membaca ulang tulisan awal kita. Salah-salah, tulisan itu akan dihapus lagi karena tidak sesuai harapan Anda, yakni ingin sebuah tulisan yang sempurna.
Membaca berulang-ulang sebuah tulisan yang belum usia hanya membuang-buang waktu belaka. Saya kira sahabat harus belajar pada air sungai dalam hal ini, yakni biarkan air mengalir terlebih dahulu. Biarkan pikiran dan ide kita tertuang dalam tulisan. Labrak saja. Jangan pikir huruf salah, kata kurang tepat, kalimat belepotan, tanda baca keliru, atau alinea kacau. Tulis dan tulis saja, terus dan terus saja. Ingat, pikiran sahabat adalah air yang mengalir yang tidak bisa terbendung, paling tidak untuk sementara waktu.
Setelah sahabat bisa menyiasati hal kedua ini, yakni terbebas dari pikiran ingin menghasilkan sebuah tulisan yang sempurna, saya akan melangkah kepada hal ketiga. Tetapi tidak kali ini, lain waktu. Wasallam…
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
4:21 PM
1 komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Pikiran Buntu, Tips Menulis
Tuesday, September 18, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (34)
TAHUN 1976 atau 31 tahun lalu, saat saya duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, saya terkesan dengan sebuah carita pondok (carpon) yang dimuat di koran berbahasa Sunda, Giwangkara. Kalau tidak salah judulnya “Mawakeun”, sayang saya lupa siapa pengarangnya.
Carpon adalah cerita pendek (cerpen), yang oleh masyarakat Jawa Barat sangat disukai, selain carita nyambung (carnyam) alias cerita bersambung. Masih di tahun yang sama, Dudi S. Iskandar, kalau saya tidak keliru, membuat cerita bersambung di Majalah bahasa Sunda, Gondewa. Sekarang, kedua penerbitan itu telah tiada.
Pada majalah itu, Dudi memunculkan tokoh silat “Si Brangbrang”, tokoh muda pembela kebenaran yang memiliki jurus-jurus silat mengagumkan, setidak-tidaknya teringat oleh saya sampai sekarang. Antara lain jurus “Gorentel Monyet” ketika Si Brangbrang menggelundung di tanah menghindari serangan lawan. Atau jurus “Kalakay Katebak Angin” saat tokoh silat yang digambarkan simpatik itu melayang di udara saat menerjang lawannya. “Kalakay Katebak Angin” dalam bahasa Sunda berarti daun kering yang tertiup angin. Banyak lagi jurus-jurus lainnya yang membuat saya kecanduan cerita saat itu.
Kembali ke carpon “Mawakeun” tadi. “Mawakeun” adalah tradisi masyarakat Jawa Barat dimana pada bulan puasa orang yang mampu memberi sedekah berupa makanan siap santap. Biasanya diberikan menjelang buka puasa dekat-dekat lebaran. Bila jarak agak jauh, tempat makanan ada yang menggunakan rantang bersusun tiga dan jika jarak dekat cukup menggunakan piring atau mangkuk saja. Para tetangga dekat biasanya prioritas untuk dikirim makanan.
Dalam carpon “Mawakeun” itu, tersebutlah seorang anak laki-laki usia sembilan tahun yang setiap sore berdiri di depan rumah kayunya di balik pagar bambu, menantikan adanya seseorang yang mengirim makanan. Tunggu punya tunggu sampai lebaran akan tiba keesokan harinya, si pengirim makanan tidak datang jua. Sampai kemudian ibu si anak menghampirinya dan bertanya mengapa tidak masuk rumah padahal adzan maghrib sudah berkumandang.
“Mak, kenapa tetangga tidak ada yang mengirim kita makanan?” tanyanya pada ibunya yang menghampirinya. Adzan maghrib puasa terakhir sudah terdengar. Si Ibu mencoba menghibur sambil menahan rasa pedih, “Sudahlah, Nak, mungkin tetangga kita itu lupa mengirim kita makanan.”
“Apa karena kita miskin ya, Mak? Atau karena Bapak belum pulang dari Jakarta?” tanya si anak seperti tak percaya. Kali ini ibunya tak bisa menahan rasa harunya, benteng ketahanan jiwanya runtuh seketika. Air mata meleleh membasahi pipinya. “Tidak, Nak, para tetangga itu hanya lupa saja,” hiburnya.
Diceritakan bahwa si Anak menantikan datangnya makanan dari tetangga, sementara si Ibu sebenarnya menantikan suaminya (ayah si anak) yang sedang bekerja di Jakarta. Ibu si anak tahu, suaminya tak akan pernah datang lagi ke gubuk itu karena ia mendengar dari tetangga, suaminya telah menikah lagi di Jakarta. Uniknya, si Anak tidak pernah menantikan kadatangan ayahnya, sekadar menantikan datangnya makanan dari tetangga. Itu saja.
Mengapa saya panjang lebar bercerita seperti ini? Saya ingin mengatakan bahwa inspirasi sebuah cerita pendek atau bahkan cerita bersambung bisa datang dari suasana religius seperti ini, yakni saat-saat ramadhan atau lebaran tiba dalam konteks Islam. Dalam konteks Kristen, ada natal atau mungkin paskah, atau apapun namanya. Suasana “di luar keseharian” yang datang setiap tahun itu sungguh obyek empuk untuk dijadikan inspirasi, dengan catatan kita mau menggalinya. “Mawakeun” hanyalah salah satu contoh kecil saja.
Tanpa bermaksud menggurui, sahabat kini sudah bisa merangkai cerita apa di balik datangnya bulan suci ramadhan atau hari raya lebaran. Mau dijadikan fiksi atau opini, tidak jadi soal. Dari soal kesusahan hidup, kekayaan bertumpuk, kesibukan sebuah pasar atau supermarket, sulitnya mudik, sampai ziarah ke kuburan mendiang. Pasti ada cerita di sana. Tidak percaya? Mulailah menggali!
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
7:50 PM
0
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Cerpen, Inspirasi, Nuansa Religi
Monday, September 17, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (33)
BERMULA dari piket malam hari sampai subuh, di kamar saya selalu menyempatkan "ngintip" MTV atau V Channel selagi meng-upload berita lewat laptop yang terkoneksi ke internet. Mata dan telinga sering terusik oleh penampilan Rihanna saat membawakan lagu Umbrella dan Shut Up and Drive. Saya pikir, berbakat sekali gadis hitam manis ini.
Lalu saat jalan-jalan ke toko CD di Plaza Bintaro bersama Kakang, anak saya, saya menemukan CD Rihanna. Saya langsung membelinya. Ternyata 12 lagu yang ada di CD itu enak didengar. kendati mungkin tidak match dengan usia saya yang tergolong udzur. Dari menikmati suara Rihanna saat berkendara ke kantor, saya tertarik menelusur informasi Rihanna dari internet. Bahkan, saya langsung memasukkan dua lirik lagu Rihanna, Umbrella dan Shut Up and Drive, ke blog saya yang lain, http://pepih.wordpress.com/.
Dari hasil penelusuran di internet, saya mendapat gambaran lumayan dari sosok Rihanna, tetapi belum cukup kuat untuk saya tulis. Belum ada timing-nya. Dan timing alias waktu yang tepat itu datang saat saya membaca wire, kantor berita AFP, yang melaporkan bahwa Rihanna mendapat penghargaan bergengsi. Inilah timing dimana saya harus menulis! Maka, saya pun menulis sosok Rihanna yang kemudian dimuat Kompas, 15 September 2007.
Berikut tulisan lengkap Rihanna:
Rihanna, "Payung Fantasi" dari Barbados
PEPIH NUGRAHA
Kelayapan di klub-klub musik sejak usia 13 tahun dan kurang mendapat perhatian orangtua, tak membuat gadis itu terpuruk. Minggu (9/9) malam, Rihanna meraih penghargaan MTV Video of The Year dan Monster Single of the Year untuk lagu andalannya, Umbrella. Ia menyisihkan penyanyi R&B Beyonce, rapper Kanye West, dan penyanyi soul Inggris Amy Winehouse.
Padahal, saat dia merilis single pertamanya, If It Love That You Want tahun 2005, ia masih sekadar penyanyi pembuka untuk Gwen Stefani, pelantun Sweet Escape, yang namanya sudah berkibar-kibar. Orang pun tidak melirik single Rihanna. Akan tetapi, ia tegar menjalaninya. Kepercayaan dirinya tinggi sebab yakin akan kemampuannya.
Itulah Rihanna. Dua atau tiga tahun lalu dia hanyalah gadis Barbados biasa yang tak dikenal dunia. Beruntung, Evan Rogers bersama istrinya menemukan bakat gadis berkulit gelap ini saat mereka berlibur di Barbados, negara kecil yang hanya berpenduduk 300.000 jiwa.
Rogers, produser musik di New York, Amerika Serikat dan telah mengorbitkan Christina Aguilera, Kelly Clarkson serta Ruben Studdard itu, yakin Rihanna bakal menguasai panggung dunia.
"Andai saya tidak bertemu Evan dan Carl (produser musik), mungkin saya hanya akan bermimpi selamanya. Saya berterima kasih untuk segala upaya mereka," ungkap Rihanna mengenang dua orang yang berjasa dalam hidupnya, sebagaimana ternukil dalam situs resmi dia.
Minggu malam itu, bersama penyanyi pop Justin Timberlake, Rihanna dinobatkan sebagai pemenang penting pada acara penyerahan Penghargaan Musik Video MTV. Dia meraih penghargaan Video of The Year dan Monster Single of the Year untuk lagu Umbrella.
"Wow, Video of the Year! Ini penghargaan sangat penting bagi saya. Penghargaan yang tak terduga," ujar Rihanna saat menerima penghargaan sebagaimana ditulis kantor berita AFP.
Sebelum acara puncak penobatan itu berlangsung, namanya masuk nominasi Female Artist of The Year bersama Beyonce, Fergie, Nelly Furtado, dan Winehouse. Masuknya Rihanna dalam nominasi penyanyi wanita tahun ini tak terlepas dari sukses album ketiganya, Good Girl Gone Bad. Dalam album ini pula tembang Umbrella termuat. Di Indonesia, kaset dan CD album itu sudah dipasarkan sejak sekitar tiga bulan lalu.
Umbrella bertengger di peringkat pertama tangga lagu dunia. Sejak album ini diluncurkan pada Juni 2007, selama berbulan-bulan lagu Umbrella merajai puncak tangga lagu di AS, Inggris, Kanada, Jerman, Australia, Polandia, sebagian negara-negara Eropa, serta belahan dunia lain seperti Jepang, termasuk Indonesia.
Lagu, yang terkenal dengan penggalan kata "e-e, ella, ella" , itu juga masuk nominasi Monster Single of The Year dalam MTV Video Music Award 2007 ini. Umbrella juga termasuk nomine untuk video musik terbaik dan sutradara terbaik dalam penggarapan videoklip.
Anda yang sering nongkrong di MTV atau V Channel tentu tidak asing dengan videoklip suara getas Rihanna saat membawakan Shut Up and Drive, lagu andalan dia yang lain, di samping Umbrella.
Tak bisa tidur
Dilahirkan di St Michael, Barbados, 20 Februari 1988, dari pasangan Ronald dan Monica Fenty, gadis bernama lengkap Robyn Rihanna Fenty ini suka bergaul bersama teman-temannya, termasuk bernyanyi ramai-ramai. Ibunya seorang akuntan yang sibuk, sementara ayahnya konsultan di pabrik garmen. Rihanna mempunyai dua adik laki-laki, Rorrey dan Rajad. Tetapi, dalam keluarga ini hanya Rihanna yang menunjukkan bakat seni.
Sebelum menjadi penyanyi profesional, Riri, panggilannya, pernah menjadi pemenang salah satu kontes kecantikan, Miss Combermere Beauty Pageant di negerinya pada tahun 2004. Menari juga menjadi hobi favorit Riri selain menyanyi.
Tidak lama setelah bertemu Rogers, Rihanna mengeluarkan album pertamanya, Music of The Sun (2005), dilanjutkan dengan album kedua A Girl Like Me (2006). Pada peredaran album pertamanya, nama Rihanna belum meroket seperti sekarang. Boleh dibilang pencapaian dia biasa-biasa saja, paling top menduduki tangga kedua US Billboard Hot 100.
Namun, waktu cepat berlalu, khususnya setelah sejumlah penghargaan yang diterima Rihanna sepanjang tahun 2006, antara lain sebagai penyanyi pendatang baru terbaik (MTV Video Music Awards Japan), penyanyi R&B terbaik (MTV Europe Music Awards), dan Female Artist of The Year (Billboard Music Awards). Kiprah Rihanna yang berniat belajar bisnis dan psikologi itu pun tak terbendung. Saat lagu Pon de Replay dirilis, misalnya, lantai dansa sejumlah klub ternama seperti bergetar.
Pada lagu Umbrella, ia berkesempatan memunculkan sosok Shawn "Jay-Z" Carter, penyanyi idolanya jauh sebelum Rihanna meroket. Tahun 2005 saat usia dia 17 tahun, Riri bertemu "Jay-Z", yang juga presiden sekaligus CEO perusahaan rekaman Def Jam Recordings. Tidak lama setelah ikut audisi, kontrak untuk album pertama dia ditandatangani.
"Setiap menandatangani perjanjian, saya selalu tersenyum. Saya tidak bisa tidur tiga malam dan terbangun setiap detik memikirkan kenyataan ini," ungkapnya.
Ikatan bisnis itu memang telah mengubah nasib Rihanna, dari gadis Barbados biasa bermata hijau lumut sampai menjadi miliarder baru dari hasil penjualan album-albumnya. Kakinya yang konon serupa daun padi itu, dia asuransikan senilai Rp 9 miliar.
Dalam dunia tarik suara, Riri juga berpeluang menggeser nama-nama penyanyi yang sudah eksis sebelumnya, seperti Mariah Carey dan Britney Spears, dua penyanyi idolanya. Baru dua bulan situs resminya diluncurkan, Rihanna sudah dikunjungi sekitar dua juta penggemar.
Nada dan lirik lagu yang ditulis Riri sendiri, tidak lepas dari dunia belianya, yakni seputar dansa, musik, dan ngebut dengan mobil balap. Umbrella telah menaungi keberuntungan gadis Barbados ini di tanah Amerika, bahkan pentas dunia.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:28 PM
0
komentar
Label: Barbados, Berbagi Pengalaman Menulis, Penyanyi, Rihanna, Umbrella
Sunday, September 09, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (32)
ADA teman senior bercerita, ia bisa menghabiskan berlembar-lembar bahkan belasan kertas hanya untuk menulis satu berita saja. Asap rokok tidak lepas mengepul dari mulut, menjalar ke hidung sampai kadang menutupi wajahnya. Cangkir kopi untuk ketiga kalinya sudah tandas. Waktu semakin memepetnya menuju deadline. Tetapi, satu alinea pun belum juga usai.
Ini gambaran suasana kerja di tempat saya bekerja, Harian Kompas, di tahun 1980 atau bahkan 1970-an. Zaman komputer belum menguasai dunia, segala aktivitas tulis menulis mutlak ada di tangan mesin tik manual yang suaranya bising bukan kepalang. Saat saya masuk bekerja tahun 1990, mesin tik sudah tergusur, tergantikan mesin komputer canggih pada zamannya. Menggunakan program untuk menulis WS4 saja waktu itu sudah merasa menguasai dunia, sudah merasa menjadi bagian dari manusia-manusia cyber.
Hari pertama di Jakarta, misalnya, saya pernah ditegur pemilik rumah kost gara-gara masih bersemangat menekan tuts-tuts mesin tik merek Brother sampai larut malam. Bayangkan, dengan ruangan yang tidak begitu luas dan dengan meja yang saling berdekatan satu sama lain, betapa bisingnya kantor redaksi saat menjelang tenggat waktu berakhir. Dan ketika pikiran sedang mengalir, tidak ada suatu apapun yang bisa menghentikannya!
Kembali ke soal pikiran macet alias buntu. Apa yang harus dilakukan? Itu tadi, sekadar ingin terbebas dari penderitaan teman saya sampai menghabiskan berlembar-lembar kertas yang kemudian hanya menjadi penghuni keranjang sampah, habis berbatang-batang rokok, dan menandaskan kopi kental beberapa kali. Ketika editor menanyakan tulisannya untuk segera disetorkan, ia hanya berdesah, “Belum kelar, Bos, sori!”
Itu cerita lama. Zaman sudah berubah. Sekarang setiap penulis, baik amatiran maupun pro, wartawan dan bahkan ibu-ibu rumah tangga, terbiasa menulis di depan komputer. Sekarang menulis bahkan di atas communicator yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan. Tidak ada lagi berlembar-lembar kertas terbuang, tidak perlu lagi tip-ex untuk menghapus huruf yang salah di atas mesin tik. Semua huruf , kata atau kalimat yang salah dengan mudah di-delete, diamankan dan disimpan secara otomatis, bahkan bisa diedit kapanpun jika mau.
Tetapi kalau terkena pikiran macet? Tetap saja tulisan tidak akan pernah selesai. Jadi, baik menulis di atas mesin tik, komputer maupun communicator, kalau macet pikiran menghadang, perkaranya tetap sama saja. Pertanyaannya, mengapa pikiran macet saat menulis? Ada beberapa sebab.
Pertama, kita ingin awal tulisan itu bagus. Untuk menjadi bagus, sering ada anggapan bahwa tulisan itu harus masuk ketagori luar biasa, bukan biasa-biasa saja, spektakuler. Ada efek mengentak di awal pembukaan, sehingga membuat orang terperangah, terusik, dan syukur kalau sampai berdecak kagum. Berdasarkan pengalaman, saya menganggap ini pemahaman yang keliru. Pikiran Anda terlalu dikuasai hal-hal yang tidak perlu yang belum terjadi. Pikiran Anda terpenjara oleh ambisi sendiri untuk mengejutkan orang.
Percayalah, untuk mencuri perhatian orang, tidak perlu memberi rangkaian kata yang mengejutkan! Salah-salah pembaca terkena shock yang ujung-ujungnya malas melanjutkan membaca tulisan kita. Kontraproduktif. Karena terobsesi membuat kejutan di awal tulisan, akhirnya penulis terjebak kata-kata bombastis, vulgar, sarkastis, sadistis, hiperbolis, megalomanis dengan membesar-besarkan fakta. Hati-hati, semua itu sudah dekat dengan kebohongan!
Penyakit ini kerap berjangkit pada setiap penulis, dari penulis pemula sampai penulis manula yang kaya pengalaman. Itu tadi, ingin para pembaca itu terkejut dengan kata-kata atau kalimat pertama kita. Hasilnya, kita tidak akan pernah puas dengan satu atau dua kalimat. Hapus, hapus, dan hapus lagi. Pastilah tuts komputer untuk “delete” atau “backspace” terus ditekan sampai gundul. Hasilnya? Layar komputer masih bersih, kursor berkedip-kedip seperti ikut lelah dan putus asa, dan tulisan tidak pernah jadi.
Oke deh… Saya akan melanjutkan uraian ini lain waktu. Sekarang, saya harus bekerja dulu. Wassalam!
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:45 PM
0
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Macet, Pikiran Buntu
Saturday, September 01, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (31)
SEKALI lagi tentang Ambon. Di sini saya ingin sekadar berbagi bagaimana sebuah isu “sepele”, yakni tidak sampainya para pejabat teras ke warga dan hanya mencari aman di bandara, menjadi perspektif lain ketika isu berada di level redaktur, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi dan bahkan pemilik koran. Ia menjadi kajian menarik untuk ditampilkan di Tajuk Rencana.
Tajuk Rencana hanyalah sebuah nama, yang tidak lain dari editorial. Sebuah editorial adalah pendapat “pribadi” institusi koran itu sendiri. Media massa lain boleh menentukan sudut pandangnya sendiri-sendiri. Namun editorial tidak semata-mata menonjolkan sisi pribadi si koran secara membabi buta tanpa bersedia mendengar atau melihat reaksi khalayak. Itu arogan namanya. Ia adalah suara hati si koran yang mewakili kepentingan khalayak pembacanya. Untuk itulah dia selalu menyebut dirinya "kita", bukan "saya".
Kepada siapa editorial ditujukan? Kepada semua pihak: dari rakyat sampai pejabat, mulai pemerintah sampai yang diperintah. Tidak melulu kritik pedas, tajam, dan vulgar, tetapi juga bisa sindiran halus sampai usulan, imbauan, dan alternatif solusi atas sebuah permasalahan. Karena dibaca oleh beragam khalayak, ia harus menggunakan bahasa sederhana, kalimat pendek dan pokok pikiran yang jelas. Tidak sembarang orang bisa membuat Tajuk Rencana. Ia adalah hak istimewa para petinggi, penentu kebijakan, dan bahkan pemilik koran.
Dalam konteks inilah, betapa isu sederhana yang saya tangkap di lapangan lantas dikemas menjadi persoalan yang lebih besar lagi dari sekadar tidak punya nyalinya para pejabat, tetapi bersangkut paut dengan kepemimpinan (leadership). Di Ambom, saya tidak menangkap perluasan isu ini. Di Jakarta, para pemimpin redaksi memformulasikannya dalam sebuah Tajuk Rencana yang bisa sahabat baca di bawah ini.
Mungkin terlalu panjang dan melelahkan untuk dibaca, tetapi Tajuk Rencana yang dimuat hari Jumat 30 April 2004 itu memberi pelajaran tersendiri khususnya bagi sahabat yang menggeluti dunia tulis menulis dan jurnalistik. Silakan….
Tajuk Rencana
Pejabat Itu Belum Tentu Pemimpin
BETAPA bingungnya kita mencari yang namanya pemimpin. Banyak orang yang akhir-akhir ini mengaku dirinya sebagai pemimpin dan merasa pantas untuk menjadi pemimpin bangsa. Namun, kita ragu mana di antara mereka yang benar-benar seorang pemimpin.
Kita memang memiliki banyak pejabat, tetapi tidak banyak yang mempunyai kualifikasi pemimpin. Menjadi pemimpin sangatlah tidak mudah. Kualitas pemimpin diuji ketika ada sebuah persoalan besar. Di sanalah kita bisa melihat bagaimana pola tindak dan cara seseorang memecahkan persoalan itu.
Seorang pemimpin sejati tidak mengenal rasa gentar. Ia akan selalu berusaha dekat dengan rakyatnya. Ia akan berusaha mendengarkan apa kata rakyatnya dan mencoba menghibur ketika mereka berada dalam kesulitan.
Menjadi pemimpin sudah barang tentu memiliki banyak risiko. Termasuk risiko akan keselamatan jiwanya. Namun, sekali lagi, itulah ukuran sesungguhnya dari yang namanya seorang pemimpin.
Pemimpin sangat dibutuhkan pada saat sulit, bukan pada saat situasi normal. Ketika sedang "bulan purnama", siapa pun pasti bisa bertindak seperti seorang pemimpin. Untuk itulah kita mengenal ungkapan noblesse oblige. Bahwa kehormatan itu menuntut tanggung jawab. Keharuman dan privilese sebagai seorang pejabat harus dibayar dengan kemauan untuk memikul tanggung jawab.
Semua uraian itu kita sampaikan untuk menilai apa yang dilakukan pejabat di jajaran politik dan keamanan. Kita ikuti para pejabat polkam terbang ke Ambon untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di kota itu.
Namun, karena alasan keamanan, para pejabat itu tidak masuk ke Kota Ambon untuk melihat rakyatnya yang menderita. Mereka hanya berkumpul di Bandara Pattimura dan menggelar rapat dengan pejabat daerah di tempat itu.
Setelah merasa mendapat informasi yang cukup, para pejabat itu terbang kembali ke Jakarta. Bahan rapat itulah yang dipakai sebagai dasar pembahasan dalam sidang kabinet hari Kamis kemarin. Kita tidak menutup mata bahwa kondisi di Ambon sangat tidak aman. Kita ikuti sejak hari Minggu, setelah peringatan hari ulang tahun Republik Maluku Selatan (RMS), terjadi bentrokan antara kelompok RMS dan anti-RMS. Bentrokan meluas sampai saat ini di mana terjadi baku bunuh, pembakaran rumah dan gedung, sehingga lebih dari 32 orang dilaporkan tewas.
Akibat bentrokan yang berkembang meluas itu, rakyat Ambon sangat menderita. Mereka seperti dibawa kembali ke masa tahun 1999, di mana mereka hidup dalam kekerasan. Nyawa begitu mudah melayang dan warga dari satu rumpun itu harus hidup terpisah-pisah.
Mereka sangat mengharapkan adanya uluran tangan untuk membuat hidup mereka terlepas dari penderitaan. Masyarakat Ambon sangat mendambakan sentuhan nyata dari pemimpinnya. Pemimpin yang diharapkan itu memang sudah datang ke kota mereka, namun ternyata pemimpin itu tidak menyentuh mereka.
Kita sungguh menyayangkan para pejabat di jajaran polkam itu tidak masuk ke Kota Ambon, melihat langsung kehidupan warga bangsa yang sedang berada dalam kesulitan. Alasan keamanan sungguh bukan sebuah alasan yang bisa kita terima.
Sebagai pejabat tinggi di jajaran politik dan keamanan, bukankah tugas mereka untuk menciptakan keamanan bagi masyarakat. Kalau untuk dirinya sendiri saja mereka tidak mampu menciptakan keamanan, lalu bagaimana masyarakat bisa mengharapkan para pejabat itu menciptakan keamanan bagi seluruh rakyat.
Sungguh kita tidak habis mengerti mengapa para pejabat polkam itu tidak memaksa aparatnya di daerah untuk membuka kesempatan melihat langsung apa yang terjadi di kota itu. Untuk mengetahui seperti apa penderitaan yang dihadapi rakyat di sana.
Bagaimana seorang pemimpin tega membiarkan rakyat menderita, membiarkan rakyat tidak berdaya. Tindakan tidak melihat dan meninggalkan rakyat menderita begitu saja sungguh tidak menunjukkan sikap kesetiakawanan.
Menghadapi risiko merupakan pilihan seorang pemimpin. Kita boleh tidak suka kepada Soeharto, tetapi kita melihat bahwa ia adalah seorang pemimpin.
Kita tentunya belum lupa ketika ia terbang ke Bosnia, saat negeri itu sedang bergejolak. Sebagai Ketua Gerakan Non-Blok ia merasa bertanggung jawab untuk memberikan dukungan moral kepada rakyat di sana.
Pasukan Keamanan PBB merasa keberatan Presiden Soeharto masuk Kota Sarajevo karena banyak penembak gelap di sana. Tetapi Pak Harto memaksa untuk tetap masuk dan bahkan merasa tidak perlu menggunakan jaket antipeluru. Selama enam jam Presiden Soeharto berada di Sarajevo dengan menggunakan kendaraan lapis baja.
Kita lihat juga bagaimana Presiden AS George Walker Bush mengambil risiko untuk terbang ke Baghdad. Semua orang tahu bahwa kota itu sangat berbahaya bagi seorang pemimpin Amerika. Namun, ia tetap datang untuk merayakan Thanksgiving Day dengan para prajurit yang sedang bertugas di Irak.
Tidak salah kalau dikatakan negeri ini memang tidak memiliki pemimpin. Kita kekurangan pejabat yang mempunyai kepekaan atas penderitaan yang sedang dialami oleh warga bangsanya.
Semua orang berebut menuju kursi kekuasaan. Semua orang berusaha untuk bisa menjadi pejabat. Tetapi untuk apa semua itu? Hanya untuk dinikmati! Kekuasaan dan pangkat hanya dipakai untuk kesenangan pribadi. Bukan untuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kita sangat prihatin dengan nasib yang dialami saudara-saudara kita yang tinggal di Ambon. Sepertinya kita tidak bisa hanya mengharapkan kepada elite politik. Kita, masyarakat, sendiri harus ikut menyelamatkan mereka. Caranya yang paling sederhana, tidak ikut memperkeruh suasana, tetapi ikut mendengungkan kedamaian.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:01 AM
0
komentar
Label: Ambon, Berbagi Pengalaman Menulis, Kompas, Tajuk Rencana
Monday, August 27, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (30)
MASIH tentang liputan di wilayah konflik, Ambon. Jika pada postingan lalu (Lihat Berbagi Pengalaman Menulis 27: Dibimbing Insting) saya tiba di Ambon Maret 2003, setahun kemudian saya harus kembali ke Ambon, persisnya 25 April saat meledak kerusuhan komunal yang dipicu kelompok FKM yang merayakan ulang tahun Republik Maluku Selatan (RMS).
Pada hari-hari pertama bentrokan komunal, saya masih tetap melaporkan suasana Kota Ambon yang masih mencekam, bertambahnya jumlah korban, dan bergentayangannya para “sniper” alias penembak jitu. Intinya, masih melaporkan pandangan mata, sekalian mengumpulkan data dan fakta untuk menulis feature. Di sini, saya mau berbagi mengenai “Ironi” yang bisa diolah sebagai isu besar, tetapi juga jenial dan orisinal. Bagaimana caranya?
Cuma sekadar blessing saja! Itupun setelah saya bosan melaporkan keadaan Ambon yang itu-itu saja. Kesempatan itu datang pada hari Rabu, 28 April 2004 atau empat hari setelah kerusuhan meledak. Hari itu hadir Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno bersama Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono, dan Menteri Kesehatan Achmad Sujudi.
Di Ambon hari itu saya memasang mata dan telinga. Perkiraan saya, para pejabat itu akan ditampung di Kantor Gubernur dulu sebelum turun ke bawah (turba) menenangkan warga yang bertikai. Nyatanya? Saya dapat kabar, para pejabat terhormat dari Jakarta itu hanya akan “transit” di Bandara Pattimura saja tanpa menyapa langsung warga di kantong-kantong pertikaian, sebelum kembali lagi ke Jakarta. Sekadar piknik? Dalam hati saya berteriak: Ini berita! Berita besar!
Saya menumpang kendaraan militer ke pelabuhan dan menggunakan speed boat yang juga disediakan militer setempat, kendaraan umum belum beroperasi. Wartawan Jakarta dan wartawan lokal Ambon sudah pasti ada semua di sana. Dalam hati saya berbisik: semoga mereka tidak menangkap ironi di balik peristiwa ini. Ya ironi, sebab pejabat yang seharusnya bertatap langsung dengan warga, menenangkan warga kedua belah pihak baik Islam maupun Kristen, ternyata hanya mau cari aman dan selamat sendiri di ruang berpendingin udara di Bandara Pattimura. Enak betul mereka.
Sesampainya di bandara, saya ikuti semua percakapan para pejabat di bawah pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri itu, juga unek-unek tokoh masyarakat kedua belah pihak yang sengaja dihadirkan di bandara itu. Jadinya seperti kelompencapir zamannya Harmoko dulu. Wah, menyebalkan. Saya coba menahan perasaan saya.
Saat wartawan lain merekam segala suasana, diam-diam saya mengikuti Pangdam XVI Pattimura Mayjen Syarifuddin Sumah yang menyelinap ke belakang. Rupanya jenderal bintang dua itu mau ke toilet. Maka saya juga ke toilet. Sebelumnya kami telah saling mengenal selintas karena beberapa kali pasca bentrokan itu saya harus “memepet” Pangdam itu di markasnya.
Saya menyapa sang jenderal. Mungkin suasana hatinya sedang baik, dia mau saya ajak bicara sebentar. Saya tahu dia berasal dari Makassar, maka percakapan basa-basi pun dimulai mengenai kota Anging Mamiri, tempat dimana homebase saya berada.
“Sayang bapak-bapak pejabat itu hanya sampai di Bandara Pattimura saja ya, Pak, tidak langsung menemui warga,” kata saya. Sang jenderal menjawab, “Saya tidak mau ambil risiko, maka pertemuan itu terpaksa saya langsungkan di sini saja.” Saya menyambar lagi, “Boleh saya kutip, Pak?” Dia menjawab cepat, “Ya, tetapi jangan sebut ini dari saya, ya!” Jenderal yang baik!
Usai pertemuan, wartawan pun merancang isu. Rekan wartawan senior dari sebuah stasiun televisi swasta mengangkat isu kemungkinan penerapan darurat militer, yang bagi saya tentu saja terlalu dini. Wartawan lain mengangkat mau diapakan kelompok FKM yang diduga memprovokasi kerusuhan? Apa yang saya lakukan saat itu? Cukup diam menahan diri, tidak harus bertanya lagi. Semua bahan untuk berita besok sudah ada di kepala saya. Sejujurnya, saya ingin segera mengetik dan mengirimkan berita ke Jakarta.
Di hotel tempat saya menginap di kawasan Muslim, saya lalu memberi judul berita saya “Kunjungan Pejabat Jakarta Hanya Sampai di Bandara Pattimura.” Berita yang menggambarkan suasana itu lantas didukung oleh sejumlah fakta yang berkembang di lapangan. Oleh editor di Jakarta disempurnakan dan dipertajam menjadi lebih menukik dengan judul “Kunjungan Menko Polkam ‘Hanya Sampai’ Bandara”, yang dimuat sebagai berita utama (headline) di harian Kompas keesokan harinya, Kamis 29 April 2004.
Sahabat yang budiman bisa membaca berita saya di bawah ini setelah ditambah dengan “sumbangan” rekan-rekan wartawan lain yang mendapatkan sumber berita di luar Ambon, yakni di Jakarta. Sahabat juga bisa mengikuti postingan berikutnya bagaimana berita itu disikapi dan diperkuat dengan Tajuk Rencana (editorial) mengenai “Kepemimpinan” yang ditulis oleh para petinggi dan bahkan pemilik koran. Saya juga tidak menyangka tidak sampainya para pejabat Jakarta menemui warga itu bisa terkait dengan kepemimpinan. Ok, sampai jumpa lagi...
Kunjungan Menko Polkam "Hanya Sampai" Bandara
AMBON, KOMPAS- Akibat tidak adanya jaminan keamanan dari aparat keamanan setempat, rombongan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno yang melakukan kunjungan kerja ke Kota Ambon, Maluku, Rabu (28/4) kemarin terpaksa menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat dan agama serta politisi Maluku di Bandar Udara Pattimura, Ambon. Hari Sabarno didampingi Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono, dan Menteri Kesehatan Achmad Sujudi.
Rombongan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) ad interim mendarat di Bandar Udara (Bandara) Pattimura pukul 13.45 waktu setempat, menggunakan pesawat khusus. Mereka mengadakan dialog dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan politisi Maluku di aula khusus Lantai 2 Bandara Pattimura hingga pukul 16.00 sebelum kembali ke Jakarta.
Dalam kesempatan itu Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XVI Pattimura Mayor Jenderal Syarifuddin Sumah, Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Brigadir Jenderal (Pol) Bambang Sutrisno, dan Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu memaparkan laporan situasi terakhir di Kota Ambon.
Menurut keterangan aparat keamanan setempat, semula rombongan akan mengadakan kunjungan ke lokasi kerusuhan. Namun, karena kondisi kota itu dinilai belum kondusif, rencana tersebut dibatalkan. Bahkan, dialog pun akhirnya hanya dilangsungkan di Bandara Pattimura. "Saya tidak mau pejabat kita terancam keselamatannya," tutur pejabat militer setempat yang tidak bersedia disebutkan namanya.
Kemarin situasi di Kota Ambon masih panas dan eskalasi konflik semakin melebar. Konflik bahkan sudah merembet sampai ke kecamatan lain meski masih di dalam Kota Ambon. Dari Selasa tengah malam sampai Rabu dini hari kemarin, rentetan tembakan dan dentuman bom masih terdengar berkali-kali. Apabila sebelumnya konflik antarwarga terjadi di wilayah Talake Dalam dan Waringin di Kecamatan Nusaniwe, kini konflik sudah merembet ke daerah Karang Panjang, Kecamatan Sirimau.
Kemarin pagi sekitar pukul 08.00, massa yang berjumlah ratusan orang dari Karang Panjang, yang rumahnya terbakar, mendatangi Markas Polda untuk berunjuk rasa dengan membawa bendera Merah Putih setengah tiang sebagai tanda duka. Dalam orasinya mereka meminta pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Maluku ditarik saja karena mereka mengaku melihat adanya oknum TNI berpakaian loreng yang turut memprovokasi massa, bahkan turut membakar rumah penduduk.
Namun, tudingan itu disangkal Syarifuddin Sumah dengan mengatakan sangat mudah mendiskreditkan TNI. Dia berharap semua pihak tidak termakan isu semacam itu atau terpengaruh opini yang sengaja diciptakan karena hanya akan memperburuk situasi. Gubernur Ralahalu menyebutkan, sampai kemarin jumlah korban tewas sudah mencapai 32 orang dengan tambahan tujuh korban baru. Korban seluruhnya berjumlah 203 orang. Sebanyak 84 orang masih dirawat di berbagai rumah sakit dan 87 orang sudah pulang setelah menjalani perawatan. Konflik hari keempat juga menghanguskan atau menghancurkan 430 rumah dan bangunan serta menyebabkan sebanyak 2.150 orang atau 340 keluarga mengungsi.
Musuh bersama
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, terdapat satu titik temu dan pemahaman bersama di antara warga masyarakat Ambon bahwa tidak ada satu kelompok pun yang mendukung keberadaan kelompok separatis Front Kedaulatan Maluku/Republik Maluku Selatan (FKM/RMS). Organisasi itu juga tidak identik dengan agama tertentu. Dengan begitu, apabila sudah ada titik temu, sebaiknya FKM/RMS dijadikan musuh bersama yang harus ditindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.
"Tidak sepatutnya sebagai orang Indonesia memberi dukungan kepada kelompok separatis. Aparat keamanan akan berbuat maksimal untuk menindak FKM/RMS," kata Panglima TNI tegas, saat bertemu dengan jajaran Pemerintah Provinsi Maluku di Bandara Pattimura. Menurut Endriartono, pihaknya siap memberikan bantuan tambahan personel berapa pun banyaknya apabila hal itu diminta. Meski demikian, pihaknya lebih menyerahkan inisiatif untuk menyelesaikan konflik atau menjaga agar konflik tidak meluas kepada masyarakat Ambon sendiri. "Seberapa pun besarnya jumlah personel TNI, apabila masyarakatnya memang tidak mau berdamai, kedamaian tidak akan pernah terwujud," katanya.
Hari Sabarno dan Hendropriyono tidak menanggapi adanya keinginan sebagian warga Ambon untuk memberlakukan darurat militer. Menurut mereka, proses pemberlakuan darurat militer terlalu lama karena harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan melihat intensitas konflik yang terjadi. "Lebih baik masyarakat sendiri yang berupaya menyelesaikannya," kata Hari Sabarno. Pernyataan senada disampaikan Kepala Badan Intelijen Negara Hendropriyono.
Hendropriyono mengatakan, hasil analisis intelijen mengenai konflik baru di Ambon yang berasal dari peringatan Hari Ulang Tahun Ke-54 FKM/RMS itu sama dengan yang dikemukakan tokoh masyarakat Ambon, pemerintah provinsi, dan jajaran aparat keamanan Maluku.
Meski demikian, lanjut Hendropriyono, apa yang terjadi pada hari Minggu 25 April lalu itu bukanlah suatu bentuk kecolongan, sebab aparat keamanan sudah mengantisipasi sebelumnya. Hanya saja, bagaimanapun kokohnya, sebuah pertahanan tetap akan jebol karena orang lain bersifat aktif menyerang.
Hendropriyono juga mengatakan, kelompok separatis seperti FKM/RMS pasti memiliki sponsor di belakang mereka. Bisa saja sponsor itu negara asing, sedangkan konflik harus diciptakan untuk menarik perhatian dan isu pun terus diembuskan. "Pokoknya masyarakat dibuat bingung, misalnya dengan adanya penembak gelap yang kita tidak tahu siapa pelakunya," katanya.
Kepala Polda Maluku Bambang Sutrisno dan Panglima Kodam Syarifuddin Sumah mengakui adanya eskalasi atau peningkatan intensitas konflik. Panglima Kodam, misalnya, menyebutkan, jika pada hari pertama kerusuhan terjadi pada 10 titik konflik yang kemudian menyatu dalam satu wilayah, yakni Talake dan Waringin, kemarin titik konflik sudah menyebar ke wilayah Karang Panjang. "Kondisi Ambon masih tegang," kata Syarifuddin.
Dipindah ke Jakarta
Dalam pertemuan itu Kepala Polda Maluku menyarankan agar anggota FKM/RMS yang kini ditahan di Markas Polda dipindahkan ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di Jakarta untuk dilakukan penyelesaian hukum, sebagaimana pernah dilakukan terhadap Alex Manuputty.
Dalam pertemuan itu, baik tokoh agama Islam seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Idrus Toekan dan Kepala STAIN Muhammad Attamimi, maupun tokoh agama Kristen seperti Uskup Amboina Mgr PC Mandagi dan Ketua BPH Sinode GPM Pendeta IWJ Hendriks, mengutuk tindakan FKM/RMS yang mereka sebut sebagai kelompok separatis.
Muhammad Attamimi menegaskan, jika ada umat Islam yang mendukung FKM/RMS, diultimatum akan dihabisi saja. Dia meminta pihak Kristen memiliki sikap yang sama terhadap FKM/RMS. Sementara itu, Pendeta Hendriks meminta aparat keamanan menindak tegas FKM/RMS sesuai hukum.
Kepala Polri Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar mengatakan, tindakan hukum terhadap kelompok separatis seperti FKM/RMS akan dilakukan secara tegas dan transparan agar masyarakat luas mengetahuinya.
Ia juga menyatakan persetujuannya agar seluruh senjata yang ada pada warga masyarakat dilucuti.
Di Jakarta, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak Presiden Megawati agar serius menuntaskan kasus kerusuhan di Ambon.
Menurut rencana, seperti dijelaskan Menko Kesra A Malik Fadjar, sidang kabinet hari Kamis ini memang akan membahas masalah Ambon. (Pepih Nugraha)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
1:23 PM
0
komentar
Label: Ambon, Berbagi Pengalaman Menulis, Ironi, Konflik
Friday, August 24, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (29)
PADA acara Reuni SMPN I Tasikmalaya angkatan 1981 tanggal 24 Juni lalu di Hotel Crown Tasikmalaya, seorang teman bertanya, “Kamu kok jadi pemberani, perang agama di Ambon dan Poso saja kamu liput?”
Saya tahu arah Yono, teman saya itu, dia ingin mengatakan bahwa semasa di SMP dulu saya lelaki penakut, bahkan cenderung lembek, setidak-tidaknya dalam atletik dan sepak bola. Saya menjawab kawan lama saya itu sekenanya, “Mungkin karena keadaan sajalah yang memaksa saya harus nekat.”
Sebenarnya tidak persis begitu. Apa yang saya lakukan di lapangan, di wilayah konflik, tentu dengan perhitungan matang. Tidak mentang-mentang dan sok jagoan. Ingat, nyawa Cuma satu dan saya perlu membesarkan anak! Saya tidak mau anak saya menjadi yatim hanya karena kecerobohan saya. Lagipula, mati di lapangan saat meliput hanya dikenang orang paling lama satu minggu, setelah itu dilupakan begitu saja.
Saya anggap medan Ambon dan Poso paling berat, dibanding waktu saya ke Bosnia, Kroasia, dan Serbia yang malah dikawal mobil PBB segala. Di Ambon dan Poso kita harus jalan sendiri kalau mau mendapat berita atau tulisan yang menarik. Di sana, mengandalkan percaya diri saja tidak cukup. Perlu trik jangan sampai kita mati konyol gara-gara KTP, misalnya, yang mencantumkan agama seseorang di selembar kertas itu.
Kuncinya adalah pertemanan dan mengandalkan jaringan! Jadi saat konflik masih membara, jangan coba-coba jalan ke wilayah dimana agama warga setempat tidak sama dengan agama yang tercantum di KTP kita. Bisa mati kita. Caranya? Saya Muslim. Saat saya harus meliput di wilayah Kristen, saya ajak teman (bisa penduduk lokal atau sesama wartawan) yang beragama Kristen. Saya pun bisa leluasa menggali berita. Kalau di wilayah Muslim, ya saya jalan sendiri saja.
Tetapi kalau harus melintas lautan dari Bandara Raha ke Kudamati, misalnya, saya sewa saja tentara atau polisi yang bersenjata lengkap, plus sewa perahu motornya. Soalnya saat itu kerap terjadi penembakan di lautan. Intinya: jangan kehabisan akal. Kita dikirim kantor ke sana bukan untuk piknik melihat keindahan dan ketenangan Pantai Netseffa, tetapi untuk bekerja. Di wilayah liputan, kita bakal dibimbing insting kita sendiri sebagai wartawan!
Di bawah ini saya sertakan satu tulisan feature (tulisan khas) yang dimuat Harian Kompas, 5 Maret 2002 lalu. Tulisan sederhana berjudul “Kawasan Damai Tanpa Rekayasa”, benar-benar berdasarkan apa yang saya lihat dan rasakan.
Pasar Kaget Ambon
Kawasan Damai Tanpa Rekayasa
SIAPA bilang masyarakat Kristen dan Muslim di Ambon tidak pernah bisa berbaur lagi? Datanglah ke pasar kaget di sepanjang Jalan Pantai Mardika, persis di depan Hotel Ambon Manise (Amans). Di sana, masyarakat Muslim dan Kristen berbaur menjadi satu dalam kegiatan ekonomi di pasar yang sesungguhnya tanpa rekayasa.
Di pasar kaget itu warga masyarakat Muslim menjadi pedagang, sementara warga Kristen menjadi pembeli. Tidak ada tanda-tanda keraguan di kedua belah pihak. Transaksi dilakukan secara wajar, bahkan penuh canda. Tidak berbekas peristiwa Sabtu pekan lalu saat terjadinya kericuhan pada pawai massa.
Senin (4/3) pukul 04.30, pedagang Muslim sudah berdatangan untuk menggelar dagangannya. Trotoar dan badan jalan sepanjang Jalan Pantai Mardika dipenuhi sayuran, buah-buahan, dan bahan kebutuhan pokok lainnya. Pada pukul 05.00, dari lorong-lorong perkampungan muncul calon pembeli yang sebagian besar adalah warga Kristen. Oleh warga masyarakat, kawasan itu disebut Transaksi Zona Baku Bae yang memang dijaga aparat keamanan.
"Namun, tanpa kehadiran aparat pun, karena kami saling membutuhkan (maksudnya Kristen dan Muslim), kami akan berbaur terus tanpa ragu. Torang saling membutuhkan," kata Charles Boloman, pegawai TVRI yang beragama Kristen, yang dijumpai Kompas saat berbelanja di Zona Baku Bae.
Bagi August Mairuhu (34), kehadiran aparat keamanan membuat dirinya lebih tenang berbelanja di tempat itu. Katanya, "Tanpa aparat, mungkin beta ragu ke sini. Namun, beta akan tetap ke sini karena beta perlu kebutuhan hidup dari teman Muslim."
Selain untuk dikonsumsi sendiri, warga Kristen membeli berbagai kebutuhan di pasar kaget juga untuk didagangkan kembali di wilayah Kristen. Mairuhu misalnya, bersama istrinya, Iyos, membeli berbagai kebutuhan untuk dijual kembali di Batumeja yang merupakan kawasan Kristen. Jarak Batumeja dengan Zona Baku Bae kurang lebih dua kilometer dan ditempuh menggunakan becak. Dari transaksi dagangnya dengan rekannya yang Muslim, suami-istri Mairuhu bisa menangguk untung rata-rata Rp 50.000 perhari.
Lananu (23), pedagang Muslim, tengah memilah-milah bawang merah. Menurut dia, harga bawang merah sedang tinggi dan sebanding dengan bawang putih. "Kalau jahe beta terpaksa jual mahal, sebab didatangkan dari Kendari. Sekilo beta jual Rp 12.000, tidak bisa kurang," katanya. Seorang ibu dengan kalung salib emas ukuran besar datang dan membeli jahe. "Mahal sekali, tidak bisa kurangkah?" Lananu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Sudah murah, nyarinya susah." Transaksi pun berjalan. Dengan cepat uang Rp 12.000 beralih untuk ditukar jahe dari Kendari.
Saling membutuhkan
Sebelum terjadinya konflik, warga Muslim umumnya memang pedagang, dengan pembeli beragam. Warga etnis Tionghoa juga pedagang, namun umumnya dalam partai besar atau menguasai ruko dan pertokoan.
Setelah meledaknya konflik, warga Muslim tetap menjalankan profesinya sebagai pedagang. Warga etnis Tionghoa banyak yang mengungsi keluar Ambon dan belum ada tanda-tanda kembali menempati rukonya. Sebagian besar ruko dan pertokoan yang pernah terbakar menjadi penampungan pengungsi atau markas tentara. Kerusuhan menjadikan warga Kristen "terpaksa" berdagang. Mereka kulakan di pasar kaget Zona Bakubae dan menjualnya di kawasan Kristen.
"Masyarakat Kristen dan Muslim memang saling membutuhkan. Tidak ada yang bisa mencegah mereka untuk berbaur. Jujur saja, saya lebih senang berbelanja di Zona Bakubae ini karena harganya jauh lebih murah. Anda tahu sayuran yang saya beli ini di kawasan beta yang Kristen, dijual dua kali lipat. Sebab penjual di sana membeli kebutuhan pokok dari sini juga. Tidak ada fanatisme suku atau fanatisme agama di sini, beta cari yang paling murah. Ini hukum ekonomi yang wajar saja," kata Charles Boloman.
Sisa keterbelahan
Geliat perdagangan rakyat sudah menunjukkan gairahnya di Ambon, khususnya pasca perjanjian Deklarasi Malino. Transaksi serupa, yakni Zona Bakubae terbatas, juga berlangsung di kawasan Rumah Sakit Tentara, meski yang dijual kebanyakan sandang berupa pakaian.
Namun di beberapa tempat seperti di Jalan Baabullah, perdagangan rakyat juga berlangsung, meski aktivitasnya dimulai setelah waktu Maghrib. Minggu (3/3) malam, misalnya, sekumpulan orang berdiri memenuhi Rumah Makan Padang Roda Baru. Waktu menunjuk pukul 21.10 WIT. Pandangan mereka terpusat pada sebuah pesawat televisi berwarna ukuran 21 inci yang dipajang hampir menyentuh atap. Mereka sedang menonton Berita Daerah yang disiarkan TVRI Ambon. Durasinya cukup singkat, dari 21.00 sampai 21.30. Namun 15 menit kemudian, kumpulan orang itu membubarkan diri. Selesaikah Berita Daerah? Bukankah masih tersisa 15 menit lagi?
Lima belas menit terakhir berita yang semula tentang aktivitas masyarakat Muslim memang diganti berita tentang kegiatan gereja. Rumah Makan Padang Roda Baru yang terletak di Jalan Baabullah atau samping masjid Al Fatah itu dipenuhi masyarakat Ambon yang beragama Islam. Maka ketika berita diganti oleh kegiatan gereja, mereka membubarkan diri.
"Beginilah Ambon. Kenyataan ini tidak bisa ditutup-tutupi. Anda akan melihat hal yang sama di wilayah Kristen. Mereka tidak akan menonton aktivitas rekannya yang beragama Islam yang ditayangkan televisi," kata R Tompo, pegawai TVRI yang pada malam itu turut nangkring di antara kerumunan orang.
Sejak konflik pertama pecah pada 19 Januari 1999, Ambon menjadi terbelah. Fasilitas umum, kantor pemerintahan, bank, sarana transportasi, menjadi terbagi dua bagian. Demikian pula siaran televisi yang ditayangkan TVRI Ambon. Ada jam tayang khusus untuk warga Obet (dari kata Robert/Kristen) dan ada jam tayang untuk warga Acan (Hasan/Islam).
Taksi
Kalau Anda mendarat di Bandara Pattimura Ambon, maka "keterbelahan" itu sudah membayang di depan mata. Taksi pun harus terbelah dua, untuk warga Muslim dan untuk warga Kristen. Padahal, tidak ada garis "demarkasi" yang memisahkan kedua jenis taksi yang sama-sama akan menuju pelabuhan Wayame itu.
"Jangan salah pilih taksi," kata seorang warga penjemput di bandara. Namun ada lagi yang bilang begini, "Sekarang sudah tak ada masalah, asal percaya diri saja." Kompas percaya pada yang terakhir. Dengan menumpang taksi untuk warga Obet, saya yang Muslim, bisa sampai ke pelabuhan Wayame untuk warga Acan. Harga disepakati Rp 50.000 untuk jarak 10 kilometer.
"Beta seng pilih-pilih penumpang. Beta cuma cari uang," kata sopir taksi bandara yang Kompas tumpangi.
Pelabuhan Wayame yang merupakan tempat bersandar speedboat, juga harus terbelah, meski keduanya hanya berbilang jarak sekitar 200 meter. Dari Wayame, warga Obet akan dibawa ke Gudang Arang, sementara warga Acan dibawa ke Belakang Kota. Jalan yang dulu menghubungkan Bandara Pattimura dengan kota Ambon, kini "terputus" oleh sejumlah garis demarkasi. Maklum ruas jalan yang mengikuti alur garis pantai itu dikenal daerah "belang", yakni selang-seling antara warga Muslim dan Kristen. Katakanlah Tawiri yang daerah Kristen dan Laha yang wilayah Islam.
Batas keduanya ditandai dengan "garis demarkasi" berupa penghalang jalan yang tidak memungkinkan kendaraan darat bisa lewat. Maka jalur laut lewat speedboat itulah yang menjadi satu-satunya pilihan. Pelabuhan besar untuk mendaratkan kapal besar pun harus terbelah. Pelabuhan Yos Sudarso untuk masyarakat Islam dan pelabuhan TNI AL di Halong dengan kapal Dobonsolo untuk warga Kristen.
Namun di pasar kaget Transaksi Zona Bakubae di Jalan Pantai Mardika, "keterbelahan" itu tidak nampak sama sekali. Masyarakat Muslim dan Kristen berbaur menjadi satu. Mereka dipersatukan oleh pasar karena alasan paling dasar, bahwa mereka saling membutuhkan. Bahwa pasar, wilayah yang mempersatukan mereka, benar-benar bebas dari sentimen suku atau agama.
Alangkah indahnya kalau zona-zona bakubae semacam ini terus diperluas dan diperlebar dengan inisiatif sendiri, tanpa rekayasa. (Pepih Nugraha)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
4:38 PM
0
komentar
Label: Ambon, Berbagi Pengalaman Menulis, Konflik, Pasar Bakubae, Peliputan
Tuesday, August 21, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (28)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:43 PM
0
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Buku, Hendry Ch Bangun, Olahraga
Saturday, July 07, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (27)
AWAL Juni lalu saya bersama Kakang, penerang cahaya hidup ini, jalan-jalan sore di Disc Tara Plaza Bintaro. Hanya sekadar window shopping, tetapi anak saya itu menunjukkan sebuah keping cakram digital (CD). "Ayah, ini CD gitar klasik," katanya menunjukkan sampul coklat kehijauan.
Semula saya tidak tertarik. Bukan apa-apa, sebelumnya saya sudah mengoleksi Roger Wang, Andres Segovia, John William dan Julian Bream, Alex Fox, Trisum, Balawan, bahkan Paco de Lucia. Gitaris siapa lagi? Pikir saya. Tak urung saya raih juga temuan Kakang itu. Saya tidak tahu siapa gitaris yang dimaksud, sebab tidak tertera pada sampul utamanya. Tetapi saya mengenali wajah dalam foto album itu. Jubing!
Album CD bertajuk "Becak Fantasy" itu ternyata milik Jubing Kristianto. Waktu saya bertugas di Pusat Informasi Kompas tahun 1992-an, Jubing beberapa kali menemui saya meminta informasi untuk bahan-bahan liputannya. Tidak lama kemudian, saya dengar dia telah menjadi seorang gitaris yang menikah dengan Reny Yaniar, teman seangkatan saya di Fikom Unpad. Kini Reny dikenal sebagai penulis cerita anak-anak.
Dulu, Reny sering bertanya bagaimana saya bisa menulis cerita anak-anak di Majalah Bobo dan majalah anak-anak lainnya. Hanya karena ketekunannya, Reny menjadi penulis cerita anak-anak ternama negeri ini, yang bukunya sudah mencapai 50. Sedang saya, satu bukupun belum karena beralih haluan menjadi wartawan!
Bukan karena Jubing saya kenal sebelumnya, juga bukan karena dia suami dari teman saya, yang menggerakkan saya untuk menulis. Telah banyak pula orang menulis tentang dia sebagai gitaris. Tidak kurang dari senior saya di Kompas, Ninok Leksono dan Arbain Rambey. Apa lagi yang mau saya tulis tentang Jubing? Dalam hati, saya harus menemuinya!
Singkat cerita, saya sudah menjumpainya di suatu tempat. Saya sudah baca latar belakangnya. Saya berjanji tidak akan menulis cerita yang sama, kalau bisa. Saya ingat, Mas Ninok menulis dari sisi atraksi Jubing di atas panggung saat konser. Arbain menulis dari sisi Jubing memberi partitur atau komposisi gratis yang dibuatnya dari situs pribadinya. Saya?
Setelah wawancara berlangsung, barulah saya tahu bahwa dia sudah keluar dari tabloid Nova, padahal jabatannya sudah tinggi, yaitu redaktur pelaksana. Ketika saya tanya alasannya keluar, Jubing mantap menjawab, "Biar lebih konsentrasi main gitar!" Luar biasa! Poin inilah yang saya tangkap untuk kemudian saya jadikan lukisan dari sebuah tulisan. Dengan "kuasa" saya sebaga jurnalis, saya juga mampu "memaksa" Jubing memainkan dua komposisinya khusus untuk saya, Hai Becak dan Burung Kakaktua.
Berikut ini tulisan saya mengenai Jubing yang dimuat Harian Kompas edisi Sabtu, 30 Juni 2007. Juga bisa diakses di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/30/Sosok/3621875.htm:
Jubing, "Menyulap" Gitar Tunggal Jadi Orkestra
PEPIH NUGRAHA
Bintang Soedibjo yang lebih dikenal sebagai Ibu Sud, pencipta lagu anak-anak, tentu tidak mengira kalau lagu Hai Becak ciptaannya bisa menjadi satu komposisi musik orkestra. Jubing Kristanto menyulap lagu sederhana dan akrab di telinga anak-anak sampai orang dewasa itu menjadi sebuah orkestra hanya dengan satu alat musik: gitar!
Jubing dan gitar benar-benar menyatu, ibarat dua sisi dalam satu keping uang. Saat kami menunggu Jubing untuk wawancara di Wisma Relasi, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pekan lalu, dia datang dengan menenteng gitar yang dibungkus dalam sebuah koper. Gitar tidak monoton. Di tangan Jubing, alat musik bersenar itu bisa menghasilkan "seribu satu" suara, mulai perkusi sampai gamelan dan tetabuhan rebana.
Mengapa lagu anak-anak Hai Becak yang kemudian menjadi judul album Becak Fantasy dalam bentuk compact disc (CD), dan baru beredar itu menjadi perbincangan? Pada lagu itulah terdapat sejumlah teknik permainan gitar yang tidak biasa dijumpai dalam komposisi gitar klasik pada umumnya. Tidak salah kalau dia menjuluki gitar sebagai one man band instrument.
Nada tanpa kata-kata yang dihasilkan pun penuh filosofi. Simak, misalnya, efek gamelan Jawa yang biasa disebut kepyak bergemerincing sebelum lagu itu tiba-tiba nyelonong ke nada minor, nada melankolis syarat kesedihan yang bukan "khitah" dari lagu Hai Becak yang dominan mayor.
Nada minor itu lalu masuk ke irama padang pasir, nada gambus yang meliuk-liuk dan terseret-seret pun terdengar. Pindah lagi ke suara mandolin, dan tidak lama kemudian secara mengejutkan Jubing menyisipkan irama dangdut dengan teknik kontrapung, saling bersahutan antara bas, melodi, sekaligus akor.
"Saya sengaja menyelipkan nada minor sebab saya merasa hidup tukang becak kadang-kadang melankolis. Tetapi, pada akhir lagu saya hidupkan lagi kepedihan itu menjadi suasana riang gembira, kembali ke nada mayor untuk membangkitkan lagi semangat hidup. Sedih tidak boleh berlarut-larut," papar Jubing setelah menunjukkan kebolehannya memainkan Hai Becak, komposisi yang ditulisnya selama tiga bulan pada tahun 1986.
Dari tangannya, lagu-lagu Tanah Air seperti Ayam den Lapeh dan Beungong Jeumpa, juga lagu anak-anak seperti Hai Becak tadi, Naik Delman, Burung Kakatua, dan Hujan, menjadi sebuah komposisi musik yang indah. Komposisi itu tidak hanya dimainkan Jubing sendiri, tetapi gitaris seluruh dunia juga bisa mengunduh (download) notasi musik gratis tersebut dari situs miliknya.
Misi menghibur
Beralih profesi dari jurnalis ke gitaris, itu pilihan hidup yang biasa. Tetapi, ketika puncak prestasi jurnalis tengah berada di genggaman lalu dilepas "hanya" untuk bermain gitar dengan penghasilan tidak menentu, Jubinglah yang melakukan.
Ia ingin mengisi hidupnya hanya dengan bermain gitar. Terungkaplah bahwa selama ini apa yang dijalaninya hanya ingin memuaskan keinginan orangtua. Mereka ingin anak pertama dari enam bersaudara ini hidup "normal" seperti anak-anak pada umumnya. Belajar dari sekolah dasar sampai kuliah, lalu bekerja mencari nafkah. "Padahal, sejak SD saya maunya main gitar terus," ceritanya.
Saat kuliah pada jurusan Kriminologi FISIP Universitas Indonesia pun, Jubing sekadar ikut arus orang banyak. Pun saat dia diterima bekerja di sebuah tabloid wanita tahun 1990, dua tahun sebelum ia lulus kuliah.
Saking kuatnya hasrat bermain gitar, Jubing sampai berucap, "Kalau boleh saya tidak sekolah, saya lebih memilih tidak sekolah dan hanya bermain gitar."
Tekad yang berbumbu nekat itu tiba pada 2003. Setelah 13 tahun bekerja sebagai jurnalis sampai berpuncak menjadi redaktur pelaksana sebuah tabloid wanita, dia mengajukan diri berhenti. Sebagai pengajar gitar saat itu, gajinya Rp 500.000, jauh lebih kecil dibanding penghasilannya sebagai redaktur pelaksana yang berbilang jutaan rupiah.
"Saat menjadi redaktur, saya stres dan pikiran menjadi berat. Kalau begini terus, saya bisa sakit. Lalu saya kembali kepada gitar, sebab saya yakin dengan kemampuan sendiri," kata suami Renny Yaniar, penulis cerita anak-anak ini.
Jubing mengenal gitar sejak usia sekolah dasar. Ayahnya, Wibowo, dan ibunya, Swanny, keduanya penyuka musik dan mengajari anak-anaknya bermusik. Pada usia 12 tahun, ia sudah tampil mengiringi teman-teman sekolahnya dengan gitar.
Tentang pilihannya mengaransemen lagu anak-anak, Jubing yang kini pengajar gitar itu berujar, "Saya sering melihat penonton musik klasik berwajah serius tanpa senyum. Saat saya mainkan lagu anak-anak di panggung, penonton langsung gembira dan bertepuk tangan, sebab mereka sudah mengenal lagu itu. Inilah tujuan saya bermain gitar, agar orang lain senang dan bisa ikut menikmati."
Dengan dana Rp 8 juta, awal tahun 2006 Jubing menyelesaikan master (rekaman induk) berisi 12 komposisi ciptaannya. Ia coba tawarkan kepada dua produser untuk diperbanyak. Hasilnya? "Keduanya memuji, tetapi keduanya menolak dengan alasan terlalu segmented," ucapnya.
Beruntung, seorang rekannya di Semarang mau memperbanyak master itu dalam bentuk CD. Tidak banyak, hanya 1.000 keping. Jubing dijanjikan baru bisa mendapat royalti jika penjualan cakram digitalnya sudah di atas 3.000 keping. Tetapi, dengan lahirnya CD ini pun ia mengaku senang, sebab inilah cita-citanya sejak dia mengenal gitar.
Setidaknya kini Jubing bisa menghibur orang tanpa harus tampil di panggung. Orang cukup mendengarkan orkestra gitar tunggalnya yang ramai. Kadang sulit dipercaya orkestra itu dia mainkan sendirian.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:16 PM
2
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Gitar, Jubing Kristianto, Kakang



















