Thursday, November 30, 2006

Novelet: Mystery of Love (1)





“Power of Love” atau “Mystery”

Saya tidak ingin mendebat mana yang paling tepat apakah “Power of Love” atau “Mystery of Love”. Rasanya dua-duanya benar untuk novelet (novel pendek) karya rekan Meytia Mutiara (Tia). Tetapi bagi saya, novelet yang konon menurut penulisnya merupakan cerita pertamanya itu, terlalu sempurna untuk dikritik. Kalimatnya mengalir cepat, apa adanya, dengan sedikit menggunakan bahasa Indonesia yang funky.

Setting tempat berubah-ubah, mulai kota besar di Amerika Serikat, Trafalgar di London Inggris, Itali, Belanda, Rusia, Spanyol, Thailand, Malaysia, Singapura, sampai Jakarta, berkelebatan terus. Saya seperti mengikuti sebuah pesawat terbang tunggal bernama “Aku”, yang dalam cerita bernama lengkap Prahara Samudra (Ara), kemanapun si “Aku” melayang pergi dan hinggap di suatu tempat. Yah, ke tempat-tempat yang dia singgahi itu.

Sahabat Tia juga sudah menjadi “kamera” yang baik, yang mengamati cukup detail kota-kota yang diceritakannya itu. Salut.

Bahasa boleh funky, yang penting pesannya dapat dimengerti, bukan? Ibarat mengunyah popcorn, bahasa yang digunakan Tia sangatlah renyah, rangu, kata orang Sunda, dan tentu saja tidak terasa cepat habis dilalap tanpa harus bersusah payah mengunyah, apalagi mengernyitkan dahi. Mungkin, sahabat Tia tidak ingin menyulitkan pembacanya dengan bahasa yang njelimet dan plot alias alur cerita yang ribet. Itulah yang membuat mengapa novelet ini begitu genuine, asli, dan hadir seperti gadis tanpa riasan tetapi tetap menawan.

Perkara isi cerita, itu terserah pembaca sajalah. Saya tidak mau berdebat soal etika si “Aku”, perempuan yang mencintai suami yang sudah beristri dan berputri dua. Juga tidak mau menghardik tokoh Nata, yang tidak tahu diri mencintia perempuan lain di saat dia sadar akan statusnya sendiri, yang tentu saja masuk kategori selingkuh. Ya, saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa soal yang satu ini. Sebab, bukankah cinta sukar dilogikakan? Sahabat pasti punya pendapat sendiri-sendiri tentang hal ini.

Tetapi yang jelas, saya ingin menghadirkan novelet Tia ini dalam blog saya secara berkala, seperti halnya cerita bersambung. Saya berani menampilkan novelet ini tentu saja atas izin dan bahkan permintaan penulisnya. Saya ingin, sahabat juga bisa menampilkan karya-karyanya di sini, apa saja; cerpen, puisi, artikel, karangan khas (feature) , catatan perjalanan, atau bahkan catatan harian! Ini dimaksudkan agar kita bisa saling berbagi pengalaman menulis, syukur-syukur dijadikan kampus (camp) virtual untuk belajar menulis.

Agar tidak berpanjang-panjang kata, sahabat bisa mengikuti cerita Tia mulai hari ini…

Pepih Nugraha
Jakarta, 30 November 2006


"Mystery of Love"

Oleh TIA



AKU bertemu pertama kali denganmu di Trafalgar Square, London. Saat itu musim dingin… Kau memakai mantel abu-abu gelapmu, berdiri terdiam menikmati rintik salju. Jarakku hanya 10 meter di samping kirimu dan pandanganku hanya terpaku ke kamu. Tiba-tiba matamu melihat ke arahku, dan kurasakan pipiku menghangat seketika.

Kamu memberikan senyummu, senyum termanis yang pernah kulihat dari seorang pria.
Aku ragu apakah senyummu untukku… Aku pun melihat ke arah samping dan belakangku, tapi yang ada hanya aku. Kamu tertawa kemudian, membuat pipimu yang kemerahan semakin tembem, tapi aku suka… suka sekali.
Aku pun memberikan senyumku untukmu, aku usahakan senyum itu indah di matamu.

“Hi…It’s really cold yeah?” Suaramu terdengar merdu saat itu…berat dan sangat tenang.
“Yes…I am lucky that my nose isnt bleeding”. Ugh... sepertinya suaraku terdengar grogi dan gemetar…
“Dari Indonesia ya Mbak?” Kamu mendekatiku, “Kok bisa tau aku dari Indonesia?” Aku bertanya heran.
“Dari logat dan penampilan fisikmu.”

Sekarang kamu berdiri tepat di depanku…Ah, semakin dekat semakin tampan mukamu, sedikit chubby sesuai tipeku. Umurmu sekitar 35 tahun, matamu teduh, bibirmu tipis, dan baru kusadari ada tahi lalat di ujung hidungmu. Aku pun tersenyum.

“Ada apa? Ada yang aneh dengan muka saya?”
Waks, malunya aku, ah kemana akal sehatku sehingga bisa bertingkah bodoh di depanmu.
“Saya dari Solo tapi lama di Singapura, kalau Mas?” suaraku sudah mulai kedengaran normal, tepatnya aku usahakan senormal mungkin
“Dari Jakarta, panggil saja saya Nata.” Kamu mengulurkan tanganmu untuk berjabat tangan.
“Ara.” Ah, walau kulit tangan kita berdua dibatasi oleh kaus tangan tebal, tapi genggaman tanganmu sangat erat.

Itulah sekelumit perkenalan kita, aku masih mengingatnya sampai sekarang, dan terus tersenyum di kala mengingatnya. Namun, aku sedikit kecewa waktu itu, ketika mendengar bahwa kamu sudah menikah dan memiliki 2 orang putri, karena sewaktu aku mencuri pandang ke arah jari manismu, tidak ada suatu simbol pun yang menyatakan engkau telah menikah. Namun, aku terkesan dengan kejujuranmu.

Tapi mungkin saja kamu jujur karena memang tidak ada minat denganku yah…

Sewaktu menikmati malam bermandikan cahaya lampu di Tivoli, Copenhagen, kembali aku melihat sosokmu. Dirimu sedang menikmati alunan musik biola dari pengamen jalanan. Kali ini kamu memakai jaket kulit biasa, karena udara di malam hari yang tidak begitu dingin. Aku sangat ingin menyapamu, tapi aku ragu kamu masih mengingatku. Aku pun berjalan cepat melewati belakang tubuhmu. Dan kudengar suara yang paling aku idam-idamkan di dunia ini memanggilku.

“Ara.”
Aku pun menengok ke belakang, dan mendapatkan senyummu.
Akhirnya malam itu di Tivoli kita bercakap banyak untuk pertama kalinya, di sebuah café. Kamu bercerita banyak tentang pekerjaanmu, anak-anakmu dan Indonesia yang kamu rindukan. Ternyata tebakanku tentang umurmu sangat tepat, yah baru Juli kemarin kamu berumur 35 tahun.

“Aku musafir Ara…pengembara yang sangat ingin pulang ke rumah, tetapi karena tuntutan pekerjaan, rasa kangen itu harus kutiup jauh-jauh dari hatiku.” Suaramu terdengar sedih ketika mengatakan itu.
Sesekali aku pancing kamu untuk cerita tentang istrimu ( padahal andai kamu tahu, aku sudah merasakan cemburu saat itu, tapi rasa itu kalah oleh rasa ingin tahuku yang sangat besar tentangmu ). Istrimu wanita yang sibuk, tapi dari ceritamu ia adalah istri yang baik untuk anak-anakmu. Kamu tidak bercerita banyak tentang istrimu. Dan aku pun tidak menanyakannya lagi.

Malam itu aku baru tahu kalau ternyata kamu humoris dan pintar. Wawasan kamu sangat luas, kamu bercerita tentang tempat-tempat di negara lain yang pernah kamu kunjungi.
“Suatu saat nanti kita berdua harus mengunjungi Malostransk√© Bridge di Prague,” katamu sambil menatapku.
“Loh kita? Kok kita sih mas?” hampir saja aku tersedak dengan hot tea yang aku pesan.
“Hehehe, entahlah Ara…tiba-tiba saja aku ingin bersamamu ke sana.” Aku melihat semburat merah di pipimu ketika kamu menyatakan itu.

Aku pun tersenyum mendengarnya, ah andai kamu tau perasaanku. (Bersambung)

Wednesday, November 29, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (16)



Santri Yang Bergairah (1)

Kamis, 23 November 2006, saya diminta hadir oleh Mbak Agnes Aristiarini, Manajer Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kompas di Pelatihan Jurnalistik Santri Tingkat Nasional. Acara berlangsung di Gedung Diklat Pemda DKI Jakarta di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, dan berlangsung sepekan, mulai Senin (20/11) hingga Sabtu (25/11).

Tentu saja bukan sekali ini saya terlibat dalam pelatihan menulis atau pelatihan jurnalistik bagi pelajar maupun SMA, mulai SMA Santa Ursula Jakarta sampai mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Demikian juga saat saya bertugas di Makassar dan Surabaya, kerap saya diminta menjadi tutor penulisan tingkat SMA maupun universitas.

Di daerah saya harus otonom menentukan sendiri apakah saya datang atau tidak pada suatu pelatihan, tetapi di Jakarta saya berkoordinasi dengan Diklat sehingga apa yang saya lakukan masih dalam “koridor”. Terakhir, permintaan sering datang resmi dari Diklat dengan tembusan ke Redaktur Pelaksana dan Kepala Desk Investigasi dimana saya berada sebagai wakilnya. Pendeknya, saya mengajar atas nama lembaga, Kompas.

Berat memang membawa nama lembaga yang harus terikat etika profesi. Akan tetapi saat berada di ruang pelatihan dengan suasana yang mengasyikkan, saya bisa bebas bicara apa saja mengenai topik yang diminta, tetapi saya akan “berdiplomasi” –untuk tidak mengatakan bungkam- jika peserta pelatihan meminta saya menceritakan “dapur” Kompas. Saya harus menghormati lembaga dimana saya bekerja. Segala rahasia yang ada di dalamnya, pantang saya ungkapkan, kecuali alur kerja sebuah media yang bersifat umum dan berlaku dimana-mana.

Kembali ke soal pelatihan tadi. Saya merasa surprise juga tatkala harus memberi pelatihan jurnalistik di lingkungan santri yang kemudian saya tahu berasal dari 22 daerah di seluruh tanahair. Sebelumnya panitia, Sdr. Mahrus dan Addin, datang ke kantor untuk memastikan kesediaan saya. Saya katakan, karena ini tugas dari lembaga, saya pasti hadir karena kehidupan wartawan selalu terikat dengan komitmen. Lebih surprise lagi ketika saya menghadapi kenyataan: pelatihan berlangsung hidup!

Para santri datang dari berbagai pesantren yang berbeda, didikan berbeda, dan “ideologi” berbeda. Mulai pesantren beraliran halus, tengah, sampai beraliran keras. Saya tidak harus memerinci satu persatu, tetapi di mata saya menghadapi kurang lebih 100 santri ini; mereka adalah anak-anak negeri ini, saudara-saudara saya dimana nasib negeri ini juga sebagian berada di pundak mereka.

Hem, terlalu tinggi melangit ya saya berbicara… Oke deh, kembali menukik ke bumi.

Saya diberi panitia satu kisi-kisi bahwa saya harus menjelaskan mengenai penulisan feature, kolom, dan analisa. Tekanannya pada penulisan feature. Pada awal pembicaraan saya katakan bahwa feature merupakan kelanjutan dari penulisan berita langsung (straight news). Seorang jurnalis pasti harus mahir dulu menulis berita langsung dari lapangan daripada feature yang harus mengungkapkan sisi-sisi humanis seorang sumber.

Seorang editor tidak akan memaksa wartawan barunya (cub reporter) untuk menulis feature sebelum mahir benar menulis berita langsung. Namanya juga feature yang biasa disebut karangan khas, tentu berita yang disampaikannya pun harus unik, menarik, luar biasa, dan hanya orang itulah yang dapat melakukannya. Toh saya tetap memberi batasan lain, bahwa menulis feature dimulai dengan pengamatan!

Kemudian ada pertanyaan peserta, apakah menulis feature itu sama dengan menulis cerpen karena karakteristikya yang bebas menggunakan bahasa lebih lentur. Saya jawab, feature bukanlah cerita pendek yang fiktif, tanpa harus ada peristiwa. Feature adalah peristiwa nyata, bukan fiktif. Ia hadir justru karena pengamatan yang intensif, pendekatan kepada sumber dengan metoda partisipatif, dan lebih banyak menggambarkan daripada mengutip omongan orang (talking news).

Kalau mau menulis mengenai kehidupan buruh pabrik di pinggiran Tangerang, misalnya, jurnalis yang baik akan hadir dan melihat kehidupan senyatanya (living reality), bagaimana rumah atau tempat ngontraknya, bagaimana keadaan kamarnya, bagaimana setiap hari dia pulang pergi rumah-pabrik, bagaimana dia mengatur makan dan pengeluaran sehari-hari dari gajinya yang pas-pasan. Lantas tunjukkan, bukan katakan (show it, not tell it). Saya sudah menjelaskan tentang ini sebelumnya.

Saya katakan, menulis feature tidak melulu harus tentang manusia. Bila perlu tentang hewan maupun benda mati, tidak ada salahnya. Mungkin sahabat sering menemukan majalah motor dan mobil atau majalah khusus tentang hewan peliharaan. Nah, mereka itu bukan manusia, kan” Toh orang bisa menuliskannya. Jadi, betapa lentur dan luasnya cakupan kita menulis feature.

Seorang peserta perempuan dari Makassar, Nur, bertanya, ia mengaku tidak menemukan sisi menarik dari empat orang pedagang kaki lima yang ia wawancara kemarin di lapangan. “Bagaimana saya bisa menulis feature kalau saya tidak menemukan sisi yang menarik?” tanyanya.

Pertanyaan yang jujur. Saya siap menjawabnya dan kembali melempar tanya, “Apa yang dijual oleh keempat pedagang kaki lima itu?” Jawab Nur, “Tiga orang jualan makanan dan minuman, satu orang jualan kursi roda bekas.”

Kena, pikir saya. Saya melanjutkan tanya, “Dari sisi kemenarikan, mana yang paling menarik menulis tiga pedagang kaki lima yang berjualan makanan dan minuman yang sama, atau pedagang kaki lima yang menjual kursi roda bekas?” Kini yang menjawab hampir seluruh kelas, “Pedagang kakilima kursi roda bekas!”

“Bukankah itu hal yang menarik? Mengapa ia berdagang kursi roda bekas? Darimana ia punya gagasan itu?” saya menumpahkan tanya. “Apakah kursi roda bekas adalah satu-satunya barang yang ia dagangkan?” tanya saya kepada Nur. Nur menjawab, “Tidak. Dia juga berdagang tongkat untuk orang cacat. Alasan ia berjualan kursi roda, karena di Jakarta banyak kecelakaan. Kebetulan yang kecelakaan itu orang tidak berpunya sehingga ia terpaksa membeli kursi roda bekas dengan harga miring di kakilima.”

Saya katakan kepada Nur, “Kamu tadi sudah menyusun feature-mu sendiri!” Ia terbelalak tak percaya, tetapi itulah kenyataannya. Saya segera memakluminya kalau peserta pelatihan kurang bisa menangkap hal penting dan menarik dari sebuah peristiwa. Toh mereka sedang belajar, bukan? Bukankah saya hadir di sana untuk memberi pemahaman?

Sampai di sini, saya baru saja sekilas bercerita tentang penulisan feature atau karangan khas. Rasanya sebelum saya beranjak ke penulisan artikel, kolom atau analisa, saya harus bercerita barang satu hal lagi tentang feature, tentang keharusan “menjadi diri sendiri” dalam menulis karangan khas. Kelak ditampilkan pula salah satu feature yang saya buat. Juga masih mengenai kegairahan santri dalam mengikuti pelatihan penulisan. Tetapi tidak sekarang tentunya, lain waktu…


Pepih Nugraha
Jakarta, 29 November 2006

Tuesday, November 28, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (5)



Perjuangan Dimulai

SEBELUM terminal bus antarkota dipindahkan ke Kampung Rambutan di timur Jakarta, dulu terminal bus antarkota berada di Cililitan. Bahkan dengan menyebut “Cililitan” saja, orang tahu maksudnya ke terminal bus itu. Namun sejak awal tahun 1990-an, saat Gubernur DKI Jakarta dijabat Surjadi Soedirja, terminal bus antarkota Cililitan dipindahkan ke Kampung Rambutan. Alasannya, tentu saja Terminal Cililitan sudah sangat crowded.

Nah, sekitar pukul 03.00 dinihari itulah saya tiba di Terminal Cililitan. Memang masih terlalu pagi. Tetapi saya manfaatkan untuk mandi di tempat sewa mandi, sekalian wudlu untuk persiapan shalat subuh.

Saya sering membaca bahwa terminal bus manapun rawan kejahatan, apalagi Terminal Bus Cililitan yang merupakan terminal transit bagi mereka yang akan meneruskan perjalanan ke jantung kota Jakarta. Sering saya dengar para bandit berkeliaran mencari mangsa, khususnya perempuan desa yang tidak tahu kemana harus melangkah setelah sampai di Terminal Bus Cililitan. Kerap perkosaan dengan kekerasan atau pemberian obat bius secara paksa terjadi di sini akibat lugunya para gadis desa.

Saya segera melupakan cerita-cerita seram yang saya baca di koran-koran. Toh saya bersyukur tidak ada kejadian mengerikan menimpa saya. Saya percaya diri saja. Jarak Bandung-Jakarta tidaklah terlalu jauh, tetapi memang saya jarang berkunjung ke ibukota ini. Akan tetapi bekal hidup di perkampungan kumuh Tambora, Jakarta Barat, saat masa kecil saya menjelang TK cukup memberi bekal, saya tidak perlu takut Jakarta.

Saya menumpang bus kota “46” ke arah Grogol dan harus berhenti di perempatan Slipi. Setelah itu mencari Mikrolet 09 jurusan Tanahabang-Kebayoran Lama untuk berhenti di Palmerah Selatan, tepatnya depan Pasar Pamlerah. Dari situ saya tinggal jalan kaki ke belakang pasar. Di sanalah kantor Harian Kompas berdiri.

Tes pertama berlangsung sangat menegangkan. Setidak-tidaknya itu yang saya rasakan, padahal tes bersifat umum, yakni psikotes. Artinya, calon wartawan pun saat itu besar kemungkinan disatukan dengan calon pustakawan. Yang membuat saya terkejut, ternyata ada beberapa teman satu kuliah yang mengadu nasib ikut tes. Saya tahu mereka juga belum punya ijazah seperti saya. Kami saling tersenyum dan tentulah masing-masing bergumam, “Aksi diam-diam itu akhirnya ketahuan juga!”

Tes berlangsung selama kurang lebih lima jam. Sangat menguras energi dan pikiran. Anehnya saya enjoy saja mengerjakannya, tanpa sedikit pun nervous. Padahal sebelum tes dimulai, kegugupan dan rasa tidak percaya diri sempat datang menyergap. “Toh saya ‘kan masih kuliah,” hibur saya dalam hati. Sebelum psikotes berakhir, para penguji yang di kemudian hari saya tahu dari bagian SDM (Sumber Daya Manusia), tidak lupa mengingatkan bahwa hasil tes akan diumumkan sebulan kemudian.

Sebulan kemudian, saya dinyatakan lulus psikotes dan harus kembali datang ke Jakarta untuk tes ilmu pengetahuan umum dan bahasa. Karena memakan waktu dua hari tes, saya terpaksa minta ditemani ayah karena tidak terpikir dimana saya harus menginap. Karena ayah saat itu menjadi Ketua PGRI Ranting Pagerageung, maka tujuannya adalah Wisma PGRI di jalan Tanah Abang III yang gedungnya nyaris berhadap-hadapan dengan pabrik pemikiran Orde Baru, CSIS. Di Wisma PGRI itulah saya menginap.

Dua minggu berikutnya, saya dinyatakan lulus dan kembali harus ke Jakarta untuk tes kecakapan khusus, menyangkut kemampuan dan bidang masing-masing. Saya kembali ke Wisma PGRI dengan membawa surat rekomendasi ayah sebagai Ketua PGRI. Ayah waktu itu tidak lagi bisa menemani. Lagi pula, masak saya harus diantar terus. Berbekal surat rekomendasi itu, saya menuju Wisma PGRI. Tatkala saya datang sendiri menjelang petang hari, wisma sudah penuh sesak. Tidak ada kamar tersisa!

“Sudah penuh semua, Dik, seluruh kamar sudah terisi rombongan guru-guru peserta konferensi,” kata resepsionis pria saat saya menyerahkan surat rekomendasi itu.

Saya bingung tujuh keliling. Dimana saya harus menginap? Di tempat saudara? Memang ada beberapa saudara saya di Jakarta, tetapi dimana mereka tinggal? Saya tidak membawa satu nomor telepon pun. Malangnya lagi, saya tidak mungkin menghubungi kedua orangtua saya di Ciawi, sebab rumah di sana pun belum terpasang telepon!

Saya terpaku dengan tas yang masih tersandang di pundak, menatap resepsionis itu tanpa kata-kata. Memang sempat terpikir untuk kembali ke Terminal Bus Cililitan, setidak-tidaknya saya bisa pura-pura membaca semalam suntuk di mushola yang ada di terminal itu, sambil sekalian ikut mandi. Karena tidak mungkin memaksa si resepsionis, saya permisi membalikkan tubuh untuk pergi.

“Dik, tunggu sebentar!” itu suara resepsionis.
Saya berhenti dan segera menoleh. Tampak resepsionis itu melambaikan tangan, menyuruh saya kembali mendekat. “Mau kemana?” tanyanya setelah saya mendekat.
“Ke Terminal Bus Cililitan,” jawab saya.
“Pulang lagi ke kampung?
“Tidak, numpang tidur di mushola.”

Entah apa yang dipikirkan si resepsionis. Saya juga tidak terlalu berharap saat itu. Tetapi cukup mengejutkan kalau petugas wisma bagian depan itu menawarkan sesuatu. “Adik mau tidur di aula?”tanyanya.

Aula? Pastilah itu ruangan sangat besar, tidak pantas untuk ditolak. Apa salahnya! “Mau,” saya yakinkan bahwa saya akan membayar penuh sesuai ongkos kamar, meski saya harus menginap di gudang sekalipun, asalkan jangan di toilet saja.

Legalah hati saya tatkala resepsionis itu membimbing saya ke sebuah lorong yang menuju ruangan besar yang disebut aula. Tidak ada bangku atau meja, apalagi tempat tidur, kosong melompong. Si resepsionis menyalakan salah satu lampu di aula itu dan meminta saya menunggu. Beberapa menit kemudian ia mendorong velbed beroda yang biasa saya lihat di rumah-rumah sakit. Ia menyiapkan velbed itu lengkap dengan kasur dan spreinya.

“Adik tidur di sini saja, ya!” katanya.
Saya mengangguk sambil menjabat erat tangannya, “Terima kasih!” (Bersambung)
**

Pepih Nugraha
Jakarta, 28 November 2006

Monday, November 27, 2006

Catatan (12): Lupa Kok Serentak!


Mulai Menua?

Getting older alias mulai menua. Itu yang terlintas di benak ketika hari ini aku lupa akan dua hal yang sangat krusial, paling tidak, penting untuk keperluan hidup di kota besar Jakarta, khususnya dalam pekerjaan. Anehnya, ketika aku teringat telah lupa dua hal itu, aku langsung mengerjakannya.

Pertama, aku tersadar bahwa STNK sudah habis sejak 16 September 2006 lalu dan baru tersadar ketika aku lupa hal kedua, bahwa paspor akan segera berakhir Desember mendatang. Bayangkan kalau aku kena tilang polisi dan menunjukkan STNK yang sudah habis masa berlakunya. Wah, pasti malu, meski sebagai jurnalis aku selalu lolos dari jerat tilang dengan satu kalimat jitu, minta maaf!

Hal kedua soal paspor, itupun baru tersadar kalau kantor menanyakan apakah pasporku masih berlaku atau tidak. Aku tahu, ini pertanda aku akan diberi tugas liputan ke luar negeri dalam waktu dekat, bahkan mungkin pekan depan. Kukatakan masih berlaku, sebab pasporku habis Desember 2006 nanti. Celakanya aku lupa, bahwa enam bulan sebelum paspor habis kedutaan manapun tidak akan mengeluarkan visa!

Urusan paspor, aku langsung ke Kantor Imigrasi Jakarta Selatan dengan minta bantuan Ali Murtadho, petugas khusus kantor yang mengurusi paspor karyawan Kompas. Sedang untuk STNK, aku meminta bantuan Kang Aan, juga petugas khusus yang menangani STNK.

Terus terang, belum pernah aku lupa dua hal yang sangat penting dalam menjalani kehidupan di Jakarta ini. Lantas kuperiksa KTP, SIM dan kartu keluarga. Alhamdulillah tiga-tiganya masih berlaku. KTP, SIM dan kartu keluarga masih berlaku sampai Desember 2009. Masih tiga tahun lagi.

Aku pernah bertugas ke Bosnia dan Kroasia selama kurang lebih sebulan. Di sana aku mendengar langsung rakyat Bosnia betapa serdadu Serbia selain memperkosa perempuan Bosnia agar anak-anak yang dilahirkan kelak tidak lagi jelas etnisnya, juga menghancurkan seluruh identitas penting setiap warga. Sedemikian dahsyatnya penghancuran itu sehingga seseorang mau membuktikan namanya "Sulayman"-pun, sulitnya minta ampun ketika orang-orang yang dikenalnya sudah mati terbunuh.

Bagaimana diriku bisa memperkenalkan nama "Pepih Nugraha", misalnya, kalau seluruh identitasku dihancurkan tanpa ampun; mulai KTP, STNK, SIM, kartu keluarga, ijazah, surat hak milik tanah, surat hak guna pakai bangunan, sertifikat (akte) kelahiran, paspor, dan lain-lain keterangan dihancurkan secara sistematis? Bagaimana aku akan mengaku anakku sendiri ketika kartu keluarga dihancurkan? Itulah yang terjadi pada "Sulayman" dan kawan-kawan muslim Bosnia dan Kroasia lainnya saat dirinya sudah tidak punya keterangan apa-apa. Setiap individu menjadi asing satu sama lain, bahkan asing dengan dirinya sendiri!

Ingin kukatakan, betapa pentingnya selembar keterangan. Indonesia, dan negeri manapun di dunia ini, banyak menyandarkan data-data penduduknya pada sebuah catatan sipil yang bisa berbentuk selembar kertas belaka. Di Jakarta, sering terjadi operasi yustisi untuk menangkap warga yang tidak ber-KTP Jakarta. Kalau ketahuan, mereka dipaksa dipulangkan ke daerah asal. Betapa penting selembar KTP DKI itu, bukan?

Bagi mereka yang tidak punya ijazah S1 atau S2, jangan harap bisa diterima menjadi PNS atau pegawai swasta sehebat apapun orang itu. Tidak heran, di kota-kota besar, deposit box di bank-bank menjadi langganan warga "melek keterangan" untuk menyimpan lembaran-lembaran berharganya itu. Bukan hanya uang dan logam mulia yang disimpan, tetapi surat-surat juga. Jadi, jangan abaikan secarik lembaran kertas sakti itu!

Kembali ke soal lupa tadi. Di kaca toilet kantor, aku bercermin dan memandang uban yang sudah menjelajah kepala kemana-mana. Wajah sudah tampak menua dan lelah, meski sisa-sisa kejayaan masa lalu masih samar terpahat. Tidak ada seorangpun yang mampu melawan kuasa waktu. Lupa untuk hal-hal besar dan penting adalah indikasinya. Bahwa, usia 42 memang tidak bisa main-main lagi.

Memang orang bilang life begins at forty, artinya aku baru "dua" tahun menikmati hidup. Tetapi sayangnya senandung Beatles dengan lagu "When I'm Sixty Four" terlampau kuat membahana di rongga kepala, terngiang-ngiang di telinga. When I get older losing my hair, many years from now... You may older too...

Pepih Nugraha
Jakarta, 27 November 2006

Wednesday, November 22, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (4)


BAB 2
Berangkat Tes

ORANG sering mengingatkan anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi: “Selesaikan dulu kuliahmu, jangan dulu kerja mencari uang! Uang yang kamu dapatkan dari pekerjaan biasanya akan membutakanmu dari ilmu-ilmu yang kamu tuntut di bangku kuliah. Bersabarlah sedikit sebelum benar-benar mendapat ijazah perguruan tinggimu!”

Belakangan saya paham tentang satu pepatah Latin yang mengatakan, “Pecuniam caeca est”. Artinya kurang lebih “uang itu buta”. Saya tahu maksud orang tua dulu, kalau kita sudah pegang uang atau bermain-main dengan uang, kita bisa lupa segala-galanya, termasuk lupa menyelesaikan kuliah itu tadi. Kuliah justru yang seharusnya diprioritaskan, sebab selepas itu uang segera didapat.

Terus terang, saya harus mengabaikan nasihat para orangtua yang bijak itu. Tidak tanpa dasar, para orangtua berkata demikian karena bermuasal dari pengalaman hidup yang mereka alami. Betapa uang dari hasil pekerjaan sering melenakan mahasiswa karena tanpa ijazah pun pekerjaan sudah didapat. Pendeknya, mengapa harus susah-susah menyelesaikan kuliah? Mengapa pula harus susah-susah mendapatkan ijazah kalau uang bisa didapat dengan mudah?

Kondisi ini akan jauh berbeda dengan para mahasiswa yang “nyambi” sana-sini untuk membiayai sendiri kuliahnya. Di Bandung, selama saya kuliah, tidak sedikit teman saya yang menjadi sopir atau kernet angkot yang biasa ngalong pada malam hari. Teman di jurusan ilmu-ilmu eksak kerap memberi les privat pada anak-anak berorangtua mampu. Ada pula sebagian teman mahasiswi jurusan bahasa asing yang menjadi pemandu amatir untuk tamu-tamu bule.

Saya sendiri sudah terbiasa menulis cerita pendek atau artikel di sejumlah media massa jauh-jauh hari sebelum kuliah, sejak saya duduk di bangku SMP. Saya tidak sendirian, beberapa artikel teman kuliah saya bahkan sudah mampu menembus halaman empat Kompas, halaman opini yang bergengsi. Salah satu teman kuliah yang pernah beberapa kali tulisannya di muat halaman opini Kompas adalah Yudi Latif, yang kini sudah bergelar Doktor dan menjabat Deputi Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Dari sejak kuliah saya angkat topi untuk teman yang satu ini.

Tetapi bagi mahasiswa yang oleh orangtuanya menjadi tumpuan harapan agar segera menyelesaikan kuliahnya, agar ijazahnya kelak bisa digunakan melamar sebagai pegawai negeri sipil, ceritanya akan lain. Dianggap sebagai kegagalan awal tatkala mahasiswa tingkat akhir tergiur pekerjaan, lalu melupakan tugas skripsi untuk mengejar pekerjaan.

“Bagaimana jika kamu diterima bekerja, Nak?” ayah bertanya saat saya pamit untuk tes di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saat saya balik pamitan ke Ciawi.
“Saya akan sujud syukur, sebab itu cita-cita saya.”
“Kuliahmu?” sela ibu. Saya kemudian meyakinkan ibu, segera saya selesaikan kuliah, merampungkan skripsi yang tinggal bab-bab akhir, lalu mendapat ijazah. “Jadi kamu tidak mau jadi dosen?” tanya ibu lagi.

Dosen? Ini memang obsesi orangtua sejak saya masuk kuliah di tahun-tahun pertama. Simpel saja dan tidak ada yang harus disalahkan. Kedua orangtua saya guru sekolah dasar. Mereka selalu mengambil contoh, dengan menjadi guru sekolah dasar saja mampu menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi dari gaji mereka. Apalagi kalau menjadi dosen sebuah perguruan tinggi yang strata muupun “status sosialnya” jauh lebih tinggi dari “sekadar” guru SD.

Tentu saja saya meyakinkan ibu, juga ayah saya, bahwa orang bekerja itu tidak harus menjadi dosen atau guru. Saya bilang bahwa saya kurang sabar, kurang bisa, dan kurang berbakat mengajar. Dalam hati saya sudah berbohong, sebab kenyataannya saya suka mengajar, suka berbagi ilmu, meski cara menyampaikannya kurang sempurna.

Bakat saya terbesar adalah menulis. Tidak lupa saya jelaskan, toh saya biasa mendapat uang dari hasil menulis sepanjang saya kuliah. Nyatanya itu tidak pernah mengganggu kuliah. Orangtua kehabisan argumen.

“Yah, Ibu hanya bisa mendoakanmu, Nak, semoga kamu berhasil. Hati-hati di jalan!” pesannya sebelum saya naik Bus “Bahagia” jurusan Banjar-Jakarta pada malam hari, di tepi Jalan Tanjakan Cangkudu yang dingin dan sepi. (Bersambung)

Monday, November 20, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (15)



Sekecil Apapun, Pasti Bermanfaat

Akhir Oktober 2006 lalu, beberapa hari setetelah lebaran , saya bertemu beberapa orang geolog di Museum Geologi, Bandung. Satu di antaranya adalah Bunyamin. Pertemuan dengannya tidak sengaja, setelah diperkenalkan oleh tuan rumah. Barulah kemudian saya tahu, dia adalah salah satu pecatur Bandung bergelar Master Nasional tetapi sudah tidak aktif lagi bermain catur.

“Sekarang saya hanya mengajar dan melatih catur kepada anak-anak di sela-sela kesibukan saya bekerja,” kata Bunbun, demikian ia biasa dipanggil, saat bicara kegiatan caturnya.

Berbicara catur dengannya serba nyambung, maklum tingkatannya sudah master nasional, meski sudah tidak aktif bertanding lagi. Saya pribadi selalu menyimpan kekaguman dengan para pecatur yang memiliki pikiran canggih itu. Membandingkan dengan diri sendiri, pastilah Master Percasi pun saya tidak sampai. Hanya karena suka baca dan menulis saja saya mengakrabi catur.

Satu hal yang membuat saya terpana adalah penjelasannya di sela-sela ngobrol bertemankan teh hangat. Katanya, “Saya selalu mengkliping tulisan catur Kang Pepih di Kompas.”

Ah yang benar saja, pasti Kang Bunbun ngabojeg (humor). “Setelah saya kliping dengan rapi, saya tempelkan di kelas catur saya biar anak-anak membacanya juga, siapa tahu menjadi inspirasi bagi mereka,” katanya lagi. Alangkah terharu saya mendengarnya!

Saya tidak menyangka sedikitpun bahwa tulisan catur yang entah sudah berapa ratus saya bikin itu ternyata bisa sangat bermanfaat buat sebagian pembaca, tepatnya buat pembaca yang khusus, seperti komunitas catur itu. Soalnya saya pernah “diingatkan” oleh seorang rekan wartawan untuk segera beralih ke menulis hal lain selain catur. “Tulisan catur itu tidak ada yang baca, tidak bergengsi lagi,” pesannya.

Saya tahu dia memang wartawan hebat yang selau menulis analisis ekonomi atau bahkan ekonomi internasional. Apa yang dia katakan bahwa saya harus menulis hal lain selain catur, ada benarnya. Mungkin agar pikiran saya lebih terbuka. Tetapi, bukansaya saya sudah menulis berbagai hal lain itu?

Saya kira kritikan itu konstruktif. Tetapi saya bertekad tetap tidak meninggalkan kegemaran saya, menulis tentang catur. Apa saja, apakah itu analisis, suatu turnamen atau dwitarung antarmanusia atau manusia lawan komputer, sampai ke biografi para pecatur ternama tingkat nasional maupun internasional.

Belum lagi saya selesai mencerna pikiran saya yang mengembara kemana-mana, Bunbun melanjutkan, “Terakhir saya kliping dan tempelkan artikel Akang tentang Parimarjan Negi, pecatur India yang sedang menanjak.”

Segera saya teringat tentang biografi Parimarjan Negi yang saya tulis di Kompas, 27 September 2006 halaman 16.

Barangkali yang ingin saya katakan di sini, saya tidak semata-mata menulis tentang Parimarjan, tetapi bagaimana menghadirkan tulisan itu. Selain menggunakan bahan-bahan sumber kedua dari buku maupun penelusuran internet, mempelajari gaya permainannya, juga saya ingin mendapatkan informasi langsung dari yang berangkutan.

Saya menemukan alamat Parimarjan Negi di situs resmi FIDE. Informasi di situs itu juga mencantumkan nomor telepon rumah orangtua Parimarjan di New Delhi. Saya minta bantuan operator Kompas karana ini masalah profesionalisme, masalah kerjaan. Tidak berapa lama telepon bersambung. Tetapi yang mengangkat seorang perempuan dalam bahasa Hindi. Wah, mana mengerti saya bahasa itu kecuali beberapa kata seperti “Nehi” (tidak), “Tum haare” (kamu adalah), atau “Acah” (jangan).

Karena ponsel ayah Parimarjan tidak aktif, maka saya mengirim imel kepadanya agar bisa mendapat akses berbicara langsung, setidak-tidaknya, berkirim daftar pertanyaan untuk dijawab di imel. Di luar dugaan, ayah Parimarjan sangat responsif. Dia memberi alamat anaknya itu. Mulailah saya menyusun daftar pertanyaan yang saya perlukan untuk menulis tentangnya dan mengirimkannya segera kepada Parimarjan Negi. Tentu saja dalam bahasa yang sedikit saya kuasai, Inggris. Tidak berapa lama kemudian, saya mendapat jawaban langsung Parimarjan Negi.

Sekarang saya boleh berbangga diri, saya bisa mengutip pernyataannya langsung dari mulutnya sendiri, tidak lagi dari sumber kedua atau ketiga. Terima kasih teknologi!

Sahabat dapat mengikuti tulisan saya di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/27/Sosok/2967237.htm7/Sosok/2967237.htm , atau langsung membacanya di bawah ini…



Parimarjan Negi, Ikon Baru India
PEPIH NUGRAHA

Menelepon langsung ke rumah orangtuanya di New Delhi, jawaban yang diberikan dalam bahasa Hindi. Mencoba mengontak melalui nomor telepon ayahnya, tidak berbalas. Jawaban baru diberikan saat kami berkirim pesan melalui surat elektronik dua minggu lalu.

"Oke, saya segera sampaikan keinginan Anda kepada anak saya untuk wawancara. Kirim pertanyaan dan tunggu jawabannya segera!" kata JB Singh, ayah bintang baru yang sedang bersinar cemerlang, Parimarjan Negi. Siapakah Parimarjan Negi?

Dia adalah grand master (GM) catur termuda dunia dan juga termuda sepanjang sejarah catur India, memecahkan rekor pendahulunya di India: Viswana- than Anand dan Pendyala Harikrishna. Di tingkat dunia, Negi memecahkan rekor yang dipegang anak jenius Norwegia, Magnus Carlsen.

Jika Carlsen menjadi GM pada usia 13 tahun 147 hari, rekor ini dipecahkan Negi dengan selisih lima hari, yakni 13 tahun 142 hari. Pemecah rekor GM termuda sepanjang sejarah memang masih dipegang Sergey Karjakin, yang meraihnya pada usia 12 tahun 7 bulan. Akan tetapi, kini "anak ajaib" Ukraina itu sudah berusia 16,5 tahun.

Hebatnya lagi, norma GM pertama sampai ketiga dia raih dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari tahun ini sampai 1 Juli lalu saat ia dikukuhkan sebagai GM penuh. Tidak ada satu pecatur elite pun yang menandingi pencapaian rekor tercepat ini sebelumnya, bahkan mantan juara dunia Garry Kasparov sekalipun.

"Anaknya benar-benar mengasyikkan," kata Anand, peringkat dua dunia mengomentari permainan Negi yang penuh perhitungan mendalam. "Untuk remaja seusianya, ia sangat mengesankan. Sangat berbakat," ujar Anand, seperti ditulis Rakesh Rao dalam koran internet tssonnet.com.

Berbicara prestasi siswa kelas delapan New Delhi’s Amity International School itu mau tidak mau harus menyebut prestasi pecatur pendahulunya seperti Anand, Harikrishna, dan Koneru Humpy.

Negi memegang norma GM pertama yang diraih di Turnamen Hastings, Januari 2006, saat berusia 12 tahun 330 hari, menghapus rekor lama yang dipegang pecatur perempuan terkuat India, Humpy, saat berusia 14 tahun 84 hari.

Negi menyamai rekor Anand dalam pencapaian dua kali norma GM berturut-turut dalam bulan yang sama. Negi melakukannya saat meraih norma GM pertama dan keduanya Januari 2006, Anand meraih norma GM kedua dan ketiganya Desember 1987.

Di negaranya, Negi memecahkan rekor Harikrishna yang menjadi GM termuda India pada usia 15 tahun 99 hari, Agustus 2001. Padahal, Harikrishna adalah pemecah rekor GM catur termuda India atas nama Anand yang meraihnya pada usia 18 tahun, tahun 1987.
Dipersiapkan

Lahir 9 Februari 1993 dari pasangan JB Singh dan Paridhi, Negi adalah pecatur yang dipersiapkan. Ia digembleng oleh pelatih bekas negara Uni Soviet, seperti Elizbar Ubilava, Alexander Goloshchapov, Evgeny Vladimirov, dan Ruslan Sherbakov. Sebelumnya, ia digembleng pelatih India, GB Joshi dan Vishal Sareen. "Saya juga pernah bekerja sama dengan Nigel Short," tutur Negi menyebut nama pecatur Inggris.

Negi yang gemar membaca, ke mana-mana membawa laptop berisi tiga juta partai dari para pecatur legendaris dunia. Ia siap menganalisis ratusan posisi setiap saat, termasuk berselancar di internet mengikuti partai-partai baru berbagai turnamen. Bank data caturnya membuat jurang antara pecatur kawakan dengan pecatur muda semakin menyempit.

Beruntung Negi mendapat kelonggaran dari sekolahnya untuk mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan mendatangkan guru privat dan meminjam catatan pelajaran dari teman. Semua biaya mengikuti turnamen ditanggung sponsor, perusahaan raksasa Tata, dan Air India. Juga sokongan dari kepala bursa efek India, Damodaran, yang gila catur.

Kejeniusan Negi ditemukan pelatih pertamanya, JB Joshi. Namun, Joshi "menyerah" karena ilmu anak didiknya terlalu maju dan menyerahkan kepelatihan kepada Vladimirov, pelatih bertangan dingin.

"Parimarjan memiliki seluruh persyaratan menjadi pecatur top dunia: bakat besar, kemampuan bekerja yang baik, dan minat sangat besar. Sering orangtuanya memanggilnya agar berhenti dulu berlatih untuk makan malam, tetapi Parimarjan selalu menjawab, ’Satu posisi lagi, please’," kenang pelatih lainnya, Sherbakov.

Fanatik masakan ibu

Uniknya, kedua orangtuanya tidak bisa bermain catur. Saat Negi berusia 4,5 tahun, teman ayahnya, Dr Vinayak Rao, memperkenalkan permainan adu pikir ini. "Sejujurnya saya tidak menyukai permainan apa pun," kata sang ayah, JB Singh.

Saat mengikuti Negi bertanding di Jerman, sang Ibu, Paridhi, mengungkapkan kepada wartawan setempat bahwa Dr Rao menghadiahi anaknya papan catur.
Selain berlatih fisik, pengagum Kasparov dan Anand ini berlatih yoga dan lari, serta berlatih catur selama empat jam sampai enam jam setiap hari. Ia fanatik pada masakan ibunya, khususnya ayam dan nasi tanak.


Dalam surat elektroniknya, Negi mengaku sangat suka membaca. Ia membaca seluruh novel Harry Potter karangan JK Rowling, Lord of the Rings karangan JRR Tolkien, bahkan Da Vinci Code karangan Dan Brown. Menjawab pertanyaan tentang pencapaian prestasinya, Negi mengaku puas. "Namun saya paham, jalan panjang masih membentang di depan," ungkapnya.

Jalan panjang itu tidak lain adalah jalan menuju juara dunia.

Pepih Nugraha
Jakarta, 20 Novermber 2006

Friday, November 17, 2006

Karya Sahabat (6)


Tema dan Stigma

TEMA dalam khasanah ilmu menulis, sering kita dengar dan orang sudah banyak mafhum artinya. Tetapi stigma masuk ke horizon ilmu menulis? Belum tentu! Bahkan mungkin tidak pernah ada. Memang, ini hanya pengandaian saya saja kok.

Saya kurang cakap mendefinisikan sesuatu, apalagi disuruh menghafal. Sebab bagi saya, definisi tidaklah penting-penting amat. Dalam benak saya, kalau saya mau bikin kamar mandi, misalnya, ya bikin aja, tidak perlu mendefinisikan apa itu “kamar mandi”. Itu kasarnya. Artinya kalau kita mau bikin cerpen, ya bikin saja tanpa harus tahu definisi cerpen. Begitu, kan?

Intinya begini. Sahabat bisa buat cerita pendek, novel, atau bahkan puisi, dengan tema tertentu. Misalnya "kejujuran dibalas dusta", "makna pahlawan di era digital ini", "kebaikan akan selalu keluar sebagai pemenang", "orang jahat pasti akan kalah", "kesetiaan dibalas kemunafikan", atau "kasih sayang dibalas dengan tipu daya…" Masih banyak lagi tema yang bisa menjadi titik awal dari sebuah cerita.

Bila saya ambil salah satu tema, katakanlah tema “kasih sayang dibalas tipu daya” alias penipuan, kita akan sampai pada cerita pendek karya Yoanna Chandra di bawah ini, yang ia persembahkan buat sahabat blogger dan tidak keberatan untuk dikritik.

Saya tahu, Yoanna bukan orang kemarin sore membuat cerita, setidak-tidaknya cerpen. Sebab, alur ceritanya (plot) sudah lancar. Adegan berjalan cepat, berkelebatan, yang kalau saya ibaratkan sebuah adegan dalam film, para pelakonnya bergerak aktif, tidak statis dan mobil. Kita terayun dan terseret cerita yang disodorkannya, kita menjadi ikut arus. Ini modal yang baik dalam sebuah cerita. Lalu kejutan disodorkan di akhir cerita.

Nah, yang ingin saya ceritakan di sini soal stigma. Wah, ini ‘kan istilah politik yang artinya “cap” yang diberikan kepada seseorang atau benda, sehingga sampai kapan pun “cap” itu terus melekat. Biasanya “cap” ini terus melekat sampai kapanpun. Ingat dulu Partai Golkar yang punya stigma “Partai Orde Baru”, Presiden Soeharto diberi stigma “Diktator”, Presiden Bush diberi stigma “Pembohong”, dan seterusnya. Padahal, stigma itu belum tentu benar lho, hanya saja karena ia telanjur terpahat di jidat, akan susah menghapuskannya.

Membaca cerpen “Nurani” karya Yoanna, saya kok tiba-tiba menjadi benci dan harus hati-hati kepada sopir taksi! Lho kenapa? Sebab, Yoanna telah memberi stigma kepada sopir taksi (meski tidak sengaja), bahwa sopir taksi itu penipu! Nah, ini stigma, bukan. Bayangkan kalau saya percaya pada cerpen Yoanna bahwa kelakuan sopir taksi seperti itu, duh kasihan sopir taksi lainnya, padahal di Indonesia ini ada ratusan ribu sopir taksi. Tapi bagaimanapun, ini pertanda cerpen Yoanna berhasil mengolah emosi pembacanya, termasuk saya.

Dalam cerpen itu diceritakan, bagaimana seorang sopir taksi menipu penumpangnya dengan berpura-pura tidak berdaya karena harus membayar ongkos operasi istrinya yang akan melahirkan anaknya. Kalau tidak punya uang seharga ongkos operasi melahirkan, maka pihak dokter tidak akan melakukan operasi. Saya akui, cerita ini cukup menyentuh. Perasaan mana yang tidak tergerak mendengar keluh kesah dan sosok sopir taksi yang seperti putus asa sehingga seorang penumpang pun tak sadar mengeluarkan uangnya, meski uang itu untuk kebutuhan sekolah anaknya! Konflik dan jalinan ceritanya cukup menawan, bukan?

Tetapi itu tadi, stigma! Ah, untungnya ini cerita, bukan berita, sehingga saya segera menghapus ingatan saya akan sopir taksi sebagaimana diceritakan dalam cerpen Yoanna. Maklum di Jakarta ini saya sering menggunakan jasa sopir taksi kalau saya males nyetir sendiri. Maklum lagi, saya belum bisa menggaji sopir pribadi, sehingga kerap saya harus bersinggungan dengan sopir taksi.

Untungnya, setiap pengarang diberi kebebasan berekspresi (licencia poetica), sehingga sah-sah saja mau mengakhir cerita dengan ending apapun: happy ending atau tragic ending. Silakan saja. Tetapi kita semua berharap, pertimbangkan stigma itu tadi, stigma yang diterakan di jidat seseorang yang kebetulan sopir taksi. Bukankah kita bisa mengakhiri cerita dengan sesuatu yang tetap menyentuh perasaan kita, misalnya dengan mengambil tema netral “keterpaksaan” si sopir taksi menjadi penipu, bukan tema “penipuan” yang dilakukan si sopir taksi?

Bisa saja si sopir taksi menipu para penumpangnya karena betul-betul kebutuhan mendesak, tetapi pada akhirnya ia insyaf dan meminta maaf kepada orang-orang (penumpang) yang pernah ditipunya dengan asumsi ia tahu alamatnya, meski ia tidak bisa mengembalikan uang hasil menipunya itu. Bahwa dia nanti mendapat ganjaran dilaporkan ke polisi atau dipukuli massa, bukankah di sini dramatisnya sebuah cerita? Selain itu, tema langsung kita dapatkan, bahwa ternyata “kejujuran tidak selamanya menuai kebaikan”. Ternyata juga, “kata maaf harus dibayar mahal dan bahkan nyaris dibayar nyawa”. Cukup menggetarkan, bukan?

Ah, asyik sekali ‘kan kalau sahabat rajin mengeksplorasi imajinasi sendiri untuk menghadirkan sebuah cerita yang menawan, tanpa harus memberi stigma kepada orang lain. Tetapi bagaimanapun, cerita yang Yoanna gubah adalah sah-sah saja adanya. Kalau tidak suka dengan pertimbangan saya, bisa jalan terus… dan teruslah berkarya untuk menghasilkan cerpen yang kuat.

N U R A N I
Oleh Yoanna Chandra

Ya ampun, kesiangan lagi! Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini aku terpaksa mengeluarkan ongkos taksi. Jika Raka tidak rewel karena kehilangan pensil warna tentu aku sudah duduk manis di mobil antar jemput kantor. Raka, anakku semata wayang, baru duduk di bangku TK. Setiap pagi aku harus mempersiapkan segala keperluannya sebelum berangkat bekerja.


Setengah berlari aku menuju halte di depan komplek perumahan. Sambil terengah-engah kuedarkan pandangan di sekitar halte berharap mobil antar jemput masih menunggu. Tentu saja harapan yang sia-sia karena mobil antar jemput tidak pernah menunggu lebih dari dua menit. Sementara aku sudah terlambat sepuluh menit.

Lima menit berlalu aku masih berdiri di halte tanpa melihat satupun taksi kosong lewat. Sebenarnya naik ojek lebih praktis, cepat sampai dan murah ongkosnya. Tetapi aku pernah terjatuh dua kali dari ojek karena menabrak sepeda dan angkot. Pengalaman yang cukup traumatis. Dalam hati aku berdoa semoga waktu berjalan lebih lambat sehingga aku tidak mendapat surat peringatan karena terlambat untuk yang ketiga kalinya minggu ini. Oh God, help me, please!

Dari jauh sebuah taksi berwarna hijau meluncur ke arahku. Dengan cepat kulambaikan tangan. Taksi berhenti dan aku bergegas masuk.

“Putar balik ya, Pak,” perintahku pada sopir taksi.
Tanpa menyahut sopir taksi mengambil arah memutar. Sebuah sepeda motor hampir terserempet. Remnya berdecit nyaring. Aku memekik kaget. Jantungku serasa copot. Aku agak kuatir dengan cara menyetir sopir taksi ini. Kelihatannya ia kurang berkonsentrasi.


“Mau ke arah mana, Bu?” tanyanya mengagetkanku.
“Kawasan industri Pulogadung, Pak,” sahutku cepat. Dadaku masih berdegup kencang.

Aku melirik pergelangan tangan. Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Semoga perjalanan lancar sehingga aku bisa sampai di kantor sebelum pukul setengah delapan. Sebenarnya jika tidak macet jarak dari rumah ke kantor bisa ditempuh dalam waktu kurang dari limabelas menit. Tetapi siapa yang dapat menebak padatnya jalan di ibukota ini pada jam-jam sibuk. Kadang-kadang jika sedang macet waktu tempuh ke kantor bisa molor sampai empat puluh lima menit.

“Maaf, Bu, saya tidak memakai seragam,” ujar sopir tiba-tiba.
“Tidak apa-apa, Pak,” sahutku agak bingung. Baru kali ini seorang sopir taksi minta maaf padaku karena tidak memakai seragam. Boro-boro memperhatikan seragamnya, aku sendiri sedang sibuk dengan pikiranku, mencoba menenangkan diri dan berharap segera sampai ke tujuan.
“Soalnya sudah dua hari ini repot mondar-mandir mengurus istri yang akan melahirkan. Jadi tidak sempat mencuci seragam,” lanjutnya.
“Oya?” sahutku berusaha ramah.
“Iya, Bu, dari kemarin subuh sudah pecah ketuban tetapi bayinya belum bisa keluar karena sungsang. Mana istri saya sudah lemas sekali.”
“Mungkin harus dioperasi, Pak. Kasihan ibu dan bayinya kalau tidak segera ada tindakan.”
“Iya, memang harus dioperasi, Bu. Tetapi uang mukanya belum cukup.”
“Di rumah sakit mana, Pak?”
“Di Bintaro, Bu. Daerah Jurang Mangu.”
“Kok jauh sekali, Pak?”
“Iya, baru saja saya dari rumah saudara di daerah Pondok Bambu sini untuk meminjam uang tetapi ternyata dia sedang pulang kampung. Mungkin sudah nasib saya, Bu. Tapi ya sudahlah, saya cari penumpang saja untuk menambah biaya rumah sakit.”
Tiba-tiba ia terisak. Lalu dengan suara tersendat ia melanjutkan.
“Uang mukanya Rp 1.700.000,- saya sudah menyerahkan uang Rp 1.175.000,- tetapi rumah sakit tetap belum mau mengoperasi istri saya. Padahal badannya sudah biru semua.”

Isaknya bertambah. Berulang kali ia mengusap mata dan menyusut hidungnya. Aku terdiam. Perasaanku bercampur aduk. Kasihan, prihatin, kuatir, sekaligus marah. Sungguh keterlaluan! Bagaimana mungkin rumah sakit yang seharusnya mengutamakan keselamatan pasien dan bersifat sosial menjadi sangat komersial sehingga membuat orang yang seharusnya mujur bisa menjadi sial? Bagaimana bisa beberapa lembar uang lebih penting daripada dua buah nyawa yang sedang berjuang keras untuk sebuah kehidupan? Di mana hati nurani dan kepedulian bersembunyi? Oh Tuhan, bagaimana jika dua nyawa itu tidak terselamatkan, siapa yang harus bertanggungjawab? Seharusnya kehadiran sebuah kehidupan baru merupakan anugerah yang membahagiakan bukan musibah yang memilukan.

Lalu lintas tersendat di perempatan. Meskipun lampu pengatur lalu lintas berfungsi normal namun nafsu untuk saling mendahului dan tidak peduli membuat semua menjadi kacau. Jangankan keselamatan orang lain, keselamatan diri sendiri pun tak peduli. Lalu lintas terkunci. Dan semua berlomba memencet klakson tanpa henti. Seolah hanya dengan memencet satu tombol semuanya akan lancar kembali. Begitulah di jaman yang serba instant ini.
Tiba-tiba terdengar raungan sirine. Syukurlah, dua orang polisi datang menghampiri. Berbekal senjata peluit dan dua buah tangan yang bergerak kesana kemari perlahan lalu lintas mencair kembali.

Kami membisu. Larut dalam pikiran masing-masing. Aku membuang pandang keluar jendela. Sebuah sepeda motor mencoba mendahului dari sebelah kiri. Pengemudinya seorang pria -tanpa helm pengaman- membocengkan anak perempuan berseragam merah putih yang menggendong tas di punggungnya. Rambutnya dikepang dua berkibar-kibar terbawa angin. Anak itu memegang erat-erat pinggang pria yang memacu motor dengan kencang. Mungkin agar tidak terlambat sampai di sekolah. Terburu-buru. Berkejaran dengan waktu. Kecepatan nomor satu. Keselamatan bukan lagi hal yang perlu.

Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Kuperhatikan wajah sopir taksi dari samping. Umurnya sekitar 35 tahun. Mungkin juga lebih muda dari perkiraanku. Sebab tekanan hidup sering membuat orang kelihatan jauh lebih tua dari umurnya. Kulitnya sawo matang dan berkumis. Ia mengenakan kemeja lengan panjang –yang digulung ujungnya- berwarna hijau tua. Wajahnya tampak lelah. Mungkin karena sudah dua hari tidak istirahat ditambah lagi dengan kecemasan atas nasib istri dan bayinya. Kubayangkan tadi subuh ia berangkat dari Jurang Mangu ke Pondok Bambu dengan segudang harapan. Namun ternyata harapan tinggal impian.

Aku meraba tas di pangkuanku. Di dalamnya hanya berisi beberapa puluh ribu rupiah untuk ongkos dan biaya makan siang. Seandainya saja ada uang berlebih di dompetku… Tiba-tiba aku teringat kemarin menitipkan uang Rp 300.000,- pada Felis -kasir di kantor- untuk disetor hari ini ke rekening tabungan pendidikan Raka. Tetapi aku bimbang sejenak. Haruskah aku mengorbankan uang pendidikan Raka untuk orang yang tidak kukenal ini? Bagaimana aku harus mengganti uang Raka? Setiap awal bulan aku selalu mengatur keperluan untuk satu bulan. Keuangan kujaga dengan ketat karena aku tidak ingin besar pasak daripada tiang. Maklumlah aku dan suamiku hanya pegawai biasa yang harus pandai-pandai menjaga stabilitas keuangan rumahtangga.

Kupandangi lagi wajah lelah di depanku. Tegakah aku membiarkan ia kehilangan anak istrinya sekaligus? Apakah aku juga harus menyembunyikan hati nuraniku di depannya dan hanya bisa mencela orang lain? Bukankah aku bisa mengganti uang Raka dengan bangun lebih pagi dan memasak untuk bekal makan siang sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar makan siang dan ongkos taksi?

Sambil berdoa di dalam hati kusingkirkan kebimbanganku. Kuraih ponsel dan mengirim pesan pendek kepada Felis. Lis, tolong uang yang kutitipkan kemarin diberikan pada resepsionis di depan. Sebentar lagi aku sampai. Thanks.

“Ibu sudah punya anak?”
Aku terkejut. Hampir saja ponsel terlepas dari tanganku. Entahlah, kenapa pagi ini aku jadi mudah terkaget-kaget begini.
“Oh, sudah, Pak.”
“Ini anak pertama saya, Bu, kalau selamat.”
“Siapa yang menemani istri Bapak di rumah sakit?”
“Tidak ada, Bu. Orang tua saya baru datang besok pagi dari kampung.”
Ya Tuhan, keluhku dalam hati, begitu sengsaranya istri Bapak ini. Tak terbayangkan betapa ia sangat kesakitan dan ketakutan. Tolong Tuhan, ketuklah hati mereka agar bersedia menolongnya.
“Kenapa nggak ke rumah sakit lain saja, Pak? Siapa tahu bisa cepat tertolong.”
“Sama saja, Bu. Malah di rumah sakit lain minta uang jaminannya lebih besar lagi.”
“Aduh, jadi susah sekali ya, Pak?”
“Iya, Bu. Sekarang tinggal pasrah saja. Biarlah Tuhan yang menjaga anak istri saya.”
Apalagi yang harus dilakukan setelah berbagai usaha gigih seolah sia-sia belaka? Rupanya ada suatu tempat di ibukota ini yang tidak tersentuh oleh kecepatan waktu dan juga tidak peduli bahwa keselamatan seharusnya nomor satu. Karena ada yang jauh lebih penting dari semua itu.
“Pak, berhenti di dekat motor yang parkir itu ya.”
“Baik, Bu.”

Taksi berhenti tepat di depan pintu masuk. Tiga menit lagi kartu absenku akan berwarna merah. Aku mengulurkan ongkos taksi yang diterimanya dengan ucapan terimakasih. Dengan tergesa kubuka pintu taksi.

“Pak, tunggu sebentar ya, jangan pergi dulu.”
Setengah berlari aku menghampiri resepsionis dan mengambil amplop yang dititipkan Felis. Secepat kilat aku kembali keluar. Ternyata taksi telah memutar. Kukejar taksi dan kuketuk jendelanya. Ia membuka kaca. Wajahnya tampak kuyu. Kuulurkan amplop ke tangannya.

“Pak, ini ada sedikit uang. Semoga anak istri Bapak selamat ya.”

Aku berlari kembali ke kantor. Dengan terengah-engah kumasukkan kartu absen ke mesin amano. Pukul setengah delapan tepat. Thank God!

Pagi ini entah sudah berapa kalori yang terbakar untuk mengejar waktu. Aku memasuki ruang kerja dengan lega. Asri dan Mila tampak sedang mengobrol.

“…iya Mil, orang itu menangis sambil bercerita anaknya harus dioperasi tetapi tidak ada biaya. Tante gue kasihan dan kasih uang. Itu kejadian dua minggu lalu. Eh, ternyata dia penipu. Soalnya kemarin tante gue bertemu orang itu lagi dan dia menangis lagi dengan cerita yang sama. Gondok nggak sih?”

Aku terpaku di kursi yang belum dua menit kududuki. Cerita Asri menohok tepat di jantung hatiku. Pikiranku melayang cepat kepada sopir taksi tadi. Apakah aku telah tertipu? Rasanya tak mungkin orang itu menipu. Aku juga yakin sekali tidak terhipnotis olehnya. Sebab aku ingat setiap detail percakapan kami dan situasi sepanjang perjalanan tadi. Tetapi tak urung kebimbangan menyergap hatiku. Apakah ini modus penipuan paling mutakhir dengan cara mengaduk-aduk emosi korban agar tergerak hatinya dengan sukarela?

Kugelengkan kepala menghapus segala keraguan dan prasangka. Aku menghela napas panjang. Tuhan maha mengetahui setiap niat yang tersembunyi di sudut hati umatNya. Baik yang tulus maupun akal bulus. ***

Ok, sahabat, sampai jumpa di karya sahabat berikutnya...

Pepih Nugraha
Jakarta, 17 November 2006

Wednesday, November 15, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (3)


Coba Melamar

TIDAK menyia-nyiakan waktu. Keesokan paginya saya sudah berada di pinggir jalan mencegat mobil “Elep” yang biasa datang dari Ciamis, kabupaten tetangga dengan Tasikmalaya dan berhenti di terminal Cicaheum, Bandung. Mobil “Elep” sebenarnya mobil penumpang umum yang biasa memuat 16 sampai 20 orang sekali angkut.

“Elep” tidak lain mobil keluaran Isuzu dengan nama dagang “Elf”. Tetapi sopir, kernet, dan lidah orang Sunda pada umumnya tidak bisa membedakan bahkan mengucapkan huruf “f” maupun “v”. Kedua huruf itu sama-sama akan diucapkan “p” yang tegas seperti mengucapkan kata “pepes”. Uniknya kalau naik “Elep”, sudah galib calon penumpang menawar kernetnya terlebih dahulu. Tetapi rata-rata untuk jarak Tasikmalaya-Bandung saat itu, tahun 1989, antara Rp 2.500 sampai Rp 3.000.

Jarak Tasikmalaya-Bandung sekitar 100 kilometer. Karena jarak Tasikmalaya-Ciawi kurang lebih 20 kilometer, jadi sesungguhnya saya tinggal menempuh 80 kilometer lagi ke arah barat. Wajar kalau sudah mendekat Bandung, sang kernet biasa banting harga, yang penting seteron terkejar, syukur kalau ada lebihnya. “Elep” yang saya tumpangi menembus kabut pagi.

Sampai di Terminal Cicaheum, saya langsung naik angkot jurusan Ciroyom. Angkutan umum itu akan melewati Jalan Dipati Ukur, ruas jalan dimana Universitas Padjadjaran (sebelum pindah ke kampus di Jatinangor, Sumedang) berdiri. Di seberang depan Universitas Padjadjaran di Jalan Dipati Ukur itu dulu ada perkampungan, namanya Haur Pancuh. Nah di belakang Haur Pancuh itu ada lagi Haur Mekar. Di salah satu rumah penduduk di Haur Mekar itulah, di rumah E. Kosasih, saya kos.

Saya langsung naik ke lantai (papan kayu) atas, tempat saya kos. Saya teringat dosen filsafat saya, Wasito Puspoprodjo (kini sudah meninggal) yang mampu berbicara delapan bahasa asing secara fasih, sering menyebut “kandang japati” (rumah merpati) untuk kamar-kamar mungil di lantai dua yang biasa di koskan kepada para mahasiswa. Saya memang kos di “kandang japati” itu dengan uang kos Rp 200.000 setahun. Saya punya banyak saudara di Bandung, tetapi saya lebih enjoy tinggal di rumah kos.

Di “kandang japati” itu saya mempersiapkan surat lamaran yang saya tulis tangan. Fotokopi ijazah SMA saya lampirkan. Konyolnya meski tidak diminta, saya lampirkan pula sertifikat kursus gitar klasik dasar Yamaha saat saya SMA dan Bahasa Jerman dasar Goethe Institut, juga fotokopi beberapa cerita pendek karya saya yang dimuat di majalah dan koran-koran. Maksudnya untuk meyakinkan (lebih tepat mengelabui) penyortir surat lamaran bahwa saya punya “kemampuan lebih”, meski saya belum lulus S1.

Setelah itu saya langsung ke Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi di Jalan Sekeloa, kampus yang terpisah dengan kampus induk di Jalan Dipati Ukur, untuk meminta transkrip nilai dari semester pertama hingga delapan. Syukurlah, dengan asumsi nilai akhir skripsi B, nilai kumulatif saya sudah 2,8. Suatu nilai yang lebih dari cukup, dari syarat yang diajukan Kompas saat itu yang cukup 2,75. Setelah syarat-syaratnya dirasa lengkap, dikirimlah lamaran itu melalui pos dengan perangko kilat.

Saya tidak pernah bercerita kepada teman-teman kuliah kalau saya sedang coba-coba melamar ke sebuah harian ternama di Indonesia, Harian Kompas. Bukan karena saya tidak ingin membeludaknya pesaing di antara pelamar kelak, tetapi karena malu dan kurang percaya diri saja. Malu karena kalau ini sekadar coba-coba saja. Tetapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, terbersit keinginan untuk bisa diterima di Kompas. Hem, sebagai pustakawan tentunya. Biarlah, tak mengapa.

Satu bulan telah berlalu, jawaban atas surat lamaran yang saya kirimkan belum juga saya terima. Saya pikir, mungkin sudah masuk ke tong sampah. Terus terang, saya berharap surat panggilan itu datang dan saya tidak bisa melupakannya. Sambil menunggu surat panggilan itu datang, saya menyibukkan diri menyusun skripsi. Saking dikebutnya skripsi, saya tinggal menyelesaikan beberapa bab terakhir saja.

Tiba pada suatu hari, saya dikejutkan oleh datangnya selembar surat yang datang ke kos-kosan. Dari kop suratnya saya sudah tahu, itu surat dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Tentu ada dua kemungkinan, surat penolakan atau surat panggilan. Saya berpikir cepat, surat penolakan jarang dikirimkan kembali dan biasanya langsung menjadi penghuni tempat sampah. Tetapi surat ini?

Surat itu saya buka dengan tangan bergetar dan jantung yang berdegup tidak seperti biasanya. Setelah saya buka, ternyata itu surat panggilan untuk ikut tes. Surprise juga, minggu depan saya ikut tes. Mungkinkah angan-angan saya segera terwujud?

Kiat:
1. Jangan abaikan iklan lowongan kerja di media massa, sebab itu bisa jadi peluang.
2. Setelah membaca iklan lowongan kerja, tidak ada salahnya mencoba mengirim surat lamaran sesuai keahlian atau kecakapan, sebab ini mungkin awal dari sebuah tantangan.
3. Jika ada surat panggilan untuk tes masuk pekerjaan, jangan lepaskan kesempatan itu, percaya diri saja.

Pepih Nugraha
Jakarta, 15 November 2006

Monday, November 13, 2006

Karya Sahabat (5)


Mainkan Imajinasi Liarmu!

Kali ini kita menampilkan cerpen berjudul “Karma” dari sahabat Endang. Dari judulnya yang singkat saja, saya sudah bisa menebak, pesan yang ingin disampaikan adalah soal “pembalasan”. Suatu konsep religi, dimana kalau orang berbuat jahat terhadap orang lain, maka orang itu pada suatu waktu akan mendapat balasan serupa dari orang lain. Artinya, judul sudah jelas. Pembaca tidak lagi diberi kejutan oleh si pembuat cerita dia akhir cerita. Mereka tinggal mengikuti alur ceritanya saja, plus jalinan konflik di dalamnya.

Kesan saya saat melihat bangunan fisik cerpen, pastilah dia sebuah cerpen yang panjang. Saya hitung ada 12.712 karakter, suatu jumlah yang bisa dua kali cerpen. Artinya, cerpen ini terlalu panjang, paling panjang cukup 8.000 karakter. Dengan memperpendek cerita, niscaya orang tidak terlalu kecapekan menikmatinya. Para editor budaya yang biasa menilai cerpen kiriman, pasti lebih suka memilih cerpen yang padat, singkat, dan beralur cepat. Apa pula alur cepat? Jika ada alur cepat, tentu ada alur lambat? Benarkah?

Ah, ini istilah saya saja. Sebelum saya membuat cerpen, saya selalu membayangkan suatu adegan dalam film atau kejadian sehari-hari. Bila percakapan dua atau lebih tiga orang disajikan secara statis, masing-masing berdiri di tempatnya tanpa gerak apapun, penonton pasti merasa bosan sendiri. Lain kalau percakapan itu kita bayangkan sebagai suatu yang “sibuk”, cepat dengan gambaran kamera yang bergerak ke sana ke mari, baik itu karena bantuan crane atau kameramennya sendiri yang lincah bergerak mengikuti si pembicara.

Hasilnya? Pasti akan lain dari percakapan statis itu tadi, percakapan yang saya katakan beralur lambat. Lalu usahakan kalimatnya bergaya staccato, pendek-pendek dan terputus-putus. Jangan sajikan pembaca paragraf yang panjang-panjang, kasihan mereka!

Membuat cerpen juga begitu. Sebelum benar-benar menulis, cobalah bikin sketsa atau oret-oretan mengenai si tokoh, karakternya, dan bagaimana akhir sebuah cerita. Siapa yang menjadi tokoh sentral, tekanan (beat) pada siapa, dan bagaimana jalinan konflik di dalamnya. Dalam perjalanannya bisa saja berubah, bisa juga menyimpang jauh. Tidak mengapa, yang penting kita sudah punya “cetak biru” cerpen yang akan kita buat. Dengan cara ini, niscaya sahabat bisa percaya diri menyelesaikan sebuah cerpen tanpa takut macet di tengah jalan!

Kembali ke cerpen “Karma”. Si penulis cerita menempatkan Dyani sebagai tokoh utama. Kalau saya sinopsiskan secara kilat mungkin begini: Dyani adalah ibu dari Tantri yang melaporkan kehamilannya. Dyani memutuskan harus mengawinkan anaknya dengan si lelaki yang menghamili anak semata wayangnya itu. Namun ternyata, lelaki yang menghamili Tantri tidak lain dari mantan kekasihnya, Baskoro, yang dulu lari dari tanggung jawab setelah menghamilinya, yang kemudian melahirkan Tantri. Pendeknya, Baskoro telah menghamili anaknya sendiri. Begitu ceritanya, bukan? Singkat saja.

Dengan imajinasi yang dimilikinya, si penulis cerita memunculkan tiga tokoh dalam cerpennya; Dyani, Tantri, dan Baskoro. Itu sah-sah saja. Bahkan satu tokoh pun tidak jadi masalah. Dyani dan Tantri masing-masing punya porsi yang lumayan besar, dibanding Baskoro yang tampil sekilas, tetapi menentukan jalannya cerita. Satu hal yang saya salut dari sahabat Endang, dia piawai dalam menangkap detail dan penggambaran suasana, meski ia terlalu membiarkan sekian paragrafnya membengkak.

Di sini saya ingin tekankan, jika kita sedikit memainkan imajinasi liar, niscaya kita akan keluar dari pakem cerita yang sudah sering dibuat. Kita mau membuat cerita dengan alur yang berbeda, dengan tokoh utama yang dianggap mustahil, dengan akhir cerita yang nyleneh.

Oke saja jika yang menjadi tokoh utama, tokoh “si aku”, adalah Dyani. Secara kasarnya, judul yang dipilih pun bisa “Cucuku, Anak Kekasihku”. Ah, ini perumpamaan saja. Begitu seterusnya. Jika Tantri yang menjadi tokoh utama, judul bisa berbunyi “Anakku, Anak Ayahku”. Lagi, kalau Baskoro yang mau ditokohutamakan, judul pun bisa “Anakku, Cucu Kekasihku”. Harus agak mengernyitkan dahi, bukan? Ah, tidak perlu, mudah saja mencernanya. Ini hanya permainan “beat” saja!

Kita lanjutkan. Nah, kalau si pembuat punya imajinasi liar yang biasanya sangat diminati para pembaca cerpen, bukankah ada satu tokoh lagi yang tidak muncul tetapi nyata ada dalam cerpen itu? Siapa dia? Langsung jawab saja: si jabang bayi yang harus digugurkan!

So, renungkan sejenak, apa maksud saya mengajak sahabat membuka mata terhadap si jabang baying yang kini bersemayam di rahim Tantri? Maksud saya, si jabang bayi pun bisa menjadi tokoh utama cerita! Ya, mengapa tidak!? Dan, mainkan imajinasi liarmu di sini!Maksudnya? Penekanan atau “beat” ada pada si jabang bayi! Lho, jabang bayi yang baru berumur satu atau dua bulan ‘kan belum berbentuk apa-apa, belum punya perasaan, dan jelas tidak bisa bicara! Kalau begitu, Anda sok tahu. Ini justru kuncinya!

Buatlah si jabang bayi itu sebagai person atau seseorang yang bisa berbicara, setidak-tidaknya pada diri sendiri, melihat (dengan mata hati), dan mendengar dengan insting. Buat riset kecil-kecilan bagaimana sih keadaan jabang bayi yang berumur empat atau delapan minggu itu? Bagaimana dokter atau dukun bayi melakukan aborsi (bukan untuk ikut-ikutan, lho!). Bila modal ini sudah didapat, tinggal bikin alur atau jalan ceritanya (plot) dengan tokoh utama si jabang bayi itu tadi. Menantang, bukan?

Maka, cerpen itu bisa dimulai begini: Aku mendengar seseorang berteriak, “Gugurkan bayi itu”. Kudengar lagi suara seorang lelaki yang menyetujui perintah itu, “Tantri kaudengar ibumu, kita harus menggugurkan bayi itu!” Tidak lama kemudian disusul jerit suara perempuan lainnya, “Tidak mungkin, bayi ini milikku!” Aku menjadi terpana dan tidak mengerti, siapa “bayi” yang mereka sebut-sebut itu? Apakah “bayi” itu aku, diriku sendiri? Tetapi, apa maksudnya “gugurkan” atau “menggugurkan”? Aku sama sekali tidak mengerti….

Bagaimana? Menggelitik sekaligus menantang imajinasi liar kita, bukan? Semua kalimat ini saya kutip langsung dari cerpen sahabat Endang. Bahwa kemudian si jabang bayi mencari tahu akan makna semua kejadian itu, mencari tahu siapa tiga tokoh yang selalu akrab didengarnya, baik suara desahan Baskoro yang sedang melakukan hubungan intim dengan Tantri, atau Tantri yang menangis tersedu-sedu saat mengetahui Baskoro yang menghamilinya adalah ayahnya sendiri, adalah sesuatu yang menantang untuk dieksplorasi sampai habis, sampai si pembaca sama sekali tidak tahu akhir dari cerita itu!

Semakin liar imajinasi kita, semakin liar cerita kita, semakin merangsang hasrat pembaca untuk menghabiskan cerpen kita sampai klimaks. Peganglah kunci ini!

Apakah bayi berbicara sendiri tidak cukup liar? Tambah bila perlu! Misalnya, hadirkan tokoh gaib, katakanlah Tuhan, dimana kepada-Nya si jabang bayi berkomunikasi melalui batinnya. Lantas jawaban gaib pun datang yang membuat si jabang bayi memahami semua pertanyannya. Lalu sisipkan percakapan ketiga tokoh itu dalam suasana nyata untuk menghindari kebosanan, agar tidak melulu pertanyaan si jabang bayi yang muncul.

Punya waktukah sahabat, setidak-tidaknya sahabat Endang untuk memahami maksud saya? Hem, apalagi kalau punya waktu, coba-coba menulis ulang kisahnya dengan si tokoh utama “jabang bayi” yang hendak digugurkan. Cukup menantang, kan? Sekalian belajar, kalau cukup berani menerima tantangan ini, kirimkan cerpen sahabat sekalian ke alamat saya di pepih_nugraha@yahoo.com yang hasilnya akan kita tampilkan bersama. Semakin banyak semakin bagus, biar kita belajar perbandingan bersama.


K A R M A

Oleh Endang

DYANI masih duduk terpekur di teras rumahnya. Diam tanpa suara meski sekedar bunyi kecil tenggorokan menelan ludah. Matanya kosong tak jelas mana arah yang ditatapnya. Dan tidak satupun gerakan kecil dari jemari tangan atau kakinya mengusir lalat yang kadang hinggap disana. Dyani bahkan tidak pernah tahu berapa lama dia duduk disana atau berapa banyak tetangga menyapanya sembari lewat. Yang dia lihat hanyalah kilasan-kilasan kejadian beberapa jam lalu, yang membuatnya menjadi membatu begitu.

Tantri telah pergi dari hadapan Dyani dan kembali ke kamarnya,mungkin untuk meneruskan tangisnya. Namun tadi, anak perawannya itu hadir bersimpuh di kakinya untuk sebuah penjelasan. Anak perawan…..kata-kata ini berputar terus di kepala Dyani sesaat setelah penjelasan Tantri. Kata-kata itu sudah bukan menjadi milik anaknya lagi dan Dyani sudah tidak memiliki anak perawan lagi. Anak perawan , semua orang tahu artinya adalah seorang perempuan muda yang belum menikah dan masih terjaga kehormatan dan kesuciannya. Tidak seorang lelaki pun pernah menyentuh bagian paling pribadi dari perempuan muda yang masih tergolong perawan. Tetapi Tantri, dalam tubuh muda dan langsing itu, tidak memiliki lagi kesucian seorang perawan.. Sudah pernah ada seseorang menyentuhnya secara pribadi sebelum pernikahannya. Dan seseorang itu telah menitipkan pula janin di dalam rongga rahim anaknya.

Untuk pertama kalinya setelah detakan jam yang kesekian, Dyani tampak beringsut. Kepalanya menunduk, membuat sebulir air mata jatuh ke pangkuannya yang kurus tertutup kain tipis rok panjangnya. Buliran itu bertambah banyak dan deras dan sekarang diiringi rintihan kecilnya. Namun dia adalah seorang yang terbiasa dengan banyak kesulitan. Tidak ingin buliran airmata itu terus mengalir, diusapkannya punggung tangannya ke pipi. Pikirannya berputar cepat,” Aku tidak boleh terhanyut, Tantri membutuhkan jawaban atas masalahnya. Kasus begini sudah banyak terjadi pada teman-temanku….” Dyani selalu tahu penyelesaian bagi masalah hamil di luar nikah seperti Tantri harus cepat. Yang tidak diketahuinya hanya satu. Dia akan menghadapi masalah yang bisa membuatnya terlempar jauh ke masa lalu.

**
DI kamar, Tantri menelungkup di atas bantalnya. Tangisannya sudah tidak terdengar dan dadanya sesak oleh kelelahan. Lelah menangis, lelah menyesali perbuatannya yang hanya terbuai oleh rayuan dan belaian. Dia mengingat wajah lurus ibunya saat pengakuan tentang kehamilannya. Lurus dan pias, rona wajah yang tak tahu harus berkata atau berbuat apa diserang keterkejutan semacam itu. Tamparan keras di pipinya pun melayang tanpa ekspresi, hampa dan hanya sebuah gerakan refleks. Kehampaan yang begitu lama ditunjukkan ibunyalah yang membuat Tantri tak kuasa bertahan di hadapan Dyani. Lebih baik ia berlari ke kamar dan tidak terus melihat luka di wajah ibunya . Semakin ia melihat airmata di wajah ibunya, semakin ingin ia tenggelam ditelan bumi.

Tak mampu dihindarinya, Tantri mengenang malam-malam yang kini menorehkan arang di wajah ibu yang dicintainya. Malam-malam yang melenakannya setiap kali ia bertemu Baskoro di rumah kontrakan dekat kantornya. Baskoro, lelaki yang mengisi hati dan hari-harinya selama ini. Lelaki yang dikenalnya sebagai kepala proyek perumahan yang didirikan kantor kontraktor tempatnya bekerja. Tantri mengenal Baskoro setahun lalu ketika ia ditempatkan sebagai kepala administrasi proyek di lapangan tempat real estat itu didirikan. Dengan berbagai pertemuan yang seringkali diselingi senda gurau dan diskusi pribadi, sosok lelaki itu menjadi istimewa di hatinya. Perhatian, senyuman, gurauan dan tatapan mata yang tak bergeming sedikitpun terhadapnya, membuat Tantri selalu merindukan saat-saat bersama Baskoro. Obrolan di kantor berlanjut dalam perjalanan pulang hingga ke teras rumah kontrakannya, dan semakin lama membuat mereka semakin intim. Kenyataan usia Baskoro yang seharusnya pantas menjadi ayahnya tidak lagi menjadi masalah bagi Tantri. Terlebih dengan tubuh atletis dan gaya bicara yang menyenangkan, membuat Tantri justru merasa aman bersama Baskoro. Meski Tantri tahu lelaki itu adalah seorang duda beranak satu, rasa cintanya telah membuatnya gelap mata. Terlebih jika Baskoro membelainya dengan lembut ketika kepenatan datang, rasa takut akan perbuatan yang dilakukannya mampu terkalahkan oleh kenyamanan dan kenikmatan berada dalam pelukan lelaki itu. Dan kini, semua itu tidak guna lagi disesali. Calon bayi dalam rahimnya membutuhkan kepastian dan kekuatan hatinya, meski itu mengecewakan ibu yang telah mendidiknya menjadi seorang wanita terhormat.

“Tantri….kamu harus cepat menikah!”, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ibunya. Tantri segera terduduk di tepi ranjangnya. Ia baru menyadari kemungkinan ibunya sudah cukup lama disana jika melihat caranya duduk tertata dengan nyaman untuk sebuah pembicaraan panjang. Tidak satu kata pun meluncur dari bibir Tantri untuk menanggapi ibunya. Dilihatnya sisa air mata masih memberikan alurnya di pipi ibunya. Dalam keadaan seperti itu, tampak sekali kebiasaan ibunya untuk tidak membiarkan dirinya terhanyut berlarut-larut dalam sebuah masalah tanpa penyelesaian. Kenyataan sebagai orangtua tunggal yang harus menghadapi segalanya seorang dirilah yang menempa ibunya untuk bertindak cepat dalam setiap masalah. Jika suatu kali menemui kesulitan, ibunya juga cepat sekali memutuskan untuk meminta bantuan pada pakde-pakdenya. Tegar, namun tidak jumawa.

Tidak ada yang perlu dibantah dari ucapan ibunya. Tantri tahu, ibunya benar. Penyelesaiannya memang hanya satu, menikah. Dan Tantri memang sudah siap untuk itu. Masalahnya, ia bahkan belum memberitahukan kehamilannya ini pada Baskoro. Masalah ini muncul saat Tantri sedang menghabiskan sisa cutinya, sehingga ia belum sempat bertemu lelaki itu. Dan keharusan untuk menemui Baskoro secepat mungkin, kini membuat ia memutuskan untuk segera kembali ke lapangan lebih cepat dari rencana. Tidak mungkin ia bicarakan persoalan ini melalui telepon saja.
“Ya,bu…Tantri besok akan kembali ke kontrakan di lapangan. Tantri akan bicara dengan mas Baskoro”.
“Kamu belum pernah mengenalkan dia pada ibu,Tantri. Sesegera mungkin, dia harus menemui ibu untuk membicarakan masalah ini. Oh ya…tentu juga dengan keluarganya, lebih cepat lebih baik.”
“Mas Baskoro sudah tidak punya orangtua. Dia akan datang sendiri, begitu dulu dia pernah bilang kalau ingin melamar Tantri”
“Baik, kalau begitu. Semoga dia memang orang yang bertanggungjawab…”
Entah kenapa, Dyani tiba-tiba harus menggantung kalimatnya yang terakhir. Ada satu debaran tidak menentu yang tidak enak dia rasakan. Antara nama yang didengarnya, dengan kata tanggungjawab, seolah ada satu mata rantai yang sulit tersambung dengan mulus. Ah, mungkin cuma kekhawatiran akan keadaan Tantri,pikirnya. Atau, mungkin juga ia sekedar tidak menyukai nama itu…
Dyani segera bangkit dan meninggalkan Tantri, tidak ingin memenuhi pikirannya dengan sesuatu yang tidak pasti.Di ujung pintu anaknya itu menghentikan langkahnya,
“Ibu, dimana kubur ayah?”

**
TANTRI diam menunggu. Belum ada reaksi apapun dari Baskoro terhadap berita kehamilannya. Baskoro perlahan meminum teh panas di hadapannya, matanya tertumbuk pada meja di hadapannya. Ia tampak tenang. Tadi, usai Tantri bercerita tentang keadaan dirinya, Baskoro hanya memandangnya dalam-dalam, tak ada suara. Tidak begitu tampak juga keterkejutan di mata Baskoro saat menatapnya. Tapi Tantri mengerti. Laki-laki ini sudah matang cara berpikirnya. Ia tahu apa yang dilakukannya dan resiko yang pasti akan diterimanya. Itu sebabnya, reaksinya tidak berlebihan bahkan jelas sekali Baskoro berpikir hati-hati sebelum akhirnya bersuara.
“ Ya….aku sudah tahu akan seperti ini. Cepat atau lambat, memang pasti terjadi.”
“Lalu?”
“Ibumu benar, aku harus segera menemuinya.”
“Kapan?”
“Besok pagi kita berangkat. Setidaknya ada cukup waktu semalam ini untuk aku mempersiapkan pertemuan itu. Bagaimanapun, ibumu pasti akan sedikit emosi melihat orang yang menghamili anaknya. Tapi aku siap, Tantri…”
Baskoro tidak tahu, apa yang dipersiapkannya tidak akan berguna nantinya.

**
DYANI tak mampu memicingkan matanya. Sudah 2 hari ia begitu, meski biasanya pun tidurnya juga tidak pernah terlalu lelap. Tantri, kehamilannya, nama lelaki kekasih anaknya, semua berputar terus menerus di benaknya. Dyani resah, bahkan sangat resah. Jendela kamar yang dibuka untuk memberi kesejukan tidak banyak membantunya . Justru angin dingin kota Malang ini sekarang membuatnya menggigil. Sudah lama kotanya itu menjadi semakin panas udaranya. Namun musim penghujan akhir tahun toh masih mampu menghembuskan angin dingin di waktu malam. Ditutupnya lagi jendela, pikirannya kembali pada anak perawannya di Surabaya. Ya, Dyani masih ingin menyebut Tantri sebagai anak perawan. Pikirannya melayang lagi.

Dyani tahu, jika anaknya itu menikah, ia akan membutuhkan wali nikah. Kakak Dyani yang tertua atau bahkan pak Penghulu pun bisa bertindak menjadi wali nikah, jika memang ayah Tantri sudah meninggal. Tapi ayah Tantri itu dia tahu masih ada. Sakit hatinyalah yang membuat ayah Tantri itu seolah sudah mati. Kenyataan semu itu yang diketahui anaknya. Meski dulu Tantri pernah meragukan pernyataannya tentang ayah Tantri, berkat kepandaiannya menghindar dan seiring berjalannya waktu, anaknya seolah melupakan hal itu. Sampai kemarin didengarnya lagi pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang dijawab dengan perintahnya yang lain,” Selesaikan urusanmu dulu dengan pacarmu. Nanti kita bicara lagi.”

Dyani termangu di ranjangnya. Besok sore, jika anaknya itu datang, suka atau tidak ia akan harus menjelaskan semuanya. Dan berarti Dyani harus mengorek kembali koreng di hatinya yang telah berusia 20 tahun. Ya, selama itulah ia menyimpan rahasia besar dari anaknya tentang siapa ayahnya. Ayah yang menikahi ibunya hanya demi sebuah arti tanggungjawab secara dangkal. Dan kemudian lelaki itu pergi bersama anak istrinya yang telah lebih dulu hadir sebelum Dyani. Memang betul, dirinyalah yang bodoh, terpikat pada rayuan lelaki beristri. Kebodohan yang muncul hanya karena kesepiannya di usia yang semakin dewasa. Namun kebodohan itu tetap menggoreskan perih luka yang teramat dalam. Karena setelah pernikahan sirinya dulu, tidak sekali pun lelaki itu menunjukkan bentuk tanggungjawabnya yang lain. Tidak pernah datang ke rumah, tidak menanyakan apalagi melihat anaknya, juga tidak memberikan sedikitpun nafkah untuk kehidupan mereka berdua, Dyani dan Tantri. Namun Dyani merasa harus tetap hidup, dan biarlah lelaki itu mati dalam sejarah hidup anaknya. Sampai waktunya nanti.

Hingga siang akhirnya menjelang, Dyani masih belum beranjak pergi dari ranjangnya. Semakin waktu datang menjelang kepulangan Tantri bersama kekasihnya, terasa ia semakin malas bangkit dari sana. Bukan sifatnya jika harus bergolek-golek terus seperti itu. Tetap saja, hari itu tidak ada yang mampu menggerakkan kakinya melangkah turun dan aktif sebagaimana biasanya. Dyani mengerahkan seluruh tenaga dan semangatnya yang tersisa supaya akhirnya dirinya berjalan untuk mandi dan bersiap menerima kedatangan mereka. Pergerakannya sangat lambat dibandingkan kesehariannya yang serba cekatan. Sampai akhirnya pintu kamarnya diketuk dan wajah Tantri muncul disana.
“Ibu, mas Baskoro sudah datang. Ibu akan keluar sekarang,kan?”Tak ada jawaban.
“Kata si mbok, ibu seharian di kamar terus. Ibu sakit?”
“Nggak…ibu cuma kurang tidur. Tunggulah di ruang tamu, ibu kesana sebentar lagi”


**
TINGGAL beberapa langkah jarak antara Dyani dan sosok lelaki kekasih Tantri ketika ia menghentikan langkahnya perlahan, ragu. Lelaki itu membelakangi arah kedatangannya, namun Dyani sangat mengenal sosoknya yang tegap dan jelas terlihat meski sedang duduk. Sosok itu yang membuat Dyani lalu ragu untuk melangkah lagi. Tantri lah yang kemudian segera memberitahukan kehadiran ibunya di ruang tamu itu. Pemberitahuan biasa agar kekasihnya itu menyapa ibunya, namun yang terjadi sesudahnya tidak terduga sama sekali. Sebab sejak detik itu, segalanya menjadi luar biasa bagi Dyani, Tantri maupun Baskoro.

**
SEKIAN menit dan jam yang berlalu hilang dari catatan Dyani, sampai akhirnya didengarnya Tantri memanggil-manggil namanya entah untuk yang keberapa kali. Sayup dibukanya matanya dan segera ditangkapnya seraut wajah cantik sang permata hatinya. Namun apa yang dilihatnya itulah yang meletuskan sebuah tangis perih dari bibirnya. Tangis yang menjadi jeritan tak kunjung henti karena segera terasakan oleh Dyani luka yang disimpannya di hati menganga semakin lebar . Di sudut ruangan , di kursi tanpa lengan, sang lelaki terduduk lemas. Tangan kekarnya bertumpukan lutut menutupi wajah dan sesekali terdengar erangan dari mulutnya. Pemandangan memilukan itu terus berlangsung tanpa Tantri ketahui penyebabnya . Ia bingung karena semua rencana yang disusunnya berjalan jauh dari khayalannya. Dan semakin menyiksa lagi, karena tak satupun dari kedua orang yang berlaku aneh di hadapannya itu bisa segera menjelaskan apa yang terjadi.

Menit-menit yang berlalu kemudian semakin terasa menyiksa bagi Tantri. Kebingungannya tentang peristiwa di hadapannya yang tak juga mendapatkan penjelasan, kini semakin menghantamnya ketika tiba-tiba ibunya berteriak,
“Gugurkan bayi itu, Tantri….!”
Tantri terhenyak dan mual seketika. Ibunya seperti hilang akal, merintih dan terus menjerit agar ia menggugurkan kandungannya.Dipalingkannya pandangan pada Baskoro mencari kepastian akan apa yang didengarnya. Tetapi rintihan yang berulang tidak memerlukan lagi telinga lain untuk memastikan pendengarannya. Justru sikap Baskoro yang semakin menenggelamkan wajah dalam dekapan tangannya, diselingi sisiran tak beraturan jari-jari ke arah rambut tebalnya, menerbitkan tanya yang lain di hati Tantri. Hati kecilnya mengatakan Baskorolah penyebab pingsannya ibu. Dan Baskoro pasti juga tahu mengapa ibunya sekarang ingin ia menggugurkan kandungannya.

Tak sabar, segera ditariknya tangan Baskoro dari wajahnya yang sudah basah.
“Jelaskan padaku mas, ada apa semua ini?”
Napasnya memburu dan merasa tak ada waktu lagi untuk menunggu.
“Kamu pasti tahu dan harus mengatakannya sekarang!”
“Tantri,…kau dengar ibumu. Kita gugurkan bayi itu…..”
“Tidak mungkin!”
“Bayi ini milikku, aku yang berhak memutuskan. Lalu kenapa semua minta aku menggugurkannya?”
“Ada apa, mas…..? Ibu…kenapa?”
Suaranya mulai bergetar, ada takut disana.
Tantri beringsut mendekati ibunya. Tangan ibunya lembut menelusuri kepalanya. Isak tangis kini menjadi miliknya juga.

**
LORONG itu terasa begitu panjang. Anginnya begitu dingin mengiris kulit.
“Dia ayahmu, Tantri…Baskoro ayahmu…”
Keheningan panjang yang begitu dalam. Tantri hanya ingin mencoba mengerti arti kalimat itu. Tetapi semua begitu lugas baginya. Dan tak didengarnya lagi kalimat terakhir ibunya,
“Maafkan ibu, anakku….”
***

Pepih Nugraha

Jakarta, 13 November 2006

Saturday, November 11, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (14)


Asyiknya Bila Sedang “Flow”

Beberapa minggu lalu saya diminta rekan blogger Amril Taufik Gobel untuk menulis sebuah artikel tentang blog yang akan dimuat di blogfam miliknya dan rekan. Tentu setelah kami saling kenal dan menyapa di blog masing-masing. Mungkin karena beberapa kali saya menulis di Kompas mengenai kehebatan sekaligus manfaat blog dan asyiknya bermain di blog, saya dianggap orang yang tepat menulis tentang blog.

Sahabat bisa membaca kembali tulisan saya ini di sini. Tetapi yang ingin saya katakan, saya menulis artikel yang lumayan panjang itu hanya dalam tempo 15 menit! Hebatkah itu? Ah, tidak juga! Saya hanya ingin katakan bahwa tatkala saya menulis artikel itu, saya sedang dalam keadaan “flow”, mengalir bagai air sungai berair deras. Tak ada yang bisa merintangi arus air yang sedemikian deras mengalir, sepertinya ingin cepat sampai ke hilir saja.

Suatu waktu, sahabat bakal menemukan keadaan “flow” atau mengalir ini saat menulis, menulis apa saja, fiksi maupun nonfiksi. Nah kalau keadaan mengalir ini sudah sahabat dapatkan, hanya ada satu rumus: jangan berhenti! Terus, terus saja menulis, sampai akhirnya kita capek sendiri. Benarkah demikian? Ya, setidak-tidaknya sudah saya buktikan dan sering saya buktikan sendiri.

Asal tahu saja, keadaan “flow” seperti ini tidak gampang, sulit dicari waktunya, namundia akan datang sendiria seperti jodoh. Kadang beberapa penulis dan pengarang berusaha menciptakan suatu suasana dengan harapan suasana “flow” itu datang sesering mungkin. Ada yang menulis menjelang pagi, mulai jam 12 malam seperti hantu yang mulai berkeliaran (dalam dongeng), atau justru di tengah kesibukan yang luar biasa, seperti sahabat barangkali. Ah, bebas saja, cari suasana apapun untuk mendapatkan keadaan "flow" itu!

Soal kualitas? Wah, saya tidak tahu. ‘Kan saya tidak pernah tahu kalau sebuah tulisan yang sahabat buat selesai dalam waktu lima atau sepuluh menit karena sahabat tidak pernah menceritakannya, bukan? Kecuali artikel saya ini karena saya menceritakannya! Soal penilaian, terserah sahabat saja. Semoga bermanfaat!

Berdamai dengan Blog

oleh Pepih Nugraha

Sekali-kali, jalan-jalanlah ke warung internet yang menyediakan fasilitas selancar di dunia maya. Apa yang mereka lakukan? Selain melakukan chatting atau dolanan (games) bisa dipastikan mereka sedang ngeblog alias mengutak-atik blog sendiri atau blogwalking ke blog milik orang lain. Itulah gaya hidup para netter sekarang ini!

Saat kehadirannya dulu, para pegiat jurnalistik di media massa arus utama (mainstream) mencibir blog. Selain isinya sekadar “sampah” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi dipercaya sebagai berita, blog hanyalah pelampiasan orang-orang narcistis, pelampiasan ibu-ibu rumah tangga yang kurang kerjaan, atau mereka yang suka memamerkan cerita hidupnya dalam sebuah catatan harian terbuka dimana semua orang bisa mengintipnya. Para blogger dianggap orang-orang yang “senang diintip!”


Itu cerita lama. Sekarang, kadang media massa arus utama juga bertekuk lutut atas kecepatan informasi para blogger. Ingat peristiwa Bom London yang sangat fenomenal. Televisi pun menayangkan peristiwa mencekam dari reruntuhan stasiun bawah tanah itu dari seorang blogger yang merekamnya lewat kamera handphone-nya. Hasil jepretan dalam bentuk video itu ia posting ke blog milknya. BBC segera menyiarkan berita dan gambar hasil karya seorang blogger ini dengan bangga.

Mengapa?
Bangga, karena wartawannya sendiri masih belum mendapatkan apa-apa selain gambar puing-puing dan reruntuhan ledakan bom teroris itu, tidak ada dramatisasi di sana, hanya gambar-gambar mati yang sudah sepi. Sementara gambar hidup bagimana paniknya orang-orang di bawah tanah beberapa detik setelah ledakan sudah dapat disaksikan di televisi! Ingat juga, gambar yang paling “berbicara” dari bencana tsunami di Aceh adalah hasil bidikan warga biasa dengan kamera genggamnya.

Semua cerita tentang kiprah para blogger ini sudah saya uraikan dalam beberapa seri tulisan mengenai blog di Harian Kompas, institusi pers dimana saya bekerja sejak 1990. Tetapi saya juga mempostingnya di alamat blog saya, www.pepihnugraha.blogspot.com. Di blog saya itu, saya tidak melulu bercerita tentang diri saya, tetapi saya sengaja berbagi ilmu dan pengalaman menulis. Rekan-rekan yang berniat untuk sama-sama belajar menulis bisa bergabung. Di sana, ada pelatihan kecil-kecilan, tutorial interaktif, dan tak lupa menampilkan hasil karya blogger yang sama-sama belajar menulis tadi.

Sebagai jurnalis mainstream dari sebuah media massa mainstream, semula saya tidak percaya akan kekuatan blog. Saya semula juga sinis menghadapi kegandrungan orang ngeblog dan memperlihatkan catatan hariannya yang privat ke ruang publik. Seorang wartawan wajib skeptis, ragu. Maka saya ragu menarik kesimpulan saya sendiri bahwa blog tidak lebih dari “sampah” sebelum saya menerjuninya.

Mula-mula saya mengintip blog orang lain, mempelajari isinya. Lalu saya cari lembaga yang membagi-bagikan blog gratis dan saya mencoba menjadi bagian darinya, bagian para blogger.
Bagi saya yang jurnalis dari dunia media massa mainstream, mau tidak mau harus berdamai dan berjabat tangan dengan blog, bukan malah memusuhinya, mencibirnya, apalagi menjauhinya. Mengapa? Sebab, tidak jarang ilham menulis dan mengembangkan berita muncul setelah membaca blog orang lain, setelah saya melakukan blogwalking.

Bukankah saya menulis berser-seri mengenai keunggulan blog di Harian Kompas justru setelah menerjuni blog ini? Setelah saya tahu dan dalami apa itu blog.
Banyak manfaat daripada mudzarat bila kita menjadi bagian dari komunitas para blogger. Selain dapat saling bertutur-sapa, bersilaturahmi secara virtual, blog menyadarkan kita bahwa kita tidak hidup sendirian. Beribu-ribu sahabat siap menyambut dan menyapa jika kita berkunjung ke blog mereka.

Ingat, Bunda Inong yang meninggal dunia setelah meninggalkan jejak tiga blognya, telah dilayat beribu-ribu orang. Bahkan sampai sekarang “rumahnya” (baca blog) yang kosong masih tetap dikunjungi ratusan pelayat.
Kisah Inong inipun sudah saya tulis di Harian Kompas, sebuah tulisan yang tidak mungkin ada kalau saya tidak berkenalan dengan dunia blog.

Blog adalah ruang publik. Tidak ada lagi ruang privat bagi pemilik blog jika ia berkhidmat dan berdamai dengan kenyataan, bahwa membuat blog adalah siap memasuki komunitas virtual global, yang tidak lagi tersekat-sekat oleh ras, agama, bangsa, maupun negara. Kita menjadi bagian dari dunia virtual tanpa batas, sehingga gaya hidup kita pun harus menyesuaikan diri dengan keadaan global.

Beberapa dekade lalu McLuhan telah meramalkan adanya global village atau desa dunia ini. Blog mempercepat kenyataan ini.
Di ruang publik yang besar ini, bahkan sangat besar, kita bisa saling bertukar pikiran, berdiskusi untuk topik khusus, ngegerundel karena menyaksikan jalannya pemerintah yang lelet, atau sekadar mengumpat diri sendiri lewat puisi-puisi kita. Mengapa tidak? Mencari teman atau jodoh di dunia maya untuk dibawa ke dunia nyata, tidak mustahil dilakukan. Blog sudah sering membuktikannya. Istilah “kopdar” alias kopi darat, adalah upaya para blogger untuk saling kenal di dunia nyata Bagi para netter, siap-siap saja dibilang “ketinggalan zaman” atau “kurang gaul” kalau belum punya blog sendiri.

Bagi pelajar dan mahasiswa, blog digunakan untuk saling menanyakan pekerjaan rumah (PR) atau tugas-tugas kuliah. Bukankah seorang dosen juga bisa membuat blog sendiri dan membagi-bagikan tugas atau mengajar online di sana? Bukankah cara ini lebih praktis dimana mahasiswa dari berbagai tempat bisa langsung “berhadapan” dengan sang dosen? Kalau sudah begini, apa fungsi suatu tempat (ruang kuliah) kalau itu sudah diambil alih dunia maya, oleh dunia blog?


Blog adalah media komunikasi baru yang mencerahkan, yang tidak terbatas pada usia tertentu, tetapi ia bisa digunakan sebagai media pembelajaran bagi semua usia. Bagi saya yang jurnalis dari media massa mainstream, tidak ada jalan lain selain harus berdamai dengan blog. Bukan hanya sekadar membaca blog orang lain, tetapi juga membuat blog sendiri. Dengan blog, sekarang saya bisa lantang mengatakan: inilah saya!

Pepih Nugraha
Bintaro, 11 November 2006