Monday, September 29, 2008
Catatan (66): Selamat Berlebaran
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:06 AM
2
komentar
Label: Catatan, Idul Fitri, Lebaran, Mudik
Wednesday, September 24, 2008
En Passant
SAYA beruntung dapat mengikuti paparan Chris Anderson penulis buku laris "Long Tail" di Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu. Saya menyimak betul paparannya meski belum baca bukunya kala itu. Rekan saya, Budi Putra yang sudah membacanya mengompori saya untuk segera membacanya. Kini saya sudah membacanya.
Intinya buku itu mengajarkan bagaimana kita mengambil untung dari banyaknya ceruk (niche) yang diibaratkan ada pada ekor naga yang panjang itu. Saya jadi teringat bisnis cara ini sudah dipraktikkan sejak lama oleh para pengusaha kecil di Wonogiri sampai Tasikmalaya. Caranya jualan dengan jenis yang beragam pilihan tapi ngambil untung sedikit saja. Analoginya: ambil untung sedikit dari yang banyak, jangan ambil untung banyak dari yang sedikit!
Dengan cara itu, untuk apa bikin film box office dengan biaya triliunan rupiah kalau hanya meraih untung setarikan napas saja. Bagi penjual CD film, lebih baik menjual kembali film-film lama atau bahkan klasilk dengan membeli murah hak cipta daripada menjual film-film box office.
Dalam kesempatan berharga di Amsterdam itu, saya mendapat pelajaran bagaimana cara berbisnis dengan menggratiskan barang dan khususnya jasa, tetapi kita mendapat untung dengan cara lain. Contoh, saya tidak percaya kalau ada tiket pesawat Spanyol-Amerika yang harganya cuma US$10 atau sekitar Rp 94.000.
Bagaimana perusahaan penerbangan bisa untung? Ternyata untuk memesan tiket murah itu dilalukan lewat internet dengan keharusan berkunjung ke situs milik maskapai itu. Dalam sekejap, situs itu dikunjungi jutaan orang. Dengan cerdik, maskapai itu menawarkan halaman situsnya untuk memasang iklan. Jadi, maskapai itu mendapat untung besar dari pemasang iklan, yang keuntungannya jauh lebih besar daripada menjual tiket pesawat terbang!
Di Kompas, saya pernah menulis artikel yang menyarankan agar Kompas digital atau Kompas epaper (http://epaper.kompas.com/) digratiskan saja, jangan sekali-kali menjadikan dia koran digital berbayar. Jangan pungut uang pembaca. Toh kalau digratiskan, banyak orang yang berkunjung ke situs Kompas digital itu.
Darimana Kompas dapat untung? Dari pemasang iklan! Ini beda dengan pemasang iklan di Harian Kompas, tapi memasang iklan dengan tampilan "rich media" yang kaya, hidup, interaktif, dan bergaya. Sampai sekarang, saat Kompas epaper diluncurkan awal Juli lalu, masih digratiskan. Tapi sayang orang-orang iklan belum menggarap dan menganggap bahwa itu tambang uang baru!
Sama saja dengan konsep "free paper" ala Rupert Murdoch yang mengratiskan korannya tapi bisa menghasilkan uang dari pemasang iklan! Di Jakarta, band Naif menggratiskan CD rekaman terbarunya, tapi keuntungannya ia bisa manggung dimana-mana dengan perolehan besar. Saat saya bertugas di Makassar, penyanyi Iwan Tompo tidak berharap banyak dari royalti kaset dan CD rekamannya karena serangan pembajak. Tapi ia bisa hidup layak dari panggung ke panggung karena ia menjadi terkenal. Kaset dan CD yang tidak menguntungkan itu ia anggap sebagai promosi gratis!
Di Semarang saya bisa mengajar, jadi dosen terbang, pembicara dalam seminar, tampil di televisi, dan jadi dosen di Universitas Media Nusantara (UMN), sedikit banyak berkat menggratiskan kemampuan saya di bidang jurnalistik dan penulisan di blog Beranda t4 Berbagi ini. Banyak tawaran mengajar dan membuat buku hanya karena mereka membaca blog Beranda ini. Padahal, saya ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman.
Di Semarang ini pula saya teringat Chris Anderson dengan "Long Tail"-nya. Tidak terasa, ternyata selama ini saya telah mempraktikkan bisnis "free" dan "long tail" secara tidak langsung. Hasilnya baru terasa sekarang ini.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:09 PM
3
komentar
Label: Chris Anderson, En Passant, Long Tail, Media Massa
Monday, September 22, 2008
Dari Kompasiana (3)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:34 PM
1 komentar
Label: Kompasiana, Pasuruan, Tragedi Kemanusiaan, Zakat
Sunday, September 21, 2008
Citizen Journalism (28)
Robot Melek Ponsel
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:55 PM
0
komentar
Label: Amsterdam, Belanda, Citizen Journalism, Nokia, Star Wars
Thursday, September 18, 2008
Catatan (65): Foto Soeharto
Foto Pak Harto Yang Bersejarah
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:40 PM
0
komentar
Label: Catatan, Gus Dur, Presiden Soeharto
Citizen Journalism (27)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
5:20 AM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Limbah plastik, Panjalu
Wednesday, September 17, 2008
Dari Kompasiana (2)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:42 AM
0
komentar
Label: Daging, Daur Ulang, Kompasiana, Makanan
Tuesday, September 16, 2008
Citizen Journalism (26)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:23 PM
0
komentar
Label: Bazaar, Citizen Journalism, Djoni Irawan, Sepeda Ontel, Vila Bintaro Indah
Monday, September 15, 2008
En Passant
Kompasiana Go Online
INI proyek yang pengerjaannya paling sering tertunda, mungkin juga dipilih sebagai prioritas terakhir. Akan tetapi sejak 1 September 2008, blog khusus para jurnalis Kompas itu sudah bisa diakses di alamat http://kompasiana.com/.
Semangatnya, semua jurnalis Kompas yang mencapai 250 itu punya kavling masing-masing dengan mengisi kontennya sesuai preferensi individu. Saya sendiri punya kavling dengan alamat http://pepihnugraha.kompasiana.com/. Begitu juga jurnalis lainnya punya nama blog sesuai nama masing-masing.
Nama Kompasiana diusulkan wartawan senior yang biasa menulis kolom "Politika", yakni Budiarto Shambazy. Kompasiana sendiri adalah kolom pendiri Harian Kompas, PK Ojong. Budiarto sendiri menamai blognya di Kompasiana sebagai "Politiking". "Istilah itu tidak selalu berkonotasi negatif, saya akan kasih gambaran bagaiman berpolitik yang baik," katanya.
Sebagai pengasuh Kompasiana, saya harus selalu mengenalkan dunia blog, khususnya keberadaan Kompasiana kepada para jurnalis yang supersibuk. Tidak semua jurnalis akrab dengan blog. Jangankan punya, membaca blog orang saja barangkali belum pernah. Jadi alangkah senangnya ketika ada sejumlah jurnalis yang mau dibuatkan blog di Kompasiana, bahkan ada yang langsung mengisi kontennya seperti Agus Hermawan di alamat http://agushermawan.kompasiana.com/.
Mengapa jurnalis, termasuk jurnalis Kompas, harus ngeblog? Itu karena keniscayaan. Tengok koran-koran berskala internasional yang punya blog jurnalis sendiri. Uniknya, blog jurnalis ini justru lebih sering dikunjungi pembaca. Di blog ini si jurnalis bisa langsung berinteraksi dengan pembacanya.
Begitu pula harapan saya dengan Kompasiana dimana jurnalis Kompas bisa saling menyapa dengan para pembacanya. Di samping itu, Kompasiana memberi kesempatan jurnalis berpikir bebas mengenai hal apapun, yang tidak mungkin pemikirannya itu bisa ditulis di Harian Kompas sendiri.
Satu hal, dalam Kompasiana seorang jurnalis bisa menceritakan "behind the story" yang tidak bisa secara terang-terang diberitakan di koran. Jika tida sepaham dengan editor dan harus di-"kalahkan" atas nama kebijakan struktural, di sinilah tempatnya jurnalis mengungkapkan ketidaksetujuannya.
Kini Kompasiana masih dalam tarap pengembangan dan belum dikaitkan di navigasi Kompas.com, tetapi dalam waktu dekat siap diluncurkan. Hanya saja, satu fase penting, yakni mengajak jurnalis Kompas ngeblog, sudah terlampaui. Sekarang saya tinggal mengurus kontennya.
Selamat mengklik jurnalis blog http://kompasiana.com/.
Perjalanan macet Bintaro-Palmerah, 15 September 2008.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:06 AM
2
komentar
Label: Blog, En Passant, Kompasiana
Saturday, September 13, 2008
Catatan (64): UMN
Pertama, karena UMN punya Jakob sendiri, boss besar saya di Harian Kompas. Bahkan sepekan sebelumnya, Jakoblah yang melakukan peletakan batu pertama kampus UMN di atas tanah seluas delapan hektar di Summarecon, Serpong, Tangerang. Kampus berlantai sembilan itu akan dikebut pengerjaannya sehingga diharapkan selesai 9 September 2009. Masak saya menolak ketika pihak UMN meminta saya untuk mengajar!?
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
6:02 AM
3
komentar
Label: Catatan, Dosen, Serpong, Universitas Mulitimedia Nusantara
Citizen Journalism (25)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:00 AM
0
komentar
Label: Bangalore, Buku, Citizen Journalism
Thursday, September 11, 2008
Citizen Journalism (24)
"Fastfood" Korea dan Starbucks Botol
MEMESAN makanan serba cepat saat berada di Bandara Internasional Incheon Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu, adalah pilihan bijak daripada menahan lapar di tengah udara dingin mencekik. Dibilang cepat karena pramusaji yang hanya bisa berbahasa Korea itu akan menyiapkannya dalam beberapa menit saja cukup dengan menunjukkan gambarnya.
Bagi musafir Muslim seperti saya, paling aman memesan makanan yang ada kata "beef" atau "chicken", sementara saya tidak boleh tertarik bangsanya mie-mie Korea, meski sesungguhnya saya suka mie setengah mati.
Ada nasi wangi semangkok yang lengket seperti ketan, tumis tauge a la Korea, plus lobak cuka alias kimchi yang wajib tersaji setiap makan apapun. Bahwa saya bernapsu menghabiskan kari sapi Korea yang lezat, itu karena adanya Sturbucks kemasan botol yang disajikan secara dingin. Pilihan tentu saja jatuh pada Cappucino, sebagaimana kalau saya ngopi panas di Starbucks manapun di seluruh dunia. (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:56 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Incheon, Korea Selatan, Makanan, Seoul, Starbucks
Citizen Journalism (23)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:32 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Hutan Taman Kota, Senayan
Tuesday, September 09, 2008
Catatan (63): Rama Pratama
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
6:45 PM
0
komentar
Label: Amien Rais, Catatan, Rama Pratama
Thursday, September 04, 2008
En Passant
SUDAH lama ada keinginan ngeblog sambil lalu atau "en passant", tapi baru hari ini saya mencoba dan berhasil melakukannya. Ke depan, dimanapun saya berada tidak harus membuka laptop, cukup merogoh ponsel Vadafone dengan aplikasi Blackberry.
Jadi, tidak ada lagi cerita saya menunda ngeblog hanya karena keterbatasan PC dan internet. Saya bisa ngeblog dimanapun, sedang menanti pesawat di bandara, bahkan saat sedang berkendaraan. Saya bisa ngeblog sambil jalan kaki atau menanti pesanan tiba di rumah makan. Soal tampilan, nanti di-edit bila sudah dalam suasana tenang. Anggaplah "en passant" ini ngeblog saat dalam keadaan darurat.
Ini adalah postingan pertama hasil ngeblog secara mobile menggunakan ponsel. Saya memberi rubrik ini "En Passant" yang berarti sambil lalu. Maksudnya saya mengisi konten ini sambil bergerak lewat aplikasi Blackberry. Terima kasih teknologi!
Jakarta, 4 September 2008
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:12 PM
3
komentar
Label: Blackberry, Blog, En Passant
Wednesday, September 03, 2008
Catatan (62): Tentang Harmoko (4)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:17 PM
2
komentar
Label: Catatan, Harmoko, Safari Ramadhan
Berbagi Pengalaman Menulis (73)
Soal tawaran bermain film, pemeran film Cinta dalam Sepotong Roti ini mengaku sering menolak. Alasannya, ia ingin lebih memerhatikan anak-anak. Sementara itu, Cooking with Love adalah buku yang didedikasikan kepada almarhumah Inong, blogger yang selalu berbagi resep masakan dan juga anggota We R Mommies. (PEP)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
7:46 PM
0
komentar
Monday, September 01, 2008
Citizen Journalism (22)
Parkir Tak Beraturan
SEKALI lagi saya menangkap dua momen aneh di dua tempat parkir berbeda. Sedihnya lagi, satu tempat parkir justru berada di lingkungan kantor dimana saya bekerja. Satu lagi di Bintaro Plaza, dimana dua mobil sama-sama terparkir di tempat yang tidak semestinya, Minggu (31/8) lalu. Di tempat parkir kantor saya, sebuah Kijang kapsul yang biasa digunakan mobil dinas wartawan, terparkir di luar batas yang ditentukan. Memang tidak mengganggu orang yang hendak parkir karena tidak mengambil tempat parkir lain, tetapi malah mengganggu mobil lain lewat karena persis mengambil badan jalan tikungan. Sedangkan di Bintaro Plaza, dua mobil sama-sama terparkir saling mengambil tempat parkir lain. Pertanyaannya, buat apa-apa kotak-kotak yang dicat putih itu, apakah itu hanya sekedar hiasan belaka?
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
6:44 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, parkir
Citizen Journalism (21)
Masilam Masuk WEB
MEMBACA judul di atas harus sedikit mengernyitkan dahi, setidak-tidaknya apa maksudnya? Masilam di sini bukan nama batak "Marsilam", tetapi kependekan dari "Manusia Masa Silam" dan WEB di sini bukan situs di internet, tetapi "Week End Bazaar", sebuah bazzar mingguan di halaman Restoran Wong Solo, Bintaro. Gambar di atas adalah dua orang pecinta sepeda ontel, lengkap dengan aksesori masa silamnya, yakni topi caping atau dalam bahasa Sunda dudukuy cetok, plus sepeda ontel yang memang berasal dari masa silam. Saya mengabadikannya dari sepeda ontel juga. Tentu saja mereka bukan manusia masa silam sesungguhnya, tetapi manusia masa kini yang hobi mengenang keanggunan masa silam. (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
5:39 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Ontel
Citizen Journalism (20)
Persiapan Sambut Paceklik?
MINGGU, 31 Agustus 2008 lalu adalah "mimpi buruk" bagi yang berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan manapun. Di hampir semua kasa pembayaran tercipta antrian panjang yang mengular tidak seperti hari biasanya. Waktu antri saja bisa mencapai satu jam lebih sebelum sampai ke tempat pembayaran, seperti di antrian Makro Ciputat. Hampir seluruh kasa dipadati antrian serupa. Di Carefour Bintaro (dulunya Alfa Bintaro) bahkan mobil pun tidak bisa masuk karena tempat parkir yang luas terisi penuh. Menurut Paramitha, warga Ciganjur, padatnya antrian di pusat-pusat perbelanjaan karena tiga hal: bulan muda, hari libur, dan menghadapi puasa Ramadhan. Alhasil. warga pun berbelanja apa yang bisa mereka bawa, seperti membekali diri saat-saat menghadapi paceklik panjang. Padahal, hanya menghadapi puasa Ramadhan, yang "ironisnya" justru mengajarkan kesederhanaan dan belajar berbagi rasa dengan sesama, terutama kaum papa. Apakah sebagian yang mereka borong itu juga buat kaum papa? Semoga.... (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
5:06 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Makro Ciputat
Citizen Journalism (19)
Pandangan Yang Terbatas
JANGAN pernah melawan alam, lebih baik bersahabatlah dengannya! Barangkali ini pepatah bijak. Baru diberi hujan lebat di jalan tol, Minggu, 31 Agustus 2008 lalu, pandangan ke depan pun menjadi sangat terbatas. Saya dan keluarga waktu itu berniat ke Makro Ciputat lewat jalan tol. Baru pertengahan jalan, hujan lebat turun bagai tercurah dari langit. Anehnya, kendaraan tidak juga memperlambat lajunya. Istri terbenam tidur, sementara sambil mengemudi saya keluarkan ponsel kamera dan mengambil beberapa momen dari belakang kemudi. Saya tahu ini berbahaya, tetapi hujan terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Hujan adalah sahabat saya. Salah satu momen yang saya abadikan itu adalah foto ini, pandangan yang terbatas! (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
4:55 PM
0
komentar
Label: Citizen Journalism, Hujan
Dari Kompasiana (1)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:10 PM
0
komentar
Label: Blog, Kompasiana