Showing posts with label Vila Bintaro Indah. Show all posts
Showing posts with label Vila Bintaro Indah. Show all posts

Tuesday, September 16, 2008

Citizen Journalism (26)


Kala "Roy" Jualan Sepeda


MASIH ingatkah sosok pria berkepala plontos nyebelin penggoda Sarah dalam sinetron kondang "Si Doel Anak Sekolahan" beberapa tahun lalu? Dialah Djoni "Roy" Irawan, pengacara yang pernah memainkan peran antagonis itu. Dimana dia sekarang?

Sudah sedemikian bangkrutkah ketika pada hari Minggu, 14 September lalu dia terlihat berjualan sepeda tua di bazaar amal sekaliber kompleks perumahan Vila Bintaro Indah? Tidak tanggung-tanggung, selusin lebih sepeda ontel dia tawarkan kepada para peminat, termasuk aksesorisnya.

Tunggu dulu! Pria yang berteman baik dengan Wakil Bupati Tangerang Rano Karno ini masih tetap pengacara dan bahkan punya kantor sendiri. Lalu mengapa dia mendadak jadi penjual sepeda? "Tidak juga, ini sekedar display aja," katanya saat saya tanya alasannya, ketika pria beranak empat ini menunggui koleksi sepeda ontel bersama teman-temannya.

Tak pelak lagi, bazaar amal bertambah meriah dengan kehadiran sepeda antik dari masa tahun 50-60'an itu, meski tak satupun sepeda ontel itu terjual. Beberapa orang bahkan diperbolehkan menjajal sepeda antik itu keliling arena bazaar, tanpa dibebani keharusan membeli. Ya, namanya juga display alias pameran.

Gambar Si "Roy" dengan koleksi ontel dan sejumlah detail sepeda antik itu ada di sini:


Monday, April 07, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (46)


Usir Gengsi, Banggalah sebagai Jurnalis (Studi Kasus Rano Karno-1)


DUA minggu lalu, sahabat saya sekaligus tetangga dan teman main catur, Djoni "Roy" Irawan, mengungkapkan akan adanya acara penghijauan di kompleks perumahan Vila Bintaro Indah, tempat kami selama ini tinggal. Saya sudah sejak lama bertetangga dengan pengacara yang juga pesinetron ini, semenjak saya tinggal di kompleks perumahan itu tahun 1994. Dalam sehari-hari, kami biasa bermain catur menggunakan jam catur dan jalan kaki santai bila hari libur tiba. Menurut Djoni, Rano Karno, aktor yang kini menjadi Wakil Bupati Tangerang, akan memberi penyuluhan kepada warga mengenai cara membuat pupuk kompos. "Ini kunjungan pertama Rano selaku wakil bupati, lho," katanya.

Djoni kemudian bertanya bagaimana caranya mengundang wartawan Kompas untuk bisa hadir meliput acara tersebut, mengingat dia sebagai Ketua Paguyuban VBI adalah pihak yang mengundang Rano sekaligus penyelenggara acara. Saya jawab, kalau mengundang formal bisa ditujukan kepada Harian Kompas langsung melalui pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, atau kepala desk bersangkutan. Tetapi saya katakan waktu itu, "Bukankah saya ini wartawan, Pak? Diundang atau tidak, saya akan hadir di acara itu!"

Djoni menjadi tersipu. "Kalau begitu Oom Nug aja yang meliput, ya, sekaligus saya undang secara resmi," katanya di sela-sela kami bermain catur, pada suatu sore yang cerah. Dia biasa memanggil saya "Oom Nug", sementara saya biasa memanggilnya "Pak Djoni".

Ada beberapa hal yang membuat naluri jurnalistik saya tergerak saat mendengar informasi Djoni Irawan. Pertama, seorang Rano Karno adalah public figure, orang ternama, yang dalam istilah jurnalistik sekecil apapun tindakannya pasti bakal membuat berita. Kedua, ini adalah acara kunjungan pertama anak aktor kawakan Soekarno M Noer itu sebagai "amtenar" alias pejabat di lingkungan Pemda Tangerang, jadi masuk kaidah first or last ist news. Ketiga, mengandung proximity alias kedekatan, yakni cakupan wilayah liputan dan kedekatan dengan pembaca yang biasa saya tawarkan untuk desk metropolitan. Keempat, itu peristiwa di depan mata saya, masak sebagai jurnalis melewatkan begitu saja peristiwa ini.

Sebagai sopan santun, saya lapor kepada kepala desk Metropolitan, Banu Astono, bahwa akan ada acara tersebut. Banu menjawab, "Silakan elu liput, beritanya bisa buat metro, bisa juga buat nama dan peristiwa." maksud saya lapor bukan apa-apa, biar tidak bentrok dengan wartawan metropolitan yang siapa tahu bertugas di sana. Toh kalau saya yang meliput, berarti saya memperingan tugas wartawan lapangan yang biasa meliput Tangerang.

Acara berlangsung meriah pada hari Minggu, 6 April 2008, di Kompleks Vila Bintaro Indah. Rano Karno hadir. Saya hadir juga, kali ini sebagai warga merangkap sebagai wartawan profesional. Beberapa tetangga menyapa saya, "Beneran meliput, nih?" Wah, rupanya mereka ragu, kok bisa-bisanya saya "hanya" meliput peristiwa "sekecil" kedatangan Rano Karno, gengsi dong! Mereka memang tahunya saya adalah wartawan politik yang biasa meliput peristiwa-peristiwa besar kenegaraan.

Sebagai wartawan, saya harus punya sikap yang tidak arogan atas sebuah peristiwa, harus selalu skeptis atas sebuah peristiwa sehingga mengharuskan saya hadir on the spot, harus memiliki keingintahuan (curiosity) yang tinggi. Saya tidak harus turun gengsi hanya karena meliput peristiwa "kecil" semacam itu. Saya tetap memegang satu prinsip dalam jurnalistik, bahwa "All news is local". Berita adalah peristiwa-peristiwa lokal!

Usai meliput, mengambil gambar, mewawancarai langsung Rano Karno, sebagaimana layaknya sebuah liputan, saya langsung ke rumah, menulis berita, lantas mengirimkannya plus foto lewat laptop mungil saya . Selesai. Hari ini, Senin 7 April 2008, berita itu sudah dimuat di halaman 28 Harian Kompas, yang bisa Anda baca kembali di bawah ini:

PENGHIJAUAN
Rano Karno Ajak Warga Tangerang Buat Kompos

TANGERANG, KOMPAS- Wakil Bupati Tangerang Rano Karno mengajak seluruh warga Tangerang menjaga lingkungan sekitar dengan memelihara dan menanam pohon, khususnya membuat kompos untuk mendaur ulang sampah organik.

Ajakan Rano disampaikan pada kunjungan kerja pertama setelah terpilih sebagai Wakil Bupati Tangerang di Perumahan Vila Bintaro Indah (VBI), Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Minggu (6/4). Acara yang dinamai ”Penghijauan VBI” itu diprakarsai Paguyuban VBI yang diketuai pengacara sekaligus pesinetron Djoni Irawan.

”Sudah saatnya kita ubah mindset kita bahwa sampah tidaklah identik dengan ’bau’ atau ’penyakit’. Sampah adalah uang dan bersih jika kita mampu mengelolanya dengan tepat, dengan menjadikannya sebagai kompos,” kata Rano yang memberi penyuluhan selama 1,5 jam kepada sekitar 1.000 keluarga, lengkap dengan mesin penghancur sampah organik.

Rano meminta ibu-ibu rumah tangga yang disebutnya sebagai ”manajer” dalam urusan sampah, memilah-milah sampah terlebih dahulu sebelum dibuang, yakni sampah organik berupa limbah makanan dan tanaman serta limbah anorganik berupa plastik. Limbah organik diolah sendiri menjadi kompos, sedangkan yang anorganik dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul.

”Ini yang saya maksud mengubah cara berpikir bahwa sampah tidaklah identik dengan bau atau penyakit. Membuang sampah berarti membuang uang,” katanya.

Perumahan Vila Bintaro Indah ditunjuk Rano sebagai ”pusat penghijauan” untuk tingkat perumahan di Tangerang. Ia mengangkat para pemulung yang biasa mengangkat sampah di perumahan itu sebagai ”pengurus sampah”, yang bisa memperoleh tambahan dengan bekerja sama dengan warga. Ia juga meminta Paguyuban VBI menyediakan lahan 200 meter persegi untuk dijadikan pusat pengelolaan sampah menjadi kompos, sementara alat-alat penghancur sampah organik diupayakan secara swadaya.

Dalam kesempatan itu, Rano yang didampingi Camat Ciputat Muhammad menyumbangkan tanaman langka, pohon kepel (Stelechocarpus burahol), yang ditanamnya sendiri dan memberikan belasan tanaman lainnya secara simbolis untuk ditanam di RT masing-masing.

Sedangkan tanaman yang disumbangkan Departemen Kehutanan dan sebuah bank untuk penghijauan Perumahan VBI sebanyak 1.000 tanaman.

Ditanya mengapa penghijauan dipilih sebagai program kunjungan kerja pertamanya, Rano mengatakan, sebab hal itulah yang dapat ia lakukan.

”Beberapa tahun sebelum saya jadi wakil bupati, saya sudah menjadi praktisi penghijauan dengan membuat kompos sendiri dan memelihara tanaman sendiri,” kata Rano kepada Kompas. Pemeran ”Si Doel” dalam sebuah sinetron itu diundang pada Konferensi Pemanasan Global di Bali beberapa waktu lalu karena kiprahnya di bidang pemeliharaan lingkungan.

Camat Ciputat Muhammad menyatakan siap menjalankan program sekaligus ajakan Rano Karno, apalagi pihaknya sudah memiliki agenda penghijauan yang disebut ”Pisambaring” atau Pilah Sampah Basah-Kering. ”Jadi, ajakan Pak Wakil Bupati itu sangat klop dengan program yang kami jalankan selama ini,” katanya. (PEP)

Monday, August 14, 2006

Citizen Journalism (1):


Turnamen Catur Anak-anak VBI

Dua hari berturut-turut, Sabtu sampai Minggu (12-13 Agustus 2006), di Pendopo Vila Bintaro Indah (VBI), berlangsung kejuaraan catur anak-anak se-RT 02. Tak dinyana dan tak diduga, yang mendaftar cukup banyak, 18 anak! Ini karena ada dua atau tiga anak dari RT lain yang ikut turnamen catur dengan uang pendaftaran Rp 5.000 itu (setara 50 sen dollar AS).

Kejuaraan menggunakan Sistem Swiss 5 babak dengan Ketua Panitia Pak Rosal dan Ketua RT, Pak Eko. Kejuaraan layaknya turnamen betulan karena menggunakan jam catur untuk masing-masing sembilan papan! Salut buat Pak Rosal yang menyediakan jam catur berikut papan caturnya sebanyak itu, plus dua jam catur yang ada di RT 02. Pak Rosal sangat jeli, teliti, dan sabar menghitung skor akhir, bahkan sampai menggunakan Sistem Solkoff kalau ada beberapa pecatur yang meraih angka sama. Persis turnamen sungguhan, sebab ada juga panggung kehormatan bagi pemimpin teratas!

Alhasil, selama dua hari itu, 18 anak saling berhadapan di atas sembilan papan catur plus jam catur mereka masing-masing. Waktu berpikir dibatasi 25 menit untuk masing-masing pemain. Tetapi kadang baru dua menit dan baru lima langkah pun sudah ada yang teriak, “Skak mat!”. Lucunya ada juga anak, Raki namanya, masih belum bisa bagaimana cara memukul lawan. Raki memukul bidak lawan dengan cara “nyerong” seperti dam-daman. Tetapi setelah diberi tahu, Raki menurut dan melanjutkan permainan!

Satu-satunya pemain puteri adalah Rani. Maka jelaslah dia menjadi bintang turnamen. Rani juga langsung menyabet predikat: pemain tercantik! Yang mengagumkan, Rani mampu menduduki empat besar. Mestinya peringkatnya akan lebih tinggi bila pada partai terakhir mampu memetik angka. Lawannya, Farhan, yang kemudian menjadi juara dua, menahannya remis, padahal Farhan kalah jauh kualitas dari Rani. Sayang, Rani yang berpenampilan “tomboy” itu tidak melihat jebakan remis yang memang sengaja dipasang Farhan.

Dalam turnamen ini adik Farhan, Fadli, keluar sebagai juara turnamen. Pak Rosal memang melatih ketiga putera-puteranya bermain catur menggunakan jam. Alhasil, sudah sangat terlatih. Farhan dan Fadli adalah dua dari tiga puteranya yang menduduki empat besar. Sedang si bungsu, menang dua partai terakhir atas lawan-lawannya dengan mat indah.
Rani bersama adiknya, Remo. adalah puteri dan putera dari Pak Djoni Irawan. Ingat nama ini? Dia adalah pemeran “Roy” yang berkepala plontos dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang naksir berat sama Si Sarah (Cornelia Agatha). Pak Djoni sudah sejak lama menjadi tetangga kami, setua VBI berdiri. Dia sangat berjiwa sosial, senang bergaul, dan rendah hati, meski rumah-rumahnya mentereng dan kekayaannya melimpah (Alhamdulillah). Dia juga sangat religius karena merupakan donatur tetap bagi mesjid di luar kompleks. Saya pribadi merupakan musuh besarnya saat bermain catur, tetapi sahabat yang hangat saat berdiskusi dan bertutur.
Bukan bermaksud menyombongkan diri, gairah catur di VBI kembali muncul sekembalinya aku dari pengembaraan selama kurang lebih 4,5 tahun (Makassar dan Surabaya). Setibanya di VBI, aku mengajak “ummat” catur seperti Pak Djoni, Pak Naela, Pak Kadmita, Pak Dinan, Pak Eko (kurang aktif tetapi mahir catur) dan pendatang baru, Yudhi (adik Pak Haryono) dan Dian. Ada juga tetangga lain, Pak RW, yang kadang nimbrung, juga seorang polisi yang kadang mampir main catur saat patroli. Kami biasa menggunakan jam catur dengan waktu berpikir 5 menit atau 7 menit!
Harus diakui, Yudhi-lah yang kemudian mengajarkan Rani dan Remo, mungkin juga anak-anak lainnya bermain catur dengan menggunakan jam catur di pendopo. Baron, putera Pak Panggabean, dilatih oleh Pak Naela. Eki dilatih ayahnya, Pak Eko, seperti halnya Kesit yang dilatih ayahnya, Pak Kadimita. Kesit dalam turnamen ini bahkan dijuluki “pemain bersertifikat” karena konon dilatih khusus oleh ayahnya sebelum bertanding. Benar-benar dipersiapkan.
Sedang Kakang, anakku, kadang bermain catur dengan ayahnya, aku sendiri, tetapi tidak pernah ingin belajar sungguh-sungguh. Yang membanggakan, dalam lima partai, Kakang menang dua kali atas Dendy (putera Pak Uripto) dan Jedi (putra Pak Samsir), meski tiga partai kalah oleh “kakak-kakaknya”: Kesit, Willy, dan Raki . Kakang ternyata sangat serius dalam berpikir, meski dia belum cermat atas langkah teralhir lawan. Tetapi secara prinsip bagaimana bermain catur, Kakang sudah tahu.

Oh ya, sedikit cerita tentang Pak Samsir. Dia adalah satu-satunya warga VBI yang sudah bergelar Doktor yang diraihnya di salah satu universitas di Malaysia. Selamat, kami sebagai warga bangga atas gelar yang disandangnya, semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak kami di VBI!
Turnamen catur dilanjutkan oleh bapak-bapak warga VBI, berlangsung dari Minggu sore sampai malam harinya. Pesertanya lumayan banyak, antara lain Pak Rosal, Pak Djoni, Pak Dinan, Pak Naela, Pak Eko, Pak Kadmita, Dian, Yudhi, Budhi, dan aku sendiri. Berlangsung menggunakan sistem round robin, dimana masing-masing pemain bertemu dua kali. Aku kalah telak 0-2 dari Pak Rosal, tetapi menang telak juga dengan 2-0 atas Pak Eko, Pak Kadmita, Pak Djoni, Yudhi, Dian. Aku belum bertanding dengan Pak Naela, Pak Dinan, dan Budhi. Menurut rencana, pertandingan akan berlanjut Sabtu atau Minggu pekan depan (19-20 Agustus). Saat berlatih dengan Pak Rosal, kami bisa saling mengalahkan.
Berita menggembirakan lainnya, Pak Rosal yang memang mahir catur (dialah yang terkuat di antara kami), bersedia mengajarkan anak-anak VBI bermain catur di pendopo. Dia kembali akan menyediakan jam dan papan catur yang banyak.
Berita menggembirakan lainnya, Kakang anakku, meminta diajari bagaimana bermain catur yang baik. Senin pagi, 14 Agustus, sebelum berangkat ke sekolah, dia membawa papan catur lipat dan menggelarnya untuk berlatih. Hem, mungkin dia geram atas tiga kekalahan dari “kakak-kakaknya” tetapi kurang puas atas dua kemenangan melawan “adik’adiknya”. Baguslah, Nak!
“Kakang sekarang mau belajar catur, Ayah,” katanya mencium tanganku sebelum berangkat sekolah.

Saat menjadi single parent seperti ini (bunda Kakang masih “nyangkut” di Surabaya), yang tersisa hanyalah rasa haru di dada saat memandang Kakang keluar mengenakan batik seragam sekolah SIT Auliya, untuk segera menuju mobil “ummi” yang sudah menunggunya di luar. Kakang anak yang tabah. Dua setengah tahun dia ditinggalkan ayahnya tugas ke Makassar, dan kini harus ditinggalkan bunda yang masih belum juga ditarik ke Jakarta. Sabar ya, Kang… anakku, matahariku….

Pepih Nugraha
Palmerah, 14 Agustus 2006.