Wednesday, September 24, 2008

En Passant


Long Tail

SAYA beruntung dapat mengikuti paparan Chris Anderson penulis buku laris "Long Tail" di Amsterdam, Belanda, beberapa waktu lalu. Saya menyimak betul paparannya meski belum baca bukunya kala itu. Rekan saya, Budi Putra yang sudah membacanya mengompori saya untuk segera membacanya. Kini saya sudah membacanya.

Intinya buku itu mengajarkan bagaimana kita mengambil untung dari banyaknya ceruk (niche) yang diibaratkan ada pada ekor naga yang panjang itu. Saya jadi teringat bisnis cara ini sudah dipraktikkan sejak lama oleh para pengusaha kecil di Wonogiri sampai Tasikmalaya. Caranya jualan dengan jenis yang beragam pilihan tapi ngambil untung sedikit saja. Analoginya: ambil untung sedikit dari yang banyak, jangan ambil untung banyak dari yang sedikit!

Dengan cara itu, untuk apa bikin film box office dengan biaya triliunan rupiah kalau hanya meraih untung setarikan napas saja. Bagi penjual CD film, lebih baik menjual kembali film-film lama atau bahkan klasilk dengan membeli murah hak cipta daripada menjual film-film box office.

Dalam kesempatan berharga di Amsterdam itu, saya mendapat pelajaran bagaimana cara berbisnis dengan menggratiskan barang dan khususnya jasa, tetapi kita mendapat untung dengan cara lain. Contoh, saya tidak percaya kalau ada tiket pesawat Spanyol-Amerika yang harganya cuma US$10 atau sekitar Rp 94.000.

Bagaimana perusahaan penerbangan bisa untung? Ternyata untuk memesan tiket murah itu dilalukan lewat internet dengan keharusan berkunjung ke situs milik maskapai itu. Dalam sekejap, situs itu dikunjungi jutaan orang. Dengan cerdik, maskapai itu menawarkan halaman situsnya untuk memasang iklan. Jadi, maskapai itu mendapat untung besar dari pemasang iklan, yang keuntungannya jauh lebih besar daripada menjual tiket pesawat terbang!

Di Kompas, saya pernah menulis artikel yang menyarankan agar Kompas digital atau Kompas epaper (http://epaper.kompas.com/) digratiskan saja, jangan sekali-kali menjadikan dia koran digital berbayar. Jangan pungut uang pembaca. Toh kalau digratiskan, banyak orang yang berkunjung ke situs Kompas digital itu.

Darimana Kompas dapat untung? Dari pemasang iklan! Ini beda dengan pemasang iklan di Harian Kompas, tapi memasang iklan dengan tampilan "rich media" yang kaya, hidup, interaktif, dan bergaya. Sampai sekarang, saat Kompas epaper diluncurkan awal Juli lalu, masih digratiskan. Tapi sayang orang-orang iklan belum menggarap dan menganggap bahwa itu tambang uang baru!

Sama saja dengan konsep "free paper" ala Rupert Murdoch yang mengratiskan korannya tapi bisa menghasilkan uang dari pemasang iklan! Di Jakarta, band Naif menggratiskan CD rekaman terbarunya, tapi keuntungannya ia bisa manggung dimana-mana dengan perolehan besar. Saat saya bertugas di Makassar, penyanyi Iwan Tompo tidak berharap banyak dari royalti kaset dan CD rekamannya karena serangan pembajak. Tapi ia bisa hidup layak dari panggung ke panggung karena ia menjadi terkenal. Kaset dan CD yang tidak menguntungkan itu ia anggap sebagai promosi gratis!

Di Semarang saya bisa mengajar, jadi dosen terbang, pembicara dalam seminar, tampil di televisi, dan jadi dosen di Universitas Media Nusantara (UMN), sedikit banyak berkat menggratiskan kemampuan saya di bidang jurnalistik dan penulisan di blog Beranda t4 Berbagi ini. Banyak tawaran mengajar dan membuat buku hanya karena mereka membaca blog Beranda ini. Padahal, saya ikhlas berbagi ilmu dan pengalaman.

Di Semarang ini pula saya teringat Chris Anderson dengan "Long Tail"-nya. Tidak terasa, ternyata selama ini saya telah mempraktikkan bisnis "free" dan "long tail" secara tidak langsung. Hasilnya baru terasa sekarang ini.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

3 comments:

Retty N. Hakim said...

he..he...he..pantes tadi promosi Kompas.com dan Kompasiana di harian cetak ya...

Bikin blog itu memang gratis, tapi selain amal juga promosi diri kok he..he..he...kedudukan sebagai wartawan jadi lebih eksis, bukan cuma sekedar inisial (Kompas sih sudah nggak pake inisial ya..)

ewi said...

Wah blognya asyik banget...nysel juga napa gak dari dulu rajin berkunjung kesini

StreetWise said...

itu mmg buku yg bagus bung. mengubah cara berfikir agar tidak best seller sentris...