Wednesday, September 03, 2008

Catatan (62): Tentang Harmoko (4)


Safari Ramadhan, Safari Politik
KARENA saya ditempatkan di partai politik, dan partai politik itu adalah Golkar, mau tidak mau saya harus mengikuti setiap gerak langkah ketua umumnya, yakni Harmoko. Termasuk ketika saya ditugaskan mengikuti acara "Safari Ramadhan", sebuah tradisi berbau politik yang dimulai saat Harmoko menjadi menteri penerangan tahun 1983.

Saat mengikuti safari itu saya sudah langsung mencium bahwa ini adalah safari politik kendati dibungkus dengan nama "Safari Ramadhan". Ada embel-embel Ramadhan di sana karena memang selalu dilaksanakan setiap kali Ramadhan tiba. Safari bisa berlangsung dua minggu, tetapi ketika saat ikut Safari Ramadhan tahun 1998, safari dilaksanakan kurang lebih 10 hari. Bayangkan, selama 10 hari itu saya harus mempersiapkan stamina yang tidak boleh kedodoran karena harus mengikuti safari sampai selesai. Rasa capek dan penat tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak puasa, apalagi saat itu krisis moneter sedang menerpa negeri ini.

Repotnya, usai Harmoko pidato atau "menyapa" rakyat dimanapun, sekalipun di tengah hutan, saya harus selalu mencari dan menemukan koneksi telepon agar bisa mengirimkan berita. Biasanya yang jadi andalan rumah pejabat setempat yang punya saluran telepon atau kantor-kantor Telkom ada. Program FTP untuk mengirimkan berita sering terputus di tengah jalan di saat berita belum terkirim. Begitu setiap hari. Tidak tenang karena harus selalu mencari sambungan telepon!

Saat perjalanan dimulai dari markas besar DPP Golkar di Slipi, Harmoko sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri penerangan. Saat itu Menpen dipegang Hartono dan saya punya cerita beberapa saat setelah Harmoko diberhentikan sebagai Menpen, yang akan saya ceritakan dalam kesempatan lain. Saya mengirimkan terus berita dari hasil safari menyusuri Pulau Jawa itu.

Saya juga mencoba merekam suasana Safari Ramadhan saat itu dalam sebuah tulisan yang bisa Anda nikmati di bawah ini. Tulisan ringan ini dimuat di Kompas edisi Senin, 26 Januari 1998 halaman 15:

Safari Ramadhan
ADA TIKUS, ADA KRISIS MONETER

"Selamat pagi, Pak Menteri!"
"Lho, saya sudah bukan menteri lagi, saya ini orang Golkar."

Sapaan spontan seorang penduduk Gunungkidul dijawab Ketua Umum DPP Golkar Harmoko saat berlangsung Safari Ramadhan 8-13 Januari 1998 lalu. Melanjutkan tradisi. Itulah kata yang paling tepat untuk kiprah Harmoko selama enam hari berkeliling Pulau Jawa. Dengan berkendaraan bus bersama 12 wartawan dan fungsionaris Golkar, tidak kurang dari 13 kabupaten, enam pondok pesantren, dan puluhan industri kecil disinggahi.

Safari Ramadhan yang sudah dimulai tahun 1983, sejak Harmoko menjabat Menteri Penerangan, sesungguhnya merupakan perjalanan yang sarat bermuatan komunikasi politik. Dikatakan bermuatan komunikasi politik, karena sepanjang perjalanan dan tempat yang disinggahi, pesan-pesan pembangunan disampaikan kepada rakyat. Kalau toh makna komunikasi politik ini diplintir menjadi untuk kepentingan intern Golkar, juga tidak ada salahnya. Sebab, kerap saat berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan kader Golkar, Harmoko menyampaikan pesan-pesan politiknya.

Berbicara Safari Ramadhan adalah bicara tentang Harmoko. Atau kalau mau dibalik, Harmoko identik dengan Safari Ramadhan. Maka trade mark ini tetap melekat, meski hal itu dilakukan setelah Harmoko tidak lagi menjadi Menpen. Bahwa Safari Ramadhan juga identik dengan kegiatan Departemen Penerangan, itu tidak terlalu keliru. Soalnya saat Safari Ramadhan dimulai, Harmoko menjabat Menpen. Kini boleh diklaim Safari Ramadhan Golkar.
***

KRISIS moneter menjadi topik utama meskipun tidak pernah ditentukan sebelumnya. Maka sejak menginjak Sukabumi di Jawa Barat sampai Ngawi di Jawa Timur, dengan tak kenal lelah Harmoko menjelaskan krisis moneter kepada rakyat sekaligus bagaimana cara kita semua menyikapinya.

Di Kabupaten Madiun, misalnya, Harmoko memulai penjelasan soal krisis moneter dengan bertanya kepada sekelompok ibu-ibu. Apakah ibu-ibu merasa barang kebutuhan sehari-hari naik? tanya Harmoko yang dibenarkan ibu-ibu. "Bagus ibu-ibu menjawab 'naik', sebab kalau ibu-ibu menjawab 'turun' itu tidak benar. Harga-harga memang naik," sambung Harmoko disambut tawa hadirin.

Lalu dijelaskanlah asal-muasal mengapa harga kebutuhan sehari-hari naik yang dimulai dengan jatuhnya mata uang sejumlah negara Asia. Di Asia Tenggara krisis mata uang dikatakan Harmoko mulai dengan jatuhnya baht, Thailand, yang berlanjut ke ringgit Malaysia dan kemudian rupiah. Harmoko meyakinkan, bahwa tidak hanya Indonesia saja yang mengalami krisis moneter, tetapi juga negara-negara lain.

Solusi yang ditawarkan Harmoko untuk mengatasi krisis moneter adalah pengetatan ikat pinggang alias penghematan yang dikatakannya harus dari berbagai arah. Cara Harmoko menawarkan penghematan kepada rakyat cukup dengan menjelaskan, ibu-ibu yang biasanya membeli satu kilo minyak goreng, dianjurkan membeli seperempat kilo. Kalau pada akhirnya minyak goreng tidak terbeli, maka dianjurkan untuk direbus atau dikukus.

Demikian juga tatkala mencontohkan penghematan gula dan beras, Harmoko menyarankan hal yang sama seperti minyak goreng. "Kalau suami ibu protes mengapa kopinya pahit," kata Harmoko, "Jelaskan bahwa kopi itu memang pahit. Lalu sarankan suami ibu minum kopi kletakan: sruput kopinya, kemudian gulanya di-kletak atau digigit sedikit demi sedikit. Sama saja toh!"

Ketika harus menjelaskan reformasi politik dan reformasi ekonomi, Harmoko menjelaskan dengan mengumpamakan krisis moneter sebagai tikus yang menggerogoti lumbung padi. Dikatakan, yang harus dilakukan adalah mengatasi tikusnya, bukan malah membakar atau menghancurkan lumbung padinya. "Demikian pula kalau nyamuk (krisis moneter) masuk ke kelambu, nyamuk itu yang harus diatasi, bukan malah mengganti kelambu dengan kelambu buatan Amerika Serikat," kata Harmoko.

Safari Ramadhan juga menghasilkan temuan adanya anggota dewan yang sama sekali tidak pernah turun ke daerah pemilihan atau daerah binaannya. Ini terjadi di Desa Bendungan, Sragen. Keluarlah instruksi agar anggota F-KP, baik di DPRD I, DPRD II, maupun DPR agar rajin turun ke bawah (turba). "Ini masalah konduite, wakil rakyat yang tidak turba akan diberi peringatan. Kalau membandel, tidak mustahil kita recall," kata Harmoko.

Akankah tradisi yang sudah 16 tahun bergulir terhenti setelah Harmoko tidak lagi menjadi Ketua Umum DPP Golkar, misalnya, mengingat Munas Golkar akan berlangsung pada akhir 1998 nanti? Harmoko sendiri sebelum Safari Ramadhan menegaskan, "Saya akan tetap bersafari Ramadhan kendati sudah tidak menjabat apa pun." (PEP)

2 comments:

indrariawan said...

Terlepas dari itu adalah Harmoko atau Golkar. Safari ramadhan adalah cara partai politik berhubungan dengan konstituen maupun kadernya.
Ini yang tidak nampak pada partai partai sekarang (pemilu 2004 maupun 2009). Sehingga jangan heran jika AR lebih dikenal dibanding SB dikalangan PAN.

Pepih Nugraha said...

Tidak ada yang menyangkal itu Mas, Harmokolah yang sesungguhnya memelopori keharusan dekatnya elit politik parpol dengan konstituennya, entah itu namanya "Safari Ramadhan" atau "temu kader" yang pernah saya ikuti karena tugas liputan. Akbar Tanjung masih melakukannya. Politisi sekarang jarang melakukannya, bahkan di tubuh Partai Golkar sendiri. Kalla sibuk dengan urusannya sendiri, sementara partainya dibiarkan terpuruk. Pilkada kalah dimana-mana. Saya stuju, Amien Rais lebih dekat dengan konstituennya dibanding Soetrisno Bachir yang lebih percaya iklan di media massa, media ruang dan media luar ruang.