Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts
Sunday, October 26, 2008
Dari Kompasiana (5)
Fariz Rustam Munaf
SAYA terkejut juga ketika tulisan ringan saya mengenai penyanyi Fariz Rustam Munaf, yang lebih dikenal dengan Fariz RM, dibaca 747 kali saat saya masukkan ke Kompasiana hingga pukul 20.30 WIB Sabtu hari ini. Bagi saya itu jumlah pembaca yang lumayan besar dan terukur. Bukan karena tulisan itu menarik untuk dibaca, tetapi lebih faktor Fariz RM yang sampai sekarang masih punya banyak penggemarnya, dan bahkan di antara mereka masih banyak yang menantikan kehadiran album barunya.
Saya bertemu istri Oneng itu pada Kamis (23/10) lalu di kantor Redaksi Kompas setelah diajak rekan saya, Budiarto Shambazy. Terlalu sayang kalau dilewatkan begitu saja pertemuan saya dengan salah satu musisi yang saya kagumi. Maka saya menulis laporannya untuk Kompas.com beberapa menit setelah wawancara itu usai. Sedangkan tulisan yang saya maksud "inside story" itu saya tulis di Kompasiana.
Sahabat yang sama-sama ingin belajar menulis bisa membandingkan bagaimana penulisan tentang Fariz RM untuk Kompas.com yang resmi dibanding dengan tulisan untuk Kompasiana yang lebih ringan dan merdeka. Kompasiana adalah blog para jurnalis Kompas yang lambat tapi pasti mendapat pembacanya sendiri.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:06 PM
0
komentar
Label: Dari Kompasiana, Fariz Rustam Munaf, Musik
Thursday, August 21, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (71)
Menanti Klimaks
RABU, 20 Agustus 2008 malam, saya hadir di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) untuk menyaksikan soprano Aning Katamsi Asmoro dan tenor Christopher Abimanyu mengalunkan suara emas mereka. Saya tidak bermaksud menulis atau bahkan membuat berita. Akan tetapi karena tidak ada satu pun wartawan Kompas.com yang hadir saat itu, saya merasa terpanggil untuk menulis ulasannya, yang bisa Anda baca di sini. Saya menulis malam itu juga, seusai pertunjukkan mereka.Terus-terang, seorang jurnalis bisa terhanyut kala menikmati alunan sopran dan tenor Indonesia itu, plus iringan denting piano klasik yang membuai. Tetapi saya tetap "terjaga", tidak terlalu hanyut, dan siap menangkap "gejala aneh" yang mungkin terjadi pada tengah-tengah atau di akhir pertunjukkan. Saya tidak terlalu lama menunggu, sebab "gejala aneh" itu justru muncul di tengah pertunjukkan. Saya tidak harus menunggu klimaks!
Apa gerangan "gejala aneh" yang berhasil saya tangkap itu? Anda bisa membacanya di bawah ini, ditambah foto Aning yang sedang dipeluk ayahandanya, Amoroso Katamsi, yang saya ambil usai pertunjukkan dengan menggunakan ponsel kamera. Inilah tulisannya:
Dan, Suara Aning Pun Tercekat
Kemana kau pergi sunyilah malamku
Tak bisa kutahu kemana cintamu…
Tiba-tiba suara soprano Aning Katamsi Asmoro tercekat, seakan-akan tak kuasa melanjutkan syair berikutnya… Malam kutidur dalam diri… indahnya tiada arti. Aning tampak mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Penonton yang terduduk rapi di ruang utama Bentara Budaya Jakarta, Rabu (20/8) malam pun semakin terpaku dalam diam, menanti apa yang selanjutnya akan terjadi.
Akan tetapi, Aning melanjutkan lagu “Elegie” gubahan FX Soetopo itu sampai akhir… Alangkah jauhnya hari, alangkah jauhnya hari. Ada apa gerangan, Aning?
Jawaban dari pertanyaan itu baru diketahui saat Konser Musik Tiga Komposer itu berakhir. “Maaf saya tadi terlalu terhanyut, saya terkenang mendiang Ibu,” kata Aning meminta maaf kepada khalayak penonton yang memberi applause setiap kali Aning dan juga penyani tenor Christopher Abimanyu usai melantunkan lagu-lagu tiga komponis besar yang mereka berdua bawakan.
Aning yang lahir di Cilacap 3 Juni 1969 ini adalah anak Pranawengrum Katamsi, penyanyi seriosa kenamaan yang kini telah tiada. Lagu “Elegie” seperti diakuinya kemudian mau tidak mau mengingatkan ibundanya yang telah mewariskan bakat seni kepada dirinya. Ibundanya itulah yang mengajarkan vokal untuk pertama kalinya kepada Aning.
Pada malam itu bersama Christopher Abimanyu, penyanyi tenor kelahiran Bandung tahun 1970 yang sangat konsisten menyanyikan lagu-lagu klasik, Aning tampil sempurna membawakan 24 lagu klasik gubahan Binsar Sitompul (1923-1991), Mochtar Embut (1934-1973), dan FX Soetopo (1937-2006), secara bergantian. Kalaupun ada suara yang tercekat, itu karena kenangan akan ibunya meski tidak mengganggi suaranya yang mengalir bening. Aning dan Christopher malam itu diiring alunan piano yang dimainkan Ratna Arumsari Ansyar.
Aning sering tampil dalam resital tunggal, bekerja sama dengan berbagai orkestra di tanah air seperti Orkes Simfoni Jakarta, Twilite Orchestra, Nusantara Symphony Orchestra dan Jakarta Chamber Orchestra. Sebagai solis sopran, Aning pernah membawakan sejumlah komposisi antara lain “Stabat Mater” (Pergolesi), “Requem” (Mozart), dan “Dixit Domingus” (Handel).
Sedangkan Christopher mulai belajar vokal saat berusia 15 tahun pada penyanyi tenor kenamaan Sudaryanto, Marijke ten Kate dan Avip Priatna. Christopher pernah membuat album seriosa Indonesia “Sebutir Mutiara” bersama Ine Lopulisa. Bersama pianis Iswargia Sudarno, ia pernah tampil dalam Art Song Series yang menampilkan siklus “Die Schone Mullerin” karya F. Schubert. (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:12 PM
0
komentar
Label: Aning Katamsi Asmoro, Berbagi Pengalaman Menulis, Musik
Friday, July 11, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (65)
Meliput dan Menulis Pertunjukan Musik
SEBAGAI wartawan, saya kurang nyaman bila hanya duduk di kantor. Saya lebih suka "kelayapan" melihat kehidupan dan memaknai kesibukan orang bekerja. Maka ketika Kompas.com punya acara "kamisan" dengan memanggungkan grup-grup musik papan atas di acara Kompas.com Music Corner, saya antusias menontonnya dan terlebih lagi tertantang untuk menuliskan aksi panggung sang artis.
Kebetulan pada hari Kamis, 10 Juli 2008 itu grup band yang tampil adalah Kerispatih. Band yang cukup berkibar di Tanah Air. Saya menyimak dari awal sampai akhir penampilan Sammy, Badai dan kawan-kawannya beraksi. Kebetulan pula, Mbak Ati dari Entertainment Kompas.com memberi keleluasaan apakah saya mau menuliskan beritanya atau tidak. Tanpa diberi pilihan inipun saya pasti akan menuliskannya!
Jika saya menuliskan semata apa yang mereka lantunkan dan bagaimana reaksi penonton, itu mungkin sudah biasa. Saya harus menulisnya dari angle atau sudut pandang lain. Saya menangkap nuansa yang berbeda, yakni suasana lain yang lebih ringan dan renyah. Ini berkat saya menyimak acara itu. Interaksi antara salah seorang penonton bernama Bayu dengan Sammy, vokalis Kerispatih, ternyata menjadi warna dan nuansa tersendiri. Jadi, saya ambil peristiwa itu sabagi tag untuk kemudian saya jadikan lead berita.
Meski saya menulis straight news dan tidak dimaksudkan sebagai feature murni, saya menggambarkan aksi panggung itu dengan gaya news feature yang lebih bebas dan lepas. Maksudnya, saya tidak terlalu terikat rumus klasik dari Rudyard Kippling, "5W+1H". Saya menuliskannya dengan lead bergaya tricky dan provokasi sebagai teaser. Maksudnya tidak lain untuk menggugah kesadaran pembaca.
Tulisan itu kemudian dimuat di http://www.kompas.com/ di kanal Entertainment, yang bisa Anda baca di bawah ini. Saya sertakan pula foto karya Fikria Hidayat dari Kompas Images Kompas.com. Silakan...
Sammy Duet, Kerispatih Bubar?
JAKARTA, KAMIS - Sammy, vokalis Kerispatih, yang memiliki nama lengkap Hendra Samuel Simorangkir, berduet dengan Bayu, seorang penyanyi pendatang baru. Akibatnya, akan bubar jalankah grup musik beraliran pop yang sedang tinggi bertengger di blantika musik Tanah Air tersebut? Siapa Bayu, si vokalis pendatang baru itu?
Tunggu dulu! Sammy memang berduet dengan Bayu, tetapi tidak kurang dari dua menit saja. Mereka berdua membawakan Sepanjang Usia, lagu Kerispatih yang dicipta oleh Doadibadai Hollo atau Badai, pemain keyboard Kerispatih. Bayu juga bukan "siapa-siapa". Ia hanya penyanyi dadakan yang didaulat oleh band yang dibentuk pada April 2003 tersebut untuk berduet dengan Sammy.
Bayu merupakan salah seorang Mahapatih--sebutan bagi para penggemar Kerispatih--yang menonton aksi grup itu dalam acara Kompas.com Music Corner di halaman parkir Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Kamis (10/7). Bayu menerima bingkisan dari Kerispatih dan mendapat kesempatan untuk berduet dengan Sammy karena ia secara kebetulan membawa CD Tak Lekang oleh Waktu, album baru alias album ketiga band tersebut. "Wah, wajah ganteng kayak begini bisa untuk video klip Kerispatih mendatang nih," celoteh Sammy saat meminta Bayu mendekat ke bibir panggung.
Ketika Sammy meminta Bayu menyanyikan Bila Rasaku Ini Rasamu, single pertama dari album baru Kerispatih, pemuda yang mengenakan t-shirt merah itu mengaku belum hapal lagu tersebut dan malah memilih lagu Sepanjang Usia, single ketiga dari album kedua mereka, Kenyataan Perasaan (2007). Sammy pun meladeni. Maka, sesaat kemudian melantunlah sepotong syair Sepanjang Usia: Sepanjang usia kita 'trus bersama…
Aksi duo Sammy-Bayu mengalun mengasyikkan, karena selain Bayu berparas "oke punya", suaranya juga mampu mengimbangi Sammy, yang pernah menjadi finalis Indonesian Idol. Tepuk tangan para penonton lain pun membahana. Usai berduet, Sammy spontan nyeletuk memuji Bayu, "Gile, orang begini ini biasanya ringan jodoh… sudah ganteng, bagus pula suaranya!"
Pada acara "kamisan" yang diselenggarakan Kompas.com dan selalu disiarkan langsung dengan cara live streaming video di http://www.tv.kompas.com/ itu, Kerispatih membawakan lima lagu dari tiga album mereka. Tentu saja, yang paling mendapat sambutan hangat adalah Tapi Bukan Aku, single kedua dari album Kenyataan Perasaan, yang juga dicipta oleh Badai. Jangan lagi kausesali keputusanku, ku tak ingin kau semakin 'kan terluka…, begitu bunyi sepotong liriknya.
Ketika lagu itu berkumandang, para Mahapatih yang rata-rata remaja itu turut bernyanyi seperti halnya pada lagu pembuka penampialn mereka, Sepanjang Usia. Menuju lagu kedua, Kesalahan yang Sama, dari album ketiga, Badai membocorkan kegiatan Kerispatih dalam waktu dekat, yakni akan menggelar konser semi tunggal di sebuah mal di Jakarta pada 26 Juli 2008. Menurut Badai, dalam konser tersebut mereka akan diringi oleh sebuah orkestra. "Itulah proyek kami dalam waktu dekat," kata Badai.
Kerispatih merupakan grup beraliran pop yang terdiri dari lima personel. Di samping vokalis Sammy dan Badai, yang pencipta lagu sekaligus keyboardist, ada RM Antonius Suryo Sularjo Wahyu Nugroho Kusumo (Anton), yang dipercaya menabuh drum, Arief Nurdiansyah Morada (Arief) sang pemetik gitar, dan Andika Putrasahadewa (Andika), yang membetot bas. Mereka telah mengeluarkan tiga album, yaitu Kejujuran Hati (2006), Kenyataan Perasaan, dan Tak Lekang oleh Waktu. (PEP)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:43 AM
0
komentar
Label: Kerispatih, Kompas.com, Musik
Thursday, July 10, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (64)
Sayang Bila Dilewatkan
DI kantor Redaksi Kompas.com tempat saya bekerja, sering tampil langsung (live) anak-anak band, khususnya mereka yang belum begitu dikenal publik karena baru meluncurkan album perdananya. Di antara mereka ada Indie Band yang dari segi keteranmpilan bermusik boleh dibilang sangat mumpuni. Saat mengetik, kadang saya meluangkan waktu untuk mendekati anak-anak band, mendengarkan lagu mereka, dan menikmati permainan musik akustik mereka.
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menyaksikan grup band Cassanova. Sayang jika apa yang saya lihat dan saya dengar itu tidak saya tuangkan dalam sebuah tulisan, sekecil apapun tulisan itu.
Usai pentas live disaksikan karyawan dan wartawan Kompas.com, saya berkesempatan mewawancarai personil Cassanova. Hasil wawancara bersama Mbak Ati itu saya tulis untuk Kompas.com. Karena saya "membedah" cakram digitalnya, saya menulisnya sebagai resensi. Saya menampilkan tulisan itu di sini, disertai foto personil lengkap Cassanova karya fotografer Kompas Images Kompas.com Fikria Hidayat.
Cassanova Mengejar Sukses
DENGARLAH lagu pertama album kedua grup band Cassanova berjudul Mengejar. Sesuai judulnya, di lagu yang diciptakan Adhya sang vokalis band anak-anak Bandung itu pendengar terasa dikejar-kejar beat yang mengentak dan seperti tanpa jeda. Pendengar dipaksa mendengarkan lirik dan beat dari awal hingga lagu itu berakhir terlebih lagi ingin tahu apa makna di balik lirik lagu itu.
“Setiap orang pernah melakukan PDKT (pendekatan), bukan. Akan tetapi pada saatnya, orang itu bisa saja mengejar cintanya, ini biasa dalam kehidupan,” kata Adhya, vokalis Cassanova saat berkunjung ke Redaksi Kompas.com, Rabu (2/7).
Mengejar untuk dapatkan cintamu/ hingga batas waktumu…
Demikian sepenggal lirik lagu Mengejar. Selintas, beat musik yang ditawarkan Cassanova plus vokal Adhya yang mirip Ariel Peterpan, memang mengingatkan pada si Peterpan itu. Coba simak gitar elektrik yang digeber Eric dan Gin-Gin, mengingatkan pada warna Peterpan.
Tentu saja Cassanova menolak jika dikatakan meniru Ariel Peterpan. Selain Cassanova mengidolakan The Rock, Ahmad Dhani, dan Mulan Jameela minus Peterpan, mereka menyebut musiknya sebagai pop kreatif dengan mengedapankan nuances atau theme pada setuap lagunya. Cassanova juga menolak bila disebut Indie Band.
“Indie itu 80 persennya menggunakan sound distortion, sementara kami mengadopsi clean guitar,” kata Adhya yang memang vokal di antara rekan-rekannya. Bila ditanya mengenai warna musik yang mereka bawakan, para anggota Cassanova sepakat adanya drum mesin dan efek musik digi. Memang drum yang digebuk Ikhsan terasa mengentak-entak khususnya pada lagu Seperti Hantu, dipadu betotan bass Danar yang bertenaga.
Namun secara keseluruhan, lagu-lagu Cassanova boleh dibilang light alias easy listening dimana nuanasa musik pop lebih dominan terdengar, menyusup ke setiap lagu yang dalam album berjudul “Mengejar” itu berjumlah 12 lagu, meski mereka mengaku suka blues, jazz sampai rock.
Tentang nama Cassanova, Gin-Gin mengaku itu diambil dari seorang filsof Italia yang lahir di Venice. Ditanya bukankah Cassanova itu banyak digila-gilai wanita dan apakah itu terjadi pada personil Cassanova Band, rata-rata anggota Cassanova Band ini tergelak. “Tentu bukan itu maksudnya, kami mengambil hal-hal yang positif dari Cassanova sebagai seorang filsuf,” kata Adhya.
Tentang nama Cassanova, Gin-Gin mengaku itu diambil dari seorang filsof Italia yang lahir di Venice. Ditanya bukankah Cassanova itu banyak digila-gilai wanita dan apakah itu terjadi pada personil Cassanova Band, rata-rata anggota Cassanova Band ini tergelak. “Tentu bukan itu maksudnya, kami mengambil hal-hal yang positif dari Cassanova sebagai seorang filsuf,” kata Adhya.
Harapan Cassanova, tentu saja bisa “manggung” dan diperhitungkan di pentas musik Tanah Air yang amat gegap dengan talenta demi talenta baru yang punya warna tersendiri. Cassanova juga ingin “menjajah” negeri jiran semisal Malayia dan Brunei Darussalam. Bahkan sebagai langkah awal go international-nya, Cassanova bakal manggung di Inggris di kalangan komunitas mahasiswa Indonesia di sana.
Well, selamat deh buat Cassanova, semoga sukses… (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:55 AM
0
komentar
Saturday, July 21, 2007
Citizen Journalism (6)
Sayang, "Dirimu" Tak Ada
PERTEMUAN yang tak disangka-sangka dengan Keenan Nasution. Petang itu, Jumat (19/7), Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas yang punya kolom "Politika", penulis soal tetek bengek Amerika Serikat sampai ngelotok, penulis sepakbola jempolan, dan penulis musik yang disegani, menelepon saat saya terbenam dalam rutinitas pekerjaan di kantor.
"Pep, kamu ke lobi, Keenan sudah nunggu. Dia bawa buku dan CD yang kamu mau," kata Pak Bas, demikian kami biasa memanggil.
Saya tunda dulu pekerjaan, segera meluncur ke bawah, ke lobi. Di sana Pak Bas dan Keenan sudah menunggu. Saya menyalami musisi besar Indonesia seangkatan Chrisye yang pada 5 Mei lalu mengadakan konser tunggal bertajuk "Malam Nuansa Bening" itu. Keenan sudah berusia 53 tahun, tetapi tampak masih segar. Dua tanda hitam di kening menunjukkan bahwa dia lekat dengan sholat.
Soal konser itu, saya sendiri tidak sempat menonton sebab pada malam itu bertepatan dengan tugas kantor saya. Hiks... Sudah, jangan kautangisi itu, Pep, batin saya.
"Sayang ya Pak Keenan, lagu "Dirimu" yang Bapak nyanyikan bersama Gank Pegangsaan tidak ternukil dalam album 'Dengarkan, Apa Yang Telah Kaubuat' ini," kata saya.
"Ya, sebab lagu itu tidak senafas dengan lagu-lagu yang termuat dalam album ini," jawab suami penyanyi lawas Ida Royani ini saat menggoreskan tanda tangannya di atas bukunya, buku dan CD yang saya beli (lihat foto di atas). Satu set buku biografi, buku lirik, dan dua keping CD yang harganya lumayan tinggi.
Saya bertanya dimana bisa memperoleh kaset Gank Pegangsaan yang memuat lagu "Dirimu" dan "Palestina" itu. Jawab Keenan, "Nanti saya edarkan juga CD live concert saya tempo hari, di situ ada lagu 'Dirimu'."
Hemh... tiba-tiba saya merasa lega. Bukan apa-apa. "Dirimu" adalah lagu spesial yang mengingatkan masa-masa awal perjuangan saya menginjakkan kaki di belantara Jakarta, pada tahun 1990 lalu. Pada saat itu, sambil mendengarkan "dirimu" dari pita kaset di tape JVC di kamar kost-kostan di Cikoko, Jakarta Timur, saya memandang masa depan yang masih temaram. Terus terang, saya tidak tahu mau jadi apa saya kelak, lima, 10, atau 15 tahun kemudian. Kepastian akan perjalan hidup segera datang setelah percaya akan kemampuan diri sendiri muncul: menulis!
Boleh jadi saya lupa liriknya. Tetapi dengan iringan gitar akustik yang biasa saya mainkan di D minor, lamat-lamat saya bisa mengingat penggalan liriknya, meski tidak utuh...
Di bening malam ini
Resah rintik gerimis datang
Menghanyutkan sinar rembulan
Muram kaca jendela
Semuram waktu yang berlalu
sedangku masih di sini....
Inginku slalu dekatmu
Nikmati mentari
Membawamu ke puncak bahagia
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:00 AM
2
komentar
Label: Citizen Journalism, Keenan Nasution, Musik
Thursday, May 03, 2007
Citizen Journalism (3)
Legenda Hidup Lagu Balada
DAHULU saat saya jatuh cinta kepada seorang gadis, tahun 1982, lagu kenangan bersama kami adalah Bimbo. Gadis itu bukan cinta pertama saya, tetapi saya mampu mengenangnya dan bahkan "menghadirkannya" sekarang hanya dengan mendengarkan senandung Bimbo, grup musik bersaudara dari Bandung. Secara sadar, saya menikmati lagu-lagunya, belajar menyenandungkannya dengan petikan gitar yang kebetulan sedikit saya kuasai.
Bagi saya, Bimbo adalah legenda hidup lagu-lagu balada. Sungguh suatu kebetulan yang mencengangkan saat saya berkesempatan hadir menikmati langsung keempat personelnya di Bentara Budaya. Samsudin, Acil, Jaka dan Iin, mereka masih bertenaga dan punya greget luar biasa saat menyanyikan lima buah lagu. Dulu saat saya remaja membayangkan, bagaimana Bimbo memetik gitar dalam lagu "Balada Seorang Minta-minta" atau raungan gitar elektrik Bimbo dalam "Balada Seorang Gadis Desa". Kini, sang legenda hidup grup musik balada itu ada di depan saya, tidak lebih dari dua meter jaraknya.
Adalah pemilik sekaligus pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama dalam sambutan pembukaan pameran lukisan Sam, yang mengatakan bahwa musik Bimbo sudah masuk kategori "klasik" dari genre yang jelas. Jakob terkesan dengan lagu "Tuhan". Di sini saya terkesan kepada Sam, pemilik nama lengkap Muhammad Samsudin Hardjakusumah, yang selain penyanyi hebat, pemetik gitar handal, juga pelukis agung. Inilah pameran lukisan Sam yang dibuka dengan lagu-lagu abadinya.
Seusai acara pembukaan dan Sam menyerahkan sebuah lukisan untuk Jakob, keempat personil Bimbo membawakan lagu-lagu baladanya. Jaka memukau dengan petikan gitar akustiknya, plus iringan gitar Sam. Acil yang bersuara bas hadir tanpa alat musik. Iin masih dengan senandungnya yang "ngaheos" alias sesayup sampai. Baru saya tahu, Jakalah sang maestro gitar yang menjadi "jantung" dari permainan musik Bimbo.
Bagi saya, sesaat kenangan kembali berpaling ke masa-masa silam, ke masa seperempat abad lalu. Konon, tidak baik mengenang masa lalu karena jam sejarah tidak bisa diputar mundur. Katanya pula, mengenang masa lalu hanya buang-buang waktu dan sama sekali tidak berguna. Bagi saya, kenangan masa lalu tetaplah bagian dari hidup dan nilai dari keberadaan kita. Bukankah hanya saat kita hidup saja kita bisa mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan? Kadang, kenangan masa lalu bisa membuat hidup ini lebih bermakna, bergairah penuh passion. Maka, berdamailah dengan masa lalu yang indah...
Bimbo membuka sebuah lagu balada, "Balada Seorang Biduan".... Dari sebuah desa, berbekal gitar tua, jerit Sam benar-benar ditaburi tepukan hadirin yang menyesaki Bentara Budaya. "Flamboyan" kemudian mengalun sebagai lagu kedua. Acil yang bersuara berat menyebutnya "Lagu Saudara saya, Iwan Abdulrahman" sebelum menyanyikan lagu itu. "Flamboyan" memang digubah Iwan Abdulrahman, selain lagu "Melati dari Jaya Giri". Sejumlah lagu "Abah" Iwan dinyanyikan kelompok Bimbo ini.
Berikutnya lagu "Tante Sun" yang konon bikin heboh. Sam bercerita, saat itu lagunya sudah tersedia, tetapi liriknya belum ada. Dibuatlah liriknya dalam sepuluh menit. "Tetapi hasilnya bikin heboh," kata Sam. Maklum, lagu itu merupakan kritik sosial pada zamannya, zaman Orde Baru, dimana Tante Sun diidentikkan dengan ibu-ibu para pejabat Orba yang suka berfoya-foya. Hemm... jangan-jangan "Tante Sun" masih relevan dengan kondisi nyonya-nyonya pejabat pada rezim Susilo Bambang Yudhoyono kini!
Bimbo menjawab pidato Jakob yang sedikit mengupas lagu "Tuhan". Pada malam itu, Bimbo menyanyikannya persis seperti versi aslinya, dengan kekuatan menyanyi mereka yang sarat greget. Lagu penutup mereka adalah "Sajadah Panjang", perpaduan syair bikinan Taufiq Ismail dan nada yang mengalun sungguh mengunci kenangan hadirin, termasuk saya. "Saya terpaku dan merinding mendengarnya," kata seorang rekan yang kebetulan beragama Katolik. Ya, meskipun ada kata "sajadah", tempat umat Islam bersujud dan berserah diri pada-Nya, universalitas lagu itu sangat terasa: melampaui batas atau sekat-sekat agama!
Pendeknya, peristiwa pada Kamis, 3 Mei 2007 pukul 20.00-21.00 tadi itu akan terus terpatri dalam ingatan, dengan petikan gitar dan alunan suara Bimbo yang samar-samar tetapi pasti akan terbawa dalam mimpi. Terima kasih Bimbo, semoga Allah memberi kalian usia panjang...
DAHULU saat saya jatuh cinta kepada seorang gadis, tahun 1982, lagu kenangan bersama kami adalah Bimbo. Gadis itu bukan cinta pertama saya, tetapi saya mampu mengenangnya dan bahkan "menghadirkannya" sekarang hanya dengan mendengarkan senandung Bimbo, grup musik bersaudara dari Bandung. Secara sadar, saya menikmati lagu-lagunya, belajar menyenandungkannya dengan petikan gitar yang kebetulan sedikit saya kuasai.
Bagi saya, Bimbo adalah legenda hidup lagu-lagu balada. Sungguh suatu kebetulan yang mencengangkan saat saya berkesempatan hadir menikmati langsung keempat personelnya di Bentara Budaya. Samsudin, Acil, Jaka dan Iin, mereka masih bertenaga dan punya greget luar biasa saat menyanyikan lima buah lagu. Dulu saat saya remaja membayangkan, bagaimana Bimbo memetik gitar dalam lagu "Balada Seorang Minta-minta" atau raungan gitar elektrik Bimbo dalam "Balada Seorang Gadis Desa". Kini, sang legenda hidup grup musik balada itu ada di depan saya, tidak lebih dari dua meter jaraknya.
Adalah pemilik sekaligus pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama dalam sambutan pembukaan pameran lukisan Sam, yang mengatakan bahwa musik Bimbo sudah masuk kategori "klasik" dari genre yang jelas. Jakob terkesan dengan lagu "Tuhan". Di sini saya terkesan kepada Sam, pemilik nama lengkap Muhammad Samsudin Hardjakusumah, yang selain penyanyi hebat, pemetik gitar handal, juga pelukis agung. Inilah pameran lukisan Sam yang dibuka dengan lagu-lagu abadinya.
Seusai acara pembukaan dan Sam menyerahkan sebuah lukisan untuk Jakob, keempat personil Bimbo membawakan lagu-lagu baladanya. Jaka memukau dengan petikan gitar akustiknya, plus iringan gitar Sam. Acil yang bersuara bas hadir tanpa alat musik. Iin masih dengan senandungnya yang "ngaheos" alias sesayup sampai. Baru saya tahu, Jakalah sang maestro gitar yang menjadi "jantung" dari permainan musik Bimbo.
Bagi saya, sesaat kenangan kembali berpaling ke masa-masa silam, ke masa seperempat abad lalu. Konon, tidak baik mengenang masa lalu karena jam sejarah tidak bisa diputar mundur. Katanya pula, mengenang masa lalu hanya buang-buang waktu dan sama sekali tidak berguna. Bagi saya, kenangan masa lalu tetaplah bagian dari hidup dan nilai dari keberadaan kita. Bukankah hanya saat kita hidup saja kita bisa mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan? Kadang, kenangan masa lalu bisa membuat hidup ini lebih bermakna, bergairah penuh passion. Maka, berdamailah dengan masa lalu yang indah...
Bimbo membuka sebuah lagu balada, "Balada Seorang Biduan".... Dari sebuah desa, berbekal gitar tua, jerit Sam benar-benar ditaburi tepukan hadirin yang menyesaki Bentara Budaya. "Flamboyan" kemudian mengalun sebagai lagu kedua. Acil yang bersuara berat menyebutnya "Lagu Saudara saya, Iwan Abdulrahman" sebelum menyanyikan lagu itu. "Flamboyan" memang digubah Iwan Abdulrahman, selain lagu "Melati dari Jaya Giri". Sejumlah lagu "Abah" Iwan dinyanyikan kelompok Bimbo ini.
Berikutnya lagu "Tante Sun" yang konon bikin heboh. Sam bercerita, saat itu lagunya sudah tersedia, tetapi liriknya belum ada. Dibuatlah liriknya dalam sepuluh menit. "Tetapi hasilnya bikin heboh," kata Sam. Maklum, lagu itu merupakan kritik sosial pada zamannya, zaman Orde Baru, dimana Tante Sun diidentikkan dengan ibu-ibu para pejabat Orba yang suka berfoya-foya. Hemm... jangan-jangan "Tante Sun" masih relevan dengan kondisi nyonya-nyonya pejabat pada rezim Susilo Bambang Yudhoyono kini!
Bimbo menjawab pidato Jakob yang sedikit mengupas lagu "Tuhan". Pada malam itu, Bimbo menyanyikannya persis seperti versi aslinya, dengan kekuatan menyanyi mereka yang sarat greget. Lagu penutup mereka adalah "Sajadah Panjang", perpaduan syair bikinan Taufiq Ismail dan nada yang mengalun sungguh mengunci kenangan hadirin, termasuk saya. "Saya terpaku dan merinding mendengarnya," kata seorang rekan yang kebetulan beragama Katolik. Ya, meskipun ada kata "sajadah", tempat umat Islam bersujud dan berserah diri pada-Nya, universalitas lagu itu sangat terasa: melampaui batas atau sekat-sekat agama!
Pendeknya, peristiwa pada Kamis, 3 Mei 2007 pukul 20.00-21.00 tadi itu akan terus terpatri dalam ingatan, dengan petikan gitar dan alunan suara Bimbo yang samar-samar tetapi pasti akan terbawa dalam mimpi. Terima kasih Bimbo, semoga Allah memberi kalian usia panjang...
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:07 PM
3
komentar
Label: Bimbo, Citizen Journalism, Musik
Subscribe to:
Posts (Atom)












