Thursday, December 14, 2006

Novelet: Mystery of Love (5)



Mystery of Love"
Oleh TIA

Dari kamar hotel di Prague, aku mengedit gambar-gambarku. Ah, untung saja ada yang menciptakan gadget-gadget canggih seperti Laptop, HP, XDA, dan IPOD. Kalau tidak, bagaimana aku bisa bekerja. Tuntutan pekerjaan yang selalu mobile seperti aku sangat membutuhkan piranti canggih tersebut.Terdengar lagu Nothings Gonna Change My Love for You yang dinyanyikan oleh Peppi Kamadhatu dari portable speaker nya IPOD. Sesekali sambil mengedit gambar aku ikut menyanyikan lagu tersebut. Aku sangat asyik dengan pekerjaanku, tidak sadar kalau ada e mail masuk ke Hpku.

E mail dari HP sudah kupastikan dari kamu. Semenjak kita jadian, semua e mail dari kantor aku pindahkan ke XDA. Aku tidak mau nanti ada kejadian salah kirim e mail.
Kemudian aku buka inbox nya :

Hun, saat ini aku lagi di jalan dekat Malostranské Bridge, kalau intuisiku tak salah, aku pasti bertemu dengan orang yang kurindukan sesaat lagi.

Aku memekik pelan…bagaimana kamu bisa tahu aku di Prague…
Aku membalasnya langsung,

Sepertinya aku tidak perlu menanyakan kenapa kamu bisa tau, saat ini yang akan aku lakukan adalah siap-siap menemui kekasihku…muach muach

Kubaca sekali lagi sebelum kukirim, ah norak…tapi biarlah.
Message Sent.

Turun dari taksi, aku sudah disambut dengan Mas Nata…hmmm, kamu tambah gemuk saja, pipimu yang tembem jadi kelihatan seperti roti ketika kita tertawa.

“Hm..betah nih di Jakarta…jadi tambah subur aja Cinta.” Kataku tersenyum padamu.
“Hahaha, kangen ama masakan Indonesia, jadi rada kalap aja, aku juga sempat lumayan lama di Tokyo.” Kamu tertawa sambil mengelus rambutku.
“Sehat kan Hun ?” Kamu menatapku lekat dan kedua tanganmu memegang bahuku.
“Seperti yang kamu lihat.” Aku berkacak pinggang dan memiringkan kepalaku.
Tiba-tiba saja kamu memelukku,”Aku kangen banget Hun…kangen…!”
“Hmmm, sama…” Aku pun mempererat pelukanku dan mengelus punggungmu.

Kita menikmati siang itu dengan berjalan di Malostranské Bridge, sesekali kamu menyarankan aku untuk mengambil gambar di sudut-sudut yang indah dari jembatan tersebut. Selanjutnya kita selalu berjalan dengan bergandengan tangan, kamu menggandengku erat, seakan aku ini milikmu yang sangat berharga.

“Aku cinta kamu Hun…” tatapmu ketika kita berdiri bersebelahan.
Aku menyenderkan kepalaku di atas bahumu,”Aku juga.”
Aku tau kamu pasti tersenyum tanpa aku melihatmu, karena aku pun juga tersenyum.
“Aku belum pernah merasakan perasaan ini…debaran ini…” katamu pelan.
Aku mengangkat kepalaku dan menatapmu tajam,”Bagaimana kamu bisa menikah dengan istrimu.”
“Awalnya pernikahan kami bahagia, sehingga kami dikaruniai Nisa dan Lia, dulu aku dikenalkan oleh Mamaku, dia anak sahabat Mama. Namun semenjak pekerjaanku menuntut aku mobile, aku semakin jarang ketemu dengan dia, kemarin adalah waktu terlamaku di Jakarta setelah 10 tahun aku bekerja melanglang buana seperti ini dan…” kamu berhenti sejenak, menarik napas…
“Dan apa Cin? “ tanyaku tanpa melepaskan tatapanku ke kamu.
“Dan aku merasa hambar dengan pernikahanku, yang aku pikirkan hanya kamu...kamu…dan kamu.” Kamu balas menatapku.
“Karena kamu sedang kasmaran denganku…bisa saja perasaanmu hanya sesaat.” ujarku sambil melemparkan pandanganku ke burung-burung dara yang mencari makanan.
Kamu menghela napas lagi,”Sekarang kamu mulai tidak percaya lagi kepadaku Hun, kamu ingat gak dengan kata-katamu dulu, Ikuti saja kata hatimu…sekarang aku bercerita berdasarkan itu, kamu malah menyangsikan omonganku.” Nada suaramu terdengar agak kesal.
Aku menatapmu lagi, tersenyum,”Kamu marah ?”
Kamu tidak menatapku,”Gak, aku gak bisa marah denganmu.”
Aku mencium pipimu sekilas…kamu menatapku dan berkata,”Percayalah dengan kata-kataku Hun, hanya kamu sekarang yang ada di hatiku, setelah anak-anakku.”
Aku memberikan senyuman yang termanis untukmu,”I’ll try deh, hehehe.”
Kamu pun tertawa,”Ye…kok akan mencoba…harus percaya dong.”
Aku berjalan cepat meninggalkanmu, menengok ke arahmu dan berkata,”Kamu tau tujuan aku selanjutnya ?”
“New York…” kamu memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantelmu, “Ya kan Hun?”
Aku menghentikan langkahku dan berbalik arah sehingga berhadapan denganmu.
“Who are you Cinta ?”
“Belum saatnya kau tanya siapa aku Hun….yang penting kau tau perasaanku…” kamu berjalan mendekat ke arahku, membelai pipiku, dan mencium bibirku.

Hatiku mau meledak saja rasanya….
Kemudian aku bernyanyi pelan untukmu,…
Nothings gonna changes my love for you, you oughta know by now how much I love you…One thing you can be sure of, I ll never asking more than your love. Nothings gonna changes my love for you, you oughta know by now how much I love you, the world will change my whole life thru but nothings gonna changes my love for you…

Kamu menciumku bibirku lagi dan lama…


**

DI hotel, New York aku mempersiapkan semuanya sebelum berangkat, bahan untuk presentasiku sudah siap, kali ini aku membawa tas dokumen bersamaku, dan tentu saja, tas cangklongku yang sudah sangat setia menemaniku. Ah, semoga hari ini presentasiku berjalan dengan lancar.

E mail masuk ke XDA ku, dari Mr. John, atasanku langsung.

Good Luck Ara, but be carefull with Matthew, he is really perfectionist, maybe he will trap you with his questions about ur projects

Ruangan direksi terletak di lantai 55, ah jantungku terus berdegup kencang, dan aku tenangkan dengan membaca takbir, tahmid dan tahlil. Lift terasa begitu lambat saja. Satu persatu bule amrik yang tidak kukenal sudah mulai turun dari lift, di lantai 40, aku bertemu dengan Evelyn, dia sekretaris Mr. Matthew, dia tersenyum ramah kepadaku, “Good luck with your presentation today Miss. Samudra, there are Mr . Matthew and his friend, I heard that he is candidate of the vice president for our branch company in Asia.”
“Oh really…” kataku pelan.


Ting…lantai 55, pintu lift pun terbuka. Dan Evelyn mempersilahkan aku keluar terlebih dahulu. Aku menunggu dulu di sofa kulit berwarna hitam yang sangat empuk, di samping meja kerja Evelyn, sambil mengecek sekali lagi berkas-berkas yang aku bawa.

Lima menit kemudian Evelyn menyilahkan aku masuk, Mr. Matthew menyambutku sangat hangat dan ramah, dia pria kaukasian berumur sekitar 45 tahun, berwajah tampan ala Harrison Ford, dan bertubuh atletis, setelah beramah tamah dengan dia, pandanganku aku alihkan kepada sosok di belakangnya dan aku terpana.

“Miss Samudra, may I introduce to you…he is candidate of the vice president for our branch company in Asia, I can say that he is our best candidate...Miss Samudra, his name is Mr. Nata Pradhita, his from Indonesia too, same like you.”

Kamu menjabat tanganku erat, “How do you do…” kamu menatapku sambil tersenyum.
“How do you do Sir.” Aku pun membalas senyumanmu dengan senyum canggung.
Presentasi yang berjalan kurang lebih 1,5 jam serasa berjalan lebih dari setahun, aku menjaga intonasi suaraku agar terdengar mantap dan meyakinkan, hanya saja ketika mataku tanpa sengaja bertatapan dengan matamu, aku tiba-tiba saja menjadi grogi. Tetapi kemudian kamu memberikan senyuman untukku dan berkata tanpa suara..melalui gerak bibirmu, ”Kamu bisa Hun”


Ah, akhirnya presentasi berjalan dengan sukses, Mr. John benar, Mr. Matthew bukan orang yang mudah untuk diyakinkan, sempat beberapa kali dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit mengenai proyekku. Tetapi akhirnya dia berkata juga kepadaku sambil menjabat tanganku,”Congratulation Miss Samudra, Asia is for you”, Alhamdulillah akhirnya proyek yang akan kugarap mengenai Asia di setujui juga oleh Mr. Matthew. Artinya bulan depan, aku sudah merambah ke Asia untuk mulai mengerjakannya.

Setelah keluar dari ruang direksi, aku terduduk lemas di sofa kulit yang nyaman tadi, aku lihat Evelyn memberikan kode kepadaku dengan jari tengah dan telunjuknya, membentuk kode Victory. Aku tersenyum lebar kepadanya,”Thanks..”
Hpku bergetar, rupanya masih aku silent.

Hun…aku tau kamu hebat, temui aku di Central Park 1 jam lagi yah, ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dulu dengan Matt, Luv U

Matt? Kamu memanggil big boss hanya dengan sebutan Matt? Aku pun membalasnya,

Thanks buat pujiannya, aku traktir hotdog deh ntar, hehehe, c u 1 jam lagi, Luv U 2

Message Sent

Central Park terlihat begitu ramai siang itu, ada kunjungan anak-anak elementary school. Aku memilih bangku kosong di bawah pohon rindang. 30 menitan aku duduk dan menikmati suasana yang ada, Hpku memekik pelan.

Hun, dimana? Aku sudah membawa hotdog nih…
Aku tersenyum, membaca dan membalas
Pake dong intuisinya, biasanya kamu bisa menemukanku.
Semenit kemudian kamu membalas.
Kalau ketemu, kamu mau kasih apa ? hotdog sudah aku belikan.
Aku pun langsung membalas.
Apapun yang kamu mau

2 menit tidak ada balasan dan tiba-tiba kamu sudah berdiri di samping kananku,
“Apapun yang aku mau ya?”
Aku memandangmu dan tersenyum,”Yang aku bisa memenuhinya.”

Kamu tersenyum, duduk di sampingku, dan memberikan hotdogmu satu kepadaku.

“Hm…makan hotdog ama calon wakil direktur untuk Asia enak juga ya…” kataku menggodamu.
“Please deh, jangan ada yang berubah, aku tetap Cintamu yang sama.” Kamu menyipitkan matamu yang memandangku, salah satu cirimu kalau sudah kesal.
“Hahaha, kenapa sih tidak mau terus terang kepadaku, kalau kita bekerja di bendera perusahaan yang sama.” Kataku sambil mengunyah pelan hotdogku.
“Gak papa, lagian kalau aku bilang aku punya jabatan di atasmu, nanti kamu segan lagi” ujarmu sambil menatapku.
“Pantas aja, kita sering bertemu yah Cin…kamu disuruh mematai-mataiku oleh Matthew ya?” tanyaku penuh selidik.
Menghabiskan gigitan terakhirnya kamu berkata,”Semua itu kebetulan aja kali, kebetulan yang menyenangkan.”
Aku membersihkan remah hotdog yang tertinggal di sudut mulutmu,”Aku percaya kamu deh Cin”.

Siang itu kita banyak membahas tentang proyekku di Asia, kamu memberikan banyak masukan kepadaku…sembari kamu menjelaskan kepadaku, aku terus menatap lekat-lekat wajahmu.

Semoga Tuhan memaafkan aku karena aku sangat mencintaimu
.
(Bersambung)

No comments: