Tuesday, December 26, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (18)


Jangan Biarkan Kepala Kosong! (1)

Banyak sahabat blogger yang menghendaki saya menuliskan pengalaman saat berkunjung ke Bangalore, India, atas undangan International Business Machine (IBM) Indonesia. Saya menjadi tertantang karenanya. Pengalaman yang akan saya ceritakan ini mungkin bisa sedikit bermanfaat bagi sahabat blogger yang kebetulan berniat menjadi wartawan, atau bahkan sudah menjadi wartawan betulan. Apa yang saya akan ceritakan ini pada dasarnya juga aplikatif untuk berbagai jenis liputan dimanapun, dalam maupun luar negeri.

Perjalanan ke Bangalore, ibukota negara bagian Karnataka yang berbahasa kannada ini merupakan yang pertama. Kadang karena tugas, saya bisa beberapa kali datang ke suatu negara. Liputan terakhir sebelumnya adalah ke Paris, Perancis, Oktober 2005, saat saya meliput peluncuran Satelit Telkom-2 yang berlangsung di Cayenne, Guyana Perancis, negeri seberang lautan milik Perancis yang berbatatasan dengan Brasil di Amerika Selatan. Ia juga berbatasan dengan Suriname, sebuah negara yang sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia karena sejumlah orang Jawa menduduki jabatan penting di sana.

Apa yang harus dipersiapkan seorang jurnalis untuk meliput ke suatu tempat yang bukan “habitat” liputan sehari-hari? Saya boleh menjawab: jangan biarkan kepala Anda kosong! Tentu saja ini bermakna, isilah kepala Anda dengan informasi dasar yang memadai tentang subyek atau daerah yang akan Anda liput. Ibarat hendak bepergian jauh, ke gunung atau ke pantai, yang harus dipersiapkan pertama-tama adalah sarapan pagi, lantas bekal selama dalam perjalanan.

Sarapan pagi di sini tentu saja informasi dasar, bekal makanan selanjutnya adalah informasi yang lebih detail lagi. Biar tidak bingung, saya ambil contoh sebelum saya pergi ke Bangalore. Pertama-tama, saya isi kepala dengan informasi mengenai Bangalore. “Binatang” apakah Bangalore ini? Ini penting, sebab saya akan berkunjung ke sini, siapa tahu saya punya ide atas bekal informasi dasar itu untuk salah satu sudut menarik dari kota ini. Selanjutnya, saya juga bekali kepala saya dengan subyek mengenai apa yang akan saya liput, yakni IBM sebagai “leader company” dalam urusan layanan teknologi informasi.

Darimana saya peroleh informasi dasar mengenai Bangalore? Dari berbagai ragam informasi, mulai ensiklopedi Britannica, sampai menelusur ensiklopedia online Wikipedia. Buku-buku tentangnya juga saya kumpulkan dan untuk itu saya meminta bantuan rekan-rekan di Pusat Informasi Kompas. Yang bisa saya fotokopi, saya fotokopi, tetapi bila data dalam bentuk klipping elektronik, tinggal saya kopi ke flashdisc atau USB yang hanya seukuran jari kelingking bayi itu. Laptop dan kamera digital saku adalah standar kerja kemanapun saya pergi. Dengan demikian “alat-alat perang” itu sudah saya persiapkan dari Jakarta!

Liputan utama tentu saja mengenai persaingan bisnis teknologi informasi yang sedemikian gencar dan masif di Bangalore, sebagai lembah silikon India. Di sana ada pemain raksasa serupa IBM seperti Oracle, Microsoft, dan Infosys. Tetapi konsentrasi haruslah pada IBM, sebab dialah pihak pengundang 30 wartawan dari tiga benua, Amerika, Eropa dan Asia. Salah satu wartawan Asia dalah wartawan Kompas yang kebetulan saya wakili.

Dari dua hari pertemuan itu, isinya tidak lain pemaparan keunggulan IBM dari puluhan pakar IBM baik yang bekerja di India mapun di luar India, yang kebanyakan “bule”. Hampir semua pembicara berbicara mengenai IBM India dengan bahasa Inggris yang supercepat, yang lebih cepat dari penutur Inggris atau Amerika sendiri. Jadi, “all about India”. Kalau demikian halnya, apa yang bisa saya peroleh untuk pembaca Indonesia? Mana azas kedekatan atau proximity-nya?

Dari sekian banyak pembicara, yang bertaut secara subyektif di kepala saya adalah pembicara Michael Cannon-Brookes. Ia adalah Wakil Presiden Pengembangam Bisnis IBM untuk India dan China. Wajar kalau ia tidak bicara hal-hal teknis yang membosankan, tetapi bicara soal flosofi bisnis global. Makalah dan penuturannya banyak terinspirasi oleh Thomas L Friedman yang menulis buku “The World is Flat” (dunia itu datar/flat world).

Beruntung pula kepala sudah saya isi dengan buku ini, juga resensi dan artikel mengenai “kebenaran” dunia datar, sebagaimana dulu Alvin Toffler dengan ramalan “future shock” dan “third wave”-nya. Beruntung lagi, saya sudah ngegares semua buku-buku penting untuk peradaban moderen itu. Jadi, saat Cannon Brookes memaparkan filosofi bisnis IBM yang mengadopsi pendapat Friedman, saya bergumam, “I got it!” Tentu saja ini ide besarnya yang detailnya tetaplah paparan sekian puluh pakar IBM.

Di Jakarta, saya segera menulis mengenai “dunia datar” ini dan dimuat dalam rubrik Teropong terbitan 21 Desember 2006, bersama dua tulisan lainnya, yakni Kota Bangalore dan IBM Indonesia. Sahabat bisa mengikuti tulisan pertama ini di
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/21/tekno/3190141.htm, atau langsung di bawah ini:



Melaju di Dunia yang Datar
Oleh PEPIH NUGRAHA

Randy Walker, General Manager Layanan Proses Manajemen Bisnis IBM untuk Asia Pasifik, memperlihatkan sebuah ruangan berukuran empat kali lapangan tenis yang tempat duduknya disusun menyerupai kursi teater. Berjajar membentuk lengkungan yang semua mata mengarah kepada enam layar raksasa di depannya.

Keenam layar raksasa diapit saluran televisi CNN di kiri dan BBC di kanan. Ratusan teknisi India di dalam "teater" itu masing-masing tengah menghadapi komputer layar datar.
Dari tempat inilah para tekni- si muda memonitor setiap keganjilan yang terjadi di seluruh jaringan klien IBM India di seluruh dunia. "Keganjilan kecil dapat segera terdeteksi di enam layar itu dan mereka memperbaiki dari komputer mereka masing-masing secara real time," kata Walker di kantor International Business Machine (IBM) di Bangalore, India, Senin (4/12).

Bangalore yang kini bernama Bengaluru merupakan ibu kota negara bagian Karnataka yang dikenal sebagai Lembah Silikonnya India. Selama dua hari, 4-6 Desember 2006, perusahaan teknologi informasi (TI) terbesar di dunia itu mengadakan Global Media Meeting yang dihadiri 30 wartawan dari Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Indonesia.

Dari "teater" yang bisa dilihat dari kaca tembus pandang di ruang kerja Walker, semua mitra bisnis IBM, mulai dari perusahaan telekomunikasi swasta India, Bharti Tele-Ventures, sampai pembangkit tenaga listrik Enel di Italia, dapat terpantau secara real time. Uniknya, para pekerja dan teknisi yang berada di ruangan pengendali itu merupakan tenaga kerja outsourcing bidang TI yang andal, tenaga kerja murah tetapi dengan spesialisasi dan kemampuan yang tidak kalah hebat dibanding teknisi integrasi alias non-outsourcing.

India, khususnya Bangalore, dalam dunia TI terkenal karena tenaga outsourcing yang murah, kompetitif, tetapi andal dibanding tenaga kerja lainnya dari berbagai belahan dunia. Tidak aneh kalau bahasa Inggris sudah menyerap kata bangalored yang padanannya dalam bahasa Indonesia berarti "di-outsourcing".

Dengan penduduk India mencapai 1,1 miliar jiwa, sedangkan Bangalore berpenduduk 6,1 juta jiwa, perusahaan TI besar dunia mau tidak mau harus melirik pasar yang besar ini. Perusahaan TI besar dunia seperti IBM, Oracle, Microsoft, Infosys, atau Yahoo! berkantor di kota Bangalore dengan tenaga outsourcing murah.

"India adalah negara yang unik dalam pusaran bisnis sehingga harus ada perlakuan khusus dilihat dari segi pasar," papar Sukanya Ghosh, pejabat hubungan masyarakat IBM India saat membuka pertemuan itu.

Potensi lokal
Kombinasi unik dan perlakuan khusus itu baru dijelaskan kemudian oleh Shanker Annaswamy, Direktur Pengelolaan IBM India. Dikatakan, dengan 18 bahasa nasional India, 1.652 dialek, lebih dari satu miliar penduduk India, sebagai negara berbahasa Inggris terbesar di dunia, delapan persen pertumbuhan pada tahun 2005, dan dengan 2,1 juta lulusan perguruan tinggi, India layak disebut sebagai "demokrasi terbesar di dunia". "Kombinasi inilah yang kami lihat, manfaatkan dan garap," ujarnya.


Dengan kombinasi ini, IBM India memperlakukan sumber daya manusia India yang besar itu sebagai sumber inovasi. Pertumbuhan itu bisa dilihat dari bertahannya perusahaan raksasa TATA yang kini bahkan semakin berkembang sehingga menjadi kebanggaan nasional. Perusahaan penerbangan yang beberapa tahun lalu hanya ada dua, kini telah berjumlah puluhan.

Bahkan, industri film India dengan film-film Bollywood-nya tidak luput dari garapan IBM India dengan "menangkap" keunikan India sebagai sebuah negara besar, setidak-tidaknya dari jumlah penduduk dan luasan wilayahnya. IBM kini telah menangani 15 negara bagian di India yang bermetamorfosis menjadi e-government.

Dengan "pemerintahan elektronik" ini, India boleh saja dipandang sebagai "negara terbelakang" dan bahkan korup, tetapi kalau urusan pembuatan kartu tanda penduduk, mengurus asuransi kesehatan bagi orang miskin, membuat kartu keluarga, dan bahkan surat izin mengemudi, tidaklah sesulit seperti di sebuah negara Asia lainnya yang sering menggaungkan "kecepatan sebagai sebuah solusi".

Menurut Shanker, karakteristik dalam pasar TI domestik (India) mengalami pertumbuhan amat pesat dan kompetisi yang juga amat ketat. Dengan belanja perangkat keras 53 persen, layanan TI 34 persen, dan belanja piranti lunak 7 persen, katanya, menjadikan IBM sebagai perusahaan IT terbesar di India khususnya dalam pasar layanannya.

IBM baru menjejakkan kaki bisnisnya di India sejak 1992. Hingga 31 Mei 2006, IBM India mempekerjakan 43.000 karyawan yang sebagian besar teknisi dan para inovator TI itu.
Mereka tersebar di 14 kota India dengan 2.500 partner bisnis yang tersebar di 40 lokasi. Meski IBM di mana pun memiliki visi bisnis yang tidak lagi memproduksi barang-barang yang sifatnya "komoditas" dan beralih ke bisnis value, namun IBM masih menguasai pasar server dan storage di India.

Serap filosofi modern
Keseriusan pemerintah negara bagian Karnataka dalam memandang TI sebagai bisnis yang membuat penduduk dan infrastruktur kota Bangalore mengalami kecepatan yang mengesankan, dapat dilihat dari totalitas IBM yang tidak tanggung- tanggung menancapkan tonggak kerajaan bisnisnya. Sampai kini tercatat lebih dari 25 pusat pengembangan dan industri IBM yang sebagian berkantor pusat di Software Technology Parks of India (STPI) di Bangalore.

Totalitas juga terlihat dari bagaimana IBM India pada tahun 2005 saja menginvestasikan dana sebesar 1,1 juta dollar AS di sejumlah perguruan tinggi ternama yang mengembangkan TI. Cara ini dilakukan untuk menjaring SDM berkualitas yang sesuai standar TI yang ditetapkan IBM. Maka, sebanyak 75.000 mahasiswa pilihan dari 300 perguruan tinggi India memperoleh pelatihan.

IBM bukanlah pemain solo dalam menyiapkan human capital India, tetapi pesaing lain seperti Microsoft dan Oracle, juga melakukan hal yang sama. Artinya, semakin banyak SDM terdidik India yang siap menyerbu pasar dunia dengan kecakapan khusus di bidang TI. Moto developed locally, delivered globally menjadi doktrin IBM India yang harus dicerap mereka yang mau berpikiran maju.

Doktrin semacam itu dianggap penting oleh pemikir India terdahulu. Saat Alvin Toffler menulis "gelombang ketiga"-nya yang ditandai kemajuan TI, Bangalore yang sejak 1942 merupakan basis industri berat, melompat cepat ke arah TI sehingga tercapai prestasi seperti sekarang ini.
Michel Cannon-Brookes, Wakil Presiden IBM India yang juga memberi pemaparan, misalnya, telah menerapkan "doktrin" bahwa dunia itu datar (flat word), sebagaimana diungkapkan Thoms L Friedman.

"Karena dunia datar, India dan China punya kesempatan yang sama sebagai pasar terbuka, sebagaimana negara-negara maju lainnya. Keahlian dan inovasi mutlak dimiliki. Kompetisi inovasi di bidang teknologi informasi, di mana globalisasi dan inovasi saling bertemu, adalah kunci untuk bisa berjalan di dunia yang datar ini," papar Cannon-Brookes.

Cannon-Brookes mencatat adanya tiga gelombang perubahan mendasar. Gelombang pertama, pada akhir abad ke-19, disebut sebagai "era internasional" di mana satu perusahaan di sebuah negara mengekspor komoditas ke negara-negara lainnya.

Gelombang kedua, abad ke-20, disebut sebagai "era multinasional" pada saat perusahaan di sebuah negara menempatkan atau memindahkan usahanya di sejumlah negara lainnya. Sementara itu gelombang berikutnya yang kini menjadi doktrin IBM adalah, bisnis sudah terintegrasi secara global. "Ini era bisnis tanpa batas negara," ujar Cannon-Brookes.

Pepih Nugraha
Jakarta, 26 Desember 2006

1 comment:

joni said...

ya memang bener apa yang mas pepih tulis!!
India sudah benar2 maju di bidang IT dan Pendidikannya.
Kita (Indonesia) harus mencontoh ke-2 hal tersebut dari India.

btw
nanti boleh yah tulisan ini kubuat linknya ke blog ku??
makasih mas atas informasinya :)