Thursday, November 02, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (1)

Menu Baru

Pengantar:
Agar lebih variatif Beranda T4 Berbagi yang memuat Berbagi Pengalaman Menulis (BPM), Karya Sahabat, atau catatan pengalaman menulis lainnya di luar BPM, menampilkan pengalaman saya menjadi wartawan, khususnya menjadi wartawan Kompas. Selain ingin lebih mengenalkan diri saya terkait dunia menulis, syukur dapat memberi inspirasi siapapun dalam berusaha, menyiasati keadaan, bangkit dari situasi “imposible”, menangkap peluang, berjuang, dan bertahan setelah memasuki medan juang penulisan. Sebutlah ini semacam "otobiografi karier" pribadi yang saya tulis secara apa adanya, dengan liputan dan pengalaman penulisan yang beragam. Di sini sahabat bakal tetap menemukan tips menulis, cara mengatasi kemacetan saat menulis, menghadirkan ide, mengolah gagasan, melahirkan inspirasi, bahkan trik sebuah tulisan bisa dimuat media massa.

Menjadi wartawan hanyalah salah satu cara bagaimana kita bisa, terbiasa, atau dipaksa menulis. Jangan khawatir, tanpa harus menjadi wartawan pun sahabat tetap bisa menjadi penulis. "Otobiografi virtual" ini, katakanlah "blogger juga punya otobiografi", saya beri judul Menulis Itu Asyik (MIA). Bentuk penulisan yang mencampurkan paparan dengan percakapan ini dimaksudkan agar alur cerita lebih deras mengalir, terhindar dari kebosanan, dan syukur dianggap menciptakan genre baru penulisan. Tanggapan, kritik, dan saran sahabat bisa disampaikan ke alamat pepih_nugraha@yahoo.com sebagai umpan balik. Tulisan ini ditampilkan secara bersambung setiap pekan dan berakhir entah sampai kapan… Selamat mengikuti!

BAB 1
Iklan Lowongan Kerja

SEKITAR akhir Desember 1989, harian Kompas memuat iklan lowongan kerja untuk menjadi wartawan harian terkemuka di Indonesia itu. Menjadi wartawan atau penulis adalah cita-cita saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Lantas kesempatan terbuka saat membaca iklan lowongan kerja itu! Wah, alangkah bangganya jika saya menjadi bagian dari Kompas, menjadi wartawan Kompas lagi!

Tetapi saya harus mengubur dalam angan-angan itu, paling tidak kesempatan menjadi wartawan. Apa pasal? Karena iklan lowongan kerja itu mensyaratkan setiap pelamar harus menyertakan fotokopi ijazah strata satu (S1) alias sarjana. Sedangkan saya saat itu baru mau memulai menulis skripsi!

“Aduh, coba aku sudah lulus sarjana ya, Bu, barangkali bisa melamar,” gumam saya saat itu. Cahaya mentari sore yang bersinar cerah menerobos bilik rumah, saat secangkir kopi panas menemani.

Rupanya gumaman itu terdengar ibu saya, Enok Suhayah, ibu yang kini sudah almarhumah. “Sabar saja, Nak, selesaikan dulu kuliahmu. Kalau sudah jadi sarjana, kau bisa melamar lagi,” redamnya.

Saya jelaskan bahwa kesempatan menjadi wartawan Kompas tidak datang setiap tahun. Artinya, iklan lowongan kerja yang kecil dan termuat hanya di sudut bawah koran itu baru akan muncul lagi entah beberapa tahun kemudian. Tentu saja kesempatan menjadi wartawan Kompas akan hilang dengan sendirinya. “Percaya, Nak, kesempatan itu (iklan lowongan kerja) akan datang lagi. Mau tambah lagi kopinya?”

Saya cuma mengiyakan saja. Lalu aroma kopi tubruk yang diseduh ibu untuk yang kedua kalinya tersaji di meja. Tetap menerbitkan selera, meski tidak bisa mengobati tuntas kekecewaan saya saat itu. Mata masih tertuju pada iklan lowongan kerja itu.

Sejenak mata terantuk pada baris-baris kalimat berikutnya. Ternyata saat itu masih di iklan yang sama, di bawah tercantum bahwa Kompas juga memerlukan pustakawan. Lha, bukannya saat itu saya kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran!

Keinginan menjadi wartawan Kompas telah menenggelamkan kenyataan bahwa sesungguhnya keahlian saya saat itu adalah bidang perpustakaan, ilmu yang saya tuntut selama 4,5 tahun. Keinginan “menjadi” tentu saja baru cita-cita. Tetapi bahwa saya hampir menyelesaikan kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, itu kenyataan. So, mengapa saya harus melupakan kenyataan di saat cita-cita yang masih belum tentu bisa tergapai? No, no, no… saya harus menghadapi kenyataan ini!

Tetapi kembali saya justru harus terantuk kenyataan, bahwa untuk menjadi pustakawan pun syaratnya harus sudah menjadi sarjana penuh, sarjana perpustakaan. Saya belum jadi sarjana! Nyaris saja koran itu saya campakkan saking kesalnya. Lantas saya meraih kail dan pancing untuk segera berlari ke kolam, memancing ikan sambil melupakan kekesalan. “Katanya kopi minta ditambah, kok malah tidak diminum?” Ibu mengingatkan.

Saya abai. Saya berlalu. Kopi yang kedua belum sempat tersentuh. Selain masih panas, juga hilang selera, menguap begitu saja. Aromanya tidak lagi menggoda. (Bersambung)

Pepih Nugraha
Jakarta, 1 November 2006
(Tanggal dimana saya ditetapkan Pak Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, sebagai Wakil Kepala Desk Investigasi. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Juga terima kasih kepada Pemimpin Redaksi Suryopratomo [Mas Tom] atas bimbingan, teguran, dan arahannya. Bagi saya, jabatan ini tidak lebih dari pengakuan, bonus, sekaligus amanah yang harus saya pertanggungjawabkan. Cita-cita tertinggi saya dalam menulis hanyalah menjadi wartawan Kompas, dan itu sudah berhasil saya raih sepuluh tahun lalu. Dengan amanah ini, saya tetaplah wartawan, wartawan yang harus mempertanggungjawabkan predikat ini dalam kegiatan menulis, menulis, dan menulis, meski sudah mendapat embel-embel editor sekalipun)



2 comments:

JaF said...

*ting!*
Inilah enaknya jalan-jalan ke blog orang. Selalu dapat ide untuk menulis apa di blog..

Yup..! Virtual Otobiografi.. Kenapa tidak?

Thanks idenya mas..

BTW, orang2 Kompas itu gaya tulisannya asik2 ya.. :-)

Anonymous said...

belajar banyak