Wednesday, November 22, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (4)


BAB 2
Berangkat Tes

ORANG sering mengingatkan anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi: “Selesaikan dulu kuliahmu, jangan dulu kerja mencari uang! Uang yang kamu dapatkan dari pekerjaan biasanya akan membutakanmu dari ilmu-ilmu yang kamu tuntut di bangku kuliah. Bersabarlah sedikit sebelum benar-benar mendapat ijazah perguruan tinggimu!”

Belakangan saya paham tentang satu pepatah Latin yang mengatakan, “Pecuniam caeca est”. Artinya kurang lebih “uang itu buta”. Saya tahu maksud orang tua dulu, kalau kita sudah pegang uang atau bermain-main dengan uang, kita bisa lupa segala-galanya, termasuk lupa menyelesaikan kuliah itu tadi. Kuliah justru yang seharusnya diprioritaskan, sebab selepas itu uang segera didapat.

Terus terang, saya harus mengabaikan nasihat para orangtua yang bijak itu. Tidak tanpa dasar, para orangtua berkata demikian karena bermuasal dari pengalaman hidup yang mereka alami. Betapa uang dari hasil pekerjaan sering melenakan mahasiswa karena tanpa ijazah pun pekerjaan sudah didapat. Pendeknya, mengapa harus susah-susah menyelesaikan kuliah? Mengapa pula harus susah-susah mendapatkan ijazah kalau uang bisa didapat dengan mudah?

Kondisi ini akan jauh berbeda dengan para mahasiswa yang “nyambi” sana-sini untuk membiayai sendiri kuliahnya. Di Bandung, selama saya kuliah, tidak sedikit teman saya yang menjadi sopir atau kernet angkot yang biasa ngalong pada malam hari. Teman di jurusan ilmu-ilmu eksak kerap memberi les privat pada anak-anak berorangtua mampu. Ada pula sebagian teman mahasiswi jurusan bahasa asing yang menjadi pemandu amatir untuk tamu-tamu bule.

Saya sendiri sudah terbiasa menulis cerita pendek atau artikel di sejumlah media massa jauh-jauh hari sebelum kuliah, sejak saya duduk di bangku SMP. Saya tidak sendirian, beberapa artikel teman kuliah saya bahkan sudah mampu menembus halaman empat Kompas, halaman opini yang bergengsi. Salah satu teman kuliah yang pernah beberapa kali tulisannya di muat halaman opini Kompas adalah Yudi Latif, yang kini sudah bergelar Doktor dan menjabat Deputi Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Dari sejak kuliah saya angkat topi untuk teman yang satu ini.

Tetapi bagi mahasiswa yang oleh orangtuanya menjadi tumpuan harapan agar segera menyelesaikan kuliahnya, agar ijazahnya kelak bisa digunakan melamar sebagai pegawai negeri sipil, ceritanya akan lain. Dianggap sebagai kegagalan awal tatkala mahasiswa tingkat akhir tergiur pekerjaan, lalu melupakan tugas skripsi untuk mengejar pekerjaan.

“Bagaimana jika kamu diterima bekerja, Nak?” ayah bertanya saat saya pamit untuk tes di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saat saya balik pamitan ke Ciawi.
“Saya akan sujud syukur, sebab itu cita-cita saya.”
“Kuliahmu?” sela ibu. Saya kemudian meyakinkan ibu, segera saya selesaikan kuliah, merampungkan skripsi yang tinggal bab-bab akhir, lalu mendapat ijazah. “Jadi kamu tidak mau jadi dosen?” tanya ibu lagi.

Dosen? Ini memang obsesi orangtua sejak saya masuk kuliah di tahun-tahun pertama. Simpel saja dan tidak ada yang harus disalahkan. Kedua orangtua saya guru sekolah dasar. Mereka selalu mengambil contoh, dengan menjadi guru sekolah dasar saja mampu menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi dari gaji mereka. Apalagi kalau menjadi dosen sebuah perguruan tinggi yang strata muupun “status sosialnya” jauh lebih tinggi dari “sekadar” guru SD.

Tentu saja saya meyakinkan ibu, juga ayah saya, bahwa orang bekerja itu tidak harus menjadi dosen atau guru. Saya bilang bahwa saya kurang sabar, kurang bisa, dan kurang berbakat mengajar. Dalam hati saya sudah berbohong, sebab kenyataannya saya suka mengajar, suka berbagi ilmu, meski cara menyampaikannya kurang sempurna.

Bakat saya terbesar adalah menulis. Tidak lupa saya jelaskan, toh saya biasa mendapat uang dari hasil menulis sepanjang saya kuliah. Nyatanya itu tidak pernah mengganggu kuliah. Orangtua kehabisan argumen.

“Yah, Ibu hanya bisa mendoakanmu, Nak, semoga kamu berhasil. Hati-hati di jalan!” pesannya sebelum saya naik Bus “Bahagia” jurusan Banjar-Jakarta pada malam hari, di tepi Jalan Tanjakan Cangkudu yang dingin dan sepi. (Bersambung)

3 comments:

paman tyo said...

hari itu, waktu nunggu di ruang tanu kantor personalia untuk psikotes, saya kebarengan dua calon pustakawan, cowok dan cewek dari bandung. huhahaha! lupa ya?

---
“Bagaimana jika kamu diterima bekerja, Nak?” ayah bertanya saat saya pamit untuk tes di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saat saya balik pamitan ke Ciawi.

say said...

lam kenal juga pepih n silakan baca baca sesuka hati, jangan lupa kasih coment. n tengkiu ya sudah mau mampir

Mariana Ferdinandez said...

Salam kenal dengan Pak Pepih. Saya baca artikel bapak mengenai BLOG di BLOGFAM. Saya termasuk blogger yang yaaahh..masih baru. Dengan belajar dari Blog bapak mungkin saya dapat mengembangkan Blog saya lebih bagus lagi. ini blog saya: http://see_mariana.blogs.friendster.com Terima kasih.