Sunday, October 29, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (12)


Catatan Harian sebagai Cerita

Jangan remehkan catatan harian! Bukan bermaksud menggurui, ini sekadar berbagi pengalaman, pengalaman pribadi saya dalam menemukan cara menulis. Cara orang lain mungkin berbeda. Silakan sahabat menimba ilmu dari banyak orang yang punya pengalaman sendiri-sendiri, biar ilmu yang didapat lebih variatif.

Mengapa jangan abai terhadap catatan perjalanan hidup kita sendiri? Sebab catatan harian adalah sumber inspirasi dalam menulis, khususnya menulis cerita fiksi. Dengan catatan harian, kita juga sulit atau tidak bisa berbohong pada diri sendiri. Ingat catatan harian Anne Frank yang jujur. Jika kepekaan kita akan lingkungan sekitar terasah, kelak inspirasi menulis juga bisa bersumber dari catatan harian ini. Bagaimana caranya?

Menulis catatan harian boleh dibilang setengah perjalanan kita menulis cerita pendek (cerpen). Catatan harian yang bijak, tidak melulu bercerita tentang diri dan keluarga dekat kita, tetapi juga orang lain dan lingkungan sekitar. Menulis catatan harian janganlah melulu egocentris, dimana diri adalah sebagai pusat atau objek cerita. Lihat sekeliling kita: ada sopir kita, pembantu kita, tetangga kita yang tertimpa kemalangan, peminta-minta jalanan, atau pengamen yang datang ke rumah kita. Bila kita peka dan pandai berempati, kelak imaji liar kita mampu menangkap suasana batin mereka, orang-orang di sekeliling kita itu.

Empati adalah kemampuan menempatkan diri kita sebagai orang lain, meraba perasaan orang lain. Pernahkah sahabat merasakan “andai saya sebagai pengemis itu” saat menolak memberi sedikit rezeki kepada pengemis tua? Jika ya, sahabat sesungguhnya sudah mampu berempati. Yakinlah, salah satu sumber terbesar inspirasi adalah kemampuan berempati itu! Lantas, mainkanlah imaji kita untuk merambah dunia mereka yang kelak kita sajikan dalam sebuah cerita.

Masih banyak kejadian di sekeliling kita. Jika sahabat menemukan seseorang pengendara sepeda motor terkapar mati di jalan raya tertabrak truk, tersentuhkah perasaan “andai saya seperti dia”? Bagaimana tidak berartinya tubuh yang tergolek di pinggir jalan hanya ditutupi selembar kertas koran atau dedaunan hanya untuk menghindari rasa ngeri orang yang melihatnya, padahal beberapa detik lalu dia seorang yang sangat berpengaruh dan dihormati.

Kalau kepekaan sahabat terasah, kematian saja bisa menjadi inspirasi dahsyat, apalagi tentang kehidupan! Cerpen tentang si mati atau keluarganya yang ditinggal mati, artikel soal bagaimana mencegah kecelakaan bagi pengendara khusus sepeda motor, refleksi tentang kematian dan kehidupan, semua berasal dari kepekaan kita hanya dengan merasa dan menyelami suatu peristiwa. Jika sahabat sudah memulainya dengan catatan harian, niscaya tidak ada yang sulit dalam menulis. Selebihnya, naluri akan menuntun imaji kita sendiri.

Perkenankan saya menampilkan sepenggal catatan harian yang merupakan upaya merasakan perasaan adik saya, Tania, saat dia melahirkan anak pertamanya, 30 Mei 2006 lalu. Dengan melihat sosok Tania saat saya menengoknya di Cirebon, tempat dimana dia tinggal kini, saya menangkap peristiwa masa lalu yang hadir di masa kini, sampai menembus saat-saat kematian ibu. Tania juga memiliki selembar surat wasiat ibu yang kelak akan saya ceritakan dalam kesempatan berikutnya.

Bayang-bayang Ibu Di Mata Tania

Menyaksikan Tania, adikku, mengurus bayinya saat dia masih lemah, mengganti pakaian sampai menyusuinya, selintas aku melihat bayang-bayang almarhumah ibu pada dirinya. Aku merasa bayi yang sedang ia urus dengan lincah dan cekatan itu adalah diriku sendiri. Betapa Tania sudah tumbuh menjadi orang dewasa. Sorot matanya menyimpan bayang-bayang almarhumah di sana.

Jarak dan waktu telah membuat aku lupa bahwa Tania kini bukanlah anak kecil lagi, seorang anak yang sangat kami manjakan karena merupakan satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Padahal saat ia ditingggal ibu ke alam baqa 20 Oktober 1999 lalu, ia masih berusia 19 tahun, masih kuliah, dan masih haus kasih sayang ibu. Tetapi kematian ibu telah merampas kebahagiannya, menenggelamkan keceriannya untuk waktu yang sangat lama. Sikapnya menjadi labil ibarat biduk yang terombang-ambing tsunami, pemurung, dan penyendiri.

Persis tujuh tahun lalu, pada saat detik-detik kematian ibu, aku sudah terlebih dahulu tiba di RS Hasan Sadikin Bandung, tempat ibu selama seminggu lebih dirawat. Ibu sudah koma, napasnya tinggal satu dua. Adikku satunya lagi, Dadang, masih bertugas di Padang, Sumatera Barat. Sementara aku, baru tiba dari tamasya di Bali, dan langsung berada di Jakarta untuk meliput terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI di Gedung DPR, saat ibu menanggung beban puncak derita sakitnya. Tania datang mengenakan celana jins, badan yang ramping berbalut T-shirt.

Di pundaknya masih tergantung tas kuliah. Ia langsung menubruk ibu, memeluknya erat, meraung dengan air mata yang melesak tak terkendali membanjiri pipinya yang pucat.
“Mamih, ulah ngantunkeun abdi, mamih ulah maot!
(Ibu, jangan tinggalkan aku, ibu jangan mati!)” jeritnya di atas tubuh ibu yang sudah tidak bergerak, berbalutkan gaun batik oranye yang kubawakan dari Bali sebagai oleh-oleh terakhirnya.

Kami menitikkan air mata. Benteng pertahanan jiwa kami ambruk seketika bagai istana pasir terempas gelombang. Tidak lama setelah itu, ibu seperti ingin mengatakan semua orang yang ada di salah satu bangsal RSHS itu untuk mendekat. Aku, Tania, dan ayahku merapatkan diri erat-erat, seperti menyatukan diri menyaksikan detik-detik kematian ibu. Ayah-ibu mertua, Lia calon adik ipar dan orangtunya, Kang Unang dan istrinya Teh Een, Ceu Eet, Ayi sepupuku, mereka sama-sama menyaksikan detik-detik terakhir derita ibu.

Aku memeluk Tania yang terus menangis, kulihat ayahku juga menitikkan air mata dengan berat. Sementara aku, bukan hanya sekadar menitikkan airmata, tetapi ingin mati saja mendahului ibu! Tak kuat rasanya menanggung beban dosa dan sikap zalim kepada seorang ibu, perempuan yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan susah payah. Semua kebaikan itu kubalas dengan caraku sendiri: tamasya ke Bali saat ibu memerlukan kehadiranku! Ya, Allah!

Handphone kusambungkan ke Dadang agar adikku itu juga bisa sama-sama merasakan detik-detik terakhir kematian ibu. Ibu akhirnya pergi tanpa peduli kami. Air mata terakhir menggenangi pelupuk matanya. Penderitaan dari rasa sakit akibat kanker ganas memang sudah berakhir. Ibu sudah terbebas dari rasa sakit itu. Aku mengusap air mata terakhirnya, melepaskan pegangan Tania yang kemudian pingsan.
“Inalillahi…,” bisikku sambil mencium kening ibu, lekat sekali, seakan-akan menumpahkan kerinduan yang terpendam selama berabad-abad.

Tania baru tersadar kembali ketika jasad ibu sudah siap dimasukkan ke dalam ambulan, ketika para suster dengan tanpa perasaan (maafkan aku menudingmu, suster!), menggunting dan mengoyak-ngoyak gaun batik oranye barunya (gaun koyak itu sampai sekarang masih kusimpan dengan baik di rumah ayahku sebagai kenang-kenangan!).

Ambulan keluar dari halaman RSHS dengan raungannya yang mengerikan, menekan perasaan sedemikian dalam. Aku duduk bertiga di depan mobil ambulan bersama sopir dan kernetnya. Ambulan membelah kota Bandung yang gerimis, menerjang jalan tol Padaleunyi, melintas bukit dan jalan yang berkelok-kelok menuju Ciawi, Tasikmalaya, tempat peristirahatan ibu terakhir.

Di belakang, dari kaca jendela mobil kulihat ayah sedang mengapit Tania dan Ayi, sepupuku, menghadapi jasad ibu yang terbujur dalam keranda. Sebuah perjalanan mengerikan di tengah guyuran hujan yang tak ada putus-putusnya. Perjalanan terasa panjang dan menekan, tetapi aku tidak ingin sampai ke rumah duka secepat itu. Rasanya kami ingin seterusnya ada di dalam ambulan itu.

Apadaya, aku harus tunduk pada kuasa waktu. Ambulan memberkas dan menebarkan sinar birunya dan segera memperkeras raungannya tatkala sudah mendekat rumah duka. Ambulan memasuki pekarangan rumah di atas pukul 12 malam. Tetangga dan sanak saudara menyambut jenazah dengan muram dan lelehan airmata.
“Deudeuh teuing, Enok…" (Kasihan betul, Anakku!), seru kakekku, ayah dari ibuku, memanggil nama ibu yang tengah diturunkan dari ambulan. Hujan masih belum reda, bersilomba dengan derasnya airmata yang tumpah di rumah duka.

Jenazah ibu dimandikan malam itu juga dengan diiringi pengajian tetangga dan sanak saudara. Suasana hadir hanya untuk semakin menekan perasaan saja. Aku mencoba ikut memandikan jenazah ibu yang terasa masih hangat. Ibu diam tak bergerak, memejamkan matanya dengan wajah pucat. Air dingin dan bening kusiramkan perlahan-lahan, kuusap dan kubersihkan wajahnya yang tenang. Aku mencium keningnya dengan lembut sekali lagi.
“Hapunten Aa, Mamih!” (Maafkan aku, Ibu!).

Mungkin itu baktiku terakhir sebagai seorang anak kepada ibunya. Terlintas kisah “Si Boncel” dan “Malin Kundang” yang biasa diceritakan ayah, dan aku merasa diriku tak lebih dari kedua tokoh durhaka itu. Bakti terakhirku mungkin sia-sia dan tak berarti apa-apa buat ibu. Tetapi aku percaya ibu yang selalu penuh kasih sayang, akan memaafkan semua khilaf dan salahku. Hanya saja, rasa sesal yang mendalam ini tidak akan pernah hilang di sepanjang sisa hidupku. Mungkin rasa itu baru bisa terbebaskan ketika aku kelak menyusul ibu di tempatnya yang baru...


Seperti telah saya katakan, membuat cerita dari hasil empati yang kemudian dituangkan dalam sebuah catatan harian, sesungguhnya setengah langkah lagi menuju cerita pendek. Anggaplah catatan harian itu sebagai draft awal selain tempat mengasah keterampilan menulis. Selebihnya, naluri akan menuntun sahabat dalam membuat cerita yang jauh lebih dahsyat dari sekedar catatan harian saya di atas.

Bintaro, 20 Oktober 2006.
Tujuh tahun setelah kepergian Ibu…
Pepih Nugraha

2 comments:

Lesca said...

Kang, tulisannya menyentuh sekali....

bebex said...

dr dulu
bex sukaaaaaaa banget nulis buku harian..
ampe sekarang kalo slese nulis slalu ditaro dibawah bantal.. :)
dan kalo 1 buku udah penuh,,biasanya suka bex baca2 lagi..abiz itu dibakar...
kbiasaan dr dulu yang ga bisa diilangin..

"membakar buku harian"