Thursday, October 05, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (8)

Asosiasi sebagai Penguat

Dalam beberapa kali pertemuan dengan mahasiswa untuk pelatihan jurnalistik, saya sering mendapat pertanyaan: apakah menulis berita atau artikel itu harus menggunakan “bahasa tinggi”, meliuk-liuk atau mendayu-dayu, sebagaimana bahasa roman. Selalu saya jawab: tidak! Mungkin ada di antara sahabat yang tidak setuju, silakan saja…

Bagi saya yang paling penting dalam menulis, isi pesan tulisan kita lekas sampai tanpa harus mendera orang lain untuk memahaminya, apalagi sampai berkerut kening dan sibuk membuka kamus. Dalam menulis, gunakan saja bahasa sehari-hari. Ini akan membimbing kita pada gaya kita sendiri. Meniru gaya tulisan orang, silakan saja, tetapi percayalah, lama-lama bosan sendiri. Maka, jadilah diri sendiri!

Sekarang bukan zamannya lagi kita bersulit-sulit dalam menulis, menyiksa orang (pembaca) memahaminya hanya karena kita ingin disebut pintar, ingin disebut lebih hebat dari si pembaca. Tidak, yang penting gagasan yang kita sampaikan lekas dipahami. Simak para penulis novel sekarang, yang lebih terbiasa menggunakan bahasa koran, atau bahasa sehari-hari, tanpa harus kuatir orang lain mengiranya bodoh.

Tetapi tanpa bergaya bahasa dalam menulis, tentu tulisan juga menjadi kerontang, tidak menggigit, dan membosankan. Kecuali berita yang benar-benar harus straight, tulisan atau artikel bolehlah sesekali menggunakan gaya bahasa; entah itu hiperbola, personifikasi, atau asosiasi. Sewaktu di SMA, saya hapal semua gaya bahasa sampai ke tautologi segala macam. Tetapi yang kini sering saya gunakan selain perbandingan, juga persamaan atau asosiasi.

Dalam mengambil persamaan, sederhana saja yang penting kreatif, nakal, dan kadang tak terduga. Kadang kita dapatkan asosiasi itu dari percakapan sehari-hari. Misalnya saking panasnya udara Jakarta, sopir mikrolet jurusan Kebonjeruk bilang, “Gila panas ‘kali, kayak neraka bocor!” Terkesan kampungan, tetapi itu suatu asosiasi. Pelawak Thukul enteng saja mengatakan, "Menilai orang itu jangan dilihat dari cassing-nya, yang penting sinyalnya!" Sebuah novelty (kebaruan) yang memukau dengan mengambil persamaan telepon genggam.

Penulis Betawi legendaris Firman Muntaco paling jago dalam membandingkan atau mempersamakan suatu peristiwa, seperti dalam bukunya “Gambang Jakarta”, juga novelis Ahmad Tohari dalam trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk”. Marry Sheley saat menulis "Frankenstein", juga penuh persamaan atau asosiasi ini. Ahmad Bakri novelis Sunda, juga piawai mengolah persamaan suasana ini. Penulis lainnya juga melakukan hal ini. Salut kepada mereka!

Susahkah membuat persamaan? Tidak juga, kita hanya butuh kepekaan dan latihan. Kalau jarak yang hendak kita tempuh sudah dekat, kita katakan saja “tinggal sepelempar batu”. Kalau ada pejabat atau raja penjahat sulit ditemui dan selalu selalu lolos dari jerat hukum, kita katakan mereka sebagai “tak tersentuh”. Kalau orang sudah sekarat, sebut saja “nafasnya tingggal satu dua”. Ringan, ‘kan? Banyak lagi contoh lain, sahabat bisa menciptakannya sendiri secara kreatif.

Selain dalam tulisan, tidak jarang saya membuat judul dari persamaan atau pemanis akhir sebuah tulisan. Saat berada di Aceh meliput tsunami, saya menulis sebuah benda, yakni sebuah kubah masjid yang sudah terpisah dari masjidnya dan terbawa hanyut, tersangkut di pesawahan yang sunyi di kaki sebuah bukit. Saya rileks saja mengatakan “kubah itu masih utuh tetapi kini kesepian”. Lalu dalam tulisan saya mengenai “hiruk-pikuknya” orang berinternet dan perkembangan internet yang sedemikian hebat, saya katakan itu sebagai “revolusi sunyi”.

Mengapa “revolusi sunyi”? Bukankah revolusi selalu identik dengan keramaian dan hiruk-pikuk karena perubahan yang sedemikian cepat. Betul. Tetapi saya membayangkaan sebuah komputer. Hanya komputer. Ia terdiri dari rangkaian prosesor, papan ketik, layar, dan tetikus. Benda yang sunyi, tetapi di dalamnya, internet, menggelorakan revolusi yang luar biasa. Saya tidak ragu menuliskannya sebagai sebuah judul. Sahabat bisa mengikutinya di sini: http://kompas.com/kompas-cetak/0609/22/sorotan/2967623.htm.

Palmerah, 4 Oktober 2006

3 comments:

senja said...

benar, nulis itu hanya perlu pembiasaan. tidak usah memakai kata-kata yang susah, tapi yang paling penting adalah bagaimana membuat orang yang membaca tulisan kita ikut bersama mengembara dan hanyut. membuat pembaca larut dalam heroik dan semangat membara, misalnya jika kita menulis tentang sebuah pertandingan sepakbola yang seru. btw,salam kenal...

ado said...

ini mas pepih pusat informasi kompas ya? saya pernah magang disana loh. salam buat mbak sinta, mas teguh dkk ya ;-)

pancarAdis said...

kenapa orang yang terbiasa menulis bisa dalam hitungan menit sudah mengalir dengan sendirinya, sedangkan saya harus ngedit terus selama beberapa waktu?