Thursday, October 19, 2006

Karya Sahabat (2)


Antara "Saya" dan "Aku"

Bahasa Indonesia memiliki kata "saya" dan "aku" untuk menyebut orang pertama. Tidak seperti dalam bahasa asing lainnya yang hanya punya satu kata untuk orang pertama, misalnya I (Inggris), Je (Perancis), Ich (Jerman), Ik (Belanda), Yo (Spanyol). Di sinilah kelebihan bahasa Indonesia. Ada nuansa perbedaan antara "saya" dan "aku", ada rasa bahasa yang berbeda.

"Saya" menunjukkan bahasa resmi. Dalam surat resmi atau pidato resmi, kata "saya" biasa dipergunakan dibanding "aku". Berbeda dengan bahasa puitik dalam sebuah cerita mini, cerita pendek atau novel, kata "aku" lebih dominan dipergunakan, meski ini juga tidak mutlak. Tetapi ada rasa bahasa sastra untuk kata "aku" di sana. Maka kesimpulan umum, kata "aku" dominan digunakan dalam fiksi.

Dalam kesempatan ini, saya lampirkan sebuah cerita mini karya Julian Arsyad. Meski cermin, tetapi isinya cukup menyentuh, apalagi bagi mereka yang kebetulan mengalami hal serupa sebagaimana diceritakan dalam cermin itu. Hanya saja, penggunaan kata "saya" dalam cermin itu membuat plotnya kurang begitu mengalir. Maaf, meski pahit harus saya katakan demikian, demi kebaikan bersama. Konflik dipaparkan secara straight (langsung), dan ini sah-sah saja.

Saya menyadari, cermin adalah cerita yang lebih pendek dari cerpen, tetapi itu adalah langkah menuju penciptaan cerpen. Kalau unsur dramatisasi dan suspend-nya dirasa kurang, tetapi dengan seringnya sahabat berlatih, unsur-unsur penting yang harus ada dalam sebuah cerita seperti plot, suspend, surprise, konflik, dan sebagainya, akan muncul dengan sendirinya. Bagi pemula, ini memang masih mesteri, misteri yang harus dipecahkan bersama. Dan, Julian Arsyad sudah mulai mencobanya dengan cermin tanpa judulnya di bawah ini:


“Mom, coba Putri punya Ayah ya, jadi mommy gak perlu kerja dan putri bisa ditemani terus sama mommy……”

Bagai terkena tamparan yang sangat dahsyat, saya terdiam dan merasakan sakit yang amat sangat mendengar celotehan ringan yang keluar dari mulut bidadari mungil yang sedang rebahan di pahaku. Kami memang sedang bersenda gurau sebelum sama sama berangkat memulai aktifitas rutin, aku pergi ke kantor dan Putri pergi kesekolah.

Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan untuk mengalihkan kegugupan dan keterkejutan akibat perkataannya. Saya hanya spontan menjawab, “Ade harus bersyukur dengan segala apapun yang Allah telah berikan kepada Ade. Walaupun ayah tidak bersama kita lagi, 'kan Ade masih punya Mommy yang selalu sayang sama Ade…”

Putri adalah anak saya satu satunya dari hasil penikahan saya dengan ayahnya. Sejak umur dua bulan dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya, karena saya memutuskan untuk berpisah dari ayahnya. Sebenarnya keputusan berpisah itu adalah pilihan yang sangat sulit buat saya pada saat itu karena posisi saya yang baru saja menjadi seorang ibu dan Putri yang masih merah yang pasti masih sangat memerlukan figur seorang ayah untuk menemaninya.


Tapi, saya tidak menyesali keputusan yang saya pilih, sebab saya berada di posisi yang benar. Suami saya telah menghianati kepercayaan yang saya berikan kepadanya.

Walaupun sendiri dalam membesarkan Putri, tapi saya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memenuhi kebutuhannya. Sebenarnya sayapun tidak merasa sendirian dalam membesarkan Putri. Bersyukur karena Allah masih sayang kepada saya hingga memberikan keluarga yang begitu sayang kepada saya dan Putri, sampai saya berpikir bahwa Putripun pasti tidak akan pernah merasakan kehampaan tanpa kehadiran seorang ayah disisinya. Papah, kakak dan adikku selalu ada apabila Putri memerlukan sosok seorang ayah walaupun kami tidak tinggal serumah dengan mereka.

Pertanyaan Putri tadi seperti menyadarkan saya dari sesuatu. Sebenarnya saya tahu bahwa suatu saat dia pasti akan menanyakan tentang hal ini, tapi saya tidak menyangka secepat ini. Putri baru berumur empat tahun dan menurut saya dia belum mengerti arti kehilangan seorang ayah karena selalu ada saya dan keluarga saya yang selalu siap untuk menemaninya. Ternyata saya salah, Putri tetap merasakan kehilangan sosok seorang ayah.

Ya Allah kepadaMu jualah saya memohon pertolongan dan petunjuk agar dapat menjadi yang terbaik untuk Putri walaupun saya hanya seorang wanita biasa yang berusaha menjalani segala kewajiban sebagai orang tua untuk dipertanggung jawabkan dihadapanMu nantinya, ya Allah………

Julian Arsyad


Catatan:
Apa yang sahabat baca adalah hasil karya murni Julian Arsyad tanpa saya ubah susunan kata dan kalimatnya, kecuali kesalahan huruf seperti "karna" yang saya ubah "karena", bilangan "2" dan "4" yang saya tulis "dua" dan "empat", nama orang atau panggilan "ade" yang saya ubah "Ade". Dalam kesempatan mendatang, saya akan menampilkan satu cermin karya Luh Ayu Kusuma Sari dari Bali berjudul "Hp untuk Ibu". Juga sebuah artikel kontemplatif pendek yang menarik dari Lesca. Kita tunggu penampilan mereka...

Pepih Nugraha
Kopo, 19 Oktober 2006

2 comments:

rara said...

Pepih, apa kabar? Wah udah pindah ke Kompas Jakarta ya :)
Saya Rara, temannya Amanda yg pernah kerja di Kompas dulu. Saya pernah nitip ijazahnya Amanda via diri ta utk dibawa ke Jakarta waktu Amanda masih di Jakarta :P
Lam kenal ya :)

Paccarita said...

komunitas blogger makassar is on :) silakan dikunjungi ya!