
Mengapa JK Selalu Dicurigai?
TIDAK seorangpun mampu memahami kemana Jusuf Kalla (JK) melangkah, kecuali dirinya sendiri. Langkah di sini tentunya manuver politik yang dilakukannya terkait dengan Partai Golkar yang dipimpinnya, juga langkahnya menginjak tahun 2009 nanti, apakah ia maju sebagai calon presiden, atau cukup puas dengan menjadi calon wakil presiden, mengulang sejarah manis tahun 2004 lalu.
Awal tahun 2004, saya berkesempatan menumpang pesawat JK bernama “Atthira” dari Makassar ke Ambon. Waktu itu JK sudah menyatakan mundur dari kabinet Megawati. Di atas pesawat, saya dipanggil duduk di sebelah JK. Dia mengeluarkan secarik kertas dan pulpen, lalu mulai menuliskan angka-angka. Saya berpikir, JK benar-benar saudagar yang gemar berhitung, meski baru di atas kertas. Inti dari coreng-morengnya di atas kertas berisi perhitungan itu, JK yakin akan menjadi wakil presiden dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pasangannya, akan dipilih rakyat menjadi presiden.
Delapan bulan kemudian, hitung-hitungan di atas kertas JK menjadi kenyataan!
Paket militer-saudagar ini ternyata laku dijual, menggusur tiga pasangan lainnya di putaran pertama dan menumbangkan duet “Nasionalis-Hijau” Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi di putaran kedua. Sebagian besar rakyat Indonesia, paling tidak jumlah yang saat itu memilih presiden/wapres secara langsung, memilih pasangan SBY-JK.
Pertanyaan yang kerap publik lontarkan, akankah SBY masih satu perahu dengan JK atau mereka dengan perhitungan rumit (lagi-lagi sebagai saudagar JK pasti sudah mulai menghitungnya) harus pisah haluan?
SBY, tentu saja tidak akan “turun pangkat” jadi calon wapres. JK, masak iya harus jadi calon wapres lagi? Meminjam Jenderal Naga Bonar, “Apa kata dunia kalau JK masih jadi calon wapres? Apa kata dunia Gokar sebagai partai besar (apalagi kalau memenangi pemilu 2009) cukup puas hanya memajukan kadernya sebagai wapres?” Yah, apa kata kita-kita juga?
Sekarang, langkah JK di intern partainya dicurigai sebagai “langkah siluman” atau langkah diam-diam JK ber-zoon politicon. Ibarat pesawat siluman Stealth, JK bebas bermanuver di angkasa atau bahkan menukik ke daratan tanpa terdeteksi radar politik pihak lawan. Manuver apapun, tentu saja untuk kepentingan 2009, bukan?
Mengapa JK dicurigai kawan dan lawan? Di intern partai JK misalnya menghapuskan “Konvensi Golkar” untuk menjaring bakal calon presiden yang dirancang Akbar Tandjung. Tujuannya bisa ditebak, JK tidak mau tersandung di konvensi dengan tidak dipilih sebagai calon presiden partainya. Kemungkinan kalahnya JK di Konvensi bukan hal yang mustahil. JK siap diberondong kadernya sendiri karena gagalnya Golkar menjadikan kader partainya sebagai kepala daerah, gubernur atau bupati/walikota. Juga akan dipertanyakan tidak atau jarangnya JK turun ke bawah menyapa para kadernya, setidak-tidaknya dibanding Akbar dan Harmoko.
Mengapa Konvensi Golkar harus dihapus? Bagi JK ini sederhana saja. “Wiranto yang lolos konvensi partai saja gagal di putaran pertama dan hanya mampu menduduki peringkat tiga, masak konvensi harus diulang kembali!?” Demikian kira-kira kalau mengikuti jalan pikiran JK sebagai saudagar.
Mengapa pula JK sampai sekarang tidak segera mengumumkan pencalonan dirinya sebagai presiden? Jawabannya juga sederhana, “Kalau itu saya lakukan, pemerintah sekarang tidak akan berjalan karena banyaknya kader Golkar di kabinet yang harus berlawanan dengan SBY, dan kalau kalau pemerintahan tidak jalan yang menjadi korban ‘kan rakyat juga.” Demikian kira-kira jawabannya.
Tidak perlu dululah membahas munculnya banyak calon-calon presiden dan wapresnya dari Partai Golkar sendiri, yang pasti sudah diperhitungkan pula oleh JK. Tetapi dengan menghapus konvensi dengan alasan hasilnya “tidak bergigi” dan tidak maunya sekoci pemerintahan oleng hanya karena mengumumkan pencalonan dirinya sebagai calon presiden, bukankah itu manuver yang logis dan masih masuk akal?
Kalau begitu, mengapa JK selalu dicurigai? Saya tidak tahu….!
Palmerah, 28 Oktober 2008
Hari Soempah Pemoeda
*Tulisan saya ini diambil dari Kompasiana, blog jurnalis Kompas.
Showing posts with label Dari Kompasiana. Show all posts
Showing posts with label Dari Kompasiana. Show all posts
Tuesday, October 28, 2008
Dari Kompasiana (6)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:36 PM
4
komentar
Label: Dari Kompasiana, Jusuf Kalla, Politik
Sunday, October 26, 2008
Dari Kompasiana (5)
Fariz Rustam Munaf
SAYA terkejut juga ketika tulisan ringan saya mengenai penyanyi Fariz Rustam Munaf, yang lebih dikenal dengan Fariz RM, dibaca 747 kali saat saya masukkan ke Kompasiana hingga pukul 20.30 WIB Sabtu hari ini. Bagi saya itu jumlah pembaca yang lumayan besar dan terukur. Bukan karena tulisan itu menarik untuk dibaca, tetapi lebih faktor Fariz RM yang sampai sekarang masih punya banyak penggemarnya, dan bahkan di antara mereka masih banyak yang menantikan kehadiran album barunya.
Saya bertemu istri Oneng itu pada Kamis (23/10) lalu di kantor Redaksi Kompas setelah diajak rekan saya, Budiarto Shambazy. Terlalu sayang kalau dilewatkan begitu saja pertemuan saya dengan salah satu musisi yang saya kagumi. Maka saya menulis laporannya untuk Kompas.com beberapa menit setelah wawancara itu usai. Sedangkan tulisan yang saya maksud "inside story" itu saya tulis di Kompasiana.
Sahabat yang sama-sama ingin belajar menulis bisa membandingkan bagaimana penulisan tentang Fariz RM untuk Kompas.com yang resmi dibanding dengan tulisan untuk Kompasiana yang lebih ringan dan merdeka. Kompasiana adalah blog para jurnalis Kompas yang lambat tapi pasti mendapat pembacanya sendiri.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:06 PM
0
komentar
Label: Dari Kompasiana, Fariz Rustam Munaf, Musik
Subscribe to:
Posts (Atom)









