Monday, January 29, 2007

Novelet: Mystery of Love (11)


"Mystery of Love"
Oleh TIA


Angel membukakan pintu untukku, dan ah…Nisa langsung memelukku,”Tante…Mama udah cerita ke Nisa, dari kemarin Papa selalu panggil nama tante terus.”Aku pun memeluk Nisa dan mengusap-usap rambutnya, aku lihat di sofa, si kecil Lia memandangku heran, dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi.

“Nisa, Lia, ikut Mama ke kantin yuk, kalian belum makan pagi kan?” Angel, menengok ke arahku dan menganggukkan kepalanya.

Nisa melonggarkan pelukannya terhadapku,”Tolong Papa tante.” Bisiknya pelan.
Kemudian Angel menggandeng kedua putrinya keluar, dan meninggalkan aku berdua dengan Mas Nata.

Aku melihat sosok tubuh yang berada di tempat tidur, wajahmu terlihat pucat, pipi yang dulu sering bersemu merah, sekarang tidak lagi bersinar…semuanya pucat. Aku membelai dan mengenggam tanganmu.

Kubisikkan kata-kata di samping telingamu, ”Cinta,…aku datang.”
Tidak ada reaksi dari kamu..kuucapkan dengan nada lebih keras,”Cinta, aku sudah datang, disampingmu…Cinta…” Aku berupaya keras menahan air mataku yang sudah akan meleleh.

Aku pun lalu mencium kening dan bibirmu, tetap tidak ada reaksi dari kamu.
Aku menarik kursi kosong ke sebelah tempat tidurmu, aku duduk di sana dan terus memegang tanganmu, kuciumi tanganmu dengan penuh kasih…betapa aku sangat mencintaimu…

Aku ceritakan lagi kisah-kisah pertemuan kita yang semula aku kira hanyalah suatu kebetulan, tapi ternyata sudah kamu rencanakan. Aku ceritakan juga kenangan tentang obrolan kita yang menggelitik…aku tertawa, tapi kamu tetap tak bergeming Cinta.

Ya Allah, sembuhkanlah dia, sembuhkanlah dia….sadarkanlah dia…ijinkanlah dia melihatku sekali lagi…

Air mataku bercucuran, aku terus melantunkan Surat Al Fatihah dan dzikir berulang-ulang untuk kesembuhanmu…

Hatiku sangat sakit melihat keadaan orang yang sangat kucintai menjadi tiada berdaya. “Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi Cinta…aku akan terus bersamamu, melayanimu…sudah cukup pengorbananmu atas aku, dan sudah waktunya lah bagiku untuk berkorban untukmu.” Aku pun mencium keningmu, dan sesaat kulihat air mata mengalir dari sudut mata kananmu,”Cinta, apakah kau mendengarku?” ,aku melanjutkan kata-kataku lirih “Kalau Angel mengijinkan, aku akan menikah denganmu Cinta” aku pun mengusap pipimu pelan.

Dan perlahan-lahan kelopak matamu mulai bergerak dan sedikit demi sedikit terbuka, aku menangkupkan kedua tanganku ke mulutku dan mengucapkan tahmid berulang-ulang….bersamaan dengan itu pintu kamar terbuka, dan Angel masuk dengan Nisa dan Lia…
Aku memandang takjub kepada apa yang kulihat dan kusampaikan kepada Angel,”Alhamdulillah….Mbak, Mas Nata sudah sadar.” Angel pun segera menuju samping kiri tempat tidurmu bersama Nisa dan Lia.

Kamu membuka matamu sedikit demi sedikit, mengerjap pelan dan lemah…Angel pun menangis bahagia…Nisa juga, dia terus memanggil Papanya.

Aku perlahan-lahan mundur menjauh, namun suaramu mencegatku,”Hun….”, aku mendekat kembali, air mataku kini berlinangan, aku menatap wajahmu, kemudian kamu meraih tanganku, dan meraih tangan Angel. “Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua…, dan anak-anakku, Nisa dan Lia.”

Aku menatap mata Angel yang juga telah basah dengan air mata, kemudian aku menatap matamu. Berbagai perasaan berkecamuk di dadaku…Tiba-tiba Angel berkata,”Pa, aku ikhlas kalau kamu ingin menikahi Ara, dia wanita yang baik...Dia akan aku anggap sebagai adikku sendiri.”

Aku menatap Angel, dan terisak,….Kudengar suaramu berkata,”Ma, maafkan aku…”
“Pa, aku sudah mengetahui semuanya dari data di XDA mu, betapa dia sangat berarti dalam hidupmu, cinta kalian begitu dalam.” Angel melihatku dan kamu bergantian. Angel tersenyum tulus kepadaku.

“Ara…aku memintamu untuk menjadi istri bagi suamiku, kamu bersedia kan ?” Angel memegang lenganku.

Aku memandang kamu dan Angel bergantian, kamu pun menganggukkan kepalamu lemah, aku menatap Angel dan berkata,”Insya Allah Mbak.”

“Alhamdulillah…” Angel tersenyum melihatku dan kamu.
Aku melihat ke arah Nisa dan dia berlari ke arahku dan memelukku,”Aku juga ingin Tante menjadi Mamaku.”

Aku memeluk Nisa dan meraih Lia juga untuk aku peluk. Ah, betapa aku sudah mulai mencintai kedua anak ini…aku ciumi pipi mereka dan kening mereka bergantian, kulihat mereka berdua tertawa senang.

Kemudian, aku menghampiri Angel dan memeluknya, dia mencium pipiku, dan menghapus sisa air mata yang tadi meleleh di pipiku.

Lalu aku melihatmu, kamu merentangkan tangan ingin memeluk kami berdua.
Kami pun membungkukkan badan dan memelukmu dari sisi yang berlawanan, kamu mengecup kening kami berdua bergantian ,”Terimakasih Ma…” ucapmu lirih kepada Angel.

“Oh, aku akan memanggil perawat dulu untuk melihat keadaanmu ya Cin..” aku melihat ke Angel untuk meminta persetujuan dan dia mengangguk.

Aku pun berjalan keluar kamar, dan kembali menangis di koridor rumah sakit…tapi tangisanku adalah tangisan bahagia.
(Bersambung)

2 comments:

pancarAdis said...

semoga tetap happy ending

pancarAdis said...

semoga tetap happy ending