Monday, January 01, 2007

Berita Anda (1): "Ibu Macam Apa"

Rubrik Terbaru!

Inilah yang saya nanti-nantikan: blogger juga punya dan bisa bikin berita! Seperti pernah saya postingkan di blog saya sebelumnya, juga pernah saya tulis di Harian Kompas dengan judul "Kita Semua Wartawan" yang bercerita tentang keranjingannya warga netter membuat blog, berita orisinal juga bisa dibuat oleh citizen journalist (pewarta warga). Salah satunya adalah berita menarik dan orisinal yang dibuat sahabat Landy, yang saya ambil dari blog miliknya: harapandiri.blogspot.com.

Saya harus meminta izin dulu sebelum mempostingkan kembali berita ini kepada si pemilik hak cipta, Landy. Rupanya ia tidak keberatan beritanya ditampilkan di blog ini agar kita semua bisa belajar melihat, meliput, mencatat, dan menuliskan peristiwa semua yang kita lihat dan alami sehari-hari. Tentu saja masih jauh dari kaidah penulisan jurnalistik yang seharusnya, sebab berita masih tercampur dengan opininya, dan bahkan "sumpah serapahnya".

Bagi saya yang kebetulan sudah cukup lama mengenal dunia kewartawanan, apa yang dihasilkan Landy ini tidak jadi masalah. Sudah tergerak merekam dan menuliskan apa yang dilihatnya saja sudah lebih dari cukup. Kemauan, kemauan, dan kemauan... Itulah modal awal lahirnya sebuah tulisan. Foto yang ia ambil dan tampilkan berbicara banyak, apalagi kalau kelak dibuat secara sekuel.

Saya akan terus menelusur blog para sahabat, siapa tahu saya menemukan lagi berita lainnya yang juga menarik dan bermanfaat buat kita semua, untuk kemudian saya tampilkan (kalau bisa setiap hari) di blog ini. Memang, idealnya saya tinggal menunggu sahabat yang punya berita atau foto untuk dikirim ke alamat saya: pepih_nugraha@yahoo.com. Saya pasti akan senang menerimanya.

Sekarang, mari kita ikuti berita Landy yang lugas dan apa adanya di bawah ini...




Ibu Macam Apa
Oleh LANDY

Saya tidak mengerti expresi apa yang harus saya tampakkan ketika melihat pemandangan di atas, yang jelas saya amat kesal melihatnya, beberapa bocah balita dengan wajah memelas di atas jembatan penyeberangan jam 11 malam ditengah hujan deras dan angin yang kencang. Exploitasi murahan macam apa ini, beberapa anak dengan wajah polosnya mengharapakan seorang dermawan memberi beberapa lembar ribuan. Dari kejauhan tampak ibu–ibu mereka dengan asiknya mengobrol.

Saya berjalan dengan memasang wajah sinis melewati wanita–wanita tersebut, dalam hati saya berkata “ibu macam apa kalian, apa tidak punya otak mengexploitasi anak–anak di bawah umur di tengah malam?"

Langkah saya terpaksa saya hentikan tepat di depat ibu dengan dua anak yang sudah biasa saya lihat, sepertinya ibu itu lupa dengan saya, dengan menahan rasa benci dan bermodal beberapa lembar ribuan serta HP camera murahan untuk sekedar mendapatkan beberapa gambar. saya mencoba tersenyum, dengan harapan mengorek informasi lebih jauh dari dirinya. Karena rasa benci saya sudah memuncak maka basa–basi bukanlah pilihan yang terbaik.

“Ini anaknya, Bu… ???" tanya saya. "Iya," jawabnya .

F**K dan segala sumpah serapa terucap dalam hati, “Pembohong besar” batin saya , seminggu yang lalu di tempat yang sama ibu ini membawa anak yang lebih kecil, 3 bulan usianya dan dia bilang anaknya, apakah dalam waktu seminggu seorang anak bisa berubah menjadi seukuran ini…???

"Berapa umurnya bu…??” tanyaku kemudian. "11 bulan…” jawabnya dengan menunduk. Kekesalan saya makin menjadi, dalam seminggu anak berusia 3 bulan menjelma menjadi 11 bulan. Apakah ini tanda–tanda kiamat? Wanita ini sangat hebat memerankan perannya, kalau saja wanita ini di beri kesempatan untuk berperan dalam suatu produksi Film mungkin artis sekelas Cristine Hakim tidak mampu menandinginya. Bahkan Piala Oscar sudah pasti dalam genggaman.

Apakah Mas Iman (maksudnya blogger Iman Brotoseno, PN) berminat untuk merekrutnya dalam salah satu produksi perdananya... ??? Manusia macam apa kalian… begitu tidak ada hatinyakah sehingga membawa anak yang begitu kecil ke jalan untuk meminta–minta…??? Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari meminta-minta…???

Jjangan bilang karena pendidikan dan susahnya lapangan kerja membuat Anda harus berbuat seperti ini. Bunda saya tercinta tidak tamat sekolah rakyat, tapi dia tidak pernah menyuruh kami anaknya untuk membawa mangkuk plastik dan memaksa kami turun ke jalan untuk mengumpulkan belas kasih orang. Jangan bilang karena banyaknya anak membuat Anda berbuat seperti ini. Bunda saya tercinta harus menghidupkan 8 anaknya dan 7 keponakan suami tercintanya di dalam rumah ukuran 60 meter, Anda bisa membayangkan rumah 60 meter di isi 2 orang dewasa dan 15 anak–anak. Dan yang harus garis bawahi, Bunda saya tidak perlu menjadi pelacur atau meminta–minta untuk menghidupi kami semua.

Saya tidak perlu menjelaskan bagai mana siang dan malam Bunda saya berjuang untuk itu, cukup hanya menjadi kebanggaan bagi kami semua anaknya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi dalam acara investigasi di salah satu stasiun TV seorang ibu mengungkapkan alasan karena factor kemiskinan dan suami yang tidak berkerja maka ia terpaksa menyewakan bayinya Rp. 3.000/hari. Saya ulangi "TIGA RIBU RUPIAH SEHARI", suatu pernyataan yang membuat saya histeris sekaligus berterima kasih kepada Bunda karena tidak berbuat seperti itu.

Apakah ibu itu tidak berpikir hanya karena uang Rp 3.000 dia rela membiarkan bayinya tersengat sinar matahari, menghirup polusi udara, belum lagi kejiwaan si anak yang dari kecil telah terbiasa meminta–minta. Dan yang lebih menakutkan lagi kejahatan seks yang bukan rahasia umum lagi terjadi di jalan *ingat kasus Robot Gedek*, Oh dunia macam apa yang saya tempati ini.

Mungkin betul ungkapan seorang teman bahwa orang gila yang di luar lebih banyak dari pada yang mendekam di pusat penampungan. Anak–anak yang terbiasa mendapatkan uang dengan mudah di jalan, maka mereka akan sangat susah untuk dibina, itu setidaknya yang saya baca dari salah satu blog yang saya lupa namanya.

Anak–anak tersebut sangat jarang yang mau kembali ke rumah penampungan yang di sediakan LSM. Mereka berpikir pendidikan untuk menghasilkan uang , dan kalau saat ini mereka sudah bisa meperoleh uang untuk apa lagi sekolah...!! Suatu masa depan yang suram bila setiap anak berpikir seperti itu.

Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk masalah ini, mungkin dengan menulis diblog merupakan salah satu cara untuk meringankan salah satu beban yang mengganggu pikiran saya sejak sebulan ini…

Jakarta, 1 Januari 2007

6 comments:

landy said...

Aduh, kok lebih bagus kalau om yang nulis ya...., jadi malu akunya...., aku ada kendala di bloggernya aku kurang paham ma blogger pada hal dah beli 2 buku..., gaya penulisan norak ya om... jelek banget , tapi makasih deh dah mau sempetin mampir dan memposting ulang tulisan ini....

angin-berbisik said...

Pak, ikut salut utk Landy, bagus sekali postingannya, saya punya puisi yg saya buat karena keprihatinan saya tentang banyaknya kasus aborsi....bisa dimuat disini sapa tau Pak, biar banyak orang yg terketuk, hehehe tapi kalo pantes tampil disini.....bisa dilihat di http://angin-berbisik.blogspot.com/2006/12/letter-from-abortus-victim.html#comments

donnie said...

Menurut saya, masalahnya udah kompleks dan bukan salah ibu tsb seorang. Menyangkut sistem, pola pikir, lingkungan dan negara.
Yang plg bertanggungjawab jelas saja pemerintah. Bukankah di UUD 45 tercantum bahwa fakir miskin dan anak terlantar dibiayai oleh negara?
Kedua, mungkin juga kita punya andil sehingga membuat mereka begitu. Terlalu panjang utk dibahas di kolom komentar ini.

ira said...

udah saatnya blog bukan hanya cerita tapi punya nilai berita ama nilai rasa..itu yg blum bisa sy lakukan di blog sy..sedih juga ya ada ibu yang tega gitu. pasti mereka terpaksa karena kondisi..hiks2

dianika said...

Nice posting, Mas Pepih. Saya sepakat tentang pewarta warga. Kekuatan tertinggi pewarta warga adalah sharingnya. Dalam sharing ini ada keterlibatan emosi.
Ke depan, dg adanya laju perkembangan pesat blog, pewarta warga ini akan jadi trend.
Smg sukses selalu ya...

venus said...

bagus banget. news gaya blogger. gak perlu mikir sensor. apa aja yg berkelebat di otak dan hati, langsung muntahin aja. dan...bagus. sumpah!

salam kenal, mas pepih :)