Wednesday, January 17, 2007

Novelet: Mystery of Love (10)


"Mystery of Love"
Oleh TIA

Aku memandang XDA yang terbungkus sarung kulit berwarna hitam itu. Aku meraih XDA itu, memandangnya dan kemudian memencet salah satu tombolnya untuk menghidupkan backlightnya, foto Nisa dan Lia yang menjadi wallpapernya. Hatiku tersayat ketika mengingat kembali obrolan aku dan kamu di café Tivoli. “Aku kangen anak-anakku..” oh, tak menyangka saat ini kamu sedang bertaruh nyawa di kamar atas.

Aku cari program Diary di XDAmu. Aku teringat, kamu sering menertawakan aku karena melihat aku yang selalu rajin menulis catatan singkat mengenai kegiatanku hari itu, ”Seperti anak abege saja kamu Hun...duh… fakta banget kalau kamu ternyata emang masih remaja kali ya, tas cangklong bulukmu, belum lagi hobi nulis diary di HP.”

“Ugh, sini aku installin juga deh, biar kamu nulis juga, sini XDA mu..”Aku pun berusaha mengambil XDA yang ada di saku kemejamu.
“Tidak ah, makasih, rasanya aku gak perlu aplikasi seperti itu.” Katamu sambil menutupi sakumu.

Air mata mulai terasa menggenang di pelupuk mataku, ketika kenangan denganmu sekilas melintas. Ah ini dia… Aku buka aplikasi tersebut, wah, banyak sekali…Tetapi hanya beberapa yang Angel sudah ditandai. Hatiku berdebar ketika aku mulai membacanya.

New York, Summer 2002
Hari ini aku melihatnya lagi, kami kembali satu lift, senyum ceria tidak pernah hilang dari mukanya, walau pun senyum itu bukan buatku. Aku bertanya kepada John siapa dia, namanya Prahara Samudra, lulusan UCLA tapi berasal dari Indonesia. Oke hari ini aku mendapatkan namanya. Dan kebetulan teman seangkatanku John yang menjadi atasannya. Aku rasa, ku telah jatuh cinta kepada Prahara.

Hongkong, Winter 2003
Tiba-tiba hari ini aku teringat padanya, gadis yang sering kutemui di lift kantor pusat New York, entah mengapa aku sudah merasakan rindu kepadanya, padahal dia belum mengenalku, aku pun nekat mengontak John, untuk mencari tau keberadaannya. Dari John aku dapat kabar, kalau gadis itu akan meliput di Trafalgar Square, London. Aku langsung memesan penerbangan pertama ke London.

London, Winter 2003
Aku sangat bahagia, penantianku selama 5 jam di Trafalgar Square tidak sia-sia, kami pun bisa berkenalan, dan aku memanggilnya Ara. Tapi apa aku yang ke geer an yah, karena sejenak aku melihat raut mukanya rada kecewa ketika mengetahui aku sudah menikah dan mempunyai anak, ah entahlah…

Copenhagen, akhir Summer 2004
Apakah ini pertanda dari Tuhan, entahlah, tapi ternyata kita berjumpa lagi, dan kali ini benar-benar suatu kebetulan. Ketika aku sedang mendengarkan alunan biola di Tivoli, mataku menangkap bayangmu, dan hampir saja aku tak mengenalimu Ara, dan ketika kamu berjalan di belakangku, aku pun menyapamu, oh..syukurlah kamu masih ingat kepadaku. Kita pun mengobrol di café, dan tanpa bisa kutahan, spontan aku mengajakmu suatu saat mengunjungi Malostranské Bridge di Prague berdua. Ah… tak bisa kulukiskan perasaanku malam itu Ara, aku bahagia sekali.

Tokyo, 2004
Ah suntuk dengan pekerjaanku, aku teringat kepadamu Ara. Aku pun menelpon John untuk menanyakan kamu sedang ada di mana. John sudah mulai curiga, tapi sikap kebaratannya yang tidak mau ambil pusing urusan orang, telah menyelamatkanku. “Ara sedang di Barcelona, hunting foto di Pueblo Español, mungkin sampai akhir minggu dia di sana.”
Aku pun menyelesaikan pekerjaanku malam itu juga dan dengan pesawat paling pagi aku berangkat ke Barcelona.

Barcelona, akhir Winter 2004
Setelah menyusuri jalan-jalan sempit di Pueblo Español, akhirnya aku bertemu denganmu Ara. Ah, kamu tampak cute sekali dengan cardigan berwarna coklat khaki dan rok sebatas lutut berwarna hitam, kamu juga memakai sepatu boot sepanjang betis. Kamu asyik sekali dengan kameramu, sehingga tidak menyadari aku yang sudah berdiri 10 menit di belakangmu.
Ara, hampir saja aku menciummu, ketika aku memasangkan syalku di lehermu, tapi sepertinya kau menghindar. Dan kekecewaanku terobati ketika kamu mau berjalan-jalan denganku menyusuri gang-gang sempit di Pueblo Español sore itu, aku mulai berani menggandeng tanganmu. Ah Ara…aku sudah jatuh cinta kepadamu semenjak di lift itu.

Aku mengusap air mataku yang menetes….ah Cinta, ternyata engkau duluan yang telah jatuh cinta kepadaku, bahkan sebelum aku menyadarinya.

Paris, awal Summer 2005
Aku mendapatkan kabar dari John, bahwa kamu hari ini sedang berada di Museum Louvre, suatu kebetulan, sudah seminggu ini aku berada di Paris, melakukan negosiasi dengan perusahaan pariwisata terbesar di Paris. Tanpa berfikir panjang, aku cancel jadwalku meeting dengan mereka, dengan alasan kelelahan, dan aku langsung menyusulmu ke Louvre.
Aku tidak sengaja melihatmu sedang adu mulut dengan penjaga ruang tempat lukisan Monalisa. Dengan bahasa Perancis bercampur Inggris, kamu kelihatannya sedikit putus asa menjelaskan ke penjaga tersebut, kalau kamu mempunyai izin untuk mengambil gambar. Namun, akhirnya kamu menyerah dan keluar dari Louvre, aku pun mengikutimu. Tidak tahan melihat kekecewaanmu, aku pun mengirim e mail kepadamu. Dan benar saja, senyum ceria langsung mengembang di mukamu. Hari itu juga aku mengajakku bertemu lagi di Marseilles, dan tempat yang aku fikirkan adalah Basilique Notre Dame de La Garde.

Marseilles, Awal Summer 2005
Basilique Notre Dame de La Garde, tempat kita bertemu sore ini, ahh dadaku berdegup kencang ketika berada di dalam taksi. Aku akan bertemu denganmu. Kemudian mataku menatap kepada seorang anak kecil penjual bunga di pinggir jalan, aku minta tolong kepada supir taksi untuk menghentikan taksinya sebentar. Aku panggil anak itu, dia menjual sekeranjang bunga lili berwarna putih. Aku teringat Nisa , kira-kira dia berumur sama dengan anak kecil tersebut. Aku pun membeli setangkai lili putih,”Terimakasih Tuan, semoga mendatangkan keajaiban untuk Tuan.” Aku pun tersenyum mendengarnya, aku suruh dia menyimpan kembaliannya.

Ah sore itu, aku menyatakan isi hatiku kepadamu, aku bahagia karena kamu merasakan hal yang sama. Terimakasih atas cinta yang telah kamu berikan Hun…
Air mataku kembali meleleh….aku terisak, dan kemudian melanjutkan bacaku.

Athens, Fall 2005
Setelah dalam rangkaian pekerjaan di Perancis, aku sempatkan mampir ke Athens, sekalian ini kunjungan pertamaku ke Athens…sewaktu melihat reruntuhan kuil di Akropolis, aku mengirimmu e mail, dan ternyata kamu ada di Roma. Ah, betapa dekatnya jarak kita sebenarnya Hun. Rindunya aku kepadamu, aku pun menelpon John untuk menanyakan jadwalmu selanjutnya, aku ingin memberikan kejutan untukmu Hun. Dan ternyata 2 hari lagi kamu harus hunting ke Viena.
Langsung saja aku mengirimmu e mail dan mengajakmu janjian ke Viena, tentu saja aku tebak kamu akan makin penasaran denganku….I love u Hun…

Viena, Fall 2005
Ah, rasanya aku telah melukai hatimu…setelah aku mengungkapkan alasanku, bahwa aku harus pulang ke Jakarta. Walaupun kamu sungguh pengertian, tapi aku sadar, bahwa di Altes Rathaus tadi, aku sudah melukai hatimu…tidak dapat kumaafkan diriku ini…tidak dapat !

Jakarta, November 2005
Aku menelponmu jam 2 pagi…ah ketika mendengar suaramu, ingin rasanya memelukmu erat Hun, aku kangen….Mudah-mudahan aku memimpikanmu.

Tokyo, Spring 2006
Ah aku ingin bertemu denganmu, aku lalu menelpon John, dan aku pun berterus terang kepadanya mengenaimu, dan dia tertawa keras sekali, sialan…, dia membuat mukaku merah padam. Aku pun ingin agar dia mengatur perjumpaan kita di Prague, kata John, seharusnya jadwalmu ke Prague masih beberapa minggu lagi. Tapi tetap saja aku memaksa John untuk bisa menjadwal ulang schedulemu Hun…

Prague, Awal Summer 2006
Aku mengajakmu bertemu di Malostranské Bridge, dan hari itu pertama kali aku berani mencium bibirmu dan pertama kali pula aku mendengarmu menyanyi untukku.
Suaramu begitu halus Hun, cinta sekali aku denganmu !
Hun, aku punya kejutan untukmu di New York, kamu akan tau siapa sebenarnya aku…

New York, Summer 2006
Aku melihat matamu yang terkejut ketika menatapku di ruangan Matt, dan nada suaramu yang bergetar sewaktu mempresentasikan proyekmu yang akan datang di Asia.
Hun, kamu benar-benar berhasil mempresentasikan proyekmu dengan baik, semuanya sangat meyakinkan, aku bangga sekali denganmu.
Aku juga lega ketika mengetahui tidak ada yang berubah dalam sikapmu setelah mengetahui aku siapa.

Tokyo, Summer 2006
Hun, aku bahagia saat menemani kamu seharian di Ginza.
Kau milikku hun, dan aku milikmu…
Entah kenapa malam ini, aku menyuruh sekretarisku Nauko membawakan katalog perhiasan…ah aku ingin membelikanmu cincin Hun, sebagai pengikat, aku ingin bertunangan denganmu…dan kemudian meminta ijin Angel untuk menikahimu, ah semakin tak karuan saja rasanya hati ini….

Hongkong, 2006
Kau menolak bertunangan denganku hun…
Malam ini aku habiskan dengan berdiam diri di kamar.

Aku semakin terisak…itu catatan terakhir dari Mas Nata yang sudah ditandai Angel.
Aku menghapus air mataku, berdiri dan melangkah. Menuju ke kamar atas tempat Mas Nata koma.
(Bersambung)