Monday, August 14, 2006

Citizen Journalism (1):


Turnamen Catur Anak-anak VBI

Dua hari berturut-turut, Sabtu sampai Minggu (12-13 Agustus 2006), di Pendopo Vila Bintaro Indah (VBI), berlangsung kejuaraan catur anak-anak se-RT 02. Tak dinyana dan tak diduga, yang mendaftar cukup banyak, 18 anak! Ini karena ada dua atau tiga anak dari RT lain yang ikut turnamen catur dengan uang pendaftaran Rp 5.000 itu (setara 50 sen dollar AS).

Kejuaraan menggunakan Sistem Swiss 5 babak dengan Ketua Panitia Pak Rosal dan Ketua RT, Pak Eko. Kejuaraan layaknya turnamen betulan karena menggunakan jam catur untuk masing-masing sembilan papan! Salut buat Pak Rosal yang menyediakan jam catur berikut papan caturnya sebanyak itu, plus dua jam catur yang ada di RT 02. Pak Rosal sangat jeli, teliti, dan sabar menghitung skor akhir, bahkan sampai menggunakan Sistem Solkoff kalau ada beberapa pecatur yang meraih angka sama. Persis turnamen sungguhan, sebab ada juga panggung kehormatan bagi pemimpin teratas!

Alhasil, selama dua hari itu, 18 anak saling berhadapan di atas sembilan papan catur plus jam catur mereka masing-masing. Waktu berpikir dibatasi 25 menit untuk masing-masing pemain. Tetapi kadang baru dua menit dan baru lima langkah pun sudah ada yang teriak, “Skak mat!”. Lucunya ada juga anak, Raki namanya, masih belum bisa bagaimana cara memukul lawan. Raki memukul bidak lawan dengan cara “nyerong” seperti dam-daman. Tetapi setelah diberi tahu, Raki menurut dan melanjutkan permainan!

Satu-satunya pemain puteri adalah Rani. Maka jelaslah dia menjadi bintang turnamen. Rani juga langsung menyabet predikat: pemain tercantik! Yang mengagumkan, Rani mampu menduduki empat besar. Mestinya peringkatnya akan lebih tinggi bila pada partai terakhir mampu memetik angka. Lawannya, Farhan, yang kemudian menjadi juara dua, menahannya remis, padahal Farhan kalah jauh kualitas dari Rani. Sayang, Rani yang berpenampilan “tomboy” itu tidak melihat jebakan remis yang memang sengaja dipasang Farhan.

Dalam turnamen ini adik Farhan, Fadli, keluar sebagai juara turnamen. Pak Rosal memang melatih ketiga putera-puteranya bermain catur menggunakan jam. Alhasil, sudah sangat terlatih. Farhan dan Fadli adalah dua dari tiga puteranya yang menduduki empat besar. Sedang si bungsu, menang dua partai terakhir atas lawan-lawannya dengan mat indah.
Rani bersama adiknya, Remo. adalah puteri dan putera dari Pak Djoni Irawan. Ingat nama ini? Dia adalah pemeran “Roy” yang berkepala plontos dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang naksir berat sama Si Sarah (Cornelia Agatha). Pak Djoni sudah sejak lama menjadi tetangga kami, setua VBI berdiri. Dia sangat berjiwa sosial, senang bergaul, dan rendah hati, meski rumah-rumahnya mentereng dan kekayaannya melimpah (Alhamdulillah). Dia juga sangat religius karena merupakan donatur tetap bagi mesjid di luar kompleks. Saya pribadi merupakan musuh besarnya saat bermain catur, tetapi sahabat yang hangat saat berdiskusi dan bertutur.
Bukan bermaksud menyombongkan diri, gairah catur di VBI kembali muncul sekembalinya aku dari pengembaraan selama kurang lebih 4,5 tahun (Makassar dan Surabaya). Setibanya di VBI, aku mengajak “ummat” catur seperti Pak Djoni, Pak Naela, Pak Kadmita, Pak Dinan, Pak Eko (kurang aktif tetapi mahir catur) dan pendatang baru, Yudhi (adik Pak Haryono) dan Dian. Ada juga tetangga lain, Pak RW, yang kadang nimbrung, juga seorang polisi yang kadang mampir main catur saat patroli. Kami biasa menggunakan jam catur dengan waktu berpikir 5 menit atau 7 menit!
Harus diakui, Yudhi-lah yang kemudian mengajarkan Rani dan Remo, mungkin juga anak-anak lainnya bermain catur dengan menggunakan jam catur di pendopo. Baron, putera Pak Panggabean, dilatih oleh Pak Naela. Eki dilatih ayahnya, Pak Eko, seperti halnya Kesit yang dilatih ayahnya, Pak Kadimita. Kesit dalam turnamen ini bahkan dijuluki “pemain bersertifikat” karena konon dilatih khusus oleh ayahnya sebelum bertanding. Benar-benar dipersiapkan.
Sedang Kakang, anakku, kadang bermain catur dengan ayahnya, aku sendiri, tetapi tidak pernah ingin belajar sungguh-sungguh. Yang membanggakan, dalam lima partai, Kakang menang dua kali atas Dendy (putera Pak Uripto) dan Jedi (putra Pak Samsir), meski tiga partai kalah oleh “kakak-kakaknya”: Kesit, Willy, dan Raki . Kakang ternyata sangat serius dalam berpikir, meski dia belum cermat atas langkah teralhir lawan. Tetapi secara prinsip bagaimana bermain catur, Kakang sudah tahu.

Oh ya, sedikit cerita tentang Pak Samsir. Dia adalah satu-satunya warga VBI yang sudah bergelar Doktor yang diraihnya di salah satu universitas di Malaysia. Selamat, kami sebagai warga bangga atas gelar yang disandangnya, semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak kami di VBI!
Turnamen catur dilanjutkan oleh bapak-bapak warga VBI, berlangsung dari Minggu sore sampai malam harinya. Pesertanya lumayan banyak, antara lain Pak Rosal, Pak Djoni, Pak Dinan, Pak Naela, Pak Eko, Pak Kadmita, Dian, Yudhi, Budhi, dan aku sendiri. Berlangsung menggunakan sistem round robin, dimana masing-masing pemain bertemu dua kali. Aku kalah telak 0-2 dari Pak Rosal, tetapi menang telak juga dengan 2-0 atas Pak Eko, Pak Kadmita, Pak Djoni, Yudhi, Dian. Aku belum bertanding dengan Pak Naela, Pak Dinan, dan Budhi. Menurut rencana, pertandingan akan berlanjut Sabtu atau Minggu pekan depan (19-20 Agustus). Saat berlatih dengan Pak Rosal, kami bisa saling mengalahkan.
Berita menggembirakan lainnya, Pak Rosal yang memang mahir catur (dialah yang terkuat di antara kami), bersedia mengajarkan anak-anak VBI bermain catur di pendopo. Dia kembali akan menyediakan jam dan papan catur yang banyak.
Berita menggembirakan lainnya, Kakang anakku, meminta diajari bagaimana bermain catur yang baik. Senin pagi, 14 Agustus, sebelum berangkat ke sekolah, dia membawa papan catur lipat dan menggelarnya untuk berlatih. Hem, mungkin dia geram atas tiga kekalahan dari “kakak-kakaknya” tetapi kurang puas atas dua kemenangan melawan “adik’adiknya”. Baguslah, Nak!
“Kakang sekarang mau belajar catur, Ayah,” katanya mencium tanganku sebelum berangkat sekolah.

Saat menjadi single parent seperti ini (bunda Kakang masih “nyangkut” di Surabaya), yang tersisa hanyalah rasa haru di dada saat memandang Kakang keluar mengenakan batik seragam sekolah SIT Auliya, untuk segera menuju mobil “ummi” yang sudah menunggunya di luar. Kakang anak yang tabah. Dua setengah tahun dia ditinggalkan ayahnya tugas ke Makassar, dan kini harus ditinggalkan bunda yang masih belum juga ditarik ke Jakarta. Sabar ya, Kang… anakku, matahariku….

Pepih Nugraha
Palmerah, 14 Agustus 2006.

No comments: