Monday, September 25, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (5)

Belajar dari J.CO dan Wong Solo

KARENA tugas jurnalistik untuk membedah konsumtivisme sebagian orang Indonesia yang gila-gilaan, mengharuskan saya bertemu dua tokoh bisnis makanan dan minuman. Satu Johnny Andrean, satunya lagi Puspo Wardoyo. Mengapa meski mereka berdua? Semula saya skeptis untuk bertemu keduanya.

Pertama, Johnny Andrean selama ini "hanya" dikenal sebagai pemilik salon dengan nama merek namanya sendiri. Puspo Wardoyo, dikenal sebagai pemilik waralaba ayam bakar “Wong Solo”. Untuk urusan pemberitaan, terus-terang rekan-rekan cenderung menyarankan “lebih baik pilih sumber yang lain”. Mengapa?

Selidik punya selidik, Wong Solo rupanya telah diboikot sebagian perempuan, khususnya mereka yang dikenal sebagai aktivis perempuan, karena sikapnya yang poligamis alias memiliki lebih dari satu istri. Memang di salah satu minuman Wong Solo tersedia “Jus Poligami”, yang dinilai keterlaluan karena dianggap promosi “legalisasi” poligami.

Tetapi dalam jurnalistik, dalam menulis berita, jurnalis harus punya sikap skeptis alias ragu-ragu. Karena ragu-ragu, maka wajib bagi kita untuk membuktikannya. Itulah berita yang akan kita sampaikan kepada pembaca kita. Bayangkan kalau dalam berita itu penuh dengan kata-kata “katanya”, “katanya”, “katanya” karena jurnalis tidak membuktikan kebenarannya, karena hanya mendengar cerita orang.

Setelah skeptis dan coba membuktikannya, maka saya mengontak mereka berdua untuk sebuah wawancara. Wawancara dengan Johnny Andrean berlangsung Selasa (19/9) di Senayan City. Dengan Puspo Wardoyo keesokan harinya di salah satu warung Wong Solo di Bintaro. Yang mengejutkan, mereka berdua punya visi dan senses of business yang tinggi, yang selama ini barangkali belum banyak terungkap.

Johnny Andrean misalnya, pria beristerikan Tina ini sebelumnya dikenal sebagai pemilik salon yang boleh dibilang terbesar dengan 202 cabang di seluruh Indonesia. Johnny juga pemegang hak waralaba perusahaan roti Singapura, BreadTalk yang sangat sukses. Sekarang Johnny memiliki J.CO, gerai donat dan minuman ringan, yang sampai saat ini masih diantri orang.

Tetapi yang mengejutkan, ternyata Johnny menciptakan (create) donat dan minuman sendiri dengan maksud untuk ditawarkan ke luar negeri. Bukan membeli hak waralaba (franchise) asing, tetapi menciptakan dan menjual waralaba ke luar negeri! “Sudah waktunya bangsa Indonesia belajar menciptakan sesuatu, jangan hanya pasrah menerima serbuan merek asing,” katanya.

Untuk lebih mengenal apa dan siapa Johhny dengan kiprahnya, saya ajak sahabat membacanya di sini: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/23/Fokus/2971699.htm. Sedangkan untuk kiprah Puspo Wardoyo yang diam-diam kini menciptakan waralaba "Wong Solo kelas kakilima, saya ajak sahabat membuka jendela di sini: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/23/Fokus/2971935.htm.

Bayangkan kalau tidak punya sikap skeptis, barangkalai saya tidak akan punya cerita untuk koran dimana saya bekerja. Setidak-tidaknya, keduanya sudah membuka peluang tenaga kerja yang jumlahnya ribuan itu. Mereka juga dengan tangkas menjawab kritik bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah mendorong sikap konsumtivisme warga untuk berbalanja, untuk menghabiskan waktu dan uang di cafe-cafe. Menurut mereka, mereka hanya menangkap peluang dari sebuah gaya hidup (life style), atau kalau dibalik, "gaya hidup adalah peluang", dalam hal ini tentu saja peluang bisnis yang bisa beromzet milirian rupiah.

Tetapi jangan sampai kita terperangkap pada konsumerisme dan konsumtivisme para orang-orang kaya kita yang menghabiskan uang di butik-butik ternama di Paris, sebagaimana saya saksikan sendiri saat saya berkunjung ke sana. Tidak ada devisa yang masuk buat negara kita, sebab mereka membeli Euro atau Dollar AS untuk dibelanjakan di negeri asing. Mungkin sahabat bisa juga mengikuti pengalaman lengkap saya di sini: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0609/23/Fokus/2971964.htm.

Pepih Nugraha
Palmerah, 25 September 2006

4 comments:

£êmòñâðè said...

Wow...
dats all i can say...

si kiky said...

pak, saya berkunjunga lagi. kalo ada workshop dunia tulis menulis ikutan donk, bosen neh jadi pegawai, pengen jadi freelance writer aja...doooo....PS: gimana puasa? lancar kan? :p

Pepih Nugraha said...

Hai Kiky... terus-terusan berkunjung juga nggak apa-apa. Saya mau meng-upload terus pengalaman saya dalam dunia jurnalistik, siapa tahu bermanfaat. Setidak-tidaknya ngomporin orang untuk menulis. Saya dedikasikan blog ini bagi mereka yang mau belajar menulis, tentu belajar sama-sama saya juga,

ratnaningsih said...

hik belanja, banyak bencana di negeri ini, apakah yo tetep banyah yang shopping2 gitu ya.Mas tetep pengin terus latihan nulis nih