Showing posts with label Catatan. Show all posts
Showing posts with label Catatan. Show all posts

Friday, October 10, 2008

Catatan (67): My AXN


Jepretan Erik

SAYA tidak tahu kalau Erik, rekan liputan di lapangan - khususnya saat meliput Kongres PDI Soerjadi tahun 1998 lalu - menjepret saya diam-diam. Uniknya, Erik yang nama lengkapnya Yesiah Ery Tamalagi, yang masih bekerja di TPI itu memotret saya saat saya memotret orang lain. Siapa seorang pria ganteng di ujung foto ini dan siapa perempuan cantik di samping saya, mestinya tidak usah saya ceritakan lagi. Anda mungkin dapat menebaknya. Ya, mereka tidak lain suami-istri Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale. Foto diambil Erik beberapa waktu lalu, ketika ada acara MDG's di Hotel Santika, Jakarta. Erik memasang foto ini dan memajangnya di Facebook saya.

Monday, September 29, 2008

Catatan (66): Selamat Berlebaran


Mudik dan Maaf Lahir Batin

DENGAN kursi roda yang dikayuh tangannya, Sukamto (55), seorang penyandang cacat, mudik ke kampung halamannya di Ponorogo. Ia mengayuh kursi roda dengan kekuatan kedua lengannya dari Surabaya. Keinginannya pulang kampung tidak terbendung. Sudah bertahun-tahun dia tidak mudik, menengok kerabatnya.

Itu tulisan yang saya baca di harian Kompas hari ini. Sementara ribuan pemudik pengendara sepeda motor berkumpul di satu titik, Sunter Jakarta, untuk sama-sama menuju beberapa titik lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada juga rombongan pemudik menggunakan bajaj, kendaraan roda tiga. Satu keluarga, dengan lima nyawa di dalam satu bajaj, mencoba meraih cita-cita mulia, bersilaturahmi dengan kerabat di kampung halaman. 

Tetapi yang saya dengar dan lihat di televisi, seorang suami harus kehilangan anak dan istrinya untuk selamanya setelah kecelakaan tragis menimpanya, padahal sisa jarak yang harus mereka tempuh tinggal 25 kilometer lagi untuk sampai di Cirebon setelah berjuang di jalanan yang panas dari Jakarta. Tragis.

Jutaan warga muslim lainnya berjuang susah payah berjejal-jejal di kereta api kelas ekonomi dan bus-bus umum menuju tanah Jawa. Drama tahunan yang terus berulang, kerumunan orang di terminal bus dan stasiun keretaapi, selalu terjadi. Drama manusia berebut agar biasa masuk ke dalam keretaapi, seperti yang tampak dalam foto di atas (sumber: Kompas), menjadi ritual tahunan yang kadang terasa memilukan. Jutaan orang yang berpindah sementara dari Jakarta menuju kota dan desa-desa lainnya di luar Jakarta itu hanya punya satu tujuan mudik: silaturahmi. 

Bayangkan, silaturahmi yang mulia itu kadang harus dilakukan dengan bertaruh nyawa  di jalanan yang panas dan ganas. Tidak peduli kesulitan menghadang di setiap ruas jalan, asalkan jiwa dan raga bisa fitri dan bersih kembali tanpa cela terhadap sasama dan sanak saudara. Kadang urusan nyawa diserahkan saja pada Sang Empunya sekaligus Sang Pemberi, asalkan hati bisa kembali fitri.

Maka, tidak ada salahnya dalam kesempatan ini saya mengucapkan "Selamat berlebaran, mohon maaf lahir dan batin...."   

Thursday, September 18, 2008

Catatan (65): Foto Soeharto


Foto Pak Harto Yang Bersejarah


SAYA sudah menulis panjang lebar mengenai Presiden Soeharto saat mantan orang nomor satu di republik ini meninggal dunia beberapa waktu lalu. Akan tetapi dalam cerita itu, saya tidak menyertakan foto bersejarah yang saya jepret sendiri di kediaman Soeharto di Jalan Cendana, 19 Desember 1998. Alasannya sederhana saja, waktu itu saya belum tahu kalau foto berformat PDF ternyata bisa dipindahkan ke format JPG. Karena saya menganggap peristiwa dan foto yang saya dapatkan begitu penting, setidak-tidaknya bagi saya, maka saya tampilkan lagi foto Pak Harto dengan Gus Dur di atas. Sementara tulisan tentang Pak Harto meninggal dan bagaimana sebagai jurnalis saya bereaksi atas meninggalnya Pak Harto, bisa dibaca di sini. Silakan! (PEPIH NUGRAHA)

Saturday, September 13, 2008

Catatan (64): UMN


Memberi Kuliah Pertama


KAMIS 11 September 2008 mestinya tercatat sebagai hari bersejarah, setidak-tidaknya bersejarah buat saya pribadi. Bukan untuk mengenang tragedi WTC, juga bukan pula menyongsong peringatan G30S/PKI. Hari itu pukul 15.00 hingga 16.50, untuk pertama kalinya saya memberi kuliah mata pelajaran "Bahasa Jurnalistik" di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ini adalah universitas milik Jakob Oetama, taifun media massa Indonesia.

Mengapa saya bersedia menjadi dosen atau pengajar setidak-tidaknya untuk satu semester ke depan?

Pertama, karena UMN punya Jakob sendiri, boss besar saya di Harian Kompas. Bahkan sepekan sebelumnya, Jakoblah yang melakukan peletakan batu pertama kampus UMN di atas tanah seluas delapan hektar di Summarecon, Serpong, Tangerang. Kampus berlantai sembilan itu akan dikebut pengerjaannya sehingga diharapkan selesai  9 September 2009. Masak saya menolak ketika pihak UMN meminta saya untuk mengajar!?

Kedua, karena saya merasa mampu memberika materi kepada mahasiswa mengenai apa yang saya kerjakan selama lebih dari 18 tahun sejak bergabung dengan Kompas. Dari sekitar 70 dosen yang mengajar di UMN, saya sendirilah yang barangkali "hanya" lulusan S1. Selebihnya adalah lulusan S2 dan S3. Apakah saya terlalu percaya diri dan tidak minder dengan lulusan S1 saya? Tidak! Saya berprinsip: buat apa minder. Bagi saya, "pengakuan" di atas segala-galanya. Tentu dengan pertimbangan serius ketika UMN mengajak saya bergabung.

Ketiga, pada dasarnya saya suka berbagi ilmu. Ini karena bapak-ibu saya seorang guru yang merangkap sebagai petani. Saya masih ingat mendiang ibu menghendaki saya menjadi dosen di Universitas Padjadjaran dibanding saya harus lari ke Jakarta tahun 1990 lalu. Alasan mendiang sederhana, "Ibu dan bapak saja dengan menjadi guru SD bisa hidup dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi, apalagi kalau kamu jadi dosen!"

Keempat, saya sudah terbiasa memberi pelatihan jurnalistik dan penulisan berita sebelumnya di berbagai perguruan tinggi dan sekolah menengah, juga tampil sebagai pembicara di seminar sehingga tidak harus "takut" berhadapan dengan mahasiswa di ruang kuliah. Selain itu, saya merasa ilmu jurnalistik yang selama ini saya praktikkan, sudah lebih dari cukup dibanding membaca buku-buku teori selama bertahun-tahun!

Kelima, saya punya misi untuk lebih mengenalkan dunia online, khususnya Kompas.com dimana saya ditugaskan selama ini. Setidak-tidaknya dalam lingkup terbatas, yakni satu kelas, toh dengan cara kita memberi contoh soal dari berita-berita online, setidak-tidaknya mahasiswa dipaksa terbiasa untuk mengklik www.kompas.com. 

Keenam, karena atasan saya, Taufik Mihardja, mengizinkan. Tanpa izin itu, mana berani saya ambil keputusan sendiri. Saya taat organisasi, meski tidak selalu taat pada pimpinan. Tetapi dengan izin Taufik dan bahwa UMN juga masih punya kelompok usaha Kompas-Gramedia, saya menerima tawaran mengajar di UMN. 

Jadi, peristiwa itu layaklah saya masukkan ke dalam catatan harian saya di sini!

Tuesday, September 09, 2008

Catatan (63): Rama Pratama



Suara Khas Mahasiswa

ISENG-ISENG saya mengajak Rama Pratama berteman di Facebook. Setelah menunggu kurang lebih lima hari, baru Selasa 9 September 2008 ini saya menerima jawaban bahwa pertemanan saya diterima olehnya. Mendengar nama ini, ingatan saya kembali teringat masa-masa liputan jurnalistik saya dulu antara tahun 1997-1998. Rama adalah mahasiswa yang berani bersuara lantang, kritis, dan tidak segan turun ke jalan.

Salah satu pertemuan saya dengan Rama yang saya catat adalah ketika ia bersama empat senat mahasiswa menghadiri tabligh akbar dengan pembicara utama Ketua Umum PP Muhammadiyah HM Amien Rais di Masjid Al Azhar Jakarta, 15 Mei 1998. Saya meliput peristiwa itu sendirian dengan memberi judul berita "Amien Rais: ABRI Masih Bisa Diharapkan". Berita itu dimuat di Harian Kompas keesokan harinya. Lead berita yang saya buat adalah sebagai berikut:

Golkar dan partai politik tidak dapat diandalkan dalam membawa nasib bangsa ini karena sudah kehilangan arah. Harapan masih ada pada ABRI yang masih jelas dalam melihat misi. ABRI masih memiliki sense of mission sebagai saptamargais dan pancasilais. Tetapi dalam batas-batas tertentu ABRI sudah tidak punya lagi sense of direction.

Tentu saja pernyataan Amien Rais saat itu sangat keras dan langsung menohok Presiden Soeharto yang kala itu masih berkuasa, tetapi kekuasaannya sudah berada di ujung tanduk, diambang kejatuhan. Karena liputan saya di DPR dan organisasi massa termasuk Muhammadiyah, saya mengenal betul karakter pemberani Amien Rais. Dia seakan-akan sudah mencium bahwa jatuhnya Soeharto hanya tinggal menghitung hari.

Amien seperti menyanjung ABRI (TNI sekarang), tetapi pernyataannya justru mendelegitimasi organisasi serdadu itu. Dua institusi yang paling ditakuti saat itu, Presiden dan ABRI, justru Amien sikat sekaligus. Memang terbukti, baik Soeharto maupun ABRI pasca kejatuhan pemerintah yang sudah berkuasa selama 32 tahun, tidak pernah berkuasa lagi.

Di antara empat ketua senat mahasiswa yang hadir sebagai pembicara, selain juga Ketua Umum Komite Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Fachri Hamzah, saya mewawancarai Ketua Senat Mahasiswa Universita Indonesia (SMUI) Rama Pratama. Saya juga menanyakan soal kemungkinan kepemimpinan pasca Soeharto tak berkuasa lagi menurut pendiriannya.

Saat itu Rama yang lahir di Jakarta 17 November 1974 tidak mempersoalkan siapa yang akan jadi pemimpin nanti, tetapi lebih menekankan kepada sistem. Ia menyatakan akan mendukung siapa pun yang terbukti melakukan perbaikan. "Apabila tetap tidak ada perubahan, kami (mahasiswa) akan demo lagi. Inilah peran mahasiswa independen yang tidak memiliki kepentingan apa pun," katanya. Ciri khas suara lantang mahasiswa.

Yang saya tahu, baik Fachri Hamzah maupun Rama Pratama kini sudah duduk di Senayan menjadi anggota legislatif mewakili Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saya sudah tidak liputan lagi di DPR sejak 2001 sehingga tidak begitu mengenal lagi kiprah Rama setelah ia menjadi anggota DPR lewat Pemilu 2004 lalu. Kecuali tahun 1999 ketika Rama kala itu menjadi anggota Tim Panita Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum (PPPKPU).

Dengan diterimanya pertemanan saya oleh Rama di Facebook, mau tidak mau mengingatkan kenangan lama saya dengan mahasiswa pergerakan di era reformasi, termasuk Rama.

Wednesday, September 03, 2008

Catatan (62): Tentang Harmoko (4)


Safari Ramadhan, Safari Politik
KARENA saya ditempatkan di partai politik, dan partai politik itu adalah Golkar, mau tidak mau saya harus mengikuti setiap gerak langkah ketua umumnya, yakni Harmoko. Termasuk ketika saya ditugaskan mengikuti acara "Safari Ramadhan", sebuah tradisi berbau politik yang dimulai saat Harmoko menjadi menteri penerangan tahun 1983.

Saat mengikuti safari itu saya sudah langsung mencium bahwa ini adalah safari politik kendati dibungkus dengan nama "Safari Ramadhan". Ada embel-embel Ramadhan di sana karena memang selalu dilaksanakan setiap kali Ramadhan tiba. Safari bisa berlangsung dua minggu, tetapi ketika saat ikut Safari Ramadhan tahun 1998, safari dilaksanakan kurang lebih 10 hari. Bayangkan, selama 10 hari itu saya harus mempersiapkan stamina yang tidak boleh kedodoran karena harus mengikuti safari sampai selesai. Rasa capek dan penat tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak puasa, apalagi saat itu krisis moneter sedang menerpa negeri ini.

Repotnya, usai Harmoko pidato atau "menyapa" rakyat dimanapun, sekalipun di tengah hutan, saya harus selalu mencari dan menemukan koneksi telepon agar bisa mengirimkan berita. Biasanya yang jadi andalan rumah pejabat setempat yang punya saluran telepon atau kantor-kantor Telkom ada. Program FTP untuk mengirimkan berita sering terputus di tengah jalan di saat berita belum terkirim. Begitu setiap hari. Tidak tenang karena harus selalu mencari sambungan telepon!

Saat perjalanan dimulai dari markas besar DPP Golkar di Slipi, Harmoko sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri penerangan. Saat itu Menpen dipegang Hartono dan saya punya cerita beberapa saat setelah Harmoko diberhentikan sebagai Menpen, yang akan saya ceritakan dalam kesempatan lain. Saya mengirimkan terus berita dari hasil safari menyusuri Pulau Jawa itu.

Saya juga mencoba merekam suasana Safari Ramadhan saat itu dalam sebuah tulisan yang bisa Anda nikmati di bawah ini. Tulisan ringan ini dimuat di Kompas edisi Senin, 26 Januari 1998 halaman 15:

Safari Ramadhan
ADA TIKUS, ADA KRISIS MONETER

"Selamat pagi, Pak Menteri!"
"Lho, saya sudah bukan menteri lagi, saya ini orang Golkar."

Sapaan spontan seorang penduduk Gunungkidul dijawab Ketua Umum DPP Golkar Harmoko saat berlangsung Safari Ramadhan 8-13 Januari 1998 lalu. Melanjutkan tradisi. Itulah kata yang paling tepat untuk kiprah Harmoko selama enam hari berkeliling Pulau Jawa. Dengan berkendaraan bus bersama 12 wartawan dan fungsionaris Golkar, tidak kurang dari 13 kabupaten, enam pondok pesantren, dan puluhan industri kecil disinggahi.

Safari Ramadhan yang sudah dimulai tahun 1983, sejak Harmoko menjabat Menteri Penerangan, sesungguhnya merupakan perjalanan yang sarat bermuatan komunikasi politik. Dikatakan bermuatan komunikasi politik, karena sepanjang perjalanan dan tempat yang disinggahi, pesan-pesan pembangunan disampaikan kepada rakyat. Kalau toh makna komunikasi politik ini diplintir menjadi untuk kepentingan intern Golkar, juga tidak ada salahnya. Sebab, kerap saat berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan kader Golkar, Harmoko menyampaikan pesan-pesan politiknya.

Berbicara Safari Ramadhan adalah bicara tentang Harmoko. Atau kalau mau dibalik, Harmoko identik dengan Safari Ramadhan. Maka trade mark ini tetap melekat, meski hal itu dilakukan setelah Harmoko tidak lagi menjadi Menpen. Bahwa Safari Ramadhan juga identik dengan kegiatan Departemen Penerangan, itu tidak terlalu keliru. Soalnya saat Safari Ramadhan dimulai, Harmoko menjabat Menpen. Kini boleh diklaim Safari Ramadhan Golkar.
***

KRISIS moneter menjadi topik utama meskipun tidak pernah ditentukan sebelumnya. Maka sejak menginjak Sukabumi di Jawa Barat sampai Ngawi di Jawa Timur, dengan tak kenal lelah Harmoko menjelaskan krisis moneter kepada rakyat sekaligus bagaimana cara kita semua menyikapinya.

Di Kabupaten Madiun, misalnya, Harmoko memulai penjelasan soal krisis moneter dengan bertanya kepada sekelompok ibu-ibu. Apakah ibu-ibu merasa barang kebutuhan sehari-hari naik? tanya Harmoko yang dibenarkan ibu-ibu. "Bagus ibu-ibu menjawab 'naik', sebab kalau ibu-ibu menjawab 'turun' itu tidak benar. Harga-harga memang naik," sambung Harmoko disambut tawa hadirin.

Lalu dijelaskanlah asal-muasal mengapa harga kebutuhan sehari-hari naik yang dimulai dengan jatuhnya mata uang sejumlah negara Asia. Di Asia Tenggara krisis mata uang dikatakan Harmoko mulai dengan jatuhnya baht, Thailand, yang berlanjut ke ringgit Malaysia dan kemudian rupiah. Harmoko meyakinkan, bahwa tidak hanya Indonesia saja yang mengalami krisis moneter, tetapi juga negara-negara lain.

Solusi yang ditawarkan Harmoko untuk mengatasi krisis moneter adalah pengetatan ikat pinggang alias penghematan yang dikatakannya harus dari berbagai arah. Cara Harmoko menawarkan penghematan kepada rakyat cukup dengan menjelaskan, ibu-ibu yang biasanya membeli satu kilo minyak goreng, dianjurkan membeli seperempat kilo. Kalau pada akhirnya minyak goreng tidak terbeli, maka dianjurkan untuk direbus atau dikukus.

Demikian juga tatkala mencontohkan penghematan gula dan beras, Harmoko menyarankan hal yang sama seperti minyak goreng. "Kalau suami ibu protes mengapa kopinya pahit," kata Harmoko, "Jelaskan bahwa kopi itu memang pahit. Lalu sarankan suami ibu minum kopi kletakan: sruput kopinya, kemudian gulanya di-kletak atau digigit sedikit demi sedikit. Sama saja toh!"

Ketika harus menjelaskan reformasi politik dan reformasi ekonomi, Harmoko menjelaskan dengan mengumpamakan krisis moneter sebagai tikus yang menggerogoti lumbung padi. Dikatakan, yang harus dilakukan adalah mengatasi tikusnya, bukan malah membakar atau menghancurkan lumbung padinya. "Demikian pula kalau nyamuk (krisis moneter) masuk ke kelambu, nyamuk itu yang harus diatasi, bukan malah mengganti kelambu dengan kelambu buatan Amerika Serikat," kata Harmoko.

Safari Ramadhan juga menghasilkan temuan adanya anggota dewan yang sama sekali tidak pernah turun ke daerah pemilihan atau daerah binaannya. Ini terjadi di Desa Bendungan, Sragen. Keluarlah instruksi agar anggota F-KP, baik di DPRD I, DPRD II, maupun DPR agar rajin turun ke bawah (turba). "Ini masalah konduite, wakil rakyat yang tidak turba akan diberi peringatan. Kalau membandel, tidak mustahil kita recall," kata Harmoko.

Akankah tradisi yang sudah 16 tahun bergulir terhenti setelah Harmoko tidak lagi menjadi Ketua Umum DPP Golkar, misalnya, mengingat Munas Golkar akan berlangsung pada akhir 1998 nanti? Harmoko sendiri sebelum Safari Ramadhan menegaskan, "Saya akan tetap bersafari Ramadhan kendati sudah tidak menjabat apa pun." (PEP)

Tuesday, August 26, 2008

Catatan (61): Diwawancarai Ayongeblog.com

BEBERAPA waktu lalu saya dikontak rekan netter Ibn Ghifarie melalui Yahoo! Messenger untuk sebuah wawancara seputar blog. Beberapa pertanyaan mengenai aktivitas saya ngeblog dikirimkan lewat alamat imel pepih_nugraha@yahoo.com dan saya pun langsung menjawabnya. Hasil dari wawancara Ibn Ghifarie kemudian dimuat di Ayongeblog.com edisi Selasa, 26 Agustus 2008 hari ini. Atas izin Ibn Ghifarie, saya menuliskan kembali hasil wawancara itu di bawah ini:

Pepih Nugraha:
Ngebloglah Yang Bermanfaat!

Kali ketiga, Ayongeblog melalui Ibn Ghifarie berhasil berbagi pengalaman soal ngeblog dengan Pepih Nugraha, pendiri pelatihan gratis Jurnalistik di Sekolah Menengah Atas (SMA), Perguruan Tinggi (PT), dan Pesantren.

Diakui atau tidak, hal tersulit dalam menulis adalah memulai. Maka, jangan pernah ia musuhi. Jadikan memulai sebagai sebuah tantangan, bukan tentangan. Menulis saat bahagia itu biasa, baru luar biasa jika bisa menulis dalam keadaan berduka, tertekan atau bahkan terluka. Biasakan menulis sekalipun dalam suasana hati yang ekstrem, dalam lara maupun suka. Bukankah susah dan senang hanyalah permainan rasa belaka.

Inilah moto yang dipegang teguh oleh pewarta Kompas. Begitupun dalam soal ngeblog. Berikut hasil wawancaranya:

Bisa diceritakan awal perkenalan Anda dengan media online ini?

Tahun 2006 lalu saat bertugas di Surabaya. Mulanya saya agak sedikit mengejek istri saya yang kebetulan sudah ngeblog lebih dulu. Saya bilang itu perbuatan narsis. Tetapi dia jalan terus karena punya banyak teman dari ngeblog. Dia sering blogwalking. Akhirnya saya nyoba di Blogspot dengan nama Blog BERANDA T4 BERBAGI. Sejak awal saya sadar, saya tidak boleh narsis, tetapi blog saya harus bermanfaat bagi orang banyak.

Kenapa memilih blog sebagai tempat mencurahkan segala ide?

Blog adalah media gratisan. Tanpa punya PC di rumah pun kita bisa ke warnet. Blog adalah media demokratis. Anda tidak suka dengan isi blog, jangan usil, silakan cari blog yang lebih baik. Di blog, kita bisa mempraktikkan web berbasis 2.0 yang interaktif. Segala pertanyaan bisa dijawab di sana.

Manfaat apa saja yang dirasakan Anda atas kehadiran catatan harian online ini?

Blog sekarang bisa monetize atau menghasilkan uang. Ada yang pasang banner iklan, ada juga yang sengaja jualan (virtual shop). Ini sah-sah saja selama Anda tidak terganggu. Manfaat bagi saya, saya bisa sharing dan berbagi pengalaman saya sebagai seorang jurnalis, baik pengalaman meliput maupun menulis. Saya mau berbagi karena tidak semua orang berkesempatan sama seperti saya yang bisa menembus Kompas. Selain beramal, saya memungkinkan bisa dekat dengan pembaca saya.

Bisa diceritakan soal pendirian pelatihan gratis jurnalistik di SMA, PT dan Pesantren?

Itu karena saya diajak oleh Diklat Kompas, sebuah divisi tersendiri untuk pelatihan dan perekrutan. Saya mengajar selama empat hari penuh sampai peserta didik bikin koran dinding sendiri. Saya padatkan pelajaran dengan menggunakan audio visual. Umumnya mereka senang bisa langsung diajari wartawan.

Sudah sejauh mana perkembanganya sekarang?

Banyak sekolah dan perguruan tinggi yang meminta sehingga mereka harus antri. Setelah pelatihan biasanya kami meminta nama, alamat, imel dan nomor HP peserta. Kami janjikan terus berhubungan jika diperlukan.

Pesan apa yang Anda akan sampaikan kepada mereka yang belum ngeblog?

Ngeblog-lah yang bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain!

Friday, August 08, 2008

Catatan (60): Tentang Harmoko (3)

Dimarahi, Dimaki, Itu Biasa!

PADA hari berita itu dimuat, saya selaku wartawan Kompas kembali ditugasi mengikuti Harmoko ke Kota Malang, Jawa Timur. Saat saya usai meliput kegiatannya dan siap-siap menulsi beritanya, saya secara khusus dipanggil Harmoko ke kamar hotelnya. Di sana sudah ada beberapa wartawan lainnya, yang tidak usahlah saya sebutkan namanya di sini. Harmoko langsung menyemprot:

"Mengapa kamu menulis berita bahwa Golkar bisa menang 100 persen? Saya memang bicara begitu, tetapi tidak seharusnya kamu menulis begitu!"

Mendapat semprotan seperti itu saya kaget bukan kepalang. Yang memprihatinkan, teman-teman wartawan bukannya membela saya sebagai sesama wartawan, malah ikut-ikutan memanas-manasi Harmoko agar terus mencecar saya. Asal tahu saja, lumrah wartawan pada masa itu berlaku "amat santun" (untuk tidak mengatakan menjilat) Harmoko dengan harapan dapat terjaring sebagai calon legislatif (DPR), setidak-tidaknya namanya tercantum dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Golkar dengan nomor urut "peci" (calon jadi).

Sebagai jurnalis, boro-boro saya berpikir ke arah itu. Bagi saya sekali jurnalis, ya tetap jurnalis! Makanya saya selalu siap dimarahi dan dimaki, kapanpun. Pada masa itu Jenderal Feisal Tanjung biasa memaki wartawan, "Taik, Kau!" Terus terang saat itu saya tidak dapat membedakan: ini makian jenderal atau preman! Sedihnya, kami, para wartawan, tidak bisa membalas kuasa Sang Jenderal yang tergolong kesayangannya Soeharto itu, meski hanya dengan sepatah katapun. Sebagai gantinya, kami biasa mendoakan Pak Jenderal biar cepat-cepat masuk surga saja!

Setelah agak tenang, saya menjawab pertanyaan Harmoko dengan lugas, "Bukankah Bapak mengatakan demikian?" Mendapat pertanyaan begitu Harmoko langsung menyambar, "Saya memang bicara begitu, tetapi tidak seharusnya you tulis begitu!" Hem... pelajaran baru jurnalistik di Era Soeharto! Bikin bingung, bukan?

Hening sejenak, Harmoko pun melanjutkan, masih dengan pertanyaan bernada menyelidik. "Siapa editormu sekarang, Si James-kah?" Maksudnya James Luhulima, editor politik saat itu. Saya jawab bahwa editornya memang James dengan wakil Myrna Ratna. "Okelah, nanti saya telepon mereka. Sudah, you tulis berita sana sesuai dengan apa yang saya katakan tadi di depan wartawan! Ingat ya, you harus menulis berita yang bener!"

Belakangan saya dengar Harmoko dipanggil Soeharto gara-gara berita yang saya tulis itu, sebuah pernyataan yang memperkuat bukti bahwa Golkar sebagai mesin politik utama waktu itu benar-benar arogan. Sebagai orang Jawa, Soeharto yang pinisepuh Golkar itu konon tidak suka cara-cara takabur seperti itu.

Dalam wawancara dengan wartawan sebelumnya, Harmoko secara khusus membantah berita Kompas yang saya tulis, yang dimuat 27 November 1996, bahwa dia tidak pernah mengatakan "Golkar bisa meraih 100 persen suara"! Tentu saja saya punya rekaman suara Harmoko saat dia bicara begitu di Makassar. Tetapi inilah realitas politik yang berlaku pada saat itu, rekaman pun menjadi tidak ada maknanya jika digunakan sebagai alat bukti. Kuasa adalah kuncinya. Inilah berita bantahan itu:

HARMOKO:
Target Perolehan Suara Golkar 70,02 Persen

Malang, Kompas
Ketua Umum DPP Golongan Karya Harmoko mengemukakan, target perolehan suara Golkar dalam pemilu 1997 mendatang tetap 70,02 persen. "Tidak pernah Golkar menyatakan target sampai 100 persen," katanya seraya mengingatkan, kekuatan sosial politik di Indonesia tidak hanya Golkar tetapi juga ada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Hal tersebut dikemukakan Harmoko kepada wartawan dalam kunjungan kerjanya di Malang dan Surabaya, Kamis (28/11).

Seperti diberitakan Kompas (27/11), di depan massa Golkar di Stadion Mattoangin, Ujungpandang hari Senin malam, Harmoko mengemukakan kemungkinan Golkar bisa memenangkan 100 persen suara.

Dijelaskan oleh Harmoko bahwa ungkapan 100 persen itu muncul dari antusiasme massa kader Golkar ketika ia bertanya, berapa target perolehan Golkar di Sulawesi, yang kemudian disahuti massa 100 persen.

"Anda tahu di Sulawesi Tenggara ada pernyataan target 96 persen, dan itu bisa saja. Kalau kader mentargetkan sebesar itu sebaiknya jangan diturunkan, katanya, kalau kader-kader Golkar melakukan kerja keras, penggalangan secara simpatik, pengembangan kompetisi sehat sesuai persatuan dan kesatuan mudah-mudahan bisa berkembang lebih dari target nasional 70,02 persen," jelasnya.

Juga dituturkan, Golkar bakal menyelenggarakan Diklat Jurkam Nasional (Pendidikan dan Latihan Juru Kampanye) Golkar. Sehingga setiap jurkam yang turun akan dibekali program-program secara nyata. Diklat akan diselenggarakan dalam sepuluh gelombang dan dilakukan juga di daerah-daerah. Pesertanya para jurkam Golkar, fungsionaris, termasuk para calon legislatif.

"Dari pengalaman yang lampau tutornya kita siapkan dari dapur kampanye kami. Itu sudah dibentuk dua tahun lalu menyiapkan tema kampanye, program kampanye, materi dan isi kampanye," jelas Harmoko. (PEP)

SAYA masih mau berbagi cerita mengenai Harmoko dalam beberapa postingan lagi. Juga mengenai Akbar Tandjung, Hamzah Haz, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Habibie, Jusuf Kalla, dan bahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam konteks peliputan dan penulisan berita mengenai mereka, dalam konteks pertemuan langsung saya dengan mereka. (Bersambung)

Catatan (59): Tentang Harmoko (2)

Menulis Tanpa Disetir

SENIN, 25 November 1996, saya berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang dulu masih bernama Ujungpandang. Sebagai wartawan "kemarin sore" di bidang liputan politik, saya berupaya membuka mata dan telinga terhadap kejadian, gejala, dan bahkan pernyataan apapun, tanpa berpretensi melebih-lebihkan (bombastis). Keberadaan saya di Kota Anging Mammiri itu atas ajakan Golkar yang saat itu diketuai Harmoko.

Sudah lumrah terjadi saat itu, kemanapun Harmoko pergi, rombongan wartawan menyertainya. Sebagai jurnalis, saya berupaya membuka mata dan telinga saat Harmoko berpidato di Stadion Mato Anging, di depan para kader partai dalam acara yang dikemas sebagai "Temu Kader" itu. Nah, dalam pidatonya itulah saya "menangkap" pernyataan politis yang amat menarik jika deletakkan pada konteks waktu saat itu, saat Soeharto berkuasa penuh, yakni saat Harmoko menyatakan bahwa Golkar bisa menang 100 persen!

Tentu saja ini pernyataan yang menarik, yang barangkali luput dari pendengaran wartawan lainnya yang juga menyertai Harmoko seperti Antara, Suara Karya, Pelita, Merdeka, dan media massa lainnya yang saya lupa mengingatnya satu persatu. Saya lantas berlari ke Biro Kompas (kelak lima tahun kemudian saya bertugas sebagai Kepala Biro di kota ini), mengetik berita dan mengirimkannya ke Jakarta menggunakan modem FTP. Saat itu Reny Sri Ayu yang dulu masih berinisial "rr" dan Buyung Wijayakusuma (Boy), juga ikut meliput sehingga inisial mereka pun masuk karena memberi konstribusi masing-masing.

Saya tidak menyangka, bahwa berita yang saya sertakan di bawah ini, yang dimuat pada keesokan harinya, 26 November 2006, membuat marah Harmoko. Mengapa Harmoko marah besar sehingga memanggil saya secara khusus saat saya berada di Kota Malang? Jawaban singkatnya tidak lain: saya tidak mau disetir dan diarah-arahkan dalam menulis berita! Saya tahu apa arti kebebasan menulis bahkan itu di era Soeharto!Sebelum bercerita lebih jauh, kita ikuti berita yang membuat Harmoko marah itu di bawah ini:

Harmoko:
Kalau Mau, Sebenarnya Golkar Bisa Menangkan 100 Persen

Ujungpandang, Kompas
Ketua Umum DPP Golkar Harmoko mengemukakan, kalau mau, sebenarnya Golkar bisa memenangkan pemilu dengan 100 persen suara. Namun kalau hal itu sampai terjadi, berarti partai politik tidak kebagian suara.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum DPP Golkar Harmoko di depan sekitar puluhan ribu massa Golkar yang memadati Stadion Mattoangin, Senin (25/11) malam.

Massa Golkar yang datang dari berbagai penjuru kota Ujungpandang bahkan daerah-daerah kabupaten di Sulsel, berkumpul dalam acara temu kader yang dirangkaikan dengan Resepsi HUT Golkar ke-32. Turut hadir dalam acara tersebut, Gubernur Sulsel HZB Palaguna, Wali Kotamadya Ujungpandang H Malik B Masry, Ketua DPD Tingkat I Golkar H Amin Syam, Fadel Muhammad, Marwah Daud Ibrahim, Tanri Abeng serta unsur Muspida Tingkat I dan II, serta kader-kader Golkar lainnya.

Harmoko mengaku cukup puas melihat masyarakat Sulsel bukanlah orang-orang yang buta politik. "Masyarakat Sulsel ternyata melek politik. Banyaknya massa Golkar di daerah ini satu bukti bahwa masyarakat Sulsel tidak buta politik. Tahun 1997 ini diharapkan dari keseluruhan wajib pilih di Sulsel, 90,34 persen diantaranya adalah warga Golkar," ujar Harmoko.

Ditambahkan Harmoko, "Sebenarnya kalau mau, Golkar bisa menang 100 persen suara. Tapi kalau itu sampai terjadi berarti parpol tidak kebagian suara."

Dikatakan, sebagai salah satu organisasi politik yang cukup besar, Golkar selalu ingin berkarya dan berbuat yang terbaik bagi warganya. Hal itu mengingat bahwa Golkar ingin memenangkan mayoritas tunggal.

Golput

Dalam kesempatan itu, Harmoko juga mengemukakan, Pancasila tidak mengenal apa yang disebut Golongan Putih (Golput). Kalau ada orang yang menjadikan Golput sebagai salah satu alternatif pilihan berarti orang tersebut adalah orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak memikirkan masa depannya.

"Saya tahu, ada segelintir orang-orang yang Golput. Tolong dicatat bahwa orang seperti itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab, sebab tidak memikirkan masa depannya dan masa depan bangsanya. Mereka adalah orang-orang yang buta politik dan tidak mau menggunakan haknya, walaupun Golput itu tidak ada sanksinya, namun falsafah Pancasila tidak Golput. Karena itu saya berharap warga Golkar mau mengajak orang lain untuk ikut memilih," katanya. (PEP)

SAYA sama sekali tidak menyangka kalau berita yang saya tulis secara jujur ini membuat Harmoko marah. Benar-benar marah. Judul dan lead  bisa saja dipoles editor politik saat itu, yakni James Luhulima atau wakil editor Myrna Ratna. Tetapi pesan yang disampaikan Harmoko di Makassar itu persis seperti yang saya tulis. (Bersambung)

Catatan (58): Tentang Harmoko (1)

Berani Menyapa

BERANILAH menyapa! Itu salah satu senjata jurnalis. Maka ketika saya bertemu dengan Harmoko, mantan menteri penerangan di era Soeharto di lobi Gedung Harian Kompas, saya langsung menyapa dan mengajaknya bercakap-cakap. Peduli amat dia tidak lagi mengenal saya. Akan tetapi, saya tetaplah seorang jurnalis yang masih menganggap Harmoko sebagai seorang prominent people.

Saya punya catatan khusus tentang Harmoko selama saya diminta meliput Partai Golkar di tahun 1996-1999, juga tentang Akbar Tandjung sebagai penggantinya. Saya akan menceritakannya dalam postingan berikutnya, tetap dalam konteks how to cover and to write it! Baiklah, di bawah ini adalah hasil sapaan saya kepada Harmoko yang saya tulis untuk KOMPAS.Com, Jumat 8 Agustus 2008. Tulisan juga bisa dibaca di sini, dengan fotografi karya Priyambodo:

Harmoko:
Bukan Soal Sehat, Yang Penting Waras

JAKARTA, JUMAT- Masih ingat Harmoko? Dialah mantan Menteri Penerangan di Era Soeharto yang kondang dengan seruan khasnya, “Menurut petunjuk Bapak Presiden”, setiap kali ia memberi keterangan pers. Pada usianya yang menjelang 70 tahun, politisi kelahiran Nganjuk yang mantan ketua umum DPP Partai Golkar itu masih nampak segar.

Jumat (8/8) pukul 10.00 tadi, ia berdiri menunggu sopir yang siap menjemputnya di kantor sebuah harian di Jakarta. Kamipun menyapanya, “Apa kabar, Pak Harmoko?” Mendapat sapaan demikian, iapun menjulurkan tangan mengajak berjabat tangan. “Ah you rupanya, masih kelihatan segar. Masih meliput politik?” tanyanya. You adalah sapaan akrabnya kepada jurnalis yang dikenalnya, yang biasa terlontar begitu saja.

Ditanya soal kesehatannya, ia mengaku sehat walafiat karena secara teratur berolahraga, khususnya tenis. Meski demikian, kolumnis sekaligus pemilik Harian Pos Kota yang pernah meminta Soeharto lengser di awal Era Reformasi ini mengatakan, seakrang yang lebih penting bukan sekadar kesehatan saja.

“Lho apa lagi, Pak, bukankah itu (kesehatan) yang paling penting sekarang ini?” kami bertanya. Harmoko melanjutkan, “Bukan sekadar sehat, lebih penting lagi waras. You tahu, sekarang ini lagi banyak-banyaknya orang yang tidak waras.”

Sayangnya, percakapan dengan Harmoko harus berakhir karena kendaraan Toyota Land Cruiser warna hijau gelap sudah menantinya. Harmoko pun pamit. Kamipun belum sempat menanyakan siapa-siapa saja sekarang ini orang-orang yang disebutnya “tidak waras” itu. Kamipun berani mengutip pernyataannya itu karena Harmoko tidak meminta, “Ini off the record ya!” (PEP)
***

DEMIKIANLAH sapaan saya terhadap Harmoko. Tanpa berani menyapa karena alasan gengsi, karena "dia (Harmoko) sudah tidak jadi apa-apa" dan karena dia "sudah bukan siapa-siapa" lagi, maka niscaya tidak akan ada berita di atas tadi. Saya tidak peduli sebagian orang membencinya. Bagi saya, Harmoko tetaplah tokoh, lebih karena "kelihaiannya" berpolitik, sehingga kekesalan orang yang sedemikian menumpuk menjadi sirna sama sekali hanya karena dia pernah "meminta Soeharto mundur"!

Sedemikian lihainya, bukan. Dan memang ajaib, ketika para pejabat Orde Baru kena hujat, termasuk  mereka yang hengkang dari kabinet saat-saat kejatuhan Soeharto sekalipun, Harmoko tidak pernah dihujat. Mahasiswa pun tidak pernah menyentuh dan menghujatnya. Benarkah Harmoko selamat karena kelihaiannya berpolitik atau semata-mata blessing in disguise saja? (Bersambung)

Thursday, August 07, 2008

Catatan (57): Naskah Ganda dan Plagiat (2)

Tak Dimuat, Tak Aktual (2)

SAYA bertemu dengan Yulyanto, seorang blogger dalam suatu kesempatan di Plaza Senayan, Rabu 6 Agustus 2008 lalu. Rupanya dia salah seorang dari sekian netter yang kebetulan membaca postingan saya beberapa waktu lalu ("Kompas First, Please!"). Dia menyatakan setuju dengan sikap tegas Kompas yang memberi sanksi kepada pengirim artikel ganda. "Persoalannya, kalau harus menunggu selama dua minggu, masalah yang ditulis sudah tidak aktual lagi kalau dikirimkan ke media massa lain," katanya.

Saya berpikir sejenak, ada benarnya! Tetapi segera saya menjawabnya sambil sedikit bercanda, "Itulah risiko perjuangan!" Harus saya akui, memang berat dan sulit menembus Halaman 6 Kompas. Tetapi sekali Anda mampu menembusnya, honor yang diterima seperti tidak berarti apa-apa jika nama kita terpampang di halaman opini itu. Mungkin Anda akan membaca berkali-kali tulisan sendiri!

Satu hal lagi, ketika satu artikel Anda termuat, Kompas memiliki divisi pusat informasi sendiri yang dengan mudah mem-file nama Anda. Sekali tembus, setelah itu mengalir terus! Bahkan Mas Yulyanto sendiri yang kemudian mengatakan, "Rasanya kalau satu kali artikel kita dimuat di Kompas, mungkin untuk dimuat di media lain akan lebih mudah! Wallahualam...

Kembali ke soal artikel yang tidak aktual lagi jika dikirim ke media lain karena harus menunggu dua minggu, saya hanya mengatakan bahwa dalam keseharian kita dihadapkan kepada berbagai pilihan yang harus diambil dan ditempuh. Intinya, hidup adalah pilihan! Bagi saya, ketika Anda mempertimbangkan sebuah artikel untuk dikirimkan ke Kompas atau ke media lain, itu adalah pilihan. Tidak ada intervensi pihak lain, bukan?

Namanya juga pilihan, pasti ada yang tepat dan ada pula yang meleset. Yang tepat, tentu saja itu sesuai pilihan. Yang meleset, itulah risiko kita hidup yang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Jadi kalau tidak mau kecewa karena artikel dikembalikan oleh desk opini Kompas, ya harus sudah siap dengan risiko yang akan dihadapi, termasuk sudah tidak aktualnya lagi artikel yang ditolak Kompas jika dikirimkan ke media massa lain.

Tentu saja bola ada di tangan Anda. Siap menerima risiko naskah dikembalikan atau langsung dikirimkan ke media lain? Tidak ada yang melarang, tetapi sebaiknya ingat kata-kata saya ini selalu: "Kompas First, Please!" (Bersambung)

Monday, August 04, 2008

Catatan (56): Naskah Ganda dan Plagiat (1)

"Kompas First, Please!" (1)





UNTUK memeriksa 3.000-an artikel setiap bulannya, mustahil bagi desk opini Kompas mendeteksi apakah setiap artikel yang masuk itu naskah orijinal, jiplakan, atau naskah ganda yang juga dikirimkan ke media lain. Saya ingatkan, jangan sekali-kali mengirimkan naskah artikel yang sama secara bersamaan ke dua atau lebih media massa lain! Maaf, mungkin terdengar angkuh kalau saya terpaksu harus mengatakan, "Kompas first, setelah itu baru yang lainnya...!


Bukan apa-apa, ini demi kebaikan bersama. Soalnya sanksi (moral)-nya sangat berat jika ketahuan. Jika seorang penulis mengirimkan naskah artikelnya ke lebih dari dua media massa secara bersamaan, lalu ketahuan kemudian setelah artikel itu dimuat di Kompas dan media massa lain, sanksi sudah menunggu. Mulai sanksi ringan, yakni tidak memuat artikel si penulis selama satu bulan, sampai di black list selamanya! Berdasarkan catatan, tidak kurang dari 20 nama penulis sudah di black list gara-gara berulang-ulang berbuat hal yang sama, yakni mengirimkan naskah ganda dan melakukan plagiat alias menjiplak.



Harian Kompas tentu saja tidak punya pengawas atau polisi yang memeloti setiap artikel yang dimuat di media massa lain. Hanya saja, justru para pembaca sendirilah yang melaporkannya di surat pembaca atau sengaja menelepon langsung ke redaksi Harian Kompas. Jika apa yang dilaporkan benar, pihak sekretariat menelepon langsung kepada si penulis artikel dan menanyakan apakah benar naskah yang sama dimuat di media lain, mengapa ia melakukan "pembohongan publik" seperti itu, dan seterusnya.



Saran saya, jangan sekali-kali mengirimkan naskah ganda (naskah yang sama atau senada) ke media lain selagi Anda mengirimkan naskah itu ke Redaksi Kompas! Bersabarlah menunggu sampai ada pemberitahuan dari sekretariat desk opini bahwa naskah tidak dapat dimuat! Saya bertanya kepada sekretariat desk opini berapa lama biasanya naskah dikembalikan? "Paling lama dua minggu," jawabnya.



Jadi, bersabarlah dalam dua minggu sebelum naskah artikel Anda dikirmkan ke media lain!



Mengapa harus ke Kompas yang pertama baru setelah itu ke media lain? Maksudnya tidak lain untuk menjaga reputasi Halaman 6 itu sendiri sebagai rubrik yang menjadi salah satu acuan dunia akademis di negeri ini. Selain itu, inilah aturan main yang diterapkan desk opini Kompas. Saya tidak bermaksud membelah pendapat Anda dengan "setuju" atau "tidak setuju" dengan aturan itu. Saya hanya sekedar memberitahu Anda saja, khususnya mereka yang ingin mencoba mengirimkan artikelnya ke Harian Kompas.



Berani mencoba? (Bersambung)

Friday, October 12, 2007

Catatan (29): Selamat Idul Fitri





Minal Aidin...



SAHABAT, di bulan yang penuh berkah ini, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1428 Hijriyah, mohon maaf lahir dan bathin.



Pepih Nugraha



Thursday, October 04, 2007

Catatan (28): Click of The Week



Penilaian Maverick Indonesia


PERISTIWA sudah lama terjadi, 14 Agustus lalu. Saat itu saya diberitahu teman-teman bahwa blog Beranda t4 Berbagi menjadi Click of The week versi Maverick Indonesia. Meski terlambat, saya ingin mengucapkan terima kasih atas penilaian tersebut. Setidak-tidaknya ada juga yang mengklik blog yang saya maksudkan sebagai tempat belajar menulis bersama ini.


Di bawah ini saya kutipkan kembali "penobatan" Maverick Indonesia yang ditulis dalam bahasa Inggris:


Click of The Week: Pepih Nugraha


Where can you learn to write? Well, if you aspire to write in Indonesian check out Pepih Nugraha’s Beranda t4 Berbagi (Verandah for Sharing). Pepih, who’s a senior journalist at Kompas, describe’s his blog as a “place for everyone who wants to learn about writing, especially if you work for the print-media.


His first lesson in writing is where to get the ideas for writing an article. Some people, he says, think that you have to go somewhere, to the beach or up a mountain, to be inspired. That’s a luxury for writers of fiction but not for journalists who have to write to deadlines. Story ideas, he says, are in fact everywhere in our daily lives - from our chats with other people, attending seminars or discussions or even when we’re window shopping in the mall.


His blog has interesting accounts of his daily life as a journalist, including interviews with the famous to traveling overseas on assignment.



Pepih is also an active member of Indonesia’s blogosphere. After starting his own blog in February 2006, Pepih joined Blogfam and contributes iarticles for its online Blogfam Magazine. You can check out his writing for the on-line magazine here. He also contributes articles to mediacare, a discussion group on the Indonesian media.



Keep on blogging Pepih.

Saturday, September 22, 2007

Catatan (27): Pak Rum Telah Tiada



Selamat Jalan Pak Rum...



TANGGAL 11 Juni 2007 lalu saya bertemu Pak Rumhardjono, wartawan seniorKompas yang sudah pensiun sekaligus pengajar yang sabar bagi calon-calon wartawan Kompas. Saya hanyalah salah satu dari sekian wartawan yang ada berkat bimbingannya. Saat bertemu di Kantor Redaksi Kompas Lantai 3 di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saya langsung menimba ilmu dari Pak Rum, demikianlah ia biasa dipanggil. Rekan-rekan lain memanggilnya Mas Rum.



Hasil dari menimba ilmu itu langsung saya postingkan di blog ini hari itu juga, lengkap dengan foto yang saya ambil atas seizinnya (lihat http://pepihnugraha.blogspot.com/search/label/Rumhardjono ). Maksud saya, biar pengalaman Pak Rum yang segudang, baik sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara maupun guru bagi para wartawan, bisa sahabat ketahui juga. Berbagi ilmulah.



Hari Kamis, 20 September lalu, saya mendapat pesan singkat dari seorang kawan yang mengabarkan bahwa Pak Rum telah pergi untuk selamanya karena serangan stroke. Ia meninggal di RSCM pukul 03.30. Satu hal yang menjadi penyesalan, saya tidak dapat mengantarkannya ke tempat peristirahatannya yang abadi di pemakaman karet bivak karena terkunci oleh pekerjaan.



Untuk mengenangnya, saya tampilkan obituari yang ditulis senior saya, wartawan Kompas, James Luhulima, yang tulisannya dimuat Kompas, Jumat 21 September 2007 halaman 1. Obituari adalah tulisan untuk mengenang orang yang telah meninggal dunia. Di Indonesia, orang yang dikenal mahir menulis obituari adalah wartawan senior Rosihan Anwar. Suatu waktu saya akan berbagi ilmu bagaimana menulis obituari. Tetapi kali ini, kita bisa baca obituari Pak Rumhardjono di bawah ini:


Obituari

Selamat Jalan Mas Rum!



Kabar bahwa eks wartawan Kompas Rumhardjono (68) terserang stroke diterima Redaksi Harian Kompas hari Rabu (19/9) malam, tepatnya pukul 22.00. Keponakannya, Endang Basanto Ratri, menelepon dan mengabarkan bahwa Mas Rum, begitu ia akrab disapa, dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo di Lantai 2.



Layanan pesan singkat atau SMS pun berseliweran, dan wartawan-wartawan Kompas segera menyempatkan diri untuk menjenguknya. Di harian Kompas, Mas Rum memiliki banyak peran, baik sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara, sebagai tutor bagi wartawan yang lebih muda, maupun sebagai guru, khususnya bagi wartawan-wartawan Kompas yang masuk pada tahun 1987-1998.



Di antara wartawan Kompas yang datang ke IGD RSCM tampak Pemimpin Redaksi Suryopratomo dan beberapa rekan yang merupakan murid-murid pertama Mas Rum. Saya dan rekan saya, Taufik H Mihardja dan Andi Surudji, adalah tiga wartawan Kompas yang terakhir menjenguknya di IGD RSCM. Kamis dini hari, menjelang pukul 02.00, kami bertiga meninggalkan pelataran parkir RSCM.



Pada pukul 03.30, tiba-tiba masuk SMS yang menyatakan bahwa Mas Rum telah tiada. Ia meninggal dunia pada pukul 02.50. Perasaan kehilangan pun segera muncul ke permukaan. Mas Rum yang lahir pada 13 April 1939 memang telah pensiun dari harian Kompas pada tahun 1999. Namun, sesungguhnya hubungan Mas Rum, yang sampai akhir hayatnya melajang itu, dengan harian Kompas tidak pernah berakhir. Sesekali ia menelepon saya dan rekan lain apabila ia merasa ada hal yang perlu mendapatkan perhatian.



Kadang ia juga mengirimkan tulisan tentang masalah-masalah tertentu, terutama yang berkaitan dengan Asia Tenggara, dengan catatan, tidak untuk dimuat, hanya untuk background saja.



Ahli Asia Tenggara



Mas Rum bergabung dengan harian Kompas pada tahun 1974 dan bertugas di Desk Luar Negeri. Itu sebabnya, ia tercatat sebagai wartawan peliput di Departemen Luar Negeri (Deplu). Perhatiannya yang intens pada masalah-masalah yang berkaitan dengan Asia Tenggara menjadikan Rumhardjono dikenal sebagai wartawan yang ahli Asia Tenggara pada akhir tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Beberapa kepala pemerintahan dan Menteri Luar Negeri ASEAN mengenalnya dengan baik.



Saya mengenalnya pada tahun 1983 ketika sebagai wartawan baru saja ditugaskan untuk meliput kegiatan di Deplu, yang menjadi tempat tugas Rumhardjono sejak akhir tahun 1970-an. Saat saya bertugas di sana, segala sesuatunya menjadi mudah, karena ia langsung berperan sebagai tutor saya.



Bahkan, ketika saya pertama kali ditugaskan untuk meliput Pertemuan Tahunan Menteri Luar Negeri ASEAN Ke-17 di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1984, ia memberi saya semacam kertas kerja panduan mengenai bagaimana meliput suatu konferensi internasional dengan efisien dan efektif. Termasuk mengenai bagaimana cara memperoleh draf joint communique (komunike bersama), yang merupakan salah satu keahliannya. Dan, juga tentang bagaimana menggunakannya sebagai bahan berita.



Pengalamannya yang luas dalam meliput konferensi internasional menjadikan ia selalu bersikap santai. Sikap seperti itu diperlihatkannya saat meliput Jakarta Informal Meeting (JIM) di Istana Bogor tahun 1988. Pada saat wartawan lain sudah hadir sejak pagi, Mas Rum masih enak-enak tidur. Ia baru bangun pukul 10.00 dan datang ke Istana Bogor menjelang pukul 11.30. Namun, sore harinya, ia sudah memegang draf komunike bersama JIM. Lobinya yang sangat luas di kalangan pejabat Deplu dan kementerian luar negeri negara-negara ASEAN lain menjadikan ia selalu bisa mendapatkan draf komunike bersama yang akan keluar.



Sebagai wartawan senior, Mas Rum asyik diajak berdiskusi. Daya analisanya tajam, mendalam, dan jernih. Kemampuan berabstraksinya pun cukup menonjol. Ia selalu menemukan angle (sudut pandang) yang tepat untuk menulis.



Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama yang turut mengantarnya ke pemakaman di TPU Karet Bivak, Kamis, dalam sambutannya mengatakan, analisa mendalam dan jernih, dan selalu dikemukakan dengan dingin, tanpa emosi. Mungkin itu karena latar belakangnya sebagai periset.



Menurut mantan Ketua Dewan Pers Atmakusumah Astraatmadja, yang merupakan adik ipar Mas Rum, sebelum menjadi wartawan, Mas Rum adalah seorang periset. (James B Luhulima)

Tuesday, September 11, 2007

Catatan (26): Selamat Datang Ramadhan



Selamat Menjalankan Puasa



SYUKUR kita masih diberi umur, masih bisa berkumpul dengan keluarga, tetangga dekat dan kerabat. Tidak terasa puasa telah datang menjelang, bulan penuh baraqah dan pengampunan.



Saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah saum kepada para sahabat yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita, saum dan beramal baik di bulan Ramadhan, mendapat ganjaran Allah SWT. Inilah bulan dimana kita diperkenankan berlomba-lomba berbuat kebaikan.



Selamat datang... Marhaban, ya Ramadhan!

Tuesday, September 04, 2007

Catatan (25): Teman-teman SD



Dimana Mereka Sekarang?



TIDAK sering saya pulang kampung, bisa dihitung jari dalam setahun. Akhir-akhir ini, kalau pun pulang kampung, tidak pakai menginap merasakan kesejukan udara dan wangi tanah kelahiran. Datang sebentar, lalu pergi tanpa kesan. Padahal, di tanah kelahiran inilah, desa Ciawi, Tasikmalaya, separuh nafas saya tertinggal. Kelak jika saya mati, saya ingin tubuh ini ditanam di sana, di tanah dimana saya dilahirkan!



Selalu ada cerita kalau saya berada di tanah kelahiran. Setidak-tidaknya mencium aroma jerami dan tanah sawah, ingatan melayang ke masa silam. Ke masa-masa saya kanak-kanak dulu, ke masa dimana saya pernah disuapi almarhumah Ibu nasi dan ikan gurami goreng yang masih panas. Telur ayam tinggal ambil saja dari kandang. Kadang belut pepes yang masih mengepul dan diambil dari bara panas menjadi makanan sehari-hari.



Itu peristiwa empat dasawarsa lalu, saat saya masih berumur tiga atau empat tahun. Belut adalah makanan favorit saya sejak kecil, sampai ini hari. Bertemu daging sapi, mungkin hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Bukan tidak mau, tetapi mungkin Ibu menganggap tidak perlu. Selebihnya apa yang ada di sekeliling rumah saja, mulai beras, lalap-lalapan, telur, belut, dan ikan. Tentunya di Ciawi, tanah kelahiran saya itu. Suasananya seperti foto di atas, yang diambil rekan Amir Sodikin tahun 2006 lalu.



Sewaktu saya bersekolah dasar di SD Ciawi I, masuk 1972 sampai 1977, saya punya sahabat karib dalam bermain. Kami akrab mulai kelas dua atau tiga, ketika sudah sedikit tahu arti pertemanan. Karib saya itu adalah Dadan Hamdani, Asep Dedi, Asep Wahyu, dan Uus Kusnadi. Berlima kami sering berenang di Ciherang di Leles, yang dulu airnya sangat bening. Makanya disebut ciherang, berarti air yang bening. Kami berenang dengan telanjang bulat, tanpa malu-malu, dan diam-diam sering membandingkan satu sama lain.



Ketika berada di kampung halaman, kadang terlintas teman-teman saya itu. Dimana mereka sekarang setelah empat puluh tahun berlalu?



Maksud saya menulis catatan ini adalah, saya ingin mendapat respons dari teman-teman saya sewaktu di SD itu. Setidak-tidaknya jika ada di antara sahabat yang membaca tulisan ini dan kebetulan tahu keberadaan teman-teman saya itu, sahabat bisa menyampaikannya agar kontak saya bisa terjalin kembali. Sengaja saya menebalkan nama teman-teman saya itu, agar lebih mudah dibaca.



Saya coba mengandalkan ingatan saya untuk menyebut teman-teman saya itu, tentunya mohon maaf kepada mereka yang terlewat saya sebut. Selain keempat teman yang sudah saya sebutkan di atas, teman-teman saya lainnya yang saya ingat adalah: Cucu Suryana, Eman Sulaeman, Sumpena, Titin A, Titin B, Lela Kamila, Oki, Eli, Kuslia, Cicih Sukaesih, Ida, Adah, Eti, Elsa, Mimi, Nanih, Nono, Iin, Endang, Atikah, Sumarni, Apong, Gan Mamat, Agus Ridar dan Riki. Nama yang saya sebut terakhir, Riki, adalah kakak penyanyi Vetti Vera dan Adam. Riki bahkan pernah “kos” di rumah orangtua selama setahun.



Terbatas sekali ingatan saya. Setidak-tidaknya itu saja dululah. Coba saya ingat-ingat lagi yang lainnya…

Thursday, August 09, 2007

Catatan (24): Adik Kelas



Hanny Tanujaya




Hai, Pepih, saya Hanny alumni SMA Negri 2 juga, saya adik kelasmu, kebetulan saya membaca tentang anda di internet, wah satu alumni nich... saya sangat terkesan membaca tulisanmu "SURAT LILI" , lalu saya ingat-ingat wajah Lili dan Pepih, jadi agak kebayang juga. Oh ya ini no hp saya 0811211xxx saya minta no tlp Pepih juga ya.




ITU surat elektronik yang saya terima beberapa hari lalu. Surat dari Hanny Tanujaya, adik kelas saya setahun sewaktu di SMAN 2 Tasikmalaya. Saya mencoba-coba mengingat-ingatnya. Gagal. Tak terlintas bayangannya sedikit pun. Pun ketika ia memberi "hint" bahwa ia menjadi tim bola basket sekolah bersama Yen Yen. Gagal lagi.


Jadi setelah saya telepon dia, saya minta maaf karena tidak bisa mengingat wajahnya. Jangankan wajah adik kelas, wong teman yang seangkatan saya saja sudah lupa-lupa. Keterbatasan kita sebagai manusia! Maklum, saya masuk SMA 26 tahun lalu. Jadi, saya minta saja fotonya. Hanny berjanji akan memenuhi permintaan saya.


Di telepon, dia mengatakan senang bertemu satu alumni, tidak terkecuali saya yang sebetulnya beda angkatan. Kalau sudah begini, saya juga tidak mempersoalkan angkatan, tetapi persahabatan. Akhirnya, kami berjanji untuk bisa saling bertemu, entah di Tasikmalaya, Jakarta, atau di Bandung, tempat dimana selama beberapa tahun terakhir dia tinggal bersama keluarganya.


Tadi pagi, saya menerima foto yang dijanjikannya. Tanpa harus meminta izinnya, saya tampilkan foto Hanny di blog ini. Siapa tahu ada teman-temannya, baik satu alumni maupun bukan, mengenalinya. Sehingga, tali silaturahmi terjalin kembali dan persahabatan menjadi tidak terhalang sekat jarak dan waktu.

Monday, July 23, 2007

Catatan (23): Akhirnya "Dirimu" Kudapat



Lirik Lengkap "Dirimu"



ENAKNYA nge-blog, bisa berteman dengan orang banyak, bisa berbagi rasa, bahkan berbagi kebutuhan. Contoh kecil saja, tatkala saya sangat-sangat memerlukan lirik lagu "Dirimu" dari Keenan Nasution saat tergabung dalam Gank Pegangsaan, Reynaldi Wirya, mengirimkan lengkap "Dirimu" untuk saya.




Reynaldi yang punya blog keren http://www.indolawas.blogspot.com/, kebetulan membaca postingan saya kemarin mengenai Keenan Nasution (lihat Sayang "Dirimu" Tak Ada). Terima kasih yang sebesar-besarnya buat Reynaldi. Inilah teks lengkap lirik lagu "Dirimu", yang tetap saya mainkan dalam nada D minor.




"Dirimu"



Di bening malam ini

Resah rintik gerimis datang

Menghanyutkan sinar rembulan



Buram kaca jendela

Semuram waktu yang berlalu

Sedang ku masih menunggu

Ungkapan rasa

Dari keinginan baikku

Untuk bersama menempuh jalan hidup



Tak usahlah kau ingat

Bayangan gelap kenyataan

Diri tanpa sutradara

Relakan niat tangan

Menghapus noda kehidupan

Dirimu di hadapanku



Tetaplah putih

Demi keingan baikku

Untuk bersama menempuh jalan hidup



Kuingin selalu dekatmu

Sepanjang hidupku

Membawamu ke puncak bahagia



Kuingin selalu denganmu

Nikmati mentari

Mendekapmu dibawah cahayanya



Bagimu...

Raihlah kehidupan...

Tuesday, July 03, 2007

Catatan (22): Surat Lili 2











Bertemu Lili



SABTU, 23 Juni lalu, saat berada di Tasikmalaya, saya menyempatkan diri mengunjungi rumah Lili, teman sewaktu di SMA, yang pernah berkirim surat tanpa alamat pengirim (lihat postingan sebelumnya). Saya berada di Tasikmalaya karena esok harinya, 24 Juni, menghadiri reuni SMP Negeri 1 angkatan 1981. Saya pikir, sekalian jalan saja sebelum mengadakan "tour de Java" sekeluarga untuk mengunjungi saudara-saudara di Solo dan Cirebon.



Tidak sulit menemukan rumah Lili di Jalan Dr Mochamad Hatta yang dulu bernama Jalan Raya Ciamis itu. Tentang pertemuan dengan Lili dan keluarganya, kelak saya akan ceritakan tersendiri (lihat foto). Di sini saya mempostingkan imel Lili lewat alamat adiknya Tanti Susilawati, seorang novelis muda berbakat, yang novel pertamanya, Hey Mister I Love You, masih saya baca dan dipertimbangkan untuk dibuatkan resensinya.



Lili menyilakan saya mempostingkan suratnya dengan maksud teman-teman lainnya semasa SMA II Tasikmalaya (1981-1984) dulu ada yang membacanya. Berikut surat Lili tanpa perubahan apapun, baik cara menulis maupun gaya bahasanya:



Halo Pepih! Halo Tantri! (salam kenal)

Wah, Lili seneng banget lho! Ternyata kamu benar2 Pepih temanku!

Lili diberitahu adik bungsuku, Tanti, dia lihat blog kamu di internet. Di situ kamu nulis “Surat dari teman SMA”, kita senyum2 aja bacanya.. jangan ketawain aku ya kalau aku masih pake cra kuno buat nulis surat .



Memang sih, di zaman millennium ini, aku termasuk jenis langka yang masih pake amplop dan prangko, beda dengan adikku yang tiap hari melototi laptop. Kalau Lili sih paling2 pijit2 kalkulator (ngitung bati!), dulu waktu masih kerja (BBI Tsm) paling cm pijit2 komputer, bikin laporan.



Thanks a lot ya buat pujianmu yang selangit, padahal aku pikir dulu itu aku lebih banyak nyebelinnya daripada bagusnya, bener.



Lily or Lili is okay. My Dad sih kasih nama di Akta Kelahiranku Lili, tapi berhubung dulu aku lagi rada gumeulis, aku suka tulis2 namaku Lily biar lebih keren gitu… heheheh..



Iya Pep, aku juga sama2 byk kehilangan jejak teman2 SMA dulu, misalnya teman kita yang jenius Ang Le Tjien, dulu sekali sih waktu aku kuliah di Yogya, aku pernah ketemu dia di stasiun, dia juga kul di Yogya (Sanata Dharma), sedangkan aku di AKUB, setelah itu sampai sekarang tidak ada beritanya lagi, dengar2 sih dia pernah jadi dosen, terus katanya sekarang jadi biarawati. Benar tidaknya, aku sendiri juga nggak tahu.



Si Jangkung Taufik, dengar2 sudah jadi dokter, katanya di Jakarta , tapi setelah lulus SMA dulu, aku sendiri belum pernah ketemu dia lagi.



Lili juga pingin tahu kabar temen2 yg lain; Hen2, Ida, Bina, Dudi, Dian, Lina, Rina (kamu pasti ingat Rina, gadis tercantik di kelas kita yang kamu taksir… ehm.. heheh… gak apa2 ya kalau dibaca Tantri juga, ini mah cerita zaman dulu Tan, waktu Kang Pepih masih ingusan! Hehehe)



Eh, gimana kabarnya saudara kamu si Tatan? Apa masih lucu seperti dulu?



Kamu ingat nggak teman sebangku Lili yang manja, Nunung? Dia juga sudah jadi ibu RT dan ibu guru! Dia jadi guru B Indo di SMP dekat rumahnya di Cihaurbeuti, Lili pernah ketemu sekali di supermarket, sama2 lagi ngajak main anak2, dia jadi gemuk lho!



Lili juga sekali-kal suka ketemu Iis Aisyah (dirijen kelas kita), dia masih manis dan ramah seperti dulu, dia juga jadi guru, anaknya sudah besar2.



Kalau Yenyen mah sekarang jadi somse, kalau papasan di jalan, aku senyum, eh, dia malah cepat2 liat ke arah lain, pura2 gak liat! Gak tau kenapa, mungkin mentang2 sudah jadi nyonya bos kali!



Pep, cerita2 dong tentang kesibukanmu jadi wartawan, kamu pernah tugas ke mana aja? Pasti asyik banget ya!



Bahasa Prancis kamu kayaknya lancar banget ya? Adikku pernah kursus di CCF, tapi dia lebih tergoda sama bhs Italia gara2 suka nonton bola!



Eh, kita sebenernya kemaren mau kasi komen langsung di blog, tapi gak tau kenapa gak bisa masuk terus.



Btw, aku pernah baca artikel kamu ttg Bosnia waktu masih perang dulu, juga ttg Aceh setelah tsunami. Adikku Tanti juga pernah ke Aceh, ikut tim medis Amrik (dia jadi penerjemah), selama dia di sana (1 bulan), Lili agak waswas dan khawatir juga, terutama karena daerah di mana dia ditugasin masih rawan bentrokan dengan GAM.



Eh, Lili juga pernah liat kamu di tak tik boom. Sayangnya kamu agak grogi ya, jadinya gak menang.. coba kalau tenang, pasti menang, maklum lah masimudamasutipi ya heheheh



Cerita dong tentang keluargamu, apa Tantri sama2 dari Tasik atau dari Jakarte? Anak kalian udah gede2 ya? Ada berapa? Anak2ku masih kecil, kelas 4 dan 2 SD, cowok semua.



Kalau kalian lagi liburan di Tasik, mampir ya ke rmah kami di Jl. Dr. Moch Hatta Tsm.



Ok deh, Pepih, Tantri, sekian aja dulu kabar dari Tasik. Lili tunggu balasannya ya!



Salam,

Lili



(karena gaptek, aku nebeng alamat adikku hehehe, harap maklum!)