
Lagi-lagi tentang "Bagaimana Memulai Menulis"
BEBERAPA waktu lalu saya menerima pertanyaan dari rekan Prasetiyo Yudhi seputar bagaimana memulai menulis. Kebetulan dalam beberapa postingan sebelumnya, saya juga bicara soal bagaimana menyingkirkan rintangan saat memulai menulis. Berikut surat Presetiyo yang masih kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Assalamualaikum wr.wb...
halo mas pepih, gmn kbrny ..? mudh2 selalu dlm keadaan sehat wal afiat... perkenalkan n saya yudhi mahasiswa fikom unpad, saya suka dengan posting2 yg ada di blog-nya mas pepih, dan sy salut dengan anda...mas, saya ingin sharing nich:
1. bgmn cara memulai untuk menulis????, terkadang kita itu suka males...
2. gmn supaya menulis itu menjadi sebuah kebutuhan sehari2 atau kebiasaan...????
3. teknik menulis yg baik dan cepat menurut mas pepih ?
3. cara menambah perbendaharaan kata ?
4. kayanya sbg seorang jurnalis, mas pepih mempunyai kemampuan berbahasa asing yang baik. Saya mempunyai kesulitan berkomunikasi dlm berbahasa inggris, ingin rasanya saya lancar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris..berdasarkan pengalamannya, apa mas pepih punya tips dan trik paling cepat untuk belajar bahasa asing...???????
tolong yang mas...trims.....smoga mas pepih sukses selalu.....
assalamualaikum wr.wb...
Di bawah ini jawaban yang bisa saya berikan, mungkin tidak cukup memuskan:
Waalaikum salam, Yudhi...
Saya juga alumnus FIKOM Unpad, hanya angkatan lama, angkatan 85. Mungkin kamu belum lahir kali ya saat saya masuk kuliah hehehe? Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat wal afiat.
1. Dalam blog Beranda beberapa postingan saya menekankan bagiamana menerobos rintangan dalam memulai menulis. Memulai adalah sesuatu yang amat sulit, seperti kata pepatah lama Jerman "Aller Anfang ist Schwer" (semua permulaan itu sulit). Banyak cara yang dilakukan, antara lain mulailah menulis di catatan harian (diary). Apa yang ditulis? Apa saja! Peristiwa sehari-hari di seputar kita, lihat tetangga bertengkar, lihat anak keracunan makanan, lihat motor tabrakan dll. Jika niatnya untuk menjadi wartawan, pergunakan "alat bukti" peristiwa berupa kamera sederhana atau ponsel berkamera. Bidik peristiwa dan komentari peristiwa itu. Jangan ditunda! Dimana kamu menulis? Ya di catatan harian itu. Catatan harian itu bisa catatan harian dalam pengertian sebenarnya berupa buku atau yang agak moderan, BLOG. Jadi wajib kamu punya blog!
2. Anggap menulis itu sebuah perjuangan untuk mendapatkan makanan dan minuman, pasti kamu akan berusaha melakukannya!
3. Menulis yang baik itu dimana tulisan kita bisa dimengerti dan dipahami semua orang berbagai tingkatan. Jangan menulis dengan bahasa yang rumit dengan kalimat yang panjang2 sehingga sulit bernafas. Ciptakan kalimat yang pendek2 saja. Soal menulis cepat, itu persoalan latihan saja dan kebiasaan saja.
4. Cara menambah perbendaharaan kata tidak lain dari BACA, BACA, dan BACA. Apa saja. Jangan abaikan percakapan anak-anak muda/remaja, dimana bahasa kreatif sering muncul dari kalangan ini.
5. Di Kompas, kemampuan bahasa Inggris aktif itu WAJIB bagi jurnalis seperti saya. Tidak ada obatnya untuk bisa seperti ini selain belajar dan berlatih setiap hari.
Okay itu saja dulu, sukses ya studimu! O ya, tanggal Kamis, 23 Oktober 2008 nanti di Aula Unpad saya diundang bawakan makalah. Ya saya mau cerita soal kecenderungan media kini dan bagaimana mahasiswa FIKOM mengantisipasinya. Kalau mau ketemu, datang aja ya!
Salam, Pepih
Showing posts with label Surat. Show all posts
Showing posts with label Surat. Show all posts
Friday, October 24, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (74)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:23 PM
1 komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Surat, Universitas Padjadjaran
Tuesday, August 05, 2008
Surat Anda (1): Menulis Sosok
Bagaimana Memulainya? (1)
SAYA menerima dua surat elektronik dari Pak Suwidyo melalui alamat e-mail saya pepih_nugraha@yahoo.com, Senin 4 Agustus dan Rabu 6 Agustus 2008. Pak Wid tinggal di Perumahan Vila Bintaro Indah, Tangerang, dan menjadi pengasuh buletin yang beredar di perumahan itu, Buletin VBI. Surat dan jawaban kedua imel kemudian saya taruh di rubrik baru, "Surat Anda", sehingga kalau ada surat lainnya berkaitan dengan dunia tulis-menulis dan jurnalisme akan saya taruh di rubrik ini. Baik, saya tampilkan imel pertamanya yang berbunyi begini:Ass wr wb
Mas Pepih YSH,
Minggu 03 Agustus 2008, saya kehilangan ( telah meninggal dunia - namanya Pak Rachmat, warga blok A dekat masjid VBI) sahabat saya sesama aktivis di masjid Baiturrahman VBI. Mengingat, peran dan begitu aktiv dan semangatnya mengurusi Masjid Baiturrahman, saya berkeinginan menulis tentang beliau dan mungkin akan saya muat dalam buletin VBI.
Sebagai referensi tambahan saya berdua sangat sering komunikasi via SMS dan E-mail, tidak ada kata lain kecuali membicarakan bagaimana meningkatkan pelayanan dan manajemen yayasan/masjid baiturrahman.
Atas hal2 tersebut, saya mohon Mas Pepih bersedia memberi arahan kepada saya mengenai:
1. bagaimana caranya menulis sosok warga yang punya profil seperti ini.
2. apakah beberapa info dalam SMS dan e-mail dapat kita ramu menjadi penguat tulisan?
3. Saya pingin tulisan ini dapat memberi manfaat lebih bagi pembaca, sehingga menjadi contoh yang baik.
4. Atau hal2 lain yang mendukung tulisan nanti.
Demikian atas bantuan dan arahannya, saya ucapkan terima kasih.
Salam/wid
Karena surat itu saya terima saat saya masih membuka komputer, maka saya pun langsung membalas surat Pak Wid sebagai beikut:
Waalaikum salam....
Sebelumnya saya mengucap Innalilahi wa Innailaihi Rojiun. Saya mendengar ada tetangga berpulang saat saya berada di Cirebon, saya baru kembali ke VBI Minggu pukul 22.00, sehingga saya tidak bisa melayat beliau.
Wah, kalau Pak Wid masih menyimpan SMS-nya, itu akan menjadi bahan-bahan berharga untuk penulisan sosok beliau yang kelak bisa disajikan teaser (pemikat) awal tulisan. Apalagi, SMS itu berisi mengenai kegiatan masjid semata. Bayangkan, bukankah dia "saksi hidup" atas kebaikan yang bukan saja mutlak diketahui Allah semata, tetapi juga "monumen" bagi manusia hidup, manusia yang ditinggalkannya?
Kalau Pak Wid mau membuat judul yang umum dan datar-datar saja, Pak Wid bisa beri judul "Berpulangnya Aktivis Baiturrahman". Artinya, awal tulisan di aliena pertama harus bercerita mengenai Pak Rachmat sebagai seorang aktivis Masjid Baiturrahman.
Coba alihkan pada isi SMS atau imel-nya yang Pak Wid punya. Mana sekiranya pesan yang menarik dan menggugah. Menarik dan menggugah itu bisa jadi SMS Pak Rachmat yang terakhir sebelum beliau berpulang. Isi dari SMS terakhir itu bisa juga menjadi kalimat pembuka sebuah tulisan. Saya tidak tahu pesan terakhir di SMS itu. Misalnya saja pesan itu berbunyi: "Pak Wid, titip masjid dan anak-anak aktivis masjid, saya hendak pergi sebentar...."
Nah, SMS yang terakhir atau yang paling menarik itulah yang bisa dijadikan teaser sebuah tulisan, yang menggugah orang untuk membaca tulisan itu. Judul tulisan pun bisa diambil dari salah satu kalimat dalam SMS itu.
Itu saja yang bisa saya sarankan, Jangan lupa deskripsi Pak rachmat (CV beliau), kesehariannya seperti apa, pekerjaan utamanya, anggota keluarga yang ditinggalkannya, cita-citanya yang belum kesampaian, komentar tetangga dan keluarga, dan seterusnya.
Keesokan harinya Pak Wid kemudian membalas kembali balasan surat saya sebagai berikut:
Terima kasih mas Pepih telah menjawab begitu cepat e-mail saya. Advis dan konsultasi saya ini akan sangat berharga dan saya masih dalam "emosi" atas kehilangan salah satu sahabat saya.Saya akan segera memulai menulis tentang profil Alm Pak Rachmat. Sekali lagi terima kasih mas, mudah-mudahan saya mampu menuliskannya. Jangan bosan bantu saya ya....
Salam/wid
(Bersambung)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
11:45 AM
0
komentar
Label: Sosok, Surat, Surat Anda, Suwidyo
Tuesday, November 13, 2007
Komentar Anda (2)
Blog "Abah" Iwan
SAYA mendapat surat dari Nurjamila, yang merupakan putri dari Iwan Abdulrachman, pencipta sekaligus penyanyi balada legendaris. Ia meminta dua postingan saya bisa dimuat di blog khusus Iwan Abdulrachman, yakni http://abahiwan.wordpress.com/. Dengan senang hati saya meluluskannya. Berikut surat Nurjamila yang ia tulis dalam bahasa Sunda, yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
Nurjamila meninggalkan pesan pada postingan "Catatan: Belajar dari Iwan Abdulrachman (3)":
Punten kang Pepih, nepangkeun abdi putri Abah Iwan. Bade ngiring copy seratan akang, ku abdi bade dilebetkeun ka blog Abah. Tiasa ditingal di abahiwan.wordpress.com. Eta teh kempelan seratan sobat-sobat abah, sareng kempelan artikel-artikel anu ngamuat perkawis pun bapa. Hatur nuhun sateuacanna.
(Maaf kang Pepih, perkenalkan saya putri Abah Iwan. Ingin ikut mengkopi tulisan akang, saya akan memasukkannya ke dalam blog Abah. Bisa dilihat di http://abahiwan.wordpress.com. Itu merupakan kumpulan tulisan sahabat-sahabat abah, dan kumpulan artikel yang memuat tentang ayah saya. Terima kasih sebelumnya.)
Di bawah ini balasan saya, juga dalam bahasa Sunda, yang intinya saya menyilakan Nurjamila mengambil tulisan saya untuk dimuat di blog Abah Iwan Abdulrachman. Saya katakan, saya juga berniat memuat cerita tentang Abah Iwan itu dalam blog bahasa Inggris saya di http://pepih.wordpress.com/ (pepih's pepblog), sekaligus menerjemahkan lirik lagu-lagunya ke dalam bahasa tersebut. Berikut balasan saya:
Hatur nuhun, sami-sami nepangkeun. Bingah pisan Salira tiasa rurumpaheun ka ieu blog. Perkawis bade dikopi mah, mangga teu langkung, ngiring bingah. Abdi oge tangtos kantos ningalian blogna Abah, saminggu kapengker.
Kapayunanna, sim kuring gaduh rencana bade nyerat blog nganggo basa Inggris di alamat http://pepih.wordpress.com (pepih's pepblog) ngeunaan Abah Iwan sacara berseri, komplit sareng teks laguna nu Insya Allah bade diterjemahkeun kana basa Inggris.
Dupi maksad mah bade nepangkeun Abah Iwan ka Mancanagara salaku aset nasional. Sanes kanggo dibisniskeun da maksad ngadamel blog mah mung sakadar iseng-iseng aya manfaat. Upami kawidian, Insya Allah abdi nepangan salira di Bandung, tos komo tiasa ngobrol sareng Abah Iwan mah. Pangdugikeun salam kareueus sareng hormat sim kuring ka Abah. Hatur nuhun.
Pepih Nugraha
SAYA mendapat surat dari Nurjamila, yang merupakan putri dari Iwan Abdulrachman, pencipta sekaligus penyanyi balada legendaris. Ia meminta dua postingan saya bisa dimuat di blog khusus Iwan Abdulrachman, yakni http://abahiwan.wordpress.com/. Dengan senang hati saya meluluskannya. Berikut surat Nurjamila yang ia tulis dalam bahasa Sunda, yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:
Nurjamila meninggalkan pesan pada postingan "Catatan: Belajar dari Iwan Abdulrachman (3)":
Punten kang Pepih, nepangkeun abdi putri Abah Iwan. Bade ngiring copy seratan akang, ku abdi bade dilebetkeun ka blog Abah. Tiasa ditingal di abahiwan.wordpress.com. Eta teh kempelan seratan sobat-sobat abah, sareng kempelan artikel-artikel anu ngamuat perkawis pun bapa. Hatur nuhun sateuacanna.
(Maaf kang Pepih, perkenalkan saya putri Abah Iwan. Ingin ikut mengkopi tulisan akang, saya akan memasukkannya ke dalam blog Abah. Bisa dilihat di http://abahiwan.wordpress.com. Itu merupakan kumpulan tulisan sahabat-sahabat abah, dan kumpulan artikel yang memuat tentang ayah saya. Terima kasih sebelumnya.)
Di bawah ini balasan saya, juga dalam bahasa Sunda, yang intinya saya menyilakan Nurjamila mengambil tulisan saya untuk dimuat di blog Abah Iwan Abdulrachman. Saya katakan, saya juga berniat memuat cerita tentang Abah Iwan itu dalam blog bahasa Inggris saya di http://pepih.wordpress.com/ (pepih's pepblog), sekaligus menerjemahkan lirik lagu-lagunya ke dalam bahasa tersebut. Berikut balasan saya:
Hatur nuhun, sami-sami nepangkeun. Bingah pisan Salira tiasa rurumpaheun ka ieu blog. Perkawis bade dikopi mah, mangga teu langkung, ngiring bingah. Abdi oge tangtos kantos ningalian blogna Abah, saminggu kapengker.
Kapayunanna, sim kuring gaduh rencana bade nyerat blog nganggo basa Inggris di alamat http://pepih.wordpress.com (pepih's pepblog) ngeunaan Abah Iwan sacara berseri, komplit sareng teks laguna nu Insya Allah bade diterjemahkeun kana basa Inggris.
Dupi maksad mah bade nepangkeun Abah Iwan ka Mancanagara salaku aset nasional. Sanes kanggo dibisniskeun da maksad ngadamel blog mah mung sakadar iseng-iseng aya manfaat. Upami kawidian, Insya Allah abdi nepangan salira di Bandung, tos komo tiasa ngobrol sareng Abah Iwan mah. Pangdugikeun salam kareueus sareng hormat sim kuring ka Abah. Hatur nuhun.
Pepih Nugraha
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
3:14 PM
1 komentar
Label: Blog, Iwan Abdulrachman, Nurjamila, Surat
Tuesday, July 03, 2007
Catatan (22): Surat Lili 2
Bertemu Lili
SABTU, 23 Juni lalu, saat berada di Tasikmalaya, saya menyempatkan diri mengunjungi rumah Lili, teman sewaktu di SMA, yang pernah berkirim surat tanpa alamat pengirim (lihat postingan sebelumnya). Saya berada di Tasikmalaya karena esok harinya, 24 Juni, menghadiri reuni SMP Negeri 1 angkatan 1981. Saya pikir, sekalian jalan saja sebelum mengadakan "tour de Java" sekeluarga untuk mengunjungi saudara-saudara di Solo dan Cirebon.
Tidak sulit menemukan rumah Lili di Jalan Dr Mochamad Hatta yang dulu bernama Jalan Raya Ciamis itu. Tentang pertemuan dengan Lili dan keluarganya, kelak saya akan ceritakan tersendiri (lihat foto). Di sini saya mempostingkan imel Lili lewat alamat adiknya Tanti Susilawati, seorang novelis muda berbakat, yang novel pertamanya, Hey Mister I Love You, masih saya baca dan dipertimbangkan untuk dibuatkan resensinya.
Lili menyilakan saya mempostingkan suratnya dengan maksud teman-teman lainnya semasa SMA II Tasikmalaya (1981-1984) dulu ada yang membacanya. Berikut surat Lili tanpa perubahan apapun, baik cara menulis maupun gaya bahasanya:
Halo Pepih! Halo Tantri! (salam kenal)
Wah, Lili seneng banget lho! Ternyata kamu benar2 Pepih temanku!
Lili diberitahu adik bungsuku, Tanti, dia lihat blog kamu di internet. Di situ kamu nulis “Surat dari teman SMA”, kita senyum2 aja bacanya.. jangan ketawain aku ya kalau aku masih pake cra kuno buat nulis surat .
Memang sih, di zaman millennium ini, aku termasuk jenis langka yang masih pake amplop dan prangko, beda dengan adikku yang tiap hari melototi laptop. Kalau Lili sih paling2 pijit2 kalkulator (ngitung bati!), dulu waktu masih kerja (BBI Tsm) paling cm pijit2 komputer, bikin laporan.
Thanks a lot ya buat pujianmu yang selangit, padahal aku pikir dulu itu aku lebih banyak nyebelinnya daripada bagusnya, bener.
Lily or Lili is okay. My Dad sih kasih nama di Akta Kelahiranku Lili, tapi berhubung dulu aku lagi rada gumeulis, aku suka tulis2 namaku Lily biar lebih keren gitu… heheheh..
Iya Pep, aku juga sama2 byk kehilangan jejak teman2 SMA dulu, misalnya teman kita yang jenius Ang Le Tjien, dulu sekali sih waktu aku kuliah di Yogya, aku pernah ketemu dia di stasiun, dia juga kul di Yogya (Sanata Dharma), sedangkan aku di AKUB, setelah itu sampai sekarang tidak ada beritanya lagi, dengar2 sih dia pernah jadi dosen, terus katanya sekarang jadi biarawati. Benar tidaknya, aku sendiri juga nggak tahu.
Si Jangkung Taufik, dengar2 sudah jadi dokter, katanya di Jakarta , tapi setelah lulus SMA dulu, aku sendiri belum pernah ketemu dia lagi.
Lili juga pingin tahu kabar temen2 yg lain; Hen2, Ida, Bina, Dudi, Dian, Lina, Rina (kamu pasti ingat Rina, gadis tercantik di kelas kita yang kamu taksir… ehm.. heheh… gak apa2 ya kalau dibaca Tantri juga, ini mah cerita zaman dulu Tan, waktu Kang Pepih masih ingusan! Hehehe)
Eh, gimana kabarnya saudara kamu si Tatan? Apa masih lucu seperti dulu?
Kamu ingat nggak teman sebangku Lili yang manja, Nunung? Dia juga sudah jadi ibu RT dan ibu guru! Dia jadi guru B Indo di SMP dekat rumahnya di Cihaurbeuti, Lili pernah ketemu sekali di supermarket, sama2 lagi ngajak main anak2, dia jadi gemuk lho!
Lili juga sekali-kal suka ketemu Iis Aisyah (dirijen kelas kita), dia masih manis dan ramah seperti dulu, dia juga jadi guru, anaknya sudah besar2.
Kalau Yenyen mah sekarang jadi somse, kalau papasan di jalan, aku senyum, eh, dia malah cepat2 liat ke arah lain, pura2 gak liat! Gak tau kenapa, mungkin mentang2 sudah jadi nyonya bos kali!
Pep, cerita2 dong tentang kesibukanmu jadi wartawan, kamu pernah tugas ke mana aja? Pasti asyik banget ya!
Bahasa Prancis kamu kayaknya lancar banget ya? Adikku pernah kursus di CCF, tapi dia lebih tergoda sama bhs Italia gara2 suka nonton bola!
Eh, kita sebenernya kemaren mau kasi komen langsung di blog, tapi gak tau kenapa gak bisa masuk terus.
Btw, aku pernah baca artikel kamu ttg Bosnia waktu masih perang dulu, juga ttg Aceh setelah tsunami. Adikku Tanti juga pernah ke Aceh, ikut tim medis Amrik (dia jadi penerjemah), selama dia di sana (1 bulan), Lili agak waswas dan khawatir juga, terutama karena daerah di mana dia ditugasin masih rawan bentrokan dengan GAM.
Eh, Lili juga pernah liat kamu di tak tik boom. Sayangnya kamu agak grogi ya, jadinya gak menang.. coba kalau tenang, pasti menang, maklum lah masimudamasutipi ya heheheh
Cerita dong tentang keluargamu, apa Tantri sama2 dari Tasik atau dari Jakarte? Anak kalian udah gede2 ya? Ada berapa? Anak2ku masih kecil, kelas 4 dan 2 SD, cowok semua.
Kalau kalian lagi liburan di Tasik, mampir ya ke rmah kami di Jl. Dr. Moch Hatta Tsm.
Ok deh, Pepih, Tantri, sekian aja dulu kabar dari Tasik. Lili tunggu balasannya ya!
Salam,
Lili
(karena gaptek, aku nebeng alamat adikku hehehe, harap maklum!)
SABTU, 23 Juni lalu, saat berada di Tasikmalaya, saya menyempatkan diri mengunjungi rumah Lili, teman sewaktu di SMA, yang pernah berkirim surat tanpa alamat pengirim (lihat postingan sebelumnya). Saya berada di Tasikmalaya karena esok harinya, 24 Juni, menghadiri reuni SMP Negeri 1 angkatan 1981. Saya pikir, sekalian jalan saja sebelum mengadakan "tour de Java" sekeluarga untuk mengunjungi saudara-saudara di Solo dan Cirebon.
Tidak sulit menemukan rumah Lili di Jalan Dr Mochamad Hatta yang dulu bernama Jalan Raya Ciamis itu. Tentang pertemuan dengan Lili dan keluarganya, kelak saya akan ceritakan tersendiri (lihat foto). Di sini saya mempostingkan imel Lili lewat alamat adiknya Tanti Susilawati, seorang novelis muda berbakat, yang novel pertamanya, Hey Mister I Love You, masih saya baca dan dipertimbangkan untuk dibuatkan resensinya.
Lili menyilakan saya mempostingkan suratnya dengan maksud teman-teman lainnya semasa SMA II Tasikmalaya (1981-1984) dulu ada yang membacanya. Berikut surat Lili tanpa perubahan apapun, baik cara menulis maupun gaya bahasanya:
Halo Pepih! Halo Tantri! (salam kenal)
Wah, Lili seneng banget lho! Ternyata kamu benar2 Pepih temanku!
Lili diberitahu adik bungsuku, Tanti, dia lihat blog kamu di internet. Di situ kamu nulis “Surat dari teman SMA”, kita senyum2 aja bacanya.. jangan ketawain aku ya kalau aku masih pake cra kuno buat nulis surat .
Memang sih, di zaman millennium ini, aku termasuk jenis langka yang masih pake amplop dan prangko, beda dengan adikku yang tiap hari melototi laptop. Kalau Lili sih paling2 pijit2 kalkulator (ngitung bati!), dulu waktu masih kerja (BBI Tsm) paling cm pijit2 komputer, bikin laporan.
Thanks a lot ya buat pujianmu yang selangit, padahal aku pikir dulu itu aku lebih banyak nyebelinnya daripada bagusnya, bener.
Lily or Lili is okay. My Dad sih kasih nama di Akta Kelahiranku Lili, tapi berhubung dulu aku lagi rada gumeulis, aku suka tulis2 namaku Lily biar lebih keren gitu… heheheh..
Iya Pep, aku juga sama2 byk kehilangan jejak teman2 SMA dulu, misalnya teman kita yang jenius Ang Le Tjien, dulu sekali sih waktu aku kuliah di Yogya, aku pernah ketemu dia di stasiun, dia juga kul di Yogya (Sanata Dharma), sedangkan aku di AKUB, setelah itu sampai sekarang tidak ada beritanya lagi, dengar2 sih dia pernah jadi dosen, terus katanya sekarang jadi biarawati. Benar tidaknya, aku sendiri juga nggak tahu.
Si Jangkung Taufik, dengar2 sudah jadi dokter, katanya di Jakarta , tapi setelah lulus SMA dulu, aku sendiri belum pernah ketemu dia lagi.
Lili juga pingin tahu kabar temen2 yg lain; Hen2, Ida, Bina, Dudi, Dian, Lina, Rina (kamu pasti ingat Rina, gadis tercantik di kelas kita yang kamu taksir… ehm.. heheh… gak apa2 ya kalau dibaca Tantri juga, ini mah cerita zaman dulu Tan, waktu Kang Pepih masih ingusan! Hehehe)
Eh, gimana kabarnya saudara kamu si Tatan? Apa masih lucu seperti dulu?
Kamu ingat nggak teman sebangku Lili yang manja, Nunung? Dia juga sudah jadi ibu RT dan ibu guru! Dia jadi guru B Indo di SMP dekat rumahnya di Cihaurbeuti, Lili pernah ketemu sekali di supermarket, sama2 lagi ngajak main anak2, dia jadi gemuk lho!
Lili juga sekali-kal suka ketemu Iis Aisyah (dirijen kelas kita), dia masih manis dan ramah seperti dulu, dia juga jadi guru, anaknya sudah besar2.
Kalau Yenyen mah sekarang jadi somse, kalau papasan di jalan, aku senyum, eh, dia malah cepat2 liat ke arah lain, pura2 gak liat! Gak tau kenapa, mungkin mentang2 sudah jadi nyonya bos kali!
Pep, cerita2 dong tentang kesibukanmu jadi wartawan, kamu pernah tugas ke mana aja? Pasti asyik banget ya!
Bahasa Prancis kamu kayaknya lancar banget ya? Adikku pernah kursus di CCF, tapi dia lebih tergoda sama bhs Italia gara2 suka nonton bola!
Eh, kita sebenernya kemaren mau kasi komen langsung di blog, tapi gak tau kenapa gak bisa masuk terus.
Btw, aku pernah baca artikel kamu ttg Bosnia waktu masih perang dulu, juga ttg Aceh setelah tsunami. Adikku Tanti juga pernah ke Aceh, ikut tim medis Amrik (dia jadi penerjemah), selama dia di sana (1 bulan), Lili agak waswas dan khawatir juga, terutama karena daerah di mana dia ditugasin masih rawan bentrokan dengan GAM.
Eh, Lili juga pernah liat kamu di tak tik boom. Sayangnya kamu agak grogi ya, jadinya gak menang.. coba kalau tenang, pasti menang, maklum lah masimudamasutipi ya heheheh
Cerita dong tentang keluargamu, apa Tantri sama2 dari Tasik atau dari Jakarte? Anak kalian udah gede2 ya? Ada berapa? Anak2ku masih kecil, kelas 4 dan 2 SD, cowok semua.
Kalau kalian lagi liburan di Tasik, mampir ya ke rmah kami di Jl. Dr. Moch Hatta Tsm.
Ok deh, Pepih, Tantri, sekian aja dulu kabar dari Tasik. Lili tunggu balasannya ya!
Salam,
Lili
(karena gaptek, aku nebeng alamat adikku hehehe, harap maklum!)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:29 PM
0
komentar
Label: Catatan, Lili, Surat, Tanti Susilawati, Teman SMA
Subscribe to:
Posts (Atom)


