Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, August 07, 2008

Catatan (57): Naskah Ganda dan Plagiat (2)

Tak Dimuat, Tak Aktual (2)

SAYA bertemu dengan Yulyanto, seorang blogger dalam suatu kesempatan di Plaza Senayan, Rabu 6 Agustus 2008 lalu. Rupanya dia salah seorang dari sekian netter yang kebetulan membaca postingan saya beberapa waktu lalu ("Kompas First, Please!"). Dia menyatakan setuju dengan sikap tegas Kompas yang memberi sanksi kepada pengirim artikel ganda. "Persoalannya, kalau harus menunggu selama dua minggu, masalah yang ditulis sudah tidak aktual lagi kalau dikirimkan ke media massa lain," katanya.

Saya berpikir sejenak, ada benarnya! Tetapi segera saya menjawabnya sambil sedikit bercanda, "Itulah risiko perjuangan!" Harus saya akui, memang berat dan sulit menembus Halaman 6 Kompas. Tetapi sekali Anda mampu menembusnya, honor yang diterima seperti tidak berarti apa-apa jika nama kita terpampang di halaman opini itu. Mungkin Anda akan membaca berkali-kali tulisan sendiri!

Satu hal lagi, ketika satu artikel Anda termuat, Kompas memiliki divisi pusat informasi sendiri yang dengan mudah mem-file nama Anda. Sekali tembus, setelah itu mengalir terus! Bahkan Mas Yulyanto sendiri yang kemudian mengatakan, "Rasanya kalau satu kali artikel kita dimuat di Kompas, mungkin untuk dimuat di media lain akan lebih mudah! Wallahualam...

Kembali ke soal artikel yang tidak aktual lagi jika dikirim ke media lain karena harus menunggu dua minggu, saya hanya mengatakan bahwa dalam keseharian kita dihadapkan kepada berbagai pilihan yang harus diambil dan ditempuh. Intinya, hidup adalah pilihan! Bagi saya, ketika Anda mempertimbangkan sebuah artikel untuk dikirimkan ke Kompas atau ke media lain, itu adalah pilihan. Tidak ada intervensi pihak lain, bukan?

Namanya juga pilihan, pasti ada yang tepat dan ada pula yang meleset. Yang tepat, tentu saja itu sesuai pilihan. Yang meleset, itulah risiko kita hidup yang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Jadi kalau tidak mau kecewa karena artikel dikembalikan oleh desk opini Kompas, ya harus sudah siap dengan risiko yang akan dihadapi, termasuk sudah tidak aktualnya lagi artikel yang ditolak Kompas jika dikirimkan ke media massa lain.

Tentu saja bola ada di tangan Anda. Siap menerima risiko naskah dikembalikan atau langsung dikirimkan ke media lain? Tidak ada yang melarang, tetapi sebaiknya ingat kata-kata saya ini selalu: "Kompas First, Please!" (Bersambung)

Monday, August 04, 2008

Catatan (56): Naskah Ganda dan Plagiat (1)

"Kompas First, Please!" (1)





UNTUK memeriksa 3.000-an artikel setiap bulannya, mustahil bagi desk opini Kompas mendeteksi apakah setiap artikel yang masuk itu naskah orijinal, jiplakan, atau naskah ganda yang juga dikirimkan ke media lain. Saya ingatkan, jangan sekali-kali mengirimkan naskah artikel yang sama secara bersamaan ke dua atau lebih media massa lain! Maaf, mungkin terdengar angkuh kalau saya terpaksu harus mengatakan, "Kompas first, setelah itu baru yang lainnya...!


Bukan apa-apa, ini demi kebaikan bersama. Soalnya sanksi (moral)-nya sangat berat jika ketahuan. Jika seorang penulis mengirimkan naskah artikelnya ke lebih dari dua media massa secara bersamaan, lalu ketahuan kemudian setelah artikel itu dimuat di Kompas dan media massa lain, sanksi sudah menunggu. Mulai sanksi ringan, yakni tidak memuat artikel si penulis selama satu bulan, sampai di black list selamanya! Berdasarkan catatan, tidak kurang dari 20 nama penulis sudah di black list gara-gara berulang-ulang berbuat hal yang sama, yakni mengirimkan naskah ganda dan melakukan plagiat alias menjiplak.



Harian Kompas tentu saja tidak punya pengawas atau polisi yang memeloti setiap artikel yang dimuat di media massa lain. Hanya saja, justru para pembaca sendirilah yang melaporkannya di surat pembaca atau sengaja menelepon langsung ke redaksi Harian Kompas. Jika apa yang dilaporkan benar, pihak sekretariat menelepon langsung kepada si penulis artikel dan menanyakan apakah benar naskah yang sama dimuat di media lain, mengapa ia melakukan "pembohongan publik" seperti itu, dan seterusnya.



Saran saya, jangan sekali-kali mengirimkan naskah ganda (naskah yang sama atau senada) ke media lain selagi Anda mengirimkan naskah itu ke Redaksi Kompas! Bersabarlah menunggu sampai ada pemberitahuan dari sekretariat desk opini bahwa naskah tidak dapat dimuat! Saya bertanya kepada sekretariat desk opini berapa lama biasanya naskah dikembalikan? "Paling lama dua minggu," jawabnya.



Jadi, bersabarlah dalam dua minggu sebelum naskah artikel Anda dikirmkan ke media lain!



Mengapa harus ke Kompas yang pertama baru setelah itu ke media lain? Maksudnya tidak lain untuk menjaga reputasi Halaman 6 itu sendiri sebagai rubrik yang menjadi salah satu acuan dunia akademis di negeri ini. Selain itu, inilah aturan main yang diterapkan desk opini Kompas. Saya tidak bermaksud membelah pendapat Anda dengan "setuju" atau "tidak setuju" dengan aturan itu. Saya hanya sekedar memberitahu Anda saja, khususnya mereka yang ingin mencoba mengirimkan artikelnya ke Harian Kompas.



Berani mencoba? (Bersambung)

Berbagi Pengalaman Menulis (70)

Pesan Mas Ton (2)


SATU hal yang saya ingat baik-baik pesan Mas Tony Widiastono, editor desk opini harian Kompas, adalah penegasannya: "Tidak ada belas kasihan dalam meloloskan satu artikel agar bisa dimuat di Halaman 6 Kompas. Profesional sajalah, yang penting bisa lolos seleksi karena artikelnya memang layak muat!"


Saya bertanya, "Apa maksud 'tidak ada belas kasihan dalam meloloskan satu artikel' itu?" Mas Ton, demikian kami biasa memanggil, mengungkapkan bahwa ada seorang penulis yang mengirimkan lebih dari 200 artikelnya dan... tidak ada satupun yang layak muat alias tidak bisa dimuat!



"Menulis lebih dari jumlah itupun (maksudnya lebih dari 200 artikel), tetap tidak ada bisa dimuat kalau memang tidak layak muat. Dikira kalau menulis sebanyak itu kami para editor akan menjadi kasihan dan meloloskan satu dari ratusan tulisan itu. Tidak!" tegas MasTon.



Saya terus bertanya, "Apa yang sesungguhnya membuat lebih dari 200 artikel dari seorang penulis itu tak satupun bisa dimuat?" Mas Ton langsung menjawab, "Kredibilitas dan kepakarannya! Bagaimana mungkin seorang lulusan ilmu keperawatan, misalnya, menulis apa saja yang sekiranya bisa dia tulis; politiklah, ekonomilah, budayalah... jadi gado-gado. Padahal kalau dia menulis sesuai bidang atau kepakarannya, pasti kita pertimbangkan!"



"Sesederhana itukah, Mas Ton?" tanya saya.



"Ya, itu saja dulu!" jawabnya. Ia melanjutkan, "Dalam setiap kesempatan saya selalu menekankan mengenai perlunya aktualitas sebuah artikel. Masalah aktualitas ini kadang sering dibikin bingung para penulis, sebab pemahaman akan makna 'aktual' itu sendiri kurang begitu dipahami."



Oke deh, saya tulis lain waktu saja ya pesan-pesan dari Mas Ton ini... (Selesai)

Friday, August 01, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (69)

Pesan Mas Ton (1)



JUMAT, 1 Agustus 2008 hari ini, saya menerima surat dari Hendra Kadarma yang berdomisili di Cibubur, Jakarta. Begini bunyi suratnya:


Yth Pak Pepih,




Saya ingin menanyakan aturan teknis jika saya ingin mengirim artikel ke harian Kompas (menyangkut ukuran kertas, spasi, jenis huruf , dsb.)



Terima kasih banyak.



Hendra Kadarma



Saat rapat rutin redaksi, saya langsung mendekati Mas Toni Widiastono, editor desk opini Kompas. Saya minta kesediaan Mas Ton, demikian wartawan senior ini biasa dipanggil, untuk menjawab pertanyaan Pak Hendra Kadarma ini. Sungguh surprise, bukan sekedar menjawab pertanyaan Pak Hendra semata, tetapi dia memberi sejumlah pesan kepada para penulis yang bermaksud mengirimkan artikelnya ke Halaman 6 Kompas.



Soal aturan teknis yang ditanyakan Pak Hendra, Mas Ton menjelaskan, bahwa tidak ada aturan teknis yang baku menyangkut ukuran kertas, spasi, atau jenis huruf. Menulis dengan ketikan di atas kertas pun, saat surat elektronik mewabah, masih tetap bisa diterima. Tidak ada masalah. "Pak Daoed Joesoef dan Pak Satjipto Rahardjo kalau membuat artikel itu selalu diketik manual, tidak pernah dikirim melalui alamat e-Mail," katanya.



Di bawah diingatkan kembali cara-cara teknis mengirim artikel untuk lebih mempermudah para penulis, sebagaimana yang ditanyakan Pak Hendra:



1. Tulisan dikirim melalui surat elektronik dalam bentuk soft copy atau dikirim langsung ke redaksi jika dalam bentuk hard copy.

2. Tulisan soft copy dalam bentuk file Microsoft Word dikirimkan ke alamat opini@kompas.co.id atau opini@kompas.com dengan jenis huruf apapun, yang penting sesuai banyaknya karakter yang ditentukan.

3. Tulisan dalam bentuk hard copy menggunakan kertas ukuran A4, folio, atau kwarto dan diketik spasi ganda, dikirmkan ke alamat Redaksi Harian Kompas, Jalan Palmerah Selatan 26-28 Jakarta, 10270.

4. Jika menggunakan ukuran kwarto spasi rangkap, panjang karangan antara 4 sampai 5 halaman.

5. Panjang karangan upayakan tidak lebih dari 5.000 karakter.

6. Beri keterangan atau identitas penulis, alamat jelas, nomor telepon dan nomor faksimil (kalau ada).

7. Tulisan dibubuhi tandatangan si penulisnya. Bahkan lebih baik diberi keterangan bahwa tulisan ini belum pernah dimuat sebelumnya di media manapun dan tidak sedang dikirmkan ke media manapun. (Bersambung)





Thursday, July 31, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (68)

Isu untuk Menulis Artikel (2)


BAIK, saya teruskan lagi postingan sebelumnya yang sempat terputus. Saya tekankan kepada teman itu bahwa menangkap isu dalam membuat artikel maupun berita ada kesamaan. Bedanya, tugas membuat artikel menjadi "lebih mudah" karena biasanya para penulis artikel mengikuti berita dan mengetahui perkembangan peristiwa mutakhir. Ini masuk akal karena artikel mensyaratkan kupasan yang sedang aktual diperbincangkan!


"Jadi, apakah saya juga harus seperti wartawan, Pak? Maksud saya, apakah saya juga harus mewawancara narasumber?" tanyanya yang langsung saya sambar, "Mengapa tidak?" Dan, dia langsung terdiam demi mendengar jawaban saya itu.


Saya katakan, penulis artikel tidak selayaknya "hidup dalam dunianya sendiri" seperti, maaf, orang-orang autis itu. Penulis artikel tidak selayaknya menganggap bahwa opini dan pendapatnya saja yang benar. Di luar itu, semua salah. Di luar darinya semua itu tidak penting. Maaf, jangan sekali-kali berpikir seperti itu. Berpikirlah bahwa salah satu tujuan Anda membuat artikel itu untuk memberi pencerahan, berbagi ilmu, berdiskusi, belajar menerima pendapat orang lain, atau belajar menyanggah pendapat orang lain (atau berita) dengan cara santun dalam bentuk artikel.



Buatlah sebuah artikel yang memberi solusi, bukan melulu pertanyaan tanpa jawaban. Bukan melulu gugatan tanpa perbaikan. Berilah pembaca sebuah alternatif dari cara-cara yang sudah umum diketahui, tetapi tidak dengan cara mengajari. Berpikirlah bahwa Anda setara dengan pembaca, sehingga Anda terhindar dari cara-cara menggurui. Yakinkan bahwa solusi yang Anda tawarkan merupakan upaya perbaikan atau novelty (hal baru) yang selama ini belum ada. Namun demikian, jangan sekali-kali mencela solusi yang pernah ditawarkan orang sebelumnya!



Kembali ke cara kerja itu tadi, apakah penulis artikel juga harus seperti wartawan? Saya jawab, "Ya, dalam bata-batas tertentu!" Yang saya sebut "dalam batas-batas tertentu itu" misalnya, apa salahnya kalau penulis artikel juga bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan para pakar lainnya. Mungkin tidak secara resmi, tetapi di saat si pakar itu mengadakan seminar atau acara-acara santai lainnya. Gali saja informasi yang Anda butuhkan dari situ. Gali sebuah persoalan yang kelak akan dijadikan isu dalam artikel yang Anda tulis. Itu pertama.



Kedua, tidak ada salahnya kalau Anda sering-sering datang ke perpustakaan untuk mencari informasi sesuai isu yang ingin Anda kembangkan. Cari informasi di internet sebagai pelengkap isu mutakhir dan jaga kemungkinan tulisan itu sudah ditulis penulis artikel lain. Kalaupun sudah ditulis, cari dari sudut pandang yang berbeda asalkan tidak melakukan plagiat saja. Ketiga, baca buku yang relevan, sekadar melihat "kesejarahan" dari sebuah persoalan. Nah, bukankah cara-cara ini sama dengan apa yang dilakukan oleh wartawan dalam menulis berita?



"Kamu mengerti?" tanya saya menyadarkan lamunan teman saya itu. Dia mengangguk dan tampaknya paham atas apa yang saya bicarakan. Maaf, saya terlalu dominan bicara kala itu karena posisinya sebagai orang yang ditanya. Saya pun menjawabnya sepengetahuan yang saya punya berdasarkan pengalaman menulis artikel yang saya alami. Jika pun postingan ini tidak ada gunanya, abaikan saja! Oke, sampai di sini dulu, sampai jumpa di bahasan lain... (Selesai)

Monday, July 28, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (67)

Isu untuk Menulis Artikel (1)


PADA pelatihan jurnalistik di Universitas Diponegoro, Semarang, 24 hingga 27 Juli 2008 lalu, saya mendapat banyak pertanyaan seputar jurnalistik. Ini lumrah. Akan tetapi, ada pula peserta yang bertanya seputar bagaimana membuat artikel untuk media massa, meski pertanyaan itu dilontarkan saat rehat. Kebetulan, ada lulusan S1 Undip yang beberapa kali artikelnya dimuat di Harian Kompas edisi Jawa Tengah. Kepada dialah saya memberi sedikit ilmu.


Tidak usahlah disebut namanya. Tetapi sejujurnya, saya senang mendapat pertanyaan kritis seputar artikel yang ia buat. Ia mengaku menulis mengenai "dunia pendidikan". Tanpa bermaksud mengujinya, saya melontarkan beberapa pertanyaan. Bukan apa-apa, inilah cara saya sharing dan berbagi ilmu. Jelek-jelek begini artikel saya pernah dimuat di Halaman Opini Kompas, 20 Juni 1990, jauh-jauh hari sebelum saya menjadi jurnalis!



"Kalau kamu mengikuti dunia pendidikan, jadilah pakar pendidikan. Jangan beralih ke lain subyek. Geluti saja pendidikan dari hulu sampai hilir," demikian saya membuka percakapan. "Sebenarnya, apa concern kamu terhadap persoalan pendidikan mutakhir?" tanya saya lagi. Ia ragu menjawab, dan memang tidak menjawab. Saya katakan, "Tengoklah persoalan besar pendidikan nasional dewasa ini. Tengoklah dunia pendidikan tinggi yang semakin matre dan mata duitan. Jangan harap orang desa yang tidak berpunya seperti saya bisa masuk perguruan tinggi, meskipun mungkin saya bisa lolos."



Dia mengangguk. Mungkin mengerti. Saya meneruskan meski bukanlah seorang ahli pendidikan, kecuali seorang jurnalis. "Pendidikan di perguruan tinggi sekarang tidak adil! Menteri Pendidikannya tidak punya visi ke depan soal pendidikan yang seharusnya!" Ia agak terkejut, tetapi masih mau mendengarkan saya.



Saya melanjutkan, "Disebut tidak adil karena hanya orang-orang berpunya saja yang bisa masuk perguruan tinggi negeri ternama. Anak-anak tidak berpunya walaupun pintar, jangan harap bisa masuk. Tengok produk manusia-manusia Indonesia 10, 15, atau 20 tahun mendatang! Apa jadinya kalau SDM Indonesia dijejali anak-anak orang kaya yang karena berpunya bisa belajar di perguruan tinggi, meski otaknya pas-pasan? Sementara anak-anak pintar yang tidak berpunya cukup menjadi buruh atau petani. Tidak tertarikkah kamu pada persoalan mendasar ini?"



"Tertarik. Tetapi saya harus mulai darimana?" jawabnya sekaligus melempar tanya.



"Coba baca UUD 1945 dan perubahannya, di situ tertera dana APBN untuk pendidikan sebesar 20 persen," kata saya lagi. Dia balik bertanya, "Sangat sedikit ya, Pak?" Saya lalu memotong, "Itu sudah cukup besar! Tapi coba kamu lihat. Perguruan Tinggi yang seharusnya disubsidi biar mahasiswanya tidak harus bayar mahal uang uliah, malah disuruh cari duit sendiri. Coba kamu tengok semrawutnya buku pelajaran yang selalu terjadi setiap tahun! Janganlah lihat jauh-jauh, karena kamu tinggal di Semarang, coba belajar kedekatan (proximity), apa imbas dari semrawutnya dunia pendidikan nasional ini di Provinsi Jawa Tengah?"



"Wah, terima kasih atas penjelasannya, Pak," katanya lagi. Tetapi saya masih mau menjelaskan sedikit lagi kepadanya tentang kesamaan jurnalis dengan kolumnis dalam menangkap isu, mengembangkan, dan menuliskannya. Lain kali sajalah ya... (Bersambung)

Tuesday, July 22, 2008

Catatan (55): Artikel Kompas

Sulitnya Tembus Halaman 6


MASIH dari forum diskusi Forum Pembaca Kompas (FPK) yang berlangsung di Hotel Santika pada 12 Juli lalu. Seorang peserta bertanya, "Bolehkah saya yang masih mahasiswa menulis artikel di halaman 6 Kompas?" Seorang peserta lainnya bertanya, "Mengapa artikel saya sulit sekali masuk halaman 6 Kompas?"


Halaman 6 Kompas adalah satu-satunya halaman (plus halaman 7) yang memang didekasikan untuk "orang luar". Maksudnya, tabu bagi wartawan Kompas menulis di halaman ini, kecuali untuk Tajuk Rencana. Ini halaman milik semua orang. Di halaman 6 ini (dulu halaman 4 sebelum redesain Kompas), ada Tajuk Rencana yang ditulis para editor tertentu, redaktur pelaksana,pemimpin redaksi dan bahkan pemilik koran. Ada pula rubrik "Redaksi Yth" yang merupakan surat pembaca yang sudah saya tulis dalam postingan yang lalu. Kemudian, ada pula kolom opini yang biasanya mengambil halaman 6-7 sekaligus.


Kolom opini atau halaman 6 Kompas digawangi oleh redaktur opini Tony Widiastono dan wakilnya, Irwan Julianto. Akan tetapi dalam diskusi FPK lalu, Mas Ton, demikian kami biasa memanggil Tony Widiastono, menjelaskan mengapa sebuah tulisan atau artikel ditolak di halaman yang menurut sementara orang bergengsi ini. Mas Ton berkali-kali mengatakan kata kunci "aktual", "aktual", dan "aktual".


Dalam forum itu dia mencontohkan bagaimana harus menolak sebuah tulisan mengenai "ethanasia", yakni proses kematian yang sengaja diminta karena derita sakit yang luar biasa misalnya. "Tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba masalah 'ethanasia" dimunculkan kembali. Sebaik apapun tulisan itu karena tidak aktual, yakni bukan hal yang dibicarakan banyak orang dalam konteks kekinian, ya sulit bisa dimuat. Kalaupun dimuat, saya selaku editor dan bahkan Kompas secara kelembagaan bakal ditertawakan banyak orang," jelas Mas Ton.


Mas Ton juga menekankan "keahlian" atau "kepakaran" seseorang sebagai jaminan bahwa tulisan itu layak dipertimbangkan untuk dimuat. Katakanlah kalau mengambil contoh "ethanasia", alangkah tepatnya jika persoalan itu dibahas seorang dokter, psikolog, sosiolog atau filsuf (etika). Atribusi "penikmat", "peminat", dan "pemerhati" sudah tidak zaman lagi. Katakanlah "Si Polan pemerhati ethanisia", jelas tidak kredibel lagi.


Panjang karangan. Ini yang juga ditekankan Mas Ton. Para penulis artikel umumnya terlena dan senang berpanjang-panjang dalam menulis. Padahal yang bisa diakomodir hanyalah tulisan dengan kurang lebih 5.000 karakter saja. "Kurang dari itu malah lebih baik," katanya. Meyakinkan penulis agar menulis ringkas (concise) , menurut dia awalnya sulit. Akan tetapi, lama-kelamaan terbiasa juga.


Dijelaskan, setiap hari Harian Kompas menerima tidak kurang dari 100 artikel, padahal yang bisa dimuat paling banyak 4 artikel saja. Dari empat inipun termasuk tulisan para pakar yang diminta khusus untuk menulis di halaman 6 ini, sehingga jatah para penulis lain dengan sendirinya berkurang. 


Seorang peserta lain bertanya, hal apa saja yang boleh ditulis untuk halaman 6 Kompas. Mas Ton menjelaskan, semua masalah boleh ditulis. Hanya saja, artikel mengenai masalah agama tidak lagi ditampilkan di halaman 6 Kompas, tetapi bisa mengambil di halaman lainnya semisal "Lembaran Bentara", Di sini masalah agama bisa dikupas lebih mendalam lagi karena si penulis tidak dibatasi keharusan menulis kurang lebih 5.000 karakter tadi.


Selamat mencoba!

Tuesday, November 06, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (38)


Apa Syarat Menulis Opini Kompas ? (Bagian 4)

ARTIKEL atau opini yang ditulis untuk Harian Kompas, menunjukkan siapa, apa dan bagaimana kapasitas penulisnya. Untuk itu, artikel yang ditulis oleh dua orang atau lebih sudah otomotis akan dianulir alias dikembalikan kepada para penulisnya. Artikel mutlak harus ditulis sendiri, tidak boleh tandem.

Mengapa artikel harus ditulis sendiri? Sebab artikel itu harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh penulisnya sendiri. Ibarat mempertahankan skripsi, tesis atau disertasi, semua harus dilakukan sendiri oleh penulisnya. Bukankah tidak ada yang menulis skripsi, tesis, atau disertasi secara keroyokan? Begitu pula menulis artikel.

Memulai menulis bukan berarti harus tandem dengan penulis yang sudah jadi atau ternama. Asumsinya, penulis ternama yang sudah biasa menulis di media massa, adalah jaminan mutu. Dengan demikian ia bisa "mempromosikan" kolega, kerabat atau keluarganya untuk "sama-sama" menulis. Sebaliknya, penulis baru bisa mendompleng nama penulis yang sudah dikenal. Pokoknya asalkan nama penulis itu bisa termuat di koran. Alhasil, artikel ditulis oleh dua orang atau lebih. Ini tidak boleh dilakukan kalau ingin menulis artikel di Kompas. Sendiri saja dan percaya diri sajalah.

Atribusi atau penyebutan yang melekat ke dalam diri penulis, juga harus menunjukkan kepakaran penulisnya. Misalnya: Polan, penulis adalah Dokter Bedah. Atau penulis adalah Peneliti LIPI, atau penulis adalah Guru Besar Linguistik, atau bahkan penulis adalah Guru TK, dan seterusnya. Jadi, tidak ada lagi atribusi yang menyebutkan bahwa penulis adalah pengamat seni atau penulis adalah penikmat sastra. Tidak ada lagi atribusi yang tidak menunjukkan kepakaran penulisnya.

Pengamat dan penikmat meskipun bisa dan mampu menulis, tetapi tentu saja kedalaman bahasan yang mereka tulis akan berbeda dengan penulis yang sudah teruji kepakarannya. Namanya juga pengamat apalagi penikmat, hal itu bisa dilakukan sambil lalu saja, tidak benar-benar mendalami persoalan yang ditulisnya. Padahal, pembaca artikel atau opini Kompas tidak sedang membaca sambil lalu. Para pembaca memerlukan opini yang mencerahkan, sesuatu yang baru atau setidak-tidaknya ada kebaruan (novelty), suatu bahasan atau kajian yang berbeda dari yang lain dan syukur kalau bisa memberikan inspirasi.

Postingan berikutnya, masih soal tips menulis artikel untuk Kompas, yakni menyangkut substansi yang dibahas dalam artikel. Harap bersabar.....

Friday, October 19, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (38)





Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 3)








DALAM dua postingan terdahulu, Berbagi Pengalaman Menulis (34 & 35), selintas saya memaparkan syarat-syarat menulis artikel untuk Kompas. Mengapa tidak syarat menulis cerita pendek (cerpen) atau tulisan lainnya? Barangkali soal waktu dan pilihan saja. Ke depan, saya juga akan menyentuh hal itu.



Anggapan umum mengatakan: jangan lepaskan peristiwa atau wacana terkini, lalu tulis dan cepat kirimkan tulisan kepada Kompas (atau mungkin media lainnya), jangan biarkan penulis lain memangsa isu mutahir itu! Begitu kira-kira.



Maaf bukan maksud mematahkan anggapan ini. Untuk Kompas, main ambil peristiwa mutahir untuk kemudian sesegera mungkin kita tulis, tidaklah cukup. Ada hal lain dari sekadar main cepat-cepatan seperti itu, yakni kepakaran penulis.



Pakar bukan berarti doktor atau professor. Menunggu doktor atau professor menulis, sama saja menunggu Godot tiba karena tidak sedikit professor dan doktor Indonesia yang malas menulis. Kepakaran dengan sendirinya mematahkan anggapan ‘ambil secepatnya peristiwa/isu mutahir’.



Kalau ada peristiwa terkini, katakanlah ledakan bom di Pakistan saat menyambut Benazir Bhutto, tentu saja tidak sembarang penulis yang akan mengambil peristiwa hot itu untuk dijadikan sebuah opini maupun artikel. Anda yang bukan pakar Pakistan, tentu cukup tahu diri untuk tidak akan membuat analisis berita atau artikel mengenai peristiwa berdarah di negerinya Ali Bhutto ini.



Sebaliknya, Kompas akan melihat kepakaran penulis, apakah dia orang yang tepat (prominent) dalam menulis Pakistan, atau sama sekali tidak. Beda misalnya dengan Anda yang mahasiswa S1 Jurusan Hubungan Internasional yang sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan, Anda adalah orang yang tepat. Setidak-tidaknya Anda menulis atribusi Anda sebagai ‘mahasiswa, sedang menyusun skripsi mengenai politik kontemporer Pakistan’.



Apakah hanya karena menulis skripsi Anda dianggap cukup pakar soal Pakistan? Dewan redaksi opini yang akan menentukan, toh setidak-tidaknya Anda punya perhatian dan minat khusus pada politik Pakistan dibanding penulis lain yang baru mengenal Pakistan "kemarin sore". Anda pasti membaca banyak buku referensi mengenai Pakistan dalam menyusun skripsi. Anda pasti lebih “berharga dan berilmu” dibanding penulis yang menggunakan atribusi ‘pemerhati Pakistan’ atau ‘peminat masalah Pakistan’. Dengan demikian tulisan Anda bakal dilirik editor opini karena kepakaran Anda yang dalam hal ini intensitas Anda dalam mendalami Pakistan.



Anda yang professor, doktor , atau pengkaji khusus masalah-masalah Pakistan, dengan sendirinya “seharusnya” menulis mengenai politik Pakistan mutakhir pasca pengeboman dahsyat. Asal tahu saja, editor Opini sering menelepon pakar tertentu hanya untuk menanyakan apakah bersedia menulis mengenai peristiwa terkini. Nah, bukankah ini peluang yang baik jika Anda yang memiliki kepakaran tertentu segera menulis artikel atau opini mengenai peristiwa mutahir ini.



Apa yang harus Anda tulis dari peristiwa bom Pakistan? Bukan bermaksud mengajari bebek berenang, Anda setidak-tidaknya harus menjelaskan siapa Benazir Bhutto? Apa hubungannya dengan ‘Bapak Pakistan’ Zulfikar Ali Bhutto? Mengapa Benazir kembali ke Pakistan? Mengapa dia dibuang atau mengasingkan diri di negeri orang? Apa maksud Benazir kembali ke Pakistan? Bagaimana reaksi Parvez Musharraf? Apa yang kemungkinan akan dia lakukan terhadap Benazir: dirangkul atau ditentang?



Mengapa pelaku bom disebut-sebut Al Qaeda? Apa betul organisasi pimpinan Osamah bin LAden itu yang melakukannya? Apa tidak ada kemungkinan lain, misalnya intelijen Pakistan? Apa hubungan Benazir dengan Al Qaeda? Mengapa Al Qaeda begitu marah kepada Benazir? Coba jelaskan situasi politik Pakistan ke depan pasca kehadiran kembali Benazir dan aksi-aksi Al Qaeda yang semakin massif ke depan! Cermati pula peran Amerika Serikat yang berkepentingan menjadikan Pakistan sebagai penangkal teroris dalam kemelut Pakistan ini!



Satu hal yang perlu diingat, Anda harus menuangkan semua persoalan di atas dalam sebuah tulisan yang concise, ringkas, dan padat. Tidak lebih dari 5.000 karakter.



Ada beberapa hal lain yang akan saya ceritakan, tetapi baiknya di postingan mendatang saja. Masih tema yang sama soal menulis artikel di Kompas, tetapi dalam tema yang lain, yakni soal atribusi. Sampai bertemu lagi.

Thursday, September 27, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (37)





Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 2)



SEORANG sahabat memberi komentar pada postingan saya sebelumnya, bahwa syarat menulis di Kompas harus ditambahkan dua poin lagi, yakni poin 18: kesulitan tempat untuk memuat artikel Anda, dan 19: nama penulis tidak terkenal. Mungkin ini satir atau sindiran halus semata.



Bahwa ada coretan editor di Desk Opini terhadap naskah yang dikembalikan (retour) dengan tulisan tangan berbunyi “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, ada benarnya. Sekadar berbagi info saja, setiap hari editor Desk Opini serta stafnya harus membaca kurang lebih 80-100 artikel yang masuk. Padahal, naskah yang kemungkinan bisa dimuat hanya 2 sampai 4 artikel saja.



Sesungguhnya jika ada coretan tangan editor bahwa “Redaksi kesulitan untuk memuat artikel Anda”, itu artinya artikel tersebut masuk nominasi. Sudah dibaca sekian orang dan lolos saringan. Hanya saja setelah dibandingkan dengan artikel lain yang senada dan juga lolos nominasi, pilihan mau tidak mau harus dilakukan.



Bahwa penulis harus orang yang terkenal atau dikenal sehingga penulis tidak terkenal tidak bisa lolos, itu sepenuhnya salah. Saya tidak akan jauh-jauh mengambil contoh pengalaman orang, tetapi pengalaman saya sendiri, meski mungkin terpaksa harus saya ceritakan kembali.



Pada hari Rabu, 20 Juni 1990, saat artikel saya dimuat untuk pertama kalinya di halaman 4 Kompas, percaya atau tidak: itu adalah artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas sekaligus tulisan saya yang dimuat pertama kalinya di Kompas . Tentu saja saya bukan siapa-siapa saat itu, tidak pula penulis yang dikenal. Kecuali mungkin komunitas pembaca majalah berbahasa Sunda, Mangle, sebab di majalah itu saya sering menulis “carpon” atau cerita pendek. Itupun tidak banyak.



Mengapa artikel saya yang bukan siapa-siapa bisa lolos dan dimuat? Fakta ini mungkin bisa mematahkan asumsi bahwa tidak harus penulis terkenal saja yang artikelnya bisa dimuat di halaman 4 (kini halaman 6) Kompas!



Memang sekali waktu, sebagaimana saya tangkap dari Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono saat temu penulis di Surabaya dua tahun lalu, bahwa mereka yang menulis untuk halaman opini diutamakan yang setidak-tidaknya sarjana atau sudah lulus S1, bukan masih mahasiswa. “Tulisan opini bukan untuk coba-coba, tetapi kepakarannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Tony saat itu.



Meski demikian, mahasiswa (yang belum sarjana S1) tidak dilarang menulis dan mengirimkan opininya ke Kompas. Menurut staf sekretariat Desk Opini, sampai sekarang sejumlah mahasiswa yang belum lulus S1 mengirimkan artikelnya. Bahwa opini mereka belum bisa dimuat, itu soal lain.



Akan tetapi rekan sefakultas saya di Universitas Padjadjaran, Yudi Latif (kini bergelar doktor dan menjadi Deputi Rektor Universitas Paramadina), tiga artikelnya dimuat di halaman opini Kompas dalam kurun waktu 1989. Untuk diketahui, saat itu Yudi masih mahasiswa. Hal sama terjadi pada Denny JA yang sangat produktif menulis di halaman 4 Kompas justru saat ia masih mahasiswa alias belum lulus S1. Anda, mengapa tidak?

Tuesday, September 25, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (36)







Apa Syarat Menulis Opini Kompas? (Bagian 1)





PERTANYAAN di atas sering terlontar dari rekan maupun saat pelatihan. Saya hanya bisa menjawab bahwa artikel harus aktual, artinya sesuai dengan peristiwa terkini. Jawaban ini sesuai pengalaman saat untuk pertama kali artikel saya dimuat di halaman opini Kompas, yang dulu dikenal sebagai “Halaman 4”.



Waktu itu, artikel saya yang berjudul “Berharap dari KPAT Ke-8” bisa lolos seleksi dan dimuat di “halaman bergengsi” itu pada Rabu 20 Juni 1990, karena disesuaikan dengan adanya Kongres Perpustakaan se-Asia Tenggara di Jakarta. Saat artikel itu muncul, Kongres baru saja dimulai. Artinya, antisipasi dan persiapan saya saat menulis artikel itu dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya!



Halaman 4 Kompas yang memuat Tajuk Rencana dan Opini yang sekarang menjadi Halaman 6, sering dianggap sebagai “Universitas”-nya Kompas. Tempat dimana pemikiran paling mutakhir dari para pakar tercurah. Ada tempat pembelajaran lintas ilmu di sini, selain juga bisa mengetahui arah kebijakan Kompas (baca keberpihakan) lewat Tajuk Rencana dalam menyikapi perkembangan zaman. Kecuali Tajuk Rencana, opini merupakan halaman khusus untuk pembaca atau dalam hal ini pakar, tidak boleh wartawan Kompas menulis opini di situ. Selain bergengsi, honor yang diberikan pun di atas rata-rata honor artikel pada media massa lain.



Mengetahui syarat-syarat yang diinginkan Kompas mengenai sebuah artikel, mungkin salah satu strategi dalam menyiasati artikel agar bisa dimuat. Setelah meminta izin dari Fitrisia M (Mbak Poppy) dari Desk Opini, saya memaparkan 17 penyebab sebuah artikel ditolak oleh Desk Opini Kompas.



1. Topik atau tema kurang aktual

2. Argumen dan pandangan bukan hal baru

3. Cara penyajian berkepanjangan

4. Cakupan terlalu mikro atau lokal

5. Pengungkapan dan redaksional kurang mendukung

6. Konteks kurang jelas

7. Bahasa terlalu ilmiah/akademis, kurang populer

8. Uraian Terlalu sumir

9. Gaya tulisan pidato/makalah/kuliah

10. Sumber kutipan kurang jelas

11. Terlalu banyak kutipan

12. Diskusi kurang berimbang

13. Alur uraian tidak runut

14. Uraian tidak membuka pencerahan baru

15. Uraian ditujukan kepada orang

16. Uraian terlalu datar

17. Alinea pengetikan panjang-panjang.



Sahabat sekalian yang berminat menulis opini tinggal menegasikan saja 17 persyaratan di atas. Poin pertama, misalnya, topik atau tema harus aktual. Poin kedua argumen dan pandangan harus hal baru. Poin tiga, penyajian jangan berkepanjangan alias cukup singkat saja, dan seterusnya. Tentu saja ada "trik" lain agar opini bisa lolos dan dimuat, tetapi itu akan saya paparkan di lain kesempatan.


Syarat lain yang amat penting menurut Kadesk Opini Kompas Tony D. Widiastono, adalah panjangnya artikel yang cukup 5.300 karakter atau 700 kata saja dalam Bahasa Indonesia. Biar lebih cepat sampai,tulisan dikirim lewat imel ke alamat: opini@kompas.co.id. Naskah yang lolos pemeriksaan akan dimuat secepatnya. Jika tidak bisa dimuat, dipastikan dikembalikan paling lama dua minggu dari penerimaan naskah.
Bagaimana, Anda berani mencoba?