Showing posts with label SMA 2 Tasikmalaya. Show all posts
Showing posts with label SMA 2 Tasikmalaya. Show all posts

Tuesday, September 04, 2007

Catatan (25): Teman-teman SD



Dimana Mereka Sekarang?



TIDAK sering saya pulang kampung, bisa dihitung jari dalam setahun. Akhir-akhir ini, kalau pun pulang kampung, tidak pakai menginap merasakan kesejukan udara dan wangi tanah kelahiran. Datang sebentar, lalu pergi tanpa kesan. Padahal, di tanah kelahiran inilah, desa Ciawi, Tasikmalaya, separuh nafas saya tertinggal. Kelak jika saya mati, saya ingin tubuh ini ditanam di sana, di tanah dimana saya dilahirkan!



Selalu ada cerita kalau saya berada di tanah kelahiran. Setidak-tidaknya mencium aroma jerami dan tanah sawah, ingatan melayang ke masa silam. Ke masa-masa saya kanak-kanak dulu, ke masa dimana saya pernah disuapi almarhumah Ibu nasi dan ikan gurami goreng yang masih panas. Telur ayam tinggal ambil saja dari kandang. Kadang belut pepes yang masih mengepul dan diambil dari bara panas menjadi makanan sehari-hari.



Itu peristiwa empat dasawarsa lalu, saat saya masih berumur tiga atau empat tahun. Belut adalah makanan favorit saya sejak kecil, sampai ini hari. Bertemu daging sapi, mungkin hanya dua atau tiga kali dalam setahun. Bukan tidak mau, tetapi mungkin Ibu menganggap tidak perlu. Selebihnya apa yang ada di sekeliling rumah saja, mulai beras, lalap-lalapan, telur, belut, dan ikan. Tentunya di Ciawi, tanah kelahiran saya itu. Suasananya seperti foto di atas, yang diambil rekan Amir Sodikin tahun 2006 lalu.



Sewaktu saya bersekolah dasar di SD Ciawi I, masuk 1972 sampai 1977, saya punya sahabat karib dalam bermain. Kami akrab mulai kelas dua atau tiga, ketika sudah sedikit tahu arti pertemanan. Karib saya itu adalah Dadan Hamdani, Asep Dedi, Asep Wahyu, dan Uus Kusnadi. Berlima kami sering berenang di Ciherang di Leles, yang dulu airnya sangat bening. Makanya disebut ciherang, berarti air yang bening. Kami berenang dengan telanjang bulat, tanpa malu-malu, dan diam-diam sering membandingkan satu sama lain.



Ketika berada di kampung halaman, kadang terlintas teman-teman saya itu. Dimana mereka sekarang setelah empat puluh tahun berlalu?



Maksud saya menulis catatan ini adalah, saya ingin mendapat respons dari teman-teman saya sewaktu di SD itu. Setidak-tidaknya jika ada di antara sahabat yang membaca tulisan ini dan kebetulan tahu keberadaan teman-teman saya itu, sahabat bisa menyampaikannya agar kontak saya bisa terjalin kembali. Sengaja saya menebalkan nama teman-teman saya itu, agar lebih mudah dibaca.



Saya coba mengandalkan ingatan saya untuk menyebut teman-teman saya itu, tentunya mohon maaf kepada mereka yang terlewat saya sebut. Selain keempat teman yang sudah saya sebutkan di atas, teman-teman saya lainnya yang saya ingat adalah: Cucu Suryana, Eman Sulaeman, Sumpena, Titin A, Titin B, Lela Kamila, Oki, Eli, Kuslia, Cicih Sukaesih, Ida, Adah, Eti, Elsa, Mimi, Nanih, Nono, Iin, Endang, Atikah, Sumarni, Apong, Gan Mamat, Agus Ridar dan Riki. Nama yang saya sebut terakhir, Riki, adalah kakak penyanyi Vetti Vera dan Adam. Riki bahkan pernah “kos” di rumah orangtua selama setahun.



Terbatas sekali ingatan saya. Setidak-tidaknya itu saja dululah. Coba saya ingat-ingat lagi yang lainnya…

Thursday, August 09, 2007

Catatan (24): Adik Kelas



Hanny Tanujaya




Hai, Pepih, saya Hanny alumni SMA Negri 2 juga, saya adik kelasmu, kebetulan saya membaca tentang anda di internet, wah satu alumni nich... saya sangat terkesan membaca tulisanmu "SURAT LILI" , lalu saya ingat-ingat wajah Lili dan Pepih, jadi agak kebayang juga. Oh ya ini no hp saya 0811211xxx saya minta no tlp Pepih juga ya.




ITU surat elektronik yang saya terima beberapa hari lalu. Surat dari Hanny Tanujaya, adik kelas saya setahun sewaktu di SMAN 2 Tasikmalaya. Saya mencoba-coba mengingat-ingatnya. Gagal. Tak terlintas bayangannya sedikit pun. Pun ketika ia memberi "hint" bahwa ia menjadi tim bola basket sekolah bersama Yen Yen. Gagal lagi.


Jadi setelah saya telepon dia, saya minta maaf karena tidak bisa mengingat wajahnya. Jangankan wajah adik kelas, wong teman yang seangkatan saya saja sudah lupa-lupa. Keterbatasan kita sebagai manusia! Maklum, saya masuk SMA 26 tahun lalu. Jadi, saya minta saja fotonya. Hanny berjanji akan memenuhi permintaan saya.


Di telepon, dia mengatakan senang bertemu satu alumni, tidak terkecuali saya yang sebetulnya beda angkatan. Kalau sudah begini, saya juga tidak mempersoalkan angkatan, tetapi persahabatan. Akhirnya, kami berjanji untuk bisa saling bertemu, entah di Tasikmalaya, Jakarta, atau di Bandung, tempat dimana selama beberapa tahun terakhir dia tinggal bersama keluarganya.


Tadi pagi, saya menerima foto yang dijanjikannya. Tanpa harus meminta izinnya, saya tampilkan foto Hanny di blog ini. Siapa tahu ada teman-temannya, baik satu alumni maupun bukan, mengenalinya. Sehingga, tali silaturahmi terjalin kembali dan persahabatan menjadi tidak terhalang sekat jarak dan waktu.

Thursday, September 14, 2006

Catatan (10): Karangan 24 Tahun Lalu

Yang Ter….

Iseng-iseng berkunjung ke Yahoo lalu memasukkan kata kunci Pepih Nugraha, namaku sendiri, eh ada karangan dalam bahasa Sunda karyaku yang dimuat Majalah OSIS SMA II Tasikmalaya, “Lugu”, tahun 1987/1988. Sebenarnya karangan itu kutulis saat kelas dua SMA tahun 1982/1983, sudah 24 tahun lalu, tetapi baru termuat di edisi 1987/1988 saat sudah duduk di semester lima Universitas Padjadjaran. Mungkin saat aku menulis karangan itu di antara sahabat malah ada yang belum lahir.

Karangan itu berjudul “Pangpangna” (artinya: “yang ter…”). Karangan humor itu maksudnya mau mengundang tawa, tapi boleh jadi tidak lucu sama sekali. Tetapi bagaimanapun itu karya 24 tahun lalu. Karya tulisku semasa SMA dulu antara lain cerpen dimuat Suara Karya Minggu edisi Mei 1982, cerita mini di majalah Gadis, dan… lupa lagi.

Biar sahabat mengerti apa arti “Pangpangna” itu, baiklah sekarang kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bisa juga ditengok di http://sukapura.blogsome.com/. Maaf kalau sedikit rasis karena menyebut warna kulit, juga menyebut-nyebut surga-neraka, sebab waktu itu persoalan SARA belum menjadi isu sensitif dan dalam batas-batas tertentu boleh dipakai banyolan. Berikut terjemahannya:

Pangpangna:

Panghideungna: Urang negro turunan keling nu can mandi salila sataun, nyumput na tungtung guha meneran keur poek bulan, nyumput na luhureun areng tutung teuing bari diharudum sarung hideung, nempona bari peureum.
(Yang TerHITAM: Orang negro keturunan keling yang belum mandi selama setahun, sembunyi di ujung gua pas lagi gelap bulan, sembunyi di atas arangyang gosong sambil dibalut sarung hitam, dilihat sambil merem) .

Pangbodasna: Urang eskimo nu boga kasakit kurang darah, tas manggih kareuwas, tuluy gugulingan na luhureun apu bari diwedak camerok aya kana sadimna. Ti ditu-ti dieu dicaangan ku lampu neon sababaraha siki meneran keur moncorong panonpoe.
(Yang TerPUTIH: Orang Eskimo berpenyakit anemia yang kaget, lantas berguling-guling di atas kapur sambil dibedak tebal. Dari sana-sini diterangi beberapa neon pas matahari lagi bersinar terang).

Pangbadagna: Gajah bareuh keur reuneuh salapan bulan. Eta gajah teh boga kasakit busung lapar nu komplikasi jeung beri-beri, jaba geus meh saminggu tilelep ka walungan. Upama hayang leuwih gede nempona make mikroskop.
(Yang terBESAR: Gajah bengkak pas hamil sembilan bulan, punya penyakit busung lapar yang komplikasi dengan penyakit beri-beri, sudah seminggu tenggelam di sungai. Kalau mau lebih besar harus dilihat menggunakan mikroskop).

Pangleutikna: Anak virus nu pangbungsuna teu manggih dahar meh sabulan, boga kasakit TBC jeung tekanan batin. Ditempona ulah jauh teuing, upama urang aya di Pulo Jawa, eta virus teh tunda di Pulo Irian).
(Yang TerKECIL: Anak virus paling bungsu yang tidak makan hampir sebulan, punya penyakit TBC dan tekanan batin. Dilihatnya jangan jauh-jauh, kalau kita ada di Pulau Jawa, virus itu harus berada di Irian)

Pangpanasna: Cicing di naraka bari ngaleot na luhureun seeng anu dikurilingan ku durukan. Saencana, awak dibalur ku tarason jeung ditempelan ku tempel koyo. Nginum bandrek nu kakara meunang nyait. Komo upami bari make jaket bari dirangkep ku wol beureum euceuy. Ret ka lawang surga, kabogoh direbut batur.
(Yang TerPANAS: Berdiam diri di neraka sambil nyetrika di atas seng yang dikelilingi api unggun. Sebelumnya, seluruh badan diolesi obat gosok tarason dan dilapisi tempel koyo. Minum bandrek yang baru saja matang dijerang. Apalagi kalau sambil mengenakan wol warna merah menyala. Melirik ke pintu surga, terlihat pacar direbut orang).

Nah, apa kubilang, tidak lucu ‘kan… Tapi sekali lagi, itulah karya tulis 24 tahun lalu yang dimuat di majalah SMA. Mohon tidak ada yang tersinggung, apalagi dikait-kaitkan dengan SARA.

Pepih Nugraha
Palmerah Selatan, 14 September 2006