Showing posts with label Sosok. Show all posts
Showing posts with label Sosok. Show all posts

Friday, August 08, 2008

Catatan (60): Tentang Harmoko (3)

Dimarahi, Dimaki, Itu Biasa!

PADA hari berita itu dimuat, saya selaku wartawan Kompas kembali ditugasi mengikuti Harmoko ke Kota Malang, Jawa Timur. Saat saya usai meliput kegiatannya dan siap-siap menulsi beritanya, saya secara khusus dipanggil Harmoko ke kamar hotelnya. Di sana sudah ada beberapa wartawan lainnya, yang tidak usahlah saya sebutkan namanya di sini. Harmoko langsung menyemprot:

"Mengapa kamu menulis berita bahwa Golkar bisa menang 100 persen? Saya memang bicara begitu, tetapi tidak seharusnya kamu menulis begitu!"

Mendapat semprotan seperti itu saya kaget bukan kepalang. Yang memprihatinkan, teman-teman wartawan bukannya membela saya sebagai sesama wartawan, malah ikut-ikutan memanas-manasi Harmoko agar terus mencecar saya. Asal tahu saja, lumrah wartawan pada masa itu berlaku "amat santun" (untuk tidak mengatakan menjilat) Harmoko dengan harapan dapat terjaring sebagai calon legislatif (DPR), setidak-tidaknya namanya tercantum dalam Daftar Calon Tetap (DCT) Golkar dengan nomor urut "peci" (calon jadi).

Sebagai jurnalis, boro-boro saya berpikir ke arah itu. Bagi saya sekali jurnalis, ya tetap jurnalis! Makanya saya selalu siap dimarahi dan dimaki, kapanpun. Pada masa itu Jenderal Feisal Tanjung biasa memaki wartawan, "Taik, Kau!" Terus terang saat itu saya tidak dapat membedakan: ini makian jenderal atau preman! Sedihnya, kami, para wartawan, tidak bisa membalas kuasa Sang Jenderal yang tergolong kesayangannya Soeharto itu, meski hanya dengan sepatah katapun. Sebagai gantinya, kami biasa mendoakan Pak Jenderal biar cepat-cepat masuk surga saja!

Setelah agak tenang, saya menjawab pertanyaan Harmoko dengan lugas, "Bukankah Bapak mengatakan demikian?" Mendapat pertanyaan begitu Harmoko langsung menyambar, "Saya memang bicara begitu, tetapi tidak seharusnya you tulis begitu!" Hem... pelajaran baru jurnalistik di Era Soeharto! Bikin bingung, bukan?

Hening sejenak, Harmoko pun melanjutkan, masih dengan pertanyaan bernada menyelidik. "Siapa editormu sekarang, Si James-kah?" Maksudnya James Luhulima, editor politik saat itu. Saya jawab bahwa editornya memang James dengan wakil Myrna Ratna. "Okelah, nanti saya telepon mereka. Sudah, you tulis berita sana sesuai dengan apa yang saya katakan tadi di depan wartawan! Ingat ya, you harus menulis berita yang bener!"

Belakangan saya dengar Harmoko dipanggil Soeharto gara-gara berita yang saya tulis itu, sebuah pernyataan yang memperkuat bukti bahwa Golkar sebagai mesin politik utama waktu itu benar-benar arogan. Sebagai orang Jawa, Soeharto yang pinisepuh Golkar itu konon tidak suka cara-cara takabur seperti itu.

Dalam wawancara dengan wartawan sebelumnya, Harmoko secara khusus membantah berita Kompas yang saya tulis, yang dimuat 27 November 1996, bahwa dia tidak pernah mengatakan "Golkar bisa meraih 100 persen suara"! Tentu saja saya punya rekaman suara Harmoko saat dia bicara begitu di Makassar. Tetapi inilah realitas politik yang berlaku pada saat itu, rekaman pun menjadi tidak ada maknanya jika digunakan sebagai alat bukti. Kuasa adalah kuncinya. Inilah berita bantahan itu:

HARMOKO:
Target Perolehan Suara Golkar 70,02 Persen

Malang, Kompas
Ketua Umum DPP Golongan Karya Harmoko mengemukakan, target perolehan suara Golkar dalam pemilu 1997 mendatang tetap 70,02 persen. "Tidak pernah Golkar menyatakan target sampai 100 persen," katanya seraya mengingatkan, kekuatan sosial politik di Indonesia tidak hanya Golkar tetapi juga ada Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Hal tersebut dikemukakan Harmoko kepada wartawan dalam kunjungan kerjanya di Malang dan Surabaya, Kamis (28/11).

Seperti diberitakan Kompas (27/11), di depan massa Golkar di Stadion Mattoangin, Ujungpandang hari Senin malam, Harmoko mengemukakan kemungkinan Golkar bisa memenangkan 100 persen suara.

Dijelaskan oleh Harmoko bahwa ungkapan 100 persen itu muncul dari antusiasme massa kader Golkar ketika ia bertanya, berapa target perolehan Golkar di Sulawesi, yang kemudian disahuti massa 100 persen.

"Anda tahu di Sulawesi Tenggara ada pernyataan target 96 persen, dan itu bisa saja. Kalau kader mentargetkan sebesar itu sebaiknya jangan diturunkan, katanya, kalau kader-kader Golkar melakukan kerja keras, penggalangan secara simpatik, pengembangan kompetisi sehat sesuai persatuan dan kesatuan mudah-mudahan bisa berkembang lebih dari target nasional 70,02 persen," jelasnya.

Juga dituturkan, Golkar bakal menyelenggarakan Diklat Jurkam Nasional (Pendidikan dan Latihan Juru Kampanye) Golkar. Sehingga setiap jurkam yang turun akan dibekali program-program secara nyata. Diklat akan diselenggarakan dalam sepuluh gelombang dan dilakukan juga di daerah-daerah. Pesertanya para jurkam Golkar, fungsionaris, termasuk para calon legislatif.

"Dari pengalaman yang lampau tutornya kita siapkan dari dapur kampanye kami. Itu sudah dibentuk dua tahun lalu menyiapkan tema kampanye, program kampanye, materi dan isi kampanye," jelas Harmoko. (PEP)

SAYA masih mau berbagi cerita mengenai Harmoko dalam beberapa postingan lagi. Juga mengenai Akbar Tandjung, Hamzah Haz, Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid, Habibie, Jusuf Kalla, dan bahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam konteks peliputan dan penulisan berita mengenai mereka, dalam konteks pertemuan langsung saya dengan mereka. (Bersambung)

Catatan (59): Tentang Harmoko (2)

Menulis Tanpa Disetir

SENIN, 25 November 1996, saya berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang dulu masih bernama Ujungpandang. Sebagai wartawan "kemarin sore" di bidang liputan politik, saya berupaya membuka mata dan telinga terhadap kejadian, gejala, dan bahkan pernyataan apapun, tanpa berpretensi melebih-lebihkan (bombastis). Keberadaan saya di Kota Anging Mammiri itu atas ajakan Golkar yang saat itu diketuai Harmoko.

Sudah lumrah terjadi saat itu, kemanapun Harmoko pergi, rombongan wartawan menyertainya. Sebagai jurnalis, saya berupaya membuka mata dan telinga saat Harmoko berpidato di Stadion Mato Anging, di depan para kader partai dalam acara yang dikemas sebagai "Temu Kader" itu. Nah, dalam pidatonya itulah saya "menangkap" pernyataan politis yang amat menarik jika deletakkan pada konteks waktu saat itu, saat Soeharto berkuasa penuh, yakni saat Harmoko menyatakan bahwa Golkar bisa menang 100 persen!

Tentu saja ini pernyataan yang menarik, yang barangkali luput dari pendengaran wartawan lainnya yang juga menyertai Harmoko seperti Antara, Suara Karya, Pelita, Merdeka, dan media massa lainnya yang saya lupa mengingatnya satu persatu. Saya lantas berlari ke Biro Kompas (kelak lima tahun kemudian saya bertugas sebagai Kepala Biro di kota ini), mengetik berita dan mengirimkannya ke Jakarta menggunakan modem FTP. Saat itu Reny Sri Ayu yang dulu masih berinisial "rr" dan Buyung Wijayakusuma (Boy), juga ikut meliput sehingga inisial mereka pun masuk karena memberi konstribusi masing-masing.

Saya tidak menyangka, bahwa berita yang saya sertakan di bawah ini, yang dimuat pada keesokan harinya, 26 November 2006, membuat marah Harmoko. Mengapa Harmoko marah besar sehingga memanggil saya secara khusus saat saya berada di Kota Malang? Jawaban singkatnya tidak lain: saya tidak mau disetir dan diarah-arahkan dalam menulis berita! Saya tahu apa arti kebebasan menulis bahkan itu di era Soeharto!Sebelum bercerita lebih jauh, kita ikuti berita yang membuat Harmoko marah itu di bawah ini:

Harmoko:
Kalau Mau, Sebenarnya Golkar Bisa Menangkan 100 Persen

Ujungpandang, Kompas
Ketua Umum DPP Golkar Harmoko mengemukakan, kalau mau, sebenarnya Golkar bisa memenangkan pemilu dengan 100 persen suara. Namun kalau hal itu sampai terjadi, berarti partai politik tidak kebagian suara.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum DPP Golkar Harmoko di depan sekitar puluhan ribu massa Golkar yang memadati Stadion Mattoangin, Senin (25/11) malam.

Massa Golkar yang datang dari berbagai penjuru kota Ujungpandang bahkan daerah-daerah kabupaten di Sulsel, berkumpul dalam acara temu kader yang dirangkaikan dengan Resepsi HUT Golkar ke-32. Turut hadir dalam acara tersebut, Gubernur Sulsel HZB Palaguna, Wali Kotamadya Ujungpandang H Malik B Masry, Ketua DPD Tingkat I Golkar H Amin Syam, Fadel Muhammad, Marwah Daud Ibrahim, Tanri Abeng serta unsur Muspida Tingkat I dan II, serta kader-kader Golkar lainnya.

Harmoko mengaku cukup puas melihat masyarakat Sulsel bukanlah orang-orang yang buta politik. "Masyarakat Sulsel ternyata melek politik. Banyaknya massa Golkar di daerah ini satu bukti bahwa masyarakat Sulsel tidak buta politik. Tahun 1997 ini diharapkan dari keseluruhan wajib pilih di Sulsel, 90,34 persen diantaranya adalah warga Golkar," ujar Harmoko.

Ditambahkan Harmoko, "Sebenarnya kalau mau, Golkar bisa menang 100 persen suara. Tapi kalau itu sampai terjadi berarti parpol tidak kebagian suara."

Dikatakan, sebagai salah satu organisasi politik yang cukup besar, Golkar selalu ingin berkarya dan berbuat yang terbaik bagi warganya. Hal itu mengingat bahwa Golkar ingin memenangkan mayoritas tunggal.

Golput

Dalam kesempatan itu, Harmoko juga mengemukakan, Pancasila tidak mengenal apa yang disebut Golongan Putih (Golput). Kalau ada orang yang menjadikan Golput sebagai salah satu alternatif pilihan berarti orang tersebut adalah orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak memikirkan masa depannya.

"Saya tahu, ada segelintir orang-orang yang Golput. Tolong dicatat bahwa orang seperti itu adalah orang yang tidak bertanggung jawab, sebab tidak memikirkan masa depannya dan masa depan bangsanya. Mereka adalah orang-orang yang buta politik dan tidak mau menggunakan haknya, walaupun Golput itu tidak ada sanksinya, namun falsafah Pancasila tidak Golput. Karena itu saya berharap warga Golkar mau mengajak orang lain untuk ikut memilih," katanya. (PEP)

SAYA sama sekali tidak menyangka kalau berita yang saya tulis secara jujur ini membuat Harmoko marah. Benar-benar marah. Judul dan lead  bisa saja dipoles editor politik saat itu, yakni James Luhulima atau wakil editor Myrna Ratna. Tetapi pesan yang disampaikan Harmoko di Makassar itu persis seperti yang saya tulis. (Bersambung)

Catatan (58): Tentang Harmoko (1)

Berani Menyapa

BERANILAH menyapa! Itu salah satu senjata jurnalis. Maka ketika saya bertemu dengan Harmoko, mantan menteri penerangan di era Soeharto di lobi Gedung Harian Kompas, saya langsung menyapa dan mengajaknya bercakap-cakap. Peduli amat dia tidak lagi mengenal saya. Akan tetapi, saya tetaplah seorang jurnalis yang masih menganggap Harmoko sebagai seorang prominent people.

Saya punya catatan khusus tentang Harmoko selama saya diminta meliput Partai Golkar di tahun 1996-1999, juga tentang Akbar Tandjung sebagai penggantinya. Saya akan menceritakannya dalam postingan berikutnya, tetap dalam konteks how to cover and to write it! Baiklah, di bawah ini adalah hasil sapaan saya kepada Harmoko yang saya tulis untuk KOMPAS.Com, Jumat 8 Agustus 2008. Tulisan juga bisa dibaca di sini, dengan fotografi karya Priyambodo:

Harmoko:
Bukan Soal Sehat, Yang Penting Waras

JAKARTA, JUMAT- Masih ingat Harmoko? Dialah mantan Menteri Penerangan di Era Soeharto yang kondang dengan seruan khasnya, “Menurut petunjuk Bapak Presiden”, setiap kali ia memberi keterangan pers. Pada usianya yang menjelang 70 tahun, politisi kelahiran Nganjuk yang mantan ketua umum DPP Partai Golkar itu masih nampak segar.

Jumat (8/8) pukul 10.00 tadi, ia berdiri menunggu sopir yang siap menjemputnya di kantor sebuah harian di Jakarta. Kamipun menyapanya, “Apa kabar, Pak Harmoko?” Mendapat sapaan demikian, iapun menjulurkan tangan mengajak berjabat tangan. “Ah you rupanya, masih kelihatan segar. Masih meliput politik?” tanyanya. You adalah sapaan akrabnya kepada jurnalis yang dikenalnya, yang biasa terlontar begitu saja.

Ditanya soal kesehatannya, ia mengaku sehat walafiat karena secara teratur berolahraga, khususnya tenis. Meski demikian, kolumnis sekaligus pemilik Harian Pos Kota yang pernah meminta Soeharto lengser di awal Era Reformasi ini mengatakan, seakrang yang lebih penting bukan sekadar kesehatan saja.

“Lho apa lagi, Pak, bukankah itu (kesehatan) yang paling penting sekarang ini?” kami bertanya. Harmoko melanjutkan, “Bukan sekadar sehat, lebih penting lagi waras. You tahu, sekarang ini lagi banyak-banyaknya orang yang tidak waras.”

Sayangnya, percakapan dengan Harmoko harus berakhir karena kendaraan Toyota Land Cruiser warna hijau gelap sudah menantinya. Harmoko pun pamit. Kamipun belum sempat menanyakan siapa-siapa saja sekarang ini orang-orang yang disebutnya “tidak waras” itu. Kamipun berani mengutip pernyataannya itu karena Harmoko tidak meminta, “Ini off the record ya!” (PEP)
***

DEMIKIANLAH sapaan saya terhadap Harmoko. Tanpa berani menyapa karena alasan gengsi, karena "dia (Harmoko) sudah tidak jadi apa-apa" dan karena dia "sudah bukan siapa-siapa" lagi, maka niscaya tidak akan ada berita di atas tadi. Saya tidak peduli sebagian orang membencinya. Bagi saya, Harmoko tetaplah tokoh, lebih karena "kelihaiannya" berpolitik, sehingga kekesalan orang yang sedemikian menumpuk menjadi sirna sama sekali hanya karena dia pernah "meminta Soeharto mundur"!

Sedemikian lihainya, bukan. Dan memang ajaib, ketika para pejabat Orde Baru kena hujat, termasuk  mereka yang hengkang dari kabinet saat-saat kejatuhan Soeharto sekalipun, Harmoko tidak pernah dihujat. Mahasiswa pun tidak pernah menyentuh dan menghujatnya. Benarkah Harmoko selamat karena kelihaiannya berpolitik atau semata-mata blessing in disguise saja? (Bersambung)

Wednesday, August 06, 2008

Surat Anda (2): Menulis Sosok

Bagaimana Memulainya? (2)

SURAT kedua Pak Suwidyo berbunyi sebagai berikut, tanpa saya edit:

Ass wr wb

Mas Pepih..

Saya ingin menulis sosok seorang ibu rumah tangga di RW 12 VBI, sangat aktif mengurusi orang tua jompo yang hidupnya sudah sangat susah, disekitar Jombang. Kegiatan ini sudah berjalan 2 tahun, dan seminggu terakhir ini, ibu tsbt mengirim report kegiatan lengkap dengan lap keuangannya kepada saya. Menurut saya, apa yang ibu ini lakukan sangat luar biasa dan mulia.

Sebagai referensi: status ibu rumah tangga dengan 3 putra/pi. Strata pendidikan S2 alumni Belanda. Peduli ngurusi pendidikan ( beliau ngasih les gratis bhs inggris) kepada anak2. Taat beribadah. Atas hal tersebut, saya mohon saran dari Mas Pepih:

- Bagaimana cara menulis profil ibu dengan aktivitas seperti ini, dan menyentuh bagi pembacanya?
- Apakah layak saya tulis dalam buletin VBI.
- Hal2 apa saja yang harus saya tulis ; judul? Pemikat awal tulisan (teaser) ? isi dan penutup tulisan.?

Mohon arahan , bantuan dan terima kasih.

Salam/wid

Jawaban saya:

Waalakum salam...

Aduh, saya kok jadi orang kuper ya di VBI, padahal ada seorang Ibu dengan hati mulia yang mau berbagi dengan sesama. Dari penjelasan yang Pak Wid berikan, saya sudah menangkap bahwa Ibu ini seorang sosok menarik. Bayangkan, lulusan S2 yang seharusnya "bekerja secara profesional" (menghasilkan uang), masih bersedia bekerja charity yang tanpa dibayar, bahkan justru mengeluarkan uang sendiri. Saya langsung katakan: Ibu ini layak disosokkan, bukan hanya untuk buletin, bahkan mungkin untuk Kompas juga!

Bagaimana cara menuliskannya agar menyentuh, tentu saja setiap wartawan/penulis punya alat canggih yang dinamakan Data dan Deskripsi. Dengan data, kita menjadi tahu siapa ibu itu. Dengan Deskripsi --dan ini yang penting-- kita bisa menggambarkan keseharian, tujuan, dan harapan si Ibu itu atas apa yang dia kerjakan. Apa pengorbanan yang diberikannya dengan dia mengurusi orang-orang jompo?

Deskripsi tidak semata-mata hasil wawancara dengan mengutip omongannya saja, tetapi lebih menggambarkan apa yang dia lakukan. Syukur kalau Pak Wid mengikuti Ibu itu saat dia bertemu warga jompo, gambarkan bagaimana "care" dan pedulinya dia kepada sesama yang memerlukan perhatian.

Gambarkan besarnya pengorbanan dia (misalnya rela tidak bekerja formal) hanya untuk beramal. Bagaimana awal mula ketersinggungan si Ibu ini dengan orang-orang jompo. Adakah karena dia "merasa bersalah" karena tidak memedulikan orangtuanya yang sudah meninggal, misalnya. Pasti ada latar belakang dan sejarahnya, bukan. Maka, cobalah gali latar belakang ini!

Judul biasanya didapat setelah kita mendeskripsikan tulisan dan bahkan menutup suatu cerita. Kalau judul sudah ditetapkan, kadang kesulitan bercerita secara bebas karena harus selalu merujuk ke judul. Judul yang datar bisa saja "Rela Berkorban demi Kaum Jompo", atau "Kepedulian Tanpa Batas Seorang Ibu", atau "Si Polan, Bekerja Tanpa Pamrih", dan sebagainya.

Teaser sebagai pemikat tentu saja ada pada penonjolan-penonjolan Si Ibu, misalnya dia Lulusan S2, ngajar bahasa Inggris gratis, pernah bekerja di mana (misal perusahaan besar dengan gaji besar tapi keluar hanya untuk ngurus jompo), dll. Tulisan biasanya ditutup dengan harapan atau cita-cita Si Ibu di masa datang yang mungkin sekarang belum kesampaian. Oke, selamat mencoba.... (Selesai)

Tuesday, August 05, 2008

Surat Anda (1): Menulis Sosok

Bagaimana Memulainya? (1)




SAYA menerima dua surat elektronik dari Pak Suwidyo melalui alamat e-mail saya pepih_nugraha@yahoo.com, Senin 4 Agustus dan Rabu 6 Agustus 2008. Pak Wid tinggal di Perumahan Vila Bintaro Indah, Tangerang, dan menjadi pengasuh buletin yang beredar di perumahan itu, Buletin VBI. Surat dan jawaban kedua imel kemudian saya taruh di rubrik baru, "Surat Anda", sehingga kalau ada surat lainnya berkaitan dengan dunia tulis-menulis dan jurnalisme akan saya taruh di rubrik ini. Baik, saya tampilkan imel pertamanya yang berbunyi begini:


Ass wr wb

Mas Pepih YSH,



Minggu 03 Agustus 2008, saya kehilangan ( telah meninggal dunia - namanya Pak Rachmat, warga blok A dekat masjid VBI) sahabat saya sesama aktivis di masjid Baiturrahman VBI. Mengingat, peran dan begitu aktiv dan semangatnya mengurusi Masjid Baiturrahman, saya berkeinginan menulis tentang beliau dan mungkin akan saya muat dalam buletin VBI.



Sebagai referensi tambahan saya berdua sangat sering komunikasi via SMS dan E-mail, tidak ada kata lain kecuali membicarakan bagaimana meningkatkan pelayanan dan manajemen yayasan/masjid baiturrahman.



Atas hal2 tersebut, saya mohon Mas Pepih bersedia memberi arahan kepada saya mengenai:

1. bagaimana caranya menulis sosok warga yang punya profil seperti ini.

2. apakah beberapa info dalam SMS dan e-mail dapat kita ramu menjadi penguat tulisan?

3. Saya pingin tulisan ini dapat memberi manfaat lebih bagi pembaca, sehingga menjadi contoh yang baik.

4. Atau hal2 lain yang mendukung tulisan nanti.



Demikian atas bantuan dan arahannya, saya ucapkan terima kasih.



Salam/wid



Karena surat itu saya terima saat saya masih membuka komputer, maka saya pun langsung membalas surat Pak Wid sebagai beikut:



Waalaikum salam....



Sebelumnya saya mengucap Innalilahi wa Innailaihi Rojiun. Saya mendengar ada tetangga berpulang saat saya berada di Cirebon, saya baru kembali ke VBI Minggu pukul 22.00, sehingga saya tidak bisa melayat beliau.



Wah, kalau Pak Wid masih menyimpan SMS-nya, itu akan menjadi bahan-bahan berharga untuk penulisan sosok beliau yang kelak bisa disajikan teaser (pemikat) awal tulisan. Apalagi, SMS itu berisi mengenai kegiatan masjid semata. Bayangkan, bukankah dia "saksi hidup" atas kebaikan yang bukan saja mutlak diketahui Allah semata, tetapi juga "monumen" bagi manusia hidup, manusia yang ditinggalkannya?



Kalau Pak Wid mau membuat judul yang umum dan datar-datar saja, Pak Wid bisa beri judul "Berpulangnya Aktivis Baiturrahman". Artinya, awal tulisan di aliena pertama harus bercerita mengenai Pak Rachmat sebagai seorang aktivis Masjid Baiturrahman.



Coba alihkan pada isi SMS atau imel-nya yang Pak Wid punya. Mana sekiranya pesan yang menarik dan menggugah. Menarik dan menggugah itu bisa jadi SMS Pak Rachmat yang terakhir sebelum beliau berpulang. Isi dari SMS terakhir itu bisa juga menjadi kalimat pembuka sebuah tulisan. Saya tidak tahu pesan terakhir di SMS itu. Misalnya saja pesan itu berbunyi: "Pak Wid, titip masjid dan anak-anak aktivis masjid, saya hendak pergi sebentar...."



Nah, SMS yang terakhir atau yang paling menarik itulah yang bisa dijadikan teaser sebuah tulisan, yang menggugah orang untuk membaca tulisan itu. Judul tulisan pun bisa diambil dari salah satu kalimat dalam SMS itu.



Itu saja yang bisa saya sarankan, Jangan lupa deskripsi Pak rachmat (CV beliau), kesehariannya seperti apa, pekerjaan utamanya, anggota keluarga yang ditinggalkannya, cita-citanya yang belum kesampaian, komentar tetangga dan keluarga, dan seterusnya.



Keesokan harinya Pak Wid kemudian membalas kembali balasan surat saya sebagai berikut:



Terima kasih mas Pepih telah menjawab begitu cepat e-mail saya. Advis dan konsultasi saya ini akan sangat berharga dan saya masih dalam "emosi" atas kehilangan salah satu sahabat saya.Saya akan segera memulai menulis tentang profil Alm Pak Rachmat. Sekali lagi terima kasih mas, mudah-mudahan saya mampu menuliskannya. Jangan bosan bantu saya ya....



Salam/wid



(Bersambung)

Saturday, December 09, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (17)


Menjadi Diri Sendiri (2)

Masih cerita tentang pelatihan penulisan di lingkungan santri. Ternyata saya memang harus menghadapi kejutan demi kejutan. Santri, tidaklah “sekolot” yang saya bayangkan. Mereka agresif dalam bertanya dan mengeluarkan pendapat, juga terang-terangan dalam mengungkapkan ketidaksetujuan akan satu atau beberapa hal. Suasana begini yang saya suka di ruang kelas. Hidup.

Juga masih cerita tentang penulisan feature atau tulisan khas. Selaku tutor, saya punya kewenangan untuk bertanya di dalam kelas. Maka saya meminta seorang peserta untuk menjelaskan apa yang ditemuinya saat meliput suasana Mal Ambasador. “Saya tertarik melihat cewek-cewek cantik,” kata seorang peserta. Tentu saja ia berjenis kelamin pria.

“Punya cerita dari cewek-cewek cantik yang keluar masuk Mal Ambasador?” tanya saya.
“Tidak. Saya hanya terpukau melihat mereka. Jadi saya tidak punya cerita.”
“Oke. Setidaknya, apakah cewek yang masuk Mal Ambasador itu semua cantik?”
“Tidak juga. Ada juga yang biasa-biasa.”
“Mana yang lebih banyak, cewek-cewek cantik atau cewek yang berparas biasa-biasa seperti katamu?”

Peserta ini berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sepertinya lebih banyak cewek-cewek cantiknya.”
“Hemm, kamu kurang yakin? Kenapa tidak dicatat saat itu kalau itu menarik perhatianmu? Bukankah kamu bisa menyimpulkan sementara waktu kalau cewek-cewek yang datang ke Mal Ambasador cantik-cantik?” kata saya dan masih melanjutkan tanya, “Kamu wawancara salah satu di antara mereka?”
“Tidak,” jawabnya jujur.

Saya potong, “Berarti kamu tidak punya cerita!”

Peserta pelatihan masih nampak bingung. Saya tidak mau menyiksa mereka terlalu lama dan melanjutkan, “Seandainya kamu tanya beberapa cewek yang menurutmu cantik-cantik dan kamu mendapatkan kenyataan, misalnya, bahwa cewek-cewek itu datang dari luar Jakarta, hemmm… bukankah kamu punya cerita di sini…”

Suasana hening. Saya tekankan lagi bahwa menulis feature bukanlah menulis cerita pendek yang bisa karang sana karang sini. Menulis feature harus melihat fakta dan bahkan melakukan peliputan partisipatif kalau memungkinkan.

Dulu rekan wartawan senior saya, Hendrowiyono, menyaru menjadi sopir taksi selama seminggu dan berusaha menyelami kehidupan sopir taksi di Jakarta. Dia gambarkan bagaimana sopir taksi itu makan, istirahat, dan bahkan buang air kecil kalau sedang bekerja di jalan. Hal-hal sepele yang tidak terpikirkan oleh kita, tetapi dapat ditangkap dengan baik lewat peliputan partisipatif. Menarik, bukan?

Masih rekan senior saya, DJ Pamoedji. Dia menyaru sebagai kernet truk jurusan Merak-Surabaya hanya untuk mengetahui kehidupan sopir truk selama perjalanan, yang konon punya banyak pacar di hampir setiap tikungan. Selain memotret kehidupan sopir truk dan “perjalanan batinnya” di warung-warung remang-remang, tulisan itu juga memotret prilaku polisi yang memalak sopir di hampir semua daerah.

Pokoknya tulisan itu begitu hidup. Kedua rekan yang saya hormati itu sekarang sudah pensiun, tetapi sesekali masih menulis untuk Kompas.

Waduh, sampai dimana ya saya bercerita, kok jadi ngalor-ngidul. Begini… saya masih memancing peserta pelatihan dengan pertanyaan, siapa di antara mereka yang sudah membaca salah satu dari empat novel Dan Brown yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini karena ada pertanyaan dari peserta sulitnya mereka menentukan laporan utama untuk membuat majalah atau buletin intern pesantren. Sayangnya, belum ada seorang peserta pun membaca novel-novel Dan Brown.

Mereka terlihat keheranan mengapa tiba-tiba saya bertanya seperti itu. “Andai saja kalian membaca ‘The Davinci Code’ atau “Angels and Demons’, pasti ada hal yang menarik untuk kalian diskusikan di bilik-bilik pesantren. Sayangnya kalian tidak ada satupun yang membacanya… Jadi, mari kita diskusikan ke hal lain saja!” ajak saya.

Waw, saya sampai lupa kalau saya hendak menceritakan tentang bagaimana pentingnya menjadi diri sendiri saat menulis feature. Saya katakan, menulis berita, itu bisa diseragamkan oleh para editor. Ada standar berita tertentu. Inilah gaya Kompas, inilah gaya koran lain, misalnya. Tetapi bila wartawan menulis feature, itulah gaya si wartawan yang bersangkutan. Editor pun memberikan kebebasan dalam mengeksplorasi masing-masing gaya itu.

Tetapi memang harus saya akui. Kadang kita terpengaruh gaya bahasa penulis lain hanya karena kita sangat mengagumi penulis tertentu. Katakanlah pada saat mahasiswa dan awal-awal saya bekerja di Kompas saya sangat mengagumi kepenulisan Pramoedya Ananta Toer. Tetapi di sisi lain, saya juga terpengaruh gaya penulisan Mary Shelley yang menulis novel “Frankenstein”. Tetapi untungnya saat itu saya belum menjadi wartawan, hanya sebatas menulis cerpen atau cerita bersambung saja.

Akan tetapi setelah selama setahun penuh di ruang pendidikan Kompas, saya bisa memahami arti penting gaya bahasa masing-masing wartawan dalam menulis feature.

Waktu saya menjadi bagian desk politik, saya pernah mendapat penugasan untuk menulis sosok KH Ali Yafie. Saya pelajari sebelumnya siapa tokoh ini. Tentu saja dari buku, hasil karya, dan ucapan serta tindakannya di koran-koran. Hanya satu hari persiapan, dan itu berarti saya harus ngebut semalaman hanya untuk "mengenali" siapa tokoh yang akan saya temui besok dan saya wawancarai itu.

Setelah dirasa saya punya bekal, saya menemuinya dan menuliskan hasil wawancara itu. Hasilnya, saat itu sejumlah editor menganggap tulisan tentang kyai berkharisma ini sebagai “Gaya Bahasa” saya, yang bisa dibedakan dari gaya bahasa wartawan-wartawan lainnya. Sahabat ingin membacanya? Silakan ikuti feature yang kemudian dimuat Kompas, Rabu 17 September 1997 hal 24 ini...



KH ALIE YAFIE: MUARANYA KEPENTINGAN UMAT

PROFESOR Quraish Shihab, Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, punya cerita tentang ulama kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah. Kalau KH Ali Yafie, ahli fiqih ini menyuruh orang untuk mengantarkan surat ke kantor pos, dia tidak terkesan menyuruh. Ali Yafie akan berkata, "Apakah engkau akan lewat jalan Z? Kalau memang lewat, tolong sekalian titipkan surat ini ke kantor pos."

Contoh lain, pada peluncuran bukunya Wacana Baru Fiqih Sosial, yang dikaitkan dengan peringatan 70 tahun kelahirannya, awal September lalu. Saat itu ia sudah 71 tahun, karena ia dilahirkan 1 September 1926. "Yang dititikberatkan bukan perayaan ulang tahun saya, tetapi penyajian buku ini untuk kepentingan ilmu dan mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Ali Yafie.

Ia tidak mengatakan bahwa itu kesalahan teknis panitia, meski belakangan panitia mengaku "salah"!

Bijaksana. Itulah kesan yang kita tangkap manakala secara langsung berhadapan dengan kiai yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu fiqih oleh Institut Ilmu Al Quran (IIQ) 12 Oktober 1991 itu. Pengusaha Probosutedjo berkata, "Mendengar namanya saja sejuk rasanya hati ini, apalagi membaca pemikirannya."

Menteri Agama Tarmizi Taher menilai Ali Yafie sebagai kiai yang lembut dalam bertutur, mendalam isi bicaranya, dan membawa keteduhan bagi lingkungannya. Pemikirannya yang berusaha membumikan Islam di Tanah Air, khususnya ilmu fiqih, patut diteladani.
**
ORANG menyebut keberhasilan Ali Yafie menjadikan ilmu fiqih sebagai ilmu yang toleran, ramah, dan penuh pertimbangan matang. Komentar Ali Yafie, "orang mengatakannya demikian."

Ilmu fiqih yang dalam bahasa Arab disebut al-fiqh (paham yang mendalam), merupakan salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam, yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun hubungan manusia dengan penciptanya.

Anggapan bahwa ilmu fiqih angker, kaku, beku, dan ketinggalan zaman, menurut Ali Yafie merupakan bagian dari opini untuk menampilkan citra fiqih secara negatif sehingga melemahkan potensi Islam. Oleh karenanya sedikit banyak berpotensi pemecah belah.

"Itu semua merupakan satu rangkaian yang tidak lepas dari strategi global," kata cucu Syaikh Abdul Hafidz Bugis, salah seorang ulama Indonesia terkemuka yang menjadi guru besar pertama di Masjidil Haram (Arab Saudi) ini.

Yafie mengajak untuk melihat fiqih secara integral. Katanya, ada tiga lingkaran dalam ilmu fiqih, di mana menurut Ali Yafie tuduhan hanya dialamatkan pada lingkaran terakhirnya saja. Lingkaran pertama, fiqih dalam pola dasarnya, yakni berpikir sistematis dan rasional untuk memahami norma-norma. Lingkaran kedua, pola umum dari fiqih, yakni memberikan garis-garis besar norma-norma dasar dan umum mengenai tatanan hidup yang diinginkan. Lingkaran ketiga, yakni norma-norma dijabarkan dalam materi hukum yang rinci, dalam arti bagaimana teknik orang melakukan ibadah agar dapat diterima Allah.

Atas anggapan ini, studi fiqih menjadi tidak berkembang, yang berkembang hanya mengenai ibadahnya saja. Setiap orang menyebut fiqih, terbayang soal pengaturan ritual beragama, sementara masalah-masalah sosial tidak berkembang.

"Sekarang faktor ini sudah mulai tersingkirkan dengan keberhasilan pembangunan. Sudah saatnya kita memberdayakan ilmu fiqih untuk mendorong peningkatan wawasan umat," kata suami Siti Aisyah ini.
**
YAFIE yang bernama asli Muhammad Ali, belajar ilmu fiqih dari ayahnya, KH Muhammad Yafie, dengan metode sorogan. Sang ayah membacakan kitab kuning dan menerjemahkannya, Ali Yafie kecil dan murid-murid lain menghafalkannya. Pada usia 12 tahun Ali Yafie sudah mampu membaca kitab kuning yang diajarkan ayahnya sejak dia berumur lima tahun. Saat beranjak dewasa, ia bertekad meluruskan pandangan orang terhadap ilmu fiqih yang sudah dibiaskan sedemikian jauh itu.

Ali Yafie menunjuk kemunduran umat Islam selama lima abad terakhir, diperparah dengan merasuknya faktor eksternal, yang menjadi penyebab tertekannya perkembangan dunia Islam. Penjajahan dan penaklukan yang dilakukan orang-orang Eropa, di mana dalam petualangannya kemudian turut melumpuhkan potensi Islam, juga turut menciptakan lahan subur tumbuhnya dugaan miring terhadap ilmu fiqih.

Dari sinilah wawasan keagamaan dijadikan sasaran. Pada dasarnya, kata tokoh Ikatakan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) ini, agama Islam membangkitkan satu dinamika dalam diri manusia, termasuk ajaran fiqihnya. Dinamika ini terdeteksi, sehingga orang Belanda mengatakannya maacht van de Islam, kekuatan Islam. Katanya, "Ada kekuatan di dalam Islam. Kekuatan itulah yang dilumpuhkan."

Maka selain melalui penguasaan ekonomi, Belanda (baca: Eropa) juga melakukan penguasaan kultural. Dalam menyebarkan ilmu pengetahuan di negeri jajahan, juga ditempuh pendidikan sekuler, di mana agama (Islam) sama sekali tidak diberi tempat di dalam pendidikan formal. "Tujuannya, bangsa yang dididik lewat lembaga mereka itu, paling sedikit diharapkan jauh dari agamanya. Bahkan yang ideal buat mereka, orang Islam membenci agamanya sendiri."
**
BAGAIMANA usaha Ali Yafie meluruskan opini orang terhadap ilmu fiqih? Salah satunya lewat organisasi. Keterlibatannya dalam berbagai organisasi, dari organisasi DDI (Dar-ud Da'wah wal Irsyad), Nahdlatul Ulama (NU), ICMI, sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI), semua dikatakannya untuk kepentingan umat.

Bahkan Yafie "rela" masuk dunia politik. Maka sejak tahun 1971-1987 ayah empat anak ini berkantor di Senayan sebagai anggota DPR, setelah sebelumnya DPR-GR Sulawesi Selatan 1963-1969.

Ali Yafie yakin, bahwa dari pemahaman agama yang dinamakan jamaah, yaitu kebersamaan, seseorang haruslah mencari kawan. Maka ia tidak segan-segan menyampaikan syi'ar agamanya, khususnya dalam usahanya meluruskan opini orang soal ilmu fiqih, kepada orang-orang dari berbagai kalangan yang dianggapnya kawan tadi, termasuk petinggi negeri ini. "Hakikatnya yang mendorong saya bukan semata-mata politik, tetapi masalah agama, yakni untuk kepentingan umat."

Ciri penting sikap politik Ali Yafie digambarkan Rektor IIP Prof Ryaas Rasyid sebagai mengutamakan keharmonisan, atau paling tidak menghindari konfrontasi terbuka dengan pemerintah. Namun keulamaan Yafie lebih menonjol dibanding politisi. Pada diri pria yang beribukan Maccaya ini, tersimpan sifat lembut, tenang, sederhana, dan berwibawa, demikian Ketua PP Muhammadiyah Lukman Harun menulis dalam salah satu bukunya.

Namun Yafie, penulis buku Menggagas Fiqih Sosial (1994) ini, pernah "meledak" juga. Sebagai Wakil Rois Aam PB NU, ia menyatakan diri keluar 5 November 1991. Berdasarkan dokumen yang dia temukan, ia sampai pada satu kesimpulan bahwa PB NU positif menerima "santunan" dari yayasan pengelola SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Tiada seorang pun yang mampu menghentikan langkahnya.

Ribut-ribut soal kriteria pimpinan nasional, juga tidak luput dari perhatiannya. Boleh jadi sekadar merendah apabila Ali Yafie mengaku, "Saya tidak punya kriteria". Nyatanya dia punya, meski kriterianya tidak lepas dari pandangan fiqih. Dikutiplah pandangan Imam Mawardi yang bicara soal lima kriteria pimpinan tertinggi dalam komunitas Islam yang menurutnya masih relevan.

Ali Yafie juga gundah dengan maraknya korupsi-kolusi. Tetapi ia mengajak orang berpikir jernih dalam persoalan ini, melihat kembali kepada watak kehidupan yang dikatakannya sebagai pertarungan antara yang benar dan yang tidak benar. Kolusi-korupsi pada masyarakat manapun tetap dianggap sebagai kejahatan, tetapi tidak pernah akan hilang. Al Quran juga mengabadikan nama penjahat semacam Firaun, misalnya. Maksudnya mengajak kita berpikir, inilah watak kehidupan.

"Dunia ini perjuangan. Maka yang perlu kita ciptakan adalah dominasi kebaikan," katanya. (pepih nugraha)

Pepih Nugraha

Monday, November 20, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (15)



Sekecil Apapun, Pasti Bermanfaat

Akhir Oktober 2006 lalu, beberapa hari setetelah lebaran , saya bertemu beberapa orang geolog di Museum Geologi, Bandung. Satu di antaranya adalah Bunyamin. Pertemuan dengannya tidak sengaja, setelah diperkenalkan oleh tuan rumah. Barulah kemudian saya tahu, dia adalah salah satu pecatur Bandung bergelar Master Nasional tetapi sudah tidak aktif lagi bermain catur.

“Sekarang saya hanya mengajar dan melatih catur kepada anak-anak di sela-sela kesibukan saya bekerja,” kata Bunbun, demikian ia biasa dipanggil, saat bicara kegiatan caturnya.

Berbicara catur dengannya serba nyambung, maklum tingkatannya sudah master nasional, meski sudah tidak aktif bertanding lagi. Saya pribadi selalu menyimpan kekaguman dengan para pecatur yang memiliki pikiran canggih itu. Membandingkan dengan diri sendiri, pastilah Master Percasi pun saya tidak sampai. Hanya karena suka baca dan menulis saja saya mengakrabi catur.

Satu hal yang membuat saya terpana adalah penjelasannya di sela-sela ngobrol bertemankan teh hangat. Katanya, “Saya selalu mengkliping tulisan catur Kang Pepih di Kompas.”

Ah yang benar saja, pasti Kang Bunbun ngabojeg (humor). “Setelah saya kliping dengan rapi, saya tempelkan di kelas catur saya biar anak-anak membacanya juga, siapa tahu menjadi inspirasi bagi mereka,” katanya lagi. Alangkah terharu saya mendengarnya!

Saya tidak menyangka sedikitpun bahwa tulisan catur yang entah sudah berapa ratus saya bikin itu ternyata bisa sangat bermanfaat buat sebagian pembaca, tepatnya buat pembaca yang khusus, seperti komunitas catur itu. Soalnya saya pernah “diingatkan” oleh seorang rekan wartawan untuk segera beralih ke menulis hal lain selain catur. “Tulisan catur itu tidak ada yang baca, tidak bergengsi lagi,” pesannya.

Saya tahu dia memang wartawan hebat yang selau menulis analisis ekonomi atau bahkan ekonomi internasional. Apa yang dia katakan bahwa saya harus menulis hal lain selain catur, ada benarnya. Mungkin agar pikiran saya lebih terbuka. Tetapi, bukansaya saya sudah menulis berbagai hal lain itu?

Saya kira kritikan itu konstruktif. Tetapi saya bertekad tetap tidak meninggalkan kegemaran saya, menulis tentang catur. Apa saja, apakah itu analisis, suatu turnamen atau dwitarung antarmanusia atau manusia lawan komputer, sampai ke biografi para pecatur ternama tingkat nasional maupun internasional.

Belum lagi saya selesai mencerna pikiran saya yang mengembara kemana-mana, Bunbun melanjutkan, “Terakhir saya kliping dan tempelkan artikel Akang tentang Parimarjan Negi, pecatur India yang sedang menanjak.”

Segera saya teringat tentang biografi Parimarjan Negi yang saya tulis di Kompas, 27 September 2006 halaman 16.

Barangkali yang ingin saya katakan di sini, saya tidak semata-mata menulis tentang Parimarjan, tetapi bagaimana menghadirkan tulisan itu. Selain menggunakan bahan-bahan sumber kedua dari buku maupun penelusuran internet, mempelajari gaya permainannya, juga saya ingin mendapatkan informasi langsung dari yang berangkutan.

Saya menemukan alamat Parimarjan Negi di situs resmi FIDE. Informasi di situs itu juga mencantumkan nomor telepon rumah orangtua Parimarjan di New Delhi. Saya minta bantuan operator Kompas karana ini masalah profesionalisme, masalah kerjaan. Tidak berapa lama telepon bersambung. Tetapi yang mengangkat seorang perempuan dalam bahasa Hindi. Wah, mana mengerti saya bahasa itu kecuali beberapa kata seperti “Nehi” (tidak), “Tum haare” (kamu adalah), atau “Acah” (jangan).

Karena ponsel ayah Parimarjan tidak aktif, maka saya mengirim imel kepadanya agar bisa mendapat akses berbicara langsung, setidak-tidaknya, berkirim daftar pertanyaan untuk dijawab di imel. Di luar dugaan, ayah Parimarjan sangat responsif. Dia memberi alamat anaknya itu. Mulailah saya menyusun daftar pertanyaan yang saya perlukan untuk menulis tentangnya dan mengirimkannya segera kepada Parimarjan Negi. Tentu saja dalam bahasa yang sedikit saya kuasai, Inggris. Tidak berapa lama kemudian, saya mendapat jawaban langsung Parimarjan Negi.

Sekarang saya boleh berbangga diri, saya bisa mengutip pernyataannya langsung dari mulutnya sendiri, tidak lagi dari sumber kedua atau ketiga. Terima kasih teknologi!

Sahabat dapat mengikuti tulisan saya di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/27/Sosok/2967237.htm7/Sosok/2967237.htm , atau langsung membacanya di bawah ini…



Parimarjan Negi, Ikon Baru India
PEPIH NUGRAHA

Menelepon langsung ke rumah orangtuanya di New Delhi, jawaban yang diberikan dalam bahasa Hindi. Mencoba mengontak melalui nomor telepon ayahnya, tidak berbalas. Jawaban baru diberikan saat kami berkirim pesan melalui surat elektronik dua minggu lalu.

"Oke, saya segera sampaikan keinginan Anda kepada anak saya untuk wawancara. Kirim pertanyaan dan tunggu jawabannya segera!" kata JB Singh, ayah bintang baru yang sedang bersinar cemerlang, Parimarjan Negi. Siapakah Parimarjan Negi?

Dia adalah grand master (GM) catur termuda dunia dan juga termuda sepanjang sejarah catur India, memecahkan rekor pendahulunya di India: Viswana- than Anand dan Pendyala Harikrishna. Di tingkat dunia, Negi memecahkan rekor yang dipegang anak jenius Norwegia, Magnus Carlsen.

Jika Carlsen menjadi GM pada usia 13 tahun 147 hari, rekor ini dipecahkan Negi dengan selisih lima hari, yakni 13 tahun 142 hari. Pemecah rekor GM termuda sepanjang sejarah memang masih dipegang Sergey Karjakin, yang meraihnya pada usia 12 tahun 7 bulan. Akan tetapi, kini "anak ajaib" Ukraina itu sudah berusia 16,5 tahun.

Hebatnya lagi, norma GM pertama sampai ketiga dia raih dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari tahun ini sampai 1 Juli lalu saat ia dikukuhkan sebagai GM penuh. Tidak ada satu pecatur elite pun yang menandingi pencapaian rekor tercepat ini sebelumnya, bahkan mantan juara dunia Garry Kasparov sekalipun.

"Anaknya benar-benar mengasyikkan," kata Anand, peringkat dua dunia mengomentari permainan Negi yang penuh perhitungan mendalam. "Untuk remaja seusianya, ia sangat mengesankan. Sangat berbakat," ujar Anand, seperti ditulis Rakesh Rao dalam koran internet tssonnet.com.

Berbicara prestasi siswa kelas delapan New Delhi’s Amity International School itu mau tidak mau harus menyebut prestasi pecatur pendahulunya seperti Anand, Harikrishna, dan Koneru Humpy.

Negi memegang norma GM pertama yang diraih di Turnamen Hastings, Januari 2006, saat berusia 12 tahun 330 hari, menghapus rekor lama yang dipegang pecatur perempuan terkuat India, Humpy, saat berusia 14 tahun 84 hari.

Negi menyamai rekor Anand dalam pencapaian dua kali norma GM berturut-turut dalam bulan yang sama. Negi melakukannya saat meraih norma GM pertama dan keduanya Januari 2006, Anand meraih norma GM kedua dan ketiganya Desember 1987.

Di negaranya, Negi memecahkan rekor Harikrishna yang menjadi GM termuda India pada usia 15 tahun 99 hari, Agustus 2001. Padahal, Harikrishna adalah pemecah rekor GM catur termuda India atas nama Anand yang meraihnya pada usia 18 tahun, tahun 1987.
Dipersiapkan

Lahir 9 Februari 1993 dari pasangan JB Singh dan Paridhi, Negi adalah pecatur yang dipersiapkan. Ia digembleng oleh pelatih bekas negara Uni Soviet, seperti Elizbar Ubilava, Alexander Goloshchapov, Evgeny Vladimirov, dan Ruslan Sherbakov. Sebelumnya, ia digembleng pelatih India, GB Joshi dan Vishal Sareen. "Saya juga pernah bekerja sama dengan Nigel Short," tutur Negi menyebut nama pecatur Inggris.

Negi yang gemar membaca, ke mana-mana membawa laptop berisi tiga juta partai dari para pecatur legendaris dunia. Ia siap menganalisis ratusan posisi setiap saat, termasuk berselancar di internet mengikuti partai-partai baru berbagai turnamen. Bank data caturnya membuat jurang antara pecatur kawakan dengan pecatur muda semakin menyempit.

Beruntung Negi mendapat kelonggaran dari sekolahnya untuk mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan mendatangkan guru privat dan meminjam catatan pelajaran dari teman. Semua biaya mengikuti turnamen ditanggung sponsor, perusahaan raksasa Tata, dan Air India. Juga sokongan dari kepala bursa efek India, Damodaran, yang gila catur.

Kejeniusan Negi ditemukan pelatih pertamanya, JB Joshi. Namun, Joshi "menyerah" karena ilmu anak didiknya terlalu maju dan menyerahkan kepelatihan kepada Vladimirov, pelatih bertangan dingin.

"Parimarjan memiliki seluruh persyaratan menjadi pecatur top dunia: bakat besar, kemampuan bekerja yang baik, dan minat sangat besar. Sering orangtuanya memanggilnya agar berhenti dulu berlatih untuk makan malam, tetapi Parimarjan selalu menjawab, ’Satu posisi lagi, please’," kenang pelatih lainnya, Sherbakov.

Fanatik masakan ibu

Uniknya, kedua orangtuanya tidak bisa bermain catur. Saat Negi berusia 4,5 tahun, teman ayahnya, Dr Vinayak Rao, memperkenalkan permainan adu pikir ini. "Sejujurnya saya tidak menyukai permainan apa pun," kata sang ayah, JB Singh.

Saat mengikuti Negi bertanding di Jerman, sang Ibu, Paridhi, mengungkapkan kepada wartawan setempat bahwa Dr Rao menghadiahi anaknya papan catur.
Selain berlatih fisik, pengagum Kasparov dan Anand ini berlatih yoga dan lari, serta berlatih catur selama empat jam sampai enam jam setiap hari. Ia fanatik pada masakan ibunya, khususnya ayam dan nasi tanak.


Dalam surat elektroniknya, Negi mengaku sangat suka membaca. Ia membaca seluruh novel Harry Potter karangan JK Rowling, Lord of the Rings karangan JRR Tolkien, bahkan Da Vinci Code karangan Dan Brown. Menjawab pertanyaan tentang pencapaian prestasinya, Negi mengaku puas. "Namun saya paham, jalan panjang masih membentang di depan," ungkapnya.

Jalan panjang itu tidak lain adalah jalan menuju juara dunia.

Pepih Nugraha
Jakarta, 20 Novermber 2006

Wednesday, August 02, 2006

Berbagi Penglaman Menulis (1)



Terus Menggali


KADANG di medan liputan yang beragam, kalau jeli kita dapat menemukan hal-hal menarik untuk digali, untuk kemudian ditulis. Salah satunya adalah kiprah Agus Suharto ini, yang saya temukan saat meliput tsunami Pangandaran 17 sampai 20 Juli 2006 kemarin.


Pertama kali bertemu Agus, justru tidak sengaja. Saat itu kami sehari setelah tsunami menerjang Pangandaran, kesulitan mencari tempat menginap. Hotel dan wisma tidak ada yang berani buka. Beruntung ada sejumlah warga yang merelakan rumahnya dijadikan tempat menginap, salah satunya rumah milik Agus ini.


Malamnya saya berbincang-bincang dengan Agus yang pemalu ini. Semua baru terungkap setelah Agus menunjukkan siapa dirinya, kegiatannya, dan upayanya memelihara kelestarian terumbu di tanah kelahirannya, Pangandaran. Dari sini, saya tertarik membuat ceritanya.


Saya mencoba menelusuri jejak terumbu buatan yang telah hancur diterjang tsunami dan kini hanya menjadi "bangkai" saja di pantai. Inilah kisah lengkapnya yang di muat Kompas, Rabu 26 Juli 2006, plus foto hasil rekan Amir Sodikin.


Terumbu Ban Bekas Agus Suharto


Oleh Pepih Nugraha


Beberapa saat setelah bencana tsunami menghantam pantai barat dan timur Pangandaran, 17 Juli 2006, yang kemudian terpikir oleh Agus Suharto adalah nasib "terumbu karang" buatannya yang ia tanam tujuh bulan sebelumnya.


Seusai memastikan seluruh anggota keluarganya selamat, Agus berjalan menyusuri pantai barat dan timur Pangandaran. Di pantai barat ia temukan tiga gugus terumbu buatannya yang sudah tercerabut, terdampar, dan teronggok di pantai, berbaur dengan puing-puing lainnya. "Di pantai timur saya temukan terumbu 'menclok' di atas batu-batu karang," kata Agus saat mengajak kami melihat terumbu karang buatannya, Rabu (19/7).


Terumbu karang yang ia maksud adalah rangkaian ban-ban mobil bekas yang dipertautkan satu sama lain menggunakan tali tambang plastik. Satu gugus terdiri atas 30 ban mobil bekas yang disusun hingga membentuk kerucut atau piramida. Pada alas kerucut, celah-celah ban bekas diberi semen sebagai pemberat.


Antara 5-12 Desember 2005, terumbu karang buatan berbentuk kerucut itu dilarung ke pantai barat dan timur Pangandaran, dibenamkan ke dasar laut di kedalaman lebih kurang 10 meter dari bibir pantai. Seluruh terumbu karang buatan yang dilarung berjumlah 40 gugus. Itu berarti Agus membenamkan 1.200 ban mobil bekas di pantai barat dan timur Pangandaran!


"Saat mulai menggagas dan memproses pembuatan terumbu buatan ini, banyak orang mengira saya sudah stres. Soalnya saya mengerjakan sendirian saja, paling dibantu Suherman, rekan yang sudah mengerti maksud saya," kenang Agus.


Proyek nyleneh yang membuat tetangga dan kenalannya mengernyitkan dahi itu bermula saat ia mengenang masa kecilnya. Pria kelahiran 6 Agustus 1966 ini memang anak Pangandaran tulen. Sebagai anak nelayan, ia sudah akrab dengan lingkungan laut. Cagar Alam Pananjung yang diapit pantai barat dan timur adalah tempat bermainnya sehari-hari. Menyelam tanpa alat atau menggunakan snorkle di Taman Laut adalah kegemarannya, di mana ia dapat berakrab-akrab dengan terumbu karang dan ikan-ikan di sekitarnya.


Jadi surga


Tahun 1970-an, Agus masih merasakan betapa Pangandaran merupakan surga dari berbagai jenis ikan. Itu berkat terumbu karang sebagai tempat bersemayam ikan, yang masih terpelihara khususnya di pantai timur. "Peribahasa orang sini, pokoknya asal mau basah (ke laut), kita pasti hidup," katanya.


Akan tetapi, saat tahun terus berganti, nyatalah bahwa terumbu karang di sekeliling Pantai Pangandaran itu bukan hanya rusak, tetapi bahkan ada di antaranya yang hilang tak berbekas. Terang saja, ikan menjadi sulit didapat. Nelayan pun terpaksa berlayar jauh meninggalkan bibir pantai untuk mencari ikan. "Ibaratnya bukan cukup berbasah-basah, sudah menyelam pun ikan sulit didapat," kata Agus lagi.


Kesadaran akan pentingnya memelihara terumbu karang sebagai tempat bermain-mainnya ikan menggerakkan suami Shad Aprilla ini menciptakan terumbu karang buatan. Dari pengalamannya menyelam, ia tahu bahwa bentuk terumbu karang itu berongga-rongga. Rongga-rongga itu adalah tempat yang baik bagi hidup ikan.


Saat menyelam, Agus menemukan wahana apa pun, khususnya yang berongga, bisa dijadikan tempat tumbuhnya karang baru. Membuat rongga buatan dari semen beton, itu ideal tetapi biaya pembuatannya pasti mahal. Menggunakan ban bekas, ini lebih masuk akal karena bisa terjangkau kocek.


Untuk membeli ban bekas, ia menagih janji kepada rekan sekelasnya saat bersekolah di Akademi Usaha Perikanan (AUP) yang kebetulan saat ini telah menjadi Ketua DPRD Ciamis, Jeje Wiradinata. Sebagai teman, Jeje berjanji akan memberi Agus uang Rp 1 juta kalau ia berhasil "menjadi orang". Saat Jeje telah "menjadi orang", yakni menjadi Ketua DPRD Ciamis, Agus pun menagih janji teman sekelasnya itu. "Saya katakan bahwa uang itu untuk membeli ban bekas. Eh, Pak Jeje ketawa, dikiranya saya beralih pekerjaan sebagai tukang tambal ban," kata Agus.


Setelah Agus mengutarakan maksudnya, sang wakil rakyat pun tergugah dan berjanji akan mengusulkan anggaran khusus bersama Bupati Ciamis Engkon Komara.


Singkat cerita, APBD pun keluar di mana Rp 45 juta di antaranya untuk perbaikan lingkungan di Pangandaran. Tetapi, ia bingung karena untuk mencairkan dana itu tidak boleh atas nama perorangan.


"Saya tidak punya LSM (lembaga swadaya masyarakat), juga bukan anggota LSM. Akhirnya saya membentuk Kelompok Masyarakat Peduli Pangandaran. Semula hanya saya dan Suherman yang menjadi anggotanya. Belakangan ada 20 anak muda yang menyatakan peduli terhadap lingkungan Pangandaran," urai Agus.


Bersama kelompoknya, ayah dari Otheon, Marvin, dan Egan ini mulai mengadakan gerakan menanam pohon pelindung, yakni pohon ketapang dan nyamplung, di pantai timur dan barat Pangandaran.


Agus boleh berbangga. Meski mengaku tidak berpretensi ingin menjadi pendekar lingkungan agar meraih penghargaan dan semacamnya, ia senang karena hanya lima gugus terumbu karang ban mobil bekas yang terbawa hanyut tsunami. Itu berarti, 35 gugus terumbu karang buatannya masih ada di dasar laut Pantai Pangandaran. "Saya sudah mengeceknya. Masih ada. Bahkan sekarang rongga-rongga ban bekas sudah ditempeli karang halus dan tumbuhan laut lainnya," katanya.