
Sayang, "Dirimu" Tak Ada
PERTEMUAN yang tak disangka-sangka dengan Keenan Nasution. Petang itu, Jumat (19/7), Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas yang punya kolom "Politika", penulis soal tetek bengek Amerika Serikat sampai ngelotok, penulis sepakbola jempolan, dan penulis musik yang disegani, menelepon saat saya terbenam dalam rutinitas pekerjaan di kantor.
"Pep, kamu ke lobi, Keenan sudah nunggu. Dia bawa buku dan CD yang kamu mau," kata Pak Bas, demikian kami biasa memanggil.
Saya tunda dulu pekerjaan, segera meluncur ke bawah, ke lobi. Di sana Pak Bas dan Keenan sudah menunggu. Saya menyalami musisi besar Indonesia seangkatan Chrisye yang pada 5 Mei lalu mengadakan konser tunggal bertajuk "Malam Nuansa Bening" itu. Keenan sudah berusia 53 tahun, tetapi tampak masih segar. Dua tanda hitam di kening menunjukkan bahwa dia lekat dengan sholat.
Soal konser itu, saya sendiri tidak sempat menonton sebab pada malam itu bertepatan dengan tugas kantor saya. Hiks... Sudah, jangan kautangisi itu, Pep, batin saya.
"Sayang ya Pak Keenan, lagu "Dirimu" yang Bapak nyanyikan bersama Gank Pegangsaan tidak ternukil dalam album 'Dengarkan, Apa Yang Telah Kaubuat' ini," kata saya.
"Ya, sebab lagu itu tidak senafas dengan lagu-lagu yang termuat dalam album ini," jawab suami penyanyi lawas Ida Royani ini saat menggoreskan tanda tangannya di atas bukunya, buku dan CD yang saya beli (lihat foto di atas). Satu set buku biografi, buku lirik, dan dua keping CD yang harganya lumayan tinggi.
Saya bertanya dimana bisa memperoleh kaset Gank Pegangsaan yang memuat lagu "Dirimu" dan "Palestina" itu. Jawab Keenan, "Nanti saya edarkan juga CD live concert saya tempo hari, di situ ada lagu 'Dirimu'."
Hemh... tiba-tiba saya merasa lega. Bukan apa-apa. "Dirimu" adalah lagu spesial yang mengingatkan masa-masa awal perjuangan saya menginjakkan kaki di belantara Jakarta, pada tahun 1990 lalu. Pada saat itu, sambil mendengarkan "dirimu" dari pita kaset di tape JVC di kamar kost-kostan di Cikoko, Jakarta Timur, saya memandang masa depan yang masih temaram. Terus terang, saya tidak tahu mau jadi apa saya kelak, lima, 10, atau 15 tahun kemudian. Kepastian akan perjalan hidup segera datang setelah percaya akan kemampuan diri sendiri muncul: menulis!
Boleh jadi saya lupa liriknya. Tetapi dengan iringan gitar akustik yang biasa saya mainkan di D minor, lamat-lamat saya bisa mengingat penggalan liriknya, meski tidak utuh...
Di bening malam iniResah rintik gerimis datangMenghanyutkan sinar rembulanMuram kaca jendelaSemuram waktu yang berlalusedangku masih di sini....Inginku slalu dekatmuNikmati mentariMembawamu ke puncak bahagia