Showing posts with label Iwan Abdulrachman. Show all posts
Showing posts with label Iwan Abdulrachman. Show all posts

Tuesday, November 13, 2007

Komentar Anda (2)


Blog "Abah" Iwan

SAYA mendapat surat dari Nurjamila, yang merupakan putri dari Iwan Abdulrachman, pencipta sekaligus penyanyi balada legendaris. Ia meminta dua postingan saya bisa dimuat di blog khusus Iwan Abdulrachman, yakni http://abahiwan.wordpress.com/. Dengan senang hati saya meluluskannya. Berikut surat Nurjamila yang ia tulis dalam bahasa Sunda, yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia:

Nurjamila meninggalkan pesan pada postingan "Catatan: Belajar dari Iwan Abdulrachman (3)":

Punten kang Pepih, nepangkeun abdi putri Abah Iwan. Bade ngiring copy seratan akang, ku abdi bade dilebetkeun ka blog Abah. Tiasa ditingal di abahiwan.wordpress.com. Eta teh kempelan seratan sobat-sobat abah, sareng kempelan artikel-artikel anu ngamuat perkawis pun bapa. Hatur nuhun sateuacanna.

(Maaf kang Pepih, perkenalkan saya putri Abah Iwan. Ingin ikut mengkopi tulisan akang, saya akan memasukkannya ke dalam blog Abah. Bisa dilihat di http://abahiwan.wordpress.com. Itu merupakan kumpulan tulisan sahabat-sahabat abah, dan kumpulan artikel yang memuat tentang ayah saya. Terima kasih sebelumnya.)

Di bawah ini balasan saya, juga dalam bahasa Sunda, yang intinya saya menyilakan Nurjamila mengambil tulisan saya untuk dimuat di blog Abah Iwan Abdulrachman. Saya katakan, saya juga berniat memuat cerita tentang Abah Iwan itu dalam blog bahasa Inggris saya di http://pepih.wordpress.com/ (pepih's pepblog), sekaligus menerjemahkan lirik lagu-lagunya ke dalam bahasa tersebut. Berikut balasan saya:

Hatur nuhun, sami-sami nepangkeun. Bingah pisan Salira tiasa rurumpaheun ka ieu blog. Perkawis bade dikopi mah, mangga teu langkung, ngiring bingah. Abdi oge tangtos kantos ningalian blogna Abah, saminggu kapengker.

Kapayunanna, sim kuring gaduh rencana bade nyerat blog nganggo basa Inggris di alamat
http://pepih.wordpress.com (pepih's pepblog) ngeunaan Abah Iwan sacara berseri, komplit sareng teks laguna nu Insya Allah bade diterjemahkeun kana basa Inggris.

Dupi maksad mah bade nepangkeun Abah Iwan ka Mancanagara salaku aset nasional. Sanes kanggo dibisniskeun da maksad ngadamel blog mah mung sakadar iseng-iseng aya manfaat. Upami kawidian, Insya Allah abdi nepangan salira di Bandung, tos komo tiasa ngobrol sareng Abah Iwan mah. Pangdugikeun salam kareueus sareng hormat sim kuring ka Abah. Hatur nuhun.

Pepih Nugraha

Friday, August 25, 2006

Citizen Journalism (2):


Tertidur Dibuai “Abah”

Malam itu, Rabu 23 Agustus 2006, ratusan penikmat musik dan senandung Iwan Abdulrachman, memenuhi ruang utama Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Penonton duduk di kursi dipan di bagian belakang, tetapi ada juga yang lesehan hampir mendekat “Abah” Iwan. Mereka yang tidak bisa masuk ke auditorium BBJ, terpaksa menikmati petikan gitar dan senandung merdu pria berusia 58 tahun ini dari layar kaca televisi.
Sunyi, gelak tawa, dan tepuk tangan adalah tiga unsur yang menyatu dari penonton beragam warna, saat Iwan mengakhiri setiap lagunya. Penonton yang hadir antara lain mantan menteri Siswono Yudohusodo, aktivis pecinta alam Wanadri dan Mapala, wartawan dan seniman seperti Ully Sigar Rusady.
Aku bersama anakku, Kakang, dan Alet yang kebutulan menemani Kakang di Jakarta, duduk lesehan paling depan. Hanya berjarak sekitar dua meter saja dari sang maestro gitar akustik dan penyenandung alam yang paling legenderis di tanah Parahyangan, bahkan mungkin di negeri ini. Di sebelah kanan duduk Ully Sigar Rusady, juga penyenandung nyanyian alam dari Garut. Setelah bercakap-cakap dengan Ully sejenak, aku berikan kartu nama sebagai sikap profesional.
Acara dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semua hadirin berdiri dan bendera dikibarkan seniman Bandung, Aat. Setelah lama tidak menyanyikan lagu kebangsaan, hati mendesir juga, teringat Indonesia yang kian renta, tetapi di usianya ke-61 masih tetap setia sebagai tanah air, tanah tumpah keringat, dan bahkan tanah tumpah darah. Iwan tampil dengan jas hitam, yang tampak terlalu formal untuk aksesori nyanyian sebuah alam. Kelak baju jas ini dibuka untuk digantikan pakaian hutan warna coklat saat dia membawakan nyanyian yang biasa diperdengarkan di saat api unggun menyala di tengah hutan atau gunung.
Lagu pertama terkesan “main-main” karena seperti nyanyian anak-anak. Itu ia bawakan sambil sesekali bercerita tentang lagu itu. Kadang saat menikmati lagu, harus terpotong dengan ocehannya yang seperti tiada henti. Yang mendambakan keheningan dan kesyahduan sebuah pertunjukkan seni, pastilah menggerutu karena terganggu. Sejujurnya, akupun seperasaan. Tetapi apa boleh buat, ia yang di atas pentas punya daulat mutlak untuk membawa kita kemana saja. Toh kalau kita tidak bisa menikmati, bisa saja keluar ruangan pertunjukkan. Tapi itu tidak aku lakukan, tidak akan pernah, tidak juga yang lainnya.
Akan tetapi ketika Iwan mulai bersenandung sepenggal flamboyant penonton histeris, tetapi sejenak kemudian menggerutu saat Iwan tidak melanjutkan lagi lagu legendarisnya itu, malah cerita tentang pohon flamboyant yang menurutnya masih ada di Kota Bandung, masih flamboyant yang dulu. “Aduh, terusin dong, Bah!” pinta Ully.
“Saya akan membawakan sebuah lagu yang pasti belum Anda kenal, karena belum dirilis,” katanya kemudian. Denting gitar pun terdengar jernih, menjentik-jentik bagian terdalam dari hati para penonton, setidak-tidaknya aku… Kau tersenyum dan bunga pun bermekaran…Lagu tentang musim bunga… Burung-burung terbang bersama angin, dan bernyanyi dari balik awan…


Penonton terkesima, termasuk Kakang. Tetapi bagiku, lagu itu sudah tak asing lagi sebab sekitar tahun 1977-an sudah dirilis Bimbo. Di malam pertunjukkan ini juga, sungguh sangat mengherankan, Iwan tidak pernah sekalipun menyebut nama “Bimbo”! Padahal aku tahu persis, hampir sebagian besar lagu Bimbo saat pertama muncul kelompok musik balada itu adalah gubahan Iwan Abdulrachman. Hemmm… mesti ada sesuatunya antara Iwan dan Bimbo. Tetapi, apa peduliku, yang penting bisa menikmati senandung Iwan, sekarang.
Kakang tersihir dan kemudian tertidur saat “Melati dari Jayagiri” berkumandang. Lagu yang demikian menyatu dengan jiwa Iwan sendiri. Kakang sempat memberi aplause untuk kemudian tertidur, sampai akhir pertunjukkan. Anakku dibuai oleh keindahan irama denting gitar, yang barangkali mengusap-usap jiwa dan membuai sukmanya, mengantarkannya ke alam kelelapan tidur.

Iwan terus bernyanyi, penonton lebih banyak menarik nafas. Bagiku, lagu “Sejuta Kabut” adalah puncak dari senandung Iwan malam itu. Suaranya masih prima, melengking tetapi merdu, juga kadang menggema, menggetarkan jiwa. Sejuta kabut turun perlahan, merayapi jemari jalanan…Merapat, melolong, lalu menjauh… menggoreskan kesan curam di hati… Lalu kusibak tirai hatiku, kubuka lebar-lebar pintu jiwaku...


Pikiranku melayang pada saat aku duduk di bangku kelas 5 SD tahun 1976 lalu, teringat saat Iwan dengan kelompok Kalikausar menyenandungkan lagu itu di tengah kabut Puncak Bogor, dengan dentingan tremolo gitar akustiknya. Tetapi malam itu, tanpa teknik tremolo yang bergetar sepanjang lagu telah cukup menggetarkan siapa pun meski dengan petikan gitar apoyando yang kuat, berjiwa, yang setiap dentingnya seperti berkata-kata punya makna. Iwan semakin menekan jiwaku, juga penonton, dengan lagu yang ditunggu…Melati dari Jayagiri, kuterawang keindahan kenangan… Hari-hari lalu di mataku, tatapan yang sejuk dan penuh kasih… Kuingat di malam itu…


Kala kecil, aku sempat ingin mahir bermain gitar akustik seperti Iwan dan Bimbo. Kesempatan datang tahun 1977 ketika diajari Mang Usman, ayah Ayi, meski mengenali beberapa akor gitar seperti C-G-F atau D-A-G. Saat duduk di bangku SMA, 1981-1982, malah sempat ikut les gitar klasik di Yamaha Music Centre Tasikmalaya sampai tingkat II dari XII grade. Tetapi itupun bagiku sudah lumayan, yang penting bisa mengiringi beberapa lagu Bimbo dan tentunya Iwan Abdulrachman. Di Surabaya, Kakang malah sempat privat gitar klasik dari Arnold, tetapi berhenti saat ia pindah lagi ke Jakarta.
Pada akhir pertunjukkan, aku bangunkan Kakang dan meminta dia menyalami Iwan. Tetapi Kakang belum berani. Aku saja yang menyodorkan tangan untuk mengajak Iwan salaman, dan dia menyambutnya hangat … Sebagai wartawan, rasa malu harus kuenyahkan dari alam pikiranku saat berhadapan dengan siapapun, bersikap untuk tidak minder, meski di hadapan orang kaya atau penguasa sekalipun, termasuk Iwan yang mengguncang tanganku kencang. “Nuhun, nuhun…,” kata Iwan yang malah berterima kasih kepadaku.
Mungkin karena aku duduk terpaku selama kurang lebih dua jam, mengunyah rangkaian kata-kata indah, menikmati denting gitar akustik yang dominan klasik, atau mengungkap syukur karena malam itu menikmati penampilan Iwan. Sungguh malam yang sangat berkesan…

Pepih Nugraha
Palmerah, 24 Agustus 2006

Sunday, August 06, 2006

Catatan (6): Belajar dari Iwan Abdulrachman


Pecinta Alam Sejati

JUMAT (4/8/06) sehabis kerja, aku menyempatkan membawa Kakang, anakku, jalan-jalan ke Bintaro Plaza. Maklum, sehabis ditinggal bundanya yang masih “nyangkut” di Surabaya, ia sepertinya kehilangan “induk” yang biasa mendampinginya. Sudah sangat biasa aku meninggalkannya karena tuntutan tugas, tetapi tidak oleh bundanya. Aku tahu dia terpukul, tetapi tidak pernah terungkap dalam kata-katanya.

“Boleh Kakang minta dibelikan Pokemon untuk Games Boy, Ayah?”
“Insya Allah!”
Tidak sulit mencari apa yang diinginkannya. Barang itu memang sudah lama diincarnya dan selama ini selalu pinjam temannya. Tetapi Kakang tahu diri, setiap ada permintaan, dia bisa memaklumi soal “waktu”. Dia mengerti, baru kalau ayahnya punya uang dan waktu, keinginannya itu diungkapkan kembali. Ia juga membeli Bread Talk dan Hoka-hoka Bento kesukaannya.

Tetapi yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah kebetulan. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri ke Disc Tara di lantai 2. Tak dinyana, aku menemukan satu cakram baru dari Iwan Abdulrachman. Kucari-cari kaset lamanya, tetap tidak kutemukan sampai kini. Berharap kaset baru, pasti lebih mustahil karena Iwan pernah “bersumpah” tidak mau rekaman lagi karena kecewa atas ulah “pembajak” (pirates), yang membuatnya ia tidak pernah kebagian royalti. Aku sampai menitip-nitip kepada adik ipar (Yanti), siapa tahu dia menemukan kasetnya, tetapi tetap nihil.

Siapa Iwan Abdulrachman? Tidak banyak orang yang tahu, kecuali orang-orang seangkatanku atau lebih. Orang mungkin lebih tahu “Melati dari Jayagiri” atau “Flamboyant”, dua lagu ciptaannya yang dilantunkan Bimbo. Sebagai Alumnus Universitas Padjadjaran, aku juga tidak akan pernah melupakan nama ini, sebab Iwan “Abah” Abdulrachman adalah sang penggubah “Hymne Universitas Padjadjaran”.

Iwan kini sudah berusia 58 tahun. Pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat, ini memang sudah malang melintang dalam musik balada. Tahun 1976, saat aku sekolah di kelas 5 SD, video klipnya sering muncul di TVRI dengan latar belakang kabut di perkebunan teh Puncak, Bogor . Aku melihat video klip ini di rumah Agus Ridar, teman sekelas yang mengajakku ke Bandung saat berlibur. Tahu sendiri, orangtuaku baru mampu membeli televisi tahun 1978 atau dua tahun kemudian.

Lagu yang dibawakannya bersama Kelompok Kali Kautsar (tolong dibetulkan jika salah, sebab aku hanya mengandalkan daya ingatku atas peristiwa yang pernah terekam persis 30 tahun lalu) saat itu adalah “Sejuta Kabut” (tolong juga diralat kalau judulnya salah). Petikan gitar tremolo (bergetar) sangat mendominasi musiknya: Begini syairnya:

(1) Sejuta kabut turun semalam
merayapi jemari jalanan
merapat, melolong, lalu menjauh
menggoreskan kesan curam di hati
(2) Sejuta kabut turun semalam
mengetuk-etuk jendela kamarku
merapat, melolong, lalu menjauh
menggoreskan kesan nyeri di hati
(Reff) ‘Kan kusibak tirai hatiku
kubuka lebar-lebar pintu jiwaku
kuterjuni kabut yang di kakiku
berbekal matahari yang berjalan
yang membara…..
(
Kembali ke 2 dan Reff
)

Pada Jumat 21 April 2006 lalu sebenarnya Iwan manggung di Hall C Senayan. Tanggal itu sudah kutandai dengan spidol merah. Ehh, miss juga karena harus tugas ke daerah lain. Padahal, sejak 6 April 2006, sebenarnya aku sudah berada di Jakarta. Rabu tanggal 23 Agustus 2006 nanti, Iwan akan kembali manggung di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Tanggal di kalender mejaku sudah kutintamerahkan. Bahkan akau sudah mengajak Kakang untuk menonton konsernya. Kakang belum menyatakan kesiapannya, “Nanti Kakang lihat dulu, Ayah,” katanya.

Aku perlu mengajak Kakang menonton Iwan agar mampu sedari dini menghayati syair-syairnya yang kuat saat melukiskan alam, cinta, dan perasaan indah lainnya. Juga bagaimana kepasrahan dan pertanyaan kemana diri ini hendak melangkah selanjutnya, seharusnya diungkapkan, seperti tercermin dalam lagu “Detik Hidup”. Seingatku, lagu “Detik Hidup” pernah dibawakan Iin Parlina dari Bimbo, hanya saja suaranya terlalu “ngaheos” (mendesah).

Berikut syairnya yang juga ternukil dalam album Iwan Abdulrachman yang ia beri judul “Mentari” (karena lagu “Mentari” dalam dua versi [gitar akustik dan konser] juga ada di dalamnya). Begini syairnya:

Detik-detik berlalu dalam hidup ini
perlahan tapi pasti menuju mati
kerap datang rasa takut menyusup di hati
takut hidup ini terisi oleh sia-sia
pada hening dan sepi aku bertanya
dengan apa kuisi detikku ini
tuhan kemana kami setelah ini?
adakah Engkau dengar doa’ku ini?
amien, ya Robb al’ alamien…

Masih banyak lagu Iwan lainnya yang penuh makna dalam, yang tidak bisa diresapi sambil lalu. Di album ini ada lagu “1.000 Mil Lebih Sedepa” yang mengisahkan tentang percintaannya di tengah alam atau “Nyanyian Alam” tentang sepinya sebuah malam. Banyak lagi yang belum masuk album “Mentari” seperti lagu “Akar” (seingatku) yang mengisahkan kesendirian sebuah akar.

Kata Iwan, hidup itu harus seperti akar. Dia tidak tampak menonjolkan diri. Ia tersembunyi di dalam tanah. Tetapi ia kuat mencengkeram bumi, yang membuat batang, dahan, ranting dan daun tetap kokoh meski diterpa angin. Akar jugalah yang menyerap makanan, mengalirkannya ke seluruh batang, dahan, ranting dan daun. Bekerja dalam diam sunyi bagi yang lain, tanpa harus berkoar-koar
.
Tetapi sayang, ya Abah Iwan, sekarang tidak banyak lagi orang yang hidup seperti akar itu. Orang menolong orang karena pamrih. Atau orang menyumbang sesama yang terkena impitan hidup (bencana), selalu ingin dipampangkan di koran, diumumkan di radio, atau ditayangkan di televisi. Tetapi tidak seperti akar yang Abah Iwan bayangkan: tersembunyi, meski tetap berbuat banyak bagi yang lainnya!

Kelak kalau masih diberi usia, Rabu 23 Agustus 2006 mendatang, Insya Allah aku menonton konser tunggalnya (bersama Kakang kalau ia sudah memutuskannya pergi) dan akan kutulis kembali tentang konser itu di blog ini. Aku akan upayakan bertutur sapa dengannya, bercakap-cakap atau sekedar melontarkan kekagumanku saja, pada seorang pecinta alam sejati: Iwan Abdulrachman.

Pepih Nugraha
Jakarta, Minggu 6 Agustus 2006.