Friday, April 18, 2008
Berbagi Pengalaman Menulis (48)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
6:25 AM
0
komentar
Label: Catur, Cinta, Menulis, Wesley Barbasa So
Wednesday, May 23, 2007
Catatan (18): Mengisi Waktu Luang
SUDAH lama mengincar catur “The Simpsons” (Keluarga Simpsons) di salah satu toko Bintaro Plaza untuk saya jadikan koleksi terbaru. Sekadar klangenan alias untuk main-main atau senang-senang saja. Sayang, catur berisi tokoh Keluarga Simpsons dengan ikon Bart Simpson itu terjual cepat. Rupanya banyak juga peminat Bart.
Saya tidak tahu apakah pembeli itu meminati Bart sebagai tokoh lucu atau meminati papan catur dan buahnya sebagai koleksi. Bagi saya, jelaslah yang terakhir.
Saya tidak terlalu suka Bart Simpson dan keluarganya, tetapi menjadi suka tatkala keluarga itu dijadian buah catur. Warna-warni lagi. Maka ketika di toko lain saya temukan catur “The Simpsons”, saya langsung membelinya. Tidak terlalu mahal, sebab ada diskon 10 persen. Soalnya pada hari yang sama di toko interior, saya menemukan papan dan buah catur unik, tetapi harganya nyaris menyentuh angka satu juta rupiah. Terlalu tinggi buat kantong saya.
Dengan demikian, “The Simpsons” menjadi penghuni terbaru koleksi papan dan buah catur saya. Ia segera menghuni lemari kaca bertingkat tujuh yang sengaja saya buat untuk memajang koleksi saya. Lemari kaca itu berada di bawah tangga dengan bentuk yang mengikuti luasan tangga di atasnya. Keenam sekatnya juga terbuat dari kaca, sehingga transparan saat lampu sorot di bagian atas lemari dinyalakan.
Sebelum “The Simpsons” datang, penghuni terbaru lemari kaca itu ialah catur mungil terbuat dari bahan kaca warna-warni. Indah sekali. Apalagi kalau tersorot cahaya lampu (lihat foto bawah).
Setiap hari, sebelum atau sehabis bekerja, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati benda-benda tidak bergerak hasil kreasi berbagai bangsa itu. Memang kalau kebetulan ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri untuk mencari papan dan buah catur yang unik-unik. Tentu saja koleksi saya itu murah meriah, terjangkau koceklah, sekalipun harus saya beli di luar negeri. Tetapi, catur lokal seperti dari Bali, Pasuruan, Klaten, dan Yogyakarta, pun tidak kalah uniknya.
Kembali ke “The Simpsons”. Bart, ikon utama kartun itu, dalam catur seri Keluarga Simpsons menjadi bidaknya. Artinya, seluruh tokoh Bart ada 16, masing-masing delapan dengan warna hijau melawan biru. Grampa Simpson menjadi dua benteng yang mengapit seluruh perwira, ratu dan raja di belakang Bart. Kuda diperankan Maggie Simpson yang benar-benar sedang naik kuda. Pengen tertawa melihatnya. Lisa Simpson bertindak selaku gajah. Ratu diperankan Marge Simpson dan Raja Homer Simpson. Yah, mereka memang sekeluarga!
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:44 PM
0
komentar
Label: Bart Simpson, Catatan, Catur, Koleksi
Tuesday, May 15, 2007
Berbagi Pengalaman Menulis (21)
PEPIH NUGRAHA
Soal target tersebut, Farid berkomentar, "Insya Allah saya bisa."
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:17 PM
3
komentar
Friday, May 11, 2007
Catatan (17): Profil Farid Firman Syah
KAMIS, 10 Mei kemarin seharusnya saya berada di Semarang, mewakili Harian Kompas untuk bertanding catur melawan GM Utut Adianto. Tentu saja Utut yang akan melakukan simultan, sementara saya hanyalah salah satu dari sekian puluh pecatur yang akan mengeroyok Utut. Saat saya bertugas di Surabaya tahun 2005 dan sebelumnya di Jakarta tahun 1992, saya juga pernah melawan Utut. Dari dua pertandingan itu, tentu saja saya dilibas habis tanpa ampun.
Adalah Mbak Retno Bintarti, Sekretaris Redaksi, yang meminta saya ke Semarang saat mengantar undangan ke meja. "Kan hanya kamu yang bisa ngelawan Utut. Pertimbangan saja, kalau bisa kamu berangkat, kalau tidak ya nggak apa-apa," katanya tiga minggu lalu.
Tentu saja saya bukan pembangkang kalau kemudian tidak berangkat ke Semarang. Saya memilih tetap di Jakarta, tetapi saya juga berkegiatan masih dalam urusan catur, yakni mewawancarai MN Farid Firman Syah. Siapakah dia?
Kepada MN Sebastian Simanjuntak yang memfasilitasi saya untuk bertemu Farid, semula saya ingin bertandang ke rumah orangtua Farid di Bekasi. Tetapi karena kebetulan Farid dan keluarga diundang makan siang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, Simanjuntak menyarankan agar bertemu langsung Farid dua jam sebelum ia ke Istana. Saya setuju saja, tetapi sebenarnya saya ingin melihat rumah orangtua Farid yang pedagang rokok itu di Bekasi. Saya ingin menggambarkan suasana rumah konrakannya biar tertangkap dalam tulisan saya. Siapa tahu bisa memperkaya tulisan.
Apa boleh buat, yang penting saya bisa berhadapan dengan seorang juara dunia asal Indonesia. Sahabat bisa melihat foto Farid di atas, karya MN Sebastian Simanjuntak, yang dikirim langsung dari Halkidiki, Yunani.
Bagaimana kiat mewawancarai anak-anak atau remaja, bagaimana hasil tulisan itu kemudian, dan bagaimana saya bisa menyimpulkan si juara dunia itu rendah hati? Kelak uriannya akan saya postingkan dalam kesempatan lain, jika tulisannya sudah dimuat di Harian Kompas. Sekarang, saya sudah menyelesaikan tahap akhir tulisan tentang Si Juara Dunia itu, tinggal mengirimkannya ke penanggung jawab Sosok, Mbak Chris Pujiastuti. Tunggu saja, ya...
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
5:47 PM
0
komentar
Label: Catatan, Catur, Farid Firman Syah, Juara Dunia
Monday, November 20, 2006
Berbagi Pengalaman Menulis (15)

Sekecil Apapun, Pasti Bermanfaat
Akhir Oktober 2006 lalu, beberapa hari setetelah lebaran , saya bertemu beberapa orang geolog di Museum Geologi, Bandung. Satu di antaranya adalah Bunyamin. Pertemuan dengannya tidak sengaja, setelah diperkenalkan oleh tuan rumah. Barulah kemudian saya tahu, dia adalah salah satu pecatur Bandung bergelar Master Nasional tetapi sudah tidak aktif lagi bermain catur.
“Sekarang saya hanya mengajar dan melatih catur kepada anak-anak di sela-sela kesibukan saya bekerja,” kata Bunbun, demikian ia biasa dipanggil, saat bicara kegiatan caturnya.
Berbicara catur dengannya serba nyambung, maklum tingkatannya sudah master nasional, meski sudah tidak aktif bertanding lagi. Saya pribadi selalu menyimpan kekaguman dengan para pecatur yang memiliki pikiran canggih itu. Membandingkan dengan diri sendiri, pastilah Master Percasi pun saya tidak sampai. Hanya karena suka baca dan menulis saja saya mengakrabi catur.
Satu hal yang membuat saya terpana adalah penjelasannya di sela-sela ngobrol bertemankan teh hangat. Katanya, “Saya selalu mengkliping tulisan catur Kang Pepih di Kompas.”
Ah yang benar saja, pasti Kang Bunbun ngabojeg (humor). “Setelah saya kliping dengan rapi, saya tempelkan di kelas catur saya biar anak-anak membacanya juga, siapa tahu menjadi inspirasi bagi mereka,” katanya lagi. Alangkah terharu saya mendengarnya!
Saya tidak menyangka sedikitpun bahwa tulisan catur yang entah sudah berapa ratus saya bikin itu ternyata bisa sangat bermanfaat buat sebagian pembaca, tepatnya buat pembaca yang khusus, seperti komunitas catur itu. Soalnya saya pernah “diingatkan” oleh seorang rekan wartawan untuk segera beralih ke menulis hal lain selain catur. “Tulisan catur itu tidak ada yang baca, tidak bergengsi lagi,” pesannya.
Saya tahu dia memang wartawan hebat yang selau menulis analisis ekonomi atau bahkan ekonomi internasional. Apa yang dia katakan bahwa saya harus menulis hal lain selain catur, ada benarnya. Mungkin agar pikiran saya lebih terbuka. Tetapi, bukansaya saya sudah menulis berbagai hal lain itu?
Saya kira kritikan itu konstruktif. Tetapi saya bertekad tetap tidak meninggalkan kegemaran saya, menulis tentang catur. Apa saja, apakah itu analisis, suatu turnamen atau dwitarung antarmanusia atau manusia lawan komputer, sampai ke biografi para pecatur ternama tingkat nasional maupun internasional.
Belum lagi saya selesai mencerna pikiran saya yang mengembara kemana-mana, Bunbun melanjutkan, “Terakhir saya kliping dan tempelkan artikel Akang tentang Parimarjan Negi, pecatur India yang sedang menanjak.”
Segera saya teringat tentang biografi Parimarjan Negi yang saya tulis di Kompas, 27 September 2006 halaman 16.
Barangkali yang ingin saya katakan di sini, saya tidak semata-mata menulis tentang Parimarjan, tetapi bagaimana menghadirkan tulisan itu. Selain menggunakan bahan-bahan sumber kedua dari buku maupun penelusuran internet, mempelajari gaya permainannya, juga saya ingin mendapatkan informasi langsung dari yang berangkutan.
Saya menemukan alamat Parimarjan Negi di situs resmi FIDE. Informasi di situs itu juga mencantumkan nomor telepon rumah orangtua Parimarjan di New Delhi. Saya minta bantuan operator Kompas karana ini masalah profesionalisme, masalah kerjaan. Tidak berapa lama telepon bersambung. Tetapi yang mengangkat seorang perempuan dalam bahasa Hindi. Wah, mana mengerti saya bahasa itu kecuali beberapa kata seperti “Nehi” (tidak), “Tum haare” (kamu adalah), atau “Acah” (jangan).
Karena ponsel ayah Parimarjan tidak aktif, maka saya mengirim imel kepadanya agar bisa mendapat akses berbicara langsung, setidak-tidaknya, berkirim daftar pertanyaan untuk dijawab di imel. Di luar dugaan, ayah Parimarjan sangat responsif. Dia memberi alamat anaknya itu. Mulailah saya menyusun daftar pertanyaan yang saya perlukan untuk menulis tentangnya dan mengirimkannya segera kepada Parimarjan Negi. Tentu saja dalam bahasa yang sedikit saya kuasai, Inggris. Tidak berapa lama kemudian, saya mendapat jawaban langsung Parimarjan Negi.
Sekarang saya boleh berbangga diri, saya bisa mengutip pernyataannya langsung dari mulutnya sendiri, tidak lagi dari sumber kedua atau ketiga. Terima kasih teknologi!
Sahabat dapat mengikuti tulisan saya di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/27/Sosok/2967237.htm7/Sosok/2967237.htm , atau langsung membacanya di bawah ini…

Parimarjan Negi, Ikon Baru India
PEPIH NUGRAHA
Menelepon langsung ke rumah orangtuanya di New Delhi, jawaban yang diberikan dalam bahasa Hindi. Mencoba mengontak melalui nomor telepon ayahnya, tidak berbalas. Jawaban baru diberikan saat kami berkirim pesan melalui surat elektronik dua minggu lalu.
"Oke, saya segera sampaikan keinginan Anda kepada anak saya untuk wawancara. Kirim pertanyaan dan tunggu jawabannya segera!" kata JB Singh, ayah bintang baru yang sedang bersinar cemerlang, Parimarjan Negi. Siapakah Parimarjan Negi?
Dia adalah grand master (GM) catur termuda dunia dan juga termuda sepanjang sejarah catur India, memecahkan rekor pendahulunya di India: Viswana- than Anand dan Pendyala Harikrishna. Di tingkat dunia, Negi memecahkan rekor yang dipegang anak jenius Norwegia, Magnus Carlsen.
Jika Carlsen menjadi GM pada usia 13 tahun 147 hari, rekor ini dipecahkan Negi dengan selisih lima hari, yakni 13 tahun 142 hari. Pemecah rekor GM termuda sepanjang sejarah memang masih dipegang Sergey Karjakin, yang meraihnya pada usia 12 tahun 7 bulan. Akan tetapi, kini "anak ajaib" Ukraina itu sudah berusia 16,5 tahun.
Hebatnya lagi, norma GM pertama sampai ketiga dia raih dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari tahun ini sampai 1 Juli lalu saat ia dikukuhkan sebagai GM penuh. Tidak ada satu pecatur elite pun yang menandingi pencapaian rekor tercepat ini sebelumnya, bahkan mantan juara dunia Garry Kasparov sekalipun.
"Anaknya benar-benar mengasyikkan," kata Anand, peringkat dua dunia mengomentari permainan Negi yang penuh perhitungan mendalam. "Untuk remaja seusianya, ia sangat mengesankan. Sangat berbakat," ujar Anand, seperti ditulis Rakesh Rao dalam koran internet tssonnet.com.
Berbicara prestasi siswa kelas delapan New Delhi’s Amity International School itu mau tidak mau harus menyebut prestasi pecatur pendahulunya seperti Anand, Harikrishna, dan Koneru Humpy.
Negi memegang norma GM pertama yang diraih di Turnamen Hastings, Januari 2006, saat berusia 12 tahun 330 hari, menghapus rekor lama yang dipegang pecatur perempuan terkuat India, Humpy, saat berusia 14 tahun 84 hari.
Negi menyamai rekor Anand dalam pencapaian dua kali norma GM berturut-turut dalam bulan yang sama. Negi melakukannya saat meraih norma GM pertama dan keduanya Januari 2006, Anand meraih norma GM kedua dan ketiganya Desember 1987.
Di negaranya, Negi memecahkan rekor Harikrishna yang menjadi GM termuda India pada usia 15 tahun 99 hari, Agustus 2001. Padahal, Harikrishna adalah pemecah rekor GM catur termuda India atas nama Anand yang meraihnya pada usia 18 tahun, tahun 1987.
Dipersiapkan
Lahir 9 Februari 1993 dari pasangan JB Singh dan Paridhi, Negi adalah pecatur yang dipersiapkan. Ia digembleng oleh pelatih bekas negara Uni Soviet, seperti Elizbar Ubilava, Alexander Goloshchapov, Evgeny Vladimirov, dan Ruslan Sherbakov. Sebelumnya, ia digembleng pelatih India, GB Joshi dan Vishal Sareen. "Saya juga pernah bekerja sama dengan Nigel Short," tutur Negi menyebut nama pecatur Inggris.
Negi yang gemar membaca, ke mana-mana membawa laptop berisi tiga juta partai dari para pecatur legendaris dunia. Ia siap menganalisis ratusan posisi setiap saat, termasuk berselancar di internet mengikuti partai-partai baru berbagai turnamen. Bank data caturnya membuat jurang antara pecatur kawakan dengan pecatur muda semakin menyempit.
Beruntung Negi mendapat kelonggaran dari sekolahnya untuk mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan mendatangkan guru privat dan meminjam catatan pelajaran dari teman. Semua biaya mengikuti turnamen ditanggung sponsor, perusahaan raksasa Tata, dan Air India. Juga sokongan dari kepala bursa efek India, Damodaran, yang gila catur.
Kejeniusan Negi ditemukan pelatih pertamanya, JB Joshi. Namun, Joshi "menyerah" karena ilmu anak didiknya terlalu maju dan menyerahkan kepelatihan kepada Vladimirov, pelatih bertangan dingin.
"Parimarjan memiliki seluruh persyaratan menjadi pecatur top dunia: bakat besar, kemampuan bekerja yang baik, dan minat sangat besar. Sering orangtuanya memanggilnya agar berhenti dulu berlatih untuk makan malam, tetapi Parimarjan selalu menjawab, ’Satu posisi lagi, please’," kenang pelatih lainnya, Sherbakov.
Fanatik masakan ibu
Uniknya, kedua orangtuanya tidak bisa bermain catur. Saat Negi berusia 4,5 tahun, teman ayahnya, Dr Vinayak Rao, memperkenalkan permainan adu pikir ini. "Sejujurnya saya tidak menyukai permainan apa pun," kata sang ayah, JB Singh.
Saat mengikuti Negi bertanding di Jerman, sang Ibu, Paridhi, mengungkapkan kepada wartawan setempat bahwa Dr Rao menghadiahi anaknya papan catur.
Selain berlatih fisik, pengagum Kasparov dan Anand ini berlatih yoga dan lari, serta berlatih catur selama empat jam sampai enam jam setiap hari. Ia fanatik pada masakan ibunya, khususnya ayam dan nasi tanak.
Dalam surat elektroniknya, Negi mengaku sangat suka membaca. Ia membaca seluruh novel Harry Potter karangan JK Rowling, Lord of the Rings karangan JRR Tolkien, bahkan Da Vinci Code karangan Dan Brown. Menjawab pertanyaan tentang pencapaian prestasinya, Negi mengaku puas. "Namun saya paham, jalan panjang masih membentang di depan," ungkapnya.
Jalan panjang itu tidak lain adalah jalan menuju juara dunia.
Pepih Nugraha
Jakarta, 20 Novermber 2006
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
7:13 PM
0
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Catur, Parimarjan Negi, Sosok
Thursday, August 24, 2006
Berbagi Pengalaman Menulis (3)
BENAR kata teori jurnalistik, menjadi wartawan itu tidak harus pintar-pintar amat, tetapi cerdik sajalah. Saat tulisan kita ditolak satu desk, bukan berarti kiamat. Wartawan harus selalu berpikir bahwa tulisannya harus dibaca pembaca, bukan editor tertentu! Jangan sakit hati tulisan kita ditolak satu editor, masih banyak editor yang lainnya.
Tetapi dalam kasus tulisan di bawah yang dimuat Kompas, 23 Agustus 2006, saya bisa memaklumi penolakan desk olahraga karena dikirim saat ramai-ramainya Piala Dunia (sepak bola) Mei-Juni lalu. Jadi, saya sendiri yang mungkin "tidak tahu diri", mengirimkan tulisan tidak tepat waktu. Hemm, jadi menyalahkan diri sendiri.
Setelah diedit ulang dan mengingat isi tulisannya masih tetap current (mutakhir) alias tidak basi, yakni
Ingat, di koran besar seperti Kompas, bersaing mendaptakan kavling (space/tempat), bukan persoalan gampang, bahkan itu untuk wartawannya sendiri! Hanya tulisan yang benar-benar layaklah yang bisa tampil. Jadi ada proses kreatif, kompetitif, dan selektif. Ini juga dimaksudkan sebagai inspirasi bagi para penulis artikel: jangan putus asa hanya karena tulisan kita ditolak satu koran, masih banyak koran lainnya.
Sahabat bisa mengikuti tulisan itu seutuhnya di sini: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/23/or/2890951.htm, atau membacanya langsung...
Bayangkan, dari tiga nomor catur yang dipertandingkan, yakni catur standar, catur cepat, dan catur kilat, semuanya harus dimainkan secara beregu. Uniknya, komposisi regu terdiri dari dua pecatur putra plus satu pecatur putri.
"Komposisi anggota tim ini paling aneh di dunia dan belum pernah dipertandingkan sebelumnya di event mana pun," kata pecatur terkuat Indonesia, Utut Adianto, saat dihubungi Kompas beberapa waktu lalu. Utut diminta tanggapannya soal akal-akalan Qatar selaku tuan rumah.
Mengapa Qatar cukup percaya diri untuk mencuri medali di cabang catur? Bukankah negara kaya minyak itu baru "anak kemarin sore" di dunia catur? Bukankah Qatar tidak memiliki pecatur kuat yang malang melintang di turnamen elite dunia? Bagaimana ia merekayasa "pencurian" medali dari cabang catur?
Jawabannya adalah naturalisasi alias menarik seorang atau beberapa pecatur menjadi warga negara Qatar!
Di media massa setempat, isu naturalisasi bukan barang baru. Untuk cabang catur, Qatar siap menggaet pecatur kuat Armenia, Vladimir Akopian. Berdasarkan daftar terbaru FIDE April 2006, pecatur berusia 35 tahun itu berada di peringkat 16 dunia dengan Elo 2706, masuk kategori Grand Master Super. Namun, tentu saja tidak cukup Akopian seorang diri, mengingat ini pertandingan catur beregu.
Lalu, siapa pecatur putri Qatar yang akan dijadikan andalan? Bukankah negara itu tidak memiliki pecatur putri yang kuat? Jawabannya Zhu Chen, pecatur kuat China yang mantan juara dunia!
Zhu Chen kini berstatus sebagai istri Mohamad al-Modiahki, pecatur kuat Qatar yang biasa menjajal turnamen-turnamen dunia bergengsi. Boleh dibilang, Qatar hanya memiliki Al-Modiahki. Memang, dalam daftar peringkat FIDE terakhir pria Arab ini terlempar dari 100 besar dunia, tetapi pengalaman internasional dan prestasinya yang pernah meraih Grand Master Super sangat menjanjikan bagi skuad Qatar.
Percintaan yang berujung pernikahan terjadi saat pria kelahiran 1974 itu menyunting Zhu Chen. Zhu yang saat ini berperingkat 10 besar dunia dengan Elo 2483, otomatis menjadi warga negara Qatar. Sebagai pecatur kuat dan mantan juara dunia putri, Zhu diandalkan sebagai tambang skor.
Terjawab sudah, mengapa Qatar begitu percaya diri merebut medali di cabang yang baru pertama kalinya dipertandingkan dalam pesta olahraga kawasan Asia itu. Kita tahu, menarik masuk pecatur sekaliber Akopian menjadi warga negara Qatar bukanlah hal mudah. Namun, dengan gelontoran uang dan fasilitas nyaman yang bisa dinikmati seumur hidup, segalanya berjalan lancar, mulus berkat aliran fulus.
Peluang merebut medali dari tiga nomor catur pun jelas menjadi sangat terbuka, sebab setiap tim bisa bermain di tiga nomor itu.
Perjuangan masuknya catur sebagai salah satu dari 33 cabang yang dipertandingkan dalam Asian Games Qatar bermula 16 Februari 2002, saat Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Sheik Ahmad al-Fahad al Sabah, yang pasti orang Arab, berkirim surat kepada Presiden Organisasi Catur Internasional (FIDE) Kirsan Ilyumzhinov agar catur dapat dipertandingkan di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ini.
Alasannya, catur merupakan permainan yang sangat digemari di kawasan Asia, apalagi catur lahir di India. Tak ayal, Presiden Komite Asian Games pun meluluskan permintaan FIDE yang memang memiliki anggota ratusan negara dunia.
Negara yang gempita menyambut diputuskannya catur sebagai salah satu cabang olahraga di Asian Games ke-15 di Doha, Qatar, 1 hingga 15 Desember 2006 mendatang itu, adalah India. Negara ini memiliki sejumlah pecatur berkelas dunia, baik di bagian putra maupun putri.
Koran berpengaruh, seperti The Hindu maupun koran virtual Rediff, menyambut senang dimasukkannya catur sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. "Percasi"-nya India, All India Chess Federation (AICF), langsung menargetkan medali dari tiga nomor cabang catur.
"Benar-benar perkembangan yang mengesankan bagi India," kata PT Ummer Koya, Sekretaris AICF sekaligus Wakil Presiden FIDE, di harian The Hindu, 17 Maret 2002. "Ini penantian panjang bagi kami para pengurus (catur) dan para pecatur India. Kami (India) yakin akan meraih medali, dan yang lebih penting catur akan dikenal lebih luas lagi," sambungnya.
Ketiga nomor cabang catur yang dipertandingkan itu ialah catur standar dengan waktu berpikir 1,5 jam plus tambahan waktu 30 detik setiap melangkah, catur cepat 25 menit plus 10 detik per langkah, dan catur kilat lima menit plus lima detik per langkah.
India yang memiliki pecatur peringkat dua dunia, Viswanathan Anand (Elo 2803), Krisnan Sasikiran (peringkat 21, ELO 2692), dan Pendyala Harikrishna (peringkat 25, ELO 2680), dua pecatur harapan Surya Sekhar Ganguly dan Parijaman Negi, serta pemain putri peringkat dua dunia Koneru Humpy (ELO 2458), jelas sangat berpeluang meraih medali di tiga nomor yang dipertandingkan.
Ancaman terbesar akan datang dari skuad China dan sejumlah negara pecahan Uni Soviet, seperti Kazakhstan dan Tajikistan. Makanya, tim India langsung mengadakan pemusatan latihan dengan mendatangkan pelatih internasional, Evgeny Vladimirov, pelatih yang pernah satu kamp dengan mantan juara dunia catur asal Rusia, Garry Kasparov.
Meski pada kejuaraan Asia di Jodhpur skuad China keluar sebagai juara, tetapi India masih bertepuk sebelah tangan. Soalnya, di kejuaraan beregu itu Viswanathan Anand tidak hadir. Yang membanggakan, harian Rediff masih menganggap tim Filipina dan Indonesia sebagai ancaman, meski kedua negara itu absen dalam kejuaraan beregu Asia itu. Menurut Rediff, Filipina dan Indonesia bukan hanya ancaman bagi India, tetapi juga bagi negara Asia lainnya.
Indonesia, sebagaimana dikatakan Utut, akan coba merebut peluang dari catur kilat. Alasannya, dia dan Susanto Megaranto terbukti telah mampu mengimbangi pecatur mana pun di catur kilat. Namun, Utut mengakui, titik lemah ada pada pemain putri Irene Kharisma, meski tidak tertutup kemungkinan pecatur belia ini membuat kejutan. "Dalam catur kilat ada faktor refleks dan luck yang bisa menentukan," ungkapnya. (PEPIH NUGRAHA)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:38 PM
0
komentar
Label: Berbagi Pengalaman Menulis, Catur, Qatar, Utut Adianto
Monday, August 14, 2006
Citizen Journalism (1):
Dua hari berturut-turut, Sabtu sampai Minggu (12-13 Agustus 2006), di Pendopo Vila Bintaro Indah (VBI), berlangsung kejuaraan catur anak-anak se-RT 02. Tak dinyana dan tak diduga, yang mendaftar cukup banyak, 18 anak! Ini karena ada dua atau tiga anak dari RT lain yang ikut turnamen catur dengan uang pendaftaran Rp 5.000 itu (setara 50 sen dollar AS).
Kejuaraan menggunakan Sistem Swiss 5 babak dengan Ketua Panitia Pak Rosal dan Ketua RT, Pak Eko. Kejuaraan layaknya turnamen betulan karena menggunakan jam catur untuk masing-masing sembilan papan! Salut buat Pak Rosal yang menyediakan jam catur berikut papan caturnya sebanyak itu, plus dua jam catur yang ada di RT 02. Pak Rosal sangat jeli, teliti, dan sabar menghitung skor akhir, bahkan sampai menggunakan Sistem Solkoff kalau ada beberapa pecatur yang meraih angka sama. Persis turnamen sungguhan, sebab ada juga panggung kehormatan bagi pemimpin teratas!
Alhasil, selama dua hari itu, 18 anak saling berhadapan di atas sembilan papan catur plus jam catur mereka masing-masing. Waktu berpikir dibatasi 25 menit untuk masing-masing pemain. Tetapi kadang baru dua menit dan baru lima langkah pun sudah ada yang teriak, “Skak mat!”. Lucunya ada juga anak, Raki namanya, masih belum bisa bagaimana cara memukul lawan. Raki memukul bidak lawan dengan cara “nyerong” seperti dam-daman. Tetapi setelah diberi tahu, Raki menurut dan melanjutkan permainan!
Satu-satunya pemain puteri adalah Rani. Maka jelaslah dia menjadi bintang turnamen. Rani juga langsung menyabet predikat: pemain tercantik! Yang mengagumkan, Rani mampu menduduki empat besar. Mestinya peringkatnya akan lebih tinggi bila pada partai terakhir mampu memetik angka. Lawannya, Farhan, yang kemudian menjadi juara dua, menahannya remis, padahal Farhan kalah jauh kualitas dari Rani. Sayang, Rani yang berpenampilan “tomboy” itu tidak melihat jebakan remis yang memang sengaja dipasang Farhan.
Dalam turnamen ini adik Farhan, Fadli, keluar sebagai juara turnamen. Pak Rosal memang melatih ketiga putera-puteranya bermain catur menggunakan jam. Alhasil, sudah sangat terlatih. Farhan dan Fadli adalah dua dari tiga puteranya yang menduduki empat besar. Sedang si bungsu, menang dua partai terakhir atas lawan-lawannya dengan mat indah.
Oh ya, sedikit cerita tentang Pak Samsir. Dia adalah satu-satunya warga VBI yang sudah bergelar Doktor yang diraihnya di salah satu universitas di Malaysia. Selamat, kami sebagai warga bangga atas gelar yang disandangnya, semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak kami di VBI!
Saat menjadi single parent seperti ini (bunda Kakang masih “nyangkut” di Surabaya), yang tersisa hanyalah rasa haru di dada saat memandang Kakang keluar mengenakan batik seragam sekolah SIT Auliya, untuk segera menuju mobil “ummi” yang sudah menunggunya di luar. Kakang anak yang tabah. Dua setengah tahun dia ditinggalkan ayahnya tugas ke Makassar, dan kini harus ditinggalkan bunda yang masih belum juga ditarik ke Jakarta. Sabar ya, Kang… anakku, matahariku….
Pepih Nugraha
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
12:31 PM
0
komentar
Label: Anak, Catur, Citizen Journalism, Vila Bintaro Indah
Thursday, August 03, 2006
Catatan (4): Slide Foto Catur
/embed>/>/>>/>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>>/>
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
4:53 PM
0
komentar
Wednesday, August 02, 2006
Catatan (2): Cinta Catur

Adalah mendiang ibuku, Ny Enok Suhayah, yang “memperkenalkan” permainan ini, meski hanya sebatas kata-kata. Itu terjadi tahun 1976, saat aku sekolah di kelas 5 SD Ciawi I, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Momen itu terjadi pada 1985. Saat itu di Bola ada pelajaran catur dasar dari Lugito Hayadi. Dia merupakan juara nasional catur surat. Orang keturunan China, tetapi hebat dalam memberikan pelajaran. Sebelumnya, berbekal pelajaran notasi dari Dadan, aku sudah mulai mempraktikkan permainan ini di atas papan catur dari rubrik catur Kompas, yang juga ditulis Lugito Hayadi, Bola waktu itu menjadi suplemen Kompas. Papan catur, waktu itu malah adikku, Dadang, yang membeli.
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
10:51 AM
1 komentar
Label: Ardiansyah, Catatan, Catur




