Showing posts with label Catur. Show all posts
Showing posts with label Catur. Show all posts

Friday, April 18, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (48)







Belajar Mencintai

BELUM banyak yang menyadari bahwa mencintai ada kaitannya dengan kelancaran seseorang dalam menulis. Mencintai di sini harus diartikan secara luas. tidak semata mencintai kekasih, anak, istri, saudara, atau orangtua semata, tetapi mencintai dalam segala hal. Termasuk mencintai belajar, mencintai koleksi, atau bahkan mencintai menulis itu sendiri. Mencintai sepenuh hati. Itulah yang ingin saya uraikan mengapa kalimat sakti ini, yakni mencintai sepenuh hati, akan melancarkan Anda dalam menulis.

Jangan jauh-jauh. Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang. Ceritakanlah tentang kekasih Anda kepada orang lain, pastilah Anda akan menceritakannya dengan lancar. Coba ambil secarik kertas, atau katakanlah buku catatan harian, lalu tuliskanlah tentang kekasih yang Anda cintai itu. Niscaya, menulis pun akan lancar, selancar bubur sumsum memasuki tenggorokan! Kecintaan kepada benda atau binatang dengan sepenuh hati, membuat tulisan penuh dengan detail yang mungkin orang lain tidak pernah pikirkan.

Satu katakunci yang ingin saya bocorkan kepada sahabat sekalian yang ingin menulis dengan lancar: cintailah masalah. Ya, masalah harus Anda cintai, bukan malah Anda hindari. Ketika Anda menulis berita, artikel atau bahkan fiksi, maka Anda dihadapkan kepada masalah-masalah. Beribu-ribu masalah. Tanpa mencintai, masuk dan terlibat dalam masalah ini, bagaimana mungkin Anda bisa lancar menulis. Bagaimana Anda bisa lancar menulis mengenai kunjungan Paus Benediktus XVI ke Amerika Serikat jika tidak mencintai ilmu hubungan internasional, jika tidak mencintai hal-hal yang bersifat keagamaan, atau tidak mencintai politik luar negeri. Di dalamnya terkandung masalah-masalah, dan Anda haris mencintai semua masalah itu.

Saya mencintai sepenuh hati permainan catur, bahkan aksesori yang berkaitan dengan hal itu seperti papan catur, bidak catur, jam catur, kehidupan para pecatur, atau bahkan buku-buku catur. Saya punya masalah ketika harus menghapal berbagai pembukaan dan pertahanan berikut varian dan sub-sub variannya dalam permainan catur, sementara hal itu saya perlukan untuk menulis. Itu semua masalah. Kalau saya menghindar dari masalah itu, maka saya saya tidak menguasai masalah itu, akibatnya saya tidak dapat menulis lancar mengenai catur.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menunjukkan satu tulisan saya sendiri mengenai sosok pecatur muda Filipina, Wesley Barbasa So, yang dimuat Harian Kompas pada 4 Januari 2008, bertepatan dengan terbitnya Kompas Update untuk pertama kalinya. Kebetulan hari ini, Jumat 18 April 2008, ada berita mengenai So yang berdwitanding dengan pecatur Indonesia, Susanto Megaranto. Bagaimana mungkin saya rela menghabiskan waktu hanya untuk larut dalam masalah percaturan catur dalam negeri Filipina kalau saya tidak mencintainya. Tulisan itu sebagai buah kecintaan saya kepada catur, maka saya menuliskannya dengan cepat, meski terkendala masalah bahan-bahan tulisan yang minim, sumber langsung yang bisa dihubungi, dan foto-foto. Tetapi itu semua tidak menghambat saya dalam menulis karena dasarnya adalah cinta. Sekali lagi cinta!

BAKAT ALAM ANTAR SO RAIH GM TERMUDA
Oleh Pepih Nugraha

Dari mana asal negara grand master atau GM catur termuda di dunia saat ini? Jawaban umum tentu dari Rusia atau negara-negara pecahannya. Keliru. Bukan pula dari Norwegia yang punya "anak ajaib" Magnus Carlsen, atau dari China dan India. Ia justru berasal dari negara tetangga, Filipina!

Dialah Wesley Barbasa So, yang melengkapi norma GM terakhirnya saat meraih remis berharga melawan pecatur nomor satu Iran, GM Ehsam Ghaem Maghami, pada babak terakhir turnamen Pichay Open di Manila, Filipina, 7 Desember 2007. Pada turnamen internasional itu, So, kelahiran 9 Oktober 1993, menoreh sejarah sebagai pecatur ketujuh termuda di dunia.

"Masayang-masaya po ako. Magandang pamasko na ito sa akin," kata So dalam bahasa Tagalog saat ia dipastikan meraih GM, yang artinya: Aku sangatberbahagia (dengan gelar GM), ini hadiah Natal yang indah buatku.

Hal yang mencengangkan, ia meraih gelar tertinggi dalam permainan olah-pikir itu saat berumur 14 tahun, 1 bulan, dan 28 hari. Memang dia tidak memecahkan rekor pecatur Ukraina, Sergey Karjakin, yang meraih GM pada usia 12 tahun. Akan tetapi, Filipina layak berbangga dengan prestasi para pecaturnya. Dua bulan sebelumnya, negeri di utara Provinsi Sulawesi Utara ini melahirkan GM lain, Darwin Laylo, pemuda berusia 27 tahun.

So tercatat sebagai pecatur ke-8 Filipina yang meraih GM setelah Eugene Torre, pecatur Filipina pertama yang meraih GM pada tahun 1974, disusul almarhum Rosendo Balinas (1976), Rogelio Antonio Jr (1998), Buenaventura "Bong" Villamayor (2000), Nelson Mariano (2004), Mark Paragua (2005), dan Darwin Laylo (2007).

Pecatur Filipina yang menjadi kolumnis dan analis, IM Rodolfo Tan Cardoso menggambarkan So sebagai "Bocah Renaisans Catur Filipina". Sebagai sesama pecatur, Cardoso punya kesan mendalam saat So bermain catur di sebuah turnamen. Katanya, So punya naluri "membunuh" raja lawan.

"Ia tidak ragu mengorbankan menterinya, sebagai buah yang paling berharga, sekadar merebut ruang gerak yang masih jauh dari kalkulasi menuju kematian raja lawan," tuturnya.

Tidak heran, saat berusia 9 tahun, So sudah menjuarai turnamen kelompok umur 14 tahun di negerinya. Pada usia 13 tahun ia juara nasional kelompok usia 20 tahun. Permainannya yang super-agresif dan liar memaksa lawan mana pun berpikir keras. Salah satu yang menjadi korbannya adalah pecatur Indonesia, GM Susanto Megaranto, yang dia kalahkan pada sebuah turnamen di Singapura akhir tahun 2006.

Tahun 2005 adalah terobosan bagi So. Saat itu, untuk pertama kalinya, FIDE, organisasi catur dunia, mengumumkan peringkat Elo-nya. Bulan Juli pada tahun yang sama, ia menjadi juara dunia kelompok usia 12 tahun. So jauh meninggalkan pecatur-pecatur lain yang lebih dulu meraih GM, seperti Parimarjan Negi dari India dan GMW Hou Yi Fan asal China.

Prestasi So pada tahun berikutnya malah lebih mengesankan. Dia membuat rekor sebagai pecatur termuda yang lolos kualifikasi mewakili negaranya pada Olimpiade Catur di Turin, Italia, saat berusia 12 tahun. Hasilnya pun mengesankan. Ia meraih master internasional sebelum merayakan ulang tahunnya yangke-13. Akhir tahun 2006 So meraih norma GM pertamanya di Bad Wiessee, Jerman, dan menang atas pecatur kuat Rusia, GM Pruskin.

Tanpa pelatih

Tidak seperti umumnya GM lain yang lahir karena gemblengan pelatih khusus, anak Filipina ini hanya mengandalkan bakat alamnya, sama seperti pecatur Tanah Air, GM Cerdas Barus, yang sosoknya kini hilang bagai ditelan Bumi. So harus belajar di sekolah menengah dan tidak ada satu sponsor pun yang sudi membiayai turnamen-turnamen yang dia ikuti.

Ia hanya mengandalkan keuletannya bermain dan mendedikasikan waktunya empat jamsehari khusus belajar catur. Dia belajar sendiri. Karena tidak punya pelatih, ia "berguru" pada program komputer catur Fritz sebelum bertarung. Jalan menuju GM tak mudah bagi So. Seharusnya ia bisa melengkapi norma GM-nya pada usia 13 tahun, tetapi kalah dari GM Belov pada babak terakhir sebuah turnamen di Manila. Ia juga gagal meraih setengah angka penting pada turnamen Zona 3.3 di Vietnam.

Dia menjuarai sejumlah turnamen di Iran, Singapura, dan Armenia. Namun, itu pun tidak cukup buat melengkapi gelarnya meski di Armenia ia berhasil mengalahkan pecatur harapan Inggris, David Howell.

Melejitnya So di kancah caturdunia mengulang masa keemasan catur Filipina saat mantan Presiden FIDE asal Filipina, Florencio Campomanes, merajai catur regional dan internasional dalam kurun waktu 1950-1970. Tahun 1978 Filipina menjadi sorotan dunia saat duel Anatoly Karpov versus Victor Korchnoi digelar di Baguio City.

Bahkan, 20 tahun sebelum China melahirkan para GM dengan subur, Filipina sudah punya pecatur legendaris GM Eugene Torre, yang tercatat sebagai GM Asia pertama! Saat itu Filipina juga punya pecatur kuat, GM Rosendro Balinas. Juara dunia catur Viswanathan Anand tidak menyangkal kalau ia belajar dari Torre dan Campomanes lewat program televisi saat Anand mengikuti ayahnya bertugas di Filipina. Tentu yang paling bangga dengan prestasi So adalah orangtuanya, William (sang ayah) dan Eleanor So (sang ibu).

"Saya pernah mengajarinya catur saat ia berusia enam tahun," ucap William yang pernah menjadi sopir bus sekolah. "Sekarang So maju pesat karena bermain catur dengan penuh dedikasi dan benar-benar mencintai permainan ini," tambah William sebagaimana dikutip harian setempat, Star.

"Ini mimpi yang menjadi kenyataan buat Wesley," kata Eleanor tentang anak kedua dari tiga anaknya. "Kami merasa senang karena doa kami dikabulkan. Kami sangat berterima kasih, kerja keras dan dedikasinya untuk catur berbuah penghargaan."

Meski So sudah meraih gelar GM, sang Ibu tetap menghendaki anaknya menjalani kehidupan "normal" sebagaimana remaja seusianya. Selain itu, ia juga berharap ada pelatih lanjutan untuk lebih mengasah kemampuan So bermain catur.

Bagi So, menjadi juara dunia sebagaimana harapan setiap pecatur bisa jadi masih jauh. Namun, setidaknya modal dasar untuk menuju ke sana sudah di genggamannya.

Catatan:
Tulisan mengenai profil Wesley Barbasa So pada hari yang sama juga saya unggah (upload) ke blog saya lainnya khusus mengenai catur, yakni SpiderChess yang beralamat di http://www.youchess.blogspot.com/.

Wednesday, May 23, 2007

Catatan (18): Mengisi Waktu Luang





Catur Bart Simpson



SUDAH lama mengincar catur “The Simpsons” (Keluarga Simpsons) di salah satu toko Bintaro Plaza untuk saya jadikan koleksi terbaru. Sekadar klangenan alias untuk main-main atau senang-senang saja. Sayang, catur berisi tokoh Keluarga Simpsons dengan ikon Bart Simpson itu terjual cepat. Rupanya banyak juga peminat Bart.



Saya tidak tahu apakah pembeli itu meminati Bart sebagai tokoh lucu atau meminati papan catur dan buahnya sebagai koleksi. Bagi saya, jelaslah yang terakhir.



Saya tidak terlalu suka Bart Simpson dan keluarganya, tetapi menjadi suka tatkala keluarga itu dijadian buah catur. Warna-warni lagi. Maka ketika di toko lain saya temukan catur “The Simpsons”, saya langsung membelinya. Tidak terlalu mahal, sebab ada diskon 10 persen. Soalnya pada hari yang sama di toko interior, saya menemukan papan dan buah catur unik, tetapi harganya nyaris menyentuh angka satu juta rupiah. Terlalu tinggi buat kantong saya.



Dengan demikian, “The Simpsons” menjadi penghuni terbaru koleksi papan dan buah catur saya. Ia segera menghuni lemari kaca bertingkat tujuh yang sengaja saya buat untuk memajang koleksi saya. Lemari kaca itu berada di bawah tangga dengan bentuk yang mengikuti luasan tangga di atasnya. Keenam sekatnya juga terbuat dari kaca, sehingga transparan saat lampu sorot di bagian atas lemari dinyalakan.



Sebelum “The Simpsons” datang, penghuni terbaru lemari kaca itu ialah catur mungil terbuat dari bahan kaca warna-warni. Indah sekali. Apalagi kalau tersorot cahaya lampu (lihat foto bawah).




Setiap hari, sebelum atau sehabis bekerja, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati benda-benda tidak bergerak hasil kreasi berbagai bangsa itu. Memang kalau kebetulan ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri untuk mencari papan dan buah catur yang unik-unik. Tentu saja koleksi saya itu murah meriah, terjangkau koceklah, sekalipun harus saya beli di luar negeri. Tetapi, catur lokal seperti dari Bali, Pasuruan, Klaten, dan Yogyakarta, pun tidak kalah uniknya.



Kembali ke “The Simpsons”. Bart, ikon utama kartun itu, dalam catur seri Keluarga Simpsons menjadi bidaknya. Artinya, seluruh tokoh Bart ada 16, masing-masing delapan dengan warna hijau melawan biru. Grampa Simpson menjadi dua benteng yang mengapit seluruh perwira, ratu dan raja di belakang Bart. Kuda diperankan Maggie Simpson yang benar-benar sedang naik kuda. Pengen tertawa melihatnya. Lisa Simpson bertindak selaku gajah. Ratu diperankan Marge Simpson dan Raja Homer Simpson. Yah, mereka memang sekeluarga!

Tuesday, May 15, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (21)



Merekam Suasana




KETIKA kita tidak dapat memotret detail suasana rumah Farid Firman Syah, juara dunia catur KU 15, saya tidak harus kecewa. Bagaimanapun, tulisan itu harus jadi. Jangan hanya terhenti hanya karena kita tidak bisa merekam suasana rumahnya yang dianggap dramatis, kontras, karena Farid anak seorang tukang rokok.


Kita juga tidak bisa memaksakan diri kalau sumber kita, yakni Farid dan keluarganya, hanya bisa bertemu hari Kamis (10/5) di Kantor PB Percasi di Senayan, Jakarta, sebelum ia bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di Istana.


Sejujurnya, saya tidak tahu kalau Farid diundang Presiden dan Wapres untuk makan siang di Istana, dua jam sebelum wawancara dengan saya dimulai. Itupun saya tahu saat wawancara sedang berlangsung. Mulailah insting saya menangkap "sesuatu" yang bisa saya kembangkan sebagai awal sebuah tulisan. Tidak harus menunggu lama, saya langsung bertanya kepada Farid, "Apa pendapatmu mengenai Presiden SBY?" Maka, keluarlah jawabanya yang lugu dan apa adanya, yang kemudian saya jadikan awal tulisan untuk rubrik Sosok di Kompas.


Selagi saya mewawancarainya, saya tangkap suasana Kantor PB Percasi itu. Ada orang-orang Percasi, ada staf Humas Percasi MN Sebastian Simanjuntak, ada pelatih catur yang bergelar master nasional, ada Amaroh ibunda Farid, ada Abrori ayahanda Farid, dan Faria Desi Arianda adik Farid. Tentu saja saya tahu nama-nama mereka setelah saya bertanya langsung kepada Farid siapa mereka.


Tulisan saya pasti tidak hanya berisi wawancara Farid semata yang membuat tulisan menjadi kering dan tidak menggairahkan, tetapi semua yang melintas dalam pikiran saya. Saya rekam semua aktivitas mereka dalam ingatan saya, dalam coretan di notes saya, dan saya sudah punya rancangan kasar penulisan sebelum wawancara usai!


Bagaimana kemudian jadinya tulisan itu, sahabat bisa membacanya di bawah ini, sebuah tulisan sosok yang dimuat Kompas, Senin (14/5). Tulisan untuk blog ini dilengkapi foto karya kawan saya, Humas PB Percasi Kristianus Liem. Sahabat juga bisa membacanya di alamat: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/14/Sosok/3527793.htm




Anak Pecatur Lapak yang Menjadi Juara Dunia

PEPIH NUGRAHA


"Saya suka Pak SBY karena dia gagah." Itu penilaian Farid mengenai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Nama lengkapnya Farid Firman Syah. Dialah juara dunia catur pelajar kelompok usia 15 di Halkidiki, Yunani.



Kami menemuinya, Kamis (10/5) di Kantor PB Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Senayan, Jakarta, satu jam sebelum ia ke Istana. Bertemu orang nomor satu di negeri ini menjadi kebanggaan sebagian orang, termasuk Farid, siswa kelas II SMP PGRI Rawalumbu Bekasi.



"Mimpi pun tidak bakal bertemu Pak SBY, saya cuma melihatnya dari teve," katanya. Saat itu Farid mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan celana jins. Mata kanannya agak merah. Kena angin, katanya.



"Mau ketemu Presiden kok pakai jins. Kami belikan dulu celananya," salah seorang pengurus Percasi mengingatkan. Tetapi, ibunda Farid, Amaroh, meminta izin untuk membawa Farid berganti pakaian. "Saya bawakan dia baju resmi dari Bekasi," katanya.



Tak sampai 10 menit, Farid sudah mengenakan setelan jas hitam, siap berangkat ke Kantor Menpora sebelum bersama Menpora Adhyaksa Dault diantar ke Istana. Hari itu sang juara dunia diantar lengkap sang ibu, Amaroh; ayah, Abrori; adik, Faria Desi Arianda; dan pengurus Percasi Bekasi. Mereka makan siang bersama Presiden dan Wakil Presiden.



Farid, yang 26 November 2007 nanti genap berusia 14 tahun, adalah satu dari tiga juara dunia catur yang dimiliki Indonesia. Sebelumnya ada Irwin Irnandi juara dunia kelompok umur (KU) 10 dan Aston Taminsyah juara dunia KU 9. Farid juara dunia catur pelajar KU 15. Memang ada perbedaan dengan Irwin dan Aston yang juara dunia tanpa embel-embel "pelajar".



"Tetapi, meski juara dunia pelajar, lawan-lawan yang dikalahkan Farid di Halkidiki memiliki elo rating tinggi," kata Sebastian Simanjuntak, manajer merangkap pelatih yang menemani Farid ke Halkidiki.



PB Percasi kali ini tak hanya mengirim Farid. Ada Masruri Rahman dan Chelsie Monica Sihite. Rahman mampu menduduki peringkat ketiga di KU 11, di bawah Yuksel Atila Koksel dari Turki dengan 7,5 poin, dan Maxim Lugovskoy dari Rusia dengan 7 poin.



Anak sopir bajaj ini juga mengumpulkan 7 poin, tetapi kalah dalam nilai tie-break yang dihitung berdasarkan hasil head to head, di mana Masruri dikalahkan Maxim pada babak kedua. Satu lagi kekalahan Masruri diderita dari sang juara Koksel.



Masruri juga diundang ke Istana bersama Farid. Dia sempat nyaris ditolak protokol karena mengenakan sandal jepit!



Pecatur lain, Chelsie Monica Sihite, bermain di KU 13 putri dan mampu menduduki peringkat keenam. Chelsie yang asal Balikpapan mencetak 5,5 angka. Di kelompok ini gelar juara disabet Baciu Diana dari Moldova dengan 7,5 poin.



Bagaimana dengan prestasi Farid, bocah yang bergelar master nasional sejak usia 12? Boleh dibilang luar biasa sebab baru dialah yang melakukannya.



Murid Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) itu sudah memastikan diri menjadi juara dunia satu babak sebelum babak terakhir. Ini karena angka yang dia kumpulkan tak mungkin dilampaui peserta lain sekalipun ia kalah pada babak terakhir. Hebatnya, ia justru menggilas musuhnya tanpa ampun di babak terakhir itu.



Simanjuntak menggambarkan bagaimana tercekamnya kubu Indonesia saat harus menghadapi babak delapan. Bila Farid sampai kalah, hapuslah harapannya sebagai juara dunia karena mungkin ia kalah head to head atas saingan terdekatnya, pecatur Yunani. Ini suasana yang menegangkan dan bikin pikiran buyar. "Tetapi saya main plong saja," ungkap Farid.



Alhasil, setelah menyelesaikan semua sembilan babak, Farid unggul satu setengah angka dari peringkat kedua dan ketiga, yaitu Mustafa Yilmaz dari Turki dan Ivan Aldokhin dari Rusia, yang membukukan 7 angka. Ia mencetak delapan kemenangan dan hanya sekali seri. Padahal, di KU 15 tahun ini terdapat 56 pecatur dari 14 negara!



Telat



Farid termasuk telat mengenal catur, yakni saat usia delapan tahun pada tahun 2001. Bandingkan dengan GM Susanto Megaranto yang bermain catur sejak usia lima tahun. Ia baru dimasukkan ayahnya, Abrori, setahun kemudian. Sang ayahlah yang mulai mengajarkan dasar- dasar catur kepadanya.



"Saya ini sekadar pecatur lapak. Tetapi, saat saya mau menyekolahkan Farid di sekolah catur Pak Utut, saya ragu karena gedungnya bagus, bayarannya mahal, Rp 75.000 sebulan. Beruntung saya dapat diskon 10 persen, tetapi itu pun saya harus puasa," kata Abrori, pedagang rokok asal Tegal yang mangkal 24 jam di depan SCUA, Jalan Siliwangi, Bekasi.



Abrori dan istrinya, Amaroh, yang asal Kendal, mendukung sepenuhnya Farid bermain catur. Ia berharap suatu saat anaknya dapat meraih gelar grand master, gelar tertinggi dalam catur. Simanjuntak tak meragukan tekad Farid yang ingin meraih gelar itu. Tetapi, mantan pecatur nasional ini memperkirakan Farid baru bisa meraih gelar terhormat itu empat atau lima tahun lagi. "Ia masih harus dibekali pengetahuan catur yang matang," ujarnya.



Farid berterima kasih kepada kepala sekolahnya, Gaya Sutardi, yang memberikan kompensasi waktu untuk belajar catur. Gemblengan terhadap Farid memang berat. Setiap hari ia harus belajar teori dan praktik bermain catur mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Ia, antara lain, dilatih FM Maksum Firdaus, GM Edie Handoko, GM Utut Adianto, dan MN Aji Hartono. Simanjuntak yang juga melatihnya berkomentar, "Farid punya talenta luar biasa, mungkin akan seperti Susanto."



Susanto Megaranto adalah pecatur idola Farid, selain Utut. Bahkan, ia mengaku motivasinya ingin menjadi pecatur sehebat Susanto. "Ia (Susanto) punya mobil dan rumah dari main catur. Kalau saya ingin membantu orangtua," katanya.



Tentang membantu orangtua, Farid mungkin telah melakukannya. Saat pertama kali bermain di luar negeri, yakni Thailand, dan meraih medali perak kejuaraan beregu ASEAN, Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih menghadiahinya Rp 10 juta. Menurut Abrori, uang itu ia belikan laptop yang oleh Kristianus Liem dari PB Percasi diisi berbagai program dan database catur. "Setelah punya laptop, kemajuan anak saya meningkat pesat," tutur Abrori.



Atas prestasinya menjadi juara dunia, saat diundang ke Istana, Presiden memberi Farid uang Rp 25 juta, plus dari Wapres Rp 10 juta. Oleh PB Percasi, Farid diproyeksikan meraih grand master. Ia, misalnya, akan menjalani delapan turnamen di Eropa pada Juni-Juli mendatang.


Soal target tersebut, Farid berkomentar, "Insya Allah saya bisa."

Friday, May 11, 2007

Catatan (17): Profil Farid Firman Syah



Juara Dunia Yang Rendah Hati



KAMIS, 10 Mei kemarin seharusnya saya berada di Semarang, mewakili Harian Kompas untuk bertanding catur melawan GM Utut Adianto. Tentu saja Utut yang akan melakukan simultan, sementara saya hanyalah salah satu dari sekian puluh pecatur yang akan mengeroyok Utut. Saat saya bertugas di Surabaya tahun 2005 dan sebelumnya di Jakarta tahun 1992, saya juga pernah melawan Utut. Dari dua pertandingan itu, tentu saja saya dilibas habis tanpa ampun.



Adalah Mbak Retno Bintarti, Sekretaris Redaksi, yang meminta saya ke Semarang saat mengantar undangan ke meja. "Kan hanya kamu yang bisa ngelawan Utut. Pertimbangan saja, kalau bisa kamu berangkat, kalau tidak ya nggak apa-apa," katanya tiga minggu lalu.



Tentu saja saya bukan pembangkang kalau kemudian tidak berangkat ke Semarang. Saya memilih tetap di Jakarta, tetapi saya juga berkegiatan masih dalam urusan catur, yakni mewawancarai MN Farid Firman Syah. Siapakah dia?
Usianya belum genap 14 tahun, tetapi dia sudah menjadi juara dunia catur pelajar Kelompok Umur (KU) 15 di Halkidiki, Yunani. Saya mewawancarainya di Kantor PB Percasi di Pintu VI Senayan, Jakarta. Saya pikir, pantaslah kalau saya membuat biografi dia untuk boks halaman Kompas. Bayangkan, anak tukang rokok yang menjadi juara dunia!



Kepada MN Sebastian Simanjuntak yang memfasilitasi saya untuk bertemu Farid, semula saya ingin bertandang ke rumah orangtua Farid di Bekasi. Tetapi karena kebetulan Farid dan keluarga diundang makan siang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, Simanjuntak menyarankan agar bertemu langsung Farid dua jam sebelum ia ke Istana. Saya setuju saja, tetapi sebenarnya saya ingin melihat rumah orangtua Farid yang pedagang rokok itu di Bekasi. Saya ingin menggambarkan suasana rumah konrakannya biar tertangkap dalam tulisan saya. Siapa tahu bisa memperkaya tulisan.



Apa boleh buat, yang penting saya bisa berhadapan dengan seorang juara dunia asal Indonesia. Sahabat bisa melihat foto Farid di atas, karya MN Sebastian Simanjuntak, yang dikirim langsung dari Halkidiki, Yunani.



Bagaimana kiat mewawancarai anak-anak atau remaja, bagaimana hasil tulisan itu kemudian, dan bagaimana saya bisa menyimpulkan si juara dunia itu rendah hati? Kelak uriannya akan saya postingkan dalam kesempatan lain, jika tulisannya sudah dimuat di Harian Kompas. Sekarang, saya sudah menyelesaikan tahap akhir tulisan tentang Si Juara Dunia itu, tinggal mengirimkannya ke penanggung jawab Sosok, Mbak Chris Pujiastuti. Tunggu saja, ya...

Monday, November 20, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (15)



Sekecil Apapun, Pasti Bermanfaat

Akhir Oktober 2006 lalu, beberapa hari setetelah lebaran , saya bertemu beberapa orang geolog di Museum Geologi, Bandung. Satu di antaranya adalah Bunyamin. Pertemuan dengannya tidak sengaja, setelah diperkenalkan oleh tuan rumah. Barulah kemudian saya tahu, dia adalah salah satu pecatur Bandung bergelar Master Nasional tetapi sudah tidak aktif lagi bermain catur.

“Sekarang saya hanya mengajar dan melatih catur kepada anak-anak di sela-sela kesibukan saya bekerja,” kata Bunbun, demikian ia biasa dipanggil, saat bicara kegiatan caturnya.

Berbicara catur dengannya serba nyambung, maklum tingkatannya sudah master nasional, meski sudah tidak aktif bertanding lagi. Saya pribadi selalu menyimpan kekaguman dengan para pecatur yang memiliki pikiran canggih itu. Membandingkan dengan diri sendiri, pastilah Master Percasi pun saya tidak sampai. Hanya karena suka baca dan menulis saja saya mengakrabi catur.

Satu hal yang membuat saya terpana adalah penjelasannya di sela-sela ngobrol bertemankan teh hangat. Katanya, “Saya selalu mengkliping tulisan catur Kang Pepih di Kompas.”

Ah yang benar saja, pasti Kang Bunbun ngabojeg (humor). “Setelah saya kliping dengan rapi, saya tempelkan di kelas catur saya biar anak-anak membacanya juga, siapa tahu menjadi inspirasi bagi mereka,” katanya lagi. Alangkah terharu saya mendengarnya!

Saya tidak menyangka sedikitpun bahwa tulisan catur yang entah sudah berapa ratus saya bikin itu ternyata bisa sangat bermanfaat buat sebagian pembaca, tepatnya buat pembaca yang khusus, seperti komunitas catur itu. Soalnya saya pernah “diingatkan” oleh seorang rekan wartawan untuk segera beralih ke menulis hal lain selain catur. “Tulisan catur itu tidak ada yang baca, tidak bergengsi lagi,” pesannya.

Saya tahu dia memang wartawan hebat yang selau menulis analisis ekonomi atau bahkan ekonomi internasional. Apa yang dia katakan bahwa saya harus menulis hal lain selain catur, ada benarnya. Mungkin agar pikiran saya lebih terbuka. Tetapi, bukansaya saya sudah menulis berbagai hal lain itu?

Saya kira kritikan itu konstruktif. Tetapi saya bertekad tetap tidak meninggalkan kegemaran saya, menulis tentang catur. Apa saja, apakah itu analisis, suatu turnamen atau dwitarung antarmanusia atau manusia lawan komputer, sampai ke biografi para pecatur ternama tingkat nasional maupun internasional.

Belum lagi saya selesai mencerna pikiran saya yang mengembara kemana-mana, Bunbun melanjutkan, “Terakhir saya kliping dan tempelkan artikel Akang tentang Parimarjan Negi, pecatur India yang sedang menanjak.”

Segera saya teringat tentang biografi Parimarjan Negi yang saya tulis di Kompas, 27 September 2006 halaman 16.

Barangkali yang ingin saya katakan di sini, saya tidak semata-mata menulis tentang Parimarjan, tetapi bagaimana menghadirkan tulisan itu. Selain menggunakan bahan-bahan sumber kedua dari buku maupun penelusuran internet, mempelajari gaya permainannya, juga saya ingin mendapatkan informasi langsung dari yang berangkutan.

Saya menemukan alamat Parimarjan Negi di situs resmi FIDE. Informasi di situs itu juga mencantumkan nomor telepon rumah orangtua Parimarjan di New Delhi. Saya minta bantuan operator Kompas karana ini masalah profesionalisme, masalah kerjaan. Tidak berapa lama telepon bersambung. Tetapi yang mengangkat seorang perempuan dalam bahasa Hindi. Wah, mana mengerti saya bahasa itu kecuali beberapa kata seperti “Nehi” (tidak), “Tum haare” (kamu adalah), atau “Acah” (jangan).

Karena ponsel ayah Parimarjan tidak aktif, maka saya mengirim imel kepadanya agar bisa mendapat akses berbicara langsung, setidak-tidaknya, berkirim daftar pertanyaan untuk dijawab di imel. Di luar dugaan, ayah Parimarjan sangat responsif. Dia memberi alamat anaknya itu. Mulailah saya menyusun daftar pertanyaan yang saya perlukan untuk menulis tentangnya dan mengirimkannya segera kepada Parimarjan Negi. Tentu saja dalam bahasa yang sedikit saya kuasai, Inggris. Tidak berapa lama kemudian, saya mendapat jawaban langsung Parimarjan Negi.

Sekarang saya boleh berbangga diri, saya bisa mengutip pernyataannya langsung dari mulutnya sendiri, tidak lagi dari sumber kedua atau ketiga. Terima kasih teknologi!

Sahabat dapat mengikuti tulisan saya di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/27/Sosok/2967237.htm7/Sosok/2967237.htm , atau langsung membacanya di bawah ini…



Parimarjan Negi, Ikon Baru India
PEPIH NUGRAHA

Menelepon langsung ke rumah orangtuanya di New Delhi, jawaban yang diberikan dalam bahasa Hindi. Mencoba mengontak melalui nomor telepon ayahnya, tidak berbalas. Jawaban baru diberikan saat kami berkirim pesan melalui surat elektronik dua minggu lalu.

"Oke, saya segera sampaikan keinginan Anda kepada anak saya untuk wawancara. Kirim pertanyaan dan tunggu jawabannya segera!" kata JB Singh, ayah bintang baru yang sedang bersinar cemerlang, Parimarjan Negi. Siapakah Parimarjan Negi?

Dia adalah grand master (GM) catur termuda dunia dan juga termuda sepanjang sejarah catur India, memecahkan rekor pendahulunya di India: Viswana- than Anand dan Pendyala Harikrishna. Di tingkat dunia, Negi memecahkan rekor yang dipegang anak jenius Norwegia, Magnus Carlsen.

Jika Carlsen menjadi GM pada usia 13 tahun 147 hari, rekor ini dipecahkan Negi dengan selisih lima hari, yakni 13 tahun 142 hari. Pemecah rekor GM termuda sepanjang sejarah memang masih dipegang Sergey Karjakin, yang meraihnya pada usia 12 tahun 7 bulan. Akan tetapi, kini "anak ajaib" Ukraina itu sudah berusia 16,5 tahun.

Hebatnya lagi, norma GM pertama sampai ketiga dia raih dalam waktu enam bulan, terhitung sejak Januari tahun ini sampai 1 Juli lalu saat ia dikukuhkan sebagai GM penuh. Tidak ada satu pecatur elite pun yang menandingi pencapaian rekor tercepat ini sebelumnya, bahkan mantan juara dunia Garry Kasparov sekalipun.

"Anaknya benar-benar mengasyikkan," kata Anand, peringkat dua dunia mengomentari permainan Negi yang penuh perhitungan mendalam. "Untuk remaja seusianya, ia sangat mengesankan. Sangat berbakat," ujar Anand, seperti ditulis Rakesh Rao dalam koran internet tssonnet.com.

Berbicara prestasi siswa kelas delapan New Delhi’s Amity International School itu mau tidak mau harus menyebut prestasi pecatur pendahulunya seperti Anand, Harikrishna, dan Koneru Humpy.

Negi memegang norma GM pertama yang diraih di Turnamen Hastings, Januari 2006, saat berusia 12 tahun 330 hari, menghapus rekor lama yang dipegang pecatur perempuan terkuat India, Humpy, saat berusia 14 tahun 84 hari.

Negi menyamai rekor Anand dalam pencapaian dua kali norma GM berturut-turut dalam bulan yang sama. Negi melakukannya saat meraih norma GM pertama dan keduanya Januari 2006, Anand meraih norma GM kedua dan ketiganya Desember 1987.

Di negaranya, Negi memecahkan rekor Harikrishna yang menjadi GM termuda India pada usia 15 tahun 99 hari, Agustus 2001. Padahal, Harikrishna adalah pemecah rekor GM catur termuda India atas nama Anand yang meraihnya pada usia 18 tahun, tahun 1987.
Dipersiapkan

Lahir 9 Februari 1993 dari pasangan JB Singh dan Paridhi, Negi adalah pecatur yang dipersiapkan. Ia digembleng oleh pelatih bekas negara Uni Soviet, seperti Elizbar Ubilava, Alexander Goloshchapov, Evgeny Vladimirov, dan Ruslan Sherbakov. Sebelumnya, ia digembleng pelatih India, GB Joshi dan Vishal Sareen. "Saya juga pernah bekerja sama dengan Nigel Short," tutur Negi menyebut nama pecatur Inggris.

Negi yang gemar membaca, ke mana-mana membawa laptop berisi tiga juta partai dari para pecatur legendaris dunia. Ia siap menganalisis ratusan posisi setiap saat, termasuk berselancar di internet mengikuti partai-partai baru berbagai turnamen. Bank data caturnya membuat jurang antara pecatur kawakan dengan pecatur muda semakin menyempit.

Beruntung Negi mendapat kelonggaran dari sekolahnya untuk mengikuti berbagai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri, dan mengejar ketinggalan pelajarannya dengan mendatangkan guru privat dan meminjam catatan pelajaran dari teman. Semua biaya mengikuti turnamen ditanggung sponsor, perusahaan raksasa Tata, dan Air India. Juga sokongan dari kepala bursa efek India, Damodaran, yang gila catur.

Kejeniusan Negi ditemukan pelatih pertamanya, JB Joshi. Namun, Joshi "menyerah" karena ilmu anak didiknya terlalu maju dan menyerahkan kepelatihan kepada Vladimirov, pelatih bertangan dingin.

"Parimarjan memiliki seluruh persyaratan menjadi pecatur top dunia: bakat besar, kemampuan bekerja yang baik, dan minat sangat besar. Sering orangtuanya memanggilnya agar berhenti dulu berlatih untuk makan malam, tetapi Parimarjan selalu menjawab, ’Satu posisi lagi, please’," kenang pelatih lainnya, Sherbakov.

Fanatik masakan ibu

Uniknya, kedua orangtuanya tidak bisa bermain catur. Saat Negi berusia 4,5 tahun, teman ayahnya, Dr Vinayak Rao, memperkenalkan permainan adu pikir ini. "Sejujurnya saya tidak menyukai permainan apa pun," kata sang ayah, JB Singh.

Saat mengikuti Negi bertanding di Jerman, sang Ibu, Paridhi, mengungkapkan kepada wartawan setempat bahwa Dr Rao menghadiahi anaknya papan catur.
Selain berlatih fisik, pengagum Kasparov dan Anand ini berlatih yoga dan lari, serta berlatih catur selama empat jam sampai enam jam setiap hari. Ia fanatik pada masakan ibunya, khususnya ayam dan nasi tanak.


Dalam surat elektroniknya, Negi mengaku sangat suka membaca. Ia membaca seluruh novel Harry Potter karangan JK Rowling, Lord of the Rings karangan JRR Tolkien, bahkan Da Vinci Code karangan Dan Brown. Menjawab pertanyaan tentang pencapaian prestasinya, Negi mengaku puas. "Namun saya paham, jalan panjang masih membentang di depan," ungkapnya.

Jalan panjang itu tidak lain adalah jalan menuju juara dunia.

Pepih Nugraha
Jakarta, 20 Novermber 2006

Thursday, August 24, 2006

Berbagi Pengalaman Menulis (3)

Yang Penting Cerdik

BENAR kata teori jurnalistik, menjadi wartawan itu tidak harus pintar-pintar amat, tetapi cerdik sajalah. Saat tulisan kita ditolak satu desk, bukan berarti kiamat. Wartawan harus selalu berpikir bahwa tulisannya harus dibaca pembaca, bukan editor tertentu! Jangan sakit hati tulisan kita ditolak satu editor, masih banyak editor yang lainnya.

Tetapi dalam kasus tulisan di bawah yang dimuat Kompas, 23 Agustus 2006, saya bisa memaklumi penolakan desk olahraga karena dikirim saat ramai-ramainya Piala Dunia (sepak bola) Mei-Juni lalu. Jadi, saya sendiri yang mungkin "tidak tahu diri", mengirimkan tulisan tidak tepat waktu. Hemm, jadi menyalahkan diri sendiri.

Setelah diedit ulang dan mengingat isi tulisannya masih tetap current (mutakhir) alias tidak basi, yakni
tentang catur sebagai salah satu cabang baru di Asian Games Qatar Desember mendatang, maka editor lain melihatnya sebagai layak untuk dimuat di Kompas. Apalagi sebelumnya saya sudah menghubungi Utut Adianto, pecatur terbaik Indonesia lewat handphone.

Ingat, di koran besar seperti Kompas, bersaing mendaptakan kavling (space/tempat), bukan persoalan gampang, bahkan itu untuk wartawannya sendiri! Hanya tulisan yang benar-benar layaklah yang bisa tampil. Jadi ada proses kreatif, kompetitif, dan selektif. Ini juga dimaksudkan sebagai inspirasi bagi para penulis artikel: jangan putus asa hanya karena tulisan kita ditolak satu koran, masih banyak koran lainnya.

Sahabat bisa mengikuti tulisan itu seutuhnya di sini: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/23/or/2890951.htm, atau membacanya langsung...

Awas Akal-akalan Qatar!

Sebagai tuan rumah, ada saja akal-akalan untuk "mencuri" medali dari cabang olahraga yang dipertandingkan. Qatar sebagai tuan rumah Asian Games ke-15 Desember mendatang, cukup jeli menerapkan ilmu akal-akalannya ini.

Bayangkan, dari tiga nomor catur yang dipertandingkan, yakni catur standar, catur cepat, dan catur kilat, semuanya harus dimainkan secara beregu. Uniknya, komposisi regu terdiri dari dua pecatur putra plus satu pecatur putri.

"Komposisi anggota tim ini paling aneh di dunia dan belum pernah dipertandingkan sebelumnya di event mana pun," kata pecatur terkuat Indonesia, Utut Adianto, saat dihubungi Kompas beberapa waktu lalu. Utut diminta tanggapannya soal akal-akalan Qatar selaku tuan rumah.

Mengapa Qatar cukup percaya diri untuk mencuri medali di cabang catur? Bukankah negara kaya minyak itu baru "anak kemarin sore" di dunia catur? Bukankah Qatar tidak memiliki pecatur kuat yang malang melintang di turnamen elite dunia? Bagaimana ia merekayasa "pencurian" medali dari cabang catur?

Jawabannya adalah naturalisasi alias menarik seorang atau beberapa pecatur menjadi warga negara Qatar!

Di media massa setempat, isu naturalisasi bukan barang baru. Untuk cabang catur, Qatar siap menggaet pecatur kuat Armenia, Vladimir Akopian. Berdasarkan daftar terbaru FIDE April 2006, pecatur berusia 35 tahun itu berada di peringkat 16 dunia dengan Elo 2706, masuk kategori Grand Master Super. Namun, tentu saja tidak cukup Akopian seorang diri, mengingat ini pertandingan catur beregu.

Lalu, siapa pecatur putri Qatar yang akan dijadikan andalan? Bukankah negara itu tidak memiliki pecatur putri yang kuat? Jawabannya Zhu Chen, pecatur kuat China yang mantan juara dunia!

Zhu Chen kini berstatus sebagai istri Mohamad al-Modiahki, pecatur kuat Qatar yang biasa menjajal turnamen-turnamen dunia bergengsi. Boleh dibilang, Qatar hanya memiliki Al-Modiahki. Memang, dalam daftar peringkat FIDE terakhir pria Arab ini terlempar dari 100 besar dunia, tetapi pengalaman internasional dan prestasinya yang pernah meraih Grand Master Super sangat menjanjikan bagi skuad Qatar.

Percintaan yang berujung pernikahan terjadi saat pria kelahiran 1974 itu menyunting Zhu Chen. Zhu yang saat ini berperingkat 10 besar dunia dengan Elo 2483, otomatis menjadi warga negara Qatar. Sebagai pecatur kuat dan mantan juara dunia putri, Zhu diandalkan sebagai tambang skor.

Terjawab sudah, mengapa Qatar begitu percaya diri merebut medali di cabang yang baru pertama kalinya dipertandingkan dalam pesta olahraga kawasan Asia itu. Kita tahu, menarik masuk pecatur sekaliber Akopian menjadi warga negara Qatar bukanlah hal mudah. Namun, dengan gelontoran uang dan fasilitas nyaman yang bisa dinikmati seumur hidup, segalanya berjalan lancar, mulus berkat aliran fulus.

Peluang merebut medali dari tiga nomor catur pun jelas menjadi sangat terbuka, sebab setiap tim bisa bermain di tiga nomor itu.

Perjuangan masuknya catur sebagai salah satu dari 33 cabang yang dipertandingkan dalam Asian Games Qatar bermula 16 Februari 2002, saat Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Sheik Ahmad al-Fahad al Sabah, yang pasti orang Arab, berkirim surat kepada Presiden Organisasi Catur Internasional (FIDE) Kirsan Ilyumzhinov agar catur dapat dipertandingkan di pesta olahraga bangsa-bangsa Asia ini.

Alasannya, catur merupakan permainan yang sangat digemari di kawasan Asia, apalagi catur lahir di India. Tak ayal, Presiden Komite Asian Games pun meluluskan permintaan FIDE yang memang memiliki anggota ratusan negara dunia.
Peluang Indonesia

Negara yang gempita menyambut diputuskannya catur sebagai salah satu cabang olahraga di Asian Games ke-15 di Doha, Qatar, 1 hingga 15 Desember 2006 mendatang itu, adalah India. Negara ini memiliki sejumlah pecatur berkelas dunia, baik di bagian putra maupun putri.
Koran berpengaruh, seperti The Hindu maupun koran virtual Rediff, menyambut senang dimasukkannya catur sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. "Percasi"-nya India, All India Chess Federation (AICF), langsung menargetkan medali dari tiga nomor cabang catur.

"Benar-benar perkembangan yang mengesankan bagi India," kata PT Ummer Koya, Sekretaris AICF sekaligus Wakil Presiden FIDE, di harian The Hindu, 17 Maret 2002. "Ini penantian panjang bagi kami para pengurus (catur) dan para pecatur India. Kami (India) yakin akan meraih medali, dan yang lebih penting catur akan dikenal lebih luas lagi," sambungnya.
Ketiga nomor cabang catur yang dipertandingkan itu ialah catur standar dengan waktu berpikir 1,5 jam plus tambahan waktu 30 detik setiap melangkah, catur cepat 25 menit plus 10 detik per langkah, dan catur kilat lima menit plus lima detik per langkah.

India yang memiliki pecatur peringkat dua dunia, Viswanathan Anand (Elo 2803), Krisnan Sasikiran (peringkat 21, ELO 2692), dan Pendyala Harikrishna (peringkat 25, ELO 2680), dua pecatur harapan Surya Sekhar Ganguly dan Parijaman Negi, serta pemain putri peringkat dua dunia Koneru Humpy (ELO 2458), jelas sangat berpeluang meraih medali di tiga nomor yang dipertandingkan.

Ancaman terbesar akan datang dari skuad China dan sejumlah negara pecahan Uni Soviet, seperti Kazakhstan dan Tajikistan. Makanya, tim India langsung mengadakan pemusatan latihan dengan mendatangkan pelatih internasional, Evgeny Vladimirov, pelatih yang pernah satu kamp dengan mantan juara dunia catur asal Rusia, Garry Kasparov.

Meski pada kejuaraan Asia di Jodhpur skuad China keluar sebagai juara, tetapi India masih bertepuk sebelah tangan. Soalnya, di kejuaraan beregu itu Viswanathan Anand tidak hadir. Yang membanggakan, harian Rediff masih menganggap tim Filipina dan Indonesia sebagai ancaman, meski kedua negara itu absen dalam kejuaraan beregu Asia itu. Menurut Rediff, Filipina dan Indonesia bukan hanya ancaman bagi India, tetapi juga bagi negara Asia lainnya.

Indonesia, sebagaimana dikatakan Utut, akan coba merebut peluang dari catur kilat. Alasannya, dia dan Susanto Megaranto terbukti telah mampu mengimbangi pecatur mana pun di catur kilat. Namun, Utut mengakui, titik lemah ada pada pemain putri Irene Kharisma, meski tidak tertutup kemungkinan pecatur belia ini membuat kejutan. "Dalam catur kilat ada faktor refleks dan luck yang bisa menentukan," ungkapnya. (PEPIH NUGRAHA)
Palmerah, 25 Agustus 2006

Monday, August 14, 2006

Citizen Journalism (1):


Turnamen Catur Anak-anak VBI

Dua hari berturut-turut, Sabtu sampai Minggu (12-13 Agustus 2006), di Pendopo Vila Bintaro Indah (VBI), berlangsung kejuaraan catur anak-anak se-RT 02. Tak dinyana dan tak diduga, yang mendaftar cukup banyak, 18 anak! Ini karena ada dua atau tiga anak dari RT lain yang ikut turnamen catur dengan uang pendaftaran Rp 5.000 itu (setara 50 sen dollar AS).

Kejuaraan menggunakan Sistem Swiss 5 babak dengan Ketua Panitia Pak Rosal dan Ketua RT, Pak Eko. Kejuaraan layaknya turnamen betulan karena menggunakan jam catur untuk masing-masing sembilan papan! Salut buat Pak Rosal yang menyediakan jam catur berikut papan caturnya sebanyak itu, plus dua jam catur yang ada di RT 02. Pak Rosal sangat jeli, teliti, dan sabar menghitung skor akhir, bahkan sampai menggunakan Sistem Solkoff kalau ada beberapa pecatur yang meraih angka sama. Persis turnamen sungguhan, sebab ada juga panggung kehormatan bagi pemimpin teratas!

Alhasil, selama dua hari itu, 18 anak saling berhadapan di atas sembilan papan catur plus jam catur mereka masing-masing. Waktu berpikir dibatasi 25 menit untuk masing-masing pemain. Tetapi kadang baru dua menit dan baru lima langkah pun sudah ada yang teriak, “Skak mat!”. Lucunya ada juga anak, Raki namanya, masih belum bisa bagaimana cara memukul lawan. Raki memukul bidak lawan dengan cara “nyerong” seperti dam-daman. Tetapi setelah diberi tahu, Raki menurut dan melanjutkan permainan!

Satu-satunya pemain puteri adalah Rani. Maka jelaslah dia menjadi bintang turnamen. Rani juga langsung menyabet predikat: pemain tercantik! Yang mengagumkan, Rani mampu menduduki empat besar. Mestinya peringkatnya akan lebih tinggi bila pada partai terakhir mampu memetik angka. Lawannya, Farhan, yang kemudian menjadi juara dua, menahannya remis, padahal Farhan kalah jauh kualitas dari Rani. Sayang, Rani yang berpenampilan “tomboy” itu tidak melihat jebakan remis yang memang sengaja dipasang Farhan.

Dalam turnamen ini adik Farhan, Fadli, keluar sebagai juara turnamen. Pak Rosal memang melatih ketiga putera-puteranya bermain catur menggunakan jam. Alhasil, sudah sangat terlatih. Farhan dan Fadli adalah dua dari tiga puteranya yang menduduki empat besar. Sedang si bungsu, menang dua partai terakhir atas lawan-lawannya dengan mat indah.
Rani bersama adiknya, Remo. adalah puteri dan putera dari Pak Djoni Irawan. Ingat nama ini? Dia adalah pemeran “Roy” yang berkepala plontos dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, yang naksir berat sama Si Sarah (Cornelia Agatha). Pak Djoni sudah sejak lama menjadi tetangga kami, setua VBI berdiri. Dia sangat berjiwa sosial, senang bergaul, dan rendah hati, meski rumah-rumahnya mentereng dan kekayaannya melimpah (Alhamdulillah). Dia juga sangat religius karena merupakan donatur tetap bagi mesjid di luar kompleks. Saya pribadi merupakan musuh besarnya saat bermain catur, tetapi sahabat yang hangat saat berdiskusi dan bertutur.
Bukan bermaksud menyombongkan diri, gairah catur di VBI kembali muncul sekembalinya aku dari pengembaraan selama kurang lebih 4,5 tahun (Makassar dan Surabaya). Setibanya di VBI, aku mengajak “ummat” catur seperti Pak Djoni, Pak Naela, Pak Kadmita, Pak Dinan, Pak Eko (kurang aktif tetapi mahir catur) dan pendatang baru, Yudhi (adik Pak Haryono) dan Dian. Ada juga tetangga lain, Pak RW, yang kadang nimbrung, juga seorang polisi yang kadang mampir main catur saat patroli. Kami biasa menggunakan jam catur dengan waktu berpikir 5 menit atau 7 menit!
Harus diakui, Yudhi-lah yang kemudian mengajarkan Rani dan Remo, mungkin juga anak-anak lainnya bermain catur dengan menggunakan jam catur di pendopo. Baron, putera Pak Panggabean, dilatih oleh Pak Naela. Eki dilatih ayahnya, Pak Eko, seperti halnya Kesit yang dilatih ayahnya, Pak Kadimita. Kesit dalam turnamen ini bahkan dijuluki “pemain bersertifikat” karena konon dilatih khusus oleh ayahnya sebelum bertanding. Benar-benar dipersiapkan.
Sedang Kakang, anakku, kadang bermain catur dengan ayahnya, aku sendiri, tetapi tidak pernah ingin belajar sungguh-sungguh. Yang membanggakan, dalam lima partai, Kakang menang dua kali atas Dendy (putera Pak Uripto) dan Jedi (putra Pak Samsir), meski tiga partai kalah oleh “kakak-kakaknya”: Kesit, Willy, dan Raki . Kakang ternyata sangat serius dalam berpikir, meski dia belum cermat atas langkah teralhir lawan. Tetapi secara prinsip bagaimana bermain catur, Kakang sudah tahu.

Oh ya, sedikit cerita tentang Pak Samsir. Dia adalah satu-satunya warga VBI yang sudah bergelar Doktor yang diraihnya di salah satu universitas di Malaysia. Selamat, kami sebagai warga bangga atas gelar yang disandangnya, semoga menjadi inspirasi bagi anak-anak kami di VBI!
Turnamen catur dilanjutkan oleh bapak-bapak warga VBI, berlangsung dari Minggu sore sampai malam harinya. Pesertanya lumayan banyak, antara lain Pak Rosal, Pak Djoni, Pak Dinan, Pak Naela, Pak Eko, Pak Kadmita, Dian, Yudhi, Budhi, dan aku sendiri. Berlangsung menggunakan sistem round robin, dimana masing-masing pemain bertemu dua kali. Aku kalah telak 0-2 dari Pak Rosal, tetapi menang telak juga dengan 2-0 atas Pak Eko, Pak Kadmita, Pak Djoni, Yudhi, Dian. Aku belum bertanding dengan Pak Naela, Pak Dinan, dan Budhi. Menurut rencana, pertandingan akan berlanjut Sabtu atau Minggu pekan depan (19-20 Agustus). Saat berlatih dengan Pak Rosal, kami bisa saling mengalahkan.
Berita menggembirakan lainnya, Pak Rosal yang memang mahir catur (dialah yang terkuat di antara kami), bersedia mengajarkan anak-anak VBI bermain catur di pendopo. Dia kembali akan menyediakan jam dan papan catur yang banyak.
Berita menggembirakan lainnya, Kakang anakku, meminta diajari bagaimana bermain catur yang baik. Senin pagi, 14 Agustus, sebelum berangkat ke sekolah, dia membawa papan catur lipat dan menggelarnya untuk berlatih. Hem, mungkin dia geram atas tiga kekalahan dari “kakak-kakaknya” tetapi kurang puas atas dua kemenangan melawan “adik’adiknya”. Baguslah, Nak!
“Kakang sekarang mau belajar catur, Ayah,” katanya mencium tanganku sebelum berangkat sekolah.

Saat menjadi single parent seperti ini (bunda Kakang masih “nyangkut” di Surabaya), yang tersisa hanyalah rasa haru di dada saat memandang Kakang keluar mengenakan batik seragam sekolah SIT Auliya, untuk segera menuju mobil “ummi” yang sudah menunggunya di luar. Kakang anak yang tabah. Dua setengah tahun dia ditinggalkan ayahnya tugas ke Makassar, dan kini harus ditinggalkan bunda yang masih belum juga ditarik ke Jakarta. Sabar ya, Kang… anakku, matahariku….

Pepih Nugraha
Palmerah, 14 Agustus 2006.

Thursday, August 03, 2006

Catatan (4): Slide Foto Catur

Wednesday, August 02, 2006

Catatan (2): Cinta Catur



Mengalahkan GM Ardiansyah


Terus terang, sampai menjelang kuliah tahun 1984, aku sama sekali tidak tertarik dengan permainan catur. Bagiku waktu itu, hanya orang-orang malas dan tidak punya pekerjaan saja yang main catur!


Adalah mendiang ibuku, Ny Enok Suhayah, yang “memperkenalkan” permainan ini, meski hanya sebatas kata-kata. Itu terjadi tahun 1976, saat aku sekolah di kelas 5 SD Ciawi I, Tasikmalaya, Jawa Barat.



Ibu dengan bangga memperkenalkan, katanya saudara-saudara sepupuku lainnya di Garut, semuanya jago-jago catur. Bahkan senior-seniornya yang sudah duduk di ITB, Unpad, maupun AMN, tidak ada yang tidak jago main catur. Tapi ibu tidak juga membelikanku papan catur, dan aku hanya bisa membayangkan salah satu bentuk bidak catur paling eksentrik: kuda.


Masih duduk di kelas enam SD, tahun 1977, ada seorang teman pindahan dari SD lainnya, namanya Mamat. Aku biasa memanggilnya ‘Gan Mamat karena dia anak mantan Camat, tapi masih terbilang saudaraku, karena salah satu anak mantan camat itu nikah dengan paman dari pihak ayahku. Mamat ini memperkenalkan sekaligus “menyombongkan” dirinya sebagai juara catur antar-SD di kecamatannya yang lama. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana hebatnya anak ini.


Tetapi tatkala ada waktu luang saat kenaikan kelas tiba (ke SMP), Mamat menjajal kemampuan caturnya dengan Dadan Hamdani, teman sekelasku juga. Di luar dugaan, Mamat dilumat 2-0! Aku kagum sama Dadan yang tidak pernah berkoar-koar, tetapi mampu menaklukkan juara catur kecamatan. Baru aku tahu belakangan, Dadan dan juga Asep Dedi, juga teman sekelasku, sering ber-sparring partner di kampungnya, Sukamantri. Bahkan Dadan pulalah yang mengajariku notasi catur aljabar, meski waktu itu kutangkap sebagai sekadar tahu saja.
Beberapa pekan sebelumnya, aku diperkenalkan main catur sama Mang Usman, ayah Ratih (Ayi), tetapi hanya sekadar mengenal langkah-langkah dasar bidak saja. Ketika mencoba dengan gagah-gagahan melawan Asep Dedi, jelas saja aku dilumat dalam partai pendek, entah berapa kosong.
SMP dan SMA lewat begitu saja tanpa catur. SMP lagi senang-senangnya belajar karena harus mengejar ketertinggalan. SMA lagi seneng-senangnya pacaran. Hemmm… gini-gini juga ternyata pacar-pacarnya manis-manis (sepengggal kenangan manis maupun pahit, yang suatu saat kutulis juga).
Waktu gagal kuliah di universitas negeri dan harus ngendon setahun di IKOPIN, tahun 1984, juga belum begitu tertarik catur kendati orang-orang seasrama seperti Dadang dan Iman, kerap bermain catur di ruang tamu, juga anak-anak kos main dengan Dede Uron yang punya asrama.


Momen itu terjadi pada 1985. Saat itu di Bola ada pelajaran catur dasar dari Lugito Hayadi. Dia merupakan juara nasional catur surat. Orang keturunan China, tetapi hebat dalam memberikan pelajaran. Sebelumnya, berbekal pelajaran notasi dari Dadan, aku sudah mulai mempraktikkan permainan ini di atas papan catur dari rubrik catur Kompas, yang juga ditulis Lugito Hayadi, Bola waktu itu menjadi suplemen Kompas. Papan catur, waktu itu malah adikku, Dadang, yang membeli.



Baru kemudian aku jatuh cinta abis sama catur dan mampu belajar secara cepat langkah-langkah, pertahanan, serangan, pembukaan berikut varian-variannya. Mungkin kalau saja mendiang ibu memperkanalkan catur sejak bayi, barangkali aku sudah dan masih tercatat sebagai juara dunia hahaha… Tapi sudahlah, tak perlu sesali masa lalu.
Waktu kuliah di Unpad, yang menjadi sparring partner adalah Erpan Faryadi, teman sekelasku yang orang Bangka Belitung. Mulanya aku selalu kalah, belakangangan aku yang selalu menang. Ada juga tetangga lain di kost-kost-an Bang… aku lupa namanya, dia dari Medan. Kami saling mengalahkan. Dia pernah berkomentar, “Wah, langkah-langkahmu di luar dugaan, Pep.”
Erpan orangnya sportif, kalau kalah dia akan kasih selamat. Tetapi dia juga lucu, kalau terserang atau kepepet, wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus. Biasa, kami ditemani kopi panas dan tape singkong saat bertanding. Di radio FM biasanya berkumandang lagu “Hello”-nya Lionel Richie, “No More Lonely Night”-nya Sir Paul McCartney, atau “Percayalah Kasih”-nya Trio Iwan Fals-Vina Panduwinata-Yoky Suryoprayogo.



Waktu itu tahun 1986, saya ketemu seseorang yang kelak menjadi ikon catur Indonesia: Utut Adianto. Dia waktu itu sudah semester lima di FISIP Hubungan Internasional. Ketemu hanya berpasasan, dia pakai celana jeans putih plus T-shirt. Saya kenal dia dari foto-fotonya, waktu itu dia sudah juara nasional, tetapi belum bergelar Grandmaster. Nanti kuceritakan pertemuan berikutnya dengan Utut, setelah aku menulit tentangnya di Harian Kompas……
Baru kemudian aku tahu bahwa aku lumayan berbakat. Buktinya aku mampu mengalahkan GM Ardiansyah dalam sebuah pertandingan simultan yang hanya diikuti 38 karyawan Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Itu terjadi pada 10 September 1994, saat saya sudah empat tahun bekerja di Kompas dan siap-siap mengikuti pendidikan wartawan selama satu tahun sepanjang tahun 1995.


Berikut jalannya partai GM Ardiansyah (putih) melawan Pepih Nugraha (hitam) dalam sebuah partai simultan: 1. d4 g6 2. c4 Gg7 3. Kc3 Kf6 4. Kf3 c6 5. e4 d6 6. Ge2 h6 7. 0-0 Kd7 8. h3 Kf8 9. e5 dxe5 10. Kxe5 Gd7 11. c5 Kd5 12. Kxd5 cxd5 13. Gf4 Ke6 14. Gg3 0-0 15. Gg4 f5 16. Gf3 f4 17. Gh2 Gxe5 18. dxe5 Gc6 19. Bc1 Kg5 20. Be1 e6 21. b4 a6 22. a4 Rg7 23. h4 Kxf3+ 24. Mxf3 Mxh4 25. Ba1 Bf5 26. g3 fxg3 27. Gxg3 Mxb4 28. Me3 Bf8 29. Bd1 Bf3 30. Mc1 Mg4 31. Bd2 Bf5 32. Ba3 d4 33. Md1 Kh3. Putih menyerah.


(Tidak ada obat mujarab untuk menghindarkan mat. Jika… 34. Bxf6, maka 34. … Gxf3! Putih hanya dapat menyelamatkan diri dari ancaman mat di h1 jika mengorbankan menterinya untuk ditukar dengan gajah).

Dari 38 pecatur lokal KKG, hanya sembilan orang yang mampu meraih kemenangan, salah satunya adalah kemenanganku dengan kemenangan tercepat. Makanya saat pemberian hadiah, aku dapat dua penghargaan: sebagai orang yang mampu mengalahkan GM Ardiansyah dan mampu mengalahkan paling cepat GM tersebut. Mengesankan.


Pepih Nugraha


Jakarta