Showing posts with label Pepih Nugraha. Show all posts
Showing posts with label Pepih Nugraha. Show all posts

Tuesday, June 17, 2008

Catatan (53): Blogger Temu Producer



Nokia "Go Blogging"




SAYA agak surprise juga tatkala Nokia, produsen ponsel nomer wahid di dunia, mengumpulkan para blogger di Jakarta. Saya termasuk salah seorang blogger yang diundang pada pertemuan terbatas di Neovanity Club di Gedung Chartered yang baru, atas jasa baik Budi Putra, blogger kawakan, dan Humas Nokia untuk Indonesia, Regina.


Karena Kompas.com memiliki rubrik What's New (silakan klik http://www.kompas.com/ dan lihat di navigasi utama bagian atas), dimana setiap kegiatan yang melibatkan personil Kompas.com memungkinkan untuk dimuat dan diberitakan, maka kegiatan saya menghadiri pertemuan blogger itupun tidak luput dari pemberitaan, sebagaimana yang bisa dibaca di bawah ini:


Nokia Jumpa Blogger


Pepih Nugraha, salah seorang blogger dari KOMPAS.com, Jumat (13/6) lalu, turut menghadiri pertemuan terbatas 10 blogger yang difasilitasi pemilik Asia Blogging, Budi Putra, dan Nokia sebagai penyelenggara pertemuan. Dalam temu blogger itu hadir pula Humas Nokia, Regina.


Kesepuluh blogger satu sama lain saling berbincang mengenai blog masing-masing. Umumnya para blogger tersebut membuat blog dengan subyek yang berbeda-beda, antara lain mengenai kuliner dan gizi, fashion, gadget dan informasi teknologi, serta tutorial belajar menulis.


Regina mengatakan bahwa pertemuan blogger ini sebagai langkah awal dari pertemuan serupa yang lebih besar dan meluas di masa mendatang. Meski Nokia belum memproduksi ponsel khusus untuk kegiatan nge-blog, namun fitur-fitur di beberapa jenis ponsel, seperti N78 dengan geotagging-nya, dapat menolong blogger yang menggemari fotografi untuk dapat lebih mengeksplorasi kegiatan blogging-nya.


KOMPAS.com sendiri tengah mengembangkan blog dengan beberapa ciri khas tersendiri. Anda ingin sumbang saran soal KOMPASblog? Kami sangat ingin mendengarnya, silakan sampaikan melalui fitur komentar di bawah. (*/ET)

Friday, March 21, 2008

Catatan (42): "Kompas Update"


Kompas Update, 4 Januari 2008

TANGGAL 4 Januari 2008 lalu harus saya jadikan tonggak sejarah hidup, paling tidak sejarah hidup saya. Bukan karena pada hari itu, Jumat, telah lahir bayi mungil bernama Kompas Update, tetapi karena saya merupakan orang pertama yang diserahi tugas oleh manajemen mengelola bayi yang baru lahir itu. Sejelek apapun sejarah itu dibuat -baik atau buruk, berhasil atau tidak Kompas Update kelak- nama saya akan terus tercatat.

Tidak ada yang aneh dalam penugasan ini. Juga tidak ada yang istimewa. Biasa saja sebagaimana layaknya penugasan pada umumnya. Ketahuilah, penugasan dalam institusi koran, berarti "kewajiban yang harus dilaksanakan", tanpa perlu berdebat. Itu rumus mekanisme koran. Maka ketika daur hidup saya harus berubah 180 derajat sekalipun: siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, saya tidak ambil peduli.

Tidak sedikit pun protes dan tidak merasa diri dibuang atau dicampakkan! Bahkan saya agak sedikit "mengingkari" adanya sebuah hadits yang bunyinya kira-kira begini: telah kujadikan siang sebagai hari untuk bekerja... Apa boleh buat. Biarlah, yang satu ini urusan saya dengan Tuhan saya.

Maka menyambut hari "H" terbitnya Kompas Update, seminggu sebelumnya saya sudah mengondisikan diri untuk selalu bangun pukul 1 tengah malam, berangkat setengah jam kemudian, dan sampai di kantor paling cepat pukul 2 atau setengah 3. Begitu setiap hari. Mulai edisi percobaan atau betha pada tanggal 2 dan 3 Januari. Hanya dua kali pekerjaan dummy tanpa dicetak, Jumat 4 Januari 2008 sudah muncul edisi pertama Kompas Update, Sejarah pun lahir.

Seperti yang dijelaskan Pemred Suryopratomo dalam pengantar pada Kompas Update edisi pertama, keberadaan Kompas Update ini untuk memberi dignity atau martabat kepada pembacanya. Sekarang, pembaca Kompas yang biasa memperoleh Kompas yang dijual siang dengan harga Rp1.000, mendapat sesuatu yang baru, yakni berita yang di-update pada halaman 1 dan halaman sambungan, yakni halaman 15. Terbit tetap 32 halaman dengan harga Rp 1.000 dari Senin sampai Jumat.

Nama Update sendiri dijelaskan, bahwa nama itu merupakan istilah jurnalistik yang sudah dikenal umum sebagaimana halnya deadline, lead, stop press atau breaking news. Kelak nama ini menjadi keberuntungan tersendiri setelah lahirnya pengekor Kompas paling jempolan, Media Indonesia, dengan nama Media Indonesia Siang. Koran ini mungkin malu hati kalau harus mengambil nama "Update", sehingga mencantumkanlah embel-embel Siang yang tentu saja mengesankan berita basi atau berita kesiangan. Berbeda dengan update yang berarti berita terbaru, terkini, atau berita yang ditindaklanjuti. Sama sekali bukan berita basi atau berita siang. Kita lihat, apakah koran ini juga akan nekat mengganti embel-embel Siang dengan Update!

Sebagaimana kelahiran bayi pertama, kami menunggu dengan berdebar di percetakan setelah deadline berakhir. Berita yang kami angkat saat itu kebetulan hari pertama pemilihan calon presiden Amerika Serikat lewat Kaukus Iowa. Pemenangnya di Partai Demokrat adalah Barack Obama yang unggul atas Hillary Clinton, sementara di Partai Republik John McCain sebagai pemenangnya. Saya pilih foto ekstrem Obama untuk ditampilkan pada headline foto halaman pertama, dengan berita utama tentang Obama pula. Berita itu menggeser berita jebolnya tanggul Lapindo pada saat-saat akhir. Pilihan yang sangat tepat, sebab menangnya Obama saat itu merupakan berita ter-update, terkini dan paling hot.

Ada beberapa foto yang saya ambil saat hari pertama Kompas Update terbit. Dalam kesempatan ini saya tampilkan satu buah foto di atas sebagai tonggak sejarah, saat Mas Tom, demikian Suryopratamo biasa dipanggil, mengamati Kompas Update edisi pertama yang baru diambil dari gilingan percetakan.

Friday, February 29, 2008

Catatan (41): Jepretan Budi Putra



Lelah dan Tua

SAYA terkesan dengan dua karya foto hasil jepretan Mas Budi Putra, blogger rekan saya yang sama-sama ke Belanda Desember 2007 lalu. Ia mengabadikan saya saat berada di Pizza Hut di Stasiun Kereta Api Dusseldorf, Jerman. Perjalanan ke Belanda untuk menghadiri acara Nokia World 2007 memang menjadi menyenangkan karena harus melalui jalan darat, khususnya dari Dusseldorf-Amsterdam, yang tentu saja lintas negara.

Dalam salah satu foto itu, saya berjaket tebal karena cuaca sedang tidak bersabahat. Ransel biru tua yang menyertai saya kemanapun pergi, juga terlihat. Ransel itu sudah melanglang buana sesering saya pergi menginjak negara orang, mulai Bosnia, Kroasia, Serbia, Hongaria, Belanda, Austria, Perancis, Guyana, Jepang, Korea, Finlandia, sampai Amerika. Mas Budi Putra mengabadikan saya dengan Nokia N95 miliknya. Dalam foto kedua, saya berada di depan Hotel Mercure Amsterdam masih dengan pakaian tebal, syal dan bahkan topi Rusia, bersama Andra, wartawan dari kelompok Majalah KG. Hem... di sana saya nampak lelah dan semakin tua saja. Kalau ada satu hal yang tidak bisa ditipu atau dibohongi, itulah usia!

Terima kasih Mas Budi Putra. Mohon izin dua foto hasil karyanya yang ditampilkan dan bisa diklik di http://www.flickr.com/photos/budip/2089433696/, saya tampilkan kembali di blog ini.

Monday, November 12, 2007

Catatan (33): Resensi Adhi KSP


Resensi untuk Beranda t4 Berbagi


BUKAN Bermaksud pamer atau narsis kalau saya cantumkan tulisan sahabat saya, Robert Adhi Kusumaputra, yang meresensi blog Beranda t4 Berbagi di blog miliknya. Resensi ini sangat bermakna, paling tidak buat saya sendiri, karena mampu menyemangati dan memacu saya untuk terus berbagi pengalaman menulis di blog ini.

Adhi adalah wartawan Kompas, yang berarti satu kolega dengan saya. Ia punya blog yang sangat impresif karena dikunjungi ratusan ribu orang dari ratusan negara. Ia sangat-sangat rajin memperbarui postingannya, juga dengan sabar membalas semua orang yang meninggalkan jejak berupa pesan-pesan. Ia sangat rajin bekerja dan selalu menikmati hari-harinya.

Berikut resensi Adhi mengenai blog saya dengan penambahan foto diri saya yang paling baru tahun 2007 (foto di atas), setidak-tidaknya lebih baru dari foto yang dicantumkan Adhi untuk melengkapi resensinya, yakni pasfoto saya tahun 1998 lalu:


Pepih Nugraha, Beranda t4 Berbagi


BLOG Pepih Nugraha adalah salah satu blog wartawan Kompas yang aktif dan selalu di-update. Blog yang dibuat sejak Februari 2006 ini berisi berbagai pengalaman Pepih, termasuk kiat-kiat menulis. Karena dia suka catur, blog ini pun beberapa di antaranya berisi permainan catur.

Memang, blog bisa berisi apa saja yang diinginkan pemiliknya. Pepih mengisi blognya sesuai dengan hobinya. Tapi alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung ini tak lupa membagi ilmu. Beberapa isi blognya tentang "berbagi pengalaman menulis" yang dimuatnya berseri.

Bagi mereka yang ingin memulai menulis, tentu blog Pepih ini sangat bermanfaat. Setidaknya ada pengetahuan yang dapat dipetik. Satu hal yang diyakini Pepih adalah tentang masa depan blog atau weblog, yang dapat menjadi kekuatan baru, mengalahkan mainstream media. Setiap orang adalah wartawan. Apapun yang ditulis di blog, langsung dapat dibaca jutaan orang di dunia berkat internet.

Blog Pepih yang pernah menjadi "Click of the Week" versi Maverick Indonesia ini, menegaskan bahwa kita bisa menulis apa saja, tentang apa saja dari kehidupan sehari-hari kita. Mulailah menulis catatan harian, demikian pesan Pepih.

Saya kutip kalimat Pepih di blognya: Tidak ada yang lebih menyenangkan selain bisa berbagi pengalaman, syukur kalau di dalamnya terselip ilmu yang bisa dimanfaatkan. Hal tersulit dalam menulis adalah memulai. Maka, jangan pernah ia musuhi. Jadikan memulai sebagai sebuah tantangan, bukan tentangan. Menulis saat bahagia itu biasa, baru luar biasa jika bisa menulis dalam keadaan berduka, tertekan atau bahkan terluka. Biasakan menulis sekalipun dalam suasana hati yang ekstrem, dalam lara maupun suka. Bukankah susah dan senang hanyalah permainan rasa belaka...

Monday, January 01, 2007

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (9)

Cari Rumah Tumpangan



SATU rintangan lagi yang harus saya selesaikan: cari rumah kontrakan. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berbuat banyak. Terpaksa saya meminta pertolongan ayah. Soalnya, rentang waktu dari diwisuda 21 April sampai harus bekerja mulai 1 Mei 1990 terlalu pendek untuk mencari rumah kontrakan.

“Mencari kontrakan di Jakarta dengan waktu secepat itu agak sulit, lagi pula kita tidak punya kenalan di sana,” kata ayah saat saya menceritakan kesulitan bagaimana saya harus tinggal di Jakarta.

Memang terlintas untuk langsung saja ke kawasan kumuh Tambora, Jakarta Barat, dimana di sana masih ada rumah petak kakek saya, Maknun Iskandar (kini sudah meninggal), yang disewakan kepada keluarga keturunan Cina. Rumah petak yang luasnya kurang lebih 20 meter persegi. Tetapi karena letaknya di salah satu perkampungan padat Jakarta, harganya konon bisa tinggi. Tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi saya.

Di Tambora juga ada tiga paman saya, yakni adik ibu saya. Tetapi saya bayangkan, saya tidak akan nyaman tinggal di kawasan itu. Pasti tidak mendukung suasana kerja saya nanti. Maka, kemungkinan ini saya abaikan.

Ayah juga mengajukan usul untuk tinggal sementara di Jatinegara, dimana saya punya saudara yang masih terbilang kakek karena dia adik nenek saya dari pihak ayah. Namanya Aki Manta. Tetapi saya pernah tahu rumahnya dan anaknya pun banyak. Lagi pula, jarak Jatinegara-Palmerah terlalu jauh dalam bayangan saya. Kemungkinan inipun saya kesampingkan.

Memang di luar pemahaman dan perhitungan saya kalau mencari tempat tinggal di Jakarta justru sulitnya bukan main, padahal pekerjaan sudah didapat. Mestinya saya belajar betapa sulitnya mencari tempat tinggal meski untuk sekadar tes sekalipun. Sangat tidak mungkin pulang-pergi Bandung-Jakarta-Bandung setiap hari, yakni bila saya tetap tinggal kos di “kandang japati” di Haur Mekar yang sewanya diteruskan adik saya, Dadang.

Selain waktu tempuh bisa mencapai lima jam lebih (sebelum ada Tol Cipularang) dan travel belum memassa, ongkos yang harus dikeluarkan pun tidak akan sebanding dengan gaji yang bakal diterima sebulannya. Lagi pula, alangkah menjadi ringkihnya tubuh ini bila Bandung-Jakarta-Bandung dilakoni setiap hari!

Pokoknya tidak mungkinlah kemungkinan itu diambil.

Lagi-lagi saya tidak punya pendapat. Saat itulah ayah, pelindung keluarga, tetap mengajukan sejumlah keluarganya yang masih ia ingat dan masih tinggal di Jakarta. “Rasanya ada saudara yang tinggal di Jalan MH Thamrin,” kata ayah saat ia tahu saya mati kata dan lumpuh pikiran.

Jalan MH Thamrin? Saya bayangkan di sana berdiri gedung-gedung mewah seperti Plaza Indonesia, hotel, dan pertokoan Sarinah. Rasanya tidak mungkin. Tetapi karena saya sudah mati akal, saya serahkan sepenuhnya kepada keputusan ayah. Saya tahu, ayah tidak asal omong. Dia memberi solusi dengan segera pergi ke suatu tempat mengendarai motor vespa keluaran 1976 miliknya.

“Kemana, Pak?” tanya saya.

Dia menjawab kemana tujuannya, yakni ke rumah salah satu saudara yang kemungkinan memiliki alamat saudara yang tinggal di Jalan MH Thamrin itu. “Siapa tahu dia punya alamat saudara kita yang di Jalan MH Thamrin,” katanya. Saudara kita? Ah, tak tahulah. Yang jelas, posisi saya saat itu ikut saja. Tidak ada argumen apapun.

Minggu, 29 April 1990, berbekal satu tas pakaian, saya berangkat ke Jakarta diantar ayah untuk yang kedua kalinya. Terpaksa, selain alamatnya tidak jelas dan saya belum tahu seluk beluk Jakarta, kami berangkat berrdua. Ternyata alamat yang dicari tidak persis Jalan MH Thamrin, tetapi agak menjorok ke dalam, tepatnya di Jalan Kotabumi Ujung No. 10. Di sana saya diterima oleh penghuni, yang ternyata anak dari saudara ayah saya itu.

Rupanya keluarga dengan dua anak plus satu pembantu ini juga sudah diberi tahu saudara ayah saya itu, sehingga saya langsung ditempatkan di loteng berlantaikan kayu. Di loteng itu ada dua kamar yang saling bersebalahan. Satu loteng untuk saya sudah dipersiapkan lengkap dengan kasur di atas dipan kayu dan lemari baju kecil. Sementara satu kamar lagi dijadikan gudang. Barang-barang yang sudah tidak terpakai berjejalan di sana. Hem, saya akan tidur di samping gudang!

Tidak apalah, yang penting saya bisa “numpang” hidup barang beberapa lama sampai kenal benar kota Jakarta. Ayah pulang pada keesokan harinya, dan yang mengharukan, ayah menyisipkan saya uang bekal makan selama satu bulan! Sementara hari Senin itu Jalan MH Thamrin sudah penuh sesak oleh kendaraan karena memang sudah hari kerja. Sedangkan saya baru masuk persis tanggal 1 Mei 1990 esok hari, bertepatan hari Selasa.

“Kamu harus bisa menjaga diri di Jakarta. Ayah berdoa untukmu, Nak. Jangan lupa sholat,” itu pesan ayah sebelum dia menaiki bus kota yang menuju terminal Cililitan. Saya hanya bisa menahan nafas haru. Ada rasa berat yang menekan dada, akan tetapi kuenyahkan segera setelah membayangkan bahwa di kota ini saya harus berjuang mulai dari nol. Dari ketiadaan, dari ketidakpunyaan, dan hanya berbekal percaya diri saja.

Memang setelah saya diwisuda 21 April sebelumnya, praktis hanya diberi waktu satu minggu saja untuk menyiapkan mental saya tinggal di Jakarta, yang bagi saya saat itu belum terpikir sampai kapan. Itu artinya, saya harus meninggalkan kedua orangtua saya, adik saya Tania dan Dadang, juga Ayi (sepupu) yang sudah sejak kecil diasuh ibu. Juga harus meninggalkan kolam tempat saya memancing ikan.

Hem, segala peristiwa suka dan duka di desa ini akan menjadi kenangan tak terlupakan saat saya berada di Jakarta, kota perjuangan yang sudah menanti. Sejujurnya, ada tekad yang membara untuk berhasil tatkala selintas teringat kenangan menyakitkan dari seseorang, yang mungkin tak akan pernah saya ceritakan di sini…

Jakarta, saya datang!

Kiat:
- Tidak ada salahnya melihat-lihat peluang kerja meski kita sedang dalam proses penyusunan skripsi.
- Setelah mendapat pekerjaan saat kuliah belum selesai, upayakan negosiasi dengan perusahaan agar diberi
kesempatan menyelesaikan tugas akhir sampai mendapat ijazah.
- Jangan abaikan ijazah meski kita sudah mendapat uang dari pekerjaan. Sebab, selembar kertas ijazah ini akan
sangat berguna kelak bila kita pindah pekerjaan atau bermaksud meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
- Jangan ragu mengambil keputusan tinggal dimanapun jika kita memiliki kecakapan khusus.


Pepih Nugraha
Jakarta, 1 Januari 2007

Monday, December 25, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (8)


Diterima

BELUM pernah saya mengalami jantung yang berdebur keras selain saat saya dipanggil untuk tes wawancara. Menurut PSDM dalam pengantarnya, ini adalah tes final dalam kecakapan bidang, yakni ilmu perpustakaan. Jika lolos tes ini, besar kemungkinan bisa bekerja di Kompas, kecuali gagal dalam tes kesehatan saja. Penguji adalah J. Widodo, wartawan senior Kompas, berlangsung di salah satu ruang di Bentara Budaya Jakarta.

Belakangan saya tahu, J Widodo-lah yang mengembangkan Pusat Informasi dan Litbang Kompas dari semula bernama Pusat Dokumentasi Kompas. Dialah peletak dasar perpustakaan moderen untuk media massa dengan kliping elektroniknya, dimana seluruh berita yang termuat di Harian Kompas bisa disimpan dan diakses di komputer setelah memasukkan kata-kata kunci tertentu. Katalog buku manual diubahnya dan bisa disimpan serta ditemukan kembali dalam waktu singkat dengan hanya memijit papan ketik komputer.

Dari omong-omong dengan teman kemudian saya tahu, kala masih bernama Pusat Dokumentasi Kompas, lembaga ini dipegang dan dikembangkan oleh wartawan Kompas hebat lainnya, Parakitri T. Simbolon. Buku yang ditulisnya, Vademekum Wartawan: Reportase Dasar kelak kubaca dengan sungguh-sungguh.

Saya sendiri sempat tercenung saat itu. Dalam hati berkata heran, bisa juga saya sampai di level ini. Saya membayangkan mainan Nintendo sewaan saat saya SMP dulu dimana prestasi ketangkasan diukur dalam setiap pencapaian level. Bagaimanapun jantung saya berdegup keras meski saya sudah bergumam dalam hati, “Nggak apa-apa tidak diterima, ‘kan belum sarjana!” Tetap saja hasrat untuk dapat diterima mencuat.

Sudah dapat dibayangkan sejak menunggu giliran dipanggil, pertanyaan-pertanyaan Widodo sangatlah tajam. Tidak kenal ampun. Bicaranya seperti peluru yang dimuntahkan dari senapan mesin. Bukan hanya kecakapan khusus alias ilmu perpustakaan saja yang ditanyakan, tetapi ilmu-ilmu pengetahuan umum yang aktual saat itu.

Beruntung saya sudah terbiasa membaca dan berlangganan Kompas, Majalah Tempo, dan Majalah Prisma terbitan LP3ES selagi saya kuliah. Jadi apapun yang ditanyakan Mas Dod, panggilan akrab J. Widodo yang saya tahu kemudian, bisa nyambung sehingga menciptakan percakapan yang lama, panjang, dan seperti tidak berkesudahan.

Akan tetapi. tak urung saya gugup juga ketika J Widodo melempar tanya, “Lha mestinya you melamar jadi wartawan, kenapa you melamar menjadi pustakawan?” Mas Dod rupanya biasa memanggil atau menyapa anak buahnya dengan sapaan “you”.

Saya katakan sejujurnya bahwa saya masih harus menyelesaikan skripsi saya sedikit lagi sehingga saya belum punya ijazah S1 sebagaimana yang disyaratkan untuk menjadi wartawan. Saya katakan pula, mungkin saya mencoba lagi melamar menjadi wartawan kalau ijazah S1 saya sudah ditangan. “Yo wis kalau begitu, you tunggu saja pengumumannya, ya!”

Saya tinggal tunggu pengumuman lulus-tidaknya hasil wawancara tadi. Kalau lulus masih ada satu rintangan lagi, yakni tes kesehatan. Tetapi menurut informasi yang saya dapat, kalau kita tidak punya penyakit yang parah-parah amat, tes kesehatan kemungkinan besar lolos. Penyakit parah itu antara lain lever alias penyakit kuning.

Setelah itu saya kembali ke Bandung untuk menyelesaikan skripsi. Seminggu berikutnya saya harus sudah melakukan tes kesehatan di RS St Carolus saat saya dinyatakan lulus tes wawancara yang mematikan itu, dan saat saya menyerahkan hasil tes kesehatan kepada Widyarto Adi PS di bagian PSDM, dengan entengnya dia berkata, “Kamu mulai bekerja per 1 April ya.” Maksudnya 1 April 1990.

Saya tercenung, terus terang bingung. Bagaimana mungkin ini terjadi karena saya harus mempertahankan skripsi saya di depan penguji dan kalau lulus harus diwisuda pada 21 April 1990. Saya minta mundur barang satu bulan, paling tidak saya masuk mulai 1 Mei saja. “Kamu ini gimana, sudah lulus kerja malah minta dimundurin! Ya sudah sana, tapi janji ya mulai kerja per 1 Mei,” kata Widyarto.

Kesannya galak dan tegas, tetapi saya tahu dia bercanda. Hemmm… saya tidak boleh ingkar janji atau wanprestasi.

Akhirnya saya memang bisa lulus ujian skripsi, bisa diwisuda tepat 21 April, meski belum bisa mengambil ijazah karena harus memperbaiki skripsi terlebih dahulu. Saya bisa langsung bekerja mulai 1 Mei 1990 sebagai karyawan honorer di Pusat Informasi Kompas dengan tugas sebagai pustakawan.

Tetapi ada satu ganjalan, saya belum bisa memperbaiki skripsi sehingga ijazah asli belum bisa saya dapatkan. Tetapi saya bisa usahakan fotokopian ijazah yang sudah dilegalisir pihak universitas. Sudahlah, saya akan menikmati hari-hari pertama bekerja di sebuah perusahaan pers terbesar di negeri ini: Harian Kompas!

Pepih Nugraha
Jakarta, 25 Desember 2006

Friday, December 15, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (7)


BAB 3
Khilaf dan Panik

KARENA kurang tidur, saya agak terkantuk-kantuk ketika berada di Mikrolet 08 jurusan Kota-Tanahabang yang kemudian bersambung naik Mikrolet 09 Tanahabang-Kebayoran Lama. Saya sudah sekalian pamitan kepada pengurus Wisma PGRI setelah membayar uang penginapan penuh, sebagaimana saya menginap di kamar biasa.

Sebelum meninggalkan wisma, saya tidak menceritakan pengalaman “mengerikan” tadi malam kepada si petugas wisma, khawatir dikira mengada-ada yang ujung-ujungnya dikira meminta potongan harga. Saya teringat film-film Hongkong dimana orang yang mau makan gratis di restoran dengan sengaja mencemplungkan lalat atau cicak di sisa makan mereka, lalu melancarkan protes kepada si pemilik restoran dan ujung-ujungnya tidak mau membayar. Saya tidak mau dikira seperti itu.

Biar sajalah, ini menjadi rahasia pribadi. Tetapi saya sangat hormat kepada si penjaga wisma. Selain karena saya sudah diberi tumpangan menginap, petugas juga menyediakan sarapan pagi berupa telur rebus dan sepotong roti tawar, plus teh manis panas, yang asapnya masih mengepul menerbitkan selera. Makanan untuk sarapan itu digeletakkan begitu saja di lantai tanpa membangunkan saya yang sempat tertidur.

Semula saya ragu-ragu memakannya, jangan-jangan ini sesaji buat mengusir hantu. Tetapi saya yakinkan sendiri bahwa sarapan itu buat saya. Saya pun menyantap makanan itu tadi, sebelum mandi. Nikmat sekali!

Saat mikrolet tersendat di sekitar Slipi, saya sempat teringat adik perempuan kesayangan keluarga kami, Tania, yang kala itu masih berusia sembilan tahun, masih kelas lima SD. Alangkah senangnya kalau saya bisa membelikan sesuatu atau oleh-oleh kalau saya sudah mendapat penghasilan sendiri. Tetapi saya tidak yakin akan keputusan saya melamar di Kompas ketika orangtua justru berharap saya menjadi dosen. Jangan-jangan mereka tidak berdoa atas usahaku.

Padahal kalau lulus, alangkah bahagianya saya sebab setelah diwisuda tidak harus mencari-cari pekerjaan lagi. Saya juga bisa membantu uang kuliah Dadang, adik saya yang saat itu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran. Bukankah saya juga bisa membeli buku sesuka saya, atau pergi kemana saya suka dengan gaji yang kelak akan saya terima. Alangkah, alangkah….

Juga kepada teman-teman kuliah, barangkali bisa menjadi inspirasi bahwa jurusan baru pun, yakni jurusan ilmu perpustakaan, bukanlah jurusan yang lulusannya bakal jadi “calon penganggur” atau sarjana yang menenteng-nenteng map keluar masuk kantor untuk melamar bekerja. Tidak. Saya ingin membuktikan bahwa sebelum diwisuda pun jurusan baru itu bisa dibutuhkan, bisa siap pakai. Apalagi kalau pembuktiannya adalah bisa diterima bekerja menjadi pustakawan Kompas. Bangga, barangkali.

Nyatanya, saat tes yang menentukan itu saya terserang kantuk berat. Padahal ini tes kecakapan khusus, sudah memasuki tes bidang, yakni bidang ilmu perpustakaan. Wah, ini gara-gara semalam didatangi hantu sehingga saya tidak bisa tidur. Saya memaki diri sendiri, mengapa harus takut makhluk halus kalau jadinya begini.

Materi yang diujikan pagi itu adalah meresensi atau membuat intisari (summary) dari artikel tentang politik dalam negeri Filipina, khususnya kinerja pemerintahan Corazon Aquino. Artikel panjang itu diambil dari Majalah Asiaweek serta Far Eastern Economic Review (FEER) dan harus dibahasakan menurut pemahaman sendiri dalam bahasa Indonesia. Jadi bukan menerjemahkan. Penguji sudah mewanti-wanti ini sebuah kerja meringkas, bukan menerjemahkan.

Sesungguhnya saya tidak kaget-kaget amat dengan laporan utama sebuah majalah berbahasa Inggris. Selama menjadi mahasiswa, saya kerap datang ke perpustakaan universitas untuk meminjam buku-buku berbahasa Inggris. Juga membaca-baca majalah berbahasa Inggris di British Council, dan bahkan majalah-majalah berbahasa Jerman di Goethe Institut. Jelas sudah terbiasa membaca dalam bahasa asing yang sulit-sulit.

Satu hal lagi yang menolong saya, selama satu tahun terakhir saya bergabung dengan tabloid mingguan Memorandum yang terbit di Yogyakarta. Ceritanya saya diajak teman sekelas saya, Mohammad Toha, yang lebih dahulu bergabung sebagai reporter yang ditempatkan di Bandung. Maksud saya bergabung di situ bukan karena materi alias mencari uang, tetapi sekadar mencari pengalaman. Toh saat itu cerpen-cerpen saya sudah menjadi langganan majalah anak dan remaja, juga koran-koran dewasa.

Benar saja, selain tahu bagaimana meliput dan mewawancarai (salah satunya wawancara dengan pakar linguistik Dr Jus Badudu), saya juga berkesempatan menerjemahkan majalah-majalah berbahasa Inggris seperti New Scientist. Tidak persis menerjemahkan, hanya memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan susunan kalimat yang tidak sama persis, kecuali kutipan-kutipan.

Ternyata kebiasaan itu sangat membantu mengerjakan soal yang diberikan dalam tes kecapakan khusus itu. Apalagi waktu yang diberikan cukup panjang, empat jam. Saya bergumam, bukankah saya biasa mengerjakan tiga lembar soal seperti ini cukup satu jam setengah saja.

Ah, saya terlalu percaya diri. Mungkin juga sombong. Saya tidak ngeh dan kurang teliti kalau soal itu sebenarnya enam halaman, karena difotokopi secara bolak-balik. Pantas orang lain tekun mengerjakannya dan bahkan beberapa di antaranya berkeringat di ruang berpenyejuk udara, tetapi saya tenang-tenang saja dan sudah saya kerjakan dalam waktu satu setengah jam saja. Meski demikian, saya tetap memutuskan untuk tidak keluar lebih dahulu untuk menyerahkan hasil tes itu.

“Kalau sudah selesai, silakan kumpulkan saja,” kata penguji ketika waktu tinggal setengah jam lagi, seakan-akan tahu kalau saya sudah tidak betah duduk di situ. “Jangan lupa lho, lembaran itu bolak-balik, seluruhnya enam halaman.”

Astaga!

Saya menjerit dalam hati. Dalam hidup ini saya pernah merasa kaget dan terpukul dua kali, yakni saat dinyatakan tidak lulus Sipenmaru tahun 1984 dan saat saya diputuskan pacar pada hari dimana saya dinyatakan tidak diterima di universitas negeri alias tidak lulus Sipenmaru! Itu saja. Sekarang terpukul yang ketiga kalinya.

Keringat dingin mulai keluar. Apa artinya saya membaca majalah-majalah berbahasa Inggris dan menuliskannya kembali dalam Bahasa Indonesia kalau saya tidak tahu bahwa dua berita utama itu seluruhnya enam halaman. Saya hanya mengerjakan tiga halaman saja tanpa melihat apalagi membaca halaman sebaliknya pada masing-masing lembar. Huh, sekarang sudah bukan kening saja yang berkeringat, tetapi seluruh badan sudah berlumur keringat. Satu kata yang saya teringat kala itu: gagal!

Ah, tidak boleh gagal!

Pada sisa waktu tigapuluh menit terakhir, saya pura-pura menyalin kembali apa-apa yang sudah saya tulis dengan alasan agar lebih baik dan bisa terbaca. Penguji pun terheran-heran. “Waktunya sudah hampir selesai lho, kenapa harus disalin kembali, itu buang-buang waktu,” kata si penguji. Saya menerima kalimat itu sebagai vonis: kamu tidak bakal lolos! Saya tetap menyalinnya sambil menyisipkan kalimat-kalimat yang saya dapat dari sisa tiga lembar sebaliknya yang belum saya sempat baca.

“Apakah ada penambahan waktu?” tanya saya putus asa ketika waktu tersisa sepuluh menit lagi.
“Tidak ada!”

Penguji, dibantu beberapa asisten, malah sudah mulai mengumpukan kertas-kertas kerja ujian dari peserta lainnya. Saya membaca cepat dengan teknik scanning dan bahkan jamming, teknik membaca cepat yang pernah saya baca dari buku perpustakaan.

“Ya, waktunya habis. Kumpulkan!”

Usai si penguji sekaligus pengawas itu mengetukkan kalimatnya, saya sudah hampir membuat tulisan revisi. Benar-benar revisi karena selain ditulis ulang, juga harus menyisipkan kalimat-kalimat penentu yang ternyata banyak bertebaran di tiga lembar yang justru tidak saya baca.

Bagaimanapun, saya harus bersyukur kepada Allah SWT, sebab rasanya mustahil mengerjakan ulang resensi saya dalam waktu 30 menit. Ah, nyatanya bisa. Saya merasa ada invisible hands atau tangan-tangan yang tidak kelihatan yang meringankan tangan saya mengerjakan soal-soal resensi itu. Paling tidak, dalam dua atau tiga hari lagi saya sudah menerima putusan diterima atau tidak. Saya hanya bisa menunggu.

Pepih Nugraha
Jakarta, 15 Desember 2006

Monday, December 11, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (6)



Digoda Makhluk Halus

MALAM itu saya seperti berada di gurun pasir yang luas, seakan-akan saya tidak melihat batas ruangan karena lampu yang menyala hanya cukup menerangi seputaran velbed saja. Saya bersilonjor kaki di velbed setelah mengambil wudlu untuk shalat Isya. Ada beberapa buku yang saya bawa dengan maksud untuk dibaca, tetapi nyatanya buku-buku itu cuma membebani tas ransel saya saja. Dipaksa untuk membaca pun susah. Lagi pula, perasaan kok aneh, tidak seperti biasanya. Resah.

Batin saya bertanya, ada apa ini?

Dulu sebelum ibu meninggal, saya termasuk lelaki penakut. Saya bahkan takut mayat (nekrofobia). Saya tidak tahu kalau menjadi wartawan itu salah satunya harus bukan orang penakut, apalagi takut hantu. Akan tetapi setelah menjadi wartawan, saya justru di tempatkan oleh wakil kepala desk metro saya di kamar mayat RSCM, yang dalam keseharian harus akrab dengan mayat yang terbujur kaku dalam kadaver .

Saya juga pernah “digilai”, lebih tepat “disukai” hantu perempuan saat saya menempati rumah dinas di Makassar, Sulawesi Selatan, ketika menjadi Kepala Biro Kompas untuk Indonesia Timur. Kelak akan saya ceritakan dua peristiwa itu.

Kembali ke ruang aula Wisma PGRI yang besar… Baru tersadar, hanya saya sendirilah yang ada di ruang itu. Waktu sudah menunjuk pukul 22.00. Meski suara klakson kendaraan dan suara mesin bajaj yang khas dan ramai di luar, tetapi saya merasa kesepian. Asli kesepian.

Akhirnya saya bisa tertidur juga di atas velbed karena rasa capek yang mendera. Tetapi saya terbangun kemudian saat saya merasa aula itu menjadi gulita. Memang ada beberapa berkas sinar dari penerangan lampu jalan umum di luar menerabas tirai jendela aula, tetapi itu malah menyuguhkan suasana mengerikan.

Hawa panas tiba-tiba menyergap. Saya mencoba bangkit mendekati berkas sinar dari luar agar bisa melihat jam. Tirai tersibak. Jam 02.00 dinihari. Astagfirullah! Keadaan gelap begini! Lampu mati semua atau ruang ini senagaja dimatikan? Keterlaluan petugas itu kalau begitu. Tetapi saya tidak mau berprasangka buruk kepada resepsionis atau petugas wisma lain yang jelas-jelas sudah menolong saya, sudah menyediakan tempat buat saya untuk menginap.

Terpikir untuk pergi keluar menemui resepsionis itu di lobi ruang depan. Tetapi saya pikir, tidak enak melancarkan protes kepada mereka. Lagipula, ini sudah pukul 02.00, sebentar lagi adzan Subuh berkumandang. Sabar sedikit kenapa, pikir saya saat itu. Akhirnya, saya menyerah saja untuk bertahan dalam kegelapan… apapun yang terjadi.

Betul saja, tatkala saya mulai merebahkan diri di velbed yang mendadak dingin, saya mulai mendengar retsleting tas saya dibuka, tetapi sebentar kemudian ditutup kembali. Begitu seterusnya berulang-ulang. Perasaan sudah lain saja, bulu kuduk sudah mulai berdiri. Saya bangun untuk memeriksa. Ternyata retsleting tas ransel saya masih tertutup, bahkan terkunci karena memang saya menguncinya. Lalu saya berbaring lagi.

Salah satu ketakutan saya paling menekan saat itu adanya penampakan. Soalnya, saat saya SD dulu, saya pernah diberi kemampuan melihat makhluk halus sekaligus merekam peristiwa itu dalam benak saya, setidak-tidaknya dua kali.

Peristiwa pertama terjadi saat saya libur catur wulan di Kelurahan Tambora, Jakarta Barat, di kontrakan kakek-nenek saya dari pihak ibu. Mereka sudah almarhum semua. Rumah kontrakan berupa bedeng terbuat dari bilik bambu yang dilapisi kertas semen benar-benar membuat keadaan dingin malam itu. Angin leluasa menerabas ram kawat, mendorong gorden tipis berkibar-kibar terkena hantaman angin dinihari. Saya tertidur di atas dipan tanpa kasur. Awalnya saya tidur bersama kakek, Maknun Iskandar, tetapi kakek lebih suka tidur di langgar (mesjid) bersama tetangga, meninggalkan saya tidur sendirian.

Nah, pada malam yang dingin itu, saat di luar hujan turun deras dengan kilat menyambar-nyambar dan guntur yang menggelegar, saya terbangun karena merasa angin begitu kencang menerpa. Suasana gelap gulita. Lampu gantung bersumbu bertenagakan minyak tanah bergoyang kencang membentuk elips. Angin yang berembus dingin itu ternyata bukan yang menerabas ram kawat, tetapi angin dari arah pintu depan yang sudah terbuka. Saat itulah saya melihat sesosok perempuan muncul berpakaian putih dengan rambut yang tergerai melambai, sebagian menutup wajahnya.

Saya tidak mengenali wajahnya, tetapi jelas dia bukan nenek saya, sebab nenek tidur di belakang, di ruangan tempat tidur berkelambu, tempat tidur sekaligus dapur. Ia masih sangat muda dengan wajah yang teramat pucat… Saya tahu itu hantu, tetapi saya tidak bisa berteriak atau menjerit. Mulut saya rapat terkunci.

Saya baru terasadar ketika saya sudah terjatuh ke lantai tanah, terguling dari dipan itu dan merasakan sakit luar biasa. Rupanya kepala membentur tanah. Saya menangis sebelum kemudian nenek terbangun dan menemani saya tidur di dipan itu.

Saat kelas SMP, tahun 1978, baru saya ceritakan pengalaman itu kepada kakek dan nenek saat saya liburan.

“Oh, itu mah hantu Si Siti, Kakek juga sering menemukan dia jalan melayang ke arah bong,” kata kakek sambil tertawa. Bong yang dimaksudnya adalah peti mati bekas orang Cina. Nenek juga tidak menyangkal, bahkan ia baru memberi tahu bahwa di bawah tempat tidurnya terdapat dua bong bekas. Astagfirullah, jadi selama itu saya harus tidur di atas bekas peti mati orang Cina!

Peristiwa penampakan makhluk halus yang kedua, yaitu saat saya kelas dua SD tahun 1973, saat itu saya tidur bersama ayah. Saya menderita demam yang luar biasa parah, sampai-sampai suhu tubuh meninggi tak terkendali. Tiba-tiba pada tengah malam saya terbangun dan melihat di belakang ayah sesosok bayangan perempuan dengan rambut tergerai. Saya masih mengingat percakapan saya dengan ayah saat itu.

“Ayah, itu ada Bi Cucu!” kata saya menunjuk sosok perempuan yang sedang tergolek tidur dengan santai.
Ayah terloncat dari tidurnya karena saya mengguncang-guncangkan badannya yang atletis. “Mana? Mana?”
“Itu, di belakang ayah!”
“Ah, tidak ada, Nak!”

Jelaslah bahwa itu adalah penampakan makhluk halus.

Siangnya saya memeras otak apa kiranya salah saya. Mungkin tanpa izinnya saya telah duduk di atas sebuah batu saat mancing ikan. Saya teringat, siang harinya sebelum saya jatuh sakit panas-dingin, saya memang memancing dengan Asep Wahyu, salah seorang teman yang masih terbilang saudara. Saya memancing di sungai yang rimbun di Jati, di atas sebuah batu besar.

Pancingan saya laris manis waktu itu, bukan hanya ikan mujahir, ikan mas merah pun saya dapat. Tetapi itu tadi, rupanya saya telah duduk tanpa izin di atas batu besar itu dan si penguasa batu, kata “orang pintar” memang kuntilanak berujud perempuan, marah atas tindakan saya sehingga sengaja membuat saya jatuh sakit demam. Belum puas, ia pun datang pada malam-malam itu, yang membuat ayah terloncat dari tidurnya.

Nah, dua peristiwa itu menghantui saya. Ini aula yang cukup mewah, adakah makhluk halus atau hantu mau menampakkan diri di sini? Memang tidak menampakkan diri. Tetapi baru saja saya ngelangut untuk berusaha tidur lagi, “seseorang” yang tidak tampak mencekik saya sehingga saya susah bernafas. Saya merasakan adanya jari-jemari yang hangat yang melingkari leher saya. Tetapi akal mengatakan tidak ada orang mati dicekik hantu, kecuali dicekik manusia!

Saya melafalkan ayat kursi yang saya hapal sambil memegang leher. Tidak lama kemudian, saya merasakan tangan-tangan yang tak tampak itu mulai mengendurkan cekikannya, untuk kemudian saya pun terbebas. Jujur saja, saya tidak bisa tidur lagi selepas kejadian itu, sampai adzan Subuh ramai berkumandang, sampai kemudian lampu terang kembali.

Setelah selesai sarapan, saat saya pamitan sambil membayar uang penginapan, saya bertanya kepada resepsionis yang kemarin memberi saya peluang menginap di aula, apakah ia mematikan lampu tadi malam.
“Mati lampu? Tidak, tidak ada mati lampu! Saya tidak mematikannya,” katanya.

Ya, sudahlah! (Bersambung)
**

Pepih Nugraha
Jakarta, 11 Desember 2006

Tuesday, November 28, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (5)



Perjuangan Dimulai

SEBELUM terminal bus antarkota dipindahkan ke Kampung Rambutan di timur Jakarta, dulu terminal bus antarkota berada di Cililitan. Bahkan dengan menyebut “Cililitan” saja, orang tahu maksudnya ke terminal bus itu. Namun sejak awal tahun 1990-an, saat Gubernur DKI Jakarta dijabat Surjadi Soedirja, terminal bus antarkota Cililitan dipindahkan ke Kampung Rambutan. Alasannya, tentu saja Terminal Cililitan sudah sangat crowded.

Nah, sekitar pukul 03.00 dinihari itulah saya tiba di Terminal Cililitan. Memang masih terlalu pagi. Tetapi saya manfaatkan untuk mandi di tempat sewa mandi, sekalian wudlu untuk persiapan shalat subuh.

Saya sering membaca bahwa terminal bus manapun rawan kejahatan, apalagi Terminal Bus Cililitan yang merupakan terminal transit bagi mereka yang akan meneruskan perjalanan ke jantung kota Jakarta. Sering saya dengar para bandit berkeliaran mencari mangsa, khususnya perempuan desa yang tidak tahu kemana harus melangkah setelah sampai di Terminal Bus Cililitan. Kerap perkosaan dengan kekerasan atau pemberian obat bius secara paksa terjadi di sini akibat lugunya para gadis desa.

Saya segera melupakan cerita-cerita seram yang saya baca di koran-koran. Toh saya bersyukur tidak ada kejadian mengerikan menimpa saya. Saya percaya diri saja. Jarak Bandung-Jakarta tidaklah terlalu jauh, tetapi memang saya jarang berkunjung ke ibukota ini. Akan tetapi bekal hidup di perkampungan kumuh Tambora, Jakarta Barat, saat masa kecil saya menjelang TK cukup memberi bekal, saya tidak perlu takut Jakarta.

Saya menumpang bus kota “46” ke arah Grogol dan harus berhenti di perempatan Slipi. Setelah itu mencari Mikrolet 09 jurusan Tanahabang-Kebayoran Lama untuk berhenti di Palmerah Selatan, tepatnya depan Pasar Pamlerah. Dari situ saya tinggal jalan kaki ke belakang pasar. Di sanalah kantor Harian Kompas berdiri.

Tes pertama berlangsung sangat menegangkan. Setidak-tidaknya itu yang saya rasakan, padahal tes bersifat umum, yakni psikotes. Artinya, calon wartawan pun saat itu besar kemungkinan disatukan dengan calon pustakawan. Yang membuat saya terkejut, ternyata ada beberapa teman satu kuliah yang mengadu nasib ikut tes. Saya tahu mereka juga belum punya ijazah seperti saya. Kami saling tersenyum dan tentulah masing-masing bergumam, “Aksi diam-diam itu akhirnya ketahuan juga!”

Tes berlangsung selama kurang lebih lima jam. Sangat menguras energi dan pikiran. Anehnya saya enjoy saja mengerjakannya, tanpa sedikit pun nervous. Padahal sebelum tes dimulai, kegugupan dan rasa tidak percaya diri sempat datang menyergap. “Toh saya ‘kan masih kuliah,” hibur saya dalam hati. Sebelum psikotes berakhir, para penguji yang di kemudian hari saya tahu dari bagian SDM (Sumber Daya Manusia), tidak lupa mengingatkan bahwa hasil tes akan diumumkan sebulan kemudian.

Sebulan kemudian, saya dinyatakan lulus psikotes dan harus kembali datang ke Jakarta untuk tes ilmu pengetahuan umum dan bahasa. Karena memakan waktu dua hari tes, saya terpaksa minta ditemani ayah karena tidak terpikir dimana saya harus menginap. Karena ayah saat itu menjadi Ketua PGRI Ranting Pagerageung, maka tujuannya adalah Wisma PGRI di jalan Tanah Abang III yang gedungnya nyaris berhadap-hadapan dengan pabrik pemikiran Orde Baru, CSIS. Di Wisma PGRI itulah saya menginap.

Dua minggu berikutnya, saya dinyatakan lulus dan kembali harus ke Jakarta untuk tes kecakapan khusus, menyangkut kemampuan dan bidang masing-masing. Saya kembali ke Wisma PGRI dengan membawa surat rekomendasi ayah sebagai Ketua PGRI. Ayah waktu itu tidak lagi bisa menemani. Lagi pula, masak saya harus diantar terus. Berbekal surat rekomendasi itu, saya menuju Wisma PGRI. Tatkala saya datang sendiri menjelang petang hari, wisma sudah penuh sesak. Tidak ada kamar tersisa!

“Sudah penuh semua, Dik, seluruh kamar sudah terisi rombongan guru-guru peserta konferensi,” kata resepsionis pria saat saya menyerahkan surat rekomendasi itu.

Saya bingung tujuh keliling. Dimana saya harus menginap? Di tempat saudara? Memang ada beberapa saudara saya di Jakarta, tetapi dimana mereka tinggal? Saya tidak membawa satu nomor telepon pun. Malangnya lagi, saya tidak mungkin menghubungi kedua orangtua saya di Ciawi, sebab rumah di sana pun belum terpasang telepon!

Saya terpaku dengan tas yang masih tersandang di pundak, menatap resepsionis itu tanpa kata-kata. Memang sempat terpikir untuk kembali ke Terminal Bus Cililitan, setidak-tidaknya saya bisa pura-pura membaca semalam suntuk di mushola yang ada di terminal itu, sambil sekalian ikut mandi. Karena tidak mungkin memaksa si resepsionis, saya permisi membalikkan tubuh untuk pergi.

“Dik, tunggu sebentar!” itu suara resepsionis.
Saya berhenti dan segera menoleh. Tampak resepsionis itu melambaikan tangan, menyuruh saya kembali mendekat. “Mau kemana?” tanyanya setelah saya mendekat.
“Ke Terminal Bus Cililitan,” jawab saya.
“Pulang lagi ke kampung?
“Tidak, numpang tidur di mushola.”

Entah apa yang dipikirkan si resepsionis. Saya juga tidak terlalu berharap saat itu. Tetapi cukup mengejutkan kalau petugas wisma bagian depan itu menawarkan sesuatu. “Adik mau tidur di aula?”tanyanya.

Aula? Pastilah itu ruangan sangat besar, tidak pantas untuk ditolak. Apa salahnya! “Mau,” saya yakinkan bahwa saya akan membayar penuh sesuai ongkos kamar, meski saya harus menginap di gudang sekalipun, asalkan jangan di toilet saja.

Legalah hati saya tatkala resepsionis itu membimbing saya ke sebuah lorong yang menuju ruangan besar yang disebut aula. Tidak ada bangku atau meja, apalagi tempat tidur, kosong melompong. Si resepsionis menyalakan salah satu lampu di aula itu dan meminta saya menunggu. Beberapa menit kemudian ia mendorong velbed beroda yang biasa saya lihat di rumah-rumah sakit. Ia menyiapkan velbed itu lengkap dengan kasur dan spreinya.

“Adik tidur di sini saja, ya!” katanya.
Saya mengangguk sambil menjabat erat tangannya, “Terima kasih!” (Bersambung)
**

Pepih Nugraha
Jakarta, 28 November 2006

Wednesday, November 22, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (4)


BAB 2
Berangkat Tes

ORANG sering mengingatkan anak-anaknya yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi: “Selesaikan dulu kuliahmu, jangan dulu kerja mencari uang! Uang yang kamu dapatkan dari pekerjaan biasanya akan membutakanmu dari ilmu-ilmu yang kamu tuntut di bangku kuliah. Bersabarlah sedikit sebelum benar-benar mendapat ijazah perguruan tinggimu!”

Belakangan saya paham tentang satu pepatah Latin yang mengatakan, “Pecuniam caeca est”. Artinya kurang lebih “uang itu buta”. Saya tahu maksud orang tua dulu, kalau kita sudah pegang uang atau bermain-main dengan uang, kita bisa lupa segala-galanya, termasuk lupa menyelesaikan kuliah itu tadi. Kuliah justru yang seharusnya diprioritaskan, sebab selepas itu uang segera didapat.

Terus terang, saya harus mengabaikan nasihat para orangtua yang bijak itu. Tidak tanpa dasar, para orangtua berkata demikian karena bermuasal dari pengalaman hidup yang mereka alami. Betapa uang dari hasil pekerjaan sering melenakan mahasiswa karena tanpa ijazah pun pekerjaan sudah didapat. Pendeknya, mengapa harus susah-susah menyelesaikan kuliah? Mengapa pula harus susah-susah mendapatkan ijazah kalau uang bisa didapat dengan mudah?

Kondisi ini akan jauh berbeda dengan para mahasiswa yang “nyambi” sana-sini untuk membiayai sendiri kuliahnya. Di Bandung, selama saya kuliah, tidak sedikit teman saya yang menjadi sopir atau kernet angkot yang biasa ngalong pada malam hari. Teman di jurusan ilmu-ilmu eksak kerap memberi les privat pada anak-anak berorangtua mampu. Ada pula sebagian teman mahasiswi jurusan bahasa asing yang menjadi pemandu amatir untuk tamu-tamu bule.

Saya sendiri sudah terbiasa menulis cerita pendek atau artikel di sejumlah media massa jauh-jauh hari sebelum kuliah, sejak saya duduk di bangku SMP. Saya tidak sendirian, beberapa artikel teman kuliah saya bahkan sudah mampu menembus halaman empat Kompas, halaman opini yang bergengsi. Salah satu teman kuliah yang pernah beberapa kali tulisannya di muat halaman opini Kompas adalah Yudi Latif, yang kini sudah bergelar Doktor dan menjabat Deputi Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Dari sejak kuliah saya angkat topi untuk teman yang satu ini.

Tetapi bagi mahasiswa yang oleh orangtuanya menjadi tumpuan harapan agar segera menyelesaikan kuliahnya, agar ijazahnya kelak bisa digunakan melamar sebagai pegawai negeri sipil, ceritanya akan lain. Dianggap sebagai kegagalan awal tatkala mahasiswa tingkat akhir tergiur pekerjaan, lalu melupakan tugas skripsi untuk mengejar pekerjaan.

“Bagaimana jika kamu diterima bekerja, Nak?” ayah bertanya saat saya pamit untuk tes di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, saat saya balik pamitan ke Ciawi.
“Saya akan sujud syukur, sebab itu cita-cita saya.”
“Kuliahmu?” sela ibu. Saya kemudian meyakinkan ibu, segera saya selesaikan kuliah, merampungkan skripsi yang tinggal bab-bab akhir, lalu mendapat ijazah. “Jadi kamu tidak mau jadi dosen?” tanya ibu lagi.

Dosen? Ini memang obsesi orangtua sejak saya masuk kuliah di tahun-tahun pertama. Simpel saja dan tidak ada yang harus disalahkan. Kedua orangtua saya guru sekolah dasar. Mereka selalu mengambil contoh, dengan menjadi guru sekolah dasar saja mampu menyekolahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi dari gaji mereka. Apalagi kalau menjadi dosen sebuah perguruan tinggi yang strata muupun “status sosialnya” jauh lebih tinggi dari “sekadar” guru SD.

Tentu saja saya meyakinkan ibu, juga ayah saya, bahwa orang bekerja itu tidak harus menjadi dosen atau guru. Saya bilang bahwa saya kurang sabar, kurang bisa, dan kurang berbakat mengajar. Dalam hati saya sudah berbohong, sebab kenyataannya saya suka mengajar, suka berbagi ilmu, meski cara menyampaikannya kurang sempurna.

Bakat saya terbesar adalah menulis. Tidak lupa saya jelaskan, toh saya biasa mendapat uang dari hasil menulis sepanjang saya kuliah. Nyatanya itu tidak pernah mengganggu kuliah. Orangtua kehabisan argumen.

“Yah, Ibu hanya bisa mendoakanmu, Nak, semoga kamu berhasil. Hati-hati di jalan!” pesannya sebelum saya naik Bus “Bahagia” jurusan Banjar-Jakarta pada malam hari, di tepi Jalan Tanjakan Cangkudu yang dingin dan sepi. (Bersambung)

Wednesday, November 15, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (3)


Coba Melamar

TIDAK menyia-nyiakan waktu. Keesokan paginya saya sudah berada di pinggir jalan mencegat mobil “Elep” yang biasa datang dari Ciamis, kabupaten tetangga dengan Tasikmalaya dan berhenti di terminal Cicaheum, Bandung. Mobil “Elep” sebenarnya mobil penumpang umum yang biasa memuat 16 sampai 20 orang sekali angkut.

“Elep” tidak lain mobil keluaran Isuzu dengan nama dagang “Elf”. Tetapi sopir, kernet, dan lidah orang Sunda pada umumnya tidak bisa membedakan bahkan mengucapkan huruf “f” maupun “v”. Kedua huruf itu sama-sama akan diucapkan “p” yang tegas seperti mengucapkan kata “pepes”. Uniknya kalau naik “Elep”, sudah galib calon penumpang menawar kernetnya terlebih dahulu. Tetapi rata-rata untuk jarak Tasikmalaya-Bandung saat itu, tahun 1989, antara Rp 2.500 sampai Rp 3.000.

Jarak Tasikmalaya-Bandung sekitar 100 kilometer. Karena jarak Tasikmalaya-Ciawi kurang lebih 20 kilometer, jadi sesungguhnya saya tinggal menempuh 80 kilometer lagi ke arah barat. Wajar kalau sudah mendekat Bandung, sang kernet biasa banting harga, yang penting seteron terkejar, syukur kalau ada lebihnya. “Elep” yang saya tumpangi menembus kabut pagi.

Sampai di Terminal Cicaheum, saya langsung naik angkot jurusan Ciroyom. Angkutan umum itu akan melewati Jalan Dipati Ukur, ruas jalan dimana Universitas Padjadjaran (sebelum pindah ke kampus di Jatinangor, Sumedang) berdiri. Di seberang depan Universitas Padjadjaran di Jalan Dipati Ukur itu dulu ada perkampungan, namanya Haur Pancuh. Nah di belakang Haur Pancuh itu ada lagi Haur Mekar. Di salah satu rumah penduduk di Haur Mekar itulah, di rumah E. Kosasih, saya kos.

Saya langsung naik ke lantai (papan kayu) atas, tempat saya kos. Saya teringat dosen filsafat saya, Wasito Puspoprodjo (kini sudah meninggal) yang mampu berbicara delapan bahasa asing secara fasih, sering menyebut “kandang japati” (rumah merpati) untuk kamar-kamar mungil di lantai dua yang biasa di koskan kepada para mahasiswa. Saya memang kos di “kandang japati” itu dengan uang kos Rp 200.000 setahun. Saya punya banyak saudara di Bandung, tetapi saya lebih enjoy tinggal di rumah kos.

Di “kandang japati” itu saya mempersiapkan surat lamaran yang saya tulis tangan. Fotokopi ijazah SMA saya lampirkan. Konyolnya meski tidak diminta, saya lampirkan pula sertifikat kursus gitar klasik dasar Yamaha saat saya SMA dan Bahasa Jerman dasar Goethe Institut, juga fotokopi beberapa cerita pendek karya saya yang dimuat di majalah dan koran-koran. Maksudnya untuk meyakinkan (lebih tepat mengelabui) penyortir surat lamaran bahwa saya punya “kemampuan lebih”, meski saya belum lulus S1.

Setelah itu saya langsung ke Kampus Fakultas Ilmu Komunikasi di Jalan Sekeloa, kampus yang terpisah dengan kampus induk di Jalan Dipati Ukur, untuk meminta transkrip nilai dari semester pertama hingga delapan. Syukurlah, dengan asumsi nilai akhir skripsi B, nilai kumulatif saya sudah 2,8. Suatu nilai yang lebih dari cukup, dari syarat yang diajukan Kompas saat itu yang cukup 2,75. Setelah syarat-syaratnya dirasa lengkap, dikirimlah lamaran itu melalui pos dengan perangko kilat.

Saya tidak pernah bercerita kepada teman-teman kuliah kalau saya sedang coba-coba melamar ke sebuah harian ternama di Indonesia, Harian Kompas. Bukan karena saya tidak ingin membeludaknya pesaing di antara pelamar kelak, tetapi karena malu dan kurang percaya diri saja. Malu karena kalau ini sekadar coba-coba saja. Tetapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, terbersit keinginan untuk bisa diterima di Kompas. Hem, sebagai pustakawan tentunya. Biarlah, tak mengapa.

Satu bulan telah berlalu, jawaban atas surat lamaran yang saya kirimkan belum juga saya terima. Saya pikir, mungkin sudah masuk ke tong sampah. Terus terang, saya berharap surat panggilan itu datang dan saya tidak bisa melupakannya. Sambil menunggu surat panggilan itu datang, saya menyibukkan diri menyusun skripsi. Saking dikebutnya skripsi, saya tinggal menyelesaikan beberapa bab terakhir saja.

Tiba pada suatu hari, saya dikejutkan oleh datangnya selembar surat yang datang ke kos-kosan. Dari kop suratnya saya sudah tahu, itu surat dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Tentu ada dua kemungkinan, surat penolakan atau surat panggilan. Saya berpikir cepat, surat penolakan jarang dikirimkan kembali dan biasanya langsung menjadi penghuni tempat sampah. Tetapi surat ini?

Surat itu saya buka dengan tangan bergetar dan jantung yang berdegup tidak seperti biasanya. Setelah saya buka, ternyata itu surat panggilan untuk ikut tes. Surprise juga, minggu depan saya ikut tes. Mungkinkah angan-angan saya segera terwujud?

Kiat:
1. Jangan abaikan iklan lowongan kerja di media massa, sebab itu bisa jadi peluang.
2. Setelah membaca iklan lowongan kerja, tidak ada salahnya mencoba mengirim surat lamaran sesuai keahlian atau kecakapan, sebab ini mungkin awal dari sebuah tantangan.
3. Jika ada surat panggilan untuk tes masuk pekerjaan, jangan lepaskan kesempatan itu, percaya diri saja.

Pepih Nugraha
Jakarta, 15 November 2006

Wednesday, November 08, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (2)

Mencerna Sejenak



CIAWI adalah sebuah desa di sebelah barat Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah “tanah air” dimana saya lahir dan dibesarkan. Dari arah Bandung, desa ini terletak di timur sejauh 80 kilometer. Dari arah Bandung pula, kita harus melalui Nagreg, sebuah turunan tajam bercabang dua, satu arah Tasikmalaya dan satunya lagi arah Garut, yang menjadi “bintang televisi” setahun sekali, saat mudik dan arus balik berlangsung. Di Nagreg inilah kemacetan gila-gilaan sering terjadi, terus ke timur menuju Limbangan, Lewo, Malangbong dan desa Ciawi.

Di desa itu, sebuah kolam ikan di pinggir Jalan Tanjakan Cangkudu boleh jadi menjadi saksi kekesalan saya sore itu. Sialnya, ikan yang saya pancing sama sekali malas menyentuh mata kail dan umpannya. Rupanya beberapa jam sebelumnya ayah telah menebar pakan yang gurih berupa dedak halus bercampur lumpur tanah. Pantas saja ikan tak mau datang, meski saya sudah tepekur lama di sana membuang rasa kesal.

Tetapi di saat ngelangut dan pikiran yang masih melayang-layang, kembali bayangan iklan lowongan kerja itu munculi. “S1 Sarjana Perpustakaan”, demikian iklan itu mengatakan. Tiba-tiba saya terperangah: ah, yang benar saja! Dimana di Indonesia ini ada Sarjana Perpustakaan?

Selanjutnya, serenceng pertanyaan bermunculan begitu saja dalam benak ini. Bukankah satu-satunya fakultas yang membuka strata satu ilmu perpustakaan itu baru di Universitas Padjadjaran? Bukankah saya salah satu mahasiswa angkatan pertama Jurusan Ilmu Perpustakaan? Bukankah jurusan itu baru dibuka untuk pertama kalinya tahun 1985 dan sampai tahun 1989 saat iklan lowongan kerja itu dimuat belum menghasilkan seorang pun sarjana S1 perpustakaan?

Kesimpulan dari bertubi-tubi pertanyaan itu adalah: saat itu belum ada sarjana perpustakaan yang dihasilkan perguruan tinggi manapun di Indonesia! Saya berani bertaruh. Dan saya benar-benar bertaruh dengan diri sendiri.

Tentu saja saya hampir terloncat dari tempat saya tepekur di pinggir kolam. Bukan karena mata kail disambar ikan, tetapi karena lagi-lagi menghadapi kenyataan, di Indonesia belum ada sarjana perpustakaan. Nah, mengapa saya tidak coba-coba bikin lamaran dan katakan dalam surat lamaran itu bahwa saya sebentar lagi menjadi sarjana perpustakaan, bahwa kini sedang menyelesaikan skripsi, bahwa saya bla bla bla…

Saya bersyukur, dalam keadaan frustasi dan terpuruk seperti itu, selalu saja ada jalan jika kita mau mencarinya, jika kita mau merenungi dan kemudian mencernanya. Mungkin juga dituntun oleh naluri bahwa seseorang, termasuk saya, tidak bisa menerima nasib buruk begitu saja tanpa ada sedikitpun usaha. Sebagai orang yang beragama, saya selalu yakin adanya tangan-tangan yang tidak tampak yang dengan kemurahan-Nya siap menolong siapapun, siap memberi jalan.

Ibarat jalan berlampu dalam sebuah lorong pesawat di kala gelap, cahaya membentang yang redup namun sangat jelas di kegelapan itu membimbing saya untuk tidak menyerah, tidak terpuruk, dan tidak termakan frustasi begitu saja.

Boleh jadi kalau saat itu tenggelam dalam rasa frustasi yang dalam karena iklan lowongan kerja itu, saya tidak akan menjadi wartawan Kompas seperti sekarang ini. Berbekal upaya merenungi, mencermati, menghayati dan mencerna isi lowongan kerja itu, gairah untuk mencoba itu tiba-tiba muncul. Ini benar-benar tantangan. Menyeruak dari dalam batin saya bahwa saya harus mencoba. Harus!

Saya membereskan alat-alat pancing segera. Berlarilah saya kembali ke rumah tanpa satu pun ikan di tangan. Ibu saat itu tengah duduk santai mengangkat cangkir ditemani ayah yang sudah siap-siap berangkat shalat Maghrib. “Bu, mana kopi saya yang tadi?”

Ibu tersenyum. “Nih,” katanya menyodorkan cangkir. Itu cangkir kopi saya tadi yang isinya sudah tandas, tinggal ampasnya saja. “Ibu pikir kamu sudah tidak meminumnya lagi!” (Bersambung)

Pepih Nugraha
Jakarta, 8 November 2006

Thursday, November 02, 2006

Otobiografi Virtual: Menulis Itu Asyik (1)

Menu Baru

Pengantar:
Agar lebih variatif Beranda T4 Berbagi yang memuat Berbagi Pengalaman Menulis (BPM), Karya Sahabat, atau catatan pengalaman menulis lainnya di luar BPM, menampilkan pengalaman saya menjadi wartawan, khususnya menjadi wartawan Kompas. Selain ingin lebih mengenalkan diri saya terkait dunia menulis, syukur dapat memberi inspirasi siapapun dalam berusaha, menyiasati keadaan, bangkit dari situasi “imposible”, menangkap peluang, berjuang, dan bertahan setelah memasuki medan juang penulisan. Sebutlah ini semacam "otobiografi karier" pribadi yang saya tulis secara apa adanya, dengan liputan dan pengalaman penulisan yang beragam. Di sini sahabat bakal tetap menemukan tips menulis, cara mengatasi kemacetan saat menulis, menghadirkan ide, mengolah gagasan, melahirkan inspirasi, bahkan trik sebuah tulisan bisa dimuat media massa.

Menjadi wartawan hanyalah salah satu cara bagaimana kita bisa, terbiasa, atau dipaksa menulis. Jangan khawatir, tanpa harus menjadi wartawan pun sahabat tetap bisa menjadi penulis. "Otobiografi virtual" ini, katakanlah "blogger juga punya otobiografi", saya beri judul Menulis Itu Asyik (MIA). Bentuk penulisan yang mencampurkan paparan dengan percakapan ini dimaksudkan agar alur cerita lebih deras mengalir, terhindar dari kebosanan, dan syukur dianggap menciptakan genre baru penulisan. Tanggapan, kritik, dan saran sahabat bisa disampaikan ke alamat pepih_nugraha@yahoo.com sebagai umpan balik. Tulisan ini ditampilkan secara bersambung setiap pekan dan berakhir entah sampai kapan… Selamat mengikuti!

BAB 1
Iklan Lowongan Kerja

SEKITAR akhir Desember 1989, harian Kompas memuat iklan lowongan kerja untuk menjadi wartawan harian terkemuka di Indonesia itu. Menjadi wartawan atau penulis adalah cita-cita saya sejak duduk di bangku sekolah dasar. Lantas kesempatan terbuka saat membaca iklan lowongan kerja itu! Wah, alangkah bangganya jika saya menjadi bagian dari Kompas, menjadi wartawan Kompas lagi!

Tetapi saya harus mengubur dalam angan-angan itu, paling tidak kesempatan menjadi wartawan. Apa pasal? Karena iklan lowongan kerja itu mensyaratkan setiap pelamar harus menyertakan fotokopi ijazah strata satu (S1) alias sarjana. Sedangkan saya saat itu baru mau memulai menulis skripsi!

“Aduh, coba aku sudah lulus sarjana ya, Bu, barangkali bisa melamar,” gumam saya saat itu. Cahaya mentari sore yang bersinar cerah menerobos bilik rumah, saat secangkir kopi panas menemani.

Rupanya gumaman itu terdengar ibu saya, Enok Suhayah, ibu yang kini sudah almarhumah. “Sabar saja, Nak, selesaikan dulu kuliahmu. Kalau sudah jadi sarjana, kau bisa melamar lagi,” redamnya.

Saya jelaskan bahwa kesempatan menjadi wartawan Kompas tidak datang setiap tahun. Artinya, iklan lowongan kerja yang kecil dan termuat hanya di sudut bawah koran itu baru akan muncul lagi entah beberapa tahun kemudian. Tentu saja kesempatan menjadi wartawan Kompas akan hilang dengan sendirinya. “Percaya, Nak, kesempatan itu (iklan lowongan kerja) akan datang lagi. Mau tambah lagi kopinya?”

Saya cuma mengiyakan saja. Lalu aroma kopi tubruk yang diseduh ibu untuk yang kedua kalinya tersaji di meja. Tetap menerbitkan selera, meski tidak bisa mengobati tuntas kekecewaan saya saat itu. Mata masih tertuju pada iklan lowongan kerja itu.

Sejenak mata terantuk pada baris-baris kalimat berikutnya. Ternyata saat itu masih di iklan yang sama, di bawah tercantum bahwa Kompas juga memerlukan pustakawan. Lha, bukannya saat itu saya kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran!

Keinginan menjadi wartawan Kompas telah menenggelamkan kenyataan bahwa sesungguhnya keahlian saya saat itu adalah bidang perpustakaan, ilmu yang saya tuntut selama 4,5 tahun. Keinginan “menjadi” tentu saja baru cita-cita. Tetapi bahwa saya hampir menyelesaikan kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, itu kenyataan. So, mengapa saya harus melupakan kenyataan di saat cita-cita yang masih belum tentu bisa tergapai? No, no, no… saya harus menghadapi kenyataan ini!

Tetapi kembali saya justru harus terantuk kenyataan, bahwa untuk menjadi pustakawan pun syaratnya harus sudah menjadi sarjana penuh, sarjana perpustakaan. Saya belum jadi sarjana! Nyaris saja koran itu saya campakkan saking kesalnya. Lantas saya meraih kail dan pancing untuk segera berlari ke kolam, memancing ikan sambil melupakan kekesalan. “Katanya kopi minta ditambah, kok malah tidak diminum?” Ibu mengingatkan.

Saya abai. Saya berlalu. Kopi yang kedua belum sempat tersentuh. Selain masih panas, juga hilang selera, menguap begitu saja. Aromanya tidak lagi menggoda. (Bersambung)

Pepih Nugraha
Jakarta, 1 November 2006
(Tanggal dimana saya ditetapkan Pak Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, sebagai Wakil Kepala Desk Investigasi. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Juga terima kasih kepada Pemimpin Redaksi Suryopratomo [Mas Tom] atas bimbingan, teguran, dan arahannya. Bagi saya, jabatan ini tidak lebih dari pengakuan, bonus, sekaligus amanah yang harus saya pertanggungjawabkan. Cita-cita tertinggi saya dalam menulis hanyalah menjadi wartawan Kompas, dan itu sudah berhasil saya raih sepuluh tahun lalu. Dengan amanah ini, saya tetaplah wartawan, wartawan yang harus mempertanggungjawabkan predikat ini dalam kegiatan menulis, menulis, dan menulis, meski sudah mendapat embel-embel editor sekalipun)



Thursday, September 14, 2006

Catatan (10): Karangan 24 Tahun Lalu

Yang Ter….

Iseng-iseng berkunjung ke Yahoo lalu memasukkan kata kunci Pepih Nugraha, namaku sendiri, eh ada karangan dalam bahasa Sunda karyaku yang dimuat Majalah OSIS SMA II Tasikmalaya, “Lugu”, tahun 1987/1988. Sebenarnya karangan itu kutulis saat kelas dua SMA tahun 1982/1983, sudah 24 tahun lalu, tetapi baru termuat di edisi 1987/1988 saat sudah duduk di semester lima Universitas Padjadjaran. Mungkin saat aku menulis karangan itu di antara sahabat malah ada yang belum lahir.

Karangan itu berjudul “Pangpangna” (artinya: “yang ter…”). Karangan humor itu maksudnya mau mengundang tawa, tapi boleh jadi tidak lucu sama sekali. Tetapi bagaimanapun itu karya 24 tahun lalu. Karya tulisku semasa SMA dulu antara lain cerpen dimuat Suara Karya Minggu edisi Mei 1982, cerita mini di majalah Gadis, dan… lupa lagi.

Biar sahabat mengerti apa arti “Pangpangna” itu, baiklah sekarang kuterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Bisa juga ditengok di http://sukapura.blogsome.com/. Maaf kalau sedikit rasis karena menyebut warna kulit, juga menyebut-nyebut surga-neraka, sebab waktu itu persoalan SARA belum menjadi isu sensitif dan dalam batas-batas tertentu boleh dipakai banyolan. Berikut terjemahannya:

Pangpangna:

Panghideungna: Urang negro turunan keling nu can mandi salila sataun, nyumput na tungtung guha meneran keur poek bulan, nyumput na luhureun areng tutung teuing bari diharudum sarung hideung, nempona bari peureum.
(Yang TerHITAM: Orang negro keturunan keling yang belum mandi selama setahun, sembunyi di ujung gua pas lagi gelap bulan, sembunyi di atas arangyang gosong sambil dibalut sarung hitam, dilihat sambil merem) .

Pangbodasna: Urang eskimo nu boga kasakit kurang darah, tas manggih kareuwas, tuluy gugulingan na luhureun apu bari diwedak camerok aya kana sadimna. Ti ditu-ti dieu dicaangan ku lampu neon sababaraha siki meneran keur moncorong panonpoe.
(Yang TerPUTIH: Orang Eskimo berpenyakit anemia yang kaget, lantas berguling-guling di atas kapur sambil dibedak tebal. Dari sana-sini diterangi beberapa neon pas matahari lagi bersinar terang).

Pangbadagna: Gajah bareuh keur reuneuh salapan bulan. Eta gajah teh boga kasakit busung lapar nu komplikasi jeung beri-beri, jaba geus meh saminggu tilelep ka walungan. Upama hayang leuwih gede nempona make mikroskop.
(Yang terBESAR: Gajah bengkak pas hamil sembilan bulan, punya penyakit busung lapar yang komplikasi dengan penyakit beri-beri, sudah seminggu tenggelam di sungai. Kalau mau lebih besar harus dilihat menggunakan mikroskop).

Pangleutikna: Anak virus nu pangbungsuna teu manggih dahar meh sabulan, boga kasakit TBC jeung tekanan batin. Ditempona ulah jauh teuing, upama urang aya di Pulo Jawa, eta virus teh tunda di Pulo Irian).
(Yang TerKECIL: Anak virus paling bungsu yang tidak makan hampir sebulan, punya penyakit TBC dan tekanan batin. Dilihatnya jangan jauh-jauh, kalau kita ada di Pulau Jawa, virus itu harus berada di Irian)

Pangpanasna: Cicing di naraka bari ngaleot na luhureun seeng anu dikurilingan ku durukan. Saencana, awak dibalur ku tarason jeung ditempelan ku tempel koyo. Nginum bandrek nu kakara meunang nyait. Komo upami bari make jaket bari dirangkep ku wol beureum euceuy. Ret ka lawang surga, kabogoh direbut batur.
(Yang TerPANAS: Berdiam diri di neraka sambil nyetrika di atas seng yang dikelilingi api unggun. Sebelumnya, seluruh badan diolesi obat gosok tarason dan dilapisi tempel koyo. Minum bandrek yang baru saja matang dijerang. Apalagi kalau sambil mengenakan wol warna merah menyala. Melirik ke pintu surga, terlihat pacar direbut orang).

Nah, apa kubilang, tidak lucu ‘kan… Tapi sekali lagi, itulah karya tulis 24 tahun lalu yang dimuat di majalah SMA. Mohon tidak ada yang tersinggung, apalagi dikait-kaitkan dengan SARA.

Pepih Nugraha
Palmerah Selatan, 14 September 2006

Sunday, February 19, 2006

Catatan (1): Tentang Aku...

Ingin Menjadi Berguna



Dengan rendah hati, saya perkenalkan diri... Nama saya Pepih Nugraha, lahir di Tasikmalaya, Desember 1964. Sampai saat saya menulis "Tentang Aku" ini, saya sudah berusia 42 tahun. Sudah cukup tua. Saya tidak tahu, berapa tahun lagi Tuhan akan memberi saya umur. Tetapi saya berdoa biar panjang umur, sebab saya ingin anak saya, Zhaffran Nugrahaputra Munggaran (Kakang), yang lahir dari istri saya Tantri Sulastri, sukses dalam sekolah, dalam berkarier dan sukses dalam hidup. Saya ingin merasakan punya cucu dari anak-anak saya kelak. Saya seorang wartawan, senang catur, dan berkomunikasi, lewat apapun.

Saya senang mengajar, setidak-tidaknya berbagi ilmu, karena mungkin kedua orangtua saya, Lili Sumarli dan Enok Suhayah (alm) sama-sama guru. Kedua orangtua mendidik saya dalam kesederhanaan yang luar biasa. Saya bahkan sering berpikir, barangkali kalau tidak ada lebaran, saya tidak akan pernah punya baju baru selain baju seragam sekolah. Sepatu? Orangtua hanya mampu membelikan saya tiruan sepatu Adidas putih, saat saya menginjak dewasa. Tetapi saya bangga dengan kedua orangtua saya itu, sangat bangga, sebab mereka bisa menyekolahkan saya sampai universitas. Saya dan adik saya Dadang Eka Jatnika bersekolah di Universitas Padjadjaran Bandung, sementara adik saya terkecil Siska Tania Dewi, sekolah di Universitas Pasundan.

Dulu saya sekolah di TK BKOW Ciawi tahun 1971, SDN Ciawi I tahun 1972-1977, SMPN Ciawi 1978-1979 untuk kemudian pindah ke SMPN I Tasikmalaya sampai 1981, SMAN II Tasikmalaya 1982-1984. Waktu di SMP terjadi perpanjangan sekolah sampai setengah tahun karena kebijakan pendidikan zaman Mendikbud Daoed Joesoef saat itu. Pernah kuliah di Ikopin selama satu tahun karena gagal Sipenmaru. Saya merasa terpuruk pada tahun itu, gagal dalam sekolah dan juga dalam pacaran, tetapi lekas bangkit pada tahun berikutnya setelah diterima di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tahun 1985. Lulus dari universitas April 1990, langsung bekerja di Harian Kompas, sampai sekarang.

Selain menulis, saya senang membaca. Membaca apa saja, asalkan yang bermanfaat. Membaca hampir semua karya Pramoedya Ananta Toer, kagum dengan buku Frankenstein dari Mary Sheley, Da Vinci Code-nya Dan Brown, membaca hampir semua karya Ahmad Tohari, Sidney Sheldon, Johan Huizinga, dan lain-lain. Sebelum menjadi wartawan, pernah menulis cerpen, cerber, dan artikel, di sejumlah media massa. Sepanjang SMA dan perguruan tinggi, malah menulis cerpen dan artikel dalam bahasa Sunda di Majalah Mangle. Kecuali puisi, saya hampir tidak pernah menulisnya. Saya tidak bisa menulis puisi dan ingin belajar menulis rangkaian kata-kata indah yang membentuk gugusan puisi itu.

Saya mengenal bahasa Inggeris, Jerman dan Perancis, tetapi hanya sebatas kenal saja. Almarhum kakek saya dari pihak ibu, Maknun Iskandar, sempat mengajari saya bahasa Belanda. Sedang kakek dari pihak ayah, Sobari, adalah petani yang kalau berhitung angka rumit cukup mengandalkan ingatannya saja. Saya mengaguminya. Kedua kakek itu saat meninggal sama-sama mencapai usia 90 tahun! Tetapi ibu saya hanya berusia 58 tahun sebelum Tuhan memanggilnya. Terlalu muda, apalagi saya belum sempat membalas seluruh kebaikannya!

Saat ini saya tidak punya cita-cita lagi, selain membesarkan dan menyekolahkan anak, menjadi suami yang baik dari istri Tantru Sulastri yang saya nikahi 3 Oktober 1993, berusaha menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab, menjadi wartawan yang terus jujur, berbagi ilmu dari pengalaman yang saya dapat, serta sedikit menjadi orang berguna buat sesama.

Saya suka hujan. Tidak aneh kalau saya bisa menikmati hujan malam-malam dengan keluar sendiri, di depan rumah atau berkendaraan di jalan tol yang sepi. Kalau hujan sangat besar, tidak segan saya membuka baju untuk main hujan-hujanan. Itu saya lakukan sampai sekarang, apalagi bersama Zhaffran, anak saya. Dalam guyuran hujan saya biasa bergumam, semoga saya dan anak saya bisa menikmati hujan lagi di musim-musim hujan mendatang, mendatang, dan mendatang.....

Pepih Nugraha