Showing posts with label Suryopratomo. Show all posts
Showing posts with label Suryopratomo. Show all posts

Thursday, May 29, 2008

Catatan (51): Mas Tom Pamitan



"Bukan Perpisahan, Tapi Pertemuan Baru"

ITU kalimat yang diucapkan Suryopratomo yang biasa kami sapa "Mas Tom", saat menyampaikan pidato singkat pada acara "perpisahan" di Lantai III Redaksi Kompas, Kamis tadi, 29 Mei 2008 pukul 12.30 WIB. Mas Tom adalah mantan Pemimpin Redaksi Kompas yang mengakhiri masa tugasnya di Kompas mulai 1 Juni 2008 setelah 20 tahun bergabung.

"Saya terlalu menyayangi institusi ini (Kompas). Bagi saya, ini bukan perpisahan, ini adalah pertemuan baru. Jangan ada persahabatan yang terputus," kata Mas Tom seraya menambahkan, acara makan-makan ini sebagai tradisi dalam merayakan hari ulang tahunnya. "Kebetulan pada tanggal 12 Mei, hari ulang tahun saya, saya belum merayakannya. Baru sempat kali ini," kata Mas Tom lagi.

Hadir dalam acara sederhana dengan hidangan utama pecel madiun adalah pemilik Harian Kompas Jakob Oetama. Juga hadir wartawan senior Kompas August Parengkuan, Ninok Leksono, pemimpin perusahaan Agung Adiprasetyo, dan tiga Wakil Pemred Rikard Bagun, Trias Kuncahyono, dan Taufik H Mihardja. Sementara Pemred Bambang Sukartiono tidak hadir karena sedang berada di Korea Selatan dan baru tiba Sabtu nanti.

Kemana Mas Tom setelah ini? Mas Tom bercerita bahwa isu kepindahannya dari Kompas menjadi ramai. Ia misalnya disebut-sebut bertemu Bos Media Indonesia Surya Paloh. Untuk hal ini, Mas Tom tidak menyangkalnya. "Saya katakan (kepada Surya Paloh) bahwa saya tidak mau bekerja lagi di bidang media massa, saya mau bekerja di bidang lain. Tetapi saya tidak akan pernah lupa pekerjaan wartawan, menulis... karena itulah yang saya bisa."

Mas Tom mengungkapkan, kalau dirinya masih bekerja di bidang media massa, hal itu bisa diartikan dirinya sakit hati terhadap Kompas sehingga nantinya dikesankan berhadap-hadapan secara frontal. "Saya terlalu mencintai institusi ini (Kompas), jadi tidak mungkin bekerja di media massa lagi," ulangnya.

Kepada Jakob Oetama dia mengungkapkan, bahwa dirinya mencoba pekerjaan baru bersama anak-anak muda di bidang perikanan, yakni ekspor berbagai jenis ikan ke Vietnam. Tetapi Mas Tom tidak mengungkapkan siapa pemilik perusahaan perikanan itu.

Beberapa teman didaulat memberi kesan tentang Mas Tom, antara lain Romana Fransisca selaku wakil wartawan muda, Dedy P, Wakiman, dan Heru. Sebelumnya, pidato singkat disampaikan Agung Adiprasetyo yang menyatakan terima kasih atas kerjasama Mas Tom selama di Kompas. Sebelum makan-makan, dilakukan salaman kepada Mas Tom yang didahului Jakob Oetama. Saya tentu saja bersalaman dan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Sunda, bahasa yang biasa kami berdua gunakan dalam berbagai kesempatan santai.

"Hatur nuhun kana sagalana, Kang," kata saya yang berarti terima kasih atas segalanya. Mas Tom membalas dalam bahasa yang sama, "Sami-sami, Pep."

Oke deh Mas Tom, selamat bertugas di tempat baru dan sukses selalu....

Friday, March 28, 2008

Catatan (44): Mos Tom Diganti...


Memberi Kopian "Interpretative Reporting" (3)


SEKALI waktu saat sedang duduk santai di Kantor Biro Kompas Indonesia Timur di Makassar, pada suatu sore yang cerah, saat bersiap-siap berangkat mandi sinar mentari sore yang memerah di barat Pantai Losari, saya mendapat telepon dari Jakarta. Dari kantor. "Pak Ias mau bicara," kata operator perempuan, menyebut sebuah nama singkatan yang tidak lain Trias Kuncahyono, Redaktur Pelaksana.

"Hem, tidak biasanya beliau mengontak saya," kata saya dalam hati sambil menunggu suara di seberang sana. Ponsel Motorola lipat warna perak masih dalam genggaman. Setelah berbasa-basi cukup lama, Pak Ias langsung mengutarakan keperluannya. "Surabaya menunggu Mas Pepih!" Saya tahu, artinya saya harus segera meninggalkan Makassar. Wow, Surabaya!

Tentu saja berat meninggalkan Makassar, sebab meski "hanya" bertugas selama 2,5 tahun di Kota Anging Mammiri ini, saya sudah merasa memiliki kota ini. Banyak teman dekat yang saya kenal, tidak hanya di Makassar, tetapi juga sampai menembus Ambon dan Kota Palu. Apa boleh buat, seminggu kemudian saya sudah harus berkemas lagi untuk bertugas di Surabaya sebagai wakil kepala biro, mendampingi Pak AW Subarkah yang saat itu menjadi kepala biro Kompas Jawa Timur.

Turunkah jabatan dari kepala biro menjadi wakil kepala biro di Kompas? Dilihat dari namanya memang turun, tetapi dari strata maupun penggolongan tidak demikian. Kalau tidak sedikit ada kenaikan, paling tidak ada tambahan pendapatan lainnya. Alasannya, biro Jawa Timur yang besar tidak sekelas dengan Biro Indonesia Timur yang kecil, yang tidak memiliki lembaran daerah. Kalau biro Jawa Timur kelas A, biro Indonesia Timur kelas B.

Bagi saya pribadi, naik atau turun pun tidak jadi soal. Bahkan harus kehilangan jabatan pun tidak jadi soal, asal jangan kehilangan pekerjaan sebagai wartawan saja. Bukankah saat di Makassar saya sudah meminta mengundurkan diri hanya karena mengikuti perasaan bersalah?

Di Surabaya, saya hanya beberapa kali saja bertemu Mas Tom, antara lain saat peresmian Gedung Kompas Biro Jawa Timur yang baru, juga saat ada pameran Kelompok Kompas Gramedia di Surabaya. Saat itulah saya memberi mas Tom sebuah kopian buku "Interpretative Reporting". Saya merasa harus memberinya buku itu bukan karena lancang ingin mengajarinya bagaimana menulis laporan interpretatif. Tidak lain hanya ingin sekadar berbagi saja, berbagi ilmu, karena saya merasa buku ini sangat baik dan praktis untuk gaya penulisan berita "yang tidak biasa".

Saya tidak tahu apakah Mas Tom tersinggung atau tidak, tetapi harapan saya tetap agar Mas Tom membaca buku kopian itu. Syukur kalau sudah membacanya, sehingga kita bisa langsung bertukar pikiran saja. Nyatanya, dia dengan rendah hati mau menerima buku kopian itu, meski tanpa komentar sedikit pun. Ya sudah, tidak mengapa!

Memberi buku kepada atasan, bukan berarti menjilat. Sebab kalau mau menjilat, kalau budaya itu memang ada di Harian Kompas, bukan dengan cara memberi buku, kopian pula! Mungkin dengan cara lain yang saya tidak tahu. tetapi tidak ada pikiran ke arah sana. Lurus-lurus saja, bahwa harapan saya adalah bisa bertukar pikiran dengan Mas Tom mengenai buku kopian itu. Memang diskusi itu tidak pernah terjadi. Tetapi, saya tidak harus menyesal karenanya.

Kurang lebih saya dua tahun bertugas di Surabaya, kemudian pada suatu hari saya mendapat telepon lagi. Kali ini langsung dari Mas Tom lagi... (Bersambung)

Saturday, March 22, 2008

Catatan (43): Mas Tom Diganti...


Niat Mundur Ditolak Mas Tom (2)

MENDAPAT pesan singkat peringatan dari Mas Tom membuat saya menjadi tidak enak hati. Jarak Jakarta-Makassar sedemikian jauh, tetapi saat itu terasa wajah Mas Tom ada di depan saya dengan rona kecewa. Kecewa atas keisengan saya yang membuat geger Jakarta, setidak-tidaknya pihak PSDM. Bukan karena saya takut lalu tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu, tetapi karena Mas Tom sudah terlalu baik kepada saya.

"Jangan kamu pikir semua orang suka kepada kamu. Siapa tahu ada orang yang tidak suka sama kamu, lalu apa yang kamu lakukan menjadi bumerang buat kamu sendiri", demikian SMS susulan dari Mas Tom yang benar-benar mendesak saya harus berbuat sesuatu: saya harus mempertanggungjawabkan perbuatan iseng saya itu dengan cara saya sendiri: mengundurkan diri!

Saya tidak perlu berpikir panjang untuk memutuskan ini, meninggalkan jabatan ini, toh awal-akhir jabatan akan hilang juga. Itu cuma soal waktu. Mundur bukan berarti disersi atau patah arang menghadapi tugas. Ini bentuk pertanggungjawaban saja, meski kesannya bisa saja diartikan sengaja menghindari tugas di Makassar. Tidak, ini konsekuensi bahwa saya harus kehilangan jabatan, saya harus mundur. Makassar terlalu indah untuk segera saya tinggalkan. Kalau boleh meminta, bahkan saya ingin selamanya bertugas di Makassar sampai pensiun. Saya terlalu mencintai kota ini dengan segenap isinya. Maka saya membalas SMS Mas Tom, pendek saja, tanpa ada keraguan: "Saya siap mundur untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya ini, Mas Tom! Saat itu tahun 2003, artinya baru dua tahun saja saya bertugas di Makassar.

Saya pikir Mas Tom akan lama membalasnya, karena beliau harus mempertimbangkannya juga. Tetapi tidak lama kemudian SMS jawaban saya terima. "Tidak perlu mundur! Kamu tetap di Makassar. Selamat bekerja..."

Wah, saya terpukul untuk kesekian kalinya. Padahal, saya sudah persiapkan mental saya untuk pulang ke Jakarta dengan wajah menunduk penuh kekalahan, kegagalan, dan ketololan. Tetapi itu tidak terjadi. Mas Tom tetap menghendaki saya bertugas di Makassar sampai waktu yang tidak ditentukan. Saya boleh saja saat itu mengartikan, Mas Tom memaafkan kelancangan saya. Tetapi dari kejadian itu, saya bertekad untuk bertindak lebih bijak, khususnya menyangkut kepentingan pekerjaan dan sensitivitas kantor. Saya tidak akan main-main dengan urusan kantor meski sekadar iseng. Benar kata Mas Tom, "Jangan kamu pikir semua orang suka kepada kamu!" Nasihat bijak yang akan terus terngiang sampai kapanpun, kemanapun kaki ini melangkah.

Sejak saat itu boleh dibilang saya jarang berkontak-kontakan lagi dengan Mas Tom. Pun saya jarang ke Jakarta, sehingga kesempatan bertemu secara fisik pun tidak ada. Sampai kemudian pada suatu waktu, Mei 2004, saya mendapat telepon dari Trias Kuncahyono, Redaktur Pelaksana Kompas saat itu, bahwa saya harus segera meninggalkan Makassar yang saya cintai untuk bertugas di tempat baru: Surabaya. (Bersambung)

Friday, March 21, 2008

Catatan (42): "Kompas Update"


Kompas Update, 4 Januari 2008

TANGGAL 4 Januari 2008 lalu harus saya jadikan tonggak sejarah hidup, paling tidak sejarah hidup saya. Bukan karena pada hari itu, Jumat, telah lahir bayi mungil bernama Kompas Update, tetapi karena saya merupakan orang pertama yang diserahi tugas oleh manajemen mengelola bayi yang baru lahir itu. Sejelek apapun sejarah itu dibuat -baik atau buruk, berhasil atau tidak Kompas Update kelak- nama saya akan terus tercatat.

Tidak ada yang aneh dalam penugasan ini. Juga tidak ada yang istimewa. Biasa saja sebagaimana layaknya penugasan pada umumnya. Ketahuilah, penugasan dalam institusi koran, berarti "kewajiban yang harus dilaksanakan", tanpa perlu berdebat. Itu rumus mekanisme koran. Maka ketika daur hidup saya harus berubah 180 derajat sekalipun: siang dijadikan malam dan malam dijadikan siang, saya tidak ambil peduli.

Tidak sedikit pun protes dan tidak merasa diri dibuang atau dicampakkan! Bahkan saya agak sedikit "mengingkari" adanya sebuah hadits yang bunyinya kira-kira begini: telah kujadikan siang sebagai hari untuk bekerja... Apa boleh buat. Biarlah, yang satu ini urusan saya dengan Tuhan saya.

Maka menyambut hari "H" terbitnya Kompas Update, seminggu sebelumnya saya sudah mengondisikan diri untuk selalu bangun pukul 1 tengah malam, berangkat setengah jam kemudian, dan sampai di kantor paling cepat pukul 2 atau setengah 3. Begitu setiap hari. Mulai edisi percobaan atau betha pada tanggal 2 dan 3 Januari. Hanya dua kali pekerjaan dummy tanpa dicetak, Jumat 4 Januari 2008 sudah muncul edisi pertama Kompas Update, Sejarah pun lahir.

Seperti yang dijelaskan Pemred Suryopratomo dalam pengantar pada Kompas Update edisi pertama, keberadaan Kompas Update ini untuk memberi dignity atau martabat kepada pembacanya. Sekarang, pembaca Kompas yang biasa memperoleh Kompas yang dijual siang dengan harga Rp1.000, mendapat sesuatu yang baru, yakni berita yang di-update pada halaman 1 dan halaman sambungan, yakni halaman 15. Terbit tetap 32 halaman dengan harga Rp 1.000 dari Senin sampai Jumat.

Nama Update sendiri dijelaskan, bahwa nama itu merupakan istilah jurnalistik yang sudah dikenal umum sebagaimana halnya deadline, lead, stop press atau breaking news. Kelak nama ini menjadi keberuntungan tersendiri setelah lahirnya pengekor Kompas paling jempolan, Media Indonesia, dengan nama Media Indonesia Siang. Koran ini mungkin malu hati kalau harus mengambil nama "Update", sehingga mencantumkanlah embel-embel Siang yang tentu saja mengesankan berita basi atau berita kesiangan. Berbeda dengan update yang berarti berita terbaru, terkini, atau berita yang ditindaklanjuti. Sama sekali bukan berita basi atau berita siang. Kita lihat, apakah koran ini juga akan nekat mengganti embel-embel Siang dengan Update!

Sebagaimana kelahiran bayi pertama, kami menunggu dengan berdebar di percetakan setelah deadline berakhir. Berita yang kami angkat saat itu kebetulan hari pertama pemilihan calon presiden Amerika Serikat lewat Kaukus Iowa. Pemenangnya di Partai Demokrat adalah Barack Obama yang unggul atas Hillary Clinton, sementara di Partai Republik John McCain sebagai pemenangnya. Saya pilih foto ekstrem Obama untuk ditampilkan pada headline foto halaman pertama, dengan berita utama tentang Obama pula. Berita itu menggeser berita jebolnya tanggul Lapindo pada saat-saat akhir. Pilihan yang sangat tepat, sebab menangnya Obama saat itu merupakan berita ter-update, terkini dan paling hot.

Ada beberapa foto yang saya ambil saat hari pertama Kompas Update terbit. Dalam kesempatan ini saya tampilkan satu buah foto di atas sebagai tonggak sejarah, saat Mas Tom, demikian Suryopratamo biasa dipanggil, mengamati Kompas Update edisi pertama yang baru diambil dari gilingan percetakan.

Tuesday, February 12, 2008

Catatan (39): Mas Tom Diganti...


Kebaikan Yang Tak Terlupakan (1)

RASANYA baru saja terngiang di telinga, malam Natal 2000 ketika suara diujung ponsel sana berkata, "Besok Kompas terbit, meskipun hari libur. Ikuti terus perkembangannya!" Itulah suara Suryopratomo, Pemimpin redaksi Kompas.

Hari ini, Senin 11 Februari 2008, Mas Tom, demikian kami biasa memanggil, harus bertugas di tempat lain. Tempatnya digantikan Bambang Sukartiono. Pengumuman berlangsung sederhana, juga singkat. Hal biasa terjadi dalam sebuah organisasi pers. Setiap datang dan pergi, selalu menyisakan haru.

Ijinkan, saya mengenang kebersamaan saya dalam bekerja, dalam urusan profesional, dengan Mas Tom, sejak saya meliput di desk politik, kepala biro, sampai di tempat saya sekarang...

Saya harus mencatat penugasan saya sebagai kepala PO Lebaran dan Natal 2000 sebagai tonggak bekerja di struktural. Tidak sampai setahun setelah peristiwa "Bom Natal 2000", pada 1 Oktober 2001 saya diminta Mas Tom bertugas di Makassar sebagai Kepala Biro Kompas untuk Indonesia Timur. Saat itu, Anwar Hudiono (Ano), satu dan lain hal memilih mengundurkan diri sebagai kepala biro Indonesia Timur, meski baru bertugas enam bulan, dan kembali ke Surabaya. Saat itu, sehabis liputan di DPR, Mas Tom meminta saya duduk saat saya melintas untuk menyeduh kopi. "Minggu depan kamu ke Makassar, ya!"

Sebagai "prajurit", saya artikan itu sebagai penugasan. Tidak ada bantahan, apalagi penolakan. Menolak tugas, berarti menolak meliput. Tidak meliput, berarti tidak ada berita. Saya seorang wartawan, dan itulah harga mati yang harus saya bayar. Saya menjawab pendek, "Baik, Mas!"

Ke Makassar, ringan-ringan saja, tanpa beban. Saya hanya membawa satu kopor pakaian plus buku-buku di dalamnya. Saya berpikir, setidaknya saya berpisah dengan anak-istri untuk tiga tahun lamanya. Anak-istri tidak ikut serta dan saya harus berjuang melawan kesendirian di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sebagai Pemred Kompas, Mas Tom tidak terlalu sering mengontak saya di Makassar, kecuali kalau saya berbuat "nakal" atau berbuat sesuatu yang "bukan jalur Kompas". Tujuannya baik, mengingatkan, dan karenanya saya menjadi lebih hati-hati. "Jangan lupa, siapa tahu ada orang yang tidak suka dengan tindakanmu," katanya mengingatkan, suatu waktu saat saya masih di Makassar. Apa yang terjadi?

Gara-garanya sederhana saja, dan sama sekali tidak terduga. Dengan estimasi dan sedikit naluri, saya waktu itu "membocorkan" para calon wartawan yang lulus yang tengah digembleng di bangku diklat selama enam bulan, tanpa menyebut siapa-siapa yang gagal. Lantas prediksi itu saya tampilkan di mailing list karyawan Kompas. Uniknya, prediksi itu 100 persen benar!!! Banyak komentar rekan-rekan wartawan di milis itu menyebut bahwa saya punya bocoran jitu dari PSDM, atau jangan-jangan saya punya link dengan PSDM. Wah, saya orang independen, apalagi saat itu jauh dari pusat kekuasaan di Jakarta!

Mengapa saya bisa menebak dengan tepat calon wartawan yang lulus dan yang tidak. Sederhana saja, dengan logika. Inilah barangkali pelajaran bagi Diklat dan PSDM untuk memperbaiki mekanismenya secara lebih luwes dan cerdas. Waktu itu tebakan saya berdasarkan intuisi dan sedikit logika saja, yakni hanya calon wartawan yang gagal saja yang dipanggil ke Jakarta, sementara wartawan lainnya yang berhasil atau lulus dan sudah disebar di seluruh Indonesia, tidak dipanggil.

Betapa sederhananya, bukan? Saya waktu itu saya iseng merinci wartawan-wartawan yang lulus tanpa menyebutkan wartawan yang gagal. Wartawan yang lulus, ya wartawan yang tidak dipanggil ke Jakarta alias tetap menjalankan tugasnya di tempat masing-masing yang kemudian akan menjadi tempat penempatan pertama mereka. Bukankah seharusnya PSDM atau Diklat kala itu memanggil seluruh calon wartawan ke Jakarta untuk mengaburkan, baik yang lulus maupun yang gagal? Nah, kalau begini caranya saya pasti tidak bisa iseng-iseng menebak!

Meski awalnya iseng dan mendapat tanggapan ramai di milis, rupanya itu tidak mengenakkan pimpinan di Jakarta, temasuk Mas Tom. Saya mungkin dianggap lancang dan dianggap mendahului apa-apa yang belum diputuskan PSDM, sebab PSDM baru memutuskannya beberapa hari kemudian setelah milis itu tersebar. Itu tadi, hasilnya 100 persen tebakan saya tidak meleset!

Saya langsung mendapat SMS dari Mas Tom, "Tidak demikian caranya seorang pemimpin kalau menyatakan rasa tidak puas. Kita bisa duduk dan diskusikan bersama..." (bersambung)

Tuesday, December 25, 2007

Catatan (36): Selamat Natal


Natal dan Damai di Bumi


TERUS terang, saat malam dan hari Natal tiba, saya selalu teringat peristiwa malam Natal tahun 2000 lalu. Saat itu saya yang kebetulan mendapat kepercayaan dari kantor dimana saya bekerja sebagai Kepala PO Lebaran, Natal, dan Tahun Baru, tengah berjaga-jaga sepanjang siang dan malam. Saat itulah peristiwa yang tidak mungkin hilang dalam ingatan saudara-saudara kita, Umat Kristiani, terjadi dengan meledaknya puluhan bom di sejumlah gereja di tanahair.

Tanggal 25 Desember 2000 seharusnya hari libur, juga libur bagi koran. Akan tetapi karena ini peristiwa besar (meski sangat tidak kita harapkan terjadi), Kompas tetap harus terbit saat libur, cukup empat halaman saja. Saya sebagai Kepala PO saat itu langsung mengontak Suryopratomo, biasa dipanggil Mas Tom, yang saat itu sudah menjabat Pemimpin Redaksi.

"Kamu ikuti terus, kerahkan teman-teman yang bertugas, besok Kompas terbit," perintahnya lewat telepon genggam saat saya hubungi.

Ini prosedur biasa. Saya harus taat pada perintah itu. Sejumlah wartawan yang rata-rata masih gress dari dapur pendidikan, dikerahkan. Juga wartawan-wartawan lama. Hanya saja, dua wartawan "mangkir" dalam peristiwa besar itu. Satu calon wartawan dan satu lagi wartawan di sebuah desk yang sudah cukup lama menjadi wartawan.

Saat saya menelepon si calon wartawan lewat ponselnya, mengejutkan... dia tengah berada di dalam keretaapi menuju Bandung. "Siapa yang menugaskanmu ke Bandung?" tanya saya waktu itu. Terus terang, saya membutuhkan banyak tenaga wartawan saat itu karena saya harus terus berada di ruang redaksi untuk jaga gawang.

Ia menjawab, "Tidak ada." Inikah kelakuan calon wartawan, pikir saya. Saya tanya apakah dia tahu apa yang sedang terjadi beberapa menit lalu, ia menjawab tidak. "Bom meledak di sejumlah gereja!" suara saya mulai meninggi. Ia yang beralasan ke Bandung karena mengantarkan calon tunanganya tetapi tanpa minta izin tampak mulai mencari celah. Katanya, "Baik, kalau begitu saya meliput di Bandung saja." Wah, saya seperti diledek saja. Saya langsung bilang, "Tidak usah! Saya sudah meminta wartawan lain meliput Bandung. Selamat bersenang-senang!"

Satu wartawan lagi, yang sebetulnya sudah cukup lama bergabung di Kompas dan menjadi salah satu anggota desk, saya kontak dan memintanya meliput salah satu gereja di Bekasi yang juga jadi sasaran ledakan bom. Jawabannya, "Saya tidak bisa meliput." Saya balik bertanya, "Kenapa?" Dia langsung menjawab, "Saya harus mengantarkan mertua saya ke gereja tengah malam ini!" Saya mematikan telepon. Lalu saya mencatat dua perisiwa itu dan melaporkannya kepada Redpel Trias Kuntjahjono. Ini prosedur biasa.

Beberapa hari kemudian saya mendengar calon wartawan itu tidak jadi wartawan karena diminta untuk tidak melanjutkan pekerjaannya. Dia dianggap mangkir dan indispliner. Sedangkan si wartawan Kompas yang menolak tugas karena lebih memilih mengantar mertuanya, tidak lama kemudian dipindahkan ke divisi lain yang tidak memungkinnya menjadi wartawan Kompas lagi.

Konsekuensi selanjutnya adalah cap yang tertera di jidat sampai saat ini, bahwa saya adalah wartawan "killer" yang telah menjatuhkan seorang calon wartawan dan membat seorang wartawan pensiun selamanya dari kegiatan wartawan. Saya bilang masa bodoh, saya hanya menjalankan prosedur biasa sebagai Kepala PO. Yang menentukan nasib kedua orang itu bukan saya, tetapi pimpinan tertinggi koran ini.

Keesokan harinya, Kompas terbit khusus empat halaman. Karena para pengecer dan agen masih libur, saya pun harus mengedarkan koran gratisan itu di sejumlah tempat di daerah dekat-dekat kediaman saya, yakni di pom-pom bensin dan Bintaro Plaza. Umumnya mereka bingung, kok hari libur Natal Kompas malah terbit.

Saya berterima kasih kepada teman-teman yang memang menjadi anggota, plus teman-teman rekrutan saya serabutan yang tidak menjadi anggota tim yang saat itu bertugas di kepolisian seperti NIC (kini di desk olahraga) dan FER (kini bertugas di Batam). Mereka adalah wartawan, meski tidak menjadi anggota tim, tetapi saat peristiwa besar terjadi, tenaga mereka siap digunakan. Itulah wartawan!

Namanya juga perencanaan yang telah dibuat sebelumnya, itulah implikasi dan aplikasi dari sebuah perencanaan. Kategori berita yang bisa memaksa koran terbit meski hari libur, sudah ditentukan. Salah satunya kategori terjadinya "peristiwa besar". Dan, ledakan bom di sejumlah gereja pada malam Natal itu masuk ketegori itu.

Ini sekadar catatan saja. Selamat Natal bagi yang merayakan, damai di bumi damai di hati...