Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Wednesday, February 27, 2008

Catatan (40): Jangan Pernah Mengeluh


Karena "Kompas Update", Daur Hidup Berubah (1)

Anda yang biasa biasa hidup normal, dalam arti bangun jam 6 pagi, berangkat bekerja, pulang jam 5 sore, lalu istirahat bersama keluarga, mungkin merasa terkesiap dengan daur hidup yang tidak sama seperti Anda. Daur hidup yang ekstrem. Bayangkan, berangkat bekerja jam 1 malam, terus bekerja, lalu pulang jam 12 siang. Sesudah itu, Anda mau mau apa? Tidur! Terbalik-balik, bukan?

Uniknya, justru itulah yang terjadi pada saya. Lagi lagi sebagai wartawan, setidak-tidaknya tugas di bidang jurnalistik. Saya harus mengubah pola dan daur hidup ini sejak terbit Kompas Update, 4 Januari 2008 lalu. Bahkan tiga hari sebelumnya, saat Kompas Update masih dalam taraf betha alias percobaan. Kompas Update adalah Harian Kompas yang terbit mulai pukul 12.00 siang. Oleh manajemen dan redaksi, saya diminta mengurus Kompas Update ini, yang kelak akan saya ceritakan terinci dalam judul lain. Tetapi itu tadi, daur hidup saya berubah 180 derajat.

Saat orang terlelap tidur di kamar yang hangat, atau bahkan sebagian masih mendengkur di atas perut, justru saya mulai berangkat bekerja. Pukul 1 malam, saat pergantian hari baru saja dimulai. Saya tidak bisa tidak mandi kalau bepergian, apalagi bekerja. Maka tengah malam saya sudah mandi air panas. Sebelumnya, berangkat tidur mulai jam 9 atau 10 malam. jadi cuma tidur malam sekitar 2-4 jam saja, boleh percaya boleh tidak. Istri biasa menyediakan madu hangat dicampur air jeruk. Setelah minum, saya berlalu. Kadang kasihan juga sama Pak Satpam di lingkungan perumahan yang harus membukakan portal untuk saya. Mungkin mereka bertanya-tanya, apa sih pekerjaan saya?

tetangga saya bilang, kerjaan saya tidak beda dengan maaf, kupu-kupu malam atau perampok, yang biasa mulai bekerja pas pergantian hari. Saya terkekeh mendengarnya dan membalas: saya ini justru bekerja mengikuti daur kerja orang Amerika, meski bergaji rupiah! Saya tidak percaya ocehan tetangga yang dimaksudkan sebagai bercanda. Soalnya, kupu-kupu biasa juga terbang pagi atau siang hari, dan perampok paling ganas justru yang terjadi di siang hari bolong! Ini sekadar intermezo saja.

Inilah bagian kerja wartawan! Ini kunci yang saya pegang, sehingga saya tidak harus mengeluh atau merasa dibuang lewat penugasan yang memungkinkan melakukan rutinitas yang terbalik-balik itu. Kalau mengeluh atau menolak tugas, berhenti jadi wartawan!

Kadang terpikir oleh saya hal-hal yang menyeramkan saat saya menyetir sendiri. Apalagi kalau hujan turun deras. Wah, jangan-jangan di jok belakang atau di samping kiri saya sudah berganti-ganti makhluk halus yang ikut tanpa sepengetahuan saya, hiiiiiyyyyy... Untuk yang satu ini, saya sudah tidak takut karena pengalaman saya di rumah dinas dan kantor Makassar yang full hantu beberapa waktu lalu. Jadi, saya tenang saja berada di balik kemudi. Kadang ditemani suara Nicky Astria atau "Munajat Cinta"-nya The Rock. Jam 1 atau 2 dinihari, saya menjadi raja jalanan. Bintaro-Palmerah pun saya lalap tak sampai 30 menit. Bayangkan, jika siang hari kena macet, saya bisa sampai ke kantor 2 jam lebih.

Masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan, tetapi mungkin lain kali saja... (Bersambung)

Wednesday, October 18, 2006

Karya Sahabat (1)



Beranilah untuk Memulai!

Pengantar:
Dengan senang hati saya menerima cerita mini (cermin) dari seorang blogger yang berminat dalam tulis menulis. Ia adalah Willa, seorang ibu rumah tangga yang kini tinggal di Amerika. Tidak jauh-jauh, apa yang ia tulis adalah pengalamannya sendiri saat pertama-tama menginjakkan kaki di negara Paman Sam. Tulisan yang bergaya catatan harian. Sahabat bisa mengikuti buah karyanya berikut ini tanpa saya edit susunan apalagi gaya bahasanya. Saya hanya perbaiki salah ketiknya saja. Catatan ringan saya lampirkan di akhir tulisan:


PENGALAMANKU HIDUP DI NEGARA PAMAN SAM

Enam tahun yang silam ketika pesawatku mendarat di JFK New York International Airpot, aku bergumam "AMERICA HERE I COME". Menurut cerita orang-orang yang sudah mengalami hidup di negara ini katanya uenaaaak, segalanya serba mudah, serba convenient-lah hidup di Amerika itu.

Datang ke New York pada bulan Februari tentunya udara dingin sangat menggigit... kata peribasa, tapi kok kenyataannya memang begitu, Februari itu bulan yang paling dingin dari seluruh musim dingin. Salju dimana-mana, tak ada sama sekali daun yang hijau sepeti di negeri kita... ah sejauh mata memandang hanyalah salju yang dingin, bunyi angin berdesir meniup, kadang kala meniup sangat keras. Kuraba pipi, telinga, hidung, dingiiiiiin.

Waktu itu aku menyusul suamiku yang sudah lebih dulu berangkat dari Indonesia yang memang pulang kenegerinya sendiri setelah sekian lama tinggal di kota Bandung Berhiber tercinta bekerja di perusahaan pesawat yang waktu itu sangat terkenal di seluruh dunia.... barangkali? Tetapi karena keadaan ekonomi yang merambah di negara kita itu sampai mempengaruhi keadaan ekonomi di seluruh negeri sampai terjadilah kebangkrutan yang luar biasa sehingga semua expatriates harus pulang kampung termasuk suamiku.

Suamiku mengatakan "SELAMAT DATANG DI AMERIKA THE WILDERNES". Apa wildernes? kan Amerika itu negara Adikuasa... masa wildernes siih? menurutku wildernes itu kan Hutan Belantara... apa bener hidup di negara ini seperti di hutan belantara? Setelah aku mengalami kehidupan selama enam tahun di sini barulah aku menyadari bahwa hidup di negara ini tak semudah yang setiap orang bayangkan.

Kita harus tegar menghadapi kekerasan hidup di negeri orang yang serba dilakukan sendiri, kerja, belanja, masak, cuci pakaian, cuci piring... meskipun aku suka pakai mesin cuci piring setelah teman-teman datang makan makanan Indonesia. Itulah mungkin maksud perkataan suamiku ketika pertama kali aku menginjakan kaki di negeri Paman Sam ini.

www.willasunda.blogspot.com

Catatan:
Willa memulai tulisannya dengan salah satu unsur dari "5W + 1H", yakni unsur "when" (bilamana). "Enam tahun yang silam..." demikian ia menulis. Jika mau, ia juga bisa mulai dengan menggambarkan suasana di negeri asing yang berbeda dengan negara kita, yang otomatis menerbitkan keingintahuan pembaca. Misalnya, "Salju dimana-mana, tak ada sama sekali daun yang hijau seperti di negeri kita." Bisa juga ia mulai dengan seruan: "America, here I come!" Semua sudah diuraikan dalam Berbagi Pengalaman Menulis (3) dan (4).

Ke depan, hiasilah tulisan kita dengan "percakapan" agar suasananya lebih hidup. Hadirkan tokoh lain, misalnya suami, anak atau tetangga kita. Tulis saja: "Apa? Wilderness?" tanyaku pada suami, "Bukankah itu berarti hutan belantara." Suamiku menjawab sekenanya, "Ya begitulah, kau akan tahu nanti." Itu sekedar contoh saja. Kalau sudah terbiasa menggambarkan suasana percakapan, menulis cerita pendek hanya tinggal selangkah lagi. Willa sudah memunculkan "konflik" serta kausalitas (sebab akibat) mengapa ia terdampar di negara orang, sesuatu yang dibutuhkan dalam tulisan.

Salut atas keberanian Willa menulis. Saya masih menunggu hasil karya sahabat lainnya di alamat pepih_nugraha@yahoo.com, baik itu cerita mini, cerita pendek, catatan perjalanan, atau puisi. Masih ada dua penulis lain yang bertanya tentang bagaimana menulis. Saya akan menampilkan pertanyaan dan jawabannya dalam kesempatan lain.

Pepih Nugraha
Bintaro, 18 Oktober 2006