
Tema dan Stigma
TEMA dalam khasanah ilmu menulis, sering kita dengar dan orang sudah banyak mafhum artinya. Tetapi stigma masuk ke horizon ilmu menulis? Belum tentu! Bahkan mungkin tidak pernah ada. Memang, ini hanya pengandaian saya saja kok.
Saya kurang cakap mendefinisikan sesuatu, apalagi disuruh menghafal. Sebab bagi saya, definisi tidaklah penting-penting amat. Dalam benak saya, kalau saya mau bikin kamar mandi, misalnya, ya bikin aja, tidak perlu mendefinisikan apa itu “kamar mandi”. Itu kasarnya. Artinya kalau kita mau bikin cerpen, ya bikin saja tanpa harus tahu definisi cerpen. Begitu, kan?
Intinya begini. Sahabat bisa buat cerita pendek, novel, atau bahkan puisi, dengan tema tertentu. Misalnya "kejujuran dibalas dusta", "makna pahlawan di era digital ini", "kebaikan akan selalu keluar sebagai pemenang", "orang jahat pasti akan kalah", "kesetiaan dibalas kemunafikan", atau "kasih sayang dibalas dengan tipu daya…" Masih banyak lagi tema yang bisa menjadi titik awal dari sebuah cerita.
Bila saya ambil salah satu tema, katakanlah tema “kasih sayang dibalas tipu daya” alias penipuan, kita akan sampai pada cerita pendek karya Yoanna Chandra di bawah ini, yang ia persembahkan buat sahabat blogger dan tidak keberatan untuk dikritik.
Saya tahu, Yoanna bukan orang kemarin sore membuat cerita, setidak-tidaknya cerpen. Sebab, alur ceritanya (plot) sudah lancar. Adegan berjalan cepat, berkelebatan, yang kalau saya ibaratkan sebuah adegan dalam film, para pelakonnya bergerak aktif, tidak statis dan mobil. Kita terayun dan terseret cerita yang disodorkannya, kita menjadi ikut arus. Ini modal yang baik dalam sebuah cerita. Lalu kejutan disodorkan di akhir cerita.
Nah, yang ingin saya ceritakan di sini soal stigma. Wah, ini ‘kan istilah politik yang artinya “cap” yang diberikan kepada seseorang atau benda, sehingga sampai kapan pun “cap” itu terus melekat. Biasanya “cap” ini terus melekat sampai kapanpun. Ingat dulu Partai Golkar yang punya stigma “Partai Orde Baru”, Presiden Soeharto diberi stigma “Diktator”, Presiden Bush diberi stigma “Pembohong”, dan seterusnya. Padahal, stigma itu belum tentu benar lho, hanya saja karena ia telanjur terpahat di jidat, akan susah menghapuskannya.
Membaca cerpen “Nurani” karya Yoanna, saya kok tiba-tiba menjadi benci dan harus hati-hati kepada sopir taksi! Lho kenapa? Sebab, Yoanna telah memberi stigma kepada sopir taksi (meski tidak sengaja), bahwa sopir taksi itu penipu! Nah, ini stigma, bukan. Bayangkan kalau saya percaya pada cerpen Yoanna bahwa kelakuan sopir taksi seperti itu, duh kasihan sopir taksi lainnya, padahal di Indonesia ini ada ratusan ribu sopir taksi. Tapi bagaimanapun, ini pertanda cerpen Yoanna berhasil mengolah emosi pembacanya, termasuk saya.
Dalam cerpen itu diceritakan, bagaimana seorang sopir taksi menipu penumpangnya dengan berpura-pura tidak berdaya karena harus membayar ongkos operasi istrinya yang akan melahirkan anaknya. Kalau tidak punya uang seharga ongkos operasi melahirkan, maka pihak dokter tidak akan melakukan operasi. Saya akui, cerita ini cukup menyentuh. Perasaan mana yang tidak tergerak mendengar keluh kesah dan sosok sopir taksi yang seperti putus asa sehingga seorang penumpang pun tak sadar mengeluarkan uangnya, meski uang itu untuk kebutuhan sekolah anaknya! Konflik dan jalinan ceritanya cukup menawan, bukan?
Tetapi itu tadi, stigma! Ah, untungnya ini cerita, bukan berita, sehingga saya segera menghapus ingatan saya akan sopir taksi sebagaimana diceritakan dalam cerpen Yoanna. Maklum di Jakarta ini saya sering menggunakan jasa sopir taksi kalau saya males nyetir sendiri. Maklum lagi, saya belum bisa menggaji sopir pribadi, sehingga kerap saya harus bersinggungan dengan sopir taksi.
Untungnya, setiap pengarang diberi kebebasan berekspresi (licencia poetica), sehingga sah-sah saja mau mengakhir cerita dengan ending apapun: happy ending atau tragic ending. Silakan saja. Tetapi kita semua berharap, pertimbangkan stigma itu tadi, stigma yang diterakan di jidat seseorang yang kebetulan sopir taksi. Bukankah kita bisa mengakhiri cerita dengan sesuatu yang tetap menyentuh perasaan kita, misalnya dengan mengambil tema netral “keterpaksaan” si sopir taksi menjadi penipu, bukan tema “penipuan” yang dilakukan si sopir taksi?
Bisa saja si sopir taksi menipu para penumpangnya karena betul-betul kebutuhan mendesak, tetapi pada akhirnya ia insyaf dan meminta maaf kepada orang-orang (penumpang) yang pernah ditipunya dengan asumsi ia tahu alamatnya, meski ia tidak bisa mengembalikan uang hasil menipunya itu. Bahwa dia nanti mendapat ganjaran dilaporkan ke polisi atau dipukuli massa, bukankah di sini dramatisnya sebuah cerita? Selain itu, tema langsung kita dapatkan, bahwa ternyata “kejujuran tidak selamanya menuai kebaikan”. Ternyata juga, “kata maaf harus dibayar mahal dan bahkan nyaris dibayar nyawa”. Cukup menggetarkan, bukan?
Ah, asyik sekali ‘kan kalau sahabat rajin mengeksplorasi imajinasi sendiri untuk menghadirkan sebuah cerita yang menawan, tanpa harus memberi stigma kepada orang lain. Tetapi bagaimanapun, cerita yang Yoanna gubah adalah sah-sah saja adanya. Kalau tidak suka dengan pertimbangan saya, bisa jalan terus… dan teruslah berkarya untuk menghasilkan cerpen yang kuat.
N U R A N I 
Oleh Yoanna Chandra
Ya ampun, kesiangan lagi! Untuk kesekian kalinya dalam minggu ini aku terpaksa mengeluarkan ongkos taksi. Jika Raka tidak rewel karena kehilangan pensil warna tentu aku sudah duduk manis di mobil antar jemput kantor. Raka, anakku semata wayang, baru duduk di bangku TK. Setiap pagi aku harus mempersiapkan segala keperluannya sebelum berangkat bekerja.
Setengah berlari aku menuju halte di depan komplek perumahan. Sambil terengah-engah kuedarkan pandangan di sekitar halte berharap mobil antar jemput masih menunggu. Tentu saja harapan yang sia-sia karena mobil antar jemput tidak pernah menunggu lebih dari dua menit. Sementara aku sudah terlambat sepuluh menit.
Lima menit berlalu aku masih berdiri di halte tanpa melihat satupun taksi kosong lewat. Sebenarnya naik ojek lebih praktis, cepat sampai dan murah ongkosnya. Tetapi aku pernah terjatuh dua kali dari ojek karena menabrak sepeda dan angkot. Pengalaman yang cukup traumatis. Dalam hati aku berdoa semoga waktu berjalan lebih lambat sehingga aku tidak mendapat surat peringatan karena terlambat untuk yang ketiga kalinya minggu ini. Oh God, help me, please!
Dari jauh sebuah taksi berwarna hijau meluncur ke arahku. Dengan cepat kulambaikan tangan. Taksi berhenti dan aku bergegas masuk.
“Putar balik ya, Pak,” perintahku pada sopir taksi.
Tanpa menyahut sopir taksi mengambil arah memutar. Sebuah sepeda motor hampir terserempet. Remnya berdecit nyaring. Aku memekik kaget. Jantungku serasa copot. Aku agak kuatir dengan cara menyetir sopir taksi ini. Kelihatannya ia kurang berkonsentrasi.
“Mau ke arah mana, Bu?” tanyanya mengagetkanku.
“Kawasan industri Pulogadung, Pak,” sahutku cepat. Dadaku masih berdegup kencang.
Aku melirik pergelangan tangan. Pukul tujuh lewat sepuluh menit. Semoga perjalanan lancar sehingga aku bisa sampai di kantor sebelum pukul setengah delapan. Sebenarnya jika tidak macet jarak dari rumah ke kantor bisa ditempuh dalam waktu kurang dari limabelas menit. Tetapi siapa yang dapat menebak padatnya jalan di ibukota ini pada jam-jam sibuk. Kadang-kadang jika sedang macet waktu tempuh ke kantor bisa molor sampai empat puluh lima menit.
“Maaf, Bu, saya tidak memakai seragam,” ujar sopir tiba-tiba.
“Tidak apa-apa, Pak,” sahutku agak bingung. Baru kali ini seorang sopir taksi minta maaf padaku karena tidak memakai seragam. Boro-boro memperhatikan seragamnya, aku sendiri sedang sibuk dengan pikiranku, mencoba menenangkan diri dan berharap segera sampai ke tujuan.
“Soalnya sudah dua hari ini repot mondar-mandir mengurus istri yang akan melahirkan. Jadi tidak sempat mencuci seragam,” lanjutnya.
“Oya?” sahutku berusaha ramah.
“Iya, Bu, dari kemarin subuh sudah pecah ketuban tetapi bayinya belum bisa keluar karena sungsang. Mana istri saya sudah lemas sekali.”
“Mungkin harus dioperasi, Pak. Kasihan ibu dan bayinya kalau tidak segera ada tindakan.”
“Iya, memang harus dioperasi, Bu. Tetapi uang mukanya belum cukup.”
“Di rumah sakit mana, Pak?”
“Di Bintaro, Bu. Daerah Jurang Mangu.”
“Kok jauh sekali, Pak?”
“Iya, baru saja saya dari rumah saudara di daerah Pondok Bambu sini untuk meminjam uang tetapi ternyata dia sedang pulang kampung. Mungkin sudah nasib saya, Bu. Tapi ya sudahlah, saya cari penumpang saja untuk menambah biaya rumah sakit.”
Tiba-tiba ia terisak. Lalu dengan suara tersendat ia melanjutkan.
“Uang mukanya Rp 1.700.000,- saya sudah menyerahkan uang Rp 1.175.000,- tetapi rumah sakit tetap belum mau mengoperasi istri saya. Padahal badannya sudah biru semua.”
Isaknya bertambah. Berulang kali ia mengusap mata dan menyusut hidungnya. Aku terdiam. Perasaanku bercampur aduk. Kasihan, prihatin, kuatir, sekaligus marah. Sungguh keterlaluan! Bagaimana mungkin rumah sakit yang seharusnya mengutamakan keselamatan pasien dan bersifat sosial menjadi sangat komersial sehingga membuat orang yang seharusnya mujur bisa menjadi sial? Bagaimana bisa beberapa lembar uang lebih penting daripada dua buah nyawa yang sedang berjuang keras untuk sebuah kehidupan? Di mana hati nurani dan kepedulian bersembunyi? Oh Tuhan, bagaimana jika dua nyawa itu tidak terselamatkan, siapa yang harus bertanggungjawab? Seharusnya kehadiran sebuah kehidupan baru merupakan anugerah yang membahagiakan bukan musibah yang memilukan.
Lalu lintas tersendat di perempatan. Meskipun lampu pengatur lalu lintas berfungsi normal namun nafsu untuk saling mendahului dan tidak peduli membuat semua menjadi kacau. Jangankan keselamatan orang lain, keselamatan diri sendiri pun tak peduli. Lalu lintas terkunci. Dan semua berlomba memencet klakson tanpa henti. Seolah hanya dengan memencet satu tombol semuanya akan lancar kembali. Begitulah di jaman yang serba instant ini.
Tiba-tiba terdengar raungan sirine. Syukurlah, dua orang polisi datang menghampiri. Berbekal senjata peluit dan dua buah tangan yang bergerak kesana kemari perlahan lalu lintas mencair kembali.
Kami membisu. Larut dalam pikiran masing-masing. Aku membuang pandang keluar jendela. Sebuah sepeda motor mencoba mendahului dari sebelah kiri. Pengemudinya seorang pria -tanpa helm pengaman- membocengkan anak perempuan berseragam merah putih yang menggendong tas di punggungnya. Rambutnya dikepang dua berkibar-kibar terbawa angin. Anak itu memegang erat-erat pinggang pria yang memacu motor dengan kencang. Mungkin agar tidak terlambat sampai di sekolah. Terburu-buru. Berkejaran dengan waktu. Kecepatan nomor satu. Keselamatan bukan lagi hal yang perlu.
Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Kuperhatikan wajah sopir taksi dari samping. Umurnya sekitar 35 tahun. Mungkin juga lebih muda dari perkiraanku. Sebab tekanan hidup sering membuat orang kelihatan jauh lebih tua dari umurnya. Kulitnya sawo matang dan berkumis. Ia mengenakan kemeja lengan panjang –yang digulung ujungnya- berwarna hijau tua. Wajahnya tampak lelah. Mungkin karena sudah dua hari tidak istirahat ditambah lagi dengan kecemasan atas nasib istri dan bayinya. Kubayangkan tadi subuh ia berangkat dari Jurang Mangu ke Pondok Bambu dengan segudang harapan. Namun ternyata harapan tinggal impian.
Aku meraba tas di pangkuanku. Di dalamnya hanya berisi beberapa puluh ribu rupiah untuk ongkos dan biaya makan siang. Seandainya saja ada uang berlebih di dompetku… Tiba-tiba aku teringat kemarin menitipkan uang Rp 300.000,- pada Felis -kasir di kantor- untuk disetor hari ini ke rekening tabungan pendidikan Raka. Tetapi aku bimbang sejenak. Haruskah aku mengorbankan uang pendidikan Raka untuk orang yang tidak kukenal ini? Bagaimana aku harus mengganti uang Raka? Setiap awal bulan aku selalu mengatur keperluan untuk satu bulan. Keuangan kujaga dengan ketat karena aku tidak ingin besar pasak daripada tiang. Maklumlah aku dan suamiku hanya pegawai biasa yang harus pandai-pandai menjaga stabilitas keuangan rumahtangga.
Kupandangi lagi wajah lelah di depanku. Tegakah aku membiarkan ia kehilangan anak istrinya sekaligus? Apakah aku juga harus menyembunyikan hati nuraniku di depannya dan hanya bisa mencela orang lain? Bukankah aku bisa mengganti uang Raka dengan bangun lebih pagi dan memasak untuk bekal makan siang sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar makan siang dan ongkos taksi?
Sambil berdoa di dalam hati kusingkirkan kebimbanganku. Kuraih ponsel dan mengirim pesan pendek kepada Felis. Lis, tolong uang yang kutitipkan kemarin diberikan pada resepsionis di depan. Sebentar lagi aku sampai. Thanks.
“Ibu sudah punya anak?”
Aku terkejut. Hampir saja ponsel terlepas dari tanganku. Entahlah, kenapa pagi ini aku jadi mudah terkaget-kaget begini.
“Oh, sudah, Pak.”
“Ini anak pertama saya, Bu, kalau selamat.”
“Siapa yang menemani istri Bapak di rumah sakit?”
“Tidak ada, Bu. Orang tua saya baru datang besok pagi dari kampung.”
Ya Tuhan, keluhku dalam hati, begitu sengsaranya istri Bapak ini. Tak terbayangkan betapa ia sangat kesakitan dan ketakutan. Tolong Tuhan, ketuklah hati mereka agar bersedia menolongnya.
“Kenapa nggak ke rumah sakit lain saja, Pak? Siapa tahu bisa cepat tertolong.”
“Sama saja, Bu. Malah di rumah sakit lain minta uang jaminannya lebih besar lagi.”
“Aduh, jadi susah sekali ya, Pak?”
“Iya, Bu. Sekarang tinggal pasrah saja. Biarlah Tuhan yang menjaga anak istri saya.”
Apalagi yang harus dilakukan setelah berbagai usaha gigih seolah sia-sia belaka? Rupanya ada suatu tempat di ibukota ini yang tidak tersentuh oleh kecepatan waktu dan juga tidak peduli bahwa keselamatan seharusnya nomor satu. Karena ada yang jauh lebih penting dari semua itu.
“Pak, berhenti di dekat motor yang parkir itu ya.”
“Baik, Bu.”
Taksi berhenti tepat di depan pintu masuk. Tiga menit lagi kartu absenku akan berwarna merah. Aku mengulurkan ongkos taksi yang diterimanya dengan ucapan terimakasih. Dengan tergesa kubuka pintu taksi.
“Pak, tunggu sebentar ya, jangan pergi dulu.”
Setengah berlari aku menghampiri resepsionis dan mengambil amplop yang dititipkan Felis. Secepat kilat aku kembali keluar. Ternyata taksi telah memutar. Kukejar taksi dan kuketuk jendelanya. Ia membuka kaca. Wajahnya tampak kuyu. Kuulurkan amplop ke tangannya.
“Pak, ini ada sedikit uang. Semoga anak istri Bapak selamat ya.”
Aku berlari kembali ke kantor. Dengan terengah-engah kumasukkan kartu absen ke mesin amano. Pukul setengah delapan tepat. Thank God!
Pagi ini entah sudah berapa kalori yang terbakar untuk mengejar waktu. Aku memasuki ruang kerja dengan lega. Asri dan Mila tampak sedang mengobrol.
“…iya Mil, orang itu menangis sambil bercerita anaknya harus dioperasi tetapi tidak ada biaya. Tante gue kasihan dan kasih uang. Itu kejadian dua minggu lalu. Eh, ternyata dia penipu. Soalnya kemarin tante gue bertemu orang itu lagi dan dia menangis lagi dengan cerita yang sama. Gondok nggak sih?”
Aku terpaku di kursi yang belum dua menit kududuki. Cerita Asri menohok tepat di jantung hatiku. Pikiranku melayang cepat kepada sopir taksi tadi. Apakah aku telah tertipu? Rasanya tak mungkin orang itu menipu. Aku juga yakin sekali tidak terhipnotis olehnya. Sebab aku ingat setiap detail percakapan kami dan situasi sepanjang perjalanan tadi. Tetapi tak urung kebimbangan menyergap hatiku. Apakah ini modus penipuan paling mutakhir dengan cara mengaduk-aduk emosi korban agar tergerak hatinya dengan sukarela?
Kugelengkan kepala menghapus segala keraguan dan prasangka. Aku menghela napas panjang. Tuhan maha mengetahui setiap niat yang tersembunyi di sudut hati umatNya. Baik yang tulus maupun akal bulus. ***
Ok, sahabat, sampai jumpa di karya sahabat berikutnya...
Pepih Nugraha
Jakarta, 17 November 2006
Friday, November 17, 2006
Karya Sahabat (6)
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:32 PM
0
komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat
Monday, November 13, 2006
Karya Sahabat (5)

Mainkan Imajinasi Liarmu!
Kali ini kita menampilkan cerpen berjudul “Karma” dari sahabat Endang. Dari judulnya yang singkat saja, saya sudah bisa menebak, pesan yang ingin disampaikan adalah soal “pembalasan”. Suatu konsep religi, dimana kalau orang berbuat jahat terhadap orang lain, maka orang itu pada suatu waktu akan mendapat balasan serupa dari orang lain. Artinya, judul sudah jelas. Pembaca tidak lagi diberi kejutan oleh si pembuat cerita dia akhir cerita. Mereka tinggal mengikuti alur ceritanya saja, plus jalinan konflik di dalamnya.
Kesan saya saat melihat bangunan fisik cerpen, pastilah dia sebuah cerpen yang panjang. Saya hitung ada 12.712 karakter, suatu jumlah yang bisa dua kali cerpen. Artinya, cerpen ini terlalu panjang, paling panjang cukup 8.000 karakter. Dengan memperpendek cerita, niscaya orang tidak terlalu kecapekan menikmatinya. Para editor budaya yang biasa menilai cerpen kiriman, pasti lebih suka memilih cerpen yang padat, singkat, dan beralur cepat. Apa pula alur cepat? Jika ada alur cepat, tentu ada alur lambat? Benarkah?
Ah, ini istilah saya saja. Sebelum saya membuat cerpen, saya selalu membayangkan suatu adegan dalam film atau kejadian sehari-hari. Bila percakapan dua atau lebih tiga orang disajikan secara statis, masing-masing berdiri di tempatnya tanpa gerak apapun, penonton pasti merasa bosan sendiri. Lain kalau percakapan itu kita bayangkan sebagai suatu yang “sibuk”, cepat dengan gambaran kamera yang bergerak ke sana ke mari, baik itu karena bantuan crane atau kameramennya sendiri yang lincah bergerak mengikuti si pembicara.
Hasilnya? Pasti akan lain dari percakapan statis itu tadi, percakapan yang saya katakan beralur lambat. Lalu usahakan kalimatnya bergaya staccato, pendek-pendek dan terputus-putus. Jangan sajikan pembaca paragraf yang panjang-panjang, kasihan mereka!
Membuat cerpen juga begitu. Sebelum benar-benar menulis, cobalah bikin sketsa atau oret-oretan mengenai si tokoh, karakternya, dan bagaimana akhir sebuah cerita. Siapa yang menjadi tokoh sentral, tekanan (beat) pada siapa, dan bagaimana jalinan konflik di dalamnya. Dalam perjalanannya bisa saja berubah, bisa juga menyimpang jauh. Tidak mengapa, yang penting kita sudah punya “cetak biru” cerpen yang akan kita buat. Dengan cara ini, niscaya sahabat bisa percaya diri menyelesaikan sebuah cerpen tanpa takut macet di tengah jalan!
Kembali ke cerpen “Karma”. Si penulis cerita menempatkan Dyani sebagai tokoh utama. Kalau saya sinopsiskan secara kilat mungkin begini: Dyani adalah ibu dari Tantri yang melaporkan kehamilannya. Dyani memutuskan harus mengawinkan anaknya dengan si lelaki yang menghamili anak semata wayangnya itu. Namun ternyata, lelaki yang menghamili Tantri tidak lain dari mantan kekasihnya, Baskoro, yang dulu lari dari tanggung jawab setelah menghamilinya, yang kemudian melahirkan Tantri. Pendeknya, Baskoro telah menghamili anaknya sendiri. Begitu ceritanya, bukan? Singkat saja.
Dengan imajinasi yang dimilikinya, si penulis cerita memunculkan tiga tokoh dalam cerpennya; Dyani, Tantri, dan Baskoro. Itu sah-sah saja. Bahkan satu tokoh pun tidak jadi masalah. Dyani dan Tantri masing-masing punya porsi yang lumayan besar, dibanding Baskoro yang tampil sekilas, tetapi menentukan jalannya cerita. Satu hal yang saya salut dari sahabat Endang, dia piawai dalam menangkap detail dan penggambaran suasana, meski ia terlalu membiarkan sekian paragrafnya membengkak.
Di sini saya ingin tekankan, jika kita sedikit memainkan imajinasi liar, niscaya kita akan keluar dari pakem cerita yang sudah sering dibuat. Kita mau membuat cerita dengan alur yang berbeda, dengan tokoh utama yang dianggap mustahil, dengan akhir cerita yang nyleneh.
Oke saja jika yang menjadi tokoh utama, tokoh “si aku”, adalah Dyani. Secara kasarnya, judul yang dipilih pun bisa “Cucuku, Anak Kekasihku”. Ah, ini perumpamaan saja. Begitu seterusnya. Jika Tantri yang menjadi tokoh utama, judul bisa berbunyi “Anakku, Anak Ayahku”. Lagi, kalau Baskoro yang mau ditokohutamakan, judul pun bisa “Anakku, Cucu Kekasihku”. Harus agak mengernyitkan dahi, bukan? Ah, tidak perlu, mudah saja mencernanya. Ini hanya permainan “beat” saja!
Kita lanjutkan. Nah, kalau si pembuat punya imajinasi liar yang biasanya sangat diminati para pembaca cerpen, bukankah ada satu tokoh lagi yang tidak muncul tetapi nyata ada dalam cerpen itu? Siapa dia? Langsung jawab saja: si jabang bayi yang harus digugurkan!
So, renungkan sejenak, apa maksud saya mengajak sahabat membuka mata terhadap si jabang baying yang kini bersemayam di rahim Tantri? Maksud saya, si jabang bayi pun bisa menjadi tokoh utama cerita! Ya, mengapa tidak!? Dan, mainkan imajinasi liarmu di sini!Maksudnya? Penekanan atau “beat” ada pada si jabang bayi! Lho, jabang bayi yang baru berumur satu atau dua bulan ‘kan belum berbentuk apa-apa, belum punya perasaan, dan jelas tidak bisa bicara! Kalau begitu, Anda sok tahu. Ini justru kuncinya!
Buatlah si jabang bayi itu sebagai person atau seseorang yang bisa berbicara, setidak-tidaknya pada diri sendiri, melihat (dengan mata hati), dan mendengar dengan insting. Buat riset kecil-kecilan bagaimana sih keadaan jabang bayi yang berumur empat atau delapan minggu itu? Bagaimana dokter atau dukun bayi melakukan aborsi (bukan untuk ikut-ikutan, lho!). Bila modal ini sudah didapat, tinggal bikin alur atau jalan ceritanya (plot) dengan tokoh utama si jabang bayi itu tadi. Menantang, bukan?
Maka, cerpen itu bisa dimulai begini: Aku mendengar seseorang berteriak, “Gugurkan bayi itu”. Kudengar lagi suara seorang lelaki yang menyetujui perintah itu, “Tantri kaudengar ibumu, kita harus menggugurkan bayi itu!” Tidak lama kemudian disusul jerit suara perempuan lainnya, “Tidak mungkin, bayi ini milikku!” Aku menjadi terpana dan tidak mengerti, siapa “bayi” yang mereka sebut-sebut itu? Apakah “bayi” itu aku, diriku sendiri? Tetapi, apa maksudnya “gugurkan” atau “menggugurkan”? Aku sama sekali tidak mengerti….
Bagaimana? Menggelitik sekaligus menantang imajinasi liar kita, bukan? Semua kalimat ini saya kutip langsung dari cerpen sahabat Endang. Bahwa kemudian si jabang bayi mencari tahu akan makna semua kejadian itu, mencari tahu siapa tiga tokoh yang selalu akrab didengarnya, baik suara desahan Baskoro yang sedang melakukan hubungan intim dengan Tantri, atau Tantri yang menangis tersedu-sedu saat mengetahui Baskoro yang menghamilinya adalah ayahnya sendiri, adalah sesuatu yang menantang untuk dieksplorasi sampai habis, sampai si pembaca sama sekali tidak tahu akhir dari cerita itu!
Semakin liar imajinasi kita, semakin liar cerita kita, semakin merangsang hasrat pembaca untuk menghabiskan cerpen kita sampai klimaks. Peganglah kunci ini!
Apakah bayi berbicara sendiri tidak cukup liar? Tambah bila perlu! Misalnya, hadirkan tokoh gaib, katakanlah Tuhan, dimana kepada-Nya si jabang bayi berkomunikasi melalui batinnya. Lantas jawaban gaib pun datang yang membuat si jabang bayi memahami semua pertanyannya. Lalu sisipkan percakapan ketiga tokoh itu dalam suasana nyata untuk menghindari kebosanan, agar tidak melulu pertanyaan si jabang bayi yang muncul.
Punya waktukah sahabat, setidak-tidaknya sahabat Endang untuk memahami maksud saya? Hem, apalagi kalau punya waktu, coba-coba menulis ulang kisahnya dengan si tokoh utama “jabang bayi” yang hendak digugurkan. Cukup menantang, kan? Sekalian belajar, kalau cukup berani menerima tantangan ini, kirimkan cerpen sahabat sekalian ke alamat saya di pepih_nugraha@yahoo.com yang hasilnya akan kita tampilkan bersama. Semakin banyak semakin bagus, biar kita belajar perbandingan bersama.
K A R M A
Oleh Endang
DYANI masih duduk terpekur di teras rumahnya. Diam tanpa suara meski sekedar bunyi kecil tenggorokan menelan ludah. Matanya kosong tak jelas mana arah yang ditatapnya. Dan tidak satupun gerakan kecil dari jemari tangan atau kakinya mengusir lalat yang kadang hinggap disana. Dyani bahkan tidak pernah tahu berapa lama dia duduk disana atau berapa banyak tetangga menyapanya sembari lewat. Yang dia lihat hanyalah kilasan-kilasan kejadian beberapa jam lalu, yang membuatnya menjadi membatu begitu.
Tantri telah pergi dari hadapan Dyani dan kembali ke kamarnya,mungkin untuk meneruskan tangisnya. Namun tadi, anak perawannya itu hadir bersimpuh di kakinya untuk sebuah penjelasan. Anak perawan…..kata-kata ini berputar terus di kepala Dyani sesaat setelah penjelasan Tantri. Kata-kata itu sudah bukan menjadi milik anaknya lagi dan Dyani sudah tidak memiliki anak perawan lagi. Anak perawan , semua orang tahu artinya adalah seorang perempuan muda yang belum menikah dan masih terjaga kehormatan dan kesuciannya. Tidak seorang lelaki pun pernah menyentuh bagian paling pribadi dari perempuan muda yang masih tergolong perawan. Tetapi Tantri, dalam tubuh muda dan langsing itu, tidak memiliki lagi kesucian seorang perawan.. Sudah pernah ada seseorang menyentuhnya secara pribadi sebelum pernikahannya. Dan seseorang itu telah menitipkan pula janin di dalam rongga rahim anaknya.
Untuk pertama kalinya setelah detakan jam yang kesekian, Dyani tampak beringsut. Kepalanya menunduk, membuat sebulir air mata jatuh ke pangkuannya yang kurus tertutup kain tipis rok panjangnya. Buliran itu bertambah banyak dan deras dan sekarang diiringi rintihan kecilnya. Namun dia adalah seorang yang terbiasa dengan banyak kesulitan. Tidak ingin buliran airmata itu terus mengalir, diusapkannya punggung tangannya ke pipi. Pikirannya berputar cepat,” Aku tidak boleh terhanyut, Tantri membutuhkan jawaban atas masalahnya. Kasus begini sudah banyak terjadi pada teman-temanku….” Dyani selalu tahu penyelesaian bagi masalah hamil di luar nikah seperti Tantri harus cepat. Yang tidak diketahuinya hanya satu. Dia akan menghadapi masalah yang bisa membuatnya terlempar jauh ke masa lalu.
**
DI kamar, Tantri menelungkup di atas bantalnya. Tangisannya sudah tidak terdengar dan dadanya sesak oleh kelelahan. Lelah menangis, lelah menyesali perbuatannya yang hanya terbuai oleh rayuan dan belaian. Dia mengingat wajah lurus ibunya saat pengakuan tentang kehamilannya. Lurus dan pias, rona wajah yang tak tahu harus berkata atau berbuat apa diserang keterkejutan semacam itu. Tamparan keras di pipinya pun melayang tanpa ekspresi, hampa dan hanya sebuah gerakan refleks. Kehampaan yang begitu lama ditunjukkan ibunyalah yang membuat Tantri tak kuasa bertahan di hadapan Dyani. Lebih baik ia berlari ke kamar dan tidak terus melihat luka di wajah ibunya . Semakin ia melihat airmata di wajah ibunya, semakin ingin ia tenggelam ditelan bumi.
Tak mampu dihindarinya, Tantri mengenang malam-malam yang kini menorehkan arang di wajah ibu yang dicintainya. Malam-malam yang melenakannya setiap kali ia bertemu Baskoro di rumah kontrakan dekat kantornya. Baskoro, lelaki yang mengisi hati dan hari-harinya selama ini. Lelaki yang dikenalnya sebagai kepala proyek perumahan yang didirikan kantor kontraktor tempatnya bekerja. Tantri mengenal Baskoro setahun lalu ketika ia ditempatkan sebagai kepala administrasi proyek di lapangan tempat real estat itu didirikan. Dengan berbagai pertemuan yang seringkali diselingi senda gurau dan diskusi pribadi, sosok lelaki itu menjadi istimewa di hatinya. Perhatian, senyuman, gurauan dan tatapan mata yang tak bergeming sedikitpun terhadapnya, membuat Tantri selalu merindukan saat-saat bersama Baskoro. Obrolan di kantor berlanjut dalam perjalanan pulang hingga ke teras rumah kontrakannya, dan semakin lama membuat mereka semakin intim. Kenyataan usia Baskoro yang seharusnya pantas menjadi ayahnya tidak lagi menjadi masalah bagi Tantri. Terlebih dengan tubuh atletis dan gaya bicara yang menyenangkan, membuat Tantri justru merasa aman bersama Baskoro. Meski Tantri tahu lelaki itu adalah seorang duda beranak satu, rasa cintanya telah membuatnya gelap mata. Terlebih jika Baskoro membelainya dengan lembut ketika kepenatan datang, rasa takut akan perbuatan yang dilakukannya mampu terkalahkan oleh kenyamanan dan kenikmatan berada dalam pelukan lelaki itu. Dan kini, semua itu tidak guna lagi disesali. Calon bayi dalam rahimnya membutuhkan kepastian dan kekuatan hatinya, meski itu mengecewakan ibu yang telah mendidiknya menjadi seorang wanita terhormat.
“Tantri….kamu harus cepat menikah!”, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ibunya. Tantri segera terduduk di tepi ranjangnya. Ia baru menyadari kemungkinan ibunya sudah cukup lama disana jika melihat caranya duduk tertata dengan nyaman untuk sebuah pembicaraan panjang. Tidak satu kata pun meluncur dari bibir Tantri untuk menanggapi ibunya. Dilihatnya sisa air mata masih memberikan alurnya di pipi ibunya. Dalam keadaan seperti itu, tampak sekali kebiasaan ibunya untuk tidak membiarkan dirinya terhanyut berlarut-larut dalam sebuah masalah tanpa penyelesaian. Kenyataan sebagai orangtua tunggal yang harus menghadapi segalanya seorang dirilah yang menempa ibunya untuk bertindak cepat dalam setiap masalah. Jika suatu kali menemui kesulitan, ibunya juga cepat sekali memutuskan untuk meminta bantuan pada pakde-pakdenya. Tegar, namun tidak jumawa.
Tidak ada yang perlu dibantah dari ucapan ibunya. Tantri tahu, ibunya benar. Penyelesaiannya memang hanya satu, menikah. Dan Tantri memang sudah siap untuk itu. Masalahnya, ia bahkan belum memberitahukan kehamilannya ini pada Baskoro. Masalah ini muncul saat Tantri sedang menghabiskan sisa cutinya, sehingga ia belum sempat bertemu lelaki itu. Dan keharusan untuk menemui Baskoro secepat mungkin, kini membuat ia memutuskan untuk segera kembali ke lapangan lebih cepat dari rencana. Tidak mungkin ia bicarakan persoalan ini melalui telepon saja.
“Ya,bu…Tantri besok akan kembali ke kontrakan di lapangan. Tantri akan bicara dengan mas Baskoro”.
“Kamu belum pernah mengenalkan dia pada ibu,Tantri. Sesegera mungkin, dia harus menemui ibu untuk membicarakan masalah ini. Oh ya…tentu juga dengan keluarganya, lebih cepat lebih baik.”
“Mas Baskoro sudah tidak punya orangtua. Dia akan datang sendiri, begitu dulu dia pernah bilang kalau ingin melamar Tantri”
“Baik, kalau begitu. Semoga dia memang orang yang bertanggungjawab…”
Entah kenapa, Dyani tiba-tiba harus menggantung kalimatnya yang terakhir. Ada satu debaran tidak menentu yang tidak enak dia rasakan. Antara nama yang didengarnya, dengan kata tanggungjawab, seolah ada satu mata rantai yang sulit tersambung dengan mulus. Ah, mungkin cuma kekhawatiran akan keadaan Tantri,pikirnya. Atau, mungkin juga ia sekedar tidak menyukai nama itu…
Dyani segera bangkit dan meninggalkan Tantri, tidak ingin memenuhi pikirannya dengan sesuatu yang tidak pasti.Di ujung pintu anaknya itu menghentikan langkahnya,
“Ibu, dimana kubur ayah?”
**
TANTRI diam menunggu. Belum ada reaksi apapun dari Baskoro terhadap berita kehamilannya. Baskoro perlahan meminum teh panas di hadapannya, matanya tertumbuk pada meja di hadapannya. Ia tampak tenang. Tadi, usai Tantri bercerita tentang keadaan dirinya, Baskoro hanya memandangnya dalam-dalam, tak ada suara. Tidak begitu tampak juga keterkejutan di mata Baskoro saat menatapnya. Tapi Tantri mengerti. Laki-laki ini sudah matang cara berpikirnya. Ia tahu apa yang dilakukannya dan resiko yang pasti akan diterimanya. Itu sebabnya, reaksinya tidak berlebihan bahkan jelas sekali Baskoro berpikir hati-hati sebelum akhirnya bersuara.
“ Ya….aku sudah tahu akan seperti ini. Cepat atau lambat, memang pasti terjadi.”
“Lalu?”
“Ibumu benar, aku harus segera menemuinya.”
“Kapan?”
“Besok pagi kita berangkat. Setidaknya ada cukup waktu semalam ini untuk aku mempersiapkan pertemuan itu. Bagaimanapun, ibumu pasti akan sedikit emosi melihat orang yang menghamili anaknya. Tapi aku siap, Tantri…”
Baskoro tidak tahu, apa yang dipersiapkannya tidak akan berguna nantinya.
**
DYANI tak mampu memicingkan matanya. Sudah 2 hari ia begitu, meski biasanya pun tidurnya juga tidak pernah terlalu lelap. Tantri, kehamilannya, nama lelaki kekasih anaknya, semua berputar terus menerus di benaknya. Dyani resah, bahkan sangat resah. Jendela kamar yang dibuka untuk memberi kesejukan tidak banyak membantunya . Justru angin dingin kota Malang ini sekarang membuatnya menggigil. Sudah lama kotanya itu menjadi semakin panas udaranya. Namun musim penghujan akhir tahun toh masih mampu menghembuskan angin dingin di waktu malam. Ditutupnya lagi jendela, pikirannya kembali pada anak perawannya di Surabaya. Ya, Dyani masih ingin menyebut Tantri sebagai anak perawan. Pikirannya melayang lagi.
Dyani tahu, jika anaknya itu menikah, ia akan membutuhkan wali nikah. Kakak Dyani yang tertua atau bahkan pak Penghulu pun bisa bertindak menjadi wali nikah, jika memang ayah Tantri sudah meninggal. Tapi ayah Tantri itu dia tahu masih ada. Sakit hatinyalah yang membuat ayah Tantri itu seolah sudah mati. Kenyataan semu itu yang diketahui anaknya. Meski dulu Tantri pernah meragukan pernyataannya tentang ayah Tantri, berkat kepandaiannya menghindar dan seiring berjalannya waktu, anaknya seolah melupakan hal itu. Sampai kemarin didengarnya lagi pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang dijawab dengan perintahnya yang lain,” Selesaikan urusanmu dulu dengan pacarmu. Nanti kita bicara lagi.”
Dyani termangu di ranjangnya. Besok sore, jika anaknya itu datang, suka atau tidak ia akan harus menjelaskan semuanya. Dan berarti Dyani harus mengorek kembali koreng di hatinya yang telah berusia 20 tahun. Ya, selama itulah ia menyimpan rahasia besar dari anaknya tentang siapa ayahnya. Ayah yang menikahi ibunya hanya demi sebuah arti tanggungjawab secara dangkal. Dan kemudian lelaki itu pergi bersama anak istrinya yang telah lebih dulu hadir sebelum Dyani. Memang betul, dirinyalah yang bodoh, terpikat pada rayuan lelaki beristri. Kebodohan yang muncul hanya karena kesepiannya di usia yang semakin dewasa. Namun kebodohan itu tetap menggoreskan perih luka yang teramat dalam. Karena setelah pernikahan sirinya dulu, tidak sekali pun lelaki itu menunjukkan bentuk tanggungjawabnya yang lain. Tidak pernah datang ke rumah, tidak menanyakan apalagi melihat anaknya, juga tidak memberikan sedikitpun nafkah untuk kehidupan mereka berdua, Dyani dan Tantri. Namun Dyani merasa harus tetap hidup, dan biarlah lelaki itu mati dalam sejarah hidup anaknya. Sampai waktunya nanti.
Hingga siang akhirnya menjelang, Dyani masih belum beranjak pergi dari ranjangnya. Semakin waktu datang menjelang kepulangan Tantri bersama kekasihnya, terasa ia semakin malas bangkit dari sana. Bukan sifatnya jika harus bergolek-golek terus seperti itu. Tetap saja, hari itu tidak ada yang mampu menggerakkan kakinya melangkah turun dan aktif sebagaimana biasanya. Dyani mengerahkan seluruh tenaga dan semangatnya yang tersisa supaya akhirnya dirinya berjalan untuk mandi dan bersiap menerima kedatangan mereka. Pergerakannya sangat lambat dibandingkan kesehariannya yang serba cekatan. Sampai akhirnya pintu kamarnya diketuk dan wajah Tantri muncul disana.
“Ibu, mas Baskoro sudah datang. Ibu akan keluar sekarang,kan?”Tak ada jawaban.
“Kata si mbok, ibu seharian di kamar terus. Ibu sakit?”
“Nggak…ibu cuma kurang tidur. Tunggulah di ruang tamu, ibu kesana sebentar lagi”
**
TINGGAL beberapa langkah jarak antara Dyani dan sosok lelaki kekasih Tantri ketika ia menghentikan langkahnya perlahan, ragu. Lelaki itu membelakangi arah kedatangannya, namun Dyani sangat mengenal sosoknya yang tegap dan jelas terlihat meski sedang duduk. Sosok itu yang membuat Dyani lalu ragu untuk melangkah lagi. Tantri lah yang kemudian segera memberitahukan kehadiran ibunya di ruang tamu itu. Pemberitahuan biasa agar kekasihnya itu menyapa ibunya, namun yang terjadi sesudahnya tidak terduga sama sekali. Sebab sejak detik itu, segalanya menjadi luar biasa bagi Dyani, Tantri maupun Baskoro.
**
SEKIAN menit dan jam yang berlalu hilang dari catatan Dyani, sampai akhirnya didengarnya Tantri memanggil-manggil namanya entah untuk yang keberapa kali. Sayup dibukanya matanya dan segera ditangkapnya seraut wajah cantik sang permata hatinya. Namun apa yang dilihatnya itulah yang meletuskan sebuah tangis perih dari bibirnya. Tangis yang menjadi jeritan tak kunjung henti karena segera terasakan oleh Dyani luka yang disimpannya di hati menganga semakin lebar . Di sudut ruangan , di kursi tanpa lengan, sang lelaki terduduk lemas. Tangan kekarnya bertumpukan lutut menutupi wajah dan sesekali terdengar erangan dari mulutnya. Pemandangan memilukan itu terus berlangsung tanpa Tantri ketahui penyebabnya . Ia bingung karena semua rencana yang disusunnya berjalan jauh dari khayalannya. Dan semakin menyiksa lagi, karena tak satupun dari kedua orang yang berlaku aneh di hadapannya itu bisa segera menjelaskan apa yang terjadi.
Menit-menit yang berlalu kemudian semakin terasa menyiksa bagi Tantri. Kebingungannya tentang peristiwa di hadapannya yang tak juga mendapatkan penjelasan, kini semakin menghantamnya ketika tiba-tiba ibunya berteriak,
“Gugurkan bayi itu, Tantri….!”
Tantri terhenyak dan mual seketika. Ibunya seperti hilang akal, merintih dan terus menjerit agar ia menggugurkan kandungannya.Dipalingkannya pandangan pada Baskoro mencari kepastian akan apa yang didengarnya. Tetapi rintihan yang berulang tidak memerlukan lagi telinga lain untuk memastikan pendengarannya. Justru sikap Baskoro yang semakin menenggelamkan wajah dalam dekapan tangannya, diselingi sisiran tak beraturan jari-jari ke arah rambut tebalnya, menerbitkan tanya yang lain di hati Tantri. Hati kecilnya mengatakan Baskorolah penyebab pingsannya ibu. Dan Baskoro pasti juga tahu mengapa ibunya sekarang ingin ia menggugurkan kandungannya.
Tak sabar, segera ditariknya tangan Baskoro dari wajahnya yang sudah basah.
“Jelaskan padaku mas, ada apa semua ini?”
Napasnya memburu dan merasa tak ada waktu lagi untuk menunggu.
“Kamu pasti tahu dan harus mengatakannya sekarang!”
“Tantri,…kau dengar ibumu. Kita gugurkan bayi itu…..”
“Tidak mungkin!”
“Bayi ini milikku, aku yang berhak memutuskan. Lalu kenapa semua minta aku menggugurkannya?”
“Ada apa, mas…..? Ibu…kenapa?”
Suaranya mulai bergetar, ada takut disana.
Tantri beringsut mendekati ibunya. Tangan ibunya lembut menelusuri kepalanya. Isak tangis kini menjadi miliknya juga.
**
LORONG itu terasa begitu panjang. Anginnya begitu dingin mengiris kulit.
“Dia ayahmu, Tantri…Baskoro ayahmu…”
Keheningan panjang yang begitu dalam. Tantri hanya ingin mencoba mengerti arti kalimat itu. Tetapi semua begitu lugas baginya. Dan tak didengarnya lagi kalimat terakhir ibunya,
“Maafkan ibu, anakku….”
***
Pepih Nugraha
Jakarta, 13 November 2006
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:21 PM
1 komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat
Monday, November 06, 2006
Karya Sahabat (4)

“Virginity”
Kali ini sahabat kita dari Surabaya, Dena, mengirimkan cerpen “Ratri” untuk kita nikmati bersama. Persoalan inti dari cerpen ini sesungguhnya hal yang “menantang” (atau tabu) untuk didiskusikan, yakni masalah keperawanan (virginity). Mengapa diskusi ini menarik dan bahkan sampai diangkat dalam sebuah cerpen, tentu si penulis cerpen punya alasan.
Akan tetapi, saya harus berkata jujur, Dena kurang mengeksplorasi arti sebuah virginity, padahal, inilah “nafas” cerpennya, di samping juga arti sebuah keteguhan sekaligus rasa bersalah Ratri terhadap suaminya, karena ia tidak menyerahkan keperawanannya kepada suaminya, Adi. Ia malah menyerahkannya kepada mantan pacarnya yang nakal, Haris. Itu jalan ceritanya, dan itu hak pengarang yang punya lisensi kebebasan berekspresi.
Karena sifatnya yang harus pendek, cerpen biasanya selesai dalam “setarikan nafas” saja. Kalau tokoh Ratri tidak bisa tidur dan iri kepada mereka yang bisa tidur lelap, seharusnya jelaskan kenapa Ratri tidak bisa tidur saat itu, apakah karena memikirkan rasa bersalah karena telah membohongi suaminya atau karena hal lain? Juga dalam plot (alur cerita), tidakkah sebaiknya semua adegan selesai dalam “ketidakmampuan” Ratri tidur malam itu, meski pikirannya harus melayang pada SMS Haris, pada kedatangan Haris dan janji dengannya untuk bertemu, pada pelatihan pilates selaku instruktur, dan kejadian lainnya.
Saya ingin mengetengahkan arti penting sebuah eksplorasi untuk menghidupkan konflik atau persoalan sebuah cerita. Jelas yang harus dicari, dieksplor dan ditelesur rekan Dena adalah virginity itu tadi. Bercerita tentang ini tentu akan terlepas dari konotasi jorok jika diletakkan dalam konteks budaya, misalnya, setidak-tidaknya “pembenaran” sepihak kaum pria bahwa istrinya haruslah seorang perawan suci saat malam pertama. Memang klasik, tetapi percaya atau tidak, sampai sekarang masih saja ada orang yang memegang teguh asumsi itu.
Jika sahabat Dena menghiasi cerpennya dengan mengeksplorasinya sebuah contoh bagaimana Ken Dedes dengan wajah masam dan menangis harus menyerahkan keperawanannya kepada si buruk rupa Tunggul Ametung, dengan dayang-dayang yang siap meletakkan kain putih di atas kasur Dedes, kita akan menjadi paham bahwa persoalan virginity sudah ada sejak zaman kerajaan dulu (baca Dedes Arok, Pramoedya Ananta Toer).
Juga bagaimana Srintil dengan sukarela menyerahkan keperawannnya kepada Rasus kekasihnya, sebelum ia dinobatkan menjadi ronggeng pada usianya yang ke-11(lihat Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari), sebelum beberapa menit kemudian Srintil harus melayani Si Lurah pemabuk yang haus keperawanan. Meski Si Lurah harus kehilangan kerbau dan sawahnya, ia rela saja kehilangan itu semua demi prestis “keperawanan” Srintil yang dijual kakek-neneknya. Karena bersetubuh saat mabuk, Si Lurah tidak bisa merasakan Srintil perawan atau bukan.
Atau, pernahkah sahabat Dena mendengar berita adanya “perkawinan semalam” saja setelah si pengantin pria mengetahui kalau istri yang dinikahinya sudah tidak perawan lagi dengan indikasi tidak menetaskan darah pada malam pertama? Atau pernikahan yang sudah bertahun-tahun dan sudah punya anak banyak tetapi harus bercerai hanya karena di kemudian hari suami mengetahui istrinya (atau istri mengaku) dalam keadaan tidak perawasan lagi saat malam pertama dulu?
Sekali lagi eksplorasi. Eksplorasi bukan berarti kita harus mengalami dulu. Konyol namanya kalau pengarang mau bercerita tentang perampokan bank ia harus merampok bank terlebih dahulu! Pengarang tokoh Flash Gordon tidak harus mengalami pergi ke bulan saat dia menulis ceritanya, bukan? Memang pengarang terkaya di jagat ini JK Rowling pernah berpesan, mulailah menulis dari apa yang kita ketahui. Tetapi saya bisa tidak sependapat dengan pencipta tokoh Harry Potter itu, bahwa saya bisa saja memulai menulis dari apa yang saya tidak tahu. Caranya? Eksplorasi!
Mungkin karena kerangka pikir saya yang seorang jurnalis, saya pasti akan cari dan telusur informasi tentang virginity di berbagai kamus dan ensiklopedi. Bagaimana konsep virginity ini menjadi persoalan sosial, budaya, etnis, dan bahkan religi! Kalau sahabat blogger malas ke perpustakaan, klik saja Wikipedia atau Google dan masukkan kata kunci virginity atau "keperawanan", setidak-tidaknya informasi tentang hal ini sekilas akan terbahas disertai rujukannya. Artinya, menulis cerpen pun harus disertai kedalaman dan pemahaman masalah yang memadai, agar cerpen menjadi bernilai.
Sekarang, kita nikmati bersama cerpen karya Dena di bawah ini, dengan tampilan apa adanya (tanpa proses editing dari saya), termasuk “kalimat berani” saat menjelaskan proses, maaf... persetubuhan. Untuk media blog, saya bisa memahaminya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan dalam rangka saling belajar satu sama lain. Tetapi kelak detail ini bisa diperhalus, dipersingkat, atau bahkan dihilangkan saja jika itu dimaksudkan untuk dimuat di media massa yang kemungkinan dibaca anak yang belum waktunya membaca, tanpa menghilangkan makna sesungguhnya (bagian ini saya blok dengan huruf merah, tanpa menghapusnya) . Lalu ciptakan kalimat pendek dengan alinea (paragraf) yang pendek pula, biar tidak menyiksa nafas pembaca.
Pesan saya pada Dena, jangan putus asa, teruslah menulis, menulis dan menulis. Jika sudah terbiasa, kelak menulis akan semudah berbicara, semudah penyiar menghamburkan kata-kata di radio. Sahabat bisa memberi komentar langsung karya Dena atau mengirim komentarnya ke alamat pepih_nugraha@yahoo.com, silakan…
RATRI
Oleh Dena
RASANYA aku pantas iri pada orang-orang itu. Mereka bisa tidur lelap diatas tumpukan kelapa dagangannya sambil diterpa angin malam yang dingin. Mereka juga bisa nyenyak di atas tumpukan batu dengan hanya beralaskan tikar dan dihajar angin di atas truk berkecepatan tinggi yang membawa mereka ke tempat mereka bekerja, entah dimana. Mereka juga bisa terlelap hanya dengan beralas koran dan berselimut sarung kumal di trotoar sembari dibuai gemuruh deru lalu-lalang kendaraan.
Ya, Ratri memang pantas iri pada mereka. Kasur empuk, sejuknya AC, indahnya pemandangan taman mungil di balik jendela kamarnya tidak mampu mengantarkan Ratri tidur lelap. Dengkur halus suaminya di sampingnya membuat Ratri semakin tidak bisa memejamkan mata. Pada saat-saat seperti ini, suara cicak di dinding kamarnyapun terasa sangat menganggu. Suara indah gesekan daun palm botol yang tertiup angin di samping kamarnya yang biasanya menjadi lullaby bagi Ratri, sekarang justru terasa sangat memekakkan telinga.
Ratri mencoba berbagai posisi tidur. Menghadap suaminya, berbalik lagi menghadap taman, memeluk guling sampai melipat bantalnya menjadi dua tetap saja tidak mampu membuat Ratri nyaman. Dilihatnya wajah lelah suaminya disampingnya. Beberapa hari terakhir ini Adi, suaminya sering mengeluh tentang pekerjaannya.
“Adi itu ngga pantes jadi wartawan. Logikanya ngga jalan, akibatnya kerjaanku jadi tambah. Aku harus turun tangan wawancara dengan narasumber untuk melengkapi tulisannya yang amburadul itu,” keluhnya suatu hari.
Adi memang seorang perfeksionis. Kadang-kadang malah –dimata Ratri- dia haus pujian. Itulah makanya, Adi selalu berusaha memberikan yang menurutnya baik untuk kantornya. Akibatnya tuntutannya pada bawahannyapun tinggi. Padahal Adi sadar kemampuan mereka –dimata Adi- masih belum mencapai standar, kalau tidak boleh disebut parah. Tapi untunglah, Adi hanya mengutarakan itu pada istrinya. Bagi Adi, biarlah dia sombong di depan istrinya asal tidak di depan orang lain. Toh istrinya sudah tahu siapa dia seutuhnya.
“ Teng, teng".
Terdengar, bunyi tiang listrik dipukul 2 kali. Ah..sudah jam 2 pagi, aku masih belum bisa tidur, pikir Ratri. Lalu bayangan kejadian siang tadi kembali berkelebat di benaknya...
Suara lembut Norah Jones dari telpon genggam yang tergeletak di dashboard memaksa Ratri mengalihkan perhatiannya dari jalanan di depannya. Tidak ada nama. Ratri tidak segera menjawab panggilan itu karena bersamaan dengan itu lampu didepannya menyala hijau. Tangan kiri Ratri segera meraih persenelling kemudian kaki kanannya menginjak pedal gas perlahan. Jalanan agak sedikit macet siang itu. Setelah mobilnya berjalan tangannya meraih telepon gengganmya.
"Halo."
"Selamat siang, dengan Riri?"
Riri! Siapa lagi orang yang memanggilnya dengan sebutan itu selain...Mas Haris. Dada Ratri berdegup kencang. Debar yang sudah lama sekali tidak pernah dirasakan Ratri. Mas Haris!! Untuk beberapa saat Ratri terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"Mas Haris?"
"Ya, ini Haris. Apa kabar Ri? Kok sms ku ngga dibalas?"
"Oh, maaf Mas, aku..nnggg.. aku bingung mau jawab apa."
Beberapa hari sebelumnya Haris mengirim pesan singkat yang isinya mengungkapkan kerinduannya pada Ratri. Kalimatnya cukup lugas, Riri, aku kangen, Haris. Meskipun sempat kaget, tapi Ratri segera melupakan sms itu. Paling orang iseng, pikirnya waktu itu. Mana mungkin Mas Haris tahu nomer telponnya. Kalaupun tahu apa mungkin Mas Haris masih menyimpan rindu untukku?
Keraguan Ratri terjawab sudah. Haris meneleponnya dan apa yang ditulisnya di sms diucapkannya di telepon.
"Ri, aku kangen."
Ratri terdiam. Duh, Mas Haris, berhentilah menggodaku, batinnya.
Haris, lelaki dari masa lalu, begitu Ratri menyebutnya bila sedang bernostalgia dengan teman-temannya yang juga mengenal Haris, memang punya tempat khusus di hati Ratri. Bukan karena wajahnya yang ganteng atau otaknya yang encer, bukan juga karena dia cinta pertama Ratri tapi lebih karena sesuatu yang terus membekas hingga sekarang...
"Halo, Ri, kok diem, sih. Aku serius, lho.
"Eh..mmm..iya Mas. Gimana kabar Mbak Ninuk?"
"Kamu belum jawab pertanyaanku."
"Maaf Mas, aku lagi nyetir, nanti aja ya telpon lagi kalau aku sudah nyampe rumah."
Ratri langsung memutuskan hubungan teleponnya. Beberapa kali Haris mencoba menghubungi Ratri, tapi tidak dijawabnya. Ah, Mas Haris tetap saja seperti yang dulu, pantang menyerah, agresif, percaya diri dan agak sedikit nakal, Ratri tersenyum mengingat bagaimana dia dulu jatuh cinta pada Haris. Segala hal yang disukainya ada pada Haris. Bahkan kebiasaan Haris yang suka berselingkuh saat masih pacaran dulu menjadi bagian yang 'disukai' Ratri. Perasaan puas saat berhasil merebut kembali Haris dari selingkuhannya menjadi kenikmatan tersendiri bagi Ratri.
Petualangan Haris baru berakhir ketika seorang perempuan bernama Ninuk mengaku hamil dan meminta Haris bertanggungjawab. Ratri tidak kaget, meski jauh dalam hatinya dia sangat kecewa, ketika Haris memilih meninggalkannya dan menikah dengan Ninuk. Haris memang lelaki yang bertanggungjawab, walaupun untuk itu dia harus membayar mahal. Menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya. Ratri sangat yakin hanya dia satu-satunya perempuan yang ada di hati Haris. Dan kini..setelah sekian tahun, keyakinan yang sempat memudar itu kembali menguat.
**
UNTUK ukuran perempuan seusianya, Ratri termasuk perempuan yang menarik, bugar, enerjik dan tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Profesinya sebagai instruktur pilates, olahtubuh yang banyak digunakan untuk menyembuhkan asma, cedera otot dan efektif menurunkan berat badan secara cepat -seperti diakui banyak murid-murid Ratri- membuat postur tubuh Ratri tetap proporsional. Dua garis vertikal di perut sebelah kiri dan kanan menunjukkan kalau Ratri rajin melatih otot perutnya. Tanda-tanda kalau dia sudah pernah 3 kali melahirkan sama sekali tidak tampak di perutnya. Hanya sedikit stretch-mark di kedua pangkal paha dan perut bagian bawahnya menunjukkan bahwa Ratri pernah mengandung.
Pernah suatu kali Ratri mengutarakan keinginannya menghilangkan strecth-mark itu. Tapi Adi menentangnya.
"Dengan garis-garis itu kamu masih kelihatan seksi kok. Ngapain buang-buang duit."
"Jelek, lho, Mas."
"Halah, wong ngga kelihatan gitu kok."
"Tapi Mas kan bisa lihat."
"Tapi aku kan tetep napsu, he..he.."
Biasanya kalau sudah kalah berargumentasi, Ratri lalu menggoda suaminya dengan gerakan-gerakan tubuh yang erotis untuk kemudian, ganti, giliran dia yang 'mengalahkan' suaminya di ranjang.
Sepertinya Haris tidak main-main dengan ucapannya. Pesan singkat itu makin memupuskan keraguan Ratri atas kesungguhan Haris. Satu jam lagi aku tiba di bandara Juanda. Tolong jemput aku, begitu bunyi pesan singkatnya. Sesaat Ratri tertegun. Dadanya berdegup kencang. Perasaan senang, takut, tersanjung dan berbagai rasa lain bercampur aduk di dadanya. Ada keraguan juga. Perdebatan sengit antara ya dan tidak berkecamuk dalam batin Ratri. Bayangan Adi, suaminya yang begitu baik, penyayang, sabar dan tulus mencintainya melintas bergantian dengan bayangan masa lalunya yang indah bersama Haris. Letih dirasakan Ratri beberapa hari ini. Bukan tubuhnya tapi batinnya, pikirannya. Haris sudah begitu banyak menyita energinya. Tapi Ratri juga tidak bisa begitu saja mengusir bayangan lelaki yang pernah dicintainya itu dari benaknya, malah sepertinya Ratri justru menikmati kehadiran Haris dalam bayangannya, dalam mimpi-mimpinya. Berbagai peristiwa yang pernah dialaminya berdua dengan Haris sengaja dia hadirkan lagi dalam pikiran liarnya. Dalam beberapa kesempatan, di mimpi-mimpinya, Ratri bahkan membiarkan Haris melakukan hal-hal yang didambakannya. Memeluk, membelai, mencumbu... Ah..kenapa aku begitu terpesona pada lelaki ini, batin Ratri berteriak.
Pesawat yang ditumpangi Haris mendarat di bandara Juanda. Meleset sedikit dari waktu yang dijanjikan Haris pada Ratri. Hal pertama yang dilakukan Haris ketika kakinya menginjak tanah adalah menghubungi Ratri, memastikan dia sudah ada di terminal kedatangan. Tapi yang diharapkan ternyata tidak muncul. Tidak mungkin dia mengabaikan aku. Aku tahu siapa Ratri, bertahun-tahun aku mengenalnya, pikir Haris. Tidak mungkin dia berubah secepat ini, Haris masih yakin dengan pikirannya. Bukan tanpa alasan Haris mempertanyakan ketidakhadiran Ratri di bandara untuk menjemputnya. Lima tahun dia berpacaran dengan Ratri dan selama itu pula berkali-kali Haris mengkhianati Ratri dan berkali-kali juga Ratri membukakan pintu maafnya untuk Haris.
Sementara itu pada saat yang sama dada Ratri bergemuruh. Dorongan kuat untuk menjumpai Haris, menumpahkan kerinduan yang tiba-tiba muncul sejak pesan-pesan singkat Haris mebombardirnya beberapa hari terakhir. Dada yang bergemuruh itu juga menyimpan birahi yang tak kalah besar disimpannya rapi dalam angannya. Dibiarkannya fantasi-fantasi liar menguasai pikirannya. Didiamkannya tangan Haris yang dengan lembut melepas helai demi helai pakaian yang melekat di tubuhnya. Sejenak Ratri lupa siapa dia, siapa Haris, yang ada hanya desah nafas mereka berbaur dengan peluh yang mengalir deras.
Ratri tidak pernah menyesal telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Bagi Ratri Haris hampir pasti menjadi suaminya, sampai suatu ketika datang Ninuk membuyarkan impiannya, membuka kekhawatiran akan hadirnya lelaki lain selain Haris yang rela menikahi perempuan ternoda seperti dirinya. Tapi ternyata kekhawatiran itu tidak beralasan. Adi, pria yang sama sekali jauh dari bayangan idealnya tiba-tiba muncul seperti bintang jatuh dari langit membawa perhatian dan cinta. Sejujurnya tidak ada cinta untuk Adi, tapi bagi Ratri cinta adalah sesuatu yang lentur. Cinta bisa datang kapan saja dan Ratri yakin itu. Adi pria yang baik tidak ada alasan bagi Ratri untuk menolaknya. Ratri tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya, dan karena alasan itulah dia tetap menyimpan rapat rahasia besarnya bersama Haris. Ratri memilih berjudi, mengadu nasib di malam pengantinnya.
Noda merah di sprei ranjang pertamanya menjawab segala ketakutan Ratri sekaligus menjadi penanda Ratri telah memenangkan perjudian yang dirancangnya sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Selaput dara, meskipun tidak mutlak bisa dijadikan indikasi seseorang masih perawan atau tidak, tapi bagi sebagian orang masih sangat berarti. Untuk orang yang pernah ternoda seperti Ratri, bisa mempersembahkan setetes darah di malam pengantin sungguh hal yang luar biasa melegakan. Antara lega, gembira dan terharu juga rasa bersalah berkecamuk dalam dada Ratri. Adi pria yang baik tapi dia mendapatkan yang tidak sepatutnya dia dapat. “Ah…aku sangat berdosa,“ Ratri menarik nafas.
“Mbak, jam berapa latihannya dimulai?” suara Dina, membuyarkan lamunan Ratri. Dia segera bangkit dan mengambil fit ball kemudian memulai kelas pilatesnya. Dibiarkannya Haris menunggu, bukan karena dia tidak ingin bertemu lelaki pujannya itu tetapi Ratri ingin menghormati lelaki yang selama ini juga menghormatinya. Ratri ingin belajar menjadi wanita yang pantas bagi Adi, lelaki yang sedikit demi sedikit mulai dicintainya. ***
Jakarta, 6 November 2006
Pepih Nugraha
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
4:50 PM
1 komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat
Sunday, October 22, 2006
Karya Sahabat (3)

Tunjukkan, Bukan Katakan!
Dalam ilmu jurnalistik, juga ilmu menulis umumnya, dikenal adagium: show it, not tell it! Tunjukkan, bukan katakan. Kalau sahabat ingin menggambarkan kemiskinan seseorang, jangan katakan "orang itu miskin", tetapi tunjukkan saja gambaran yang menunjukkan bahwa orang itu miskin. Misalnya: "Sering sehari penuh ia tidak makan. Di dalam biliknya, tidak terdapat barang apapun, kecuali tumpukan baju rombeng untuk sehari-hari mengemis..." Begitu seterusnya: tunjukkan saja, jangan katakan ia miskin.
Cerita mini (Cermin) Luh Ayu dari Bali belum menampilkan adagium "tunjukkan, bukan katakan" itu tadi. Opini penulis bahwa "ibu emosi" dan "terdapat rasa sedih", masih "mengatakan sesuatu", bukan "menunjukkan sesuatu". Kita memberi kebebasan lisensi penulis untuk bercerita apapun, termasuk Luh Ayu yang bercerita tentang ibunya yanf diberi ponsel baru. Ada prasangka yang terlalu cepat dilontarkan, tetapi kemudian bisa guyub lagi dengan saudara-saudaranya. Selamat menikmati...
PONSEL UNTUK IBU
Suara ibu terdengar begitu emosi, namun tidak dipungkiri terdapat rasa sedih disana. Ibu merasa semenjak bapak meninggal banyak saudara yang justru menjadi sombong, meskipun yang tetap baik juga masih banyak. “Padahal dulu mereka itu disekolahkan dan dibantu Bapak, tapi mana balas budi mereka sekarang??”. Meskipun dalam hati aku kurang setuju dengan konsep kalau sudah memberi maka harus dapat balas jasa, aku bisa memaklumi. Itu bukan sifat asli Ibu. Pernyataan itu muncul karena rasa sedih dan belum bisa menerima kalau sekarang beliau menjadi tergantung pada orang lain.
Walaupun ibu termasuk wanita mandiri, namun untuk urusan pulang kampung setiap odalan atau acara adat lainnya beliau seringkali berangkat dengan Bapak. Aku yang sudah menikah jarang bisa ikut karena kesibukan dengan keluarga,sementara adikku juga disibukkan dengan urusan pekerjaan dan sekolahnya. Jika sekarang menjadi tergantung pada saudara yang lain untuk urusan pulang kampung, maka aku sungguh maklum jika ibu merasa ‘turun derajat’. Memang sih aku sebenarnya merasa juga kalau sebagian dari saudara-saudara Bapak menjadi merasa punya kelebihan di banding kami semenjak Bapak meninggal. Dan sejak itu juga aku cukup sering menerima telpon dari ibu yang berkeluh kesah mengenai keadaan ini.
“Coba Luh bayangkan! Mereka sudah tahu ibu pasti pulang kalau ada odalan di Pura. Tapi mana niat baik mereka? Menelpon saja tidak untuk menawarkan berangkat sama-sama. Disangkanya ibu tidak bisa pulang sendiri apa?? Mereka terkejut melihat ibu sudah sampai duluan di kampung…”. Begitulah yang sering aku dengar saat menerima telpon curhat ibu. Aku cuma bisa menenangkan dan mencoba memberi pandangan dari sisi berbeda untuk menghibur ibu.
“Mungkin mereka lupa Bu…, mungkin juga dipikirnya Ibu akan pulang dengan iLuh dan adik-adik. Tidak usah diambil hatilah..Belum tentu mereka sengaja kan. Yang penting kan ibu sudah sempat sembahyang jadi lebih baik tidak usah berpikir yang bukan-bukan.” Biasanya ibu bisa menerima penghiburanku, karena sesungguhnya beliau memang hanya membutuhkan pendengar. Selesai bercerita biasanya ibu sudah lega.
Aku bukannya tidak pernah mencoba mencari jalan keluar supaya ibu tidak merasa tersisihkan. Yang sementara bisa aku lakukan hanya menghiburnya dengan kata-kata. Jalan keluar itu datang tanpa diduga dan tidak perlu waktu yang terlalu lama. Awalnya aku khawatir karena ibu pulang kampung sendirian naik kendaraan umum. Jarak rumah kami di Denpasar dengan kampung kami di Karangasem, jika ditempuh dengan kendaraan umum membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Atau jika sepi penumpang,maka bisa sampai 3 jam, karena mobil angkutan akan mengisi penuh penumpang sebelum memulai perjalanan.
Karena di kampung tidak ada telpon rumah maka aku mencoba menghubungi ponsel salah satu sepupu yang cukup dekat denganku. Aku ingin tahu apakah ibu baik-baik saja dan sudah sampai dengan selamat. Ternyata syukurlah..ibu sudah sampai dan saat itu sedang berkumpul dengan keluarga lain untuk persiapan upacara.
Rencananya ibu hanya menginap dua malam (hal yang jarang terjadi saat Bapak masih ada. Karena bapak pasti akan lebih senang pulang balik ke Denpasar dan kembali lagi ke kampung keesokan harinya). Dan benar saja begitu Ibu sampai di Denpasar telponku berbunyi. Dari Ibu hehehe. Aku sudah siap-siap mendengarkan ceritanya. Namun ternyata kali ini berbeda, suara ibu terdengar gembira “iLuh waktu itu telpon yaaa? Pak De Abdhi yang bilang ke ibu..”.
Lalu ibu bercerita tentang hal-hal lain dan sama sekali tidak menyinggung soal ‘saudara-yang-tidak-tahu-balas-budi’ itu. Oh ternyata tanpa diduga teleponku tempo hari itu begitu luar biasa pengaruhnya. Setelah itu aku dan adik-adik berembug dan kemudian memutuskan untuk membekali ibu dengan ponsel setiap kali ibu pulang kampung. Awalnya sulit sekali membujuk ibu. Beliau sudah parno duluan begitu mendengar ide kami. Alasan repot lah, nanti hilang lah, macam-macam deh.
Tapi akhirnya ibu luluh juga (setelah kami mengeluarkan senjata terakhir, rayuan adik bungsu kami, yang memang sangat sulit ditolak ibu). Dan sekarang ibu sudah terbiasa dengan ponselnya, bisa menerima telpon dengan fasih walaupun untuk menelpon masih sering heboh karena –alasannya- fasilitas ponselnya kurang user friendly, dan yang terpenting ibu sudah tidak merasa diabaikan lagi.
*odalan = upacara sembahyang Hindu Bali
Denpasar, 14 Oktober 2006
Luh Ayu
Tulisan kedua hasil karya sahabat Lesca. Tulisan ringkas yang lebih merupakan refleksi si penulis. Refleksi biasanya bernada filasafati dan bahkan berisi religiositas. Tulisan itu tidak akan basi karena merupakan persoalan universal umat manusia, tanpa mengenal sekat agama dan golongan. Dengan "Daily Bread", sahabat diingatkan, juga kita semua, untuk tidak "kamaruk" atau tamak. Hidup secukupnya saja....

DAILY BREAD
"Give us this day our daily bread..." (Matt. 6:11)
Aneh, ya? Kenapa kita diajar: berikanlah pada hari ini, makanan kami yang secukupnya...? Kenapa ga sekalian aja buat 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, atau buat seumur hidup. Padahal dengan begitu kan 'pekerjaan' Tuhan juga akan jadi lebih ringan. Terus, kenapa hanya 'secukupnya'? Kenapa ga 'yang banyak' aja?
Emang kalo dikasihnya rapelan buat 1 minggu atau 1 bulan, bisa ngaturnya? Jangan2, hari ini ada banyak makanan, besoknya ada sedikit, besoknya lagi habis ga ada sisa. Terus kalo udah gitu, mau gimana?
Emang buat apa minta yang banyak2, melebihi yang kita perlukan? Kita toh ga bisa makan lebih dari 2 piring sekali makan. Ga bisa tidur di 2 kasur sekaligus, atau pake sepatu 3 pasang secara bersamaan.
Ternyata, kita memang ga perlu terlalu banyak. Secukupnya saja. Kalau laper, punya cukup uang untuk beli makanan. Kalau kedinginan, punya cukup uang untuk beli baju. Kalau sakit, punya cukup uang buat ke dokter dan beli obat. Kalo komputer rusak, punya cukup uang buat perbaikin atau beli baru. Kalau pengen jalan2 keliling Eropa, punya cukup uang buat beli tiket, bayar hotel, belanja dan beli oleh2.
Yah, yang nikmat itu emang yang cukup.
Lesca
Sahabat semua dimanapun berada, Selasa 24 Oktober 2006 bertepatan dengan Idul Fitri 1427 Hijriyah. Saya dalam kesempatan ini menyampaikan "Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin..." Semoga Allah, Tuhan YME, masih memberi kita usia, agar kita semua dapat meneruskan perjuangan hidup yang belum tercapai, yakni hidup yang berguna buat sesama.
Kopo, 22 Oktober 2006
Pepih Nugraha
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
8:54 PM
0
komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat, Menulis
Karya Sahabat (3)
Ponsel Untuk Ibu
Suara ibu terdengar begitu emosi, namun tidak dipungkiri terdapat rasa sedih disana. Ibu merasa semenjak bapak meninggal banyak saudara yang justru menjadi sombong, meskipun yang tetap baik juga masih banyak. "Padahal dulu mereka itu disekolahkan dan dibantu Bapak, tapi mana balas budi mereka sekarang??"
Meskipun dalam hati aku kurang setuju dengan konsep kalau sudah memberi maka harus dapat balas jasa, aku bisa memaklumi. Itu bukan sifat asli Ibu. Pernyataan itu muncul karena rasa sedih dan belum bisa menerima kalau sekarang beliau menjadi tergantung pada orang lain.
Walaupun ibu termasuk wanita mandiri, namun untuk urusan pulang kampung setiap odalan atau acara adat lainnya beliau seringkali berangkat dengan Bapak. Aku yang sudah menikah jarang bisa ikut karena kesibukan dengan keluarga,sementara adikku juga disibukkan dengan urusan pekerjaan dan sekolahnya. Jika sekarang menjadi tergantung pada saudara yang lain untuk urusan pulang kampung, maka aku sungguh maklum jika ibu merasa 'turun derajat'.
Memang sih aku sebenarnya merasa juga kalau sebagian dari saudara-saudara Bapak menjadi merasa punya kelebihan di banding kami semenjak Bapak meninggal. Dan sejak itu juga aku cukup sering menerima telpon dari ibu yang berkeluh kesah mengenai keadaan ini.
"Coba Luh bayangkan! Mereka sudah tahu ibu pasti pulang kalau ada odalan di Pura. Tapi mana niat baik mereka? Menelpon saja tidak untuk menawarkan berangkat sama-sama. Disangkanya ibu tidak bisa pulang sendiri apa?? Mereka terkejut melihat ibu sudah sampai duluan di kampung…".
Begitulah yang sering aku dengar saat menerima telpon curhat ibu. Aku cuma bisa menenangkan dan mencoba memberi pandangan dari sisi berbeda untuk menghibur ibu. "Mungkin mereka lupa Bu…, mungkin juga dipikirnya Ibu akan pulang dengan Luh dan adik-adik. Tidak usah diambil hatilah..Belum tentu mereka sengaja kan. Yang penting kan ibu sudah sempat sembahyang jadi lebih baik tidak usah berpikir yang bukan-bukan." Biasanya ibu bisa menerima penghiburanku, karena sesungguhnya beliau memang hanya membutuhkan pendengar. Selesai bercerita biasanya ibu sudah lega.
Aku bukannya tidak pernah mencoba mencari jalan keluar supaya ibu tidak merasa tersisihkan. Yang sementara bisa aku lakukan hanya menghiburnya dengan kata-kata. Jalan keluar itu datang tanpa diduga dan tidak perlu waktu yang terlalu lama. Awalnya aku khawatir karena ibu pulang kampung sendirian naik kendaraan umum.
Jarak rumah kami di Denpasar dengan kampung kami di Karangasem, jika ditempuh dengan kendaraan umum membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Atau jika sepi penumpang,maka bisa sampai 3 jam, karena mobil angkutan akan mengisi penuh penumpang sebelum memulai perjalanan.
Karena di kampung tidak ada telpon rumah maka aku mencoba menghubungi ponsel salah satu sepupu yang cukup dekat denganku. Aku ingin tahu apakah ibu baik-baik saja dan sudah sampai dengan selamat. Ternyata syukurlah..ibu sudah sampai dan saat itu sedang berkumpul dengan keluarga lain untuk persiapan upacara.
Rencananya ibu hanya menginap dua malam (hal yang jarang terjadi saat Bapak masih ada. Karena bapak pasti akan lebih senang pulang balik ke Denpasar dan kembali lagi ke kampung keesokan harinya). Dan benar saja begitu Ibu sampai di Denpasar telponku berbunyi. Dari Ibu hehehe. Aku sudah siap-siap mendengarkan ceritanya. Namun ternyata kali ini berbeda, suara ibu terdengar gembira "iLuh waktu itu telpon yaaa? Pak De Abdhi yang bilang ke ibu.."
Lalu ibu bercerita tentang hal-hal lain dan sama sekali tidak menyinggung soal 'saudara-yang-tidak-tahu-balas-budi' itu. Oh ternyata tanpa diduga teleponku tempo hari itu begitu luar biasa pengaruhnya. Setelah itu aku dan adik-adik berembug dan kemudian memutuskan untuk membekali ibu dengan ponsel setiap kali ibu pulang kampung. Awalnya sulit sekali membujuk ibu.
Beliau sudah parno duluan begitu mendengar ide kami. Alasan repot lah, nanti hilang lah, macam-macam deh. Tapi akhirnya ibu luluh juga (setelah kami mengeluarkan senjata terakhir, rayuan adik bungsu kami, yang memang sangat sulit ditolak ibu). Dan sekarang ibu sudah terbiasa dengan ponselnya, bisa menerima telpon dengan fasih walaupun untuk menelpon masih sering heboh karena -alasannya- fasilitas ponselnya kurang user friendly, dan yang terpenting ibu sudah tidak merasa diabaikan lagi.
*odalan = upacara sembahyang Hindu Bali
Denpasar, 14 Oktober 2006
Luh Ayu
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
5:15 PM
0
komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat
Thursday, October 19, 2006
Karya Sahabat (2)

Antara "Saya" dan "Aku"
Bahasa Indonesia memiliki kata "saya" dan "aku" untuk menyebut orang pertama. Tidak seperti dalam bahasa asing lainnya yang hanya punya satu kata untuk orang pertama, misalnya I (Inggris), Je (Perancis), Ich (Jerman), Ik (Belanda), Yo (Spanyol). Di sinilah kelebihan bahasa Indonesia. Ada nuansa perbedaan antara "saya" dan "aku", ada rasa bahasa yang berbeda.
"Saya" menunjukkan bahasa resmi. Dalam surat resmi atau pidato resmi, kata "saya" biasa dipergunakan dibanding "aku". Berbeda dengan bahasa puitik dalam sebuah cerita mini, cerita pendek atau novel, kata "aku" lebih dominan dipergunakan, meski ini juga tidak mutlak. Tetapi ada rasa bahasa sastra untuk kata "aku" di sana. Maka kesimpulan umum, kata "aku" dominan digunakan dalam fiksi.
Dalam kesempatan ini, saya lampirkan sebuah cerita mini karya Julian Arsyad. Meski cermin, tetapi isinya cukup menyentuh, apalagi bagi mereka yang kebetulan mengalami hal serupa sebagaimana diceritakan dalam cermin itu. Hanya saja, penggunaan kata "saya" dalam cermin itu membuat plotnya kurang begitu mengalir. Maaf, meski pahit harus saya katakan demikian, demi kebaikan bersama. Konflik dipaparkan secara straight (langsung), dan ini sah-sah saja.
Saya menyadari, cermin adalah cerita yang lebih pendek dari cerpen, tetapi itu adalah langkah menuju penciptaan cerpen. Kalau unsur dramatisasi dan suspend-nya dirasa kurang, tetapi dengan seringnya sahabat berlatih, unsur-unsur penting yang harus ada dalam sebuah cerita seperti plot, suspend, surprise, konflik, dan sebagainya, akan muncul dengan sendirinya. Bagi pemula, ini memang masih mesteri, misteri yang harus dipecahkan bersama. Dan, Julian Arsyad sudah mulai mencobanya dengan cermin tanpa judulnya di bawah ini:
“Mom, coba Putri punya Ayah ya, jadi mommy gak perlu kerja dan putri bisa ditemani terus sama mommy……”
Bagai terkena tamparan yang sangat dahsyat, saya terdiam dan merasakan sakit yang amat sangat mendengar celotehan ringan yang keluar dari mulut bidadari mungil yang sedang rebahan di pahaku. Kami memang sedang bersenda gurau sebelum sama sama berangkat memulai aktifitas rutin, aku pergi ke kantor dan Putri pergi kesekolah.
Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan untuk mengalihkan kegugupan dan keterkejutan akibat perkataannya. Saya hanya spontan menjawab, “Ade harus bersyukur dengan segala apapun yang Allah telah berikan kepada Ade. Walaupun ayah tidak bersama kita lagi, 'kan Ade masih punya Mommy yang selalu sayang sama Ade…”
Putri adalah anak saya satu satunya dari hasil penikahan saya dengan ayahnya. Sejak umur dua bulan dia tidak pernah bertemu dengan ayahnya, karena saya memutuskan untuk berpisah dari ayahnya. Sebenarnya keputusan berpisah itu adalah pilihan yang sangat sulit buat saya pada saat itu karena posisi saya yang baru saja menjadi seorang ibu dan Putri yang masih merah yang pasti masih sangat memerlukan figur seorang ayah untuk menemaninya.
Tapi, saya tidak menyesali keputusan yang saya pilih, sebab saya berada di posisi yang benar. Suami saya telah menghianati kepercayaan yang saya berikan kepadanya.
Walaupun sendiri dalam membesarkan Putri, tapi saya tetap berusaha semaksimal mungkin untuk selalu memenuhi kebutuhannya. Sebenarnya sayapun tidak merasa sendirian dalam membesarkan Putri. Bersyukur karena Allah masih sayang kepada saya hingga memberikan keluarga yang begitu sayang kepada saya dan Putri, sampai saya berpikir bahwa Putripun pasti tidak akan pernah merasakan kehampaan tanpa kehadiran seorang ayah disisinya. Papah, kakak dan adikku selalu ada apabila Putri memerlukan sosok seorang ayah walaupun kami tidak tinggal serumah dengan mereka.
Pertanyaan Putri tadi seperti menyadarkan saya dari sesuatu. Sebenarnya saya tahu bahwa suatu saat dia pasti akan menanyakan tentang hal ini, tapi saya tidak menyangka secepat ini. Putri baru berumur empat tahun dan menurut saya dia belum mengerti arti kehilangan seorang ayah karena selalu ada saya dan keluarga saya yang selalu siap untuk menemaninya. Ternyata saya salah, Putri tetap merasakan kehilangan sosok seorang ayah.
Ya Allah kepadaMu jualah saya memohon pertolongan dan petunjuk agar dapat menjadi yang terbaik untuk Putri walaupun saya hanya seorang wanita biasa yang berusaha menjalani segala kewajiban sebagai orang tua untuk dipertanggung jawabkan dihadapanMu nantinya, ya Allah………
Julian Arsyad
Catatan:
Apa yang sahabat baca adalah hasil karya murni Julian Arsyad tanpa saya ubah susunan kata dan kalimatnya, kecuali kesalahan huruf seperti "karna" yang saya ubah "karena", bilangan "2" dan "4" yang saya tulis "dua" dan "empat", nama orang atau panggilan "ade" yang saya ubah "Ade". Dalam kesempatan mendatang, saya akan menampilkan satu cermin karya Luh Ayu Kusuma Sari dari Bali berjudul "Hp untuk Ibu". Juga sebuah artikel kontemplatif pendek yang menarik dari Lesca. Kita tunggu penampilan mereka...
Pepih Nugraha
Kopo, 19 Oktober 2006
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
9:54 PM
2
komentar
Label: Cerpen, Karya Sahabat
Wednesday, October 18, 2006
Karya Sahabat (1)

Beranilah untuk Memulai!
Pengantar:
Dengan senang hati saya menerima cerita mini (cermin) dari seorang blogger yang berminat dalam tulis menulis. Ia adalah Willa, seorang ibu rumah tangga yang kini tinggal di Amerika. Tidak jauh-jauh, apa yang ia tulis adalah pengalamannya sendiri saat pertama-tama menginjakkan kaki di negara Paman Sam. Tulisan yang bergaya catatan harian. Sahabat bisa mengikuti buah karyanya berikut ini tanpa saya edit susunan apalagi gaya bahasanya. Saya hanya perbaiki salah ketiknya saja. Catatan ringan saya lampirkan di akhir tulisan:
PENGALAMANKU HIDUP DI NEGARA PAMAN SAM

Enam tahun yang silam ketika pesawatku mendarat di JFK New York International Airpot, aku bergumam "AMERICA HERE I COME". Menurut cerita orang-orang yang sudah mengalami hidup di negara ini katanya uenaaaak, segalanya serba mudah, serba convenient-lah hidup di Amerika itu.
Datang ke New York pada bulan Februari tentunya udara dingin sangat menggigit... kata peribasa, tapi kok kenyataannya memang begitu, Februari itu bulan yang paling dingin dari seluruh musim dingin. Salju dimana-mana, tak ada sama sekali daun yang hijau sepeti di negeri kita... ah sejauh mata memandang hanyalah salju yang dingin, bunyi angin berdesir meniup, kadang kala meniup sangat keras. Kuraba pipi, telinga, hidung, dingiiiiiin.
Waktu itu aku menyusul suamiku yang sudah lebih dulu berangkat dari Indonesia yang memang pulang kenegerinya sendiri setelah sekian lama tinggal di kota Bandung Berhiber tercinta bekerja di perusahaan pesawat yang waktu itu sangat terkenal di seluruh dunia.... barangkali? Tetapi karena keadaan ekonomi yang merambah di negara kita itu sampai mempengaruhi keadaan ekonomi di seluruh negeri sampai terjadilah kebangkrutan yang luar biasa sehingga semua expatriates harus pulang kampung termasuk suamiku.
Suamiku mengatakan "SELAMAT DATANG DI AMERIKA THE WILDERNES". Apa wildernes? kan Amerika itu negara Adikuasa... masa wildernes siih? menurutku wildernes itu kan Hutan Belantara... apa bener hidup di negara ini seperti di hutan belantara? Setelah aku mengalami kehidupan selama enam tahun di sini barulah aku menyadari bahwa hidup di negara ini tak semudah yang setiap orang bayangkan.
Kita harus tegar menghadapi kekerasan hidup di negeri orang yang serba dilakukan sendiri, kerja, belanja, masak, cuci pakaian, cuci piring... meskipun aku suka pakai mesin cuci piring setelah teman-teman datang makan makanan Indonesia. Itulah mungkin maksud perkataan suamiku ketika pertama kali aku menginjakan kaki di negeri Paman Sam ini.
www.willasunda.blogspot.com
Catatan:
Willa memulai tulisannya dengan salah satu unsur dari "5W + 1H", yakni unsur "when" (bilamana). "Enam tahun yang silam..." demikian ia menulis. Jika mau, ia juga bisa mulai dengan menggambarkan suasana di negeri asing yang berbeda dengan negara kita, yang otomatis menerbitkan keingintahuan pembaca. Misalnya, "Salju dimana-mana, tak ada sama sekali daun yang hijau seperti di negeri kita." Bisa juga ia mulai dengan seruan: "America, here I come!" Semua sudah diuraikan dalam Berbagi Pengalaman Menulis (3) dan (4).
Ke depan, hiasilah tulisan kita dengan "percakapan" agar suasananya lebih hidup. Hadirkan tokoh lain, misalnya suami, anak atau tetangga kita. Tulis saja: "Apa? Wilderness?" tanyaku pada suami, "Bukankah itu berarti hutan belantara." Suamiku menjawab sekenanya, "Ya begitulah, kau akan tahu nanti." Itu sekedar contoh saja. Kalau sudah terbiasa menggambarkan suasana percakapan, menulis cerita pendek hanya tinggal selangkah lagi. Willa sudah memunculkan "konflik" serta kausalitas (sebab akibat) mengapa ia terdampar di negara orang, sesuatu yang dibutuhkan dalam tulisan.
Salut atas keberanian Willa menulis. Saya masih menunggu hasil karya sahabat lainnya di alamat pepih_nugraha@yahoo.com, baik itu cerita mini, cerita pendek, catatan perjalanan, atau puisi. Masih ada dua penulis lain yang bertanya tentang bagaimana menulis. Saya akan menampilkan pertanyaan dan jawabannya dalam kesempatan lain.
Pepih Nugraha
Bintaro, 18 Oktober 2006
Diposting oleh
Pepih Nugraha
di
1:06 PM
0
komentar
Label: Amerika Serikat, Karya Sahabat, Kehidupan


