Showing posts with label Pulau Galang. Show all posts
Showing posts with label Pulau Galang. Show all posts

Thursday, June 12, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (59)


Menulis dengan Hati (6)


TULISAN terakhir perjalanan saya ke Pulau Galang adalah mengenai vihara dan gereja. Saya tidak ingin berkomentar banyak mengenai dua obyek tulisan yang menjadi "monumen" keyakinan para pengungsi Vietnam atas hal-hal yang bersifat "Ilahiah", hal-hal yang diyakini "Mengatasi" kehidupan mereka. Sebagai orang beragama, saya bisa menyelami hasrat keberagamaan (religiositas) para pengungsi itu, bahkan di tengah-tengah derita dan ketidakpastian yang mendera mereka...


Apa yang Menarik di Batam (6)
Vihara dan Gereja, Bukan Sekadar Tempat Pelarian
Oleh PEPIH NUGRAHA

BENARKAH setiap orang memiliki potensi fatalis? Maksudnya, ketika seseorang “kepentok” nasib buruk yang tidak pernah berubah, kesengsaraan seakan-akan teman hidup abadi, dan merasa tidak menemukan seberkas sinar di ujung sebuah lorong, sebagian pelarian ujung-ujungnya kepada “yang di atas” juga. Fatalis adalah sikap yang lebih dari sekadar pasrah, tetapi mungkin sikap menyerah. Kadang saya bisa memaklumi sikap ini.

Tetapi tidak di Pulau Galang.

Di Pulau ini, saya menemukan sejumlah tempat ibadah yang diperuntukkan bagi pengungsi Vietnam dan sebagian kecil pengungsi Kamboja. Mereka tentu saja bukan kaum fatalis kalau dilihat lebih banyak yang survive daripada tewas. Mereka juga tidak gampang pasrah dan menyerah, meski masa depan mereka awalnya gelap-gulita. Buktinya mereka biasa bertahan berbulan-bulan di atas perahu kecil saat menjadi “manusia perahu”. Tidak sedikit eks pengungsi Pulau Galang kini memperoleh kehidupan layak di berbagai negara.

Maka, saya tidak melihat adanya vihara dan gereja ini sebagai simbol kepasrahan, kekalahan, dan lebih-lebih sikap fatalis. Vihara Quan Am Tu yang kokoh, Pagoda Cua Ky Vien yang megah, gereja Protestan dan Katolik yang unik, menunjukkan sisi lain dari sikap keberagamaan (religiositas) mereka. Di Pulau Galang, saya coba mengamati dua tempat ibadah itu, yakni Vihara Quan Am Tu dan Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem atau dalam bahasa Inggris Immaculate Conception Mary Church, dari dekat.

Vihara Quan Am Tu terlalu mencolok untuk dilewatkan karena bangunannuya yang full colour alias warna-warni, sudah nampak dari jalan tanpa harus berbelok. Saya tentu saja meminta John, sopir sekaligus pemandu saya, untuk membelokkan kendaraan karena saya akan singgah di vihara ini. Saat memasuki halaman vihara, bau hio yang dibakar menyergap hidung, sampai-sampai istri saya berkomentar, “China banget.”

Di dalam vihara, beberapa orang tengah bersembahyang, sementara seorang bhiksu Buddha tengah melayani konsultasi keagamaan dari sejumlah pengunjung. Sementara traveler seperti saya, sibuk mencatat dan mengambil foto-foto, tetapi tetap menghormati mereka yang tengah bersembahyang dengan memandang mereka tanpa bicara.

Yang mencolok dari bangunan itu tentu saja tiga patung berukuran besar warna-warni yang di depannya dijagai naga raksasa. Salah satu patung berukuran raksasa itu adalah Dewi Guang Shi Pu Sha. Biasanya para pelancong menyempatkan diri berfoto-foto di depannya, termasuk saya tentunya. Ada dua plakat yang diletakkan di kaki Sang Dewi, ditulis dengan huruf merah. Salah satunya berbunyi:

“Dewi Guang Shi Pu Sha bisa memberikan kita hoki, jodoh, dan keharmonisan dalam rumah tangga dengan cara: berdoa, semoga Dewi Guang Shi Pu Sha mengabulkan apa yang kita inginkan setelah selesai berdoa, melemparkan koin ke arah Guang Shi Pu Sha”.

Orang lain ikut melemparkan koin, tetapi saya tidak. Bukan karena saya pelit atau takut durhaka karena “menyalahi” keyakinan yang saya anut. Saya berbisik kepada John sambil melirik istri mengenai alasan mengapa saya tidak melempar koin, “Takut dapat jodoh lagi!” John ngakak.

Di samping plakat pertama, ada plakat kedua yang rupanya ditujukan kepada anak-anak. Tetapi di akhir pengumuman itu tetap sama, yakni diminta melempar koin ke arah Sang Dewi.

“Bagi anak-anak yang ingin pintar sekolah, cita-cita cepat tercapai berdoalah kepada Dewi Guang Shi Pu Sha supaya membantu kita mencapai apa yang diinginkan (yang halal)”.

Vihara Quan Am Tu diresmikan pada 10 Desember 1979, yang berarti sudah hampir 30 tahun ia berdiri di Pulau Galang. Saat saya berkunjung, beberapa tukang sedang merenovasi gerbang vihara itu. Dari keadaannya yang bersih, tampaklah kalau tempat ibadat itu terawat dengan apik. Memori tentang pendirian vihara yang tergambar dari rangkaian foto-foto berwarna yang sudah pudar, tetap dapat terpelihara.

Agak di bawah vihara, tepatnya di halaman parkir, terdapat tiga ruangan bersekat tanpa pintu yang penuh dengan ornamen lukisan. Meski tidak berpintu, orang tidak boleh masuk karena dipasangi rantai. Ruangan terbuka tanpa pintu yang terkesan seperti los di pasar itu digunakan untuk ritual pada hari-hari tertentu. John bertanya apakah saya sudah cukup melihat-lihat vihara itu, saya menjawab, “Okay, sekarang kita melihat gereja!”

Kami meninggalkan vihara itu saat orang-orang masih berdatangan untuk sembahyang dan berfoto-foto di depan patung Dewi Guang Shi Pu Sha, serta melempar koin setelah membaca dua plakat tadi. Saya sempat berpikir, pasti mereka yang ingin cepat mendapat jodoh. Tidak sampai sepuluh menit, saya sudah berada di depan sebuah bangunan, sebuah gereja.

Yang terlihat dari jauh mengenai kekhasan sebuah gereja tentu saja tanda salib di pucuk teratas atapnya. Tetapi yang mencolok dari Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem ini adalah patung putih Maria di bagian muka bangunan di bawah tanda salib. Maria yang sedang merentangkan tangan agak ke bawah, berdiri di atas bola dunia dengan jubah putihnya yang merentang seperti sayap. Kami harus melewati titian kecil melengkung terbuat dari besi yang kokoh untuk sampai di sana. Dasar titian terbuat dari kayu yang kuat sehingga saya tidak ragu untuk berpijak dan melintasinya.

Di dalam gereja, anak-anak tampak sedang berlatih bernyanyi, diiringi gitar yang dimainkan lelaki dewasa. Saya terus memutar mata dan tertarik pada sosok patung di sayap kanan gereja itu, agak jauh dan menepi. Itu sebuah patung Maria berjubah paduan biru dan putih, tetapi dengan pose menelungkupkan dan mempertemukan kedua telapak tangan di dadanya, berdiri di atas bola dunia. Bola dunia itu berada di atas patung perahu bernomor lambung VN.02.1985. Sedangkan di atas kepala patung itu terdapat lingkaran putih terbuat dari lampu neon, yang kalau malam hari lampu neon berbentuk lingkaran itu menyala, sebagai penanda “malaikat” atau orang suci lainnya.

John bercerita, sebelum patung ini dibangun, dua orang kakak-beradik melakukan bunuh diri beberapa hari setelah mereka mendarat di Pulau Galang. “Agak angker,” kata John. Tetapi saya cuwek saja, ambil foto sana-sini.

Seorang pria bersandal kulit mengenakan kemeja biru bercelana senada dengan kemejanya, terekam kamera saya saat ia melintas di depan patung Maria di atas perahu dan bola dunia itu. Di kiri-kanan patung Maria terdapat dua singa putih yang sedang “ngaso”, seakan-akan mengapit pria yang sedang melintas itu. Di atas kedua punggung singa terdapat inskripsi besar yang ditulis dalam bahasa Vietnam dan Inggris.

Salah satu inskripsi yang berjudul “Ta On Duc Me” itu berbunyi begini:

“O Mary, we are all deeply grateful for your protecting presence on our way to freedom. We always entrust our lives to you. Your care for us will be highly appreciated in our heart forever”.

Itu bukan salah satu doa para santo atau orang suci lainnya, melainkan salah satu harapan dan doa para pengungsi Vietnam penganut Katolik yang masih melihat secercah harapan di ujung lorong yang gelap. Sebuah harapan yang tidak saja menunjukkan bahwa mereka tidak fatalis, tetapi lebih menunjukkan sikap keberagamaan mereka, sikap religiositas mereka, meski penderitaan tengah menekan mereka tanpa ampun di Pulau Galang ini.

Saya harus mengakhir catatan saya di sini. Saya harus secepatnya meninggalkan Pulau Galang sebab matahari sudah nampak berat ke Barat, sebentar lagi tergelincir. Pesawat Garuda penerbangan pukul 18.30 WIB tujuan Jakarta sudah menunggu. Saya dan istri termasuk dua penumpang si burung besi itu.

“John, kita pulang,” kata saya. Mobilpun beranjak.

Selamat tinggal, Galang, selamat tinggal Nguyen…. (Selesai)

Komentar Pembaca:

miyu @ Selasa, 27 Mei 2008 10:39 WIB
yaahh.. sayang banget.. sampe 6 seri tapi kok isinya cuma barelang aja.. padahal banyak objek lain yang bisa dikunjungi di Batam. Ada wisata pantai di Nongsa, wisata blanja di Nagoya dsk, wisata kuliner sop ikan, asam pedas atau makan seafood maknyus di kelong2 pinggir laut..

Nella @ Selasa, 27 Mei 2008 09:52 WIB
Saya jd teringat lagi ke Batam, dulu kami dari gereja sering kesana ziarah. Ada juga tempat buat jalan Salib di deket camp Vietnam itu tp agak masuk kedalam hutannya sih. Enak disana teduh buat berdoa enak krn sepi hanya kedengaran suara burung n monyet2.

ivan @ Kamis, 29 Mei 2008 08:29 WIB
bagus ceritanya..... emang bangsa ini terlalu sering melupakan dan kurang menghargai sejarah. indonesia merasa memiliki kalau ada bangsa lain yang mengakuinya......

dhe nani @ Selasa, 27 Mei 2008 14:24 WIB
mengesankan mengikuti kisahnya, Nguyen memang inspiratif. saya sependapat jika travelling tak harus selalu happy, tapi dibutuhkan juga travelling yang membuka mata hati

Dhenani @ Selasa, 27 Mei 2008 13:37 WIB
Nguyen, perempuan inspiratif tentang ketangguhan seorang wanita. Penulis saja "jatuh cinta " padanya. Saya sangat sependapat dengan penulis jika travelling tidak melulu harus happy. Happy-nya itu sendiri terkesan hedonis. Tapi juga perlu travelling yang membuka mata hati bahkan bisa untuk kontemplasi. Tulisan ini tidak hanya membuka wawasan tapi juga pembaca diajak berpetualang menuju imaji untuk bisa merekonstruksi kejadian masa lalu. Ditunggu tulisan yang lainnya, bertema, edukatif, inspiratif

Dhenani @ Selasa, 27 Mei 2008 13:36 WIB
Nguyen, perempuan inspiratif tentang ketangguhan seorang wanita. Penulis saja "jatuh cinta " padanya. Saya sangat sependapat dengan penulis jika travelling tidak melulu harus happy. Happy-nya itu sendiri terkesan hedonis. Tapi juga perlu travelling yang membuka mata hati bahkan bisa untuk kontemplasi. Tulisan ini tidak hanya membuka wawasan tapi juga pembaca diajak berpetualang menuju imaji untuk bisa merekonstruksi kejadian masa lalu. Ditunggu tulisan yang lainnya, bertema, edukatif, inspiratif

didi @ Selasa, 27 Mei 2008 11:17 WIB
Terima kasih atas liputannya. Saya pernah tinggal kurang lebih 5 tahun di Batam. Dan ini sudah mengobati rasa rindu saya akan pulau "kalajengking". Tapi masih ada yang harus ditelusuri lagi yakni keberadaan suku asli di pulau Batam dan suka duka kehidupan dormitori muka kuning. Semoga...

Wednesday, June 11, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (58)


Menulis dengan Hati (5)


BARAK dan penjara sama-sama bangunan, sama-sama diperuntukkan bagi pengungsi Vietnam. Barak tempat beraktivitas sehari-hari orang-orang bebas, penjara tempat beraktivitas sementara pengungsi yang terlilit masalah hukum. Dua-duanya ada di Pulau Galang, dua-duanya sama-sama menarik perhatian saya. Maka saya pun memperhatikan detail kedua bangunan ini.

Mengenai barak pengungsian, saya sudah kerap mengunjunginya saat bertugas di Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon, Maluku. Kedua barak pengungsian di tempat berbeda itu sama-sama menampung para korban konflik komunal di sana. Saat tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam, saya juga mengunjungi barak-barang pengungsian korban tsunami. Di barak-barak ini selalu tersimpan kisah muram dan memilukan. Ada ratap tangis dan harapan yang nyaris putus di sini.

Saya juga menangkap semua "perasaan" itu di barak penampungan pengungsi Vietnam, meski tinggal barak-barak bisu saja. Ini modal yang cukup buat saya untuk menulis bagian kelima dari enam tulisan perjalanan saya di Pulau Galang ini.

Soal penjara, saya pernah meliput kriminal dan hukum yang berurusan dengan penjara. Saya pernah berkunjung ke Devil's Island (Iles du Diable) Guyana Perancis tahun 2005 lalu, yang bertetangga dengan Brasil di Amerika Selatan, dimana di sana terdapat bekas-bekas penjara untuk menghukum mati para "penjahat" politik. Saya berada di penjara sempit sisa-sisa masa silam dan masih melihat sisa-sisa peralatan guilottine untuk memancung si terhukum.

Di pulau yang saya capai dengan menggunakan helikopter ini saya nyaris "kemasukan" arwah atau roh halus yang bergentayangan di pulau itu, sebab si makhluk halus sudah masuk melalui kuduk saya! Saat itu saya sudah pusing tujuh keliling, mata sudah melihat pemandangan yang tidak biasa dan seperti melihat suasanma atau "dunia lain". Saya juga mendengar suara-suara yang tidak umum, yang seperti menyusup dari kejauhan, terbawa liar tertiup angin pantai.

Maka, penjara dan barak adalah dua hal yang menarik perhatian, sehingga saya pun menuliskan tentang dua bangunan itu saat berkunjung ke Pulau Galang, sebagaimana terekam dalam tulisan saya di bawah ini...

Apa yang Menarik di Batam (5)
Barak dan Penjara, Monumen Derita Masa Silam
Oleh PEPIH NUGRAHA

Sebuah plang bertuliskan “KHONG PAN SU CAM PAO” membawa saya ke dua buah barak berbentuk “L” bekas penampungan pengungsi Vietnam yang lokasinya berada di tanah rendah. Itu adalah dua dari puluhan barak yang pernah berdiri di sana, yang kini diabadikan sebagai kenangan, tragedic of the past. Meski sudah menjadi “monumen” yang semestinya diurus agar pesan masa silam bisa sampai kepada generasi berikutnya, nampak tidak terurus dan menuju kehancuran total.

Atap barak yang terbuat dari seng dengan dinding kayu itu keadaannya menyedihkan, sama seperti nasib penghuninya di masa silam. Beberapa bagian seng sudah terangkat dan mengelupas karena akumulasi panas-dingin dipermainkan irama alam, terseret pergantian siang-malam. Beberapa tiang penyangganya sudah terkulai dimakan rayap. Kalaupun masih ada tiang yang berdiri, barangkali dengan dorongan kelingking saja tiang itu sudah rubuh.

Ukuran satu barak cukup luas, yang saya perkirakan bisa menampung ratusan jiwa. Saya teringat rumah gadang di Sumatera Barat yang bisa menampung puluhan keluarga, tentu saja keluarga dekat atau sanak-saudara yang masih dalam satu garis keturunan. Di barak ini, yang dalamnya melompong begitu saja, terserak ratusan jiwa yang tidak berasal dari satu klan. Bisa jadi satu sama lain tidak saling mengenal.

Bisa dibayangkan perkembangan psikologi penghuni di dalamnya, saat anak-anak mendengar bahkan menyaksikan “kegiatan” orang dewasa yang sebenarnya belum waktunya mereka saksikan. Sebaliknya, lelaki dewasa tergiur dengan gadis remaja yang beranjak dewasa, yang tertidur merana di sana. Semoga gadis itu bukan Nguyen, gadis Vietnam yang masih menancap dalam ingatan saya.

Di Pulau Galang, pulau berhutan karet seluas kurang lebih 80 hektar ini, barak para pengungsi Vietnam (beberapa di antaranya juga pengungsi Kamboja) terkonsentrasi di dua sayap. Saya memusatkan pada Khong Pan Su Cam Pao ini. Barak yang sudah terkepung rumput tinggi ini, kini dibiarkan kosong. Dari foto-foto lama yang dipajang di kuil Quam Am Tu (akan saya ceritakan dalam tulisan seri terakhir), saya bisa merekonstruksi para pengungsi itu tengah melakukan kegiatan sehari-hari. Mulai menanak nasi, mandi, mencuci, sampai sesekali berinteraksi dengan penduduk lokal.

Dalam satu barak lainnya yang agak tinggi lokasinya, beberapa penduduk lokal nampak tengah bercengkerama. Sebuah tali jemuran terentang dipenuhi pakaian. Benar-benar tidak menunjukkan monumen sesungguhnya, yang sebaiknya dijadikan cermin sebuah perjalanan hidup manusia yang tidak boleh menimpa generasi berikutnya. Perang dimanapun tidak membawa kemenangan, tetapi membawa kesengsaraan.

Tahun 1996 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Bosnia, Kroasia, dan bahkan sempat melintas Serbia. Khususnya di Bosnia, dengan bantuan pengamanan pemerintah setempat dan PBB, saya melihat-lihat keganasan perang di bekas kamp-kamp penyiksaan tentara Serbia terhadap warga Bosnia. Sebuah pembersihan etnis yang gila-gilaan yang tidak menyisakan rasa kemanusiaan, juga rasa belas kasihan.

Waktu itu seorang warga Bosnia menjelaskan, hampir semua lelaki Bosnia yang tertangkap dibantai tanpa ampun oleh anak buah Slobodan Milosevic, sementara perempuan Bosnia diperkosa ramai-ramai, bergiliran, hanya sekadar untuk mengaburkan identitas Bosnia, agar nama Bosnia lenyap dari muka Bumi. Seluruh akta atau keterangan dibakar, dari KTP sampai rekening bank, sehingga orang Bosnia bukanlah siapa-siapa. Itulah perang. Di Bosnia, di Maluku, di Vietnam, perang sama saja; membawa petaka dan derita.

Manusia perahu dari Vietnam umumnya membuka mata dan perhatian dunia akan sebuah petaka perang yang berimbas pada derita orang. Di Pulau Galang, pengungsi ini mendapat perhatian penuh badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR). Melihat jejak sejarah yang ditinggalkan, Pulau Galang dengan pengungsi Vietnam di dalamnya merupakan sebuah “pemerintahan” ad interim (sementara), setidak-tidaknya ada administrasi yang mengatur warga pengungsi, entah itu diatur UNHCR yang bekerja sama dengan Otorita Batam. Mulai fasilitas kesehatan, sekolah Perancis yang dekelola LSM Perancis Ecoles Sans Frontieres (sekolah tanpa batas), sarana ibadah, kuburan, sampai penjara!

Penjara?

“Ya, penjara untuk pengungsi yang melanggar aturan,” jelas John, sopir yang mengantar saya. Saya memintanya menepi. Saya ingin melihat penjara itu dari dekat. Saya kembali teringat novel itu. Dalam salah satu bagian, si gadis melankolis Nguyen pernah dianggap melanggar aturan dan dijebloskan ke dalam penjara. Inikah penjara tempat dimana Nguyen pernah mendekam?

Saya meminta izin kepada petugas jaga untuk mengabadikan penjara berjeruji besi itu. Saya cermati dengan saksama, hanya ada dua sel dengan jeruji panjang-panjang membentuk pintu lipat berjeruji besi. Sehingga yang saya bayangkan, siapapun yang berada di dalamnya akan terlihat jelas dari luar. Sengajakah untuk mempermalukan si pelanggar aturan? Saya tidak tahu. Yang jelas, dua sel penjara itu bagian dari bangunan dua tingkat dimana keduanya berada di bawah. Di atas penjara itu ada kamar-kamar dengan jendela kaca. Untuk apa sebenarnya bangunan itu?

Saya kemudian menemukan jawaban atas pertanyaan itu bukan dari John, sopir sekaligus pemandu saya, tetapi dari sebuah plakat yang terdapat di samping halaman depan bangunan itu. Begini bunyinya:

“Bangunan ini selain menjadi markas satuan Brimob Polri yang bertugas di ex-camp pengungsi Vietnam, juga berfungsi sebagai tempat tahanan para pengungsi,” demikian alinea pertama yang saya baca. Saya harus mengakui bahwa informasi John akurat sampai di sini.

Alinea kedua, “Pengungsi yang ditahan di tempat ini adalah mereka yang mencoba untuk melarikan diri dari camp pengungsian dan yang bertindak kriminal seperti mencuri, memperkosa, dan membunuh sesama pengungsi.”

Saya agak bergidik membaca kata-kata kriminal seperti mencuri, memperkosa, membunuh. Saya bahkan tidak menyadari kalau saya sebenarnya sedang traveling dan seharusnya merasakan hal yang happy-happy saja. Saya mengenyahkan argumen bahwa traveling itu hanya untuk senang-senang. Bagi saya, traveling juga bisa berarti kegiatan menggali ilmu pengetahuan di lapangan, memuaskan rasa ingin tahu, mengenal wilayah dan mengenal seni budaya masyarakat setempat.

Mencuri. Memperkosa. Membunuh.

Benarkah itu dilakukan pengungsi Vietnam? Benarkah orang-orang yang menderita itu saling menikam dan menghabisi sesamanya sehingga diperlukan dua sel penjara ini? Kalau demikian, apa kesalahan Nguyen saat itu? Semoga gadis itu bukan salah satu korban perkosaan atau bahkan korban pembunuhan!

Saya meneruskan membaca alinea ketiga dan keempat plakat itu:

“Operasional bangunan ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia dalam hal ini oleh Satuan Brimob Polri.”

“Seiring dengan peninggalan pengungsi pada tahun 1996, satuan Brimob yang bertugas di sini ditarik kembali ke markasnya di Batam kemudian bangunan ini diserahkan kepada Otorita Batam. Saat itu kondisi bangunan sudah mengalami banyak kerusakan sehingga oleh Otorita Batam diperbaiki kembali.”

Saya menarik napas panjang selepas membaca alinea terakhir plakat itu.

Tidak terasa, isi kepala saya dengan cepat merekonstruksi apa yang terjadi sekitar 30-an tahun lalu meski dengan ingatan yang sepotong-sepotong, saat prahara politik mendera kawasan Indochina di utara kita, khususnya Vietnam dan Kamboja. Orang-orang Vietnam berjudi nasib menjadi manusia perahu, terapung berbulan-bulan di tengah lautan tanpa kepastian. Sementara orang Kamboja yang tidak sempat mengungsi menjadi korban pembantaian rezim Khmer Merah di ladang pembantaian (The Killing Fileds), sebelum Komunis Vietnam menginvasi negeri ini. Di Kamboja ini, jutaan manusia terbantai sebelum mampu menjadi manusia perahu. Sekali lagi, itulah ganasnya perang!

Saya menyudahi “ziarah” kenangan saya di penjara Pulau Galang ini, sambil sesekali mengenang dan membayangkan Nguyen berdiri di kaki bukit di samping gereja, melambaikan tangan mengajak saya untuk mendengarkan segala ceritanya. Tetapi itu tidak akan pernah pernah terjadi, sebab Nguyen hanya ada dalam fantasi saya saja. Besok saya akan akhiri perjalanan ke Pulau Galang ini dengan menulis tentang religiositas para pengungsi Vietnam yang diwujudkan dalam sebuah kuil dan gereja di sana. (bersambung)

Komentar Pembaca:

Dhenani @ Selasa, 27 Mei 2008 13:22 WIB
Nguyen, sosok inspiratif ketangguhan wanita, yang membuat sang penulis jatuh cinta. saya sependapat, jika travelling tidak harus happy, dengan pemikiran yang hedonis. tapi travelling juga bisa membuka mata hati dan kontemplasi diri, tergantung cara travelling apa yang bisa membawa kita membuka mata hati. saya tunggu tulisan inspiratif lainnya. thank's 2 mas Pepih.

siJori @ Senin, 26 Mei 2008 20:29 WIB
mmg kl baca kisah nguyen gw jd terharu begitu besar harapanmu nguyen...

cory @ Senin, 26 Mei 2008 17:35 WI
Bsaya tunggu kelanjutan ceritanya........

Tuesday, June 10, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (57)


Menulis dengan Hati (4)


ENTAH kenapa saya selalu tertarik dengan kuburan, tempat dimana tubuh-tubuh tanpa nyawa tertanam di dalamnya, tempat segala cerita seram bermuasal. Ternyata saya tidak sendirian. Teman kerja saya, fotografer Arbain Rambey, malah menjadikan makam atau kuburan sebagai obyek jepretan yang menarik. Setidak-tidaknya menarik bagi Arbain!

Bedanya, saya menggambarkan kuburan dengan kata-kata, Arbain menyajikannya lewat jepretan yang menawan. Kesannya memang sepi dan menakutkan, tetapi di sana terselip keindahan. Saya punya prinsip, jangan takut sama kuburan, toh cepat atau lambat kita semua akan menjadi penghuninya, bukan? Juga jangan takut mati, karena setiap orang bakal mengalaminya.

Saya sadar, menulis kuburan pasti menakutkan bagi sebagian orang. Statistik di Kompas.com dimana saya menulis perjalanan ke Pulau Galang ini menunjukkan, bagian empat tulisan ini paling sedikit dibaca dan dikomentari orang, paling tidak dibandingkan dengan lima tulisan saya lainnya. Bagaimanapun, kuburan adalah monumen yang menyimpan cerita, dan cerita itu bisa sahabat baca di bawah ini....

Apa yang Menarik di Batam (4)
Kuburan Bisu yang Bercerita Banyak
Oleh PEPIH NUGRAHA

SESUNGGUHNYA, sebelum tiba di lokasi monumen atau “saksi hidup” tiga perahu yang digunakan pengungsi Vietnam untuk sampai di Pulau Galang, saya melewati satu kompleks kuburan khas China. Ingatan saya kembali hinggap pada masa lebih 30 tahun lalu, saat saya baru masuk taman kanak-kanak di desa saya, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Seorang warga China kaya di desa saya bernama Tek Tjay, meninggal dunia. Saya kebetulan diajak orangtua mengantarkannya ke pemakaman khusus di Kota Tasikmalaya. Seperti makam warga China di Tasikmalaya itulah ornamen makam Vietnam yang saya lihat di Pulau Galang. Maka saya minta John berhenti saat kembali melewati kuburan itu.

“Tidak takut melihat-lihat kuburan orang mati, Pak?” Tanya John.
Dimana ada kuburan orang hidup? pikir saya. “Saya kadang lebih takut sama orang hidup, John,” kelakar saya.

Entahlah, kenapa juga saya selalu tertarik dengan kuburan. Tentu saja bukan karena saya ingin buru-buru menjadi penghuninya, tetapi bagi saya kuburan merupakan satu tempat bisu membeku tetapi sebenarnya memiliki banyak cerita. Kalaupun tidak ada prasasti di ujung atas sebuah kuburan, pastilah tulang-belulang yang tertanam di dalamnya punya cerita tersendiri.

Saat saya memasuki sebuah goa tempat orang mati digeletakkan begitu saja di Tanatoraja tahun 2003 lalu, misalnya, saya melihat tulang belulang dan tengkorak yang kadang sudah agak menghitam. Lantas imaji saya coba merekonstruksi saat daging, kulit, dan nyawa masih menjadi bagian tulang-belulang itu, saat si mati masih hidup. Saya bayangkan, ia mungkin seorang raja kaya yang berkuasa, perempuan cantik penakluk para pria kaya, atau orang-orang yang berpengaruh lainnya yang di kala hidupnya sangat dihormati dan dipuja-puja.

Tetapi setelah menjadi tulang-belulang… tak lebih dari kumpulan benda yang tak berharga apa-apa, yang bisa kapan saja dimangsa srigala. Orang, dan bahkan sanak-saudara segera lupa siapa kita ketika kita sudah menjadi penghuni abadi kuburan. Bukan begitu, Bung, Non!?

Itu sebabnya mengapa saya punya ketertarikan tersendiri terhadap kuburan. Bahkan pada 13 Juni 1996, satu tulisan saya di Harian Kompas, bercerita mengenai Museum Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang No 1 Jakarta. Dalam museum terbuka atau Open Air Museum satu-satunya di Indonesia itu, tertanam rangka para orang-orang penting Belanda, mulai dari gubernur jenderal pertama sampai rakyat Belanda biasa yang mati di Batavia. Kepala Museum saat itu, Ralin Manik, bahkan bertanya mengapa saya tertarik menulis kuburan. “Rasanya baru Anda wartawan yang meliput di museum ini,” katanya.

Kini saya berdiri di kuburan yang berbeda. Bukan di Tanah Abang tempat dimana orang-orang Belanda ditanam, tetapi saya berdiri di kuburan Vietnam di Pulau Galang. Pasti tanah beku ini juga punya cerita. Sepanjang 16 tahun, merujuk pada keberadaan pengungsi Vietnam di Pulau Galang yang datang tahun 1979 hingga 1995, telah banyak pengungsi Vietnam yang meninggal di tempat ini karena berbagai sebab. Baik kematian alamiah atau karena depresi tak tertahankan akibat berbulan-bulan terkatung-katung di atas lautan sebagai manusia perahu, tercerai berai dari sanak-saudara dengan masa depan yang masih samara-samar.

Di depan pintu gerbang kuburan terdapat tulisan “Ngha Trang Grave” yang menunjukkan nama pemakaman itu. Di bawah gerbang, bersatu dengan nisan-nisan besar kuburan, terdapat satu inskripsi yang ditulis dalam lima bahasa, termasuk Bahasa Indonesia:

“Dipersembahkan kepada para pengungsi yang meninggal dunia pada waktu perjalanan menju kebebasan” atau dalam bahasa Inggris, “Dedicated the people who died in the sea on the way to freedom”.

Perkiraan saya tidaklah terlalu meleset mengenai sebab-sebab kematian para pengungsi itu. Depresi di sini bisa berarti bunuh diri karena tak tahan menanggung beban mental. Saya kemudian membaca plakat berisi empat alinea pengumuman yang sedikit-banyak bercerita mengenai kuburan itu. Aliena pertama dan kedua plakat itu berbunyi begini:

“Di pemakaman ini terdapat 503 makam terdiri dari makam pengungsi Vietnam dan Kamboja dengan agama yang berbeda yaitu Kristen dan Budha”

“Besarnya jumlah kematian saat itu diakibatkan karena berbagai penyakit yang mereka derita selama berlayar berbulan-bulan di laut lepas. Selain itu depresi mental membuat kondisi fisik mereka semakin lemah.”

Saya tidak mengubah sedikitpun kata-kata yang tertulis dalam plakat itu. Saya biarkan apa adanya untuk memberi pemahaman utuh kepada pembaca. Sebanyak 503 makam, berarti sejumlah itulah warga pengungsi Vietnam di Pulau Galang yang meninggal dunia. Kalau jumlah itu hanyalah10 persen dari pengungsi yang mati selama 16 tahun, bisa jadi sedikitnya pengungsi yang datang ke Pulau Galang sebanyak 5.000-an. Dari penelusuran sejumlah dokumen mengenai keberadaan pengungsi di hutan karet seluas 80 hektar itu, sedikitnya terdapat 10.000 pengungsi Vietnam. Kalau jumlah ini benar, artinya 5 persen pengungsi Vietnam menemui ajal di Pulau Galang ini.

Saya kemudian membaca inskripsi-inskripsi yang tertulis di atas nisan. Ada nama Dominico Nguyen Cong Cinh (lahir 1933, meninggal 1989), juga ada Daminh Nguyen Anh. Sudah dua “Nguyen”. Apakah yang terakhir itu Nguyen yang diceritakan dalam novel itu? Saya tak tahu. Melihat tanggal lahirnya yang tahun 40-an, tentulah dia bukan Nguyen si perawan Vietnam dalam novel memikat itu.

Tentu saja masih ada 500-an inskripsi lainnya yang tidak mungkin saya catat satu persatu. Pada hampir semua batu nisan tertulis nama jelas si mati, berikut tanggal lahir dan hari kematiannya. Jika tidak ada tahun kelahirannya, paling tidak saat dia tiba di Pulau Galang sampai ia meninggal, tertulis sebagai “sejarah” yang banyak berbicara. Mengapa disebut “banyak berbicara”? Karena pada monumen beku itulah sebuah prahara kemanusiaan pernah terjadi dan kuburan adalah sebagai pangkal ingatan atau memori untuk sampai ke sejarah kelam kemanusiaan itu.

Tengok misalnya salah seorang mantan pengungsi bernama Hai Yen Hyunh dan anaknya Tien Kran yang sudah menjadi warga negara Australia, sengaja datang bereuni ke Pulau Galang pada 3 April 2005, setelah belasan tahun meninggalkan Pulau Galang. Ibu dan anak ini bukan sekadar reuni atau temu-kangen dengan sesama pengungsi lainnya, tetapi mengunjungi suami atau ayahnya di Pekuburan Ngha Trang ini.

Suami Hai meninggal enam bulan sebelum ia dan anaknya pergi ke Australia tahun 1987, ”Saya sangat sedih harus meningalkannya,” kata Hai, kini berusia 55 tahun, yang pengalaman pribadinya tertulis dalam situs ThingAsian.

Saya masih berada di pekuburan Vietnam ini dan membaca alinea ketiga dan keempat plakat itu:

“Ziarah kuburan ke makam ini oleh para keluarga dan sahabat yang pernah menjalani hidup bersama di pengungsian, sudah beberapa kali dilakukan.”

“Para peziarah adalah mantan pengungsi Galang yang memperoleh sponsor dari negara-negara seperti Australia, Kanada, Amerika Serikat serta negara lainnya yang kini hidup senang dan mapan di negara-negara tersebut.”

Memang Hai Yen Hyunh dan anaknya Tie Kran tidak sendirian. Ada sejumlah orang Vietnam lagi yang tidak harus menunggu sampai tahun 1995 sebagai batas akhir pemulangan pengungsi dari Pulau Galang. Ada beberapa pengungsi lainnya yang keluar sebelum tahun itu. Setelah Saigon jatuh tahun 1975, manusia perahu Vietnam dan Kamboja mencapai 147.000 orang yang berhasil selamat dan tinggal di sejumlah tempat penampungan pengungsi, termasuk Pulau Galang. Sebanyak 132.000 di antaranya diterima sebagai warga negara di negara ketiga. Ibu dan anak Hai-Tie termasuk 132.000 orang yang beruntung, meski di Australia ia menjalani hidup sebagai penjahit pakaian.

Saat pengungsi Vietnam yang tinggal di Pulau Galang harus segera dipulangkan, banyak di antara mereka memilih bunuh diri dengan cara gantung diri atau menenggelamkan diri ke laut dalam. Mereka lebih memilih mati daripada mati di tanah tumpah darahnya sendiri.

Kini para pengungsi Vietnam, termasuk yang pernah mukim di Pulau Galang, sebagian sudah menemukan kehidupannya di negeri ketiga, negara yang bersedia menerima mereka sebagai warga negara. Tidak ada satupun dari mereka yang bersedia kembali ke Vietnam karena mengira perang Vietnam masih berkobar. Sebagian lagi, tentu saja tertinggal di Pulau Galang, setidak-tidaknya 503 pengungsi Vietnam penghuni pekuburan Ngha Trang ini. (bersambung)

Komentar Pembaca:

cory @ Senin, 26 Mei 2008 09:41 WIB
jadi ingin ke batam........... ternyata banyak sekali sejrah di sana

veddys @ Minggu, 25 Mei 2008 16:55 WIB
ayo, lanjut cepat, kayaknya masih banyak yg belum di ceerita

ines @ Minggu, 25 Mei 2008 13:32 WIB
been theeree!! tempat pengungsian vietnam dulu.. sangat bersejarah.. sampai saya ke batam tahun lalu, saya ga pernah tahu kalau ternyata bangsa kita pernah berbaik hati menampung bangsa vietnam yang sekarang secara ekonomi semakin membaik.. :D ga kebayang mereka naik perahu mirip sampan utk sampai ke batam..

Monday, June 09, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (56)


Menulis dengan Hati (3)


TULISAN ketiga saya mengenai Pulau Galang adalah perahu. Mengapa benda mati ini yang saya jadikan obyek tulisan? Bekalnya hanyalah imajinasi. Kebetulan ada tiga "monumen kayu" berupa tiga perahu yang dulu digunakan para pengungsi Vietnam untuk sampai ke Pulau Galang. Imajinasi saya mulai bermain...

Saya membayangkan perahu itu dihuni oleh beratus-ratus "manusia perahu", saya bayangkan ada pengungsi stress yang melompat dari perahu itu jauh sebelum sampai ke Pulau Galang, saya bayangkan ada mayat yang dilemparkan dari atas perahu karena tak tahan menanggung derita fisik dan mental, saya bayangkan susahnya perjuangan perahu itu saat menghadapi badai di tengah lautan, dan seterusnya...

Tidak lupa saya membaca keterangan mengenai perahu itu. Saya kutip lengkap karena inilah informasi berharga saat tidak ada orang yang bisa memberi tahu saya. Tetapi yang jelas, saya berupaya merekonstruksi peristiwa dengan melihat "monumen kayu" berupa tiga perahu eks pengungsi Vietnam yang masih tersisa di Pulau Galang sebagaimana yang bisa sahabat baca di bawah ini....

Apa yang Menarik di Batam (3)
Saksi Bisu Tiga Buah Perahu
Oleh PEPIH NUGRAHA

Saya meneruskan perjalanan setelah puas menikmati Jembatan Habibie atau Jembatan Teungku Fisabilillah. Untuk sampai ke Pulau Galang, saya harus menempuh empat jembatan lagi, minus satu jembatan terujung yang menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru. Untuk itulah mengapa Jembatan Barelang yang merupakan kependekan dari Batam-Rempang-Galang itu memiliki enam jembatan.

Seperti yang saya ceritakan terdahulu, hanya satu jembatan yang paling fenomenal, baik dari struktur bangunan, panjang, maupun keindahannya. Kini saya sudah meninggalkan “Batam Coret”, yang dapat saya lihat di rambu-rambu sebelum menuju pulau berikutnya, Pulau Tonton. Dari kaca spion mobil, saya melihat bayangan Jembatan Barelang berdiri indah dan megah dengan jalan di tengahnya yang tidak rata dan seperti terangkat tali-tali kawat baja.

Semakin menjauh, semakin jarang mobil yang melintas. Kalaupun ada yang melintas, saya masih bisa menikmati merek dan jenis-jenis mobil yang aneh-aneh, yang tidak beredar di Jakarta, mulai dari jeep, sedan, sampai kendaraan serba guna buat keluarga. Sesekali berpapasangan dengan mobil double-deck, yang bagian belakangnya memang dipergunakan untuk mengangkut kayu. Memang untuk semestinya. Di Jakarta, tidak pernah saya melihat bagian belakang mobil double-deck digunakan mengangkut kayu atau hasil bumi lainnya, melainkan ditutup terpal atau memasang aksesoris mahal lainnya. Pokoknya double-deck di Jakarta 100 persen buat “ngegaya”, sementara double deck di Batam asli buat kerja.

Bagi peminat otomotif, yang mencolok saat kita keluar dari Bandara Internasional Hang Nadim, saat mencari taksipun sudah dihadapkan pada berbagai jenis dan merek kendaraan yang digunakan. Taksi yang saya tumpangi, misalnya, adalah Toyota hatchback yang dilengkapi airbag. Di Jakarta mungkin ada taksi yang dilengkapi alat keselamatan jika kendaraan berbenturan itu, tetapi itu masuk taksi “golden” atau “premium”, yang tarifnya aduhai. Di Batam, saya menikmati taksi sedan yang nyaris tanpa suara, dilengkapi airbag, tetapi dengan tarif biasa.

Meski terlihat sudah agak out of date, tetap saja berbagai jenis mobil itu terkesan mewah buat saya. Bayangkan, Toyota Harrier, Celica dan RAV4, Nissan Terano, Mitsubishi Pajero built up, yang hanya ada dalam angan-angan saya itu, berseliweran di jalanan Batam. Semua mobil itu didatangkan dari Singapura dengan bea masuk yang nyaris nol persen, sehingga jatuhnya pun menjadi murah sesampainya di Batam. Di Singapura, mobil-mobil itu baru dipakai paling tidak 4-5 tahun, setelah itu “dibuang” ke Batam.

Itu berarti, mobil-mobil itu masih “gres” saat tiba di Batam. Jalanan yang mulus dan jarak tempuh yang terbatas, pastilah membuat kondisi mobil tidak cepat rusak. Tetapi, jangan harap mobil di Batam bisa keluar dari Batam yang dikenal sebagai kawasan berikat itu. Ah, itu teori. Buktinya saat saya bertugas di Aceh beberapa pekan setelah tsunami, banyak mobil-mobil eks-Singapura yang berhasil dikeluarkan dari Batam. Apa yang tidak mungkin di negeri ini, Bung!

Jembatan Tonton-Nipah, Nipah-Setoko, dan Setoko-Rempang sudah saya lalui. Kalau seluruh enam jembatan itu dibentangkan, panjangnya bisa mencapai dua kilometer. Pada sebuah ruas, John membelokkan mobilnya ke arah kiri.

“Kita memasuki bekas kamp pengungsi Vietnam, Pak,” katanya. Wow, inilah yang saya tunggu-tunggu.

Saat kendaraan memasuki jalan yang lebih kecil setelah berbelok dari jalan besar, mata tertumbuk pada peta raksasa mengenai rencana pembangunan Pulau Galang. Saya menemui jalan bercabang. Ke arah kiri menuju Pelabuhan Karyapura, Masjid Baiturrahman, perumahan komunitas lokal atau penduduk asli Pulau Galang, dan Gereja Katolik Hati Kudus. Sementara ke arah kanan menuju bekas kamp pengungsi Vietnam. Sebuah papan petunjuk terbuat dari lempengan logam dengan cata dasar hijau bertuliskan EX CAMP VIETNAM.

“Kita langsung ke kanan saja, John,” pinta saya. John menurut. Mobil pun memasuki pintu gerbang.
“Bapak harus membayar tiket masuk,” kata John. Tanpa diberi tahu pun sebenarnya saya sudah tahu. Saya mempersiapkan uang lembaran limapuluh ribuan. Saat menurunkan kaca mobil, seorang petugas melongok.
“Berapa orang, Pak?”
“Dua,” jawab saya cepat, “Satu sopir travel”
“Duapuluh ribu saja,” katanya.

Saya melirik John, maksudnya meminta jawaban kok harganya semurah itu, padahal kami bertiga masuk dengan mobil. Saya jadi ingat Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta, penumpang dihitung perkepala. Sialnya, kendaraan masuk pun kena hitung, seakan-akan kendaraan itu ingin ikut menikmati Ancol! Rupanya di Pulau Galang ini tidak.

“Biasaya kalau mobil penuh kami memungut biaya dupapuluh lima ribu rupiah. Tetapi karena hanya dua orang, ya cukup sepuluh ribu rupiah saja,” kata petugas. Astaga, ternyata John tidak “direken” orang!

Setelah membayar, kami segera melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat. Di berbagai tempat terdapat plang bertuliskan “Galang, Memory of a Tragedic Past”. Kalau saya terjemahkan secara bebas, mungkin bunyinya “Galang, Kenangan akan Tragedi Masa Silam”. Segala fasilitas yang tersedia untuk pengungsi, masih ada di sana. Mulai dari barak tempat penampungan pengungsi, rumah sakit, sekolah, gereja, sampai kuburan. Tetapi mata saya langsung tertumbuk pada tiga perahu kayu. Inilah “malaikat penyelamat” nyawa para pengungsi Vietnam sesungguhnya yang terdampar di Pulau Galang!

Perahu. Tidak ada istimewanya dengan alat transportasi ini bagi saya. Beberapa tahun lalu saya dan teman-teman menyewa kapal yang tiga kali lebih besar dari tiga perahu yang ada di depan mata saya itu. Bukan karena terapung-apung mengungsi, tetapi sengaja mengapungkan kapal yang disewa belasan juta rupiah itu di tengah samudera di perairan antara Sulewesi dan Kalimantan semata-mata untuk bersenang-senang, yakni memancing ikan kakap di laut dalam. Sebuah pengalaman eksotis yang kemudian saya tulis di Harian Kompas.

Tetapi tiga perahu yang ada di depan saya itu, yang ukuran panjangnya saja tidak lebih dari lima belas meter, telah “berbicara banyak” dalam menyalamatkan puluhan nyawa pengungsi Vietnam yang berlindung di haluan sampai buritannya. Saya mencari-cari informasi mengenai tiga perahu itu. Tidak ada guide yang membimbing dan memberi saya informasi. Untunglah di depan tiga perahu itu ada plakat tiga alinea yang bunyi aliena pertamanya begini:

“Perahu kayu ini adalah sisa-sisa dari peninggalan pengungsi Vietnam yang sengaja ditenggelamkan di perairan Pulau Galang dan ada beberapa perahu yang dibakar oleh para pengungsi sebagai aksi protes dan penolakan pemulangan kembali ke negara Vietnam.”

Saya membayangkan Nguyen, si perawan Vietnam dalam novel itu berada di salah satu perahu itu. Terbayang pula setelah ia diperdayai si lelaki “Toloheor” yang kemudian meninggalkannya begitu saja, Nguyen terlunta-lunta karena cinta sucinya yang kandas, yang tersia-sia begitu saja. Saya membayangkan saat para pengungsi itu diminta paksa keluar dari Pulau Galang, Nguyen meronta-ronta karena tidak mau dikembalikan ke Vietnam. Maunya ia ingin tinggal di Indonesia, hidup bersama lelaki yang merenggut kegadisannya, yang dikira mencintainya sepenuh hati.

Saya membaca aliena kedua plakat itu:

“Setelah peninggalan mereka dari Pulau Galang tahun 1995, perahu ini oleh Otorita Batam diangkat ke daratan kemudian diperbaiki dan dipamerkan untuk publik sebagai obyek yang bernilai sejarah.”

Saya sangat setuju kalau tiga perahu itu bernilai sejarah. Saya tidak akan menyangkalnya. Tahun 1995. Artinya baru 13 tahun yang lalu terjadi prahara kemanusiaan yang menimpa pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Setelah merapat di Pulau Galang tahun 1979, setelah terapung-apung berbulan-bulan dan bahkan ada yang sampai terapung setengah tahun, mereka sampai di pulau ini dan mendapat perlindungan badan PBB untuk urusan pengungsi atau UNHCR. Dari 1979 ke 1995, itu artinya perjalanan waktu selama 16 tahun. Saya mulai menghitung-hitung…

Kala itu gadis Nguyen dalam novel dan hidup dalam fantasi saya itu berusia 17 tahun, gadis yang tengah mekar-mekarnya. Artinya, ia meninggalkan Pulau Galang saat usianya menginjak 33 tahun, usia yang menjadi ukuran puncak kedewasaan seorang perempuan, saat gurat-gurat kecantikan belum begitu banyak beranjak tergerus usia. Saya mau bilang, Nguyen pasti masih tetap cantik diusianya yang ke-33 saat ia dengan perasaan berat harus meninggalkan Pulau Galang, meninggalkan cintanya yang kandas. Nguyen, Nguyen…. dimana kamu sekarang?

Enam belas tahun. Tentu bukan waktu singkat. Saya bayangkan, di kamp pengungsian itu pasti ada bayi usia bulanan yang selamat saat pertama kali mereka. Maka ketika ia harus meninggalkan Pulau Galang, pastilah bayi itu sudah beranjak remaja, sama seperti saat Nguyen tiba. Kalau ada pengungsi Vietnam sudah berusia tua saat tiba di Pulau galang, pastilah ia juga meninggal dan ditanam di Pulau Galang. Maka kuburan pengungsi Vietnam akan menjadi fokus tulisan saya tersendiri, demikian pikir saya saat itu. Tetapi sekarang saya membaca alinea ketiga plakat itu:

“Perahu inilah yang dipakai para pengungsi mengarungi lautan Cina Selatan selama berbulan-bulan dan sejauh ribuan kilometer menuju berbagai belahan dunia dengan harapan dapat perlincungan dari negara lain, di antaranya sampai ke Pulau Galang ini dan sebagian dari mereka gagal mencapai daratan dan gugur di tengah lautan karena perahunya tenggelam”.

Saya memandang dan bahkan memegang satu perahu yang bagian lambung kirinya sudah hancur akibat kuasa bakteri. Satu perahu lagi, di ujung kiri-kanan haluannya, tertulis TG 1050 TS. Saya memuaskan diri berlama-lama di depan tiga perahu yang menjadi “saksi hidup” hidup-mati para pengungsi Vietnam, termasuk Nguyen di dalamnya.

Setelah puas, saya bergegas menuju segerumbul tanaman teduh, tempat kuburan para pengungsi Vietnam yang meninggal di Pulau Galang. Saya akan menuliskan tentang kuburan bisu tetapi “bercerita banyak” ini dalam tulisan perjalanan berikutnya… (bersambung)

Komentar Pembaca:

Nadya @ Rabu, 28 Mei 2008 13:47 WIB
Udah 3 taon gak pulang benar2 bikin kangen.Pulau2 yang indah,air laut pulau barelang yg biru..juga suasana malam kora batam...Akuuuuuuuuu mauuuuuuuuu pulang

Vira S. Irzan @ Senin, 26 Mei 2008 18:51 WIB
Waaaah, jadi kangen Batam nih. It's been more than a year kami ga ke Batam. Kami dulu sempat tinggal di Batam mulai medio Desember 2000 - Februari 2007. Memang, bekas kamp pengungsi Vietnam itu tidak terawat, bahkan sisa2 bangunan yg ada sudah nyaris lapuk dimakan pergantian cuaca. Pdh kan bisa dijadikan aset sejarah. Bagaimana nih OB dan Pemko Batam...?

J-Star168 @ Sabtu, 24 Mei 2008 09:17 WIB
Waduh... Selama 10 tahun gw tinggal dibatam belum pergi ke Galang terutama ke tempat pengungsi Vietnam. Selama ini hanya dengar-dengar orang tua cerita saja. Haha... Kali ini gw juga mau pergi liat langsung lah 3 perahu peninggalan Vietnam dan tempat-tempatnya.

heru @ Sabtu, 24 Mei 2008 08:48 WIB
Waaah.........kampung vietnam ini jadi ngingetin aku, kenangan indah bersama kawan-kawan 2 tahun yang silam. kapan yach ke batam lagi????

Friday, June 06, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (55)


Menulis dengan Hati (2)

BELAJAR menangkap "tag", "icon", atau "landmark", penting dalam penulisan. Setidak-tidaknya itu awal atau pembuka pikiran kita untuk menulis sesuatu. Bisa juga itu sebagai ide awal.

Saya tidak mau menerjemahkan apa itu "tag", "icon", atau "landmark". tetapi jelasnya begini, apa "penanda" Kota Jakarta yang paling dikenal banyak orang, jawaban paling umum tentu saja Tugu Monas. Apa penanda Kuala Lumpur atau bahkan Malaysia, jawabannya tentu saja Menara Petronas. Masih ada Big Ben di Inggris atau Eiffel di Paris.

Maka ketika seorang petugas travel di Batam menyebut berulang-ulang kata "jembatan" dan disambungkan dengan kata "Jembatan Barelang", saya mulai menangkap "landmark maya" tentang sebuah jembatan. Bahkan menurut dia, jembatan itu tidak hanya satu, tetapi enam!

Saya tidak tahu apakah Jembatan Barelang itu akan jadi penanda Batam atau Pulang Galang. Tetapi yang jelas, saya berhasil menangkapnya dan menuliskannya dalam seri kedua tulisan mengenai Pulau Galang ini.

Apa yang Menarik di Batam (2)
"Enam Bersaudara" Jembatan Barelang
Oleh PEPIH NUGRAHA

Bicara soal jembatan, sebuah "ikon" Kota Batam yang ditawarkan John, sopir yang mengantar saya menelusuri jalan lurus menuju Pulau Galang, saya teringat Golden Gate Bridge di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang menghubungkan San Francisco dengan California. Seperti itukah Jembatan Barelang?

Dari kejauhan, saya belum melihat Jembatan Barelang. Tetapi dua pucuknya di kiri dan kanan menjulang ke langit membentuk kerucut, terlihat samara dari kejauhan. Pucuk kerucut sampai ke jalan raya mencapai 200 meter. Alangkah tingginya pucuk itu, gumam saya. Melihat pucuk yang menjadi titik tumpu kekuatan itu, saya juga teringat “ikon” baru Kota Bandung berupa jembatan layang di atas Pasteur.

“Itulah jembatan pertama dari enam Jembatan Barelang, Pak,” kata John dengan pandangan tertuju ke depan. “Apakah lima jembatan lainnya juga menjulang setinggi itu?”
John menjawab, “Tidak, hanya jambatan inilah yang terbagus. Lainnya biasa saja.”

Hemh, boleh juga Kota Batam ini, pikir saya. Tapi persoalan yang saya baca dari hari ke hari, adalah wajah industri Batam yang semakin muram. Banyak investor yang semula terkonsentrasi di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, hengkang ke negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Alasan investor, karena adanya dualisme aturan yang membingungkan dunia usaha; aturan Pemerintah Kota Batam dan aturan Otorita Batam. Kerap karena ingin saling unjuk pengaruh, masing-masing aturan saling berbenturan, bukan malah saling melengkapi dan mendukung.

Pemerintah pusat bukannya tidak mengetahui persoalan ini. Pernah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyapa dan mengundang kembali para pengusaha agar menanamkan modalnya di Batam, bukannya di negara tetangga. Tetapi dalam dunia bisnis, imbauan penguasa atau raja sekalipun belumlah cukup. Para pengusaha tidak butuh cumbu rayu atau pemanis kata-kata penguasa. Yang mereka butuhkan adalah aturan yang tegas, aturan yang tidak membingungkan, aturan yang tidak mendua.

Mereka, para pengusaha itu, tidak keberatan dengan membayar pajak, asalkan pajak yang jelas, bukan “pajak siluman” yang harus menjadi beban pengusaha, mulai “pajak siluman” dari oknum aparat keamanan, oknum legislatif dan eksekutif, bahkan “uang keamanan” untuk sejumlah organisasi massa. Kalau para pengusaha sudah pada lari ke luar negeri, akibatnya sangat mengerikan.

Selain akan dipenuhi para pengangguran, Batam hanya akan menjadi rongsokan pabrik yang kosong di Muka Kuning. Akibatnya, tidak ada lagi pemasukan bagi kas daerah yang kelak mungkin hanya mengandalkan sektor wisata yang tidak seberapa nilainya karena tidak pernah digarap serius. Contohnya ya enam Jembatan Barelang ini.

Jembatan ini dibiarkan terentang apa adanya, sekadar pelepas penat warga Batam yang ingin menghirup udara segar di atasnya sambil memandang laut dan pulau-pulau kecil di bawahnya. Barelang yang dirancang sebagai kawasan industri terbesar negeri ini, hanya tinggal rencana di atas kertas. Ini kenyataan yang tak terbantahkan, paling tidak sampai saat ini.

Sinyal GSM yang memungkinkan ponsel internet bisa beroperasi sudah mulai putus. Tetapi beruntung tadi saya sempat membaca bahwa adanya Jembatan Barelang berkat jasa dan ide Pak Habibie. Beliau adalah mantan Presiden RI yang hanya menjabat 2,5 tahun sebelum digantikan Abdurrahman Wahid. Tetapi orang lebih mengenang Habibie sebagai “jagoan teknologi”, teknokrat ulung yang mengembangkan pabrik pesawat IPTN di Bandung, meski kemudian pabrik pesawat terbang yang berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (DI) itu kini merana.

Sebanyak 50 insinyur aeronotika godokan IPTN sudah hengkang ke Malaysia, diiming-imingi pekerjaan dan kehidupan yang layak. Jangan heran, setelah memproduksi mobil Proton yang sudah berserakan di jalan-jalan Jakarta, sebentar lagi negeri jiran ini sudah bangga dengan pesawat produksi sendiri. Ratusan insinyur IPTN lainnya bekerja di pabrik-pabrik pesawat Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Spanyol, Brasil, dan negara lainnya. Ketika Habibie lengser dan nyaris tidak punya pengaruh apa-apa lagi, “menara pasir” tanpa fondasi kuat yang didirikannya pun ikut tersapu angin. Kalaupun masih ada, itu tinggal rangka-rangkanya saja.

Habibie adalah teknologi dan teknologi adalah Habibie. Di Jembatan Barelang yang sebentar lagi akan saya injak, saya kembali teringat jasa Pak Habibie. Bagaimanapun, beliau punya konsep mengenai Batam, Rempang dan Galang ini, yang bermaksud tidak hanya membangun Pulau Batam yang sudah penuh sesak dan jenuh, tetapi dengan melebarkan kawasan industri sampai ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Bahwa cita-cita tidak kesampaian, itu soal lain.

Saya percaya, ini bukan proyek tanpa konsep. Ada dasar pemikiran kuat, meski akhirnya saya tidak melihat perpindahan kawasan industri itu ke Pulau Rempang dan Pulau Galang. Kawasan industri tetap saja umpel-umpelan di Kawasan Industri Batamindo Muka Kuning, Pulau Batam.

Nama resmi Jembatan Barelang itu sendiri sebenarnya Jembatan Tengku Fisabilillah, Raja yang memerintah Kerajaan Melayu Riau pada abad 15 hingga 18. Tetapi penduduk Batam dan sekitarnya terbiasa menyebut Jembatan Habibie, merujuk pada si empunya gagasan. Jembatan pertama yang ternyata kokoh namun indah ini menghubungkan Pulau Batam dengan Pulau Tonton di titik terujungnya.

Membentang sepanjang 642 meter, jembatan yang mulai dibangun tahun 1992 itu tidak lebih dari jembatan gantung yang atasnya terentang kabel-kabel baja. Beberapa pilar beton raksasa ditanamkan ke dasar laut untuk menyangga badan jalan dengan empat jalur kendaraan di atasnya itu. Kabel-kabel baja sebesar lengan terikat di tepi jalan dengan jarak yang sudah dihitung, lalu seluruh ujungnya terkumpul di satu titik di atas puncak tonggak setinggi 200 meter.

Kalau dilihat dari jauh, nampaklah jembatan pertama Jembatan Barelang ini seperti jaring raksasa penjerat burung berbentuk segitiga, atau dilihat lebih jauh lagi, tampak seperti bayangan transparan piramida Mesir yang muncul dari permukaan laut!

John bercerita, kalau sore hari atau hari libur lainnya, jembatan ini penuh sesak oleh warga Batam dan pelancong yang menghabiskan waktu “menyantap” bulatan matahari kekuningan tergelincir di ufuk barat.

“Jadi kami boleh berhenti di Jembatan Habibie ini, John?” tanya saya.
“Tentu, Pak, saya ajak Bapak ke sini ini memang untuk menikmatinya. Silakan!” Toyota berkursi 14 yang tidak beredar di Jakarta ini menepi di kiri jalan. Saat menepi, beberapa pedagang asongan yang menawarkan gorengan udang dan gorengan kepiting menghampiri.

“View first, then cullinaire,” pikir saya. Lantas saya pun mengeluarkan Canon saku saya dan mulai membidik sana-sini. Setelah itu, barulah saya berpaling ke pedagang asongan tadi.

Saya tertarik dengan penganan itu bukan karena lapar, tetapi karena cara penyajiannya yang mengundang penasaran. Lima udang dijajarkan dan seperti menempel di lidi, kemudian digoreng dengan tepung berwarna kuning. Hasilnya adalah goreng udang tepung yang berongga besar dengan lidi sebagai “porosnya”. Pedagang menawarkan Rp 10.000 untuk empat gorengan udang. Satu lagi gorengan kepiting besesar telapak tangan berwarna merah saga. Baru kali ini saya melihat kepiting diperlakukan seperti itu, yakni digoreng dengan tepung. Harganya lumayan mahal, Rp 25.000 per ekornya.

Saya tidak tertarik membelinya. Bukan karena saya tidak suka udang dan kepiting, tetapi karena tujuan saya ke Pulau Galang, tempat ribuan pengungsi Vietnam bernaung, belum tercapai. Lagi pula John memberi second opinion terhadap kepiting malang itu.

“Dua puluh lima ribu untuk sejentik daging kepiting, rasanya terlalu mahal, Pak,” katanya.

Saya tidak mau mendebat John, tetapi saya ingin buru-buru melintasi empat jembatan lainnya agar bisa segera sampai ke Pulau Galang, pulau dimana gadis Vietnam bernama Nguyen hidup dalam bayang fantasi saya. (bersambung)

Komentar Pembaca:

Nella @ Selasa, 27 Mei 2008 09:57 WIB
Wah ini tempat favorit kami waktu di Batam..enak tuh kepiting n udangnya renyah banget. Enaknya sih kesana sore2 jd gak panas. Sambil nongkrong kita nyanyi2 n keliling sampai jembatan 5 enak banget. Tapi klo sdh malam kami gak berani ke camp vietnam takut serem banget kuburanya......

Hery Azwan @ Sabtu, 24 Mei 2008 09:46 WIB
Wah, kepiting gorengnya pasti enak tuh. 25 ribu? Ehm...kalau pake ukuran Jakarta pasti murah banget. Mentahnya aja di supermarket bisa 50 ribu sekilo (2 ekor).

Mia @ Jumat, 23 Mei 2008 19:17 WIB
Foto jembatannya dunk, bung Pep... :) Btw, jadi pengen nyoba kepiting gorengnya atuh...

cory @ Jumat, 23 Mei 2008 07:34 WIB
saya tunggu cerita selanjutnya ya...........

Wednesday, June 04, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (54)


Menulis dengan Hati (1)

SALAH satu kekuatan menulis catatan harian atau catatan perjalanan adalah pelibatan si penulis dalam cerita yang ditulisnya. Si penulis seakan-akan menjadi pencerita yang baik, yang menangkap semua fenomena di sekelilingnya dengan keingintahuan yang besar dan meluap-luap. Ia tidak menggurui pembacanya, tetapi juga tidak merasa pembaca sudah mengetahui segala-galanya, sehingga si penulis tidak bercerita apa-apa. Ia bercerita seperti apa yang dilihat dan dirasakannya, laksana sang pengembara menorehkan pengalamannya pada sekeping daun lontar.

Saya menemukan gaya penulisan seperti ini saat menulis catatan perjalanan ke Batam, saat saya mengunjungi Pulau Galang. Saya tidak lelah menceritakan apa yang saya lihat dan rasakan di sana, saya catat semuanya dengan detail, sehingga enam seri tulisan rasanya belum cukup. Enam seri tulisan? Mungkin demikian Anda bertanya. Bisa dimuat dimana tulisan sepanjang itu? Tentu saja tidak dimuat di Harian Kompas, tetapi saya menulisnya di Kompas.com. Tanggapan cukup positif, seperti yang terekam dalam komentar-komentar pembaca, yang tidak mungkin saya dapatkan jika menulis di Kompas cetak.

Dalam tulisan itu, saya melibatkan diri saya dalam catatan perjalanan itu, sehingga saya bisa bercerita leluasa, bebas berekspresi, tanpa terkendala ruang (space) dan waktu (time). Saya melukiskan apa adanya disertai pengetahuan saya mengenai Pengungsi Vietnam yang memang sudah tertanam di kepala. Hasilnya adalah sebuah enam seri tulisan perjalanan yang bisa sahabat baca mulai hari ini, lengkap dengan komentar pembaca. Silakan...

Apa yang Menarik di Batam (1)
Berkunjung Ke Pulau "Nguyen"
Oleh PEPIH NUGRAHA

“Dimana tempat wisata terkenal di Batam ini?” Itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada resepsionis di Hotel Nagoya Plaza. Saya berharap mendapat jawaban yang memuaskan karena saya hanya punya satu hari saja di Batam. Tetapi si resepsionis malah bertanya, “Aduh, dimana ya?”

Kalau Anda ke Batam, mungkin akan kesulitan mencari brosur tempat wisata mana yang baik buat city tour. Untunglah saat berkunjung ke Patria Tour yang masih bersebelahan dan bahkan satu atap dengan Hotel Nagoya Plaza, dua gadis belia yang saya temui dengan responsif menjelaskan kemungkinan saya berkunjung ke Barelang. Itu bukan saudara kembar “belerang”, tetapi singkatan dari Batam-Rempang-Galang. Dulu tiga pulau yang berdekatan ini bagian dari Provinsi Riau, tetapi setelah pemekaran kini masuk ke Provinsi Kepulauan Riau.

“Pulau Galang?” Tanya saya.
“Benar. Pulau Galang. Di sana Bapak bisa menemukan barak bekas pengungsi Vietnam, dimana sebelumnya Bapak akan melewati enam Jembatan Balerang,” jawabnya langsung ke sasaran.

Ah, Pulau Galang. Pengungsi Vietnam.

Sejenak ingatan melayang ke masa lalu, 23 tahun lalu. Saat duduk di bangku perguruan tinggi, saya pernah membaca sebuah novel bersampul merah dengan judul, kalau tidak keliru, “Mendung Di Atas Vietnam” Saya lupa siapa penulisnya. Judulnya pun mungkin tidak tepat begitu. Tetapi isi ceritanya yang masih saya ingat benar sampai sekarang!

Novel lawas itu bercerita tentang pengorbanan cinta gadis belia pengungsi Vietnam bernama Nguyen yang terdampar di Pulau Galang, sebuah pulau berjarak kurang lebih 80 kilometer dari Pulau Batam. Nguyen telah kehilangan semua saudara-sadara dekatnya karena dibantai rezim komunis saat itu. Ia diselamatkan tetangganya dan dinaikkan ke kapal kecil, lebih tepat disebut tongkang kayu, untuk berlayar tanpa tujuan asalkan bisa keluar dari neraka Vietnam.

Nguyen. Kalau saja saat itu si pengarang tahu wajah aktris Malaysia Michelle Yeoh, mungkin ia akan sepikiran dengan Andrea Hirata dalam menggambarkan Nguyen sebagai si cantik Yeoh. Tapi saat novel itu disusun, Yeoh mungkin masih mengenakan celana monyet atau kemana-mana tanpa “bra” karena memang masih kanak-kanak.

“Benarkah reruntuhan barak dan bekas-bekas pengungsi Vietnam masih tersisa di Pulau Galang?” tanya saya lagi.
“Saya tidak bisa cerita banyak kecuali Bapak mengunjunginya,” katanya.

Ah Nguyen!

Saya coba mengingat lagi Nguyen di novel yang saya baca dan saya beli dari Pasar Palasari Bandung itu. Seorang gadis yang dengan sukarela menyerahkan kegadisannya kepada pria pribumi, yakni si tokoh aku, seorang perjaka “toloheor” (kata orang Sunda) alias play boy berat. “Aku yakin semua gadis Vietnam sudah tidak perawan bahkan sebelum sampai ke Pulau Galang. Apalagi setelah sampai di Pulau Galang, gadis pengungsi Vietnam biasa menyerahkan tubuhnya kepada penguasa untuk menjaga kelangsungan hidupnya,” demikian kira-kira si tokoh aku berprasangka.

Si tokoh aku hanya main-main saja mencintai Nguyen, sebaliknya Nguyen mencintai si aku, pria Indonesia itu, dengan tulus. Si pria Indonesia sudah terlalu sering gonta-ganti perempuan, dan masih menganggap Nguyen “korban berikutnya”. Waktu pun tiba, dalam kesenyapan malam dan temaram bulan yang menyelinap hutan Pulau Galang, si pria Indonesia bergumam setelah melampiaskan hasratnya. “Nguyen, rupanya kau masih perawan!” Dan Nguyen hanya bisa terisak…

Nah, itulah novel. Tetapi beberapa saat lagi, saya akan segera menemui jejak-jejak maya Nguyen, sebuah sosok entah ada entah tiada, hanya penulis novel itu sendiri yang tahu. Apa pedulinya. Yang jelas, saya akan segera berkunjung ke Pulau Galang yang pada tahun 1979 dijadikan tempat berlabuh ribuan pengungsi Vietnam akibat prahara politik di sana. Di benak saya, Nguyen “masih hidup” dan ada di pulau itu.

Saya sepakat begitu saja untuk menyewa sebuah mobil travel seharga Rp 600.000 plus sopir. Kapasitas mobil itu 14 sampai 17 orang. Tetapi, saat mobil mulai melesat menuju jalan lurus dan mulus menuju Pulau Galang, hanya terisi tiga orang saja. Saya, istri saya, dan sopir bernama John. Setidak-tidaknya itulah yang tertulis di kartu namanya. Padahal nama aslinya Ahmad Furqon.

“Saya tidak tahu panggilan saya John, tetapi dulu guru SMP saya sering memanggil saya John,” kata Furqon, eh… John, saat mobil masih terhadang satu lampu lalu lintas di Jalan Imam Bonjol, Batam.
“Nah, kita siap-siap menuju Jembatan Barelang sebelum singgah ke Pulau Galang,” kata John.
“Apa istimewanya sebuah jembatan?” Tanya saya.
“Bukan ‘sebuah’, enam jambatan, Pak.”Enam, sepuluh, seratus, berapapun jumlahnya jembatan sama saja… gumam hati saya saat duduk di samping kiri John.

John mengemudi agak serabutan. Istri saya di belakang terperangkap kantuk akibat AC mobil yang sejuk, sementara di luar udara amat menyengat, padahal baru pukul 10.00, Selasa, 20 Mei 2008 lalu.

“Jembatan ini sekarang menjadi simbol Batam, Pak, bukan pabrik lagi,” katanya. Diam-siam saya keluarkan ponsel internet saya, menelusur di Google Mobile dan memasukkan kata kunci “Jembatan Barelang”. Got it! Saat John berceloteh tentang jembatan itu, saya sudah langsung memahaminya hanya lewat ponsel internet di telapak tangan. Terima kasih, teknologi informasi!

“Jembatan itu dibangun atas ide dan inisiatif Pak Habibie ‘kan, John?”
John menoleh, “Kok Bapak Tahu?”
“Mulai dibangun tahun 1992 dan orang Batam menyebutnya ‘Jembatan Habibie’!”
“Ah, Bapak malah lebih tahu!”

Saya tertawa ngakak, entah mengagumi teknologi internet atau menertawakan ketidaktahuan John kalau saya tengah berselancar melalui ponsel berinternet. Saya yakinkan John bahwa meskipun tahu sejarahnya, tetapi belum tahu ujudnya.

“Sekarang saya ingin tahu ‘wajah’ jembatan itu,” kata saya.
“Cantik, Pak, kita segera menuju ke sana…” (bersambung)

Komentar Pembaca:

Mia @ Jumat, 23 Mei 2008 06:12 WIB
Kisahnya menarik, ditunggu lanjutannya... :)

hokidoki @ Jumat, 23 Mei 2008 05:57 WIB

Novel Meilanie, mereka tidak balik ke vietnam, pulau galang adalah tempat sementara sebelum mereka diterima di negara negara barat

veddys @ Kamis, 22 Mei 2008 15:56 WIB
saya pernah wisata di batam, memang sangat menarik, cuma daerah wisata tersebut tidak dikelola dengan baik

novel meilanie @ Kamis, 22 Mei 2008 14:09 WIB
iya saya pernah ke barak itu, bagus banget! serasa di vietnam, museum hidup, kenapa sih mereka mesti balik ke vietnam sana...?

audi @ Kamis, 29 Mei 2008 17:14 WIB
Batam...panas yg kurasa...tapi jembatan Balerang sungguh membawa ku terpesona, dengan berdiri diatas jembatan sambil melihat pulau-2

kwan @ Minggu, 25 Mei 2008 21:59 WIB
sedih bgt

ines @ Minggu, 25 Mei 2008 13:35 WIB
jembatan balerang... ini juga sangat menarik.. entah kenapa batam tidak bisa mempromosikan tempat2 ini. atau mmg tidak utk dipublikasikan?

Ardian @ Sabtu, 24 Mei 2008 10:20 WIB
Batam tempat wisatanya tidak dijaga dgn baik,sy pernah kedaerah tersebut,angker....,dan kapal2nya udah pada rapuh.tempat ibadahnya peninggalan jaman dulu juga angker,itu menurut saya lho....,i love you BATAM

niswa @ Jumat, 23 Mei 2008 13:49 WIB
setelah baca artikel tentang batam aku jadi tertarik untuk jalan-jalan kesana,, aku pernah melihat batam dari TV,,aku rasa tempatnya cukup menarik,,teman-temanku yang dari kepulauan riau juga pernah bercerita tentang batam yang bagi mereka menakjubkan....