Showing posts with label Jubing Kristianto. Show all posts
Showing posts with label Jubing Kristianto. Show all posts

Friday, July 18, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (66)

Sekali Lagi, Jubing!


HARI yang ditunggu oleh penggemar gitar klasik adalah Kamis, 17 Juli 2008, yakni saat jawara gitar Indonesia Jubing Kristianto menggelar pertunjukkan di Bentara Budaya Jakarta berkaitan dengan album CD terbarunya, Hujan Fantasy.


Saya tidak melewatkan kesempatan itu. Saya minta istri mengantarkan anak saya, Kakang, naik kereta dari Bintaro ke Palmerah untuk mengejar waktu 20.00 WIB saat pertunjukkan dimulai.


Saya bahkan berjanji pada Mas Jodhie Yudono dari Kanal Entertainment untuk mengulas pertunjukkan itu di Kompas.com. Saat saya menyusun tulisan beberapa menit setelah usai pertunjukkan, Mas Jodhie meminta saya menuliskannya dengan gaya personal, suatu gaya yang menurutnya berbeda dari sekedar laporan. Artinya, sah-sah saja menggunakan kata "saya" untuk menyebut diri sendiri. Saya menyanggupinya.


Hasilnya adalah sebuah ulasan dari pertunjukkan Jubing yang bisa Anda baca di bawah ini. Pesan saya, meski seorang jurnalis terhanyut pada pertunjukkan apapun, jangan lupa mencatat detail dan "merekam" jalannya pertunjukkan dalam ingatan dan oret-oretan. Sebelum meliput, bekali kepala Anda dengan referensi memadai mengenai who (siapa), what (apa), dan how (bagaimana) mengenai pertunjukkan itu sendiri. Maksud saya, Anda harus tahu siapa itu Jubing, gitar, dan bagaimana dia memainkannya. Saya tidak menemui kesulitan apapun menuliskannya karena referensi soal gitar dan Jubing sudah melekat di kepala saya. Silakan....


Malam Itu Milik Jubing


APA jadinya jika perkusionis Suryadi, maestro gitar klasik Indonesia Jubing Kristianto, dan penyanyi tenor Christopher Abimanyu berkomplot menyanyikan lagu lawas Besame Mucho? Hasilnya, penonton tidak rela ketiga jagoan yang lihai memainkan “senjata” musiknya masing-masing mengakhiri pertunjukannya!


Ini kenyataan, penampilan Jubing pada Kamis (17/7) malam itu memaku para penonton di ruang utama Bentara Budaya Jakarta. Ruangan yang biasa digunakan pameran lukisan dan kegiatan budaya lainnya itu disesaki penonton, mulai pecandu gitar, siswa-siswi pengikut kursus gitar, sampai orang awam. Mereka rela lesehan agar bisa berdekat-dekat dengan Jubing khususnya, sementara yang di bagian belakang rela berdiri tanpa bisa beranjak pergi.



Magnet yang menyedot perhatian malam itu tentu saja Jubing Kristianto, gitaris yang mantan wartawan membawakan hampir seluruh komposisi unggulan pada album pertama dan keduanya, masing-masing Becak Fantasy dan Hujan Fantasy. Penonton tidak lepas-lepasnya bergumam dan berdecak kagum bahkan saat permain gitar belum berakhir. “Gila banget permainan gitar orang ini,” komentar seorang penonton.



Saya yang telah lama mengenal Jubing dan pernah menulis sosoknya untuk Harian Kompas, meminta anak saya untuk hadir menyaksikan Jubing, kendati ia harus tiba di tempat pertunjukkan naik kereta api dengan diantar ibunya. Saya yang pernah menyaksikan sendiri Jubing memainkan gitar untuk saya saat saya mewawancarinya seperti tak percaya atas permainan Jubing yang begitu sempurna, sesempurna permainan yang saya dengar dari kedua CD-nya yang sudah beredar.



Jubing langsung menggebrak dengan solo gitarnya membawakan lagu Beatles, I Wanna Hold Your Hand. Jubing juga mengagetkan penonton saat memainkan komposisi Aku Cinta Dia, sebuah lagu “genit” yang dibawakan Chrisye. Namun decak kagum penonton mulai terdengar saat suami Reny Yaniar ini memainkan Bengong Jeumpa, sebuah lagu rakyat Aceh. Repertoar dan koda yang bernada pentatonis dan bahkan seperti suara gambus mengundang tepuk tangan, apalagi saat ia mengocok-ngocok gitar tanpa putus tetapi tetap memainkan Bengong Jeumpa. Ada teknik harmonic yang bepadu dengan tetabuhan pada bdan gitar yang mengundang decak kagum. Gitaris manapun akan bergumam, itu adalah permainan teknik tinggi!



Pembawa acara yang menuntutn acara itu dengan hidup, terus menggoda penonton. Jubing cukup luwes di depan panggung, bila perlu ia berteriak meminta operator mengecilkan volume gitarnya. Suasana menjadi cair, tidak terkesan seram dan anggun sebagaimana terjadi kalau sebuah pertunjukan musik klasik berlangsung. Tetapi permainan gitar yang disuguhkannya tidak kalah agung karena penonton seperti tersihir di tempatnya masing-masing.



Jubing memainkan sebagian besar komposisi lagu pada album Hujan Fantasy, termasuk lagu dangdut Pengalaman Pertama yang pernah ngetop dibawakan A Rafiq. Dalam lagu ini Jubing ditemani Suryadi yang memainkan alat perkusi Nigeria bernama “voodoo”. Efek alat musik seperti kendi itu menghasilkan suara seperti tabla yang biasa dimainkan perkusionis India tetapi dengan suara yang lebih variatif. Ingin rasanya saya berdiri untuk berjoget karena lagu dangdut pun di tangan Jubing menjadi sangat fantastis. Saya sadar bahwa saya sedang menyaksikan gaya permainan musik klasik, bukan musik dangdut.



Kolaborasi Jubing dengan Suryadi yang lebih menghebohkan lagi terjadi saat lagu etnis Jawa, Gundul-gundul Pacul, berkumandang, mengentak kesadaran penonton, bahwa sebuah lagu sederhana pun bisa berbunyi dengan elegan, tidak kalah dengan komposisi Mozart, Bach, Paganini, atau Fernando Carulli. Pada lagu ini aksi Suryadi, perkusionis asal Solo yang memainkan kendang, seperti tidak terbendung lagi. Ia tampak ekstase menikmati permainannya sendiri, ditingkahi petikan gitar Jubing yang liar, mengalir dan tak terduga. Banyak penonton melakukan penghormatan dengan berdiri usai Gundul Pacul berakhir.



Tak pelak lagi, dua lagu yang diciptakan Ibu Sud, Becak dan Hujan yang dimainkan dalam rentang waktu berbeda, menjadi puncak penampilan Jubing secara solo pada malam itu. Tepuk tangan ritmik mengiringi masing-masing lagu itu, apalagi saat lagu itu berakhir. Hujan tepuk tanganpun turun dengan lebat saat Jubing mengakhiri Hujan dengan teknik mengocok gitar dari fret terendah sampai tertuinggi sehingga suara gitar akustik itu menghasilkan suara rintik hujan. Pada lagu Becak, Jubing memamerkan keahlian yang tidak banyak dimiliki gitaris manapun, yakni mengubah suara gitar menjadi suara gamelan. Saya dan mungkin penonton lainnya nyaris tidak percaya bahwa itu suara gitar!



Seperti telah saya sebutkan, Jubing membawakan sebagian besar komposisinya yang terdapat pada album Hujan Fantasy, termasuk lagu Taiwan, Ye Liang Tai Wo Tie Sien, dan lagu yang pernah dibawakan Freddie Mercury dari Queen, Bohemian Rhapsody. Bohemian benar-benar “menyihir” penonton karena Jubing memainkan komposisi terbaiknya yang sering dimainkan gitaris dunia itu. Namun saat Jubing memainkan Mission Imposible, saya lebih tidak percaya lagi kalau lagu itu begitu hidup, seakan-akan saya menyaksikan adegan dalam film Mission Imposible itu. Teknik permainan gitar yang imposible menjadi posible di tangan Jubing.



Pilihan kolaborasi Jubing dengan Suryadi dan Abimanyu memang menjadi paduan menawan malam itu, apalagi sebelumnya Jubing mengiringi Abimanyu yang membawakan lagu Gubahanku yang digubah Gatot Sunyoto. Kolaborasi Jubing-Abimanyu memaku penonton saat penyanyi tenot itu membawakan Sempurna dari Andra and The Backbone. Sebuah paduan yang benar-benar sempurna. Sayangnya, baik lagu Mission Imposible, Gubahanku, dan Sempurna tidak terdapat dalam kedua album Jubing yang pada malam itu laris manis, habis terjual. Saya berharap ketiga lagu itu akan terdapat dalam album jubing berikutnya.



Jubing, dan juga Suryadi serta Abimanyu menutup penampilan malam itu dengan lagu pamungkas Besame Mucho, seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan ini. Saya sedih harus mengakhiri tontonan mereka pada malam itu. Tetapi saya percaya, malam itu milik mereka bertiga, khususnya Jubing. (PEPIH NUGRAHA)

Thursday, June 26, 2008

Berbagi Pengalaman Menulis (61)

Jubing dan "Hujan Fantasy"


SAYA ingin menekankan pentingnya memelihara sumber. Sebagai jurnalis, sebaiknya "say hello" kepada sumber yang pernah kita wawancarai atau kita tulis, tetap dilakukan meski kerap kita tidak bertemu lagi. Ini untuk memelihara hubungan personal sekaligus mengusir anggapan lama bahwa wartawan punya prinsip "habis manis sepah dibuang".

Salah satunya, saya tetap memelihara hubungan baik dengan gitaris akustik Jubing Kristianto. Bukan karena saya telah menulis profilnya, tetapi saya merasa memelihara hubungan itu amat penting untuk menyerap informasi terbaru dari "dunia" yang digelutinya. Maka saat Mas Wandy Gotama mengirim saya sampel CD permainan gitar Jubing berjudul Hujan Fantasy, dan sehari sebelumnya Jubing berkirim surat elektronik menceritakan akan meluncurkan CD terbarunya, saya pun menulis resensi CD itu setelah mendengarkannya bolak-balik.

Resensi saya tulis untuk http://www.kompas.com/ di rubrik Entertainment dengan agak leluasa karena tidak ada batasan space. Tulisan itu bisa Anda baca di bawah ini:



Jubing Ber-"Fantasy" Lagi Lewat Gitar

JAKARTA, RABU - Gitaris papan atas Jubing Kristianto dalam waktu dekat akan meluncurkan album gitar keduanya, Hujan Fantasy, Exploring Solo Acoustic Guitar Music II. Album Hujan Fantasy, dalam bentuk CD (compact disc), ini hadir setelah sukses Becak Fantasy, yang dilansir Mei 2007.

"Peluncuran album Hujan Fantasy akan saya laksanakan 16 Juli 2008 mendatang di Bentara Budaya Jakarta. Di acara itu ada keterangan pers dan konser solo gitar saya," kata Jubing, Rabu (25/6).

Pada album kedua ini, Jubing, gitaris kelahiran Semarang 42 tahun lalu, memperkenalkan permainan gitar akustik yang mengalir, lincah, dan tak terduga. Tidak terduga karena Jubing dengan mudah beralih dari nada mayor ke minor atau mengalihkan permainan gitar petik menjadi gitar kocok dan dinamis dengan tetap memelihara melodi.

Jubing membuka album tersebut dengan lagu Aku Cinta Dia (Adjie Soetama), yang beken dinyanyikan almarhum Chrisye. Ia kemudian meloncat ke lagu kedua, Bengong Jeumpa, lagu rakyat Aceh yang sangat terkenal se-Nusantara, bahkan sampai ke semenanjung Malaysia. Jubing membuat intro maupun koda Bengong Jeumpa dengan irama padang pasir. Alunan gitarnya menjadi persis seperti gambus. Lagu inipun sebenarnya layak diunggulkan dari album tersebut.

Dalam Bengong Jeumpa, suami dari penulis cerita anak-anak Reny Yaniar ini menampilkan teknik "gitar betot". Bahkan, nada harmonik yang dihasilkan dengan tidak memetik senar seutuhnya itu dipadu dengan teknik memukul-mukulkan ibu jari ke bas sehingga menimbulkan efek khusus. Pelan nyaris hilang, tetapi kemudian bergelegak lagi. Belum lagi, Jubing memukul badan gitar sambil mengocok gitar sehingga menghasilkan suara tabla dan meningkahinya dengan petikan tremolo yang bergetar.

Tidak pelak lagi, sesuai judul albumnya, Hujan Fantasy, Jubing mengunggulkan komposisi Hujan, lagu anak karya mendiang Ibu Soed. Anak-anak Indonesia mungkin sudah sangat akrab dengan lirik, "Tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira….” Lagu sederhana itulah yang diunggulkannya, lebih di atas lagu-lagu lain seperti Every Breath You Take (ciptaan Sting), I Wanna Hold Your Hand (John Lennon/Paul McCartney), dan bahkan Bohemian Rhapsody (Freddie Mercury).

Dalam Hujan Fantasy, Jubing mengaransemen sekaligus memainkan lagu tersebut menjadi sebuah keajaiban sekaligus fantasi. Persisnya, keajaiban bunyi alat musik berdawai bernama gitar dan fantasi yang mengajak kita masuk ke dunia masa silam. Lagu itu menjadi indah, tetapi dengan teknik permainan yang amat rumit. Jubing mengeksplorasi enam dawai gitar dari nada tertinggi sampai nada terendah sedemikian cepat, tetapi nada-nada yang dihasilkannya tetap mengalir bening.

Pada Hujan Fantasy ada teknik harmonik. Bahkan, lagu yang bernada mayor tersebut tiba-tiba saja tergelincir menjadi bernada minor. Melankolik sekali jadinya. Dengan gaya komponis Fernando Sor, yang biasa disajikan oleh duo John William dan Julian Bream, Jubing mengakhiri Hujan Fantasy dengan meremas-remas gitar akustiknya sampai kemudian fade away atau mengilang dari pendengaran.

Kalau ingin mengagumi permainan gitar akustik sesunggunhnya dengan aransemen menawan, dengarlah lagu Bohemian Rhapsody, yang kondang dinyanyikan oleh Freddie Mercury dari Queen. Telah banyak pemusik mengaransemen lagu itu dan memanggungkannya dalam festival dan resital gitar. Untuk yang satu ini, Jubing boleh dibilang mempertontonkan kehebatannya yang paling tinggi dalam teknik bermain akustik.

Masih banyak lagu lainnya, seperti Madu dan Racun, sebuah lagu yang meledak pada pertengahan 1980-an lewat vokal Arie Wibowo. Jubing memainkannya dengan irama sedikit ndangdut, meski tentu saja irama dangdut paling santer terdengar pada lagu Pengalaman Pertama, lagu dangdut yang dibawakan penyanyi A Rafiq.

Pada lagu Gundul-gundul Pacul, yang direkam secara live saat konsernya di sebuah mal di Yogyakarta, Jubing ditemani perkusionis Suryadi Plenthe. Lagu anak-anak gubahan RC Hardjasoebrata itu disulap menjadi sebuah komposisi asyik yang banyak mengundang tepuk tangan para penonton.

Di bawah ini 15 lagu dalam album Hujan Fantasy, yang direkam oleh Indo Music:
1. Aku Cinta Dia 2. Bengong Jeumpa 3. Once Upon A Rainy Day 4. Hujan Fantasy 5. Bohemian Rhapsody 6. Madu dan Racun 7. Astaga 8. Every Breath You Take 9. Moonrise 10. Windbells 11. Rickshaw 12. Gundul-gundul Pacul 13. Ye Liang Tai Wo Tie Sien 14. I Wanna Hold Your Hand 15. Pengalaman Pertama.

Komentar Anda:

vicrie
@ Jumat, 27 Juni 2008 15:23 WIB
Nuansa yg berbeda yg dihadirkan oleh Mr.Jubing ini emg bikin saya geleng2...Anda pun sebagai penikmat dari musik2 Mr. Jubing pasti demikian.. Penampilan yg santai dg High Skill-nya itu yg membuat orang takjub..Cuma di Singapore saya ga bisa hadir.. Coz perform manusia yg satu ini wajib dihadiri.. viva el Jubing..

Christianto
@ Jumat, 27 Juni 2008 14:13 WIB
Hebat, membaca artikelnya saja saya sudah tertarik untuk membeli CDnya. Mudah2an lebih banyak lagi pencinta2 gitar pop klasik yang juga membelinya. Saya setuju dengan Sdr. Wandy agar ada partiturnya. Dulu ada Rene Nessa, Nelson Rumantir dan beberapa pencinta pop klassik yang membuat partitur dan dijual di toko2 buku tapi sekarang sdh tidak ada lagi.

glory @ Jumat, 27 Juni 2008 13:34 WIB
Sukses Mas Jubing! Salut! Aku tersihir sekali oleh Hujan Fantasynya mas Jubing saat pertunjukkan live di Senayan. Benar-benar seolah-olah pintu dimensi menuju dunia fantasi terbuka lebar. Keren abizzz! Glory, penulis fiksi

agus sulistyono @ Jumat, 27 Juni 2008 12:50 WIB
terimakasih banyak buat mas Jubing yang telah bersusah payah membuat album solo gitar ke 2 hujan fantasi, insya-Allah saya akan langsung cari di toko CD di Surabaya. Semoga hujan fantasi ini sebagus resensi-nya di Kompas dan walau becak fantasi sudah bikin terkagum2 semoga album baru ini lebih hebat lagi. saya usul, untuk memajukan peminat pergitaran di Indonesia apa tidak sebaiknya pada CD tsb juga di selipkan partiturnya? jadi seperti narasi lagu pada musik2 vokal yang lain. terimakasih dan selamat untuk mas Jubing, semoga album hujan fantasi ini dapat meledak dipasaran khususnya penggemar gitar pop klasik. salam untuk keluarga

Wandy @ Jumat, 27 Juni 2008 12:37 WIB
Sukses selalu untuk Jubing! musiknya memang luar biasa. Membaca penulisan ini saja sudah dapat membayangkan betapa menyegarkan musiknya.

Saturday, July 07, 2007

Berbagi Pengalaman Menulis (27)



Jubing Kristianto



AWAL Juni lalu saya bersama Kakang, penerang cahaya hidup ini, jalan-jalan sore di Disc Tara Plaza Bintaro. Hanya sekadar window shopping, tetapi anak saya itu menunjukkan sebuah keping cakram digital (CD). "Ayah, ini CD gitar klasik," katanya menunjukkan sampul coklat kehijauan.



Semula saya tidak tertarik. Bukan apa-apa, sebelumnya saya sudah mengoleksi Roger Wang, Andres Segovia, John William dan Julian Bream, Alex Fox, Trisum, Balawan, bahkan Paco de Lucia. Gitaris siapa lagi? Pikir saya. Tak urung saya raih juga temuan Kakang itu. Saya tidak tahu siapa gitaris yang dimaksud, sebab tidak tertera pada sampul utamanya. Tetapi saya mengenali wajah dalam foto album itu. Jubing!



Album CD bertajuk "Becak Fantasy" itu ternyata milik Jubing Kristianto. Waktu saya bertugas di Pusat Informasi Kompas tahun 1992-an, Jubing beberapa kali menemui saya meminta informasi untuk bahan-bahan liputannya. Tidak lama kemudian, saya dengar dia telah menjadi seorang gitaris yang menikah dengan Reny Yaniar, teman seangkatan saya di Fikom Unpad. Kini Reny dikenal sebagai penulis cerita anak-anak.



Dulu, Reny sering bertanya bagaimana saya bisa menulis cerita anak-anak di Majalah Bobo dan majalah anak-anak lainnya. Hanya karena ketekunannya, Reny menjadi penulis cerita anak-anak ternama negeri ini, yang bukunya sudah mencapai 50. Sedang saya, satu bukupun belum karena beralih haluan menjadi wartawan!



Bukan karena Jubing saya kenal sebelumnya, juga bukan karena dia suami dari teman saya, yang menggerakkan saya untuk menulis. Telah banyak pula orang menulis tentang dia sebagai gitaris. Tidak kurang dari senior saya di Kompas, Ninok Leksono dan Arbain Rambey. Apa lagi yang mau saya tulis tentang Jubing? Dalam hati, saya harus menemuinya!



Singkat cerita, saya sudah menjumpainya di suatu tempat. Saya sudah baca latar belakangnya. Saya berjanji tidak akan menulis cerita yang sama, kalau bisa. Saya ingat, Mas Ninok menulis dari sisi atraksi Jubing di atas panggung saat konser. Arbain menulis dari sisi Jubing memberi partitur atau komposisi gratis yang dibuatnya dari situs pribadinya. Saya?



Setelah wawancara berlangsung, barulah saya tahu bahwa dia sudah keluar dari tabloid Nova, padahal jabatannya sudah tinggi, yaitu redaktur pelaksana. Ketika saya tanya alasannya keluar, Jubing mantap menjawab, "Biar lebih konsentrasi main gitar!" Luar biasa! Poin inilah yang saya tangkap untuk kemudian saya jadikan lukisan dari sebuah tulisan. Dengan "kuasa" saya sebaga jurnalis, saya juga mampu "memaksa" Jubing memainkan dua komposisinya khusus untuk saya, Hai Becak dan Burung Kakaktua.



Berikut ini tulisan saya mengenai Jubing yang dimuat Harian Kompas edisi Sabtu, 30 Juni 2007. Juga bisa diakses di http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/30/Sosok/3621875.htm:





Jubing, "Menyulap" Gitar Tunggal Jadi Orkestra

PEPIH NUGRAHA



Bintang Soedibjo yang lebih dikenal sebagai Ibu Sud, pencipta lagu anak-anak, tentu tidak mengira kalau lagu Hai Becak ciptaannya bisa menjadi satu komposisi musik orkestra. Jubing Kristanto menyulap lagu sederhana dan akrab di telinga anak-anak sampai orang dewasa itu menjadi sebuah orkestra hanya dengan satu alat musik: gitar!



Jubing dan gitar benar-benar menyatu, ibarat dua sisi dalam satu keping uang. Saat kami menunggu Jubing untuk wawancara di Wisma Relasi, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pekan lalu, dia datang dengan menenteng gitar yang dibungkus dalam sebuah koper. Gitar tidak monoton. Di tangan Jubing, alat musik bersenar itu bisa menghasilkan "seribu satu" suara, mulai perkusi sampai gamelan dan tetabuhan rebana.



Mengapa lagu anak-anak Hai Becak yang kemudian menjadi judul album Becak Fantasy dalam bentuk compact disc (CD), dan baru beredar itu menjadi perbincangan? Pada lagu itulah terdapat sejumlah teknik permainan gitar yang tidak biasa dijumpai dalam komposisi gitar klasik pada umumnya. Tidak salah kalau dia menjuluki gitar sebagai one man band instrument.

Nada tanpa kata-kata yang dihasilkan pun penuh filosofi. Simak, misalnya, efek gamelan Jawa yang biasa disebut kepyak bergemerincing sebelum lagu itu tiba-tiba nyelonong ke nada minor, nada melankolis syarat kesedihan yang bukan "khitah" dari lagu Hai Becak yang dominan mayor.



Nada minor itu lalu masuk ke irama padang pasir, nada gambus yang meliuk-liuk dan terseret-seret pun terdengar. Pindah lagi ke suara mandolin, dan tidak lama kemudian secara mengejutkan Jubing menyisipkan irama dangdut dengan teknik kontrapung, saling bersahutan antara bas, melodi, sekaligus akor.



"Saya sengaja menyelipkan nada minor sebab saya merasa hidup tukang becak kadang-kadang melankolis. Tetapi, pada akhir lagu saya hidupkan lagi kepedihan itu menjadi suasana riang gembira, kembali ke nada mayor untuk membangkitkan lagi semangat hidup. Sedih tidak boleh berlarut-larut," papar Jubing setelah menunjukkan kebolehannya memainkan Hai Becak, komposisi yang ditulisnya selama tiga bulan pada tahun 1986.



Dari tangannya, lagu-lagu Tanah Air seperti Ayam den Lapeh dan Beungong Jeumpa, juga lagu anak-anak seperti Hai Becak tadi, Naik Delman, Burung Kakatua, dan Hujan, menjadi sebuah komposisi musik yang indah. Komposisi itu tidak hanya dimainkan Jubing sendiri, tetapi gitaris seluruh dunia juga bisa mengunduh (download) notasi musik gratis tersebut dari situs miliknya.


Misi menghibur




Beralih profesi dari jurnalis ke gitaris, itu pilihan hidup yang biasa. Tetapi, ketika puncak prestasi jurnalis tengah berada di genggaman lalu dilepas "hanya" untuk bermain gitar dengan penghasilan tidak menentu, Jubinglah yang melakukan.



Ia ingin mengisi hidupnya hanya dengan bermain gitar. Terungkaplah bahwa selama ini apa yang dijalaninya hanya ingin memuaskan keinginan orangtua. Mereka ingin anak pertama dari enam bersaudara ini hidup "normal" seperti anak-anak pada umumnya. Belajar dari sekolah dasar sampai kuliah, lalu bekerja mencari nafkah. "Padahal, sejak SD saya maunya main gitar terus," ceritanya.



Saat kuliah pada jurusan Kriminologi FISIP Universitas Indonesia pun, Jubing sekadar ikut arus orang banyak. Pun saat dia diterima bekerja di sebuah tabloid wanita tahun 1990, dua tahun sebelum ia lulus kuliah.



Saking kuatnya hasrat bermain gitar, Jubing sampai berucap, "Kalau boleh saya tidak sekolah, saya lebih memilih tidak sekolah dan hanya bermain gitar."



Tekad yang berbumbu nekat itu tiba pada 2003. Setelah 13 tahun bekerja sebagai jurnalis sampai berpuncak menjadi redaktur pelaksana sebuah tabloid wanita, dia mengajukan diri berhenti. Sebagai pengajar gitar saat itu, gajinya Rp 500.000, jauh lebih kecil dibanding penghasilannya sebagai redaktur pelaksana yang berbilang jutaan rupiah.



"Saat menjadi redaktur, saya stres dan pikiran menjadi berat. Kalau begini terus, saya bisa sakit. Lalu saya kembali kepada gitar, sebab saya yakin dengan kemampuan sendiri," kata suami Renny Yaniar, penulis cerita anak-anak ini.



Jubing mengenal gitar sejak usia sekolah dasar. Ayahnya, Wibowo, dan ibunya, Swanny, keduanya penyuka musik dan mengajari anak-anaknya bermusik. Pada usia 12 tahun, ia sudah tampil mengiringi teman-teman sekolahnya dengan gitar.



Tentang pilihannya mengaransemen lagu anak-anak, Jubing yang kini pengajar gitar itu berujar, "Saya sering melihat penonton musik klasik berwajah serius tanpa senyum. Saat saya mainkan lagu anak-anak di panggung, penonton langsung gembira dan bertepuk tangan, sebab mereka sudah mengenal lagu itu. Inilah tujuan saya bermain gitar, agar orang lain senang dan bisa ikut menikmati."



Dengan dana Rp 8 juta, awal tahun 2006 Jubing menyelesaikan master (rekaman induk) berisi 12 komposisi ciptaannya. Ia coba tawarkan kepada dua produser untuk diperbanyak. Hasilnya? "Keduanya memuji, tetapi keduanya menolak dengan alasan terlalu segmented," ucapnya.

Beruntung, seorang rekannya di Semarang mau memperbanyak master itu dalam bentuk CD. Tidak banyak, hanya 1.000 keping. Jubing dijanjikan baru bisa mendapat royalti jika penjualan cakram digitalnya sudah di atas 3.000 keping. Tetapi, dengan lahirnya CD ini pun ia mengaku senang, sebab inilah cita-citanya sejak dia mengenal gitar.




Setidaknya kini Jubing bisa menghibur orang tanpa harus tampil di panggung. Orang cukup mendengarkan orkestra gitar tunggalnya yang ramai. Kadang sulit dipercaya orkestra itu dia mainkan sendirian.