Ambil Berita, Raih "Human Interst" (Studi Kasus Rano Karno-2)
KADANG menjemukan juga mendengar pejabat berpidato di podium. Bicara ngalor-ngidul sesukanya, keluar teks bahkan konteks. Apa yang harus kami ambil sebagai berita kalau isinya cuma bualan semata?
Itu pertanyaan seorang rekan, seorang wartawan muda yang baru lolos dari bangku pendidikan. Pertanyaan seperti ini umum terjadi dan wajar. Mencermati pejabat berpidato memang menjemukan. Inginnya langsung "berondong" saja dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita siapkan dan bahkan pertanyaan pesanan yang sudah diwanti-wanti editor. Kalau hanya mengandalkan omongan saat dia berpidato, apa yang saya bisa tulis?
Kelihatannya sepele dan pasti bikin orang frustasi. Padahal sejelek apapun pejabat, dia tetaplah "orang yang terkemuka" atau prominent people dan orang terkemuka adalah berita. Itu yang saya lakukan saat mendengarkan pidato 1,5 jam Wakil Bupati Tangerang Rano Karno, 6 April 2008 lalu saat memberikan "kuliah" mengenai cara pembuatan kompos di perumahan Vila Bintaro Indah (VBI), Keluharan Jombang, Kecamatam Ciputat, Tangerang. Kebetulan, VBI adalah tempat dimana saya tinggal selama 14 tahun terakhir.
Untuk Rano Karno, dalam frame berpikir saya sejak awal, adalah berita sekaligus human interst. Berita, karena inilah kunjungan pertamanya setelah dia berhasil menjabat atau dilantik sebagai wakil bupati Tangerang. Human interest, karena dia adalah orang terkemuka yang bisa bikin berita, artis pertama yang bisa menembus kebekuan eksekutif setelah gagalnya Marisa Haque saat mencoba peruntungan sebagai gubernur Banten. Saya tidak harus perhatikan isi pidatonya, tetapi justru tingkah lakunya. Justru apa yang diucapkan di luar teks dan konteks itulah yang akan saya jadikan tulisan human interst, meskipun hanya beberapa aliena saja. Berita, itu pasti, yaitu isi pidatonya itu tadi!
Beberapa pilihan untuk menulis sosok ringkas Rano Karno antara lain, pertama, prilakunya yang santun, yang siap melayani keinginan berfoto dari ibu-ibu, saat dia datang maupun saat ia pulang. Kedua ucapannya, bahwa dia harus selalu berganti-ganti pakaian sudah menjadi pejabat hanya karena mau bertemu dengan orang yang berbeda. Ketiga bisnis sampingannya sebagai penanam bunga anthurium. Untuk berita human interst, saya ambil hal yang kedua, yakni "keluhannya" tatkala dia harus berganti-ganti pakaian setiap hari.
Tulisan ringkas dari sosok Rano Karno itu dimuat di Kompas Update, edisi Senin 7 April 2008 halaman 1, yang saya muat utuh di bawah ini:
Rano Karno Bingung Berpakaian
Rano Karno (48), aktor yang kini menjadi ”amtenar” sebagai Wakil Bupati Tangerang, mengaku bingung kalau berpakaian. Dalam satu hari ia harus berganti-ganti pakaian sesuai peran dan kepentingannya. ”Saat ini saya harus berpakaian training pack karena harus memberi penyuluhan cara membuat kompos, beberapa jam kemudian saya harus mengenakan pakaian lain karena harus bertemu para ulama,” kata pemeran Si Doel dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan saat melakukan kunjungan kerja pertamanya di perumahan Vila Bintaro Indah, Jombang, Ciputat. Ia hadir atas undangan Paguyuban VBI yang menggalakkan program penghijauan, yang diketuai teman mainnya dalam sinetron maupun dalam film Si Doel Anak Betawi (1973), Djoni ”Roy” Irawan. (PEP)


