Kembali Teringat Ibu....
Terus terang, perasaan kurang nyaman, bahkan tertekan, saat saya harus kembali ke Bali. Ini daerah cantik yang sebisa mungkin saya hindari. Bali is nightmare for myself only. Bukan karena takut akibat di wilayah ini pernah mengalami serangan teroris 12 Oktober 2002 lalu yang dikenal dengan "Bom Bali"-nya. Kenangan pahit saya mengenai pulau ini jauh menembus batas waktu, 3 tahun sebelum bom Bali meledak.
"Ledakan bom" paling dahsyat terjadi pada 12-17 Oktober 1999, saat saya hadir di Bali untuk tamasya, sekedar bersenang_senang. Di Bandung, pada saat bersamaan saya harus meninggalkan Ibu, perempuan yang melahirkan diri ini, dalam keadaan sekarat, menanggung derita sakit yang luar biasa.
Tak habis-habisnya saya mengutuki diri sendiri setiap teringat tindakan tertolol selama hidup yang pernah saya lakukan. Bagaimana mungkin saya meninggalkan Ibu yang sedang meregang nyawa akibat kanker mulut rahim, saya pergi ke Bali hanya untuk bersenang-senang dengan keluarga?
Kini saya harus ke Bali, satu wilayah yang sebisa mungkin tidak saya singgahi lagi. Saya sudah bersumpah, tidak akan pernah ke Bali lagi kalau tujuannya cuma untuk bersenang-senang. Itu akan menyakiti hati Ibu di alam kubur. Saya berani menginjak Bali karena urusan tugas semata seperti ini, atau karena pesawat harus transit di Ngurah Rai seperti akhir tahun 2002 lalu sehabis tugas dari Fukuoka, Jepang.
Ibu, saya tidak akan pernah menyakiti hatimu lagi! Please forgive me.....
Cengkareng, 19 November 2008, pukul 06.50, menunggu saat boarding tiba.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

